Anda di halaman 1dari 15

Maria Theresia Diegonia (102012212)

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat, 11510
tessabuffon@yahoo.com
Pendahuluan
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah penyebab Acquired Immunodeficiency Syndrome
(AIDS). Virus ini terdiri dari dua grup, yaitu HIV-1 dan HIV-2. Kedua tipe HIV ini bisa
menyebabkan AIDS, tetapi HIV-1 yang paling banyak ditemukan di seluruh dunia, dan HIV-2
banyak ditemukan di Afrika Barat. Virus HIV diklasifikasikan ke dalam golongan lentivirus atau
retroviridae. Genom virus ini adalah RNA, yang mereplikasi dengan menggunakan enzim
reverse transcriptase untuk menginfeksi sel mamalia.1
Virus ini akan membunuh limfosit T helper (CD4), yang menyebabkan hilangnya imunitas yang
diperantarai sel. Selain limfosit T helper, sel-sel lain yang mempunyai protein CD4 pada
permukaannya seperti makrofag dan monosit juga dapat diinfeksi oleh virus ini. Maka
berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia yang mengindikasikan berkurangnya sel-sel darah
putih yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh manusia, sehingga ini meningkatkan
probabilitas seseorang untuk mendapat infeksi oportunistik.
HIV dapat ditemukan di darah dan cairan tubuh manusia seperti semen dan cairan vagina. Virus
ini tidak dapat hidup lama di luar tubuh, maka untuk transmisi HIV perlu ada penukaran cairan
tubuh dari orang yang telah terinfeksi HIV. Cara menular virus ini paling banyak adalah melalui
kontak seksual, jarum suntik, dan dari ibu ke anak. Hubungan seksual secara global, penularan
virus HIV paling banyak berlaku melalui heteroseksual. Pengguna narkoba jarum suntik,
pengguna narkoba jarum suntik adalah kelompok risiko tinggi untuk mendapat HIV. Berkongsi
penggunaan jarum suntik secara bergantian adalah cara yang efisien untuk transmisi virus yang
menular melalui darah seperti HIV dan Hepatitis C. Cara ini akan meningkatkan risiko tiga kali
lebih besar daripada transmisi HIB melalui hubungan seksual. Penularan dari ibu ke anak, wanita

hamil yang mempunyai HIV boleh mentransmisi virus ini saat hamil, partus dan saat menyusui.
Melalui transfusi darah atau produk darah yang sudah tercemar dengan virus HIV.
`

Semua jalur penularan ini merupakan faktor prilaku. Lebih penting lagi, hal ini

menyangkut isu-isu tentang moral, agama, kebudayaan dan sosialekonomi, yang saling
berinteraksi disaat yang sama. Pemahaman tentang hubungan seksual, misalnya, merupakan
pusat dari sitem moral religius yang saling berinteraksi di saat yang sama. Pemahaman tentang
hubungan seksual, misalnya merupakan pusat dari sistemmoral religius yang ada dalam setiap
masyarakat dan kebudayaan. Dengan demikian prilaku seksual terkait erat dengan definisis
gender dan hubungan lintas budaya dan pasti menyangkut isu-isu kemiskinan dan kemakmuran.
Dengan demikian untuk memahami penularan HIV melalui hubungan seksual ditempat
tertentu.Pola penyebaran HIV bervariasi berdasarkan HIV bervariasi berdasarkan negara,
masyarakat, gender, dan kelompok etnis. Bukan itusaja pola-pola ini selalu berubah seiring
epidemik. Pembahasan tentang prilaku beresiko dengan Hiv sangat kompleks. Setiap jalur utama
penularan, banyak pola prilaku yang berhubungan dengan kebiasaan, dan behadapan dengan
masalah besar variasi lintas budaya dan lingkungan .
Gejala Klinis
Tidak setiap penderita dengan infeksi HIV akan berkembang menjadi AIDS. Diperkirakan hanya
10 30% yang terinfeksi HIV akan menderita AIDS. InfeKsi HIV pada manusia mempunyai masa
inkubasi yang lama (5-10 tahun) dan menyebabkan gejala penyakit yang bervariasi mulai dari
tanpa gejala sampai dengan gejala yang berat sehingga menyebabkan kematian. Gejala AIDS
yang umum adalah rasa lelah berkelanjutan, pembengkakan kelenjar getah bening
(Lymphadenotpathy) tidak ada nafsu makan berat badan tubuh lebih 10% perbulan, demam lebih
38C keringat. malam yang berlebihan. diare kronis sampai terjadi infeksi oportunistik. Sebagai
manifestasi klinik utama dari AIDS adalah tumor dan infeksi oportumistik.
Epidemiologi
Epidemi HIV merupakan masalah dan tantangan serius terhadap kesehatan masyarakat di dunia
baik di negara-negara yang sudah maju maupun di negaranegara berkembang. Pada tahun 2008
jumlah Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA) di seluruh dunia diperkirakan sudah mencapai
33,4 juta (31,135,8 juta) dan diperkirakan 2 juta orang meninggal karena AIDS (WHO, 2009).
2

