Anda di halaman 1dari 23

Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan Nasional Bidang Sosial,

Budaya, Pertahanan dan Keamanan Dikaitkan dengan Nilai-nilai Pancasila


Dalam pembangunan nasional pasti dibutuhkan suatu kerangka pemikiran
yang melandasi pembangunan nasional itu sendiri. Oleh karena itu,
pancasila dapat dijadikan sebagai landasan pembangunan nasional.
Namun demikian, dari kata-kata Pancasila sebagai Paradigma
Pembangunan Nasional bidang sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan
akan tercipta beberapa pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu sebagai
berikut:
- Apa itu Paradigma?
- Apa saja Nilai-nilai Pancasila yang dapat diterapkan sebagai Paradigma
Pembangunan Nasional bidang sosial, budaya, pertahanan, dan
keamanan?
- Mengapa Pancasila dapat dijadikan Paradigma Pembangunan Nasional?
Orang yang pertama kali menyatakan istilah paradigma adalah Thomas
Kuhn, sedangkan arti dari pardigma adalah kerangka pemikiran.
Pembangunan Nasional tidak memiliki arti yang sempit hanya
membangun fisiknya saja. Pembangunan Nasional memiliki arti yang luas
yaitu membangun masyarakat Indonesia seutuhnya. Pancasila dapat
dijadikan paradigma pembangunan Nasional karena nilai-nilai pancasila
dapat diterapkan dan sesuai dengan perkembangan jaman. Dalam
pembangunan Nasional harus mendasarkan pada nilai-nilai yang
terkandung dalam pancasila. Pada undang-undang alinea ke-IV telah
tercantum tujuan dari Negara Indonesia, yaitu memajukan kesejahteraan
umum dan mencapai masyarakat adil dan makmur. Dan dalam upaya
membangun Indonesia seutuhnya itulah diperlukan penerapan dari nilainilai pancasila. Pancasila sebagai paradigma dalam pembangunan
nasional bidang sosial dan budaya, pada hakikatnya bersifat humanistik
karena memang pancasila bertolak dari hakikat dan kedudukan kodrat
manusia itu sendiri. Hal ini sesuai dengan pancasila, sila kedua yang
berbunyi kemanusiaan yang adil dan beradab. Oleh karena itu,
pembangunan sosial budaya harus mampu meningkatkan harkat dan
martabat manusia, yaitu menjadi manusia yang berbudaya dan beradab.
Dalam upaya membangun masyarakat seutuhnya, maka hendaknya juga
berdasarkan pada sistem nilai dan budaya masyarakat Indonesia yang
sangat beragam. Berdasar pada sila ketiga dari pancasila, yaitu persatuan
Indonesia, pembangunan sosial budaya dikembangkan atas dasar
penghargaan terhadap nilai sosial dan budaya yang beragam di seluruh
nusantara menuju pada tercapainya rasa persatuan sebagai bangsa.
Diperlukan adanya pengakuan dan penghargaan terhadap budaya dan
kehidupan sosial berbagai kelompok bangsa Indonesia sehingga mereka
merasa dihargai dan diterima sebagai warga bangsa. Sedangkan
pancasila sebagai paradigma pembangunan nasional bidang pertahanan
dan keamanan, memiliki arti bahwa untuk mencapai terciptanya
masyarakat hukum diperlukan penerapan dari nilai-nilai pancasila. Hal itu
disebabkan karena Negara juga memiliki tujuan untuk melindungi
segenap bangsa dan wilayah negaranya. Nilai-nilai pancasila dalam
penerapan pancasila sebagai paradigma pembangunan nasional bidang
pertahanan dan keamanan adalah :

