Anda di halaman 1dari 30

Katarak

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Seorang laki-laki 57 tahun datang ke poli umum dengan keluhan penglihatan mata kanan
bertambah kabur seperti berasap sejak 6 bulan yang lalu, tidak disertai mata merah dan nyeri.
Pasien mempunyai riwayat diabetes mellitus sejak 10 tahun yang lalu, pada pemeriksaan
fisik: compos mentis, tanda vital dalam batas normal. Status ophthalmology: Visus OD 1/300
pin hole tetap, OS 20/40 pin hole 20/30. Pada OD didapatkan pupil keruh dan tampak ada
bayangan coklat. Dan pada OS didapatkan bayangan keruh pada sebagian lensa. Kornea
jernih, tekanan bola mata (N)/palpasi, funduskopi, OD sulit dinilai, OS samar kesan normal.
Dengan bahan kuliah sebagai garis panduan, aspek yang dibahas dalam PBL untuk mengkaji
penyakit-penyakit yang menjadi kemungkinan pada kasus di atas adalah:

Pemeriksaan fisik dan penunjang


Differential diagnosis dan working diagnosis
Epidemiologi
Etiologi
Patofisiologi dan manifestasi klinis
Penatalaksanaan (medical mentosa dan non-medical mentosa)
Prognosis
Pencegahan

Objektif

Sasaran pembelajaran :

Mempelajari pemeriksaan fisik dan penunjang untuk suspek katarak.


Mengjustifikasi working diagnosis and differential diagnosis untuk kasus
Mengkaji epidemiologi dan etiologi penyakit
Mempelajari patofisiologi dan manifestasi klinis untuk penyakit
Mempelajari penatalaksanaan (medical mentosa dan non-medical mentosa)
Menyatakan prognosis dan pencegahan pada katarak.

DISKUSI

Katarak
Identifikasi Istilah yang Tidak Diketahui:
Dalam kasus ini, istilah yang tidak diketahui tidak ditemukan.

Rumusan Masalah:

Laki-laki 57 tahun dengan keluhan penglihatan mata kanan bertambah kabur seperti

berasap sejak 6 bulan yang lalu.


Riwayat diabetes mellitus sejak 10 tahun yang lalu.
Ocular dextra pupil keruh dan bayangan coklat, ocular sinistra bayangan keruh pada
sebagian lensa.

Analisis dan Pemecahan Masalah:

Core bagi mind mapping kasus ini adalah Laki-laki 57 tahun dengan penglihatan
mata kanan bertambah kabur seperti berasap sejak 6 bulan lalu, riwayat diabetes
mellitus sejak 10 tahun yang lalu

Anamnesis
Pada anamnesis, ketelitian dalam mencari riwayat penyakit sangatlah penting untuk
mengetahui progresifitas dan kerusakan fungsi penglihatan yang disebabkan karena katarak
2

dan dalam mengidentifikasi penyebab lain yang mungkin menyebabkan kekeruhan lensa.
Adapun pertanyaan-pertanyaan yang diperlukan dalam menganamnesis pasien terduga
katarak yakni:1,2,3,4

Usia pasien
Riwayat kemunduran pengelihatan
Gangguan pengelihatan
Ciri-ciri penyakitnya
Adanya glare
Adanya rasa nyeri
Adanya gatal
Jumlah mata yang terkena
Riwayat penyakit yang sama sebelumnya
Riwayat penyakit mata lain sebelumnya
Riwayat penggunaan soft lens
Riwayat paparan bahan toksik
Riwayat penggunaan bahan-bahan seperti

antikolinersterase topical
Riwayat penyakit sistemik seperti DM, hipertensi
Riwayat penyakit predisposisi
Riwayat genetic dan gangguan perkembangan
Nilai visus pasien
Lama tenggang waktu keluhan
Pandangan buram
Pandangan yang berantakan (distortion)
Kesalahan persepsi warna (altered color perception)

eserin,

steroid,

ergot,

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan pada penderita tersangka katarak adalah 1) dengan pemeriksaan visus dengan
kartu Snellen atau chart projector dengan koreksi terbaik serta menggunakan pinhole.

Gambar 1 : Kartu Snellen.

Gambar 2 : Slit lamp.

2) Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior.


3) Tekanan intraokular (TIO) diukur dengan tonometer non contact, aplanasi atau Schiotz.
Jika TIO dalam dalam batas normal (kurang dari 21 mmHg) dilakukan dilatasi pupil dengan
tetes mata Tropicanamide 0.5%. Setelah pupil cukup lebar dilakukan pemeriksaan dengan slit
lamp untuk melihat derajat kekeruhan lensa apakah sesuai dengan visus pasien.2

Derajat 1: nukleus lunak, biasanya visus masih baik dari 6/12, tampak sedikit
kekeruhan dengan warna agak keputihan. Refleks fundus masih mudah diperoleh.
Usia penderita biasanya kurang dari 50 tahun.

Derajat 2 : nukleus dengan kekerasan ringan, biasanya visus antara 6/12-6/30,


tampak nukelus mulai sedikit berwarna kekuningan. Refleks fundus masih mudah
diperoleh dan paling sering memberikan gambaran seperti katarak subkapsularis
posterior.

Derajat 3: nukleus dengan kekerasan medium, biasanya visus antara 6/30-3/60,


tampak nukleus berwarna kuning disertai kekeruhan korteks yang keabu-abuan.
4

Derajat 4 : nukleus keras, biasanya visus antara 3/60-1/60, tampak nukleus


berwarna kuning kecoklatan. Refleks fundus sulit dinilai.

Derajat 5 : nukleus sangat keras, biasanya visus hanya 1/60 atau lebih jelek. Usia
penderita sudah diatas 65 tahun. Tampak nukleus berwarna kecoklatan bahkan
sampai kehitaman. Katarak ini sangat keras dan disebut juga sebagai Brunescence
cataract atau Black cataract.

4) Pemeriksaan pupil dengan menggunakan center, pupil disinar dari depan kemudian
diperhatikan warna pupil. Pupil berwarna hitam jika lensa jernih atau bisa didapat pada
afakia. Pupil kelihatan putih atau abu-abu akibat kekeruhan atau katarak. Arah sinar diubah
menjadi 45% dari samping kemudian diperhatikan perubahan kekeruhan lensa. Jika terlihat
seluruh lensa tetap putih, bermakna katarak matura dengan Tes Shadow negatif. Jika
sebahagian lensa terlihat hitam, bermakna katarak immature dengan hasil Tes Shadow positif.
5) Pemeriksaan funduskopi menggunakan alat oftalmoskop, sebaiknya dilakukan di ruang
yang relative gelap, bila mata kanan pasien yang ingin diperiksa, pemeriksa harus duduk di
sebelah kanan, memegang oftalmoskop dengan tangan kanan dan memeriksa dengan mata
kanan dan sebaliknya. Diperhatikan fundus okuli. Normalnya bila media refraksi jernih,
refleks fundus berwarna merah kekuningan di seluruh lingkaran pupil. Bila keruh, kelihatan
bercak hitam didepan latar belakang merah kekuningan. Ini perlu dibedakan karena katarak
matura sering dengan hasil refleks fundus negatif.3
Antara pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan adalah biometri untuk mengukur power
Intraocular lens (IOL) jika pasien akan dioperasi katarak dan retinometri untuk mengetahui
prognosis tajam penglihatan setelah operasi.2
Selain itu, pada pasien yang datang dengan riwayat penyakit dahulu seperti diabetes mellitus,
dilakukan juga test rutin seperti CBC, glukosa, kolesterol, fungsi enzim hati dan lain-lain.