Departemen Kesehatan melaporkan bahwa pada tahun 2008 terjadi laju peningkatan kasus baru
AIDS yang semakin cepat terutama dalam 3 tahun terakhir ini. Hal ini terlihat dari jumlah kasus
baru AIDS dalam 3 tahun terakhir lebih dari 3 kali lipat dibanding jumlah yang pernah
dilaporkan pada 15 tahun pertama epidemi AIDS di Indonesia.
Berdasarkan laporan situasi perkembangan HIV dan AIDS di Indonesia sampai dengan 30 Juni
2010, secara kumulatif jumlah kasus AIDS yang dilaporkan adalah 21.770 kasus AIDS yang
berasal dari 32 provinsi dan 300 kabupaten/kota. Cara penularan kasus AIDS kumulatif
dilaporkan melalui hubungan seks heteroseksual (49,3%), Injecting Drug User atau IDU
(40,4%), hubungan seks sesama lelaki (3,3%), dan perinatal (2,7%). Rasio kasus AIDS antara
laki-laki dan perempuan adalah 3:1. Proporsi kumulatif kasus AIDS tertinggi dilaporkan pada
kelompok umur 20-29 tahun (48,1%), disusul kelompok umur 30-39 tahun (30,9%) dan
kelompok umur 40-49 tahun (9,1%). Kasus AIDS terbanyak dilaporkan dari DKI Jakarta, Jawa
Barat, Jawa Timur, Papua, Bali, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera
Utara, dan Riau. Khusus untuk kelompok umur 15-24 tahun, kasus AIDS berdasarkan faktor
risiko didominasi oleh hubungan heteroseksual (9,29%) dan IDU (8,7%).2 Sementara itu,
berdasarkan laporan yang diperoleh dari layanan klinik VCT (Voluntary Counselling and HIV
Testing), sampai dengan 30 Juni 2010 kasus HIV positif kumulatif terdapat sebanyak 44.292
kasus dengan positive rate rata-rata 10,3%. Kasus HIV positif tersebut dilaporkan dari 357 klinik
VCT yang ada di 33 Provinsi menyebar pada unit pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun
non pemerintah dan LSM. Persentase kumulatif klien yang menggunjungi layanan klinik VCT di
Indonesia sampai dengan Juni 2010 adalah 562.413 (77.5%) dan kumulatif infeksi HIV sampai
dengan 30 Juni 2010 yang diperoleh pada kelompok umur 15-19 tahun sebesar 15% dan
kelompok umur 20-29 sebesar 16%. Berdasarkan laporan monitoring layanan perawatan,
dukungan dan pengobatan ODHA, perawatan HIV di Indonesia sudah dimulai sejak tahun 2005
dengan jumlah yang masih dalam pengobatan ARV (anti retroviral) pada tahun 2005 sebanyak
2.381 (61% dari yang pernah menerima ARV). Kemudian sampai dengan 30 Juni 2010 terdapat
16.982 ODHA yang masih menerima ARV (60,3% dari yang pernah menerima ARV).
Jumlah ODHA yang dalam pengobatan ARV tertinggi dilaporkan dari provinsi DKI Jakarta
(7.242 orang), Jawa Barat (2.001 orang), Jawa Timur (1.517 orang), Bali (984 orang), Papua
(685 orang), Jawa Tengah (575 orang), Sumatera Utara (570 orang), Kalimantan Barat (463
orang), Kepulauan Riau (426 orang), dan Sulawesi Selatan (343 orang). Pengobatan ARV
3

