Anda di halaman 1dari 20

TugasFarmakologiKedokteran Gigi

ANASTESI UMUM dengan ETER PADA KELINCI

Oleh :
David Christopher S
Muhammad Yoga W
YantiMeylitha
Mahda Bin Juber
RetnoKathiningsih
SesyAyu Lestari
SylvianiTheWirianto
MerinaDwiPangastuti
YovitaYonas
DelaneiraAlvita D
IrjiniaPutri Nanda
NoviaSetyowati

021311133003
021311133050
021311133032
021311133033
021311133034
021311133035
021311133036
021311133037
021311133038
021311133039
021311133040
021311133041

FARMAKOLOGI KEDOKTERAN GIGI - DEPARTEMEN


BIOLOGI ORAL
FakultasKedokteran Gigi UniversitasAirlangga
Semester Genap
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1. 1 LATAR BELAKANG
Untukdapatmelakukanpembedahandiperlukanobatpenghilang
nyeri.Obatpenghilang

rasa

nyeri

yang

rasa

pertama

kali

digunakandalampembedahanialahdietileterpadatahun 1846 oleh William Morton


di Boston.Istilah anestesia dikemukakan pertama kali oleh O.W. Holmes berasal
dari bahasa Yunani anaisthsia (dari antanpa + aisthsis sensasi) yang berarti
tidak ada rasa sakit. Anestesi dibagi menjadi 2 kelompok yaitu anastesi lokal dan
anstesi

umum.

(StafPengajarDepartemenFarmakologi

FK

UNSRI,

2008)

Anesthesia lokal adalah hilangnya rasa sakit tanpa disertai kehilangan kesadaran.
Anesthesia umum adalah tindakan menghilangkan rasa nyeri/sakit secara sentral
disertai hilangnya kesadaran dan dapat pulih kembali (reversible). (Muhiman M et
al, 2007)
Komponen trias anestesi ideal terdiri dari hipnotik, analgesik, dan
relaksasi otot. Sejak jaman dahulu, anestesia dilakukan untuk mempermudah
tindakan operasi atau bedah. Obat anestesi umum adalah obat atau agen yang
dapat menyebabkan terjadinya efek anestesia umum yang ditandai dengan
penurunan kesadaran secara bertahap karena adanya depresi susunan saraf pusat.
Menurut

rute

Anastesiumumdapatdiberikansecarainhalasidanintravena.
dalam

hal

farmakodinamik.

pemberiannya,
Keduanya

berbeda

Anastetikainhalasidibedakanmenjadi

yaituanastesicairanmenguap (volatile liquid)dananastesijenisgas.Anastesivolatile


liquidmerupakancairan

yang

mudahmenguappadatemperatureruangankarenatitikdidihnyarendah,
selainitutergolongdalam halogen hidrokarbonkarenamengandungfluor, klorin,
ataubrominedalamstrukturnya. (Haveles, Elena Bablenis, 2011).
Pada praktikum ini, kami melihat pengaruh pemberian obat eter terhadap
perubahan kondisi kesadaran kelinci yang dapat diamati dengan beberapa
parameter penting. Praktikum pemberian anastesi umum pada kelinci ini

menggunakan obat anastetik menguap (eter). Anatetik yang menguap mempunyai


3 sifat dasar yang sama, yaitu berbentuk cairan pada suhu kamar, mempunyai sifat
anstetik kuat pada kadar rendah dan relatif mudah larut dalam lemak, dara, dan
jaringan. Eter merupakan cairan tidak berwarna, mudah menguap, berbau, mudah
terbakar, meniritasi saluran nafas da mudah meledak. Eter juga merupakan
anastetik yang sangat kuat sehingga penderita dapat memasuki setiap tingkat
anastesi. (Drury, PME. 1998)
Tahap-tahap penurunan kesadaran dapat ditentukan dengan pengamatan
yang cermat terhadap tanda-tanda yan terjadi, terutama yang berhubungan dengan
koordinasi pusat saraf sirkulasi, respirasi, musculoskeletal dan fungsi-fungsi
otonom yang lain pada waktu-waktu tertentu. Beberapa anastetik umum berbeda
potensinya berdasarkan sifat farmakokinetik dan farmakodinamik yang berbedabeda pula, selain itu sifat farmasetika obat juga mempengaruhi potensi
anastesinya. Potensi anastetik yang kuat dapat disertai dengan potensi depresi SSP
yang kuat, sehingga perlu dilakukan pemantauan yang ketat untuk menghindari
turunnya derajat kesadaran sampai derajat kematian.
1.2 Tujuan
1. Melakukan anestesi umum dengan eter pada kelinci percobaan
2. Mengamati stadium anestesi yang terjadi melalui parameter-parameter
antara lain: respon nyeri, lebar pupil, jenis pernapasan, frekuensi jantung,
dan tonus otot
3. Menjelaskan stadium-stadium anestesi
1.3 Manfaat
1. Mahasiswa mampu melakukan anestesi umum dengan eter pada kelinci
percobaan
2. Mahasiswa mampu mengamati stadium anestesi yang terjadi melalui
parameter-parameter antara lain: respon nyeri, lebar pupil, jenis
pernapasan, frekuensi jantung, dan tonus otot
3. Mahasiswa mampu menjelaskan stadium-stadium anestesi

