Anda di halaman 1dari 24

BAB 2

ISI
2.1. Perdarahan
Definisi
Perdarahan adalah keluarnya darah dari pembuluh darah akibat kerusakan
(robekan) pembuluh darah. Perdarahan adalah kehilangan akut volume peredaran
darah (ATLS, 2004).
Macam-Macam atau Jenis Perdarahan
1. Berdasarkan banyaknya jumlah darah yang hilang
Menurut American College of Surgeons, Advanced Trauma Life Support
(ATLS) :
1) Perdarahan Kelas I melibatkan sampai 15% dari total volume darah.
Biasanya tidak ada perubahan dalam tanda-tanda vital dan resisutasi
cairan biasanya tidak diperlukan.
2) Perdarahan Kelas II melibatkan sampai 15-30% dari total volume darah.
Pasien sering tachychardic (denyut jantung cepat). Dapat diberikan
resusitasi cairan kristaloid (larutan saline). Transfusi darah tidak
diperlukan.
3) Perdarahan Kelas III melibatkan hilangnya 30-40% dari volume darah
yang bersikulasi. Tekanan darah pasien turun, maka detak jantung
meningkat, perfusi perifer (syok). Resusitasi cairan dan transfuse darah
perlu diberikan.
4) Perdarahan kelas IV melibatkan kehilangan >40% volume darah yang
bersirkulasi. Batas kompensasi tubuh tercapai dan resisutasi agresif
diperlukan untuk mencegah kematian.

2. Berdasarkan letak keluarnya darah


1) Perdarahan luar
Ada 3 macam perdarahan :
a. Perdarahan dari pembuluh rambut (kapiler)
Tanda-tandanya :
- Perdarahan tidak hebat
- Keluar perlahan-lahan berupa rembesan
- Biasanya perdarahan berhenti sendiri walaupun tidak diobati
- Mudah untuk menghentikan dengan perawatan luka biasa
b. Perdarahan dari pembuluh darah balik (vena)
Tanda-tandanya :
- Warna darah merah tua
- Pancaran darah tidak begitu hebat dibanding perdarahan arteri
- Perdarahan mudah untuk dihentikan dengan cara menekan dan
meninggikan anggota badan yang luka lebih tinggi dari jantung
c. Perdarahan dari pembuluh nadi (arteri)
Tanda-tandanya :
- Warna darah merah muda
- Keluar secara memancar sesuai irama jantung
- Biasanya perdarahan sukar untuk dihentikan
2) Perdarahan dalam
Adalah perdarahan yang terjadi di dalam rongga dada, rongga tengkorak,
dan rongga perut. Biasanya tidak tampak darah mengalir keluar, tapi
terkadang dapat juga darah keluar melalui lubang hidung, telinga, dan
mulut. Penyebab :
- Pukulan keras, terbentur hebat
- Luka tusuk
- Luka tembak
- Pecahnya pembuluh darah karena suatu penyakit
- Robeknya pembuluh darah akibat terkena ujung tulang yang patah

3. Menurut WHO
WHO membuat standard dengan cara mengukur tingkat keparahan dari
pendarahan.
a. Grade 0 : tidak ada pendarahan
b. Grade 1 : petechial bleeding
c. Grade 2 : mild blood loss (clinically significant)

d. Grade 3 : gross blood loss, dibutuhkan transfusion (parah)


e. Grade 4 : debilitating blood loss, retinal or cerebral associated
with fatality
2.2 Etiologi perdarahan & Penatalaksanaan Perdarahan

Etiologi perdarahan dapat dikelompokkan menjadi:


1) Perdarahan karena kondisi medis
Perdarahan terjadi karena kerusakan pada:
(1) Dinding sel darah
(2) Trombosit, baik kualitas maupun kuantitas
(3) Faktor pembekuan
Kondisi medis tertentu juga dapat menyebabkan pasien rentan terhadap
perdarahan. Kondisi tersebut merupakan kondisi yang mengganggu fungsi
hemostatis dari tubuh yang terdiri dari system hemostasis termasuk platelet dan
system koagulasi.
Platelet merupakan komponen yang bertanggung jawab pada pembekuan
darah. Platelet memproduksi substansi yang menstimulasi produksi dari bekuan
darah. Klasifikasi perdarahan akibat kelainan platelet dikelompokkan menjadi
jumlah platelet normal yaitu nontrombositopeni purpura dan tombositopeni