terbukti membawa dampak yang signifikan bagi pengurangan tingkat kematian ODHA. Hanya
dalam waktu tiga tahun, kematian ODHA menurun dari 46% pada tahun 2006 menjadi 18% pada
tahun 2009. Angka-angka di atas memberitahukan kepada kita bahwa epidemi ini masih
berlanjut dan belum ada kecenderungan turun atau dapat dikendalikan. Meskipun Indonesia
masih dikategorikan sebagai negara dengan level epidemi terkonsentrasi yakni terkonsentrasi
hanya pada populasi paling berisiko (Wanita Penjaja Seks, IDU, LSL atau lelaki berhubungan
seks dengan lelaki dan waria), namun tanda-tanda menyebar ke populasi umum sudah terjadi.
Papua sering dikatakan sebagai provinsi yang telah mengalami generalized epidemic.
Tampaknya upaya pencegahan harus lebih digencarkan, diperluas, ditingkatkan kualitasnya dan
didukung semua sektor, organisasi dan masyarakat. Pencegahan bukan saja kepada mereka yang
berisiko tinggi tetapi juga kepada segmen populasi yang paling banyak terinfeksi, orang muda.
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010, secara nasional pengetahuan
tentang HIV dan AIDS pada penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar tentang HIV
dan AIDS adalah 75,1%, sedangkan pengetahuan komprehensif dan benar tentang penularan
dan pencegahan HIV dan AIDS secara nasional masih rendah yaitu 7,6% pada lakilaki dan
7,3% pada perempuan. Pengetahuan tentang penularan HIV dan AIDS pada laki-laki tahun 2007
sebesar 2,9% meningkat menjadi 11,1% pada tahun 2010. Sedangkan pada perempuan tahun
2007 sebesar 3% meningkat menjadi 12,1% pada tahun 2010. Berdasarkan trend data yang ada di
Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, diprediksikan pada tahun 2015 terjadi peningkatan
kasus menjadi sebesar 924.000 kasus dengan prevalensi 0,49%. Angka ini melonjak tajam
menjadi 2.117.000 kasus pada tahun 2025 dengan prevalensi 1,00%.2
Pengetahuan tentang pencegahan HIV dan AIDS pada laki-laki tahun 2007 sebesar 13,2%
meningkat menjadi 38,8% pada tahun 2010 dan pada perempuan tahun 2007 sebesar 12,7%
meningkat menjadi 34,4% pada tahun 2010. Pengetahuan HIV dan AIDS secara komprehensif
pada Lakilaki tahun 2007 sebesar 1,5% meningkat menjadi 7,6% pada tahun 2010 sedangkan
pada Perempuan tahun 2007 sebesar 1,5 % meningkat menjadi 7,3% pada tahun 2010.2
Dapat dikatakan terjadi peningkatan pengetahuan yang signifikan tetapi secara keseluruhan
peningkatan tersebut masih jauh dari keadaan yang diharapkan, terutama seperti yang ditargetkan
MDGs. Menurut provinsi, rentang pengetahuan HIV dan AIDS komprehensif terkait penularan
dan pencegahan berkisar 2,2%-20,1%. Paling rendah di Provinsi Sulawesi Tenggara dan tertinggi
di Provinsi Bali. Masih ada 20 provinsi berada di bawah ratarata nasional. Untuk merespon
4

situasi ini, pembangunan kesehatan dalam kurun waktu 2010-2014 akan terus dilanjutkan dengan
lebih diarahkan kepada beberapa hal prioritas berdasarkan hasil rembug nasional (national
summit) pada akhir 2009. Tuntutan perhatian adalah pada perluasan jaminan kesehatan,
penekanan pada upaya promotif-preventif, penanggulangan penyakit dan percepatan untuk
pencapaian target Millenium Development Goals (MDGs).
Di dalam target MDGs, penanggulangan HIV dan AIDS menjadi salah satu agenda penting di
samping Malaria dan penyakit menular lainnya. Oleh karenanya dalam Roadmap Reformasi
Kesehatan Masyarakat, HIV dan AIDS terpilih menjadi salah satu area perubahan yang mendapat
perhatian pula. Pengendalian HIV dan AIDS dalam MDGs memiliki target yakni mengendalikan
penyebaran HIV dan AIDS dan mulai menurunnya kasus baru pada tahun 2015, dengan indikator
sebagai berikut:
1. Prevalensi HIV <0,5% pada mereka yang berumur 15-24 tahun.
2. Penggunaan kondom pada hubungan seksual berisiko pada mereka yang berumur 1524 tahun
sebesar 50%.
3. Proporsi pada mereka yang berumur 1524 tahun yang mempunyai pengetahuan yang
komprehensif dan benar tentang HIV dan AIDS yaitu sebesar 95%.
Proporsi orang dengan HIV lanjut yang akses terhadap pengobatan Anti Retroviral Virus (ARV)
yaitu 80%. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dalam Hasil Rapat Kerja Presiden dengan para
Menteri dan Gubernur seluruh Indonesia di Istana Tampak Siring Bali, pada 1921 April 2010, dikeluarkan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2010 tentang Program
Pembangunan yang Berkeadilan. Dalam rangka pelaksanaan program-program pembangunan
yang berkeadilan sebagaimana termuat dalam Instruksi Presiden tersebut, yang meliputi upaya
pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs), memfokuskan salah satunya pada program
pengendalian HIV dan AIDS, yang dijabarkan pada Lampiran INPRES 3 Tahun 2010 dalam
Rencana Tindak Upaya Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) dengan keluaran
dan target penyelesaian tahun 2010 dan 2011 sebagai berikut :
1. Jumlah orang yang berumur 15 tahun atau lebih yang menerima konseling dan testing HIV
pada tahun 2010 (300.000 orang) dan tahun 2011 (400.000 orang).
2. Persentase orang dengan HIV-AIDS (ODHA) yang mendapatkan ARV tahun 2010 (70%) dan
tahun 2011 (75%).