a. Sila pertama dan kedua: pertahanan dan keamanan Negara harus


mendasarkan pada tujuan demi tercapainya kesejahteraan hidup manusia
sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
b. Sila Ketiga: pertahanan dan keamanan Negara haruslah mendasarkan
pada tujuan demi kepentingan warga dalam seluruh warga sebagai warga
Negara.
c. Sila keempat: pertahanan dan keamanan harus mampu menjamin hak
dasar persamaan derajat serta kebebasan kemanusiaan.
d. Sila kelima: pertahanan dan keamanan harus diperuntukan demi
terwujudnya keadilan hidup masyarakat.
Membaca buku acuan dan referensi lain, dapat dimengerti tentang
Pancasila sebagai Pardigma Pembangunan Nasional bidang sosial, budaya,
pertahanan, dan keamanan. Sehingga dapat diambil suatu kesimpulan
bahwa nilai-nilai dari pancasila dapat dijadikan suatu paradigma atau
kerangka pemikiran dalam pembangunan nasional.
Pancasila sebagai paradigma dimaksudkan bahwa Pancasila sebagai
sistem nilai acuan, kerangka-acuan berpikir, pola-acuan berpikir; atau
jelasnya sebagaisistem nilai yang dijadikan kerangka landasan, kerangka
cara, dan sekaligus kerangka arah/tujuan bagi yang menyandangnya.
Yang menyandangnya itu di antaranya: (a) bidang politik, (b) bidang
ekonomi, (c) bidang social budaya, (d) bidang ..hukum, (e) bidang
kehidupan antar umat beragama, Memahami asal mula Pancasila.
Kelimanya itu, dalam makalah ini, dijadikan pokok bahasan. Namun
demikian agar sistematikanya menjadi relatif lebih tepat, pembahasannya
dimulai oleh paradigma yang terakhir yaitu paradigma dalam kehidupan
kampus.
1. Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan
Istilah paradigma pada mulanya dipakai dalam bidang filsafat ilmu
pengetahuan. Menurut Thomas Kuhn, Orang yang pertama kali
mengemukakan istilah tersebut menyatakan bahwa ilmu pada waktu
tertentu didominasi oleh suatu paradigma.
Paradigma adalah pandangan mendasar dari para ilmuwan tentang apa
yang menjadi pokok persoalan suatu cabang ilmu pengetahuan. Istilah
paradigma makin lama makin berkembang tidak hanya di bidang ilmu
pengetahuan, tetapi pada bidang lain seperti bidang politik, hukum, sosial
dan ekonomi.
Paradigma kemudian berkembang dalam pengertian sebagai kerangka
pikir, kerangka bertindak, acuan, orientasi, sumber, tolok ukur, parameter,

arah dan tujuan. Sesuatu dijadikan paradigma berarti sesuatu itu dijadikan
sebagai kerangka, acuan, tolok ukur, parameter, arah, dan tujuan dari
sebuah kegiatan.
Dengan demikian, paradigma menempati posisi tinggi dan penting dalam
melaksanakan segala hal dalam kehidupan manusia. Pancasila sebagai
paradigma, artinya nilai-nilai dasar pancasila secara normatif menjadi
dasar, kerangka acuan, dan tolok ukur segenap aspek pembangunan
nasional yang dijalankan di Indonesia. Hal ini sebagai konsekuensi atas
pengakuan dan penerimaan bangsa Indonesia atas Pancasila sebagai
dasar negara dan ideologi nasional.
Hal ini sesuai dengan kenyataan objektif bahwa Pancasila adalah dasar
negara Indonesia, sedangkan negara merupakan organisasi atau
persekutuan hidup manusia maka tidak berlebihan apabila pancasila
menjadi landasan dan tolok ukur penyelenggaraan bernegara termasuk
dalam melaksanakan pembangunan.
Nilai-nilai dasar Pancasila itu dikembangkan atas dasar hakikat manusia.
Hakikat manusia menurut Pancasila adalah makhluk monopluralis. Kodrat
manusia yang monopluralis tersebut mempunyai ciri-ciri, antara lain:
a. susunan kodrat manusia terdiri atas jiwa dan raga
b. sifat kodrat manusia sebagai individu sekaligus sosial
c. kedudukan kodrat manusia sebagai makhluk pribadi dan makhluk
tuhan.
Berdasarkan itu, pembangunan nasional diarahkan sebagai upaya
meningkatkan harkat dan martabat manusia yang meliputi aspek jiwa,
raga,pribadi, sosial, dan aspek ketuhanan. Secara singkat, pembangunan
nasional sebagai upaya peningkatan manusia secara totalitas.
Pembangunan sosial harus mampu mengembangkan harkat dan martabat
manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu, pembangunan dilaksanakan
di berbagai bidang yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia.
Pembangunan, meliputi bidang politik, ekonomi, sosial budaya, dan
pertahanan keamanan.
Pancasila menjadi paradigma dalam pembangunan politik, ekonomi, sosial
budaya, dan pertahanan keamanan.
a. Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan Politik
Manusia Indonesia selaku warga negara harus ditempatkan sebagai

