Anda di halaman 1dari 34

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Anak merupakan komponen dalam masyarakat yang sangat rentan untuk melakukan
perbuatan yang menyimpang. Apalagi mereka berada dalam lingkungan yang kurang
mendukung. Kita tahu tindak pidana itu tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa tetapi juga
anak-anak. Jika saja tindak pidana tersebut dilakukan oleh anak-anak maka anak itu disebut
Anak Pidana
Anak yang melakukan tindak kejahatan tentu juga menjadi perhatian pemerintah.
Bentuk perhatiannya adalah dengan membuat sistem rehabilitasi sebagaimana diatur dalam
Undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang pemasyarakatan. Anak pidana akan
ditempatkan dalam Lembaga Pemasyarakatan Anak. Hal ini selain untuk memberikan efek
jera bagi pelaku kejahatan, tujuan utamanya adalah untuk memberikan pembinaan mentalspiritual bagi pelaku kejahatan untuk bisa mempertanggungjawabkan segala tindakan yang
dilakukan secara baik dan sasaran utamanya adalah agar warga binaan tidak lagi melakukan
tindak kejahatan di waktu yang akan datang.
Masalah penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainya (NAPZA)
atau istilah yang populer dikenal masyarakat sebagai NARKOBA (Narkotika dan Bahan/
Obat berbahanya) merupakan masalah yang sangat kompleks, yang memerlukan upaya
penanggulangan secara komprehensif dengan melibatkan kerja sama multidispliner,
multisektor, dan peran serta masyarakat secara aktif yang

dilaksanakan secara

berkesinambungan, konsekuen dan konsisten. Menurut laporan United Nations Office Drugs
and Crime pada tahun 2009 menyatakan 149 sampai 272 juta penduduk dunia usia 15-64
tahun yang menyalahgunakan obat setidaknya satu kali dalam 12 bulan terakhir. Dari semua

jenis obat terlarang ganja merupakan zat yang paling banyak digunakan di seluruh dunia
yaitu 125 juta sampai dengan 203 juta penduduk dunia dengan prevalensi 2,8%-4,5%
(UNODC, 2011).
Berdasarkan hasil survei Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerjasama dengan Pusat
Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (UI) memperkirakan prevalensi penyalahgunaan
NAPZA pada tahun 2009 adalah 1,99% dari penduduk Indonesia berumur 10-59 tahun. Pada
tahun 2010, prevalensi penyalahgunaan NAPZA meningkat menjadi 2,21%. Jika tidak
dilakukan upaya penanggulangan diproyeksikan kenaikan penyalahgunaan NAPZA dengan
prevalensi 2,8% pada tahun 2015 (BNN, 2011).
Berdasarkan data Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) cabang DKI
Jaya dari sekitar 2 juta orang pengguna NAPZA di Indonesia, mayoritas pengguna berumur
20-25 tahun dan pengguna adalah pria dengan proporsi 90%. Usia pertama kali menggunakan
NAPZA rata-rata 19 tahun. Kota-kota besar seperti Medan, Jakarta, Bandung, Surabaya,
Denpasar menjadi daerah tujuan pasar narkotika Internasional. Target utama pasar narkotika
adalah remaja (BKKBN, 2002). Survei Nasional BNN Tahun 2006 tentang Penyalahgunaan
dan Peredaran Gelap NAPZA pada Kelompok Pelajar dan Mahasiswa di 33 Propinsi di
Indonesia diperoleh hasil bahwa dari 100 pelajar dan mahasiswa rata-rata 8 orang pernah
pakai dan 5 orang dalam setahun terakhir pakai NAPZA.

1.2 Tujuan
1.2.1

Tujuan Umum
Mengetahui bagaimana program pembinaan di Lembaga Pemasyarakatn Anak Klas II
A Medan

1.2.2

Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui program pembinaan kepribadian dan kemandirian

2. Untuk mengetahui program rehabilitasi


3. Untuk mengetahui kegiatan-kegiatan pembinaan

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Lembaga Pemasyarakatan

2.1.1

Pengertian Lembaga Pemasyarakatan


Lembaga Pemasyarakatan yang selanjutnya disebut LAPAS adalah tempat untuk

melaksanakan pembinaan Narapidana dan Anak Didik Pemasyarakatan. (Pasal 1 Angka 3 UU


Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan). Sebelum dikenal istilah lapas di Indonesia,
tempat tersebut di sebut dengan istilah penjara. Lembaga Pemasyarakatan merupakan Unit
Pelaksana Teknis di bawah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan
Hak Asasi Manusia (dahulu Departemen Kehakiman).

2.1.2

Tujuan Lembaga Pemasyarakatan


Membentuk Warga Binaan Pemasyarakatan agar menjadi manusia seutuhnya,

menyadari kesalahan, memperbaiki diri dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat
diterima kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat aktif berperan dalam pembangunan dan
dapat hidup secara wajar sebagai warga negara yang baik dan bertanggung jawab.
Memberikan jaminan perlindungan hak asasi tahanan yang ditahan di Rumah Tahanan
Negara dan Cabang Rumah Tahanan Negara dalam rangka memperlancar proses penyidikan,
penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan
Memberikan jaminan perlindungan hak asasi tahanan / para pihak berperkara serta
keselamatan dan keamanan benda-benda yang disita untuk keperluan barang bukti pada
tingkat penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan serta benda-benda
yang dinyatakan dirampas untuk negara berdasarkan putusan pengadilan.

2.1.3

Fungsi Lembaga Pemsyarakatan


Menyiapkan Warga Binaan Pemasyarakatan agar dapat berintegrasi secara sehat

dengan masyarakat, sehingga dapat berperan kembali sebagai anggota masyarakat yang bebas
dan bertanggung jawab. ( Pasal 3 UUD No.12 Th.1995 tentang Pemasyarakatan ).