purpura. Nontrombositopeni purpura dapat disebabkan oleh perubahan pada


dinding pembuluh darah akibat sumbatan, infeksi, kimiawi, dan alergi. Penyebab
lain adalah gangguan fungsi platelet akibat defek genetik (Bernard-Soulier
disease), obat-obatan (aspirin, NSAIDs, alkohol, antibiotik beta laktam, penisilin,
dan cephalosporin), alergi, penyakit autoimun, von Willebrands disease, dan
uremia.
Trombositopeni purpura terbagi menjadi primer/idiopatik dan sekunder.
Penyebab sekunder akibat faktor kimia, fisik (radiasi), penyakit-penyakit sistemik,
metastase kanker pada tulang, splenomegali, obat-obatan (alkohol, obat diuretika,
estrogen, dan gold salts), vaskulitis, alat pacu jantung, infeksi virus dan bakteri.
Sedangkan faktor koagulasi merupakan faktor yang berinteraksi dengan
proses yang kompleks untuk membentuk bekuan darah. Gangguan koagulasi ini
dapat menganggu pembekuan darah. Kelainan faktor koagulasi dapat bersifat
diturunkan seperti hemofili A yaitu difisiensi faktor VIII, hemofili B defisiensi
faktor IX atau Christmass disease dan dapatan (penderita penyakit liver,
defisiensi

vitamin,

obat-obat

antikoagulasi,

disseminated

intravascular

coagulation, dan fibrinogenolisis primer).


2). Perdarahan karena trauma
Perdarahan traumatik disebabkan oleh beberapa jenis cedera. Ada berbagai
jenis luka yang dapat menyebabkan perdarahan traumatik. Ini termasuk:
1)

Abrasion - hal ini disebabkan oleh sayatan melintang benda asing


pada kulit, dan biasanya tidak menembus di bawah epidermis.

2)

Excoriation hampir serupa dengan abrasi, hal ini disebabkan oleh


destruktif mekanis pada kulit, meskipun biasanya memiliki penyebab
medis yang mendasari.

3)

Hematoma - disebabkan oleh kerusakan pembuluh darah yang


kemudian akan menyebabkan darah mengumpulkan di bawah lapisan
kulit.

4)

Insisi pemotongan terhadap jaringan atau organ tubuh, seperti


oleh sebuah pisau bedah selama operasi.

5)

Luka tusuk - disebabkan oleh sebuah benda yang menembus kulit


dan lapisan yang lebih dalam, seperti oleh paku, jarum atau pisau.

6)

Contusion- Juga dikenal sebagai bruise/memar, ini adalah trauma


tumpul merusak jaringan di bawah permukaan kulit

7)

Crushing Injuries - Disebabkan oleh ekstrim besar atau jumlah


gaya yang diberikan selama jangka waktu tertentu.

8)

Ballistic Trauma - Disebabkan oleh senjata proyektil, hal ini dapat


mencakup dua luka eksternal (masuk dan keluar).
Pola cedera, evaluasi dan perawatan akan bervariasi dengan mekanisme

cedera. Trauma tumpul menyebabkan cedera melalui efek shock; memberikan


energi selama suatu daerah. Luka sering terlihat dan merusak kulit secara
signifikan. Ketika diberikan energi kembali yang lebih besar dan terfokus pada
luka trauma ini, akan memerlukan energi yang lebih sedikit menyebabkan cedera
signifikan pada luka trauma ini. Setiap organ tubuh, termasuk tulang dan otak,
dapat terjadi pendarahan. Pendarahan mungkin tidak dapat dengan mudah terlihat;
organ dalam seperti hati, ginjal dan limpa dapat berdarah ke dalam rongga

abdominal. Pendarahan dari lubang tubuh, seperti pada anus, hidung, telinga
mungkin sinyal perdarahan, tetapi tidak dapat selalu menjadi acuan.
3). Perdarahan karena non-trauma (spontan)
Yaitu perdarahan yang terjadi karena suatu penyakit perdarahan
(haemophilia, septikemia, trombositopenia).