BAB II
3

METODE PRAKTIKUM

2.1 Alat dan Bahan


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Hewan coba kelinci yang cukup besar dan sehat


Obat anestesi eter
Stetoskop
Corong
Alat penjepit
Senter

2.2 Cara Kerja


1. Hewan coba diposisikan terbaring miring dengan tangan dan kaki yang
dipegang tanpa menekan jantung (berada di kiri).
2. Sebelum melakukan percobaan, keadaan hewan coba diamati:
Keadaan pernafasan: frekuensi, dalamnya pernafasan, teratur atau

tidak
Keadaan mata: lebar pupil (mm), reflek kornea, konjungtiva,

pergerakan mata
Keadaan otot: keadaan gerak, tonus otot bergaris
Keadaan saliva: saliva banyak atau sedikit
Rasa nyeri: keadaan rasa nyeri (dengan menjepit telinga)
Lain-lain: muntah, ronkhi, warna telinga
3. Corong anastesi atau mouth cap dipasang pada moncong kelinci dengan
baik kemudian eter diteteskan pada corong dengan kecepatan kira kira 60
tetes per menit secara konstan.
4. Catat waktu:
Mulai meneteskan eter
Adanya tanda tanda dari setiap stadium
Keadaan dimana hewan coba sudah berada dalam anastesi yang
cukup untuk memulai operasi
5. Setelah tercapai stadium of anesthesia keadaan hewan coba dipertahankan
selama kurang lebih 5 menit kemudian keadaan hewan coba diamati
kembali seperti sebelum diberikan eter.
6. Biarkan hewan coba sadar kembali dan waktu sadarnya dicatat.

BAB III
HASIL
Tercapainya stadium I
Tercapainya stadium II
Tercapinya stadium III
Kontrol
Pernafasan
- Frekuensi
-

Irama
Jenis

TetesanEter

340/menit

1.36

Cepatdanteratur
Torakoabdominal

pernafasanmenurun
Cepatdantidakteratur
2.23 torakspositif
4.00

- Amplitudo
Jantung
- Denyutnadi
- Takhikardi
- Brkhikardi
Mata
- Lebar pupil
- Mydriasis

abdominal

Sedang

positif
Sedang

172
-

2.15

Takikhardi I
Takhikardi II

4.25
ada

1,3 mm

Membesar

1.15

Mydriasis I

Myiosis

4.25

mydriasis II

Reflex cahaya

ada

2.12
1.32

meiosis
adarefleks

ada

1.50
2.16

tidakada
ada

Normal danstabil

2.36 tidakada
Lambat

Ada tahanan
ada
Ada,loncat

Tidakada
Ada tapilemas
2.10 eksitasi

Tidakada

5.16
Ada

Reflex kornea

- Pergerakanmata
Gerakanotot
- Tonus otot
- Gerakan
Rasa Nyeri
Salivasi
Auskultasi
- Ronchi
- Lain-lain

Tidakada

tidakadarefleks

Ada tapitidakkelihatan
-

Pada hasil praktikum diatas menunjukkan bahwa hewan coba yang masih
normal dan belum teranastesi memiliki tanda-tanda perbedaan dengan setelah
dianastesi. Terlihat pada parameter pernafasan sebelum diberikan anastesi
frekuensi pernaasan 340/menit, irama cepat dan terarur, jenis nafas torako
abdominal