2.2

Anak Didik Lembaga Pemasyarakatan

2.2.1

Macam-macam Anak Didik


Dalam konteks pemasyarakatan, anak didik pemasyarakatan dapat dikategorikan

kedalam beberapa hal berikut ini:


1. Anak pidana adalah anak yang telah melakukan tindakan melanggar hukum, oleh hakim
diputus dengan pidana penjara. Besarnya pidana penjara setengah dari pidana orang dewasa.
Menurut pasal 1 ayat 8 huruf a Undang-Undang Pemsyarakatan Anak Pidana yaitu anak
yang berdasarkan putusan pengadilan menjalani pidana di Lembaga Pemasyarakatan Anak
paling lama sampai berumur 18 (delapan belas) tahun.
2. Anak negara adalah anak yang telah melakukan tindak melanggar hukum oleh hakim
ditetapkan untuk diserahkan pada Negara untuk dididik sampai umur 18 tahun tanpa dijatuhi
pidana. Menurut ketentuan pasal 1 ayat 8 huruf b Undang-Undang Pemasyarakatan Anak
Negara yaitu anak yang berdasarkan putusan pengadilan diserahkan kepada negara untuk
dididik dan ditempatkan di lembaga pemasyarakatan anak, paling lama sampai berumur 18
(delapan belas) tahun.
3. Anak sipil, adalah anak yang tingkat kenakalannya masih ditingkat keluarga, dimana orang
tuanya sudah tidak mampu mendidik, maka orang tuanya mengajukan permohonan pada
Pengadilan Negeri setempat, agar anak tersebut dibina di Lembaga Pemsyarakatan Anak
dengan biaya perawatan ditanggung orang tuanya. Menurut ketentuan pasal 1 ayat 8 huruf c
Undang-Undang Pemsayarakatan Anak Sipil yaitu anak yang atas permintaan orang tua atau

walinya memperoleh penetapan pengadilan untuk dididik di lembaga pemasyarakatan anak,


paling lama sampai berumur 18 (delapan belas) tahun.

2.2.2

Hak-Hak Anak Pidana


Hak asasi merupakan sesuatu yang melekat pada martabat manusia sebagai insan

ciptaan Tuhan Yang Maha Esa atau merupakan hak dasar sebagai anugerah Tuhan Yang Maha
Esa sehingga tidak dapat dipisahkan dari hakikat karena bersifat luhur dan suci.
Hal ini berarti tanpa ada pengecualian bahwa anak pidana juga mempunyai hak-hak,
meskipun mereka berada di Lembaga Pemsayarakatan yang mana oleh hakim diputus pidana
penjara. Anak nakal yang dijatuhi pidana penjara tetap mendapatkan hak-haknya sesuai
dengan ketentuan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Perwujudan hak anak
pidana didalam peraturan perundang-undangan sebagai salah satu bukti bahwa Negara
Indonesia mengakui hak asasi manusia merupakan hak dasar yang dibawa manusia sejak lahir
sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Hak-hak anak pidana tersebut diatur dalam pasal 14
ayat 1 Undang-Undang Pemsyarakatan terdiri atas:
a. Melakukan ibadah sesuai dengan agama atau kepercayaannya
b. Mendapat perawatan, baik perawatan rohani maupun jasmani
c. Mendapat pendidikan dan pengajaran
d. Mendapatkan kesehatan dan makanan yang layak
e. Menyampaikan keluhan
f. Mendapatkan bahan bacaan dan mengikuti siaran media massa lainnya yang tidak
dilarang
g. Mendapatkan kunjungan keluarga, penasehat hukum, atau orang tertentu lainnya
h. Mendapatkan pengurangan masa pidana / remisi
i. Mendapatkan kesempatan berasimilasi termasuk cuti mengunjungi keluarga

j. Mendapatkan pembebsana bersyarat


k. Mendapatkan cuti menjelang bebas
l. Mendapatkan hak-hak lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

2.3

Sistem Pemasyarakatan
Lembaga Pemasyarakatan dalam melakukan pembinaan pada warga pemasyarakatan

menggunakan

sistem

pemasyarakatan.

Menurut

pasal

ayat

Undang-undang

Pemasyarakatan, Pemasyarakatan adalah kegiatan untuk melakukan pembinaan Warga


Binaan Pemasyarakatan berdasarkan sistem, kelembagaan, dan cara pembinaan yang
merupakan bagian akhir dari sistem pemidanaan dalam tata peradilan pidana.Dengan sistem
pemasyarakatan diharapkan narapidana atau anak didik pemasyarakatan dapat kembali
diterima masyarakat tempat narapidana atau anak didik pemasyarakatan tinggal, maupun
masyarakat tempat narapidana atau anak didik pemasyarakatan kemudian tinggalsetelah
keluar dari Lembaga Pemasyarakatan. Selain itu diharapkan hubungan antara narapidana atau
anak didik pemasyarakatan dengan masyarakat termasuk korban akan menjadi baik. Dengan
demikian pemasyarakatan dapat berarti memasyarakatkan kembali terpidana sehingga
menjadi warga yang baik dan berguna.
Dalam sistem pemasyarakatan seorang narapidana tidak dipandang sebagai seorang
penjahat yang seolah-olah bukan manusia lagi. Narapidana adalah manusia biasa yang karena
kesalahannya melanggar hukum oleh hakim dijatuhi pidana. Selain itu dalam sistem
pemasyarakatan seorang narapidana tetap diakui sebagai anggota masyarakat sehingga
pembinaannya tidak boleh diasingkan dari kehidupan masyarakat. Menurut Suhardjo untuk
memperlakukan narapidana diperlakukan landasan sistem pemasyarakatan karena bahwa
tidak saja masyarakat diayomi terhadap diulangi perbuatan jahat oleh terpidana, melainkan