Penatalaksanaan Perdarahan
Perawatan Perdarahan Luar
1. Secara lokal :
a. Dengan menekan secara lokal pada daerah perdarahan secara langsung
atau tidak langsung pada pembuluh darah utama yang mengalir ke
daerah luka. Penekanan dapat dilakukan baik secara langsung dengan
menggunakan tangan serta dapat menggunakan torniket.
b. Kompres panas, yaitu dengan menggunakan kain hangat yang ditekan
pada luka. Kompres panas dapat menyebabkan vasodilatasi pembuluh
darah dan membantu proses mempercepat pembekuan darah.
c. Kompres dingin, yaitu menggunakan s yang dibungkus kain yang
ditekan secara intermiten pada area perdarahan.
d. Penjahitan, untuk membantu dalam tindakan lokal untuk menambah
tekanan ekstravaskuler, yang mengakibatkan penekanan pada
pembuluh darah yang terluka, sehingga mengurangi aliran darah.
e. Epineprin yang diencerkan (1:1000) diletakkan pada lokasi
perdarahan.
2. Secara sistemik :

a. Transfusi darah. Bila perdarahan cukup berat dan dapat menimbulkan


anemia, diperlukan transfusi darah untuk menambah volume darah
yang hilang.
b. Transfusi plasma.untuk memberikan pengobatan pada penderita
dengan defisiensi dari faktor2faktor dalam plasma.
c. Pemberian vitamin K yang berperan dalam proses pembentukan
protrombin untuk pembekuan darah.
d. Obat-obat hemostatik seperti Adona AC-17 dan Adona forte
Perawatan Perdarah pada Rongga Mulut
Tindakan yang dapat di lakukan yaitu:
1. Menutupnya dengan spon kasa atau gelfoam bertekanan.
2. Pack socket, yaitu penutupan dengan tampon
3. Klem atau pengikatan digunakan untuk mengontrol pendarahan dari
pembuluh darah.
4. Klip hemostatik, digunakan untuk mengontrol pendarahan dari pembuluh
yang sulit diikat.
5. Elektrokauterisasi untuk pendarahan dari pembulu yang kecil, atau dari
rembesan.
2.3 Perdarahan Akibat Komplikasi Pencabutan Gigi dan Perawatannya
Ekstraksi gigi adalah tindakan yang paling sederhana di bidang Bedah
Mulut dan merupakan tindakan yang sehari-hari dilakukan oleh seorang dokter
gigi. Walaupun merupakan tindakan yang biasa dilakukan, tetapi kemungkinan
terjadinya komplikasi pasca pencabutan gigi dapat terjadi setiap saat.
Salah satu komplikasi yang mungkin dapat terjadi pasca ekstraksi gigi
adalah perdarahan. Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa perdarahan
pasca ekstraksi dapat terjadi karena faktor lokal maupun karena faktor sistemik.

Sebagai seorang dokter gigi, kita dituntut untuk mempunyai pengetahuan dan
kemampuan

yang

memadai

dalam

melakukan

pencegahan

dan

penatalaksanaannya.
Perdarahan pasca ekstraksi umumnya disebabkan oleh faktor lokal, seperti :

trauma yang berlebihan pada jaringan lunak

mukosa yang mengalami peradangan pada daerah ekstraksi

tidak dipatuhinya instruksi pasca ekstraksi oleh pasien

tindakan pasien seperti penekanan soket oleh lidah dan kebiasaan


menghisap-hisap

kumur-kumur yang berlebihan

memakan makanan yang keras pada daerah ekstraksi


Perawatan Pasca Ekstraksi Gigi

Yang pertama harus kita lakukan adalah tetap bersikap tenang dan jangan
panik. Berikan penjelasan pada pasien bahwa segalanya akan dapat diatasi
dan tidak perlu khawatir. Alveolar oozing adalah normal pada 12-24 jam
pasca ekstraksi gigi. Penanganan awal yang kita lakukan adalah
melakukan penekanan langsung dengan tampon kapas atau kassa pada
daerah perdarahan supaya terbentuk bekuan darah yang stabil. Sering
hanya dengan melakukan penekanan, perdarahan dapat diatasi.

Jika ternyata perdarahan belum berhenti, dapat kita lakukan penekanan


dengan tampon yang telah diberi anestetik lokal yang mengandung

vasokonstriktor (adrenalin). Lakukan penekanan atau pasien diminta


menggigit tampon selama 10 menit dan periksa kembali apakah
perdarahan sudah berhenti. Bila perlu, dapat ditambahkan pemberian
bahan absorbable gelatine sponge (alvolgyl / spongostan) yang diletakkan
di alveolus serta lakukan penjahitan biasa.

Bila perdarahan belum juga berhenti, dapat kita lakukan penjahitan pada
soket gigi yang mengalami perdarahan tersebut. Teknik penjahitan yang
kita gunakan adalah teknik matras horizontal dimana jahitan ini bersifat
kompresif pada tepi-tepi luka. Benang jahit yang digunakan umumnya
adalah silk 3.0, vicryl 3.0, dan catgut 3.0.