Pemeriksaan Penunjang
I.

Pemeriksaan laboratorium
Diagnosis katarak senilis dibuat pada dasarnya setelah riwayat
menyeluruh

dan

pemeriksaan

fisik

dilakukan.

Pemeriksaan
5

laboratorium diminta sebagai bagian dari proses skrining preoperative


untuk mendeteksi penyakit yang sudah ada (seperti diabetes mellitus,
hipertensi,

anomali

trombositopenia

kardiak).

dapat

Studi

mengarah

ke

menunjukkan
peningkatan

bahwa

perdarahan

perioperative dan karena itu seharusnya dideteksi dan diatasi sebelum


operasi.2
II.

Pemeriksaan radiologi
Pemeriksaan radiologis mata (seperti ultrasound, CT scan, MRI)
diminta saat terduga adanya patologis pada bagian posterior mata dan
pengamatan bagian belakang mata tertutup oleh katarak yang padat.
Hal ini membantu dalam merencanakan tindakan operasi dan untuk
memebrikan

prognosis

postoperasi

yang

lebih

terjaga

bagi

penyembuhan visual pasien.2


Ultrasonografi dipakai untuk melihat struktur abnormal pada mata
dengan kepadatan kekeruhan media dimana tidak memungkinkan
melihat jaringan dalam mata secara langsung. Sinar ultrasonic direkam
yang kaan memberikan kesan keadaan jaringan yang memantulkan
getaran yang berbeda-beda.
Ultrasonografi scan B merupakan tindakan melihat dan memotret alat
atau jaringan dalam mata dengan menggunakan gelombang tidak
terdengar. Alat ini sangat penting untuk melihat susunan jaringan
intraocular. Bila USG normal dan terdapat defek aferen pupil maka
operasi walaupun mudah, tetap akan memberikan tajam penglihatan
yang kurang. Kelainan USG dapat disertai kelainan macula.
USG juga merupakan pemeriksaan khusus untuk katarak terutama
monocular dimana akan terlihat kelainan badan kaca seperti
perdarahan, peradangan, ablasi retina, dan kelainan kongenital ataupun
adanya tumor intraocular.1
Differential Diagnosis
1) Katarak diabetes

Merupakan katarak yang terjadi akibat adanya penyakit diabetes mellitus dan biasanya
bilateral. Katarak pada pasien diabetes mellitus dapat terjadi dalam 3 bentuk. Pertama pasien
6

dengan dehidrasi berat, asidosis dan hiperglikemia nyata, pada lensa akan terlihat kekeruhan
berupa garis akibat kapsul lensa berkerut. Bila dehidrasi lama akan terjadi kekeruhan lensa,
kekeruhan akan hilang bila tejadi rehidrasi dan kadar gula normal kembali. Bentuk kedua,
pasien diabetes juvenil dan tua yang tidak terkontrol, dimana terjadi katarak serentak pada
kedua mata dalam 48 jam, bentuk dapat snow flake atau bentuk piring subkapsular. Bentuk
ketiga, katarak pada pasien diabetes dewasa dimana gambaran secara histopatologi dan
biokimia sama dengan katarak pasien nondiabetik.4

Beberapa pendapat menyatakan bahwa pada keadaan hiperglikemia terdapat penimbunan


sorbitol dan fruktosa di dalam lensa. Pada mata terlihat peningkatkan insidens maturasi
katarak yang lebih pada pasien diabetes. Jarang ditemukan true diabetic katarak. Pada lensa
akan terlihat kekeruhan tebaran salju subkapsular yang sebagian jernih dengan pengobatan.
Diperlukan pemeriksaan tes urine dan pengukuran darah gula puasa untuk menegakkan
diagnosis.4

2) Katarak komplikata
Merupakan katarak akibat penyakit mata lain seperti radang dan proses degenerasi seperti
ablasi retina, retinitis pigmentosa, glaucoma, tumor intraocular, iskemia ocular, nekrosis
anterior segmen, buftalmos, akibat suatu trauma dan pasca bedah mata. Katarak komplikata
dapat juga disebabkan oleh penyakit sistemik endokrin (diabetes melitus, hipoparatiroid,
galaktosemia,dan miotonia distrofi) dan keracunan obat (tiotepa intravena, steroid local lama,
steroid sistemik, oral kontraseptik dan miotika antikolinesterase). Katarak komplikata
memberikan tanda khusus dimana mulai katarak selamanya didaerah bawah kapsul atau pada
lapis korteks, kekeruhan dapat difus, pungtata, linear, rosete, reticulum dan biasanya terlihat

vakuol. Dikenal dua bentuk yaitu bentuk yang disebabkan kelainan pada polus posterior mata
dan polus anterior bola mata.4
Katarak pada polus posterior mata terjadi akibat penyakit koroiditis, retinitis pigmentosa,
ablasi retina, kontusio retina dan myopia tinggi yang mengakibatkan kelainan badan kaca.
Biasanya kelainan ini berjalan aksial dan tidak berjalan cepat didalam nukleus, sehingga
sering terlihat nukleus lensa tetap jernih. Katarak akibat miopia tinggi dan ablasi retina
memberikan gambaran agak berlainan.
Katarak pada polus anterior bola mata biasanya diakibatkan oleh kelainan kornea berat,
iridoksiklitis, kelainan neoplasma dan glaukoma. Pada iridoksiklitis akan mengakibatkan
katarak subkapsularis anterior. Pada katarak akibat glaucoma akan terlihat katarak disiminata
pungtata subkapsular anterior (katarak Vogt).
Katarak

komplikata

akibat

hipokalsemia

berkaitan

dengan

tetani

infantile,

hipoparatiroidisma. Pada lensa terlihat kekeruhan titik subkapsular yang sewaktu waktu
menjadi katrak lamellar. Pada pemeriksaan darah terlihat kadar kalsium turun.4
3) Diabetic retinopathy
Terdiri dari proliferative dan non-proliferative di mana
terjadinya microangiopathy dan neovaskularisasi di iris
dan retina. Dengan pemeriksaan funduskopi, dapat dilihat
neovascularisasi, vitreous haemorrhage, macular edema,
dan traction retinal detachment. Ia disebabkan oleh
perjalanan penyakit diabtes mellitus sendiri yaitu:
1)

Peningkatan agregasi platelet dan viskositas darah yang menyebabkan retinal


ischemia

2)

Faktor vasoproliferatif yang menyebabkan melemahnya dinding kapiler yang


meningkatkan permeabiltas seterusnya menyebabkan microaneurisma dan macular
edeman dengan adanya exudate