subjek atau pelaku politik bukan sekadar objek politik. Pancasila bertolak
dari kodrat manusia maka pembangunan politik harus dapat
meningkatkan harkat dan martabat manusia. Sistem politik Indonesia
yang bertolak dari manusia sebagai subjek harus mampu menempatkan
kekuasaan tertinggi pada rakyat. Kekuasaan adalah dari rakyat, oleh
rakyat dan untuk rakyat. Sistem politik Indonesia yang sesuai pancasila
sebagai paradigma adalah sistem politik demokrasi bukan otoriter.
Berdasar hal itu, sistem politik Indonesia harus dikembangkan atas asas
kerakyatan (sila IV Pancasila). Pengembangan selanjutnya adalah sistem
politik didasarkan pada asas-asas moral daripada sila-sila pada pancasila.
Oleh karena itu, secara berturut-turut sistem politik Indonesia
dikembangkan atas moral ketuhanan, moral kemanusiaan, moral
persatuan, moral kerakyatan, dan moral keadilan.
Perilaku politik, baik dari warga negara maupun penyelenggara negara
dikembangkan atas dasar moral tersebut sehingga menghasilkan perilaku
politik yang santun dan bermoral.
Pancasila sebagai paradigma pengembangan sosial politik diartikan
bahwa Pancasila bersifat sosial-politik bangsa dalam cita-cita bersama
yang ingin diwujudkan dengan menggunakan nilai-nilai dalam Pancasila.
Pemahaman untuk implementasinya dapat dilihat secara berurutanterbalik:
Penerapan dan pelaksanaan keadilan sosial mencakup keadilan politik,
budaya, agama, dan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari;
Mementingkan kepentingan rakyat (demokrasi) bilamana dalam
pengambilan keputusan;
Melaksanakan keadilan sosial dan penentuan prioritas kerakyatan
berdasarkan konsep mempertahankan persatuan;
Dalam pencapaian tujuan keadilan menggunakan pendekatan
kemanusiaan yang adil dan beradab;
Tidak dapat tidak; nilai-nilai keadilan sosial, demokrasi, persatuan, dan
kemanusiaan (keadilan-keberadaban) tersebut bersumber pada nilai
Ketuhanan Yang Maha Esa.
Di era globalisasi informasi seperti sekarang ini, implementasi tersebut
perlu direkonstruksi kedalam pewujudan masyarakat-warga (civil society)
yang mencakup masyarakat tradisional (berbagai asal etnik, agama, dan
golongan), masyarakat industrial, dan masyarakat purna industrial.
Dengan demikian, nilai-nilai sosial politik yang dijadikan moral baru
masyarakat informasi adalah:

~
~
~
~

nilai toleransi;
nilai transparansi hukum dan kelembagaan;
nilai kejujuran dan komitmen (tindakan sesuai dengan kata);
bermoral berdasarkan konsensus (Fukuyama dalam Astrid: 2000:3).

b. Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan Ekonomi


Sesuai dengan paradigma pancasila dalam pembangunan ekonomi maka
sistem dan pembangunan ekonomi berpijak pada nilai moral daripada
pancasila. Secara khusus, sistem ekonomi harus mendasarkan pada dasar
moralitas ketuhanan (sila I Pancasila) dan kemanusiaan ( sila II Pancasila).
Sistem ekonomi yang mendasarkan pada moralitas dam humanistis akan
menghasilkan sistem ekonomi yang berperikemanusiaan. Sistem ekonomi
yang menghargai hakikat manusia, baik selaku makhluk individu, sosial,
makhluk pribadi maupun makhluk tuhan.
Sistem ekonomi yang berdasar pancasila berbeda dengan sistem ekonomi
liberal yang hanya
menguntungkan individu-individu tanpa perhatian pada manusia lain.
Sistem ekonomi demikian juga berbeda dengan sistem ekonomi dalam
sistem sosialis yang tidak mengakui kepemilikan individu.
Pancasila bertolak dari manusia sebagai totalitas dan manusia sebagai
subjek. Oleh karena itu, sistem ekonomi harus dikembangkan menjadi
sistem dan pembangunan ekonomi yang bertujuan pada kesejahteraan
rakyat secara keseluruhan. Sistem ekonomi yang berdasar pancasila
adalah sistem ekonomi kerakyatan yang berasaskan kekeluargaan. Sistem
ekonomi Indonesia juga tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai moral
kemanusiaan.
Pembangunan ekonomi harus mampu menghindarkan diri dari bentukbentuk persaingan bebas, monopoli dan bentuk lainnya yang hanya akan
menimbulkan penindasan, ketidakadilan, penderitaan, dan kesengsaraan
warga negara.
Pancasila sebagai paradigma pengembangan ekonomi lebih mengacu
pada Sila Keempat Pancasila; sementara pengembangan ekonomi lebih
mengacu pada pembangunan Sistem Ekonomi Indonesia. Dengan
demikian subjudul ini menunjuk pada pembangunan Ekonomi Kerakyatan
atau pembangunan Demokrasi Ekonomi atau pembangunan Sistem
Ekonomi Indonesia atau Sistem Ekonomi Pancasila.
Dalam Ekonomi Kerakyatan, politik/kebijakan ekonomi harus untuk
sebesarbesar kemakmuran/kesejahteraan rakyatyang harus mampu