Perdarahan yang sangat deras misalnya pada terpotongnya arteri, maka


kita lakukan klem dengan hemostat lalu lakukan ligasi, yaitu mengikat
pembuluh darah dengan benang atau dengan kauterisasi.

Pada perdarahan yang masif dan tidak berhenti, tetap bersikap tenang dan
siapkan segera hemostatic agent seperti asam traneksamat. Injeksikan
asam traneksamat secara intravena atau intra muskuler.

2.4 Perdarahan akibat Kelainan Sistemik


1. Hipertensi
Hipertensi adalah kenaikan abnormal tekanan arteri. Hipertensi
didefinisikan jika tekanan darah sistolik 140mmHg atau lebih besar dan
atau jika tekanan darah diastolik 90 mmHg atau lebih. Beberapa faktor
fisiologis berpengaruh terhadap tekanan darah. Meningkatnya viskositas
darah dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah. Sedangkan
penurunan volume darah dapat mengurangi tekanan darah. Peningkatan

hasil kerja jantung seperti olahraga, demam, dapat meningkatkan tekanan


darah (Falace, 2008)
Pasien dengan tekanan darah kurang dari 180/110 dapat menjalani
beberapa penanganan dokter gigi, baik pembedahan maupun nonpembedahan dengan resiko yang sangat kecil dari hasil yang
membahayakan. (Falace, 2008)
Bila anastesi lokal yang kita gunakan mengandung vasokonstriktor,
maka pembuluh darah akan menyempit menyebabkan tekanan darah
meningkat, pembuluh darah kecil akan pecah, sehingga terjadi perdarahan.
Apabila kita menggunakan anastesi local yang tidak mengandung
vasokonstriktor, darah dapat tetap mengalir sehingga terjadi perdarahan
pasca ekstraksi yang normal. (Falace, 2008)
2. Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus ditandai dengan hiperglikemi. Terbagi menjadi 2
tipe. Tipe 1 adalah diabetes yang disebabkan karena faktor lingkungan
seperti infeksi virus dan reaksi autoimun. Sedangkan tipe 2 adalah
disebabkan karena genetik. Pasien dengan level glukosa 126mg/100mL
dengan pengukuran puasa perlu dirujuk ke dokter untuk dilakukan
evaluasi. Pasien dengan level glukosa 200mg/100mL dengan pengukuran
setelah makan siang 2 jam harus di evaluasi juga (Falace, 2008)
Bila DM tidak terkontrol, akan terjadi gangguan sirkulasi perifer,
sehingga penyembuhan luka akan berjalan lambat, fagositosis terganggu,
PMN akan menurun, diapedesis dan kemotaksis juga terganggu karena
hiperglikemia sehingga terjadi infeksi yang memudahkan terjadinya
perdarahan. (Falace, 2008)
3. Hemofilia

Pada pasien hemofili A (Hemoifli klasik) ditemukan defisiensi


factor VIII. Pada hemofili B (penyakit Christmas) terdapat defisiensi
factor IX. Sedangkan pada von Wilebrands disease terjadi kegagalan
pembentukan platelet, tetapi penyakit ini jarang ditemukan (Wray, 2003)
4. Penyakit kardiovaskuler
Pada penyakit kardiovaskuler, denyut nadi pasien meningkat,
tekanan darah pasien naik kemudian menyebabkan bekuan darah yang
sudah terbentuk terdorong, sehingga terjadi perdarahan (Wray, 2003)
5.

Malfungsi Adrenal
Ditandai dengan pembentukan glukokortikoid berlebihan (Sindroma

Cushing) sehingga menyebabkan diabetes dan hipertensi. (Falace, 2008)


6.

Pemakaian obat antikoagulan


Antikoagulan digunakan untuk mencegah pembekuan darah dengan jalan

menghambat pembentukan atau menghambat fungsi beberapa factor pembeku


darah
Antikoagulan digunakan untuk mengobati penyakit, mencegah pembekuan
darah yang digunakan pada pemeriksaan laboratorium maupun transfusi darah.
Pada pasien yang mengkonsumsi antikoagulan (heparin dan walfarin)
menyebabkan PT dan APTT memanjang. Sehingga darah pasca pencabutan
gigi susah untuk membeku. Perlu dilakukan konsultasi terlebih dahulu dengan
internist untuk mengatur penghentian obat-obatan sebelum pencabutan gigi.
(oral & maxillofacial sugary. 2009 )