Urinalanalisis untuk mendeteksi level protein, BUN, dan kreatinin adalah predictor untuk
diabetic retinopathy. Pasien sering kali asimptomatik, namun pada stage lanjut, terdapatnya
gejala seperti floaters, blurred vision, distortion, and progressive visual acuity loss dan juga
trouble seeing at night. Perjalanan dari diabetic retinopathy berlangsung lama, yaitu kirakira 30 tahun menderita diabetes mellitus, dengan faktor risiko seperti penyakit ginjal,
kehamilan, merokok, hypertensi, hyperlipidemia, dan obesity.3

Working diagnosis
1) Katarak senilis imatur
Katarak senilis adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut,
yaitu usia diatas 50 tahun. Kekeruhan lensa dengan nucleus yang mengeras
akibat usia lanjut yang biasanya mulai terjadi pada usia lebih dari 60 tahun.
Katarak senilis dapat dibagi menjadi 4 stadium:
Insipien

Imatur

Matur

Hipermatur

Kekeruhan

ringan

sebagian

seluruh

Massif

Cairan lensa

normal

bertambah

normal

Berkurang

Iris

normal

terdorong

normal

Tremulans

Bilik mata

normal

dangkal

normal

Dalam

normal

sempit

normal

Terbuka

Shadow test

normal

positif

negatif

Pseudopos

Penyulit

glaukoma

Uveitis+glaukom

depan
Sudut bilik
mata

a
Tabel 1.stadium katarak senilis

Pada katarak imatur, sebagian lensa keruh atau katarak. Katarak yang belum
mengenai seluruh lapis lensa. Pada katarak imatur akan dapat bertambah
volume lensa akibat meningkatnya tekanan osmotic bahan lensa yang
degenerative. Pada keadaan lensa mencembung akan dapat menimbulkan
hambatan pupil, sehingga dapat terjadi glaucoma sekunder.1

Tabel 2.perbedaan penglihatan berdasarkan staging katarak


2) Katarak senilis brunesens
Katarak yang berwarna coklat sampai hitam(katarak nigra) terutama pada
nucleus lensa, juga dapat terjadi pada katarak pasien diabetes mellitus dan
myopia tinggi. Sering tajam penglihatan lebih baik daripada dugaan
sebelumnya dan biasanya ini terdapat pada orang berusia lebih dari 65 tahun
yang memperlihatkan adanya katarak kortikal posterior.1

Anatomi dan fisiologi lensa


Lensa adalah salah satu media refraksi yang terpenting pada mata dan memfokuskan sinar
cahaya kepada retina. Lensa mata memberikan elemen tambahan pada kekuatan refraksi
mata total (sekitar 10-20 dioptri, tergantung akomodasi individual) kepada kekuatan
refraksi kornea (sekitar 43 dioptri).
Lensa yang telah sepenuhnya berkembang berbentuk bikonveks dan merupakan struktur
yang transparan. Lensa memiliki ketebalan sekitar 4mm dan beratnya meningkat seiring
usia sampai 5 kali dari berat asalnya pada saat kelahiran. Berat lensa mata orang dewasa
berkisar sekitar 220 mg.4
Lensa berasal dari ectoderm. Lensa di dalam bola mata terletak di belakang iris yang
terdiri dari zat tembus cahaya berbentuk seperti cakram yang dapat menebal dan menipis
pada saat terjadinya akomodasi. Lensa berbentuk lempeng cakram bikonveks dan terletak
di dalam bilik mata belakang. Lensa akan dibentuk oleh sel epitel lensa yang membentuk
serat lensa di dalam kapsul lensa. Epitel lensa akan membentuk serat lensa terus-menerus
10

sehingga mengakibatkan memadatnya serat lensa di bagian sentral lensa sehingga


mengakibatkan memadatnya serat lensa di bagian sentral lensa sehingga membentuk
nucleus lensa. Bagian sentral lensa merupakan serat lensa yang paling dahulu dibentuk
atau serat lensa yang tertua di dalam kapsul lensa.
Di dalam lensa dapat dibedakan nucleus embrional, fetal, dan dewasa. Di bagian luar
nucleus ini terdapat serat lensa yang lebih muda dan disebut sebagai korteks lensa.
Korteks yang terletak di sebelah depan nucleus lensa disebut sebagai korteks anterior,
sedang di belakangnya korteks posterior. Nucleus lensa mempunyai konsistensi lebih
keras disbanding korteks lensa yang lebih muda. Di bagian perifer kapsul lensa terdapat
zonula zinn yang menggantungkan lensa di seluruh ekuatornya pada badan siliar.
Secara fisiologis lensa mempunyai sifat tertentu, yaitu:1

Kenyal atau lentur karena memgang peranan terpenting dalam akomodasi untuk

menjadi cembung
Jernih atau transparan karena diperlukan sebagai media penghantaran
Terletak ditempatnya

Etiologi
Penyebab sebenar katarak sehingga kini belum diketahui pasti. Namun diperkirakan ianya
ada hubungkait dengan konsep penuaan. Antaranya adalah teori putaran biologi, teori mutasi
spontan, teori a free radical dan teori a cross-link.4
Teori putaran biologi. Jaringan embrio manusia dapat membelah diri 50 kali sebelum
jaringan mati. Sistem imunologis pula akan bertambah cacat dengan bertambahnya usia.
Akibatnya, sel akan mengalami kerusakan. Teori mutasi spontan. Teori a free radical .
Radikal bebas terbentuk bila terjadi reaksi intermediate reaktif kuat. Reaksi antara radikal
bebas dengan molekul normal akan mengakibatkan degenerasi. Namun, radikal bebas dapat
dinetralisasi oleh antioksidan dan vitamin E. Teori a cross-link. Ahli biokimia mengatakan
terjadi pengikatan bersilang asam nukleat dan molekul protein sehingga mengganggu fungsi
normal sel.4

11

Sebagian besar katarak terjadi akibat proses penuaan, tetapi katarak juga dapat disebabkan
oleh beberapa faktor risiko lain, seperti katarak traumatik yang disebabkan oleh riwayat
trauma/cedera pada mata, katarak sekunder yang disebabkan oleh penyakit lain, seperti
penyakit atau gangguan metabolisme, proses peradangan pada mata, atau diabetes mellitus,
katarak yang disebabkan oleh paparan sinar radiasi, katarak kongenital yang dipengaruhi oleh
faktor genetik, kebiasaan buruk seperti merokok dan mengonsumsi alkohol, kurang asupan
antioksidan, seperti vitamin A, C, dan E, katarak yang disebabkan oleh penggunaan obatobatan jangka panjang, seperti seperti obat-obat golongan statin dan squalene synthase
inhibitor. Squalene merupakan enzim yang terdapat dalam tubuh dan berperan dalam
metabolisme kolesterol. Inhibisi atau penghambatan enzimsqualene synthase akibat
penggunaan obat penurun kolesterol dapat memicu terjadinya katarak.

