Anda di halaman 1dari 13

KONTROL GENETIK PADA PEMBELAHAN SEL: ONKOGEN DAN

PROTOONKOGEN

RESUME
UNTUK MELENGKAPI TUGAS MATA KULIAH
Pendidikan Pancasila
yang di bina oleh Bapak Marsudi

Disusun Oleh :
Kelompok 14/Off.A/2013
Amalia A.

(130341603369)

Shila Avila

(130341603369)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
September 2013

A. REGULASI SIKLUS SEL MITOSIS PADA EUKARIOTA


Pada sel yang sedang tumbuh dan berkembang, membran sel dan sebagian besar
komponen yang ada di sitosol akan mengalami peningkatan dalam hal ukuran dan kuantitas.
Ketika sel mencapai masa kritis maka sel akan mengalami pembelahan dan menghasilkan dua
progeni yang berukuran lebih kecil. Pada kondisi yang sesuai, sel-sel ini akan mengalami
pertumbuhan dan akan membelah. Dalam pembelahan sel ada 2 hal yang penting yaitu materi
genetik harus digandakan dan dua salinan dari materi genetik

akan diturunkan pada

keturunannya. Semua sel memiliki siklus sel yang berfungsi untuk mengoordinasi berbagai
aktivitas sel melalui berbagai mekanisme. Jadi ada pengaturan tersendiri untuk sel dapat
memulai replikasi DNA dan waktu sel untuk memulai kondensasi kromosom saat mitosis.
Siklus pembelahan sel dapat dipelajari pada Sacharomycess cerevisae dan
pembelahan embrio pada Xenopus laevis. Dalam proses tersebut menunjukkan ada 2 proses
yang dapat membuat sebuah sel dapat melanjutkan ke tahap siklus sel selanjutnya. Tahap
pertama, yaitu tahap awal yang terjadi di dekat akhir fase G1. Pada tahap awal, sel akan
memulai sintesis DNA dalam waktu yang singkat pada awal fase S pada siklus sel.
Sedangkan pada tahap kedua, sel akan melanjutkan prosesnya melalui adanya kondensai pada
kromosom dan pemisahan kromatid saat terjadi mitosis, dan hal ini terjadi pada awal fase M
pada siklus sel. Sebuah faktor mitosis yang disebut MPF telah ditemukan pertama kali pada
Xenopus. Ketika MPF disuntikkan ke oosit Xenopus, maka MPF akan merangsang oosit
untuk memasuki fase M. Hal ini dikarenakan di dalam MPF ternyata mengandung dua
komponen yang sangat penting yaitu (1) Adanya protein yang disebut siklin yang mengalami
siklus sintesis dan akumulasi selama G1 dan G2 dan degradasi selama M fase. (2) adanya
pp34 dimana pp merupakan phosphoprotein yang merupakan sebuah protein yang memiliki
gugus fosfat pada rantai samping asam amino tertentu, dan memiliki berat molekul sebesar
34.000 bobot molekul). PP34 ini merupakan produk dari gen Cdc2 S. pombe dan CDC28 gen
S. cerevisiae. Adanya pp34 ini akan terlibat dalam awal fase M.
B. KOMUNIKASI ANTAR SEL PADA EUKARIOTA MULTISELULER
Mekanisme regulasi pembelahan sel dan pertumbuhan sel pada eukariota multiseluler
sangat kompleks. Hal ini dikarenakan adanya komunikasi antar sel yang memiliki peran
utama dalam mengatur regulasi komunikasi antar sel. Setiap jaringan yang ada di dalam
organ dan setiap organ yang ada di dalam tubuh organisme harus tumbuh dengan ukuran yang
tepat. Semua pertumbuhan yang ada di dalam tubuh jarus dikoordinasikan secara benar