Pencegahan kemungkinan komplikasi perdarahan karena faktor-faktor


sistemik

Anamnesis yang baik dan riwayat penyakit yang lengkap


Kita harus mampu menggali informasi riwayat penyakit pasien yang memiliki
tendensi perdarahan yang meliputi :
1. bila telah diketahui sebelumnya memiliki tendensi perdarahan
2. mempunyai kelainan-kelainan sistemik yang berkaitan dengan gangguan
hemostasis (pembekuan darah)
3. pernah dirawat di RS karena perdarahan
4. spontaneous bleeding, misalnya haemarthrosis atau menorrhagia dari penyebab
kecil
5. riwayat keluarga yang menderita salah satu hal yang telah disebutkan di atas,
dihubungkan dengan riwayat penyakit dari pasien itu sendiri
6. mengkonsumsi obat-obatan tertentu seperti antikoagulan atau aspirin
7. Penyebab sistemik seperti defisiensi faktor pembekuan herediter, misalnya von
Willebrands syndrome dan hemofilia
Kita perlu menanyakan apakah pasien pernah diekstraksi sebelumnya, dan
apakah ada riwayat prolonged bleeding (24-48 jam) pasca ekstraksi. Penting
untuk kita ketahui bagaimana penatalaksanaan perdarahan pasca ekstraksi gigi
sebelumnya. Apabila setelah diekstraksi perdarahan langsung berhenti dengan
menggigit tampon atau dengan penjahitan dapat disimpulkan bahwa pasien
tidak memiliki penyakit hemoragik. Tetapi bila pasca ekstraksi gigi pasien
sampai dirawat atau bahkan perlu mendapat transfusi maka kita perlu berhatihati akan adanya penyakit hemoragik.
Bila ada riwayat perdarahan dalam (deep haemorrhage) didalam otot,
persendian atau kulit dapat kita curigai pasien memiliki defek pembekuan

darah (clotting defect). Adanya tanda dari purpura pada kulit dan mukosa mulut
seperti perdarahan spontan dari gingiva, petechiae.
Dengan memperkenalkan hal hal tersebut diatas kita dapat mencegah
pendarahan setelah pencabutan karena factor local dan factor sistemik. Dalam
hal ini lebih penting mencegah terjadinya komplikasi daripada mengatasi
komplikasi tersebut. ( Teknik Mengeluarkan Gigi Fraktur. 2007)

2.5 Pendarahan akibat Infeksi & Pendarahan akibat Trauma pada Rongga
Mulut
Pendarahan akibat Infeksi
Salah satu infeksi pada rongga mulut yang dapat menyebabkan
pendarahan adalah gingivitis dan periodontitis. Gingivitis merupakan suatu
keadaan gusi akibat penumpukan plak yang mengandung bakteri sehingga
menyebabkan terjadinya peradangan pada gusi, yang ditandai dengan gusi
kemerahan, bengkak, atau berdarah. Gingivitis yang tidak ditangani dapat
berlanjut menjadi periodontitis, yaitu keadaan lanjutan gingivitis yang ditandai
dengan hilangnya attachment loss pada gigi. Periodontitis terjadi akibat bakteri
yang terdapat pada gigi melepaskan substansi toksik yang berdampak buruk pada
gusi dan menyebabkan terjadinya infeksi. Infeksi dan inflamasi terjadi apabila
mekanisme penyerangan dari bakteri mengakibatkan degradasi pada gusi dan
tulang alveolar lebih lanjut. Hal tersebut menyebabkan pembengkakan gusi yang
lebih sering mengalami pendarahan (Drescher, 2013).

Penanganan pendarahan yang terjadi akibat infeksi pada rongga mulut


dapat dilakukan dengan scaling dan root planing yang bertujuan untuk
menghilangkan plak, kalkulus, dan tartar; medikasi dengan obat kumur
antimikrobial, chip antiseptik, dan antibiotik; dan pembedahan jika inflamasi
masih ada dan pocket masih terlalu dalam. Semua penanganan tersebut bertujuan
untuk mengendalikan infeksi sehingga tidak bertambah parah (US Department of
Health Service, 2013).
Pendarahan akibat Trauma pada Rongga Mulut
Pendarahan yang terjadi akibat trauma pada rongga mulut biasanya ditemukan
pada pasien yang diberikan tindakan ekstraksi gigi. Umumnya, pendarahan akibat
luka pascaekstraksi yang terjadi dapat dengan cepat menutup kembali atau
menggumpal. Namun, adakalanya dalam proses penutupan luka pascaekstraksi
tersebut terdapat gangguan-gangguan, seperti akibat mengonsumsi makanan
panas, trauma, ataupun terbilas. Hal-hal demikian dapat menyebabkan luka yang
akan menutup menjadi terbuka kembali. Akibatnya pendarahan kembali terjadi
(Roberts, Scully, Shots, 2001).