(denyut

yang

bersamaan

antara

toraks

dan

abdomen),serta

amplitudonya sedang. Sedangkan setelah pemberian anastesi pada menit 1.36


tampak pernafasan mulai turun, iramanya cepat dan tidak teratur, pada menit 2.23
mulai terjadi pernafasan toraks dan pada menit 4.00 terjadi pernafasan abdomen,
amplitudonya sedang.
Parameter yang kedua adalah dilihat dari jantung yaitu pada keadaan
normal denyut nadi 172/menit dan tidak ada takhikardi serta brakhikardi,
sedangkan pada keadaan teranastesi pada menit ke 2.25 terjadi takhikardi
pertama, kemudian terjadi brakhikardi hingga pada menit ke 4.25 terjadi
takikhardi yang kedua.
Parameter yang ketiga adalah dilihat dari mata hewan coba yaitu pada
kondisi normal lebar pupil 1,3 mm,ada refleks cahaya dan refleks kornea dan
pergerakan mata stabil serta normal juga tidak terjadi mydriasis dan meiosis.
Sedangkan setelah pemberian anastesi ether pada menit ke 1.15 terjadi Mydriasis
I,pada menit ke 4.25 terjadi mydriasis II dan pada menit ke terjadi 2.12meiosis.
Pada menit ke 1.32 Nampak masih adanya refleks cahaya dan di menit ke 1.50
sudah tidak ada refleks cahaya. Pada menit ke 2.16 ada refleks kornea sedangkan
pada menit ke 2.36 tidak ada refleks kornea. Pergerakan mata lambat.
Parameter yang keempat adalah geraan otot, pada kondisi normal masih
tampak adanya tahanan dan perlawanan juga masih ada gerakan aktif dari hewan
coba sedangkan setelah pemberian anastesi hewan coba sudah tidak lagi
memberikan tahanan dan perlawanan tetapi masih ada gerakan meskipun lemas.
Parameter yang kelima adalah rasa nyeri dimana pada keadaan normal
hewan coba mengalami rasa nyeri dan meloncat saat dilakukan rangsangan
dengan menjepit telinganya. Sedangkan pada pemberian anastesi hewan coba

pada menit ke 2.0 mengalami eksitasi dan pada menit ke 5.16 tidak lagi
merasakan nyeri dan tidak ada refleks.
Parameter yang keenam adalah dilihat dari saliva hewan coba yaitu pada
keadaan normal tidak terjadi hyperslivasi sedangkan pada keadaan teranastesi
terjadi hypersalivasi.
Parameter yang terakhir adalah auskultasi pada saat sebelum anastesi tidak
terdengar ronchi sedangkan setelah teranastesi mulai terdengar ronchi.

BAB IV
DISKUSI

4.1 Anestesi Umum


Anestesi umum adalah keadaan hilangnya nyeri di seluruh tubuh dan
hilangnya kesadaran yang bersifat sementara yang dihasilkan melalui penekanan
sistem syaraf pusat karena adanya induksi secara farmakologi atau penekanan

sensori pada syaraf. Agen anestesi umum bekerja dengan cara menekan sistem
syaraf pusat (SSP) secara reversible. Anestesi umum merupakan kondisi yang
dikendalikan dengan ketidaksadaran reversibel dan diperoleh melalui penggunaan
obat-obatan secara injeksi dan atau inhalasi yang ditandai dengan hilangnya
respon rasa nyeri (analgesia), hilangnya ingatan (amnesia), hilangnya respon
terhadap rangsangan atau refleks dan hilangnya gerak spontan (immobility), serta
hilangnya kesadaran (unconsciousness).
Mekanisme kerja anestesi umum pada tingkat seluler belum diketahui
secara pasti, tetapi dapat dihipotetiskan mempengaruhi sistem otak karena
hilangnya kesadaran, mempengaruhi batang otak karena hilangnya kemampuan
bergerak, dan mempengaruhi kortek serebral karena terjadi perubahan listrik pada
otak. Anestesi umum akan melewati beberapa tahapan dan tahapan tersebut
tergantung pada dosis yang digunakan. Tahapan teranestesi umum secara ideal
dimulai dari keadaan terjaga atau sadar kemudian terjadi kelemahan dan
mengantuk (sedasi), hilangnya respon nyeri (analgesia), tidak bergerak dan
relaksasi (immobility), tidak sadar (unconsciousness), koma, dan kematian atau
dosis berlebih.
Anestesi umum yang baik dan ideal harus memenuhi kriteria : tiga
komponen anestesi atau trias anestesi (sedasi, analgesi, dan relaksasi), penekanan
refleks, ketidaksadaran, aman untuk sistem vital (sirkulasi dan respirasi), mudah
diaplikasikan dan ekonomis. Dengan demikian, tujuan utama dilakukan anestesi
umum adalah upaya untuk menciptakan kondisi sedasi, analgesi, relaksasi, dan
penekanan refleks yang optimal dan adekuat untuk dilakukan tindakan dan
prosedur