juga orang yang telah tersesat diayomi dengan memberikan kepadanya bekal hidup sebagai
warga yang berguna di dalam masyarakat.
Dari gagasan Suhardjo, terbentuklah 10 Prinsip Pemasyarakatan yang terdiri atas:
1) Orang yang tersesat harus diayomi dengan memberikan kepadanya bekal
hidup sebagai warga negara yang baik dan berguna dalam masyarakat.
2) Penjatuhan pidana bukan tindakan pembalasan dendam dari negara
3) Rasa tobat tidaklah dapat dicapai dengan penyiksaan.
4) Negara tidak berhak membuat seseorang terpidana lebih buruk atau lebih jahat
daripada sebelum ia masuk lembaga.
5) Selama kehilangan kemerdekaan bergerak, narapidana harus dikenalkan
kepada masyarakat dan tidak boleh diasingkan dari masyarakat.
6) Pekerjaan yang diberikan kepada narapidana tidak boleh bersifat mengisi
waktu atau hanya diperuntukkan bagi kepentingan lembaga atau negara saja.
Pekerjaan yang diberikan harus ditunjukkan untuk pembangunan negara.
7) Bimbingan dan didikan harus berdasarkan pancasila.
8) Tiap orang adalah manusia dan harus diperlakukan sebagai manusia meskipun
ia telah tersesat, tidak boleh ditunjukkan kepada narapidana bahwa ia penjahat.
9) Narapidana itu tidak hanya dijatuhi pidana hilang kemerdekaan.
10) Sarana fisik lembaga dewasa ini merupakan salah satu hambatan pelaksanaan
sistem pemasyarakatan.
Dari sepuluh prinsip pemasyarakatan tersebut pada dasarnya terdapat tiga pokok
pikiran pemasyarakatan yang terdiri atas:
1. Sebagai satu tujuan
Sebagai suatu tujuan pemasyarakatan mempunyai tujuan secara alternatif yang
disebut dalam prinsip nomor 2,3,4,8 dan 9

2. Sistem Proses
Sistem pemasyarakatan melihat unsur masyarakat dan potensi yang ada pada setiap
individu yang bersangkutan, sehingga mengandung unsur-unsur didalam prinsip
nomor 1,5,6 dan10
3. Metode untuk melaksanakan pidana penjara di Indonesia.
Metode untuk membimbing dan membina narapidana yang dimaksudkan ialah
mencari jalan keluar dengan berbagai pilihan upaya baru pelaksanaan pidana penjara,
sebagaimana sudah dijelaskan dalam cara-cara memberikan kelonggaran atau
penangguhan pidana penjara. Bimbingan dan pembinaan tersebut sesuai dengan dasar
kegiatan dalam prinsisp-prinsip nomor 3 dan 7.

2.4

Asas-Asas Pembinaan
Pembinaan di lembaga pemasyarakatan sesuai dengan pasal 5 UndangUndang

Pemasyarakatan dilaksanakan berdasarkan asas-asas sebagai berikut:


1. Asas Pengayoman Perlakuan terhadap Warga Binaan Pemasyarakatan adalah dalam
rangka melindungi masyarakat dari kemungkinan diulanginya tindak pidana oleh
Warga Binaan Pemasyarakatan. Juga memberikan bekal kehidupan kepada Warga
Binaan Pemasyarakatan agar menjadi warga yang berguna di dalam masyarakat.
2. Asas Penghormatan Harkat dan Martabat Manusia Warga Binaan Pemasyarakatan
tetap diperlakukan sebagi manusia dengan menghormati harkat dan martabatnya.
3. Asas Persamaan Perlakuan dan Pelayanan Warga Binaan Pemasyarakatan mendapat
perlakuan dan pelayanan yang sama di dalam Lembaga Pemasyarakatan, tanpa
membedakan orangnya.
4. Asas Pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan juga
mendapatkan pembinaan yang diselenggarakan berdasarkan Pancasila dengan

10

menanamkan jiwa kekeluargaan, ketentraman, pendidikan kerohanian dan kesempatan


menunaikan ibadah agamanya.
5. Asas Pendidikan Di dalam Lembaga Pemasyarakatan Warga Binaan Pemasyarakatan
mendapatkan pendidikan yang dilaksanakan berdasarkan Pancasila. Antara lain
dengan menanamkan jiwa kekeluargaan, ketentraman, pendidikan kerohanian dan
kesempatan menunaikan ibadah agamanya masing-masing.
6. Asas berhubungan dengan keluarga atau orang-orang tertentu Warga Binaan
Pemasyarakatan harus tetap didekatkan dan dikenalkan dengan masyarakat serta tidak
boleh diasingkan dari masyarakat. Untuk itu ia harus tetap dapat berhubungan dengan
masyarakat dalam bentuk kunjungan, hiburan ke dalam Lembaga Pemasyarakatan
dari anggota masyarakat yang bebas dan kesempatan berkumpul bersama sahabat dan
keluarga seperti program cuti mengunjugi keluarga.
7. Asas

Kehilangan

Kemerdekaan

Satu-satunya

Penderitaan

Warga

Binaan

Pemasyarakatan harus berada di dalam Lembaga Pemasyarakatan untuk jangka waktu


tertentu sesuai keputusan/ penetapan hakim. Maksud penempatan itu adalah untuk
memberi kesempatan kepada Negara guna memperbaikinya, melalui pendidikan dan
pembinaan. Selama dalam Lembaga Pemasyarakatan Warga Binaan Pemasyarakatan
tetap memperoleh hak-haknya yang lain selayaknya manusia.

2.5

Proses Pemasyarakatan
Untuk melaksanakan sistem pemasyarakatan, maka harus ada petunjuk teknis yang

dapat berguna sebagai pedoman atau petunjuk pelaksana dalam setiap tindakan dalam
penanganan narapidana agar sistem pemasyarakatan dapat berjalan dengan baik, seperti
tertuang dalam Surat Edaran Kepala Direktorat Jenderal Pemasyarakatan No. K.P. 10.13/3/1
tanggal 8 Februari 1965 tentang Pemasyarakatan Sebagai Proses di Indonesia maka metode