sehingga dalam proses pembelahan sel harus dikontrol secara tepat dan harus mengikuti
peraturan oleh adanya sinyal-sinyal tertentu dalam suatu organ ataupun jaringan.
Pembelahan sel berada di bawah kontrol genetik. Jadi ada gen tertentu yang mengatur
proses pembelahan sel dalam menaggapi respon intraseluler, antarsel dan sinyal lingkungan.
Gen pengatur ini juga dapat dipengaruhi oleh mutasi. Adanya mutasi dapat menghilangkan
fungsi gen regulator sehingga dapat menyebabkan pembelahan sel yang abnormal, baik
kemampuan untuk membagi sama sekali atau ketidakmampuan untuk berhenti membelah.
Pembelahan sel pada hewan dikendalikan oleh suatu kontrol genetik. Akan tetapi saat
ini telah ditemukan adanya virus gen yang disebut dengan oksogen yang dapat menyebabkan
hilangnya kontrol pembelahan sel secara normal. Selain itu juga terdapat suatu protookogen
pada sel normal yang dapat berubah menjadi onkogen selular tumor. Hal ini dikarenakan
adanya mutasi pada suatu gen atau urutanurutan baru pada proses rekombinasi. Pada fungsi
sel yang normal, protoonkogen memiliki mekanisme tertentu untuk mengontrol pembelahan
sel.
C. SEL-SEL KANKER: KEHILANGAN KONTROL PEMBELAHAN SEL
Kanker merupakan golongan penyakit yang diakibatkan adanya pertumbuhan dan
pembelahan sel yang tidak terkendali.

Dalam suatu sistem jaringan nonsirkulasi,

pertumbuhan sel yang tidak terkendali tersebut akan menghasilkan tumor. Dalam hal ini ada
kanker atau tumor ganas dan kanker atau tumor jinak. Pada kanker atau tumor ganas adalah
sel-sel yang dapat berpisah dan bermigrasi ke bagian tubuh yang lain. Tumor atau kanker
ganas akan mengalami metastasis. Hal ini berbeda dengan kanker atau tumor jinak yang tidak
dapat bermetastasis.
D. TUMOR- INDUKSI VIRUS : VIRUS ONKOGEN
Adanya informasi mengenai onkogen diperoleh dari hasil studi pada virus tumor RNA
dan retrovirus. Pada retrovirus menyimpan informasi genetik dalam bentuk genom RNA
tunggal dan kemudian dapat diubah menjadi bentuk DNA homolog yang memiliki double
strain setelah virus berhasil menginduksi sel inang. Dengan demikian disini terjadi
pembalikan informasi genetik yang biasanya dari DNA ke RNA. Namun adanya retrovirus ini
informasi genetik menjadi dari RNA ke DNA pada saat transkipsi. Dalam peristiwa ini
retrovirus akan mengkode enzim yang spesifik yang disebut dengan reverse transkriptase
yang dapat mengkatalisis sintesi urutan DNA homolog dengan menggunakan molekul RNA
sebagai template.

Pada genom virus tumor DNA seperti polyomavirus, SV40 dan adenovirus juga
mengandung onkogen yang mampu menginduksi pertumbuhan sel yang tidak terkendali.
Namun dalam onkogen virus DNA ini telah terbukti lebih sulit untuk dipelajarai daripada
retrovirus karena tumor menginduksi sifat virus DNA ini tidak mudah dibedakan dari efek
yang disebabkan oleh replikasi kromosom virus dan ekspresi gen virus lainnya yang
mengakibatkan kematian sel inang yang terinfeksi.
Siklus hidup dari virus Rous sarcoma
Salah satu contoh dari retrovirus adalah virus Rous sarcoma yang menginduksi kanker
pada sel ayam. Ketika virus Rous sarcoma menginfeksi sel, tidak lama kemudian genom
RNA akan direplikasi ke dalam bentuk DNA selama transkripsi balik dan DNA virus akan
diintegrasikan ke dalam DNA kromosom pada sel inang. Dalam keadaan yang terintegrasi ini,
sel inag akan melakukan proses transkripsi dan translasi seperti gen-gen normal yang ada
pada sel inang.
Pada genom virus Rous sarcoma mengandung 4 gen yaitu: (1) Geg gag, yang
mengkode protein kapsid virion. (2) Gen pol, yang mengkode transkrispi balik. (3) Gen env,
yang mengkode selubung protein virus. (4) Gen scr onkogen, yang mengkode ikatan
membran protein kinase. Gen scr ini berperan dalam menyebabkan kanker karena adanya
salah satu delesi dari gen virus yang menginfeksi dan bereplikasi.
Keragaman onkogen retrovirus
Pada saat ini terdapat 20 onkogen retrovirus yang sudah berhasil ditemukan. Dari
hasil studi menunjukkan bahwa retrovirus yang berbeda akan menyebabkan kanker yang
sering membawa onkogen yang saling terkait. Akan tetapi ada juga onkogen retrovirus yang
belum berhasil ditemukan. Secara total termasuk onkogen virus DNA seluler terdapat 40 gen
yang berbeda dan termasuk ke dalam onkogen.
Produk Onkogen Sebagai Regulator Pembelahan Sel
Onkogen dapat menginduksi pertumbuhan sel yang tidak terkendali dan
mengakibatkan tumor. Akan tetapi hal lain yang juga memungkinkan adalah produk dari gen
ini akan bertindak dalam perangsangan pembelahan sel dalam berbagai cara. Hal ini
menunjukkan bahwa produk gen onkogen ini berperan dalam pengatur pembelahan sel.
Misalnya, produk dari onkogen v-sis dari virus sarkoma pada monyet akan berkaitan erat
dengan hormon pertumbuhan polipeptida yang disebut dengan derifa faktor pertumbuhan