diagnostik

atau

pembedahan

tanpa

menimbulkan

gangguan

hemodinamik, respiratorik, dan metabolik yang dapat mengancam


Agen anestesi umum dapat digunakan melalui injeksi, inhalasi, atau
melalui gabungan secara injeksi dan inhalasi. Anestetikum dapat digabungkan
atau dikombinasikan antara beberapa anestetikum atau dengan zat lain sebagai
preanestetikum dalam sebuah teknik yang disebut balanced anesthesia untuk
mendapatkan efek anestesi yang diinginkan dengan efek samping minimal.
Anestetika umum inhalasi yang sering digunakan pada hewan adalah halotan,

isofluran, sevofluran, desfluran, dietil eter, nitrous oksida dan xenon. Anestetika
umum yang diberikan secara injeksi meliputi barbiturat (tiopental, metoheksital,
dan pentobarbital), cyclohexamin (ketamine, tiletamin), etomidat, dan propofol.
Tujuan Anestesi Umum:
anestesi umum menjamin hidup pasien, yg memungkinkan operator
melakukan tindakan bedah dg leluasa dan menghilakan rasa nyeri.

Efek samping anestesi umum yang dapat terjadi adalah depresi


miokardium dan hipotensi (anestesi inhalasi), depresi nafas (terutama anestesi
inhalasi), gangguan fungsi hati ringan, gangguan fungsi ginjal, hipotermia dan
menggigil pasca operasi, batuk dan spasme laring serta delirium selama masa
pemulihan.
Sebelum diberikan zat anestesi pada pasien, diberikan medikasi preanestesi
dengan tujuan untuk mengurangi kecemasan, memperlancar induksi, merngurangi
keadaan gawat anestesi, mengurangi timbulnya hipersalivasi, bradikardia dan
muntah sesudah atau selama anestesia. Untuk tindakan ini dapat digunakan :
a. analgesia narkotik untuk mengurangi kecemasan dan ketegangan, mengurangi
rasa sakit dan menghindari takipneu. Misalnya morfin atau derivatnya misalnya
oksimorfin dan fentanil
b. barbiturat biasanya diguankan untuk menimbulkan sedasi. Misalnya
pentobarbital dan sekobarbital.
c. Antikolinergik untuk menghindari hipersekresi bronkus dan kelenjar liur
terutama pada anestesi inhalasi. Obat yang dapat digunakan misalnya sulfas
atropin dan skopolamin.
d. Obat penenang digunakan untuk efek sedasi, antiaritmia, antihistamin dan enti
emetik. Misalnya prometazin, triflupromazin dan droperidol
Dalam percobaan ini, tidak diberikan premedikasi morphine-atropine
(morphine 0,5%-5 mg/kgBB; atropine 0,5% - 5mg/kgBB). Padahal sesungguhnya
pemberian premedikasi morphine-atropine dapat pada anestesidengan eter dapat
memberikan keuntungan. Penggunaan morphine dan atropin sebelum anestesi

umum dapat menurunkan sekresi saliva dan bronkus, melindungi jantung dari
vagal tone yang berlebihan selama anestesi, serta menghilangkan efek depresan
morfin pada pusat respirasi.
Pada percobaan anestesi umum pada kelinci digunakan eter sebagai
obatnya. Eter atau yang juga disebut dengan diethyl ether dan ethoxythane adalah
anastesi inhalasi dalam bentuk cairan yang menguap. Sifat dari eter yakni berupa
cairan yang jernih, tidak berwarna, memiliki bau yang tajam, mudah menguap,
mudah meledak dan terbakar. Eter banyak digunakan untuk menginduksi dan
mengelola anastesi selama operasi dan juga dapat digunakan untuk anestesi pada
penelitian hewan (WHO, 1989).
Keuntungan Eter (Drury, 1998):
1. mempertahankan stabilitas sirkulasi pada konsentrasi yang tinggi
2. dapat merelaksasi abdominal
3. dapat diandalkan dan poten, yang utamanya berguna ketika peralatan yang
rumit tidak tersedia dan membutuhkan biaya yang besar
4. sebagai bronkodilatator sehingga dapat berguna untuk menangani spasme
bronkus yang resisten terhadap obat lain.
Kerugian Eter (WHO, 1989) :
1. mudah terbakar dan meledak
2. diathermy (kenaikan suhu jaringan tubuh) merupakan kontraindikasi
ketika eter digunakan dengan oksigen
3. Dapat mengiritasi saluran nafas atas
4. Premedikasi dengan atropin penting untuk menghindari sekresi bronkial
5.
6.
7.
8.