Pendarahan yang terjadi akibat trauma pascaekstraksi tersebut dapat


ditangani dengan menginstruksikan pasien untuk menggigit gauze pad
selama 15-30 menit. Jika pendarahan masih belum berhenti, hemostatic
agent seperti Surgicel dapat diberikan pada socket. Jika pendarahan masih
belum berhenti, dapat dilakukan suturing (penjahitan) pada socket
(Roberts, Scully, Shots, 2001).

Selain pada pasien pascaekstraksi, pendarahan rongga mulut juga dapat


terjadi sebagai pada trauma akibat benturan dengan objek keras, seperti
akibat terjatuh, kecelakaan lalu lintas, kekerasan, dan olahraga (AAPD,
2011). Keadaan-keadaan traumatik tersebut dapat menyebabkan rusaknya
gigi-geligi, seperti terlepasnya gigi dari socket, ataupun gigi yang fraktur
dan menusuk mukosa mulut, disertai dengan pendarahan. Pengananan
trauma jenis ini didasarkan pada derajat keparahan trauma dan keadaan
gigi-geligi yang terkena dampak (Bakland dan Andreasen, 2004).

2.6 Trauma Jaringan Lunak


Trauma jaringan lunak adalah hilang atau rusaknya jaringan lunak yang
meliputi kulit, otot, saraf, atau pembuluh darah akibat trauma. Banyak kasus
dari trauma dental dihubungkan dengan trauma pada bibir, gusi, dan juga
mukosa oral. Gigi ditutupi oleh bibir dimana pada kasus trauma pada bibir,
energy trauma akan diserap ke jaringan lunak yang mengakibatkan cedera
pada gigi dapat berkurang. Selain itu, hal tersebut juga dapat menyebabkan
berbagai tipe dari trauma pada jaringan lunak yang bergantung pada arah
gayanya, bentuk dan ukuran objek, dan juga energy. Pada pasien yang
mengalami trauma, gigi juga dapat menjadi penyebab cedera ke jaringan
lunak di sekelilingnya, paling umum dapat mengenai bibir tetapi kadang
dapat juga mengenai pipi dan lidah. Ketika gigi mengalami dislokasi, gusi
dapat juga mengalami laserasi (R.Sjamsuhidajat & de Jong.W, 2005)
Etiologi
Berikut merupakan etiologi dari trauma jaringan lunak :

1)

Trauma / Fisik
Luka akibat trauma / fisik biasanya disebabkan oleh benda-benda tumpul,

tajam, kecelakaan, tembakan dan sebagainya. Biasanya lukanya berupa sobekan,


sayatan dan memar (R.Sjamsuhidajat & de Jong.W, 2005).
o misal tergigit, atau ada gigi yang posisinya di luar lengkung rahang yang
normal sehingga menyebabkan jaringan lunak selalu tergesek/tergigit pada
saat makan/mengunyah
o karena adanya pukulan seperti tamparan atau luka karena tonjokan.
o iritasi pada pemakaian gigi tiruan.
2)

Kimia
Luka akibat zat kimia biasanya merupakan luka bakar. Luka bakar pada

rongga mulut biasanya terjadi akibat seorang anak menelan bahan yang kaustik
atau bahan kimia lain yang dapat menyebabkan luka bakar. Kerusakan yang
terjadi sebanding dengan kadar dan jumlah bahan yang mengenai tubuh, cara dan
lamanya kontak, serta sifat dan cara kerja zat kimia tersebut (R.Sjamsuhidajat &
de Jong.W, 2005).
o paling sering di kedokteran gigi adalah penggunaan aspirin, fenol serta zat
kimia seperti asam asetil salisilat dan sodium hipoklorit.
o Arus listrik juga bisa ,biasanya dari kabel yang terbuka ataupun
stopkontak. Pada beberapa pekerja listrik seringkali menggigit kabel listrik
yang terbuka, jika terkena ludah, maka ada kemungkinan ion-ion dalam

ludah akan mempermudah aliran listrik pada kabel yang terbuka itu
sehingga bisa menyebabkan luka bakar yang cukup parah.
3)