platelet (PDGF). PDGF ini diproduksi oleh sel platelet yang berfungsi untuk prose
spenyembuhan luka dan merangsang pertumbuhan sel-sel yang terluka.
Pada onkogen ErbB dan fms mengkodekan protein yang terkait erat dengan reseptor
untuk faktor pertumbuhan epidermal dan CSF-1 untuk masing-masing faktor pertumbuhan.
CSF-1 merupakan faktor pertumbuhan yang merangsang pertumbuhan dan diferensiasi
makrofag. Kedua reseptor faktor pertumbuhan ini adalah protein transmembran yang dapat
berikatan dengan domain yang ada di luar sel dan domain protein kinase di dalam sel. Adanya
reseptor ini akan berperan dalam menagkap sinyal yang ada pada transmembran. Pada
transmembran terdapat protein reseptor tirosin kinase yang dapat mentransmisikan sinyal
mitogenik sehingga akan terjadi perubahan dalam struktur dan fungsi protein yang akan
berubah menjadi onkogenik. Jika tidak berfungsi maka sinyal akan memberitahu sel untuk
membelah diri, namun dalam hal ini sel tidak membelah diri sehingga akan menghasilkan
informasi tumor.
Singkatnya, produk onkogen adalah protein sederhana yang memainkan peran penting
dalam merangsang pembelahan sel dalam satu atau lebih jenis sel. Dalam beberapa kasus,
produk onkogen dapat berubah karena adanya protein mutan yang memicu pembelahan sel
yang seharusnya sel tidak melakukan pembelahan. Dalam hal ini produk onkogen
merangsang pembelahan sel yang abnormal dengan menghasilkan hasil produksi sel yang
berlebihan dan disintesis dalam jumlah yang banyak dari pada sel yang normal.
E. PROTO ONKOGEN DAN ONKOGEN SELULER
Gen dengan urutan DNA yang sangat mirip dengan onkogen retroviral dan protein
mengkodekan sifat yang sama. Hal ini telah diidentifikasi dalam genom hewan tingkat tinggi
termasuk manusia dengan menggunakan dua pendekatan eksperimental yang berbeda, yaitu
(1) Mencari urutan DNA sel yang akan dihibridisasi dengan onkogen virus hewan. (2)
Melihat langsung sel kanker yang menyebabkan gen dalam genom sel kanker melalui
eksperimen transfeksi. Dalam eksperimen ini DNA sel tumor akan diisolasi dan ditambahkan
ke sel-sel kultur jaringan yang normal untuk melihat adanya perubahan kondisi kanker.
Kedua pendekatan berhasil dalam beberapa kasus & keduanya telah menghasilkan
identifikasi onkogen selular yang sama.
Homologi Dengan Onkogen Virus
DNA genom dari sel normal pada semua hewan yang lebih tinggi berisi urutan DNA
yang di hibridasi dengan semua urutan onkogen retroviral. Dalam beberapa kasus, sekuens