3. Persentase kabupaten/kota yang melaksanakan pencegahan penularan HIV sesuai pedoman


tahun 2010 (50%) dan tahun 2011 (60%).
4. Penggunaan kondom pada kelompok hubungan seksual berisiko tinggi (berdasarkan
pengakuan pemakai) tahun 2011 (pada laki-laki 35% dan pada perempuan 20%).
Sementara itu, Menteri Kesehatan RI dalam paparannya di dalam Rapat Kerja Nasional
(Rakernas) BKKBN (18 Februari 2010) menyatakan periode RPJMN 2010-2014 merupakan
paruh waktu kedua sejak tahun 2000 bagi upaya pencapaian MDGs 2015. Di mana saat ini
adalah kesempatan terakhir (last shot) bagi percepatan pencapaian. MDGs secara sistematis.
Oleh karenanya diperlukan pengarusutamaan pencapaian MDGs dalam RPJMN dengan
penetapan target, program/kegiatan, dan dukungan sumber daya, termasuk di dalamnya adalah
upaya penanggulangan HIV dan AIDS. Untuk itu, dalam rangka mempercepat upaya pencapaian
tujuan pembangunan Milenium (MDGs) pada umumnya dan tercapainya keluaran serta target
penyelesaian INPRES 3 tahun 2010 dan 2011 maka perlu dibuat Rencana Operasional Promosi
Kesehatan dalam Pengendalian HIV dan AIDS untuk mendukung tercapainya MDGs dan
RPJMN yang telah digariskan. Rencana operasional ini merupakan rencana bersama antara
Direktorat Pencegahan Penyakit Menular Langsung dengan Pusat Promosi Kesehatan yang akan
dijabarkan dalam DIPA masing-masing unit setiap tahunnya, dan juga diharapkan akan menjadi
acuan bagi provinsi dan kabupaten/kota dalam menyusun rencana operasional pengendalian HIV
dan AIDS di wilayahnya masing-masing.

Public Health Worker


Tiga peran utama seorang dokter umum di tingkat pelayanan kesehatan dasar adalah medicus
practicus, public health worker, dan manajer. Sebagai medicus practicus, dokter umum
memberikan pelayanan curative (penyembuhan) kepada pasien. Sebagai public health worker,
seorang dokter umum berperan mengembangkan pelayanan promosi kesehatan dan pencegahan
penyakit. Sebagai manajer, seorang dokter umum berperan menerapkan fungsi manajemen untuk
menggerakkan program kesehatan masyarakat.

Promotif
Layanan Kesehatan Promotif. Tujuan dari kegiatan promotif ini adalah agar warga binaan
mempunyai pengetahuan cukup mengenai HIV-AIDS dan IMS, sehingga warga binaan mampu
mencegah agar tidak tertular/menularkan dari/kepada orang lain dan mampu berperilaku hidup
sehat. Yang dapat digolongkan kedalam kegiatan promotif adalah : Pendidikan kesehatan melalui
KIE dan peer educator dan upaya perubahan perilaku dengan motivasi pada konseling
1. Konseling dan Tes Sukarela ( Voluntary Counselling and Testing ). Konseling
bertujuan untuk memberi dukungan psikologis pada mereka yang hidupnya telah atau
mungkin akan dipengaruhi oleh HIV/AIDS dan sekaligus untuk mencegah terjadinya
penularan HIV kepada orang lain. Manfaat konseling antara lain adalah pengurangan
perilaku beresiko, kesempatan yang dini untuk memperoleh perawatan dan pencegahan
penyakit yang terkait dengan HIV, dukungan emosional, dan kemampuan lebih baik

dalam menanggulangi kegelisahan terkait dengan HIV. Sasaran konseling


Orang yang akan melakukan tes HIV
Orang yang terinfeksi dan pasangan atau keluarganya
Orang yang mengalami kesulitan dengan masalah pekerjaan , perumahan dan keuangan

akibat HIV
Orang yang memerlukan bantuan karena perilaku beresiko di masa lalu, atau di masa
sekarang.3

Selama ini yang melalu menjadi sasaran tes HIV sebagian besar adalah sekelompok orang yang
diperkirakan beresiko, yaitu IDU (Injecting Drug User), para pekerja seks dan pria homoseksual.
Banyak orang melakukan perilaku beresiko tanpa menyadari dirinya termasuk dalam kelompok
beresiko. Misalnya, seorang perempuan yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom
dengan pasangan tetapi tidak sadar bahwa pasangannya kadang menyuntuk narkoba dengan
peralatan suntik bergantian.
Konseling pascates
konseling pascates terutama untuk memberitahukan hasil tes, mungkin dibutuhkan lebih dari satu
kali pertemuan, baik bagi yang hasilnya positif maupun negative.