mewujudkan perekonomian nasional yang lebih berkeadilan bagi seluruh


warga masyarakat (tidak lagi yang seperti selama Orde Baru yang telah
berpihak pada ekonomi besar/konglomerat). Politik Ekonomi Kerakyatan
yang lebih memberikan kesempatan, dukungan, dan pengembangan
ekonomi rakyat yang mencakup koperasi, usaha kecil, dan usaha
menengah sebagai pilar utama pembangunan ekonomi nasional.
Oleh sebab itu perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar
atas asas kekeluargaan. Bangun perusahaan yang sesuai dengan ini ialah
koperasi. Ekonomi Kerakyatan akan mampu mengembangkan programprogram kongkrit pemerintah daerah di era otonomi daerah yang lebih
mandiri dan lebih mampu mewujudkan keadilan dan pemerataan
pembangunan daerah.
Dengan demikian, Ekonomi Kerakyatan akan mampu memberdayakan
daerah/rakyat dalam berekonomi, sehingga lebih adil, demokratis,
transparan, dan partisipatif. Dalam
Ekonomi Kerakyatan, Pemerintah Pusat (Negara) yang demokratis
berperanan memaksakan pematuhan peraturan-peraturan yang bersifat
melindungi warga atau meningkatkan kepastian hukum.
c. Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan Sosial Budaya
Pancasila pada hakikatnya bersifat humanistik karena memang pancasila
bertolak dari hakikat dan kedudukan kodrat manusia itu sendiri. Hal ini
sebagaimana tertuang dalam sila Kemanusiaan yang adil dan beradab.
Oleh karena itu, pembangunan sosial budaya harus mampu meningkatkan
harkat dan martabat manusia, yaitu menjadi manusia yang berbudaya
dan beradab. Pembangunan sosial budaya yang menghasilkan manusiamanusia biadab, kejam, brutal dan bersifat anarkis jelas bertentangan
dengan cita-cita menjadi manusia adil dan beradab.
Manusia tidak cukup sebagai manusia secara fisik, tetapi harus mampu
meningkatkan derajat kemanusiaannya. Manusia harus dapat
mengembangkan dirinya dari tingkat homo
menjadi human. Berdasar sila persatuan Indonesia, pembangunan
sosial budaya dikembangkan atas dasar penghargaan terhadap nilai sosial
dan budaya-budaya yang beragam di seluruh wilayah Nusantara menuju
pada tercapainya rasa persatuan sebagai bangsa.
Perlu ada pengakuan dan penghargaan terhadap budaya dan kehidupan
sosial berbagai kelompok bangsa Indonesia sehingga mereka merasa
dihargai dan diterima sebagai warga bangsa. Dengan demikian,
pembangunan sosial budaya tidak menciptakan kesenjangan,

kecemburuan, diskriminasi, dan ketidakadilan sosial. Paradigma-baru


dalam pembangunan nasional berupa paradigma pembangunan
berkelanjutan, yang dalam perencanaan dan pelaksanaannya perlu
diselenggarakan dengan menghormati hak budaya komuniti-komuniti
yang terlibat, di samping hak negara untuk mengatur kehidupan
berbangsa dan hak asasi individu secara berimbang (Sila Kedua).
Hak budaya komuniti dapat sebagai perantara/penghubung/penengah
antara hak negara dan hak asasi individu. Paradigma ini dapat mengatasi
sistem perencanaan yang sentralistik dan yang mengabaikan
kemajemukan masyarakat dan keanekaragaman kebudayaan Indonesia.
Dengan demikian, era otonomi daerah tidak akan mengarah pada
otonomi suku bangsa tetapi justru akan memadukan pembangunan
lokal/daerah dengan pembangunan regional dan pembangunan nasional
(Sila Keempat), sehingga ia akan menjamin keseimbangan dan
kemerataan (Sila Kelima) dalam rangka memperkuat persatuan dan
kesatuan bangsa yang akan sanggup menegakan kedaulatan dan
keutuhan wilayah NKRI (Sila Ketiga).
Apabila dicermati, sesungguhnya nilai-nilai Pancasila itu memenuhi
kriteria sebagai puncak-puncak kebudayaan, sebagai kerangka-acuanbersama, bagi kebudayaan - kebudayaan di daerah:
(1) Sila Pertama, menunjukan tidak satu pun sukubangsa ataupun
golongan sosial dan komuniti setempat di Indonesia yang tidak mengenal
kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa;
(2) Sila Kedua, merupakan nilai budaya yang dijunjung tinggi oleh
segenap warganegara Indonesia tanpa membedakan asal-usul
kesukubangsaan, kedaerahan, maupun golongannya;
(3) Sila Ketiga, mencerminkan nilai budaya yang menjadi kebulatan tekad
masyarakat majemuk di kepulauan nusantara untuk mempersatukan diri
sebagai satu bangsa yang berdaulat; (4) Sila Keempat, merupakan nilai
budaya yang luas persebarannya di kalangan masyarakat majemuk
Indonesia untuk melakukan kesepakatan melalui musyawarah. Sila ini
sangat relevan untuk mengendalikan nilai-nilai budaya yang
mendahulukan kepentingan perorangan;
(5) Sila Kelima, betapa nilai-nilai keadilan sosial itu menjadi landasan yang
membangkitkan semangat perjuangan bangsa Indonesia dalam
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan
ikutserta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
d. Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan Hukum