onkogen retroviral yang homolog ditemukan pada eukariota rendah seperti Saccharomyces
cerevisiae. Pada awalnya orang menduga adanya urutan genom DNA yang dihibridasi dengan
onkogen hanya ada pada provirus yang terintegrasi. Akan tetapi ketika urutan genom DNA
diisolasi dari genom, telah ditemukan gen seluler normal dengan struktur yang berbeda dari
onkogen virus yang homolog. Gen-seg seluler yang normal yang homolog dengan onkogen
disebut protoonkogen. Protoonkogen ini dapat bermutasi menjadi bentuk sel yang bisa
merangsang onkogenesis yaitu kemampuan untuk mengubah sel menjadi neoplastik atau
kanker. Dalam bentuk terakhir disebut dengan onkogen selular untuk membedakan mereka
dari virus-virus lainnya, contoh onkogen virus antara lain: v-src, v-sis, dan v-myc.
Experimen Transfeksi
Deteksi onkogen seluler yang dilakukan melalui eksperimen transfeksi berdasarkan
kemampuan onkogen untuk mengubah pertumbuhan sel normal menjadi sel yang mengalami
pertumbuhan abnormal (kanker) disebut transformasi. Sel-sel yang normal akan tumbuh dan
berhenti membelah jika sel tersebut melakukan kontak dengan sel tetangga. Peristiwa ini
disebut inhibisi kontak yang nantinya akan membentuk lapisan tunggal sel yang ada di
permukaan botol kultur atau cawan petri tempan sel tersebut tumbuh. Jika sel mengalami
perubahan dan tidak mengalami inhibisi kontak dengan sel tetangga, maka sel tersebut akan
terus membelah dan akan membentuk tumpukan sel-sel atau tumor.
Tingkat transformasi sel dapat diamati jika DNA dari sel normal yang digunakan
dalam percobaan transfeksi dalam tingkat yang rendah namun masih terdeteksi. Hal ini sama
jika frekuensi sel lebih tinggi dari transformasi juga masih bisa diamati. Pada eksperimen
transfeksi juga digunakan untuk menunjukkan adanya onkogen selular yang tejadi secara
spontan ataupun kimia yang menginduksi tumor pada hewan. Sebagian besar onkogen seluler
dideteksi melaluo percobaan transfeksi yang melakukan isolasi dengan teknik DNA
rekombinan dan kloning gen. Ketika onkogen seluler terisolasi tersebut dibandingkan dengan
onkogen retrovirus, ternyata onkogen seluler tersebut homolog dengan salah satu onkogen
retroviral.
Onkogen Seluler Berisi Introns-Homolognya Virus Mereka Berupa Ekson Tunggal
Onkogen virus seperti scr merupakan hasil kloning oleh teknik DNA rekombinan dan
digunakan sebagai penyelidikan hibridisasi untuk mencari urutan yang homolog dalam sel
inang normal. Urutan ini berada dalam kromosom sel normal pada hewan normal yang tidak

terintegrasi oleh onkogen virus. Onkogen seluler dan protoonkogen memiliki beberapa ekson
yang dipisahkan oleh intron, sedangkan onkogen virus adalah ekson tunggal.
Gen v-src dan gen c-src berfungsi untuk mengkode protein kinase yang
memfosforilasi residu tirosin. Protein c-src terdiri atas 533 asam amino panjang. Sedangkan
protein v-src terdiri atas 526 asam amino. Perbedaan utama antara kedua protein ini terjadi
pada ujung COOH, di mana 12 asam amino yang terakhir dari protein v-src diganti dengan 19
asam amino yang sama sekali berbeda di ujung protein c-src. Selain itu adanya 18 pasang
nukleotida yang berbeda diantara kode urutan dari v-src dan c-src yang mengakibatkan 8
perubahan asam amino dalam produk protein.
Konservasi Protooncogenes Selama Evolusi
Pada lalat buah Drosophila melanogaster mengandung sel normal yang menunjukkan
homologi yang kuat untuk onkogen selular vertebrata c-abl, c-erbB, c-fps, c-raf, c-ras, cMYB, selain c-src homologi . Bahkan, genom Drosophila melanogaster berisi dua gen
dengan homologi src dan tiga gen yang homolog dengan ras, seperti genom vertebrata.
Sedangkan pada protoonkogen ras yang ada pada genom ragi Saccharomyces cerevisiae telah
ditemukan mengandung dua sekuens homolog. Jadi dapat diketahui bahwa berbagai
protooncogenes telah banyak dilestarikan selama evolusi.
Produk Protoonkogen: Regulator Kunci Dari Pembelahan Sel
Dalam tubuh manusia, ditemukan sekelompok gen yang disebut dengan protoonkogen
dengan banyak variasi, namun seluruh protoonkogen memiliki kesamaan fungsi yakni
mengatur aktivitas pembelahan sel. Protoonkogen diklasifikasikan menjadi 3 jenis, yaitu: (1)
protoonkogen yang mengkodekan faktor pertumbuhan dan reseptor faktor pertumbuhan, (2)
protoonkogen yang mengkodekan protein pengikat GTP dengan aktivitas GTP, (3)
protoonkogen yang mengkodekan protein kinase.
Protein reseptor faktor pertumbuhan bekerja dengan cara mengikat faktor
pertumbuhan pada sisi ekstraselulernya kemudian meneruskan pesan faktor pertumbuhan
tersebut melalui transmisi alosterik. Transmisi alosterik akan mengaktifkan protein kinase
dan menginduksi phosporilasi protein intraseluler. Proses ini akan menyebabkan
autophosporilasi protein tirosin kinase, akhirnya protein tirosin kinase tersebut akan
menyalurkan pesan dari faktor pertumbuhan ke nukleus dan mengaktivasi jalur sintesis
protein yang berperan dalam pembelahan seluler. Protein yang dibentuk oleh protoonkogen
ini merupakan dua unit protein yang menempel di sisi sebelah luar dan dalam membrane sel.