Bila hasilnya positif, diperlukan tempat dengan suasana pribadi pada waktu penyampaian,klien
juga harus merasa aman dan rahasia terjamin.konselor harus member dukungan dan peka
terhadap keterkejutan , ketakutan, kemarahan klien. Konselor menjelaskan arti hasil
positif,pokok-pokok yang harus disampaikan adalah;

Infeksi HIV bukan AIDS


Harus menjaga kesehatan dan jangan sampai terpapar penyakit lain yang melemahkan

system imun
Bagaimana HIV menular dan cara-cara jangan sampai menularkan kepada orang lain
Tidak mungkin dengan mengetahui hasil tes HIV dapat mengetahui sejak kapan ia
tertular HIV, hal ini sangat penting jangan sampai klien merasa tertular karena pasangan
yang tidak setia.

Bila hasilnya negative, ada beberapa hal yang perlu disampaikan kepada klien.

Hasil negative belum pasti tidak terinfeksi HIV karena ada masa jendela, sebaiknya

pasien tes lagi setelah 3 atau 6 bulan.


Mengingatkan klien jangan sampai terpapar terhadap infeksi HIV . informasi perilaku

seksual dan penggunaan jarum suntik yang aman perlu dijelaskan secara rinci.
Member kesempatan kepada pasangan untuk ikut dalam konseling berikutnya.

2. Konseling dan Test diInisiasi oleh Petugas kesehatan (KTIP)


WHO telah menganjurkan untuk melaksanakan tes HIV yang secara aktif dengan cara Konseling
dan Test diInisiasi oleh Petugas kesehatan (KTIP). Sebelumnya disebut dengan istilah Provider
Initiated Test and Counseling (PITC). Dalam hal ini, petugas kesehatan secara langsung meminta
pasien untuk di test HIV atas dasar indikasi medis yang jelas. KTIP sebaiknya dilakukan pada
pasien yang sudah datang dengan infeksi oportunistik (IO) yang mengindikasikan HIV atau
adanya perilaku risiko yang besar kemungkinan tertular HIV (WHO 2006). Test diinisasi oleh
petugas kesehatan perlu dilakukan karena pada kondisi ini kecepatan petugas kesehatan
mengetahui status HIV seseorang pasien akan sangat mempercepat pengelolaan medis
selanjutnya. Demikian pula pengelolaan definitif atas IO atau HIV nya akan cepat dapat dimulai
sehingga mencegah komplikasi yang berat. Walaupun perlu dilakukan, dalam proses test ini tidak
8

boleh ada unsur paksaan. Bila klien dalam kondisi sadar dan mampu menilai, ia harus diberikan
kesempatan untuk memberikan persetujuan dan mempunyai hak untuk menolak. Konseling
lengkap pre-tes tidak perlu dilakukan pada KTIP, tetapi informasi ringkas mengenai HIV-AIDS,
alasan perlunya tes dan jaminan kerahasiaan (confidentiality) harus disampaikan. Konseling
kemudian dilakukan pada saat pembacaan hasil.
Tahapan KTIP adalah:
Langkah 1 : sarankan untuk menjalani tes
Langkah 2 :berikan informasi ringkas mengennai HIV-AIDS dan jaminan kerahasiaan
(confidentiality)
Langkah 3 : minta persetujuan untuk dilakukan tes (informed consent)
Langkah 4 : pengambilan contoh darah untuk dilakukan tes
Langkah 5 : menyampaikan hasil test dengan cara 1) Disampaikan oleh petugas medis,
selanjutnya petugas medis merujuk ke konselor apabila masih memerlukan dukungan atau 2)
hasil tes disampaikan oleh konselor, kemudian monselor memberikan hasil kepada petugas
medis yang meminta

Pencegahan
Layanan Komprehensif Berkesinambungan
Pelayanan HIV-AIDS dan IMS Komprehensif dan Berkesinambungan bukan merupakan suatu
konsep yang baru, konsep layanan seperti ini telah diinisiasi oleh Kemenkes sejak tahun 2004.
Sebagai gambaran, LKB ini mencakup semua bentuk layanan HIV dan IMS, seperti kegiatan
KIE pengetahuan komprehensif, promosi penggunaan kondom, pengendalian/pengenalan faktor
risiko, Konseling dan Tes HIV, Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP), Pencegahan
Penularan dari Ibu ke Anak (PPIA), Pengurangan Dampak Buruk NAPZA , layanan IMS,
Pencegahan penularan melalui darah donor dan produk darah lainnya, kegiatan monev dan
surveilan epidemiologi di Puskesmas Rujukan dan Non- Rujukan termasuk fasilitas kesehatan