Salah satu tujuan bernegara Indonesia adalah melindungi segenap bangsa


Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Hal ini mengandung
makna bahwa tugas dan tanggung jawab tidak hanya oleh penyelenggara
negara saja, tetapi juga rakyat Indonesia secara keseluruhan. Atas dasar
tersebut, sistem pertahanan dan keamanan adalah mengikut sertakan
seluruh komponen bangsa. Sistem pembangunan pertahanan dan
keamanan Indonesia disebut sistem pertahanan dan keamanan rakyat
semesta (sishankamrata).
Sistem pertahanan yang bersifat semesta melibatkan seluruh warga
negara, wilayah, dan sumber daya nasional lainnya, serta dipersiapkan
secara dini oleh pemerintah dan diselenggarakan secara total terpadu,
terarah, dan berlanjut untuk menegakkan kedaulatan negara, keutuhan
wilayah, dan keselamatan segenap bangsa dari segala ancaman.
Penyelenggaraan sistem pertahanan semesta didasarkan pada kesadaran
atas hak dan kewajiban warga negara, serta keyakinan pada kekuatan
sendiri.
Sistem ini pada dasarnya sesuai dengan nilai-nilai pancasila, di mana
pemerintahan dari rakyat (individu) memiliki hak dan kewajiban yang
sama dalam masalah pertahanan negara dan bela negara. Pancasila
sebagai paradigma pembangunan pertahanan keamanan telah diterima
bangsa Indonesia sebagaimana tertuang dalam UU No. 3 Tahun 2002
tentang pertahanan Negara.
Dalam undang-undang tersebut dinyatakan bahwa pertahanan negara
bertitik tolak pada falsafah dan pandangan hidup bangsa Indonesia untuk
menjamin keutuhan dan tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Dengan ditetapkannya UUD 1945, NKRI telah memiliki sebuah konstitusi,
yang di dalamnya terdapat pengaturan tiga kelompok materi-muatan
konstitusi, yaitu:
(1) adanya perlindungan terhadap HAM,
(2) adanya susunan ketatanegaraan
negara yang mendasar, dan
(3) adanya pembagian dan pembatasan tugas-tugas ketatanegaraan yang
juga mendasar.Sesuai dengan UUD 1945, yang di dalamnya terdapat
rumusan Pancasila, Pembukaan UUD 1945 merupakan bagian dari UUD
1945 atau merupakan bagian dari hukum positif. Dalam kedudukan yang
demikian, ia mengandung segi positif dan segi negatif. Segi positifnya,
Pancasila dapat dipaksakan berlakunya (oleh negara); segi negatifnya,
Pembukaan dapat diubah oleh MPRsesuai dengan ketentuan Pasal 37

UUD 1945.
Hukum tertulis seperti UUDtermasuk perubahannya, demikian juga UU
dan peraturan perundang-undangan lainnya, harus mengacu pada dasar
negara (sila - sila Pancasila dasar negara).
Dalam kaitannya dengan Pancasila sebagai paradigma pengembangan
hukum, hukum (baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis) yang akan
dibentuk tidak dapat dan tidak boleh bertentangan dengan sila-sila:
(1) Ketuhanan Yang Maha Esa,
(2) Kemanusiaan yang adil dan beradab,
(3) Persatuan Indonesia,
(4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan
(5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dengan demikian, substansi hukum yang dikembangkan harus merupakan
perwujudan atau penjabaran sila-sila yang terkandung dalam Pancasila.
Artinya, substansi produk hukum merupakan karakter produk hukum
responsif (untuk kepentingan rakyat dan merupakan perwujuan aspirasi
rakyat).
Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan Kehidupan Umat Beragama
Bangsa Indonesia sejak dulu dikenal sebagai bangsa yang ramah dan
santun, bahkan predikat ini menjadi cermin kepribadian bangsa kita di
mata dunia internasional. Indonesia adalah Negara yang majemuk,
bhinneka dan plural. Indonesia terdiri dari beberapa suku, etnis, bahasa
dan agama namun terjalin kerja bersama guna meraih dan mengisi
kemerdekaan Republik Indonesia kita.
Namun akhir-akhir ini keramahan kita mulai dipertanyakan oleh banyak
kalangan karena ada beberapa kasus kekerasana yang bernuansa Agama.
Ketika bicara peristiwa yang terjadi di Indonesia hampir pasti semuanya
melibatkan umat muslim, hal ini karena mayoritas penduduk Indonesia
beragama Islam. Masyarakat muslim di Indonesia memang terdapat
beberapa aliran yang tidak terkoordinir, sehingga apapun yang diperbuat
oleh umat Islam menurut sebagian umat non muslim mereka seakanseakan merefresentasikan umat muslim.
Paradigma toleransi antar umat beragama guna terciptanya kerukunan
umat beragama perspektif Piagam Madinah pada intinya adalah seperti
berikut:

1. Semua umat Islam, meskipun terdiri dari banyak suku merupakan satu
komunitas (ummatan wahidah).
2. Hubungan antara sesama anggota komunitas Islam dan antara
komunitas Islam dan komunitas lain didasarkan atas prinsip-prinsi:
a. Bertentangga yang baik
b. Saling membantu dalam menghadapi musuh bersama
c. Membela mereka yang teraniaya
d. Saling menasehati
e. Menghormati kebebasan beragama.
Lima prinsip tersebut mengisyaratkan:
1) Persamaan hak dan kewajiban antara sesama warga negara tanpa
diskriminasi yang didasarkan atas suku dan agama;
2) pemupukan semangat persahabatan dan saling berkonsultasi dalam
menyelesaikan masalah bersama serta saling membantu dalam
menghadapi musuh bersama. Dalam Analisis dan Interpretasi Sosiologis
dari Agama (Ronald Robertson, ed.) misalnya, mengatakan bahwa
hubungan agama dan politik muncul sebagai masalah, hanya pada
bangsa-bangsa yang memiliki heterogenitas di bidang agama.
Hal ini didasarkan pada postulat bahwa homogenitas agama merupakan
kondisi kesetabilan politik. Sebab bila kepercayaan yang berlawanan
bicara mengenai nilai-nilai tertinggi (ultimate value) dan masuk ke arena
politik, maka pertikaian akan mulai dan semakin jauh dari kompromi.
Dalam beberapa tahap dan kesempatan masyarakat Indonesia yang sejak
semula bercirikan majemuk banyak kita temukan upaya masyarakat yang
mencoba untuk membina kerunan antar masayarakat. Lahirnya lembagalembaga kehidupan sosial budaya seperti Pela di Maluku, Mapalus di
Sulawesi Utara, Rumah Bentang di Kalimantan Tengah dan Marga di
Tapanuli, Sumatera Utara, merupakan bukti-bukti kerukunan umat
beragama dalam masyarakat.
Ke depan, guna memperkokoh kerukunan hidup antar umat beragama di
Indonesia yang saat ini sedang diuji kiranya perlu membangun dialog
horizontal dan dialog Vertikal. Dialog Horizontal adalah interaksi antar
manusia yang dilandasi dialog untuk mencapai saling pengertian,
pengakuan akan eksistensi manusia, dan pengakuan akan sifat dasar
manusia yang indeterminis dan interdependen.
Identitas indeterminis adalah sikap dasar manusia yang menyebutkan
bahwa posisi manusia berada pada kemanusiaannya. Artinya, posisi
manusia yang bukan sebagai benda mekanik, melainkan sebagai manusia
yang berkal budi, yang kreatif, yang berbudaya.

2. Implementasi Pancasila sebagai Paradigma Kehidupam Kampus


Menurut saya, implementasi pancasila sebagai paradigma kehidupan
kampus adalah seperti contoh-contoh paradigma pancasila diatas
kehidupan kampus tidak jauh berbeda dengan kehidupan tatanan Negara.
Jadi kampus juga harus memerlukan tatanan pumbangunan seperti
tatanan Negara yaitu politik, ekonomi, budaya, hukum dan antar umat
beragama.
Untuk mencapai tujuan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara maka sebagai makhluk pribadi sendiri dan sebagai makhluk
Tuhan Yang Maha Esa. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) pada
hakikatnya merupakan suatu hasil kreativitas rohani manusia.
Unsur jiwa manusia meliputi aspek akal, rasa,dan kehendak. Sebagai
mahasiswa yang mempunyai rasa intelektual yang besar kita dapat
memanfaatkan fasilitas kampus untuk mencapai tujuan bersama.
Pembangunanyang merupakan realisasi praksis dalam Kampus untuk
mencapai tujuan seluruh mahsiswa harus mendasarkan pada hakikat
manusia sebagai subyek pelaksana sekaligus tujuan pembangunan. Oleh
karena itu hakikat manusia merupakan sumber nilai bagi pembangunan
pengembangan kampus itu sendiri.
Pancasila sebagai Paradigma dalam Pembangunan Nasional dan
Aktualisasi Diri
01 Apr
Pendahuluan
Pengertian Paradigma
Secara terminologis tokoh yang mengembangkan istilah tersebut dalam
dunia ilmu pengetahuan adalah Thomas S. Khun dalam bukunya yang
berjudul TheStructure Of Scientific Revolution, paradigma adalah
suatu asumsi-asumsi dasar dan teoritis yang umum (merupakan suatu
sumber nilai) sehingga merupakan suatu sumber hukum, metode serta
penerapan dalam ilmu pengetahuan sehingga sangat menentukan sifat,
ciri serta karakter ilmu pengetahuan itu sendiri.
Dalam ilmu-ilmu sosial manakala suatu teori yang didasarkan pada suatu
hasil penelitian ilmiah yang mendasarkan pada metode kuantitatif yang
mengkaji manusia dan masyarakat berdasarkan pada sifat-sifat yang
parsial, terukur, korelatif dan positivistik, maka hasil dari ilmu
pengetahuan tersebut secara epistemologis hanya mengkaji satu aspek
saja dari obyek ilmu pengetahuan yaitu manusia. Dalam masalah yang
populer istilah paradigma berkembang menjadi terminology yang
mengandung konotasi pengertian sumber nilai, kerangka pikir,