dan saliva yang berlebihan


Spasme laring dapat terjadi selama induksi dan intubasi
Dapat menyebabkan perdarahan kapiler lokal
Mual dan muntah pasca operasi sering terjadi
Waktu pemulihan lambat, terutama setelah pemberian

yang

berkepanjangan.
Eter bukanlah anestesi yang ideal, namun eter lebih aman dari pada
kloroform dan lebih efektif dari pada N2O. Efek yang tidak diinginkan dari
paparan eter dapat meliputi batuk, radang tenggorokan, mata merah, sakit kepala,

10

kantuk, sesak nafas dan mual. Eter memiliki koefisien darah : gas yang besar,
sehinga eter sangat larut dalam jaringan tubuh, hal ini menyebabkan induksinya
lambat ketika digunakan sebagai agen anestesi tunggal sebelum operasi. Ahli
anestesi saat ini jarang sekali menggunakannya. Eter tidak dianjurkan diberikan
pada pasien yang mengalami penyakit hati yang berat dan pada pasien yang
mengalami peningkatan tekanan cairan serebrospinal (Pearce, 2004).
Efek samping Eter (WHO, 1989):
1. Spasme laring selama induksi
2. Mual, muntah dan bronkopneumonia cenderung terjadi setelah operasi,
utamanya setelah pemakaian yang berkepanjangan.
3. Efek sementara setelah operasi termasuk gangguan fungsi hati dan
leukositosis
4. Ketergantungan dapat terjadi pada individu yang berulang kali terpapar
eter.

Sebelum kelinci diberikan anestesi umum dengan eter. Kelinci dilakukan


pengamatan terlebih dahulu sebagai control. Pengamatan dilakukan dengan
melihat pernapasan kelinci dengan bantuan stetoskop dan melihat irama gerakan
pada torakoabdominal, terlihat frekuensi control 340 kali/menit, iramanya cepat
dan teratur, jenis torakoabdominal, dengan amplitudo sedang. Pengamatan control
pada jantung kelinci dengan denyut nadi 172 dalam keadaan normal. Mata pada
kelinci belum mengalami mydriasis dan myiosis dengan lebar pupil normal 1,3
mm. Terdapat gerakan otot polos pada kelinci terutama saat ada tahanan pada
tonus otot dan terdapat gerakan yang aktif. Masih terdapat gerak reflex kelinci
beserta lompatan ketika telinga kelinci dijepit dengan penjepit. Kelinci tidak
mengalami hipersalivasi. Ronchi pada kelinci juga tidak ada.
Percobaan dimulai dengan pemberian anestesi umum yaitu penetesan eter
pada corong anestesi pada moncong kelinci. Pada awal percobaan setelah 1 menit
32 detik, kelinci memasuki stadium anestesi I yaitu analgesia. Hal ini ditandai
dengan terjadinya bradikardi. Pernapasan kelinci mulai menurun. Kesadaran
kelinci masih tampak terlihat kelinci berusaha bergerak. Refleks cahaya pada mata
kelinci masih ada. Pada tahap ini, rasa sakit telah menghilang. Hal ini sesuai
11

dengan teori. Pada stadium I, sebagai tahap analgesia dan dimulai tahap dimana
pasien sampai kehilangan kesadaran. (Frey, 2008)
Pada setelah 2 menit 15 detik, kelinci telah memasuki stadium II yaitu
excitement atau delirium. Ditandai dengan pernafasan cepat dan tidak teratur.
Pernafasan mulai menggunakan toraks saja. Denyut nadi menjadi cepat
mengalami takhikardi. Pupil kelinci terlihat melebar mydriasis yang pertama kali.
Refleks cahaya pada mata sudah tidak ada. Refleks kornea masih ada. Pergerakan
bola mata tidak terutur karena terjadi paralisa otot ekstrinsik bola mata. Gerakan
otot tidak terkendali. Hal ini sesuai dengan teori. Pada stadium II, merupakan
tahap pasien kehilangan kesadaran. Dikenal sebagai stadium excitement atau
delirium, karena gerakan yang tidak terkoordinasi pasien. Pelerbaran pupil
(midriasis), muntah, laryngospasme, hipertensi, dan takhikardi dapat terjadi pada
stadium ini. Peningkatan tekanan darah dan denyut nadi, respon rasa sakit, saliva
meningkat, menangis, menelan, tertawa, tonus otot skeletal meningkat. (Miller,
2005)
Eksitasi tersebut disebabkan depresi atau hambatan pusat inhibisi.
Pernafasan yang tidak teratur dan cepat diakibatkan depresi pernafasan sehingga
terjadi retensi CO2 yang mengarah ke sympatho adrenal discharged yaitu suatu
keadaan