Radiasi
Radiasi adalah pancaran dan pemindahan energi melalui ruang dari suatu

sumber ke tempat lain tanpa perantaraan massa atau kekuatan listrik. Pemindahan
energi, selain menimbulkan panas yang tidak berarti, juga merangsang molekul
sel dan menimbulkan reaksi ionisasi yang bersifat destruktif bagi sel, terutama
bagi DNA. Gejala dan tanda luka radiasi ini berupa luka bakar. Luka bakar ini
dapat menyebabkan eritem ringan sementara yang berlangsung 2-3 jam. Eritem
yang menetap timbul setelah gejala ringan ini hilang, dan disebabkan oleh radiasi
kekuatan sedang. Kerusakan subkutan serupa dengan luka bakar derajat tiga.
Ujung saraf, folikel rambut, kelenjar keringat, dan pembuluh kapiler hilang
(R.Sjamsuhidajat & de Jong.W, 2005).
2.7 Jenis-Jenis Luka & Perawatannya
Luka pada jaringan lunak biasanya diklasifikasikan menjadi :
1) Abrasi
Abrasi merupakan luka superficial yang dihasilkan akibat gesekan
atau goresan pada kulit atau mukosa yang meninggalkan permukaan
yang kasar dan juga berdarah. Abrasi ini ditandai dengan hilangnya
sebagian ketebalan kulit. Luka ini biasanya terlihat pada lutut dan
siku pada anak-anak dan juga pada bagian sekitar mulut seperti bibir,
dagu, pipi atau pada ujung hidung yang kadang terkena. Gesekan
antara objek dan juga permukaan dari jaringan lunak menyebabkan
lapisan epitel dan lapisan papillary dari dermis terkelupas, dan

menyebabkan lapisan retikuler dari dermis terbuka. Abrasi superficial


ini dapat terasa sedikit sakit karena ujung saraf terminal menjadi
terekspos.

Gambar : Luka abrasi


Sumber : resultsmedical.com
2) Kontusio
Kontusio merupakan suatu luka memar yang biasnya terjadi akibat
trauma dengan objek yang tumpul dan tidak diikuti oleh hancurnya
kulit atau mukosa tetapi biasanya hanya menyebabkan hemoragi
subcutaneous atau submucosal pada jaringan. Kontusio dapat juga
disebabkan oleh tulang yang fraktur pada cedera maxillofacial.
Kontusio ini dapat menjadi tanda ekternal dari kerusakan tulang.

Gambar : Luka kontusio


Sumber : http://www.raems.com/softtissueemergencies.htm

3) Laserasi
Laserasi merupakan luka yang dangkal atau dalam pada kulit atau
mukosa yang diakibatkan oleh sobekan oleh benda tajam atau gigi
yang menembus ke jaringan lunak. Laserasi meliputi jaringan
epithelial dan subepithelial dan jika lebih dalam maka akan
mengganggu pembuluh darah, saraf, otot, dan juga kelenjar saliva.
Laserasi paling sering ditemui pada bibir, mukosa oral, dan juga gusi.
Jarang ditemui pada lidah.

Gambar : Luka laserasi


Sumber : http://www.raems.com/softtissueemergencies.htm
Laserasi yang menyilang garis Langer dari kulit bersifat tidak
menguntungkan dan mengakibatkan penyembuhan yang secara
kosmetik jelek.

Gambar : Laserasi yang menyilang garis Langer dari kulit


Sumber : Buku Ajar Bedah Mulut
4) Avulsi
Avulsi ( hilangnya jaringan ) jarang terjadi tetapi terlihat pada cedera
akibat gigitan atau abrasi yang dalam. Avulsi merupakan hilangnya
substansi jaringan lunak yang biasanya mengenai kulit, dan dapat
juga mengenai mukosa, otot, dan tulang. Avulsi biasanya menyertai
luka-luka multiple pada wajah dan biasanya terjadi pada korban
kecelakaan ataupun luka tembak.

Gambar : Luka avulsi


Sumber : http://www.orthosupersite.com/images/content/OT/200705
5) Luka Bakar
Luka bakar dikelompokkan berdasarkan tingkat ketebalan kulit yang
mengalami luka. Luka bakar derajat pertama hanya melibatkan

lapisan luar epidermis disertai eritema, nyeri tekan, dan sakit. Luka
bakar derajat kedua atau luka bakar sebagian dengan kedalaman yang
lebih besar menyebabkan kerusakan yang mencapai dermis dan
ditandai dengan terjadinya vesikel, lepuh, dan bullae. Luka bakar
derajat ketiga atau luka bakar ketebalan penuh menunjukkan
hancurnya epidermis dan dermis.