lainnya, dan Rumah Sakit Rujukan di Kabupaten/Kota, dengan keterlibatan aktif dari sektor
masyarakat.
Layanan komprehensif adalah upaya yang meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif yang mencakup semua bentuk layanan HIV dan IMS sedangkan layanan yang
berkesinambungan adalah pemberian layanan HIV & IMS secara paripurna, yaitu sejak dari
rumah atau komunitas, ke fasilitas layanan kesehatan seperti puskesmas, klinik dan rumah sakit
dan kembali ke rumah atau komunitas; juga selama perjalanan infeksi HIV (semenjak belum
terinfeksi sampai stadium terminal). Kegiatan ini harus melibatkan seluruh pihak terkait, baik
pemerintah, swasta, maupun masyarakat (kader, LSM, kelompok dampingan sebaya, ODHA,
keluarga, PKK, tokoh adat, tokoh agama dan tokoh masyarakat serta organisasi/kelompok yang
ada di masyarakat). Layanan komprehensif dan berkesinambungan juga memberikan dukungan
baik aspek manajerial, medis, psikologis maupun sosial ODHA selama perawatan dan
pengobatan untuk mengurangi atau menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.4
Puskesmas Rujukan (puskesmas terpilih yang memiliki sarana dan tenaga tertetu sesuai dengan
standar yang ditetapkan) dan Rumah Sakit Rujukan perlu didukung oleh ketersediaan
pemeriksaan laboratorium di samping adanya pusat rujukan laboratorium di kabupaten/kota
(Labkesda) untuk pemeriksaan CD4 dan pusat rujukan laboratorium diprovinsi (BLK/fasilitas
kesehatan lainnya), untuk akses pemeriksaan viral load.
Komponen LKB terdiri dari 5 komponen utama dalam pengendalian HIV di Indonesia yaitu:
Pencegahan, Perawatan, Pengobatan, Dukungan, Konseling
1. KIE
KIE dalam layanan komprehensif HIV-AIDS dan IMS adalah media dan pendekatan
pelaksanaan layanan pendidikan dan informasi terkait dengan usaha pencegahan
penularan HIV dan infeksi oportunistik, peredaran gelap dan penyalahgunaan Narkoba di
dalam UPT Pemasyarakatan. KIE harus diintegrasikan ke dalam pola pembinaan
pemasyarakatan agar dapat berjalan secara berkesinambungan sejalan dengan program
pemasyarakatan lainnya. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan
sikap, agar dapat menerapkan pola hidup sehat dan memiliki risiko yang rendah terhadap
penularan HIV, TB, IMS, infeksi oportunistik, dan penyalahgunaan Narkoba (perubahan
perilaku). KIE menyediakan dan memberikan informasi yang benar dan tepat guna. KIE
10

bisa diartikan dengan pendidikan kesehatan. Kegiatan pendidikan kesehatan bagi warga
binaan dapat berupa: Penyuluhan kelompok, Konseling individu, Melalui pendidik
sebaya/ kader kesehatan, Melalui media (video, leaflet, booklet, banner, spanduk, dll).
2. Mobilisasi masyarakat:
a. Melibatkan petugas lapangan (seperti kader kesehatan/PKK, PLKB, atau posyandu)
sebagai pemberi informasi pencegahan HIV dan IMS kepada masyarakat dan untuk
membantu klien mendapatkan akses layanan kesehatan
b. Menjelaskan tentang cara pengurangan risiko penularan HIV dan IMS, termasuk
melalui penggunaan kondom dan alat suntik steril
c. Melibatkan komunitas, kelompok dukungan sebaya, tokoh agama dan tokoh
masyarakat dalam menghilangkan stigma dan diskriminasi
3. Kewaspadaan Standard
Kewaspadaan standar adalah kegiatan sederhana yang efektif yang dirancang untuk
melindungi petugas kesehatan dan pasien dari infeksi berbagai patogen, termasuk
patogen yang ditularkan melalui darah. Kegiatan ini dilakukan ketika merawat semua
pasien tanpa mengetahui diagnosis, mereka diperlakukan sama. Rekomendasi
kewaspadaan standar meliputi: 1) Kebersihan tangan dengan mencuci tangan dengan
benar 2) Penggunaan sarung tangan digunakan setiap kegiatan yang berisiko terpapar halhal yang infeksius 3) Pelindung wajah (mata, hidung, dan mulut) bila berisiko terkena
percikan darah atau cairan tubuh.
4. Profilaksis Paska Pajanan (PPP)
Profilaksis berarti pencegahan infeksi dengan obat. Pajanan adalah peristiwa yang
menimbulkan risiko penularan. Jadi profilaksis pasca pajanan (PPP) berarti penggunaan
obat untuk mencegah infeksi setelah terjadi peristiwa yang berisiko. Profilaksis paska
pajanan (PPP) adalah suatu tindakan medis yang diberikan untuk mencegah terjadinya
penularan penyakit yang disebabkan adanya paparan yang berpotensi HIV. Dalam katan
lain, PPP adalah layanan yang menyediakan penatalaksanaan kecelakaan kerja terkait
paparan HIV dan membantu mencegah penularan HIV pada orang yang terpapar. PPP
dilaksanankan dengan memberikan pengobatan anti retroviral (ARV) dalam jangka
pendek (hanya 1 bulan) untuk menurunkan kemungkinan terjadinya infeksi paska
pajanan.
5. Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA)
PPIA merupakan pencegahan menularan HIV dari ibu ke anak bagi pasangan muda
ODHA yang menginginkan anak. Kebanyakan ODHA (laki-laki dan perempuan) yang