11

yang dipergunakan dalam proses pemasyarakatan ini meliputi 4 (empat) tahap, yang
merupakan suatu kesatuan proses yang bersifat terpadu sebagaimana di bawah ini:
a). Tahap Orientasi / Pengenalan
Setiap narapidana yang masuk di Lembaga Pemasyarakatan dilakukan penelitian
untuk segala hal ikhwal perihal dirinya, termasuk sebab-sebab ia melakukan
kejahatan, dimana ia tinggal, bagaimana keadaan ekonominya, latar belakang
pendidikan dan sebagainya.
b). Tahap Asimilasi dalam Arti Sempit
Jika pembinaan diri narapidana dan antara hubungannya dengan masyarakat telah
berjalan kurang dari 1/3 masa pidana sebenarnya menurut Dewan Pembinaan
Pemasyarakatan telah dicapai cukup kemajuan dalam proses antara lain: bahwa
narapidana telah cukup menunjukkan perbaikan-perbaikan dalam tingkah laku,
kecakapan dan lain-lain. Maka tempat atau wadah utama dari proses pembinaanya
ialah gedung lembaga pemasyarakatan terbuka dengan maksud memberikan
kebebasan bergerak lebih banyak lagi atau para narapidana yang sudah dalam
tahap ini dapat dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Terbuka. Di tempat
baru ini narapidana diberi tanggungjawab terhadap masyarakat. Bersamaan
dengan ini pula dipupuk rasa harga diri, tatakrama, sehingga dalam masyarakat
luas timbul kepercayaannya dan berubah sikapnya terhadap narapidana. Kontak
dengan unsur-unsur masyarakat frekuensinya lebih diperbanyak lagi misalnya
kerjabakti dengan masyarakat luas. Pada saat itu dilakukan kegiatan bersamasama dengan unsur masyarakat. Masa tahanan yang harus dijalani pada tahap ini
adalah sampai berkisar 1/2 dari masa pidana yang sebenarnya.

12

c). Tahap Asimilasi dalam Arti Luas


Jika narapidana sudah menjalani kurang dari 1/2 masa pidana yang sebenarnya
menurut Dewan Pembinaan Pemasyarakatan dinyatakan proses pembinaannya
telah mencapai kemajuan yang lebih baik lagi, maka mengenai diri narapidana
maupun unsur-unsur masyarakat, maka wadah proses pembinaan diperluas ialah
dimulai dengan usaha asimilasi para narapidana dengan penghidupan masyarakat
luar yaitu seperti kegiatan mengikutsertakan pada sekolah umum, bekerja pada
badan swasta atau instansi lainnya, cuti pulang beribadah dan berolahraga dengan
masyarakat dan kegiatan-kegiatan lainnya. Pada saat berlangsungnya kegiatan
segala sesuatu masih dalam pengawasan dan bimbingan petugas lembaga
pemasyarakatan.
d). Tahap Integrasi dengan Lingkungan Masyarakat.
Tahap ini adalah tahap terakhir pada proses pembinaan dikenal dengan istilah
integrasi. Bila proses pembinaan dari tahap Observasi, Asimilasi dalam arti
sempit, Asimilasi dalam arti luas dan Integrasi dapat berjalan dengan lancar dan
baik serta masa pidana yang sebenarnya telah dijalani 2/3-nya atau sedikitnya 9
bulan, maka kepada narapidana dapat diberikan pelepasan bersyarat atau cuti
bersyarat dalam tahap ini proses pembinaannya adalah berupa masyarakat luas
sedangkan pengawasannya semakin berkurang sehingga narapidana akhirnya
dapat hidup dengan masyarakat. Adapun pelaksanaan lepas bersyarat diberikan
kepada narapidana yang telah menjalani 2/3 (dua per tiga) dari masa pidananya
dan didasarkan kepada ketentuan dari Pasal 15a (1 s/d 6), Pasal 15b (1 s/d 3),
Pasal 16 (1 s/d 4) dan Pasal 17 KUHPidana.

13

BAB 3
GAMBARAN UMUM LAPAS ANAK MEDAN
3.1 Sejarah Singkat Lapas
Sebelum dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Kehakiman RI No. M.01.PR.07.03
tanggal 26 Februari 1985 tentang didirikannya Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Anak
Medan, narapidana anak bergabung dengan narapida dewasa dan ditempatkan di Lapas Klas I
Medan. Karena adanya pelanggaran hukum yang terjadi di masyarakat yang dilakukan oleh
anak yang belum berusia 18 tahun yang disebu kelompok anak, maka pemerintah
membangun gedung lapas khusus narapidana anak. Pembangunan gedung Lapas Anak
Medan dilakukan secara bertahap dan diresmikan pada tanggal 24 Oktober 1986 oleh Radjo
Harahap, SH Kepala Kantor Wilayah Departemen Kehakiman Sumatera Utara saat itu.
Lembaga Pemasyarakatan Anak Kelas II Tanjung Gusta kapasitas daya tampung sebanyak
250 orang sedangkan isi penghuni sebanyak 583 orang.

3.2 Data Wilayah/ Data Geografis


Lembaga Pemasyarakatan Anak Klas II A Tanjung Gusta Medan berada di Jalan
Pemasyarakatan Tanjung Gusta Kelurahan Tanjung Gusta, Kecamatan Medan Helvetia,
20125 20125.
Batas wilayahnya yaitu:
- Sebelah Utara

: Berbatasan dengan Lapas Klas I Medan

- Sebelah Selatan

: Berbatasan dengan Rumah warga

- Sebelah Timur

: Berbatasan dengan Komplek Lapas

- Sebelah Barat

: Berbatasan dengan Lapas Wanita Medan

14

3.3 Data Kependudukan/ Demografi


Dilihat dari tingkatan umur warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Anak II Tanjung
Gusta Medan dapat dilihat dari tabel dibawah.
Tabel Tingkatan umur warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Anak II Tanjung Gusta Medan
No

Tingkat Umur

Jumlah (jiwa)

Warga Binaan Anak umur 18-21 tahun


Tahanan Anak
60
Narapidana Anak
138

Warga Binaan Remaja umur 18-21 tahun


Tahanan Remaja
Narapidana Remaja
Jumlah

109
276
583

Jumlah penghuni Lapas Anak Klas II A Tanjung Gusta Medan berdasarkan status
hukumnya.
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Klasifikasi
A1
A II
A III
A IV
A5
BI
B IIa
B III
Anak Negara
Total

Keterangan : Tahanan A.I : tahanan Kepolisian


Tahanan A.II : tahanan Kejaksaan
Tahanan A.III : tahanan Pengadilan Negeri
Tahanan A.IV : tahanan Pengadilan Tinggi
Tahanan A.V : tahanan Mahkamah Agung