Epidemiologi

Diperkirakan 5-10 juta individu mengalami kerusakan penglihatan akibat katarak setiap
tahun (Newell, 1986). Di USA sendiri 300.000400.000 ekstraksi mata tiap tahunnya.
Menurut WHO, di negara berkembang 1 - 3 % penduduk mengalami kebutaan dan 50 %
penyebabnya adalah katarak. Sedangkan untuk negara maju perbandingannya adalah 1,2 %
penyebab kebutaan adalah katarak Insiden tertinggi pada katarak terjadi pada populasi yang
lebih tua. Insidensi kebutaan adalah 1.47% dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 3,5
juta orang dan katarak terjadi sebanyak 0.76% atau 210,000 orang pertahun. (Survey
Kesehatan Indra Mata Depkes RI). Presentasi angka kebutaan utama ialah katarak sebesar
0,70 %, kelainan kornea 0,1%, penyakit glaucoma 0,10%, kelainan refraksi 0,06%, kelainan
retina 0,03% dan kelainan nutrisi 0,02%. Survey tersebut menyebutkan usia paling banyak
yang terkena adalah usia di atas 55 tahun. Di Amerika Serikat, perubahan lenticular berkaitan
dengan usia telah dilaporkan di 42% dari mereka antara usia 52-64, 60% dari mereka antara
12

usia 65 dan 74, dan 91% dari mereka yang berusia antara 75 dan 85. Prevalensi katarak
adalah 6,9 % dengan catatan kurang lebih 10 % mendapatkan terapi dan katarak dapat
mengenai semua kelompok umur. Golongan wanita lebih mudah terkena daripada pria.
Sedangkan menurut catatan The Framinghan Eye Study, katarak terjadi 18 % pada usia 65
74 tahun dan 45 % pada usia 75 84 tahun. Beberapa derajat katarak diduga terjadi pada
semua orang pada usia 70 tahun. 95 % penyebab katarak adalah katarak senilis.5

Patofisiologi

Gambar 3 : Anatomi lensa mata.

Semakin lanjut usia, lensa mengalami perubahan berupa yang pertama, kapsul menebal dan
kurang elastis (1/4 dibanding anak), mulai presbiopia, bentuk lamel kapsul berkurang atau
kabur,dan terlihat bahan granular. Kedua, epitel makin tipis, sel epitel (germinatif) pada
equator bertambah besar dan berat, bengkak dan vakuolisasi mitokondria yang nyata. Ketiga,
serat lensa lebih irregular, pada korteks jelas kerusakan serat sel, brown sclerotic nucleus,
sinar ultraviolet lama-kelamaan merubah protein nukleus (histidin, triptofan, metionin,
sistein, tirosin) lensa, sedang warna coklat protein lensa nukleus mengandung histidin dan
triptofan dibanding normal. Korteks tidak berwarna karena kadar asam askorbat tinggi dan
menghalangi fotooksidasi. Manakala sinar tidak banyak mengubah protein pada serat muda.3
13

Mengikut perubahan morfologi, katarak senilis dibahagi menjadi katarak nuklear, katarak
kortikal dan katarak kupuliform.
1) Katarak Nuklear: inti lensa dewasa selama hidup bertambah besar dan menjadi sklerotik.
Lama-kelamaan inti lensa yang mulanya menjadi putih kekuning-kuningan menjadi coklat
dan kemudian menjadi kehitam-hitaman . Keadaan ini disebut 2) Katarak Brunesen atau
Katarak Nigra. Jenis katarak Nigra ( Brunesen ) ini terjadi pada pasien diabet dan miopia
tinggi dimana tajam penglihatan lebih baik dari sebelumnya dan biasanya pada usia lebih dari
65 tahun. 2) Katarak Kortikal, terjadi penyerapan air sehingga lensa menjadi cembung dan
terjadi miopisasi akibat perubahan indeks refraksi lensa . Dapat menyebabkan silau terutama
bila menyetir pada malam hari. 3) Katarak Kupuliform atau posterior subcapsular mulai dapat
terlihat pada stadium dini katarak kortikal atau nuklear. Kekeruhan terletak dilapis korteks
posterior dan dapat memberikan gambaran piring. 4
Klasifikasi katarak senilis berdasarkan maturitas dibagi menjadi empat yaitu Katarak
insipient, Katarak Imatur, Katarak Hipermatur dan Katarak Matur.
1) Katarak insipient. Pada stadium ini akan terlihat hal-hal seperti kekeruhan mulai dari tepi
ekuator berbentuk jeriji menuju korteks anterior dan posterior (katarak kortikal), vakuol
mulai terlihat di dalam korteks, celah terbentuk antara serat lensa dan korteks berisi jaringan
degeneratif (benda morgagni), kekeruhan ini dapat menimbulkan poliopia oleh karena indeks
refraksi yang tidak sama pada semua bagian lensa, bentuk ini kadang-kadang menetap untuk
waktu yang lama.
2) Katarak Imatur. Pada stadium yang lebih lanjut, terjadi kekeruhan yang lebih tebal tetapi

tidak atau belum mengenai seluruh lensa sehingga masih terdapat bagian-bagian yang jernih
pada lensa. Pada stadium ini terjadi hidrasi kortek yang mengakibatkan lensa menjadi
bertambah cembung. Pencembungan lensa akan memberikan perubahan indeks refraksi
14

dimana mata akan menjadi mioptik. Kecembungan ini akan mengakibatkan pendorongan iris
ke depan sehingga bilik mata depan akan lebih sempit.
3) Katarak Matur. Bila proses degenerasi berjalan terus maka akan terjadi pengeluaran air

bersama-sama hasil desintegrasi melalui kapsul. Didalam stadium ini lensa akan berukuran
normal. Iris tidak terdorong ke depan dan bilik mata depan akan mempunyai kedalaman
normal kembali. Kadang pada stadium ini terlihat lensa berwarna sangat putih akibat
perkapuran menyeluruh karena deposit kalsium (Ca). Bila dilakukan uji bayangan iris akan
terlihat negatif.
4) Katarak Hipermatur. Adalah katarak yang terjadi akibat korteks yang mencair sehingga

massa lensa ini dapat keluar melalui kapsul. Akibat pencairan korteks ini maka nukleus
"tenggelam" kearah bawah (Katarak Morgagni). Lensa akan mengeriput. Akibat massa lensa
yang keluar kedalam bilik mata depan maka dapat timbul penyulit berupa uveitis fakotoksik
atau galukoma fakolitik.3,4
Tabel 1 : Perbedaan stadium katarak berdasarkan klasifikasi maturitas.
Insipien

Imatur

Matur

Hipermatu
r

Kekeruha
n

Ringan

Sebahagia
n

Seluru
h

Masif

Cairan
lensa

Normal

Bertambah
(air
masuk)

Norma
l

Berkurang
(air keluar)

Iris

Normal

Terdorong

Norma
l

Tremulans

Bilik mata
depan

Normal

Dangkal

Norma
l

Dalam

Sudut
bilik mata

Normal

Sempit

Norma
l

Terbuka

Tes

Normal

Pseudops
15

Shadow
penyulit

glaukoma

Uveitis dan
glaukoma

Sumber : Ilmu Penyakit Mata, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