Gambar : Luka Bakar


Sumber : lukabakar.org
2.2.3 Perawatan Luka
Perawatan cedera jaringan lunak orofasial diintegrasikan tidak
hanya dengan perawatan untuk cedera pada regio orofasial tetapi juga
dengan perawatan untuk cedera pada regio yang lain. Prinsip umum
dalam merencanakan perawatan cedera orofasial adalah hukum dari
dalam keluar, yang mengandung pengertian bahwa luka yang terletak
lebih dalam dirawat terlebih dahulu, misalnya fraktur, kemudian disusul
dengan mukosa labial dan oral, dan terakhir kulit. Kondisi-kondisi yang
mengancam kehidupan dirawat terlebih dahulu. Kondisi keseluruhan

pasien dan kemampuan untuk menerima anastesi dalam waktu yang lama
mempengaruhi keputusan untuk menunda atau meneruskan perawatan.
Terdapat 4 langkah utama dalam perawatan trauma jaringan
lunak, yaitu cleansing (pembersihan luka), debridement, hemostasis, dan
closure (penutupan luka). Tujuan dari pembersihan luka adalah untuk
menghilangkan atau menetralisir luka dari mikroorganisme yang
mengkontaminasi permukaan luka, dan berfungsi untuk mencegah
infeksi. Luka dibersihkan dengan menggunakan sabun antikuman dan
kasa. Kemudian diikuti dengan irigasi larutan saline steril. Luka yang
mengalami

perdarahan

dapat dikontrol

dengan penekanan atau

pengkleman. Pada perawatan luka wajah, pembersihan dilakukan


seminimal mungkin. Hanya jaringan yang benar-benar nekrotik saja yang
dibuang dan jaringan yang benar-benar terlihat kurang mendapatkan
suplai darah dieksisi. Kedalaman luka diperiksa untuk melihat
kemungkinan adanya luka pada saraf, duktus saliva atau pembuluh darah
yang besar. Saraf dan duktus dapat direanastomosis dengan teknik
khusus, sedangkan pembuluh darah besar bisa di klem atau diikat untuk
mencegah kemungkinan terjadinya perdarahan pasca bedah. Kemudian
dilakukan penutupan luka yang dilakukan lapis demi lapis, dimulai dari
bagian dalam dan berakhir pada permukaan dan berusaha untuk tidak
membuat dead space.
Perawatan untuk berbagai jenis luka :
1)
Abrasi
Penting untuk menghilangkan semua kotoran dan benda asing
untuk mencegah permanent tattoo dan bekas luka pada kulit di
masa yang akan datang. Waktu yang tepat untuk membersihkan

abrasi adalah ketika fase emergency. Setelah administrasi dari


anastesi local, luka dan sekitarnya dibersihkan dengan saline.
Setelah itu, seluruh benda asing diambil dengan menggunakan
excavator kecil atau pisau bedah yang kemudian dilakukan irigasi
dengan saline. Luka biasanya dibiarkan terbuka atau dapat juga
ditutupi dengan bandage. Pasien sebaiknya menhindari terkena
sinar matahari berlebih selama 6 bulan pertama untuk mengurangi
2)

resiko hiperpigmentasi.
Kontusio
Pada kontusio, diperlukan pemeriksaan radiografi untuk melihat
apakah terjadi fraktur tulang atau tidak. Hal ini juga dilakukan
untuk menindaklanjuti pemeriksaaan klinis dan juga untuk melihat
apakah struktur sekelilingnya mengalami indirect trauma. Tidak
ada perawatan yang penting untuk kontusio bila luka terbatas pada

3)

jaringan lunak.
Laserasi
Pada laserasi, dilakukan pengambilan benda asing pada wajah atau
jaringan mulut. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara,
seperti dengan menggunakan syringe yang berisi saline dengan
tekanan tinggi, dengan scrub brush atau bisa juga dengan
menggunakan pisau bedah atau excavator kecil. Pembersihan luka
dari benda asing sangat penting dan dapat menghindari infeksi dan

4)

juga bekas luka pada kulit.


Avulsi
Avulse pertama-tama dapat dirawat dengan menjahitkan kulit
terhadap mukosa. Tujuannya adalah untuk menutup tulang yang

terbuka dan menciptakan suatu kondisi yang mempermudah


5)

rekonstruksi.
Luka bakar
Luka bakar yang mengenai wajah dan telinga tidak dirawat dengan
dressing yang tertutup tetapi cenderung dirawat dengan cara
terbuka, dengan diolesi salep anti-mikrobial seperti Ncomycin.
Komplikasi yang paling ditakutkan pada luka bakar orofasial
adalah gangguan pada saluran napas yang disebabkan oleh edema
berat dan mendadak.