dimana

mempersiapkan

binatang

termasuk

manusia

untuk

mempersiapkan semua sistem tubuh dalam keadaan fight atau flight. Dengan
pelepasan adrenalin pada kelenjar medulla adrenal dan norephinephrine dari ujung
saraf simpatis. (Bijlani, 2011).
Stadium iii dimulai dengan teraturnya pernapasan sampai pernapasan
spontan hilang. Tanda yang harus dikenal ialah : (Handoko, 1995)
1. Pernapasan yang tidak teratur pada stadium ii menghilang; pernapasan menjadi
spontan dan teratur oleh karena tidak ada pegaruh psikis, sedangkan
pengontrolan kehendak hilang.
2. Refleks kelopak mata dan konjungtiva hilang, bila kelopak mata atas diangkat
dengan perlahan dan dilepaskan tidak akan menutup lagi, kelopak mata tidak
bekedip bila bulu mata disentuh.

12

3. Kepala dapat digerakkan ke kanan dan ke kiri dengan bebas. Bila lengan
diangkat lalu dilepaskan akan jatuh bebas tanpa tahanan.
4. Gerakan bola mata yang tidak menurut kehendak merupakan tanda spesifik
untuk permulaan stadium iii.
Stadium iii dibagi menjadi 4 tingkat berdasarkan tanda-tanda berikut ini :
(Handoko, 1995)
- Plane 1 : pernapasan teratur, spontan, terjadi gerakan bola mata yang tidak
menurut kehendak, pernapasan dada dan perut seimbang, belum tercapai relaksasi
otot lurik yang sempurna, dan miosis.
Seperti yang terjadi saat percobaan dengan menggunakan kelinci sebagai hewan
coba, pada menit ke 2.12 terjadi miosis pada pupil kelinci, pernapasan kelinci
teratur, dan pernapasan secara torako-abdominal seimbang.
- Plane 2 : pernapasan teratur tapi kurang dalam dibandingkan pada plane 1, bola
mata tidak bergerak, pupil mulai midriasis, relaksasi otot sedang, refleks laring
hilang sehingga dapat dikerjakan intubasi.
Masuknya kelinci pada stadium iii plane 2 ini ditandai dengan pupil kelinci yang
sebelumnya mengalami miosis pada plane 2 kembali mengalami midriasis pada
menit ke 4.25, tidak adanya pergerakan bola mata, pernafasan yang mulai turun,
khususnya pada torakal, dan kelinci mulai mengalami takikardi kembali.
- Plane 3 : Tanda umum dari plane 3 adalah pernapasan perut lebih nyata daripada
pernapasan dada karena otot intercostal mulai mengalami paralisis, relaksasi otot
lurik sempurna, pupil lebih midriasis tetapi belum maksimal.
Pengamatan yang dilakukan pada kelinci menunjukkan adanya midriasis yang
lebih terlihat daripada plane 2, pernafasan hanya abdominal, dan kelinci
mengalami takikardi maksimal. Saat kelinci mulai memasuki plane 3, anestesi
dihentikan untuk mencegah kelinci masuk ke stadium 4 agar tidak terjadi
kematian.

13

- Plane 4 : pernapasan perut sempurna karena kelumpuhan otot intercostal


sempurna, tekanan darah mulai menurun, pupil midriasis maksimal dan refleks
cahaya hilang.
Bila stadium iii plane 4 sudah tercapai, harus hati-hati jangan sampai
penderita masuk dalam stadium iv; untuk mengenal keadaan ini, harus
diperhatikan sifat dan dalamnya pernapasan, lebar pupil dibandingkan dengan
keadaan normal, dan mulai menurunnya tekanan darah. (Handoko, 1995)
Stadium

iv

ini

dimulai

dengan

melemahnya

pernapasan

perut

dibandingkan stadium iii plane 4, tekanan darah tak dapat diukur karena kolaps
pembuluh darah, berhentinya denyut jantung dan dapat disusul kematian. Pada
stadium ini kelumpuhan pernapasan tidak dapat diatasi dengan pernapasan buatan.
Hal ini terjadi karena over dosis. (Handoko, 1995)