Jumlah
28
27
108
4
2
337
73
3
1
583

15

Narapidana B.I : pidana 1 tahun keatas


Narapidana B.IIa : pidana dibawah 1 tahun
Narapidana B.III : pidana subsider
Anak Negara
Klasifikasi menurut tindak pidana warga binaan pemasyarakatan anak
No
1
2
3
4
5
6

Jenis Tindak Pidana


Narkoba
Pencurian
Perlindungan anak
Perampokan
Pembunuhan
Pidana lain
Jumlah

Jumlah
215
102
93
80
17
76
583

3.4 Tenaga Kesehatan Lapas


Jumlah Pegawai yang ada di Lembaga Pemasyarakatan Anak Klas II A Tanjung Gusta
Medan adalah berjumlah 82 orang. Spesifikasi tugas, dokter spesialis berjumlah 1 orang,
dokter umum 2 orang, perawat berjumlah 3 orang.
NO
1
2
3
4
5
6

Nama
dr. Adhayani Lubis, Sp.KJ
dr. Lela Diyana br Tarigan
dr. Monika Simanjuntak
Ummi Kalsum
Rudi Hansen Damanik
Saut Taruli

Profesi
Dokter Spesialis
Dokter Umum
Dokter Umum
Perawat
Perawat
Perawat

3.5 Struktur Organisasi


LAPAS Anak Klas II ATanjung Gusta Medan merupakan unit pelaksana teknis
pemasyarakatan yang membina warga binaan (narapidana), kedudukannya berada dibawah
dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala Kantor Wilayah Departemen Kehakiman
dan Hak Asasi Manusia Propinsi Sumatera Utara, bertempat di Jalan Putri Hijau,

16

Medan.Susunan oraganisasi Lapas Anak Klas II A Tanjung Gusta Medan berdasarkan


Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. 01-PR-07.03 tahun 1985 tanggal 26
Februari 1985, adalah sebagai berikut :
1. Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas), bertugas memimpin secara keseluruhan
terhadap bagian atau seksi yang ada dalam lingkup organisasi Lapas dan bertanggung jawab
terhadap kegiatan yang dilakukan dalam Lapas.
2. Kepala Bagian Tata Usaha (Kabag TU), bertugas melaksanakan urusan tata usaha dan
rumah tangga Lapas. Bagian Tata Usaha terdiri atas :
a. Kepala Sub Bagian Kepegawaian bertugas melakukan urusan kepegawaian
b. Kepala Sub Bagian Keuangan, bertugas melakukan urusan keuangan dan;
c. Kepala Sub Bagian Umum, bertugas melakukan urusan surat menyurat, perlengkapan dan
rumah tangga.
3. Kepala Bidang Pembinaan Narapidana (Kabid. Pembinaan Narapidana) bertugas
melakukan pembinaan narapidana, terdiri atas :
a. Kepala Seksi Registrasi, bertugas melakukan pencatatan dan membuat statistik serta
dokumentasi sidik jari narapidana;
b. Kepala Seksi Bimbingan Kemasyarakatan, bertugas memberikan bimbingan dan
penyuluhan rohani serta memberikan latihan olah raga, peningkatan pengetahuan, asimilasi,
cuti dan pelepasan bersyarat narapidana. Dalam melaksanakan tugas pembinaan seksi
bimbingan pemasyarakatan dibagi menjadi : seksi bimbingan agama Islam, seksi bimbingan
agama Kristen, seksi bimbingan kemasyarakatan sosial, seksi bimbingan pengetahuan umum,
dan seksi bimbingan olah raga dan kesenian.
c. Kepala Seksi Perawatan Narapidana, bertugas mengurus kesehatan dan memberikan
perawatan bagi narapidana.

17

4. Kepala Bidang Kegiatan Kerja (Kabid Kegiatan Kerja), bertugas memberikan bimbingan
kerja, mempersiapkan sarana kerja, dan mengelola hasil kerja narapidana, terdiri dari :
a. Kepala Seksi Bimbingan Kerja, bertugas memberikan petunjuk dan bimbingan kerja bagi
narapidana;
b. Kepala Seksi Sarana Kerja, bertugas mempersiapkan fasilitas sarana kerja, dan ; c. Kepala
Seksi Pengelolaan Hasil Kerja, bertugas mengelola hasil kerja.
5. Kepala Bidang Administrasi Keamanan dan Tata Tertib (Kabid Administrasi Keamanan
dan Tata Tertib), bertugas mengatur jadwal tugas, penggunaan perlengkapan dan pembagian
tugas pengamanan, penerimaan laporan harian dan berita acara dari satuan pengamanan yang
bertugas serta menyusun laporanberkala di bidang keamanan dan menegakkan tata tertib.
Bidang administrasi keamanan dan tata tertib terdiri atas :
a. Kepala Seksi Keamanan, bertugas mengatur jadwal tugas, penggunaan perlengkapan dan
pembagian tugas pengamanan dan ;
b. Kepala Seksi Pelaporan dan Tata Tertib, bertugas menerima laporan harian dan berita acara
dari satuan pengamanan yang bertugas serta mempersiapkan laporan berkala di bidang
keamanan.
6. Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas (Ka KPLP), bertugas menjaga keamanan dan
ketertiban Lapas terdiri atas :
a. Komandan Peleton A ;
b. Komandan Peletan B ;
c. Komandan Peleton C, dan ;
d. Komandan Peleton D.