Protein yang melekat di sebelah luar membrane sel berfungsi sebagai reseptor sedangkan
protein disisi sebelah dalam berfungsi sebagai protein tirosin kinase. Terdapat tiga jenis
protein seperti ini yakni c-ras, c-fos dan c-jun.
Pjun Dan Pfos Sebagai Aktivator Transkripsi Gen
Produk dari dua protonkogen, c-jun dan c-fos sebagai identitas untuk mengenali
protein sebelumnya yang menunjukkan komponen dari kompleks nuklear yang diaktifkan
oleh transkripsi pada gen spesifik. Produk c-jun dan c-fos menjadi faktor AP-1 transkripsi
yang pertama teridentifikasi sebagai faktor nuklear yang diperlukan untuk induksi transkripsi
oleh senyawa tumor tertentu. Produk c-jun dan c-fos membentuk sebuah komplek sempit
yang berfungsi sebagai trans-aktivator pada transkripsi dari daerah enhancer/promoter yang
terdiri dari ikatan TGACTCA yang umum.
Sumber Mutasi Pada Ras Onkogen Seluler
Onkogen yang ada dalam sel kanker dapat dikenali dengan kemampuannya untuk
mengubah sel pertumbuhan pada pemeliharaan. Percobaan transfeksi digunakan untuk
mencari onkogen pada genom dalam berbagai tipe sel kanker manusia. Onkogen seluler
pertama menjadi karkteristik dalam derivat rinci dari carsinoma kandung kemih manusia
yang disebut EJ. Ketika onkogen seluler hadir dalam sel tumor EJ kandung kemih dikloning
dan diurutkan, ini ditemukan menjadi derivat pada c-H-ras protonkogene. Secara
mengejutkan, oncogenicity gen mutan EJ c-H ras ditemukan dari hasil substitusi pasangan
basa tunggal, yaitu pasangan basa tunggal berbeda yang terbukti berhubungan dengan
kemampuan atau ketidakmampuan dari dua gen untuk mengubah pertumbuhan sel NIH 3T3
dalam pemeliharaan. Onkogen yang dihasilkan dari protoonkogen oleh transversi dari CG ke
TA. Hasil mutasi ini dalam substitusi valin untuk glisin hadir sebagai asam amino kedua belas
(dari ujung amino) pada protein cH-ras normal.
Onkogen yang hadir dalam sel-sel kanker tersebut dikloning dan diurutkan, semua
varian yang ditemukan adalah salah satu dari tiga c-ras protooncogen. Selain itu, semua
varian alel ras dengan potensi onkogenik sebagai bahan uji pada percobaan transfeksi NIH
3T3 yang menghasilkan subtitusi asam amino pada salah satu dari tiga posisi asam amino
dalam produk gen ras. Semua mutasi yang diberikan oncogenicity pada gen ras terlibat pada
satu atau lebih dari tiga kodon: kodon nomor 12, 59, dan 61. Ikatan protein GTP lain dengan
aktivitas GTP ase, disebut protein G, yang dikenal untuk berinteraksi dengan adenilat siklase
dan mengubah tingkat cAMP dalam sel dan dengan demikian mengubah tingkah laku