BAB V
PERTANYAAN & JAWABAN

1. Apakah semua stadium pada anestesi umum dengan eter dapat terlihat
pada percobaan ini?
Ya, semua stadium anestesi umum pada percobaan ini dapat terlihat.
2. Bila dapat terlihat jelas. Apakah tanda-tanda pada tiap stadium
didapatkan?
Tanda-tanda mana sajakah yang tidak didapatkan atau tidak terlihat dengan
jelas?
Hampir semua tanda pada tiap stadium didapatkan. Namun untuk salivasi
sulit diamati. Yang paling jelas teramati adalah auskultasi dan refleks
mata, selain itu pada stadium II juga sangat jelas terlihat keadaan
excitement.
3. Pada auskultasi, apakah yang didapatkan? Kenapa hal ini dapat terjadi?
Jelaskan!
14

Pada auskultasi, dapat diketahui adanya perubahan denyut jantung yang


menandai perubahan stadium. Sebelum dilakukan anestesi, denyut jantung
normal dan teratur. Pada saat anestesi berlangsung, frekuensi denyut
jantung meningkat cepat dan tidak teratur. Hal ini dikarenakan adanya
pelepasan adrenalin dan nor adrenalin (Sympatho Adrenal Discharged)
oleh kelenjar medulla adrenal, selanjutnya adrenalin akan merangsang
reseptor beeta 2 pada jantung untuk menimbulkan efek takikardi (stadium
II anestesi). Kemudian frekuensi denyut jantung perlahan-lahan menurun
karena eter memberikan efek depresi pada sistem kardiovaskular (stadium
III plane II atau plane III). Kemudian pada saat efek anestesi mulai hilang
dan hewan coba mulai sadar kembali, denyut jantung pun kembali normal
akibat adanya efek homeostasis.
4. Pada stadium manakah rasa nyeri mulai hilang?
Rasa nyeri yang hilang dimulai dari stadium I (efek analgesi).
5. Pada stadium manakah terdapat relaksasi otot bergaris?
Otot bergaris mengalami relaksasi pada stadium III, yaitu ditandai dengan tonus
otot yang menurun.
6. Bagaimanakah salivasinya? Mengapa hal ini dapat terjadi?
Salivasi terjadi karena penurunan reflek kelenjar ludah. Untuk menghindarinya,
dalam tindakan anestesi diperlukan pemberian premedikasi. Premedikasi
adalah pemberian obat sebelum induksi anestesi dengan tujuan untuk
melancarkan induksi, salah satu diantaranya mengurangi sekresi kelenjar
ludah dan bronkus.
7. Tanda-tanda / perubahan apakah yang didapatkan pada waktu binatang coba
dari keadaan anestesi kembali ke keadaan bangun?
a. Refleks cahaya dan reflex kornea pada mata kembali normal
b. Frekuensi nafas kembali normal
c. Ada pertahanan dan pergerakan pada tonus otot
8. Cara pemberian anastesi pada percobaan ini disebut cara apa?
Cara cara apa saja yang dapat digunakaan pada pemberian anastesi umum?
jawaban:

15

Pada percobaan kali ini, pemberian anastesi umum diberikan melalui cara
inhalasi. Pemberian anastesi umum selain dapat dilakukan melaui cara
inhalasi, juga bisa dilakukan melalui cara injeksi intravena atau melalui
intramuskuler

9. Apa kerugian/keuntungan eter sebagai anastesi umum?


Keuntungan :
pemakaian sederhana dan aman
tidak menekan peredaran darah dan pernafasan
dapat diberikan secara tetes terbuka ( open drop)
harga murah
stabil
potensi cukup baik
alat pemberian sederhana
Kerugian:

Bekerja lambat
Dapat mengiritasi saluran nafas dan mata
Menyebabkan vomiting dan nausea
Kontra indikasi terhadap penyakit paru

10. Dan bagaimana pula dengan chloroform , halothane, Cyclopropane, nitrous


oksida dan pentothal?
Chloroform: Memiliki keuntungan yaitu; onset kerjanya cepat dan tidak memiliki
banyak efek samping. Memiliki kerugian yaitu; dapat menyebabkan cardiac
arythmia dan cardiac arrest serta neonatal depression pada janin
Halothane: Memiliki keuntungan yaitu; tidak menyebbakan iritasi saluran nafas
dan mata, onset kerja lebih cepat, tidak menyebabkan vomiting dan
nausea.Namun memiliki kerugian yaitu; harganya lebih mahal, dapat
16

menyebabkan gangguan fungsi hati, kerjanya menekan pernafasan dan


kardiovaskuler, penderita dapat mengalami hipotensi, hipoventilasi, atau
cardiac arrhythmia
Cyclopropane: Memiliki keuntungan yaitu; onset kerjanya cepat, saturasi oksigen
hampir 100%, serta tidak mempengaruhi fungsi tubuh. Memiliki kerugian
yaitu; bersifat eksplosif dan mudah terbakar, dapat menyebabkan cardiac
arythmia, pada ibu hamil dapat mempengaruhi dan menekan pernafasan ibu
dan

anak.