18

20

STRUKTUR ORGANISASI LAPAS ANAK KLAS II A MEDAN

KALAPAS
Winduarto Bc.
IP,SH

KABAG TATA
USAHA
Jalaluddin Siregar

KEPALA KPLP
Jhonson Manurung Amd.
IP,SH

KASUBAG
KEPEGAWAIAN
Mahyudin

Petugas Keamanan

KaSie BINADIK
Sahduriman Amd.
IP.SH

KaSie KAMTIB
Lamarta Amd.
IP,SH

KaSub PELAPORAN
P. Siringo ringo

KaSub REGISTRASI
Masud

KASUBAG UMUM
Romi Sinuhaji

KaSie KEGIATAN
Jeremia Leonta

KaSub KEAMANAN
J.H. Panjaitan

KaSub
BIMKEMASWAT
Leonardo Panjaitan

KaSub SARANA
KERJA
Herri Simatupang

KaSub BIMKER &


PENGELOLAAN
HASIL KERJA
Daulat Purba

21

3.6 Fasilitas Fisik


Fasilitas fisik Lembaga Pemasyarakatan Anak II Tanjung Gusta Medan terdiri atas:
a. Jumlah Blok: 4 Blok, yang terdiri atas Blok Anyelir, Bougenvile, Cempak dan Dahlia.
b. Kamar Narapidana terdiri dari 48 ruang.
c. Kamar Tahanan terdiri dari 4 ruang.
d. Gedung Kantor terdiri dari 1 ruang.
e. Karantina terdiri dari 2 ruang.
f. Ruang Keterampilan terdiri dari 1 ruang.
g. Dapur terdiri dari 1 ruang.
h. Gudang terdiri dari 5 ruang, yaitu BIMPAS, Registrasi, Klinik, KAMTIB, BIMKER
i. Ruang pendidikan terdiri dari 1 ruang.
j. Ruang Musholla terdiri dari 1 ruang.
k. Ruang besuk terdiri dari 1 ruang.
l. Ruang Gereja terdiri dari 1 ruang
m. Balai pertemuan terdiri dari 1 ruang
n. Bengkel Kerja terdiri dari 1ruang
o. Kantin terdiri dari 1 ruang
p. Tempat olahraga terdiri dari 1ruang
q. Pos penjagaan terdiri dari 4 unit, pos pengamanan, portil, pos 2, pos 4
Kamar terdiri kamar kecil dan kamar besar, dimana tiap kamar kecil terdiri dari 4 orang,
sedangkan kamar besar terdiri dari 20 orang.

22

BAB 4
PROGRAM LAPAS ANAK MEDAN

4.1 Program Pembinaan Lapas Anak Medan


Program pembinaan terbagi menjadi dua, yaitu
1. Pembinaan Kepribadian
2. Pembinaan Kemandirian
Pembinaan Kepribadian dibagi atas 5 kelompok yaitu,
a. Pembinaan keagamaan yang bertujuan untuk meningkatkan mental spiritual anak
didik. Dibina melalui kegiatan keagamaan menurut agama yang dianut. Kegiatannya
terdiri dari pembinaan agama Islam, pembinaan agama Kristen dan pembinaan agama
Hindu
b. Pembinaaan Intelektual, adalah kegiatan yang dilakukan paling mudah dan paling
murah dengan tujuan untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada pada diri
pribadi agar mampu menjalani kehidupannya. Kegiatannya berupa pelaksanaan
pendidikan di lapas anak melalui pendidikan formal dan non formal. Pendidikan
formal terdiri dari SD, SMP, dan SMA/Sederajat. Pendidikan non formal terdiri dari
Paket A, Paket B, dan Paket C.
c. Pembinaan kesadaran berbangsa dan bernegara, yang bertujuan untuk membentuk
kesadaran pada narapidana agar menjadi warga negara yang baik, taat hukum dan
berbakti pada bangsa dan negara, diberikan pengarahan tentang tertib hukum
bermasyarakat diharapkan narapidana nantinya taaat akan hukum yang berlaku.
Kegiatan yang dilakukan melalui kegiatan kepramukaan.

23

d. Pembinaan kesadaran hukum, melalui media perpustakaan lapas anak yang bertujuan
untuk menumbuhkembangkan

minat baca dan menambah pengetahuan hukum

terhadap anak didik.


e. Pembinaan menginterasikan diri dalam masyarakat. Pembinaan reintegrasi diri dalam
masyarakat dapat dilihat dari program pembinaan berupa asimilasi, pembebasan
bersyarat(PB), cuti bersyarat (CB), cuti menjelang bebas (CMB).

Pembinaan Kemandirian terdiri dari 3 bagian, yaitu:


a. Pengembangan bakat dan minat, merupaka wadah menampung bakat dan minat anak
didik untuk mengembangkan keahlian yang mereka punya, misalnya Band Lapas
Anak Medan.
b. Kesehatan jasmani, terdiri dari pemeriksaan kesehatan dan kegiatan olahraga.
Kegiatan olahraga merupakan program yang diberikan guna meningkatkan kesehatan
bagi anak didik serta sebagai sarana rekreasi.
c. Pelatihan bimbingan kerja, yang terdiri dari pembuatan sandal-sepatuLATANTA,
pertanian, pembuatan kaligrafi, penjahitan dan pengelasan.

24

BAB 5
LAPORAN KEGIATAN
NO
1

HARI/TANGGAL
-

KEGIATAN
Masuk pukul 07.55 WIB

Perkenalan dengan bapak Ka Lapas IIA Anak Tanjung


Gusta Medan

Melihat kondisi asrama, kamar mandi, dapur bersama


bapak Ka Lapas.

Membicarakan penyuluhan yang akan dilaksanakan.

Perkenalan dengan dr. Adhayani Lubis, Sp.KJ

Perkenalan dengan staff Lapas Anak

Orientasi

Pengarahan dan bimbingan dari dr. Adayani Lubis,

Senin, 27 Juli 2015

Sp.KJ
2

Pulang pukul 15.00 WIB


Masuk pukul 08.30 WIB

Kegiatan di poliklinik (anamnesa, pem. Fisik dan


mendiagnosa)

Pengumpulan data-data

Mendata jumlah pasien sebanyak 14 orang

Mendiagnosa (skabiasis : 7 pasien, gonorrhoe : 1

Selasa, 28 Juli 2015

pasien, diare : 6 pasien)


3

Rabu, 29 Juli 2015

- Pulang pukul 14.30 WIB


Masuk pukul 08.30 WIB
Promkes tentang HIV/AIDS
Membuka lapangan konsultasi bagi anak-anak yang mempunyai
masalah kesehatan