orientasi dasar, sumber asas serta tujuan dari suatu perkembangan,


perubahan serta proses dari suatu bidang tertentu termasuk dalam
bidang pembangunan & pendidikan.
A. Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan
Tujuan negara yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 adalah
Melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia hal ini
merupakan tujuan Negara hukum formal, adapun rumusan Memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa hal ini
merupakan tujuan negara hukum material, yang secara keseluruhan
sebagai tujuan khusus atau nasional. Adapun tujuan umum atau
internasional adalah ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Secara filosofis hakikat kedudukan Pancasila sebagai paradigma
pembangunan nasional mengandung suatu konsekuensi bahwa dalam
segala aspek pembangunan nasional kita harus mendasarkan pada
hakikat
nilai-nilai
Pancasila.
Unsur-unsur
hakikat
manusia monopluralis meliputi
susunan
kodrat
manusia,terdiri rokhani (jiwa) dan jasmani (raga), sifat kodrat
manusia
terdiri makhluk
individu
dan
makhluk
sosial
serta kedudukan kodrat manusia sebagai makhluk pribadi berdiri
sendiri dan makhluk Tuhan.
Nilai-nilai dasar Pancasila itu dikembangkan atas dasar hakikat manusia.
Hakikat
manusia menurut Pancasila adalah makhluk monopluralis. Kodrat manusia
yang
monopluralis tersebut mempunyai ciri-ciri, antara lain:
a. susunan kodrat manusia terdiri atas jiwa dan raga
b. sifat kodrat manusia sebagai individu sekaligus sosial
c. kedudukan kodrat manusia sebagai makhluk pribadi dan makhluk
tuhan.
Berdasarkan itu, pembangunan nasional diarahkan sebagai upaya
meningkatkan
harkat dan martabat manusia yang meliputi aspek jiwa, raga, pribadi,
sosial,
dan
aspek ketuhanan. Secara singkat, pembangunan nasional sebagai upaya
peningkatan
manusia secara totalitas.
Pembangunan sosial harus mampu mengembangkan harkat dan martabat
manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu, pembangunan dilaksanakan
di
berbagai
bidang
yang
mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Pembangunan, meliputi
bidang
politik,
ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan. Pancasila menjadi

paradigma
dalam pembangunan politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan
keamanan.
B. Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan Politik
Manusia Indonesia selaku warga negara harus ditempatkan sebagai
subjek
atau
pelaku politik bukan sekadar objek politik. Pancasila bertolak dari kodrat
manusia maka pembangunan politik harus dapat meningkatkan harkat
dan
martabat
manusia. Sistem politik Indonesia yang bertolak dari manusia sebagai
subjek
harus mampu menempatkan kekuasaan tertinggi pada rakyat. Kekuasaan
adalah
dari
rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sistem politik Indonesia yang sesuai
pancasila sebagai paradigma adalah sistem politik demokrasi bukan
otoriter
Berdasar hal itu, sistem politik Indonesia harus dikembangkan atas asas
kerakyatan (sila IV Pancasila). Pengembangan selanjutnya adalah sistem
politik
didasarkan pada asas-asas moral daripada sila-sila pada pancasila. Oleh
karena
itu, secara berturut-turut sistem politik Indonesia dikembangkan atas
moral
ketuhanan, moral kemanusiaan, moral persatuan, moral kerakyatan, dan
moral
keadilan.
Perilaku politik, baik dari warga negara maupun penyelenggara negara
dikembangkan atas dasar moral tersebut sehingga menghasilkan perilaku
politik
yang santun dan bermoral.
C. Pancasila sebagai Paradigma Pengembangan IPTEK
Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi (Iptek) pada hakikatnya merupakan
suatu hasil kreativitas rohani manusia. Unsur rohani (jiwa) manusia
meliputi aspek akal, rasa, dan kehendak. Akal merupakan potensi
rohaniah manusia dalam hubungannya dengan intelektualitas, rasa dalam
bidang estetis, dan kehendak dalam bidang moral (etika). Tujuan yang
esensial dari Iptek adalah demi kesejahteraan umat manusia, sehingga
Iptek pada hakekatnya tidak bebas nilai namun terikat oleh nilai.
Pengembangan Iptek sebagai hasil budaya manusia harus didasarkan
pada moral Ketuhanan dan Kemanusiaan yang adil dan beradab.
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, mengkomplementasikan ilmu
pengetahuan, mencipta, keseimbangan antara rasional dan irasional,