5) Katarak Intumesen berupa kekeruhan lensa disertai pembengkakan lensa akibat lensa
degeneratif yang menyerap air. Masuknya air ke dalam celah lensa disertai pembengkakan
lensa menjadi bengkak dan besar yang akan mendorong iris sehingga bilik mata menjadi
dangkal dibanding dengan keadaan normal. Pencembungan lensa ini akan dapat memberikan
penyulit glaucoma. Katarak intumesen biasanya terjadi pada katarak yang berjalan cepat dan
mengakibatkan miopi lentikularis. Pada keadaan ini dapat terjadi hidrasi korteks hingga akan
mencembung dan daya biasnya akan bertambah, yang memberikan miopisasi. Pada
pemeriksaan slit lamp terlihat vakuol pada lensa disertai peregangan jarak lamel serat lensa.3,4
Gejala Klinis
Keluhan yang membawa pasien datang antara lain:
1. Pandangan kabur
Kekeruhan lensa mengakibatkan penurunan pengelihatan yang progresif atau
berangsur-angsur dan tanpa nyeri, serta tidak mengalami kemajuan dengan pin-hole.
2. Penglihatan silau
Penderita katarak sering kali mengeluhkan penglihatan yang silau,dimana tigkat
kesilauannya berbeda-beda mulai dari sensitifitas kontrasyang menurun dengan latar
belakang yang terang hingga merasa silau disiang hari atau merasa silau terhadap
lampu mobil yang berlawanan arahatau sumber cahaya lain yang mirip pada malam
hari. Keluhan ini seringkali muncul pada penderita katarak kortikal.
3. Sensitifitas terhadap kontras
Sensitifitas terhadap kontras menentukan kemampuan pasien dalam mengetahui
perbedaan-perbedaan tipis dari gambar-gambar yang berbedawarna, penerangan dan

16

tempat. Cara ini akan lebih menjelaskan fungsimata sebagai optik dan uji ini diketahui
lebih bagus daripada menggunakan bagan Snellen untuk mengetahui kepastuian
fungsi penglihatan; namun uji ini bukanlah indikator spesifik hilangnya penglihatan
yang disebabkan oleh adanya katarak.
4. Miopisasi
Perkembangan katarak pada awalnya dapat meningkatkan kekuatan dioptri lensa,
biasanya menyebabkan derajat miopia yang ringan hingga sedang. Ketergantungan
pasien presbiopia pada kacamata bacanya akan berkurang karena pasien ini
mengalami penglihatan kedua. Namun setelah sekian waktu bersamaan dengan
memburuknya kualitas lensa, rasa nyaman ini berangsur menghilang dan diikuti
dengan terjadinya katarak sklerotik nuklear. Perkembangan miopisasi yang asimetris
pada kedua mata bisa menyebabkan anisometropia yang tidak dapat dikoreksi lagi,
dancenderung untuk diatasi dengan ekstraksi katarak.
5. Variasi Diurnal Penglihatan
Pada katarak sentral, kadang-kadang penderita mengeluhkan penglihatan menurun
pada siang hari atau keadaan terang dan membaik

pada senja hari, sebaliknya

penderita katarak kortikal perifer kadang-kadang mengeluhkan pengelihatan lebih


baik pada sinar terang dibanding pada sinar redup.
6. Distorsi
Katarak dapat menimbulkan keluhan benda bersudut tajam menjadi tampak tumpul
atau bergelombang.
7. Halo
Penderita dapat mengeluh adanya lingkaran berwarna pelangi yangterlihat di
sekeliling sumber cahaya terang, yang harus dibedakan dengan halo pada penderita
glaucoma.
8. Diplopia monokuler
Gambaran ganda dapat terbentuk pada retina akibat refraksi ireguler dari lensa yang
keruh, menimbulkan diplopia monocular, yang dibedakan dengan diplopia binocular
dengan cover test dan pin hole.
9. Perubahan persepsi warna
Perubahan warna inti nucleus menjadi kekuningan menyebabkan perubahan persepsi
warna, yang akan digambarkan menjadi lebih kekuningan atau kecoklatan dibanding
warna sebenarnya.
10. Bintik hitam
17

Penderita dapat mengeluhkan timbulnya bintik hitam yang tidak bergerak-gerak pada
lapang pandangnya. Dibedakan dengan keluhan pada retina atau badan vitreous yang
sering bergerak-gerak.

Faktor risiko
1. Faktor resiko umum
Usia
Merokok
Paparan cahaya UltraViolet
Paparan medikasi dan lingkungan lain (kontroversi)
2. Katarak kortikal
Biasanya merupakan hasil dari ketindakseimbangan elektrolit dan air
o Peningkatan kadar natrium, klorin, dan kalsium
o Penurunan kadar kalium
Berkaitan dengan peningkatan tinggi dari permeabilitas membrane
lensa
3. Katarak nuclear
Berkaitan dengan modifikasi protein dan peningkatan pewarnaan

(pigmen urokrom)
Perubahan metabolism lensa lainnya
o Peningkatan proteolysis
o Penurunan produksi ATP
o Penurunan kadar glutation
Tidak dapat menahan stress oksidasi

Penatalaksanaan
Penanganan non bedah meliput penanganan kelainan refraksi atau penggunaan kaca
mata, penggunaan lampu baca khusus dan penggunaan midriatikum pada katarak
subkapsularis posterior. Sampai saat ini belum ada obat antikatarak yang memiliki bukti
kuat mampu menghambat atau meniadakan pembentukan katarak, namun d pasaran ada
beberapa bahan dan suplemen yang mungkin sebagai anti katarak misalnya obat-obat
penurun sorbitol, obat-obat yang menaikkan glutation dan antioksidan kgusus vitamin C
dan itamin E.
Pembedahan dilakukan jika penderita tidak dapat melihat dengan baik dengan bantuan
kaca mata untuk melakukan kegitannya sehari-hari. Beberapa penderita mungkin merasa
18

penglihatannya lebih baik hanya dengan mengganti kaca matanya, menggunakan kaca
mata bifokus yang lebih kuat atau menggunakan lensa pembesar. Jika katarak tidak
mengganggu biasanya tidak perlu dilakukan pembedahan.
Indikasi operasi :
- Indikasi sosial: jika pasien mengeluh adanya gangguan penglihatan dalam melakukan
rutinitas pekerjaan.
- Indikasi medis: bila ada komplikasi seperti glaucoma.
- Indikasi optik: jika dari hasil pemeriksaan visus dengan hitung jari dari jarak 3 m
didapatkan hasil visus 3/60.
- Indikasi kosmetik
Persiapan bedah katarak:
Biasanya pembedahan dipersiapkan untuk mengeluarkan bagian lensa yang keruh dan
dimasukkan lensa buatan yang jernih permanent. Pra bedah diperlukan pemeriksaan
kesehatan tubuh umum untuk menentukan apakah ada kelainan yang menjadi halangan untuk
dilakukan pembedahan. Pemeriksaaan ini akan memberikan informasi rencana pembedahan
selanjutnya.
Pemeriksaan tersebut termasuk hal-hal seperti:
- Gula darah
- Hb, Leukosit, masa perdarahan, masa pembekuan
- Tekanan darah
- Elektrokardiografi
- Pernafasan
- Riwayat alergi obat
- Pemeriksaan rutin medik lainnya dan bila perlu konsultasi untuk keadaan fisik prabedah
- Tekanan bola mata
- Uji Anel Positif, dimana tidak terjadi obstruksi fungsi ekskresi saluran lakrimal sehingga
tidak ada dakriosistitis.
- Uji Ultrasonografi Sken A untuk mengukur panjang bola mata. Pada pasien tertentu
kadang-kadang terdapat perbedaan lensa yang harus ditanam pada kedua mata. Dengan cara
ini dapat ditentukan ukuran lensa yang akan ditanam untuk mendapatkan kekuatan refraksi
pasca bedah.
- Keratometri mengukur kelengkungan kornea untuk bersama ultrasonografi dapat
menentukan kekuatan lensa intraokular yang akan ditanam. Dilakukan trlebih dahulu
19

pemeriksaan khusus mata untuk mencegah terjadinya penyulit pembedahan seperti adanya
infeksi sekitar mata, glaucoma, dan penyakit mata lainnya yang dapat menimbulkan penyulit
waktu pembeahan dan sedudah pembedahan.