25

Pulang pukul 14.00 WIB


Masuk pukul 08.30 WIB

Promkes tentang PHBS


Kamis, 30 Juli 2015

Membuka lapangan konsultasi bagi anak-anak yang mempunyai


masalah kesehatan
Pulang pukul 13.30 WIB
Masuk pukul 08.30 WIB

Mengambil dokumentasi
Mengambil nilai
Salam perpisahan dengan seluruh anggota lapas beserta
Jumat, 31 Juli 2015
pengawasnya
Pulang pukul 13.30 WIB
melanjutkan ke Dinas Kota Medan untuk melakukan ujian dan
pengoreksian hasil dan program kerja

26

Penyuluhan HIV/AIDS dan PHBS di Lapas Kelas IIA anak Kota Medan
bersama para warga binaan
BAB 6
PERMASALAHAN DAN PEMECAHAN MASALAH

6.1

Kesehatan lingkungan

27

6.1.1

Definisi
KESLING DALAM SUATU LEMBAGA PEMASYARAKATAN
Kesadaran masyarakat internasional terhadap hak asasi manusia telah tiba pada

suatu pandangan bahwa semua hak asasi manusia itu saling terkait dan tidak dapat
dipisahkan. Pandangan ini secara ringkas dituangkan dalam doktrin "Indivisibility' clan
"Interdependence". Pandangan ini telah berkembang dalam diskursus hak asasi manusia,
yang tidak menomorsatukan salah satu kategori hak.
Apakah pemenuhan hak-hak dalam kategori sipil dan politik (civil and political rights)
atau pun hak-hak dalam kategori ekonomi,sosial dan budaya (economic, social and cultural
rights). Kedua hak saling keterkaitan dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya.
Karena dalam semua hak dalam masing-masing kategori itu saling
terkait.
Oleh karena itu, pemenuhan dan perlindungannya tidak dapat dipisah kan sedangkan
dalam rumpun hak ekonomi, sosial dan budaya justifikasi internasional menyangkut
interaksi hak atas lingkungan dapat ditafsirkan menjadi hak asasi manusia antara lain
dapat dilihat dalam Pasal 1 ayat (2), Kavenan internasional Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan
Budaya.
Tinjauan pustaka mengidentifikasikan bahwa kesehatan lingkungan menyangkut
manusia dan masyarakat serta keseimbangan dengan lingkungan agar terjamin
kesejahteraan dalam arti yang seluas-luasnya.
Kusnoputranto (1983) selanjutnya menuturkan bahwa kesehatan lingkungan
merupakan salah satu disiplin dalam kesehatan masyarakat dan merupakan perluasan dari
prinsip higiene dan sanitasi, Aspek yang tercakup di dalamnya sangat luas yang meliputi
seluruh aspek kehidupan manusia, ruang lingkup kesehatan lingkungan yaitu :

28

a) Penyediaan air minum, yakni tersedianya air bersih dalam kualitas yang sangat memadai
termasuk pengawasan dan pengelolaannya.
b) Pengelolaan air buangan, pengendalian pencemaran
limbah rumah tangga.
c) Pengelolaan limbah padat, yakni pengumpulan dan pembuangannya
d)Pengendalian pencemaran tanah oleh manusia dan unsur lain yang merugikan lingkungan
hidup
e) Higiene makanan dan minuman
f) Pengendalian pencemaran udara, kebisingan dan radiasi
g) Perumahan dan pemukiman, terutama ditujukan pada aspek kesehatan masyarakat,
perumahan bangunan umum dan keadaan darurat dan bencana alam.
Rumah Tahanan mempunyai tujuan :
a) membentuk warga binaan pemasyarakatan agar menjadi manusia seutuhnya, menyadari
kesalahan, memperbaiki diri dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat
diterima kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat aktif berperan dalam membangun
dan dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan tanggung jawab
b) Memberikan jaminan perlindungan hak asasi tahanan yang ditahan di Rumah
Tahanan Negara dan Cabang Rumah Tahanan Negara dalam rangka
memperlancar proses penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan
c) Memberikan jaminan perlindungan hak asasi tahanan 1 para pihak yang berperkara serta
kesetamatan dan keamanan benda-benda yang disita untuk keperluan barang bukti pada
tingkal penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang
pengadilan serta benda-benda yang dinyatakan dirampas untuk negara berdasarkan pulusan
pengadilan.
Implitkasi dari temuan penelitian, untuk mengoptimalkan

29

a) keadaan ruang tahanan yang ada


b) kondisi air untuk keperluan MCK
c) kondisi air untuk minum
d) kondisi ventilasi ruang tahanan
e) mengoptimalkan kondisi tempat tidur di dalam ruang tahanan
f) mengoptimalkan kondisi kamar mandi untuk keperluan
sehari-hari
g) pengelolaan limbah cair, padat, limbah buangan
h) mengoptimalkan kondisi ruangan dari
kebisingan
i) mengoptimalkan ruangan tahanan dari kepadatan tahanan
j) kondisi keamanan di dalam
tahanan yang lebih aman, dan dapat menciptakan kondisi keamanan yang bernuansa hak asasi
manusia.

KESLING MENURUT WHO


Pengertian sehat menurut WHO adalah Keadaan yg meliputi kesehatan fisik, mental,
dan sosial yg tidak hanya berarti suatu keadaan yg bebas dari penyakit dan kecacatan..
Sedangkan menurut UU No 23 / 1992 Tentang kesehatan Keadaan sejahtera dari badan, jiwa
dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Pengertian Lingkungan Menurut A.L. Slamet Riyadi (1976) adalah Tempat
pemukiman dengan segala sesuatunya dimana organismenya hidup beserta segala keadaan
dan kondisi yang secara langsung maupun tidak dpt diduga ikut mempengaruhi tingkat
kehidupan maupun kesehatan dari organisme itu.

30

Terdapat beberapa pendapat tentang pengertian Kesehatan Lingkungan sebagai


berikut :

Pengertian Kesehatan Lingkungan Menurut World Health Organisation (WHO)


pengertian Kesehatan Lingkungan : Those aspects of human health and disease that
are determined by factors in the environment. It also refers to the theory and practice
of assessing and controlling factors in the environment that can potentially affect
health. Atau bila disimpulkan Suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara
manusia dan lingkungan agar dapat menjamin keadaan sehat dari manusia.