11

masih muda ingin mempunyai anak. Penting bagi mereka diberi informasi yang benar
mengenai risiko penularan pada pasangan dan/atau anak, dan tidak didesak untuk tidak
berusaha membuat anak. 4 PPIA:
1. Pencegahan penularan HIV pada perempuan usia reproduksi (15-49 tahun)
2. Pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada perempuan HIV positif
3. Pencegahan penularan HIV dari ibu hamil ke bayi yang dikandungnya
4. Dukungan psikologis, sosial, dan perawatan kese hatan selanjutnya kepada ibu yang terinfeksi
HIV dan bayi serta keluarganya5
Panitia Penganggulangan AIDS
Departemen Kesehatan telah membentuk suatu panitia untuk menanggulangi AIDS yang
dikatahui oleh Direktur Jenderal Pemerantasan Penyakit Menular dan penyehatan lingkungan
pemukiman. Panitia ini merupakan wadah komunikasi/koordinasi serta pengolahan informasi
dalam rangka meningkatkan kewaspadaan dari kesiap-siapaan menghadapi AIDS. Adanya
panitia ini tidak mengurangi wewenang dan tugas dari unit unit struktural di Departemen
Kesehatan sesuai dengan bidang masing-masing. Perlu ditegaskan bahwa untuk penanggulangan
AIDS tidak akan diadakan struktur khusus dalam sistem pelayanan kesehatan. Penangulangan
AIDS akan dilakukan secara terpadu oleh unit- unit yang bertangung jawab mengnai masalah
tersebut. Beberapa kebijaksanaan/keputusan telah diambil panitia penanggulangan AIDS
Departemen Kesehatan antara lain:
1. Untuk penentuan kasus AIDS di Indonesia digunakan definisi WHO/CDC yang
dikonfirmasikan dengan tes ELISA dan Western Blot.
2. Kemampuan untuk pemeriksaan laboratorium terhadap AIDS dikembangkan secara bertahap
sesuai dengan kebutuhan dan memperhatikan Quality Control.
3. Pemeriksaan rutin antibodi AIDS untuk skrining donor darah belum dianggap perlu
4. Produk darah yang diimpor harus memenuhi persyaratan bebas AIDS.
5. Interprestasi hasil tes ELISA yang positif harus dilakukan dendan hati-hati. Kerahasiaan harus
dipegang teguh. Counseling hanya dilakukan bila konfirmasi dengan tes Western Blot Positif.
12

Pencegahan
1. Pencegahan primer. Dilakukan sebelum seseorang terinfeksi HIV. Hal ini diberikan pada
seseorang yang sehat secara fisik dan mental. Pencegahan ini tidak bersifat terapeutik;
tidak menggunakan tindakan yang terapeutik; dan tidak menggunakan identifikasi gejala
penyakit. Pencegahan ini meliputi dua hal, yaitu:

Peningkatan kesehatan, misalnya: dengan pendidikan kesehatan reproduksi


tentang HIV/AIDS; standarisasi nutrisi; menghindari seks bebas; secreening, dan sebagainya.

Perlindungan khusus, misalnya: imunisasi; kebersihan pribadi; atau pemakaian


kondom.
2. Pencegahan sekunder. Berfokus pada Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) agar tidak
mengalami komplikasi atau kondisi yang lebih buruk. Pencegahan ini dilakukan melalui
pembuatan diagnosa dan pemberian intervensi yang tepat sehingga dapat mengurangi
keparahan kondisi dan memungkinkan ODHA tetap bertahan melawan penyakitnya.
Pencegahan sekunder terdiri dari teknik skrining dan pengobatan penyakit pada tahap
dini. Hal ini dilakukan dengan menghindarkan atau menunda keparahan akibat yang
ditimbulkan dari perkembangan penyakit; atau meminimalkan potensi tertularnya
penyakit lain.
3. Pencegahan tersier. Dilakukan ketika seseorang teridentifikasi terinfeksi HIV/AIDS dan
mengalami ketidakmampuan permanen yang tidak dapat disembuhkan. Pencegahan ini
terdiri dari cara meminimalkan akibat penyakit atau ketidakmampuan melalui intervensi
yang bertujuan mencegah komplikasi dan penurunan kesehatan. Kegiatan pencegahan
tersier ditujukan untuk melaksanakan rehabilitasi, dari pada pembuatan diagnosa dan
tindakan penyakit. Perawatan pada tingkat ini ditujukan untuk membantu ODHA
mencapai tingkat fungsi setinggi mungkin, sesuai dengan keterbatasan yang ada akibat
HIV/AIDS. Tingkat perawatan ini bisa disebut juga perawatan preventive, karena di
dalamnya terdapat tindak pencegahan terhadap kerusakan atau penurunan fungsi lebih
jauh. Misalnya, dalam merawat seseorang yang terkena HIV/AIDS, disamping
memaksimalkan aktivitas ODHA dalam aktivitas sehari-hari di masyarakat, juga
13