Pembedahan
Pembedahan katarak terdiri dari pengangkatan lensa dan menggantinya dengan lensa buatan.
1. Pengangkatan lensa
Ada 2 macam pembedahan yang bisa digunakan untuk mengangkat lensa:
A. ICCE (Intra Capsular Cataract Extraction) atau EKIK
Ekstrasi intrakapsular merupakan teknik bedah katarak yang digunakan sebelum adanya
bedah katarak ekstrakapsular. Ekstraksi jenis ini merupakan tindakan bedah yang umum
dilakukan pada katarak senil. Dengan teknik tersebut dilakukan pengeluaran lensa dengan
kapsul lensa secara keseluruhan. Indikasi EKIK terutama bermamfaat pada luksasio lensa dan
katarak hipermatur. Bila zonula zinii tidak cukup adekwat untuk dilalukan EKEK maka lebih
baik dilakukan EKIK. Kontra indikasi absolut meliputi katarak pada anak anak dan dewasa
muda serta rupture kapsular traumatic. Kontra indikasi relatif meliputi miop tinggi, sindrom
Marfan, katarak Morgagni, dan adanya korpus vitreus di kamera Okuli anterior. Pada saat ini
pembedahan intrakapsuler sudah jarang dilakukan.

B. Ekstrasi katarak Ekstrakapsular (EKEK)


Ekstrasi katarak Ekstrakapsular (EKEK) merupakan teknik operasi katak dengan melakukan
pengangkatan nucleus lensa dan korteks lensa melalui pembukaan kapsul anterior dan
meninggalkan kapsul posterior. EKEK merupakan kontra indikasi pada katarak dengan
Zonula zinii yang tidak adekwat. Pembedahan ini dilakukan pada pasien katarak muda,
pasien dengan kelainan endotel, bersama-sama keratoplasti, implantasi lensa intra okular,
kemungkinan akan dilakukan bedah glaukoma, mata dengan presdiposisi untuk terjadinya
prolaps badan kaca, sebelumnya mata mengalami ablasi retina, mata dengan sitoid makular
edema, pasca bedah ablasi, untuk mencegah penyulit pada saat melakukan pembedahan
20

katarak seperti prolaps badan kaca. Penyulit yang dapat timbul pada pembedahan ini yaitu
dapat terjadinya katarak sekunder.
Kapsul posterior yang yang masih intak pada EKEK mempunyaai kelebihan antara lain:
1.Mengurangi risiko CV prolaps
2.Untuk mendapatkan posisi anatomi yang lebih baik untuk fiksasi IOL
3.Mengurangi

mobilitas

iris

dan

vitreus

yang

terjadi

pada

gerakan

saccadic( endophthalmiodonesis)
4.Sebagai barier yang membatasi pertukaran molekul antara vitreus dan humour akuos.
5.Mengurangi

kemungkinan

masuknya

bakteri

ke

vitreus

yang

dapat

menyebabkanendoftalmitis.
6.Mengurangi komplikasi yang berhubungan dengan menempelnya dengan vitreus dengan
iris, kornea dan luka incise.

Tabel 2 : Perbandingan ECCE dengan ICCE

Pengeluaran lensa

ECCE

ICCE

Nucleus dikeluarkan dari kapsul,

Lens dikeluarkan secara in toto

korteks disuction
Kapsula posterior & zonula

Intak

dikeluarkan

Incisi

Lebih kecil (8 mm)

Lebih besar (10 mm)

Iridektomi perifer

Tidak dilakukan

Dilakukan untuk menghindari

zinii

glaukoma karena blokade pupil


Instrumen (rumit)

Diperlukan

Tidak diperlukan

Waktu

Lebih lama

Lebih singkat

Implantasi IOL

Posterior chamber

Anterior chamber (Pseudo-phakic

21

Bullous Keratopathy)
Teknik

Lebih sulit

Lebih mudah

Biaya

Lebih banyak

Lebih sedikit

Komplikasi yang

After-Cataract

meningkat

Prolaps & degenerasi vitreus

Edema makula

Endophthalmitis

Aphakic Glaucoma

Fibrous & Endothelial


ingrowth

Neovascular Glaucoma in
Proliferative Diabetic
Retinopathy

Komplikasi yang

Seluruh komplikasi yang

berkurang

disebutkan pada ICCE

Indikasi

Prosedur rutin untuk semua jenis


katarak (kecuali bila merupakan
komplikasi)

After-Cataract

Dislokasi lensa

Subluksasi lensa (>1/3 bagian


zonula rusak)

Chronic Lens Induced Uveitis

Katarak hipermatur dengan


kapsula anterior yang tebal

korpus alienum intralentikular saat ada gangguan


integritas kapsula posterior
lensa.

22

Kontraindikasi

Pasien berusia < 35 tahun dimana


1

Dislokasi lensa

Subluksasi lensa (>1/3

terjadi perlengketan erat antara lensa


dan vitreus (Ligament of Weigert)

bagian zonula rusak)

Fakoemulsifikasi
Fakoemulsifikasi merupakan bentuk ECCE yang terbaru dimana menggunakan
getaran ultrasonic untuk menghancurkan nucleus sehingga material nucleus dan kortek dapat
diaspirasi melalui insisi 3 mm. Untuk mencegah astigmatisme pasca bedah EKEK, maka
luka dapat diperkecil dengan tindakan bedah fakoemulsifikasi. Pada tindakan ini lensa yang
katarak di fragmentasi dan diaspirasi. Tindakan operasi katarak dengan Teknik
Fakoemulsifikasi memiliki banyak keunggulan diantaranya :
1. Luka operasi sangat pendek(3 ml).
2. Dengan alat fako seluruh lensa dapat dihancurkan dan kemudian disedot/dihisap
keluar.
3. Penggunaan lensa tanam hanya cukup ditutup dengan 1 atau 2 jahitan, atau pada
kondisi tertentu tidak memerlukan jahitan sama sekali.
4. Masa penyembuhan lebih singkat.

Tata laksana postoperatif


1

24 jam postoperative verban dibuka dan mata dibersihkan

Mata diperiksa seluruhnya terutama tajam penglihatan, secret dalam saccus


konjungtiva, aposisi luka, kejernihan cornea, kedalaman bilik mata depan dan hifema,
pupil, IOL, kapsula posterior, retina, dan tekanan intra okuli.