Menurut HAKLI (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia) Suatu kondisi


lingkungan yang mampu menopang keseimbangan ekologi yang dinamis antara
manusia dan lingkungannya untuk mendukung tercapainya kualitas hidup manusia
yang sehat dan bahagia.

Jika disimpulkan Pengertian Kesehatan Lingkungan adalah Upaya perlindungan,


pengelolaan, dan modifikasi lingkungan yang diarahkan menuju keseimbangan
ekologi pada tingkat kesejahteraan manusia yang semakin meningkat.

Ruang Lingkup Kesehatan Lingkungan


Kontribusi lingkungan dalam mewujudkan derajat kesehatan merupakan hal yang
essensial di samping masalah perilaku masyarakat, pelayanan kesehatan dan faktor
keturunan. Lingkungan memberikan kontribusi terbesar terhadap timbulnya masalah
kesehatan masyarakat.
Ruang lingkup Kesehatan lingkungan adalah :

a. Menurut WHO

31

1. Penyediaan Air Minum


2. Pengelolaan air Buangan dan pengendalian pencemaran
3. Pembuangan Sampah Padat
4. Pengendalian Vektor
5. Pencegahan/pengendalian pencemaran tanah oleh ekskreta manusia
6. Higiene makanan, termasuk higiene susu
7. Pengendalian pencemaran udara
8. Pengendalian radiasi
9. Kesehatan kerja
10. Pengendalian kebisingan
11. Perumahan dan pemukiman
12. Aspek kesling dan transportasi udara
13. Perencanaan daerah dan perkotaan
14. Pencegahan kecelakaan
15. Rekreasi umum dan pariwisata
16. Tindakan-tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan epidemi/wabah,
bencana alam dan perpindahan penduduk.

32

17. Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin lingkungan.


b. Menurut UU No 23 tahun 1992 Tentang Kesehatan (Pasal 22 ayat 3)
Ruang lingkup kesehatan lingkungan sebagai berikut :
1. Penyehatan Air dan Udara
2. Pengamanan Limbah padat/sampah
3. Pengamanan Limbah cair
4. Pengamanan limbah gas
5. Pengamanan radiasi
6. Pengamanan kebisingan
7. Pengamanan vektor penyakit
8. Penyehatan dan pengamanan lainnya : Misal Pasca bencana.
Menurut Undang-Undang nomor 36 tahun 2009 Tentang Kesehatan, Upaya kesehatan
lingkungan ditujukan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat, baik fisik, kimia,
biologi, maupun sosial yang memungkinkan setiap orang mencapai derajat kesehatan yang
setinggi-tingginya. Lingkungan sehat tersebut antara lain mencakup lingkungan
permukiman, tempat kerja, tempat rekreasi, serta tempat dan fasilitas umum.
Sedangkan syarat lingkungan sehat bebas dari unsur-unsur yang menimbulkan gangguan
kesehatan, antara lain: limbah cair; limbah padat;limbah gas;sampah yang tidak diproses
sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan pemerintah; binatang pembawa penyakit;zat kimia
yang berbahaya; kebisingan yang melebihi ambang batas; radiasi sinar pengion dan non
pengion; air yang tercemar;udara yang tercemar; dan makanan yang terkontaminasi

33

BAB 7
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan
Lembaga Pemasyarakatan Anak merupakan tempat untuk melaksanakan pembinaan
Narapidana dan Anak Didik Pemasyarakatan yang bertujuan membentuk Warga Binaan
Pemasyarakatan agar menjadi manusia seutuhnya, menyadari kesalahan, memperbaiki diri
dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan
masyarakat, dapat aktif berperan dalam pembangunan dan dapat hidup secara wajar sebagai
warga negara yang baik dan bertanggung jawab.Anak didik pemasyarakatan dapat
dikategorikan kedalam beberapa hal yaitu : Anak pidana, Anak negara dan Anak sipil.
Pembinaan di lembaga pemasyarakatan sesuai dengan pasal 5 UndangUndang
Pemasyarakatan

dilaksanakan

berdasarkan

asas-asas

sebagai

berikut:

Asas

Pengayoman,Penghormatan Harkat dan Martabat, Persamaan ,Perlakuan dan Pelayanan,


Pembinaan, Asas Pendidikan, Asas berhubungan dengan keluarga atau orang-orang tertentu,
Asas Kehilangan Kemerdekaan.
Lembaga Pemasyarakatan Anak Klas II A Tanjung Gusta Medan berada di Jalan
Pemasyarakatan Tanjung Gusta, Kelurahan Tanjung Gusta, Kecamatan Medan Helvetia,
20125. Dari data demografi didapatkan klasifikasi menurut tindak pidana warga binaan

34

pemasyarakatan yaitu untuk kasus narkoba sebanyak 215 orang, pencurian, 102 orang,
perlindungan anak 93 orang, perampokan 80 orang, pembunuhan 17 orang dan pidana lain
75%.
Narkoba atau NAPZA adalah bahan / zat yang dapat mempengaruhi kondisi
kejiwaan / psikologi seseorang ( pikiran, perasaan dan perilaku ) serta dapat menimbulkan
ketergantungan fisik dan psikologi. Yang termasuk dalam NAPZA adalah : Narkotika,
Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya.
Penyebab penyalahgunaan NAPZA sangat kompleks akibat interaksi antara factor
yang terkait dengan individu, faktor lingkungan dan faktor tersedianya zat (NAPZA). Tidak
terdapat adanya penyebab tunggal (single cause)

7.2 Saran
Meningkatkan program pembinaan yang sudah berjalan khususnya program
rehabilitasi narkoba terpadu sehingga tidak hanya menghilangkan ketergantungan akan
narkoba tetapi dapat memberikan edukasi, pemahaman anak didik mengenai bahayanya
narkoba dan menghilangkan niat untuk mencobanya lagi serta berdaya guna di masyarakat
nantinya.

35

DAFTAR PUSTAKA

1. Mangku, Made Pastika, Mudji Waluyo. 2007. Pencegahan narkoba sejak usia dini.
Jakarta : Badan Narkotik Nasional Republik Indonesia
2. UU No 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan
3. www.depkunham.go.id