Nitrous oksida:Memiliki keuntungan yaitu; onset kerjanya cepat, tidak bersifat


eksplosif, tidak berbau, tidak begitu mempengaruhi fungsi tubuh. Memiliki
kerugian yaitu; dapat menimbulkan gangguan oksigenasi karena konsentrasi
tinggi dalam darah ( 40-70%), dapat menyebabkan hipoventilasi, respirasi ,
hipoksemi dan aspirasi cairan lambung

Pentothal: Dapat mengakibatkan vomiting dan nausea


11. Anasthesi umum apa sajakah yang tidak boleh digunakan pada
penderitayang baru menderita hepatitis infeksiosa?
Anestesi Halothane dan anestesi inhalasi yang bersifat halogen seperti enflurane,
isoflurane, sevoflurane, and desflurane. Karena sifatnya yang hepatotoksis
sehingga dapat mengalami

reaksi

oksidatif

pada hepar

sehingga

menghasilakn metabolism yang merusak hepar

12 Anastesi manakah yang baik / dapat digunakan pada penderita


dengan tuberculosis paru dupleks?
Ketamine karena ketamine dapat menyebabkan bronkodilatotor karena sifatnya
yang sympatomimetic sehingga sangat cocok untuk penderita dengan
tuberculosis paru paru dupleks

17

13. Apakah pemberian adrenalin dapat dilakukan pada semua anasthesi diatas?
Dengan anastesi apa yang tidak boleh? Jelaskan
tidak, adrenaline tidak dapat diberikan pada pasien yang menerima anestesi
halogenasi hidrokarbon seperti halothane karena sebelumnya sudah
memberikan efek sensititasi miokardium . Sehingga apabila diberikan
tambahan adrenalin dapat menyebabkan arrhythmia termasuk kontraksi
premature ventrikel, takikardi, dan fibrilasi

18

BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Anastesi yang kami lakukan pada praktikum kali ini adalah anastesi
(Inhalasi) yang merupakan jenis anastesi umum. Anestesi umum adalah keadaan
hilangnya nyeri di seluruh tubuh dan hilangnya kesadaran yang bersifat sementara
yang dihasilkan melalui penekanan sistem syaraf pusat karena adanya induksi
secara farmakologi atau penekanan sensori pada syaraf. Agen anestesi umum
bekerja dengan cara menekan sistem syaraf pusat (SSP) secara reversibel.Onset of
action ether pada stadium I pada menit ke 1.32, stadium II menit ke 2.15, dan
stadium III pada menit ke 4.25, Pengaruh ether pada kelinci hilang setelah 5
menit.
6.2 Saran
Penggunaan eter pada kelinci harus diawasi dalam pencapaian setiapsetiap stagenya. Jika ceroboh kelinci dapat masuk pada stage 4 yang dapat
mengakibatkan kematian.

19

DAFTAR PUSTAKA
Bijlani, S. (2011). Understanding Medical Physiology: A Textbook for Medical
Students. New Delhi: Jaypee Brothers Publisher.
Drury, PME. 1998. Anaesthesia in the 1929s. British Journal of Anaesthesia; 80:
96-103.
Frey, K. (2008). Surgical technology for the surgical technologist. Clifton Park,
NY: Delmar Cengage Learning.
Handoko, Tony. 1995. Anestesi Umum, dalam Farmakologi dan Terapi, edisi 4.
Jakarta.

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Haveles, Elena Bablenis. 2011. Applied Pharmacology for the Dental Hygenist. 6 th
ed. Missouri: Mosby Elsevier. Hal: 127
Miller, R. (2005). Miller's anesthesia. New York: Elsevier/Churchill Livingstone.
Muhiman M, Thaib MR, Suniatrio S et al. 2007. Anastesiologi. Jakarta. FKUI.
Hal 34-98
Pearce,

david.

2004.

BLTC

Research,

[online],

(www.general-

anasthesia.com/people/ether.html, diakses tanggal 8 April 2015).


StafPengajarDepartemenFarmakologi

FK

UNSRI.

2008.

Kumpulan

KuliahFarmakologi.Jakarta: EGC. 2nd ed. hal:461


WHO. 1989. WHO Model Prescribing Information : Drugs Used in Anaesthesia.
World Health Organization. Swirzerland. pp. 20-21.

20