Tetes antibiotic-steroid topical diberikan setiap 4-6 jam dan salep diberikan sebelum
tidur, digunakan untuk mengontrol infeksi dan inflamasi postoperatif dan diturunkan
dosisnya dalam 4-6 minggu.
23

Pasien dianjurkan untuk menghindari mencuci kepala dalam waktu 1 minggu,


mengangkat beban berat dalam 3 bulan.

Beberapa pasien dengan fungsi visual yang terbatas dapat dibantu dengan alat bantu optik
bila operasi belum bisa dilakukan. Dengan monokuler 2,5 x 2,8, dan 4x lebih dekat ke objek,
penggunaan magnifier, teleskop dapat membantu membaca dan kerja dekat. Katarak akan
mengurangi kontras dan menyebabkan kabur. Panjang gelombang yang pendek menyebabkan
penyebaran warna, intensitas dan jarak cahaya, jika pasien mampu mengatasinya terutama
pada kondisi terang, penggunaan lensa absortif mampu mengurangi disabilitas.5

Komplikasi
Komplikasi sebelum operasi
1. Glaukoma
Glaukoma merupakan komplikasi katarak yang tersering. Glaukoma dapat
terjadi karena proses fakolitik, fakotopik, fakotoksik.
Fakolitik
Pada lensa yang keruh terdapat kerusakan maka substansi lensa akan keluar
yang akan menumpuk di sudut kamera okuli anterior terutama bagian kapsul lensa.
Dengan keluarnya substansi lensa maka pada kamera okuli anterior akan bertumpuk
pula serbukan fagosit atau makrofag yang berfungsi mereabsorbsi substansi lensa
tersebut.Tumpukan akan menutup sudut kamera okuli anterior sehingga timbul
glaukoma.
Fakotopik
Berdasarkan posisi lensa, oleh karena proses intumesensi, iris, terdorong ke
depan sudut kamera okuli anterior menjadi sempit sehingga aliran humor aqueaous
tidak lancar sedangkan produksi berjalan terus, akibatnya tekanan intraokuler akan
meningkat dan timbul glaukoma
Fakotoksik
Substansi lensa di kamera okuli anterior merupakan zat toksik bagi mata
sendiri (auto toksik). Terjadi reaksi antigen-antibodi sehingga timbul uveitis, yang
kemudian akan menjadi glaukoma.
2. Uveitis
24

3. Subluksasi atau Dislokasi Lensa


Komplikasi selama operasi

Hifema
Perdarahan bisa terjadi dari insisi korneoskleral, korpus siliaris atau

vaskularisasi iris abnormal. Bila perdarahan berasal dari luka harus dilakukan
kauterisasi. Perdarahan dari iris yang normal jarang terjadi, biasanya timbul bila
terdapat rubeosis iridis, uveitis heterocromik dan iridosiklitis. Komplikasi utama
akibat hifema yang berlangsung lama adalah peningkatan TIO dan corneal blood
staining.

Iridodialisis
Iridodialisis dapat terjadi pada waktu memperlebar luka operas, iridektomi,

atau ekstrasi lensa. Iridodialisi yang kecil tidak menimbulkan ganngguan visus dan
bisa berfungsi sebagai irisektomi perifer, tetapi iridodialisi yang parah dapat
menimbulkan gangguan visus dan kosmetik. Perbaikan harus segera dilakukan dengan
menjahit iris pada luka.

Prolaps korpus vitreus


Prolaps korpus vitreus merupakam komplikasi yang serius pada operasi

katarak, keadaan ini dapat menyebabkan keratopati bulosa, epithelial dan stromal
downgrowth, prolap iris, uveitis, glaukoma, ablasi retina, edema macula kistoid,
kekeruhan korpus vitreus, endoftalmitis dan neuritis optic. Untuk menghindari hal
tersebut, harus dilakukan vitrektomi anterior sampai segmen anterior bebas dari
korpus vitreus.

Perdarahan ekspulsif
Perdarahan ekspulsif jarang terjadi, tetapi merupakan masalah serius yang

dapat menimbulkan eksplusi dari lensa, vitreus, uvea. Penanganan segera dilakukan
tamponade dengan jalan penekanan pada bola mata dan luka ditutup dengan rapat.
Komplikasi pasca operasi

Edema kornea
Edema kornea merupakan komplikasi katarak yang serius, bisa terjadi pada

epitel atau stroma yang diakibatkan trauma mekanik, aspirasi irigasi yang cukup lama,
inflamasi dan peningkatan TIO. Biasanya akan teresobsi 4-6 minggu setelah operasi.

25

Jika masih ditemukan edema kornea sentral setelah 3 bulan pasca operasi, perlu
dipertimbangkan keratoplasti.

Kekeruhan kapsul posterior


Kekeruhan kapsul posterior merupakan penyebab tersering penurunan visus

setelah EKEK. Sel-sel epitel lensa yang masih viable dan tersisa pada saat operasi
akan mengalami proliferasi. Lokasi di mana kapsul anterior dan posterior menempel
membentuk wedl cells yang kemudian membentuk soemmerings ring. Jika sel-sel
epitel tersebut migrasi ke arah luar, sel-seltersebut membentuk Elschnigs pear di
kapsul posterior. Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya kekeruhan kapsul
posterior sangat bervariasi antara lain usia, riwayat inflamasi intra okuler,
pseudoexfoliasi, betuk lensa tanam,material lensa tanam, modifikasi permukaan lensa
dan waktu operasi.

Residual lensa material


Timbulnya residual lensa material disebabkan EKEK yang tidak adekuat. Bila

material yang tertinggal sedikit, akan diresorbsi secara spontan, sedangkan bila
jumlahnya banyak, perlu dilakukan aspirasi karena bisa menimbulkan uveitis anterior
kronis dan glaucoma sekunder. Apabila yang tertinggal potongan nucleus yang besar
dan keras, dapat merusak endotel kornea, penanganannya dengan ekspresi atau irigasi
nucleus.

Prolaps Iris
Iris paling sering terjadi satu sampai 5 hari setelah operasi dan penyebab

tersering adalah jahitan yang longgar, dapat juga terjadi karena komplikasi prolaps
vitreus selama operasi. Keaadaan ini memerlukan penanganan (jahit ulang) untuk
menghindari timbulnya komplikasi seperti penyembuhan luka lama, epithelial
downgrowth, konjungtivitis kronis, endoftalmitis, edema macula kistoid dan kadang
kadang Ophthalmia simpatik.

Astigmatisme
Astigmatisme pasca bedah katarak dapat terjadi karena jahitan yang terlalu

kencang maupun jahitan yang terlalu longgar. Jahitan yang terlalu kencang akan
mengakibatkan Steepen corneal daerah yang searah jahitan with the rule. Sedangkan
jahitan yang terlalu longgar akan menyebabkan againt the rule astigmatisma. With the
rule astigmatisma setelah operasi katarak yang kurang dari 2 dioptri akan berkurang
dengan sendirinya sehingga mengurangi kemungkinan untuk melepas jahitan yang
terlalu kencang.
26

Hifema
Hifema bisa terjadi 1-3 hari setelah operasi, biasanya hilang spontan dalam

waktu 7-10 hari. Perdarahan berasal dari pembuluh darah kecil pada luka. Bila
perdarahan cukup banyak dapat menimbulkan glaucoma sekunder dan corneal
staining blood dan TIO harus diturunkan dengan pemberian asetazolamid 250 mg 4
kali sehari. Serta parasintesis hifema dengan aspirasi irigasi.