mencegah terjadinya penularan penyakit lain ke dalam penderita HIV/AIDS; Mengingat


seseorang yang terkena HIV/AIDS mengalami penurunan imunitas dan sangat rentan
tertular penyakit lain
Selain hal-hal tersebut, pendekatan yang dapat digunakan dalam upaya pencegahan penularan
infeksi HIV/AIDS adalah penyuluhan untuk mempertahankan perilaku tidak beresiko. Hal ini
bisa dengan menggunakan prinsip ABCDE yang telah dibakukan secara internasional sebagai
cara efektif mencegah infeksi HIV/AIDS lewat hubungan seksual. ABCDE ini meliputi:
A: abstinensia, tidak melakukan hubungan seks terutama seks berisiko tinggi dan seks pranikah.
B: be faithful, bersikap saling setia dalam hubungan perkawinan atau hubungan tetap.
C: condom, cegah penularan HIV dengan memakai kondom secara benar dan konsisten untuk
para

penjaja

D: drugs,
E: equipment ,

hindari
jangan

seksual.

pemakaian
memakai

alat

narkoba

suntik.

suntik

bergantian.

Sedangkan Untuk mencegah penularan HIV dari ibu hamil kepada bayinya dapat dilakukan
dengan pemberian obat antiretroviral azidotimidin (AZT), dan menghindari proses kelahiran
pervagina atau melalui seksio sesaria. Selain itu bayi juga dianjurkan untuk diberikan susu
formula bukan ASI dari ibu yang positif HIV.
Terakhir, pendekatan agama bagi sebagian besar masyarakat juga merupakan pendekatan yang
penting. Sebab, dengan meningkatkan ajaran agama dan nilai budaya diharapkan perilaku
hubungan seks berisiko dapat dikurangi termasuk di kalangan muda mudi, sehingga angka
pertumbuhan HIV dapat menurun.
Kuratif
Terapi antiretroviral (ARV) berarti mengobati infeksi HIV dengan beberapa obat. Karena HIV
adalah retrovirus, obat ini biasa disebut antiretroviral. ARV tidak membunuh virus namun
melambatkan pertumbuhan virus. Golongan obat anti HIV pertama adalah nucleoside reverse
transcriptase inhibitor (NRTI). Obat ini menghambat perubahan bahan genetik HIV dari bentuk
RNA menjadi bentuk DNA yang dibutuhkan dalam langkah berikut. Obat tersebut antara lain:
Lamivudin, Abacavir, AZT (ZDV, zidovudin), Tenofovir.

14

Nonnucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI): Delavidrin (DLV), Efavirenz (EFV),


Etravirin (ETV), Nevirapin (NVP), Rilpivirin (RPV)

Kesimpulan
HIV merupakan virus yang menurunkan sistem imun manusia sehingga infeksi oportunistik lebih
mudah terjadi. Kasus HIV AIDS masih menjadi perhatian di Indonesia akibat angka kejadiannya
yang semakin meningkat setiap tahun. Perlu dilakukan tindakan promotif dan preventif agar
masyarakat sehat maupun yang beresiko tidak tertular penyakit ini. Tindakan promotif yang
dapat dilakukan misalnya VCT (voluntary counseling test) dan pencegahan yang dapat dilakukan
antara lain menjalankan program layanan komprehensif berkesinambungan.
Daftar Pustaka
1. Brooks GF, Butel JS, Morse SA. Mikrobiologi kedokteran. Jakarta: EGC; 2008
2. http://www.aidsindonesia.or.id/repo/LT2Menkes2011.pdf
3. Departemen Kesehatan RI, Ditjen YanMed & Ditjen P2M&PI. Modul pelatihan konseling dan
tes sukarela HIV, Editor: dr. Ratna Mardiati. 2002
4. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman penerapan pelayanan komprehensif
HIV-IMS berkesinambungan. Jakarta: Bakti Husada; 2012.
5. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman nasional pencegahan penularan HIV dari
ibu ke anak (PPIA). Jakarta: Bakti Husada; 2012.

15