metabolisme sel-sel ini. Protein G adalah protein membran plasma yang sudah tidak aktif
kecuali bila dirangsang oleh interaksi reseptor hormon tertentu. Ketika merangsang protein G
mengikat GTP dan memodulasi aktivitas adenilat siklase. Namun loncatan GTP ke protein G
kemudian dihidrolisis oleh aktivitas GTPase, mengembalikan protein ke keadaan tidak aktif.
Jika protein ras bertindak dengan mekanisme yang sama, hilangnya mutasi dari aktivitas
GTPase bisa mengunci protein ras dalam bentuk aktif, yang mungkin memicu pembelahan
sel yang terus-menerus dan pembentukan tumor.
Tempat Putusnya Translokasi pada Lokus Protooncogene
Translokasi (lembar yang terputus dan transfer bagian dari kromosom ke kromosom
nonhomolog) dan penghapusan atau kekurangan (lembar yang terputus dan hilangnya bagian
kromosom) yang melibatkan kromosom tertentu, lebih penting lagi, sering terjadi putus pada
posisi yang sama dalam kromosom ini, berulang kali diamati pada beberapa jenis sel kanker.
Contoh paling terkenal dari hal ini adalah apa yang disebut "Philadelphia" kromosom, sebuah
perubahan dari kromosom 22 yang telah kehilangan sebagian besar segmen lengan panjang.
Kromosom yang abnormal ini ditemukan dalam berbagai penelitian hingga 90 persen dari
pasien yang menderita leukimia myelogenous kronis. Kromosom Philadelphia terbukti telah
diproduksi oleh translokasi timbal balik yang melibatkan ujung lengan panjang kromosom 9
dan 22 di titik pemutusan pada kromosom 9 yang menimbulkan translokasi ini terjadi sangat
dekat dengan c-abl protoonkogen, dan pertukaran transfer gen c-abl pada kromosom 22 pada
beberapa pasien, transkripsi c-abl abnormal diproduksi; pada pasien lain, titik pemutusan
terjadi jauh dari, tapi selalu 5 '(relatif terhadap arah transkripsi) ke c-abl.
Penyisipan Aktivasi Protooncogenes
Virus RNA tumor terdiri dari dua jenis yang berbeda: (1) akut mengubah virus seperti
virus Rous sarcoma yang membawa onkogen seperti v-src dan (2) virus transformasi lambat
yang tidak membawa onkogen dan menginduksi transformasi sel untuk bagian neoplastik
setelah periode laten diperpanjang (biasanya beberapa bulan). Virus transformasi lambat
sering menyebabkan kanker dengan mengintegrasikan sebagai provirus berdekatan dengan
protooncogenes dan, dengan demikian, mengaktifkan protooncogenes ini "diekspresikan" ke
bagian. Mengulangi terminal panjang (LTRs) bentuk provirus DNA virus tumor RNA
mengandung unsur penambah / promotor yang sangat kuat, dan integerasi dari provirus ini
dapat menyebabkan peningkatan tingkat transkripsi gen yang berdekatan. Salah satu contoh
yang paling terkenal dari aktivasi retroviral dari protoonkogen seluler normal melibatkan

limfoma sel B disebabkan oleh virus avian leukosis (ALV).

Limfoma dihasilkan dari

ekspresi lebih dari c-myc disebabkan oleh integrasi provirus LTRs dengan enhancer kuat /
promotor yang berdekatan dengan c-myc.