Glaukoma sekunder
Glaukoma sekunder dengan peningkatan TIO yang ringan bisa timbul 24-48

jam setelah operasi, umumnya dapat hilang dengan sendirinya dan tidak memerlukan
terapi antiglaukoma. Peningkatan TIO yang berlangsung lama dapat disebabkan oleh
Hifema, blok pupil, sinekia anterior perifer karena pendangkalan COA, epithelial
ingrowth, blok siliar, endoftalmitis, sisa material lensa, pelepasan pigmen iris,
preexisting glaucoma.

Endoftalmitis
Endoftalmitis dalam bentuk akut atau kronik, dimana bentuk kronik

disebabkan rendahnya pathogenesis organisme penyebabnya. Secara umum


endoftalmitis ditandai dengan rasa nyeri yang ringan sampai berat, penurunan visus,
injeksi siliar, kemosis dan hipopion. Endoftalmitis akut biasanya timbul 2-5 hari pasca
operasi, sedangkan bentuk kronis dapat timbul beberapa minggu atau bulan atau lebih
setelah operasi. Endoftalmitis kronis ditandai dengan reaksi inflamasi ringan atau
uveitis (granulomatus) dan penurunan visus. Penyebab endoftalmitis akut terbanyak
adalah Staphylococcus epidermidis (gram positif) dan Staphylococcus coagulase
negative yang lain. Kuman gram positif merupakan penyebab terbanyak endoftalmitis
akut bila dibandingkan gram negatif. Untuk gram negatif, kuman penyebab terbanyak
adalah Pseudomonas aeruginosa. Umumnya organisme dapat menyebabkan
endoftalmitis bila jumlahnya cukup banyak untuk inokulasi, atau sistem pertahanan
mata terganggu oleh obat-obat imunosupresan, penyakit atau trauma. Organisme
penyebab endoftalmitis kronis mempunyai virulensi yang rendah, penyebab tersering
adalah Propionibacterium acnes, S. epidermidis dan Candida. Organisme tersebut
menstimulasi reaksi imunologik yang manifestasinya adalah inflamasi yang menetap.

Ablasi retina
Mekanisme pasti timbulnya ablasi retina masih belum diketahui. Faktor

predisposisinya meliputi myopia aksilis (> 25 mm), lattice degeneration, prolaps


vitreus, riwayat robekan atau ablasio retina yang dioperasi, riwayat ablasio pada mata
27

kontralateral dan riwayat keluarga dengan ablasio retina. Ablsio retina terjadi sekitar
2-3% pasca EKIK dan 0,5-2% pasca EKEK. Kapsul posterior yang masih intak
mengurangi kemungkinan terjadinya ablsio retina pasca bedah, sedangkan operasi
dengan komplikasi seperti rupture kapsul posterior dan vitreus loss meningkatkan
kemungkinan ablasio retina.

Edema Makula Kistoid


Edema macula kistoid merupakan penyebab penurunan visus setelah operasi

katarak, yang dapat terjadi pada operasi katarak dengan maupun tanpa komplikasi.
Patogenesisnya tidak diketahui, kemungkinan karena permeabilitas vaskuler
perifoveal yang meningkat. Factor-faktor lain yang mempengaruhi adalah inflamasi
yang terjadi karena prostaglandin release, vitreomacular traction dan hipotoni. Edema
macula kistoid ditemukan pada keadaan penurunan tajam penglihatan pasca operasi
yang tidak diketahui sebabnya atau diketahui dengan penampakan yang karakteristik
pada macula dengan pemeriksaan oftalmoskop maupun fluorescein angiography, di
mana didapatkan gambaran macula yang khas (flower petal pattern).

Retinal light toxicity


Retinal light toxicity diakibatkan karena paparan sinar operating microscope

yang lama dan dapat menyebabkan terbakarnya epitel pigmen retina. Jika yang
terbakar daerah fovea maka akan terjadi penurunan tajam penglihatan pasca bedah.
Sedangkan jika yang terbakar di daerah parafovea maka penderita akan mengeluh
adanya skotoma parasentral.

Pencegahan
Proses penuaan tidak dapat mencegah terjadinya katarak. Jadi pemeriksaan mata setiap tahun
secara teratur sangat dianjurkan pada usia 60 tahun keatas untuk mengetahui adanya katarak.
Antara langkah yang bisa diambil untuk memeperlambat terjadinya katarak adalah dengan
tidak merokok, karena merokok mengakibatkan meningkatkan radikal bebas dalam tubuh,
sehingga risiko katarak akan bertambah. Amalkan pola makan yang sehat, memperbanyak
konsumsi buah dan sayur. Lindungi mata dari sinar matahari, karena sinar UV mengakibatkan
katarak pada mata dan jagalah kesehatan tubuh seperti kencing manis dan penyakit lainnya.

28

Prognosis
Pasien katarak senilis dengan pembedahan ECCE standar atau phacoemulsification tanpa
komplikasi menjanjikan prognosis yang baik. Namun terdapat kemungkinan terjadinya
katarak sekunder yang memerlukan tindakan lanjut seperti prosedur laser. Pasien katarak
senilis dengan faktor resiko seperti diabetes mellitus dan retinopati diabetikum memberikan
prognosis kurang baik terhadap penglihatan pasien.

Hipotesis:
Laki-laki 57 tahun dengan keluhan penglihatan mata kanan bertambah kabur seperti berasap
sejak 6 bulan lalu dengan riwayat diabetes mellitus sejak 10 tahun yang lalu diduga menderita
brunescent cataract pada ocular dextra dan immature senile cataract pada ocular sinistra.
Kesimpulan
Hipotesis diterima. Laki-laki 57 tahun dengan keluhan penglihatan mata kanan bertambah
kabur seperti berasap sejak 6 bulan lalu dengan riwayat diabetes mellitus sejak 10 tahun yang
lalu diduga menderita brunescent cataract pada ocular dextra dan immature senile cataract
pada ocular sinistra.

29

.Daftar Pustaka
1. Gleadle, Jonathan. At A Glance Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik. Jakarta: Penerbit
Erlangga; 2007
2. Pemeriksaan katarak. Edisi 2011. Retrieved from
http://www.inascrs.org/doc/PPM_1_katarak_rev03.pdf on 12th March 2012
3. Vaughan DG. General Ophthalmology: 17th ed. New York: Lange Medical
Books McGraw-Hill Companies Inc.; 2008
4. Ilyas HS. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran Universitas
Indonesia; 2010
5. Cataract: Adam Medical Encyclopedia. Retrieved from
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0001996/ on 13th March 2012
6. Kumar P, Clark M. Kumar & Clarks Clinical Medicine. United States of America:
Saunders Elsevier; 2009.
7. Cataract. American Ophtometric Association. Retrieved from http://www.oaa.org/ on 13th
March 2012.
8. Morosidi SA, Paliyama MF, Lesmana MI, Yuriani I, Marbun EM, Dudarmo T, et al.

Special Sense. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana; 2012

30