Amplifikasi Protoonkogen Terhadap Sel Kanker


Suatu mekanisme yang dapat meningkatkan sebagian produk gen pada sebuah sel,
harus memperbanyak (Amplifikasi) produksi jumlah salinan gen pengkode. Terkadang proses
amplifikasi akan terjadisebagai sebuah komponen normal pada proses perkembangan
amplikasi gen RNAr selama oogenesis hewan. Dalam kasus lain, terjadinya amplifikasi dapat
diinduksi dengan memilih inhibitor yang bertoleransi meningkatkan enzim yang esesnsial.
Sehingga, bukti yang mengindikasi adanya protoongkogen khusus adalah frekuensi
amplifikasi pada khusus tipetipe kanker. Contoh yang terkenal dari pengaruh gen
amplifikasi adalah terjadinya toleransi pada daerah sel pertumbuhan hewan dengan obat
methotrexate. Metrothexate merupakan inhibitor dari enzim dihidrofolate reduktase (enzim
yang mengkatalisis terjadinya proses penting dalam sintesis dTMP). Metrothexate mengikat
sisi aktif dihidrofolate reduktase dan menceganya berikatan dengan substrat normal. Jika satu
sel dipilih dengan ditingkatkannya konsentrasi methotrexate, beberapa sel akan toleran
terhadap gen amplifikasi yang mengkode dihidrofolate reduktase. Selsel yang toleran
tersebut mengandung banyak salinansalinan gen dan mensintesis lebih banyak dihidrofolate
reduktase dari sel nomal biasanya. Hasilnya, selsel tersebut memliki tingkat tolerir yang
tinggi terhadap methotrexate meskipun tanpa dibunuh. Beberapa dari molekul enzim akan
mengikat methotrexate dan menjadi inhibitor, akan tetapi dengan enzim yang lebih banyak,
molekul enzim bebas tersebut, berperan untuk pertahanan dan pertumbuhan sel. Banyaknya
salinan salinan gen tersebut merupakan hasil terbesar dari amplifikasi. Pada beberapa sel
yang toleran terhadap methotrexate, gene dehidrofolate reduktase dapat mengamplifikasi
lebih tinggi sekitar kurang lebih 1000 kopi per sel.
Salinan salinan tambahan pada gen dihidrofolate reduktase yang membuat sel dapat
toleran terhadap methotrexate adalah adanya (1) kromosom tambahan yang sangat kecil
disebut double minutes atau DMs atau (2) homogeneously staining regions atau HSRs dalam
kromosom yang berbeda dengan kromosom normal pada genom. Unit kromosom yang
mengalami proses amplifikasi sering dimaksud dengan amplikon. Ukuran dari amplikon
lebih besar daripada ukuran gen pengkode enzim menjadi target dari obat yang digunakan

(methotrexate) pada proses pemilihan. Unit amplikon yang sama terdapat pada DMs yang
sering bersamaan dengan unit HSR pada daerah daerah kromosom yang mengandung gen
gen amplifikasi.
Amplifikasi protoongkogen seluler dapat menjadi petunjuk bagi perkembangan
onkogenesis tipe tipe kanker pada manusia. Pada beberapa kasus, amplifikasi protoonkogen
terdapat dalam kromosom DM, namun dalam kasus lain, amplifikasi protoonkogen
merupakan bagian dari amplikon yang tandem yang terdapat pada kromosom HSR. Pada
umumnya, frekuensi amplifikasi c-myc yang sangat tinggi ditemukan pada sel karsinomas
dalam paruparu dan hanya frekuensi yang relatif kecil terdapat pada beberapa tipe sel
kanker lain. Dua gen gen seluler yang berhubungan dengan c-myc yaitu L myc dan N
myc merupakan frekunsi amplifikasi yang ditemukan pada sel karsinomas paru paru dan
neuroblastoma. Sedangkan, c erbB yang merupakan gen gen amplifikasi tetap yang sering
ditemukan dalam bentuk sel silindris karsinoma dan glioblastoma. Efek amplifikasi
protoonkogen seluler merupakan hasil dari pembentukan produk protoonkogen yang
berlebihan.
Asal Mula Virus Onkogen
Onkogen dapat menginduksi kanker nampak jelas bahwa onkogen retroviral
berkembang dari protoonkogen seluler normal. Protoonkogen seluler mengandung intron
intron dimana onkogen viral merupakan ekson ekson tunggal. Genom genom retroviral
adalah RNA, dan intron hail transkrip RNA berasal dari protoonkogen yang terpisah selama
proses transkripsi RNA. Semua itu dibutuhkan untuk terjadinya RNAd menyalin
protoonkogen menjadi ligated dalam genom RNA retrovirus yang merupakan hasil dari
mekanisme rekombinasi daerahdaerah LTR pada genom viral. Enzim viral transkriptase
balik akan mengkonversi hibrid RNAdRNA viral menjadi DNA homolog untuk
menintegrasi host genome.
Dari hasil gabungan skuen skuen nuklotida v onkogen dan c protoonkogen yang
homolog, site DNA mengalami kerusakan dan diikuti dengan peristiwa rekombinasi yang
memunculkan v okogen

v onkogen terkadang dapat dideteksi. Pada kasus lain,

terjadinya rearrangements membuat site yang mengalami rekombinasi tidak dapat terdeteksi
dan diambilalih oleh onkogen dari retrovirus. Pada beberapa kasus, onkogen viral mengkode
protein protein pembelahan yang mengandung bagian dari gag protein dan produk

onkogen. Retrovirus telah mengambilalih onkogen yang terkandung dalam materi genetik
viral yang diperlukan untuk replikasi. Virus virus yang rusak dapat mengintegrasi provirus
provirus normal, tetapi hanya bisa memproduksi virus virus progenik yang ada sebagai
helper virus yang kehilangan fungsi. Kerusakan retrovirus analog dengan kerusakan
partikel partikel fag lambda dalam melakukan transduksi. Bagaimanapun, kemampuan
mentransfr gen secara seluler dari satu sel ke sel alin merupakan bentuk ekuivalen dari
transduksi pada bakteri.
F. KANKER SEBAGAI HASIL AKHIR DARI PROSES MULTISTEP
Sebagian besar dari data keberadaan kanker adalah hasil akhir dari proses multistep.
The cell line yang digunakan dalam penelitian transfection mungkin sudah dalam beberapa
tingkatan menengah dalam jalannya, bisa dipastikan karena kemampuan tumbuh dibawah
kondisi pertumbuhan sel. The oncogene-induced transformation observed dalam pertumbuhat
sel niscaya hanya bagian dari jalan yang complit. Faktanya, ada bukti yang signifikan
menunjukan bahwa oncogenes mungkin mempunyai cooperative akibat dalam menyebarkan
neoplastic transformation. Bahkan perbedaan oncogenes terlihat memainkan peran yang
berbeda dalam oncogenes pathways dalam tipe sel yang berbeda. Hal ini terlihat bahwa
kegiatan molekul berbeda termasuk dalam the acquisition of the enhanced proliferative
capacity dari sel, kemampuan tumor untuk menyebarkan jaringan-jaringan dekat, dan
kapasitas penyebaran sel kanker. Roles protooncogenes dan oncogenes termasuk di proses ini
dalam kanker pada manusia ditetapkan. Tak peduli jumlah dari keterlibatan mereka dalam
formasi malignant tumor, penelitian sekarang dan masa depan dari protooncogenes dan
oncogenes menjanjikan untuk menghasilkan informasi penting tentang perjalanan molekul
yang mengontrol perkembangbiakan sel dalam eukariot yang lebih tinggi seperti manusia.
Pertanyaan:
1. Bagaimana produk onkogen dapat berperan dalam regulasi pembelahan sel?
Jawab: Adanya onkogen dapat menyebabkan pertumbuhan sel yang tidak terkendali
sehingg akan mengakibatkan tumor. Akan tetapi produk dari gen ini juga akan bertindak
dalam proses perangsangan pembelahan sel melalui berbagai cara. Contohnya yaitu
produk dari onkogen v-sis dari virus sarkoma pada monyet akan berkaitan erat dengan
hormon pertumbuhan polipeptida yang disebut dengan derifat faktor pertumbuhan platelet
(PDGF). PDGF ini diproduksi oleh sel platelet yang berfungsi untuk proses penyembuhan
luka dan merangsang pertumbuhan sel-sel yang terluka. Jadi dengan adanya produk

onkogen ini nantinya sel-sel yang luka akan dirangsang pertumbuhannya sehingga akan
terjadi pembelahan sel yang membentuk sel yang baru untuk menutup luka tersebut. Akan
tetapi jika produk onkogen ini mengalami mutasi maka akan menyebabkan pembelahan
sel yang abnormal sehingga menyebabkan tumor atau kanker.
2. Apa yang akan terjadi ketika terbentuk skuenskuen nuklotida vonkogen dan c
protoonkogen yang homolog bergabung?
Jawab: Site DNA mengalami kerusakan dan diikuti dengan peristiwa rekombinasi.
Onkogen viral akan mengkode protein protein pembelahan yang mengandung bagian
dari gag protein dan produk onkogen. Kemudian Retrovirus akan mengambilalih onkogen
yang terkandung dalam materi genetik viral yang diperlukan untuk replikasi. Sehingga
Virus virus yang rusak, dapat mengintegrasi provirus provirus normal, tetapi hanya
bisa memproduksi virus virus progenik yang ada sebagai helper virus yang kehilangan
fungsi.