antara akal, rasa dan kehendak. Berdasarkan sila ini Iptek tidak hanya
memikirkan apa yang ditemukan, dibuktikan dan diciptakan tetapi juga
dipertimbangkan maksud dan akibatnya apakah merugikan manusia
dengan sekitarnya.
Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab, memberikan dasardasar moralitas bahwa manusia dalam mengembangkan Iptek harus
bersifat beradab. Iptek adalah sebagai hasil budaya manusia yang
beradab dan bermoral.
Sila Persatuan Indonesia, mengkomplementasikan universalia
dan internasionalisme (kemanusiaan) dalam sila-sila yang lain.
Pengembangan
Iptek
hendaknya
dapat
mengembangkan
rasa
nasionalisme, kebesaran bangsa serta keluhuran bangsa sebagai bagian
dari umat manusia di dunia.
Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan/perwakilan mendasari pengembangan Iptek
secara demokratis. Artinya setiap ilmuwan harus memiliki kebebasan
untuk mengembangkan Iptek juga harus menghormati dan menghargai
kebebasan orang lain dan harus memiliki sikap yang terbuka untuk
dikritik, dikaji ulang maupun dibandingkan dengan penemuan ilmuwan
lainnya.
Sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,
mengkomplementasikan
pengembangan
Iptek
haruslah
menjaga
keseimbangan
keadilan
dalam
kehidupan
kemanusiaan
yaitu
keseimbangan keadilan dalam hubungannya dengan dirinya sendiri,
manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia lainnya, manusia
dengan masyarakat bangsa dan negara serta manusia dengan alam
lingkungannya.
Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan POLEKSOSBUDHANKAM
Hakikat manusia merupakan sumber nilai bagi pengembangan
POLEKSOSBUDHANKAM. Pembangunan hakikatnya membangun manusia
secara lengkap, secara utuh meliputi seluruh unsur hakikat manusia
monopluralis, atau dengan kata lain membangun martabat manusia.
Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan POLEKSOSBUDHANKA
E. Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan Ekonomi
Sesuai dengan paradigma pancasila dalam pembangunan ekonomi maka
sistem
dan
pembangunan ekonomi berpijak pada nilai moral daripada pancasila.
Secara
khusus,
sistem ekonomi harus mendasarkan pada dasar moralitas ketuhanan (sila
I
Pancasila) dan kemanusiaan ( sila II Pancasila). Sistem ekonomi yang
mendasarkan
pada moralitas dam humanistis akan menghasilkan sistem ekonomi yang

berperikemanusiaan. Sistem ekonomi yang menghargai hakikat manusia,


baik
selaku
makhluk individu, sosial, makhluk pribadi maupun makhluk tuhan. Sistem
ekonomi
yang berdasar pancasila berbeda dengan sistem ekonomi liberal yang
hanya
menguntungkan individu-individu tanpa perhatian pada manusia lain.
Sistem
ekonomi demikian juga berbeda dengan sistem ekonomi dalam sistem
sosialis
yang
tidak mengakui kepemilikan individu.
Pancasila bertolak dari manusia sebagai totalitas dan manusia sebagai
subjek.
Oleh karena itu, sistem ekonomi harus dikembangkan menjadi sistem dan
pembangunan ekonomi yang bertujuan pada kesejahteraan rakyat secara
keseluruhan.
Sistem ekonomi yang berdasar pancasila adalah sistem ekonomi
kerakyatan
yang
berasaskan kekeluargaan. Sistem ekonomi Indonesia juga tidak dapat
dipisahkan
dari nilai-nilai moral kemanusiaan. Pembangunan ekonomi harus mampu
menghindarkan diri dari bentuk-bentuk persaingan bebas, monopoli dan
bentuk
lainnya yang hanya akan menimbulkan penindasan, ketidakadilan,
penderitaan,
dan
kesengsaraan warga negara.
F. Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan Sosial Budaya
Pancasila pada hakikatnya bersifat humanistik karena memang pancasila
bertolak
dari hakikat dan kedudukan kodrat manusia itu sendiri. Hal ini
sebagaimana
tertuang dalam sila Kemanusiaan yang adil dan beradab. Oleh karena itu,
pembangunan sosial budaya harus mampu meningkatkan harkat dan
martabat
manusia,
yaitu menjadi manusia yang berbudaya dan beradab. Pembangunan sosial
budaya
yang
menghasilkan manusia-manusia biadab, kejam, brutal dan bersifat anarkis
jelas
bertentangan dengan cita-cita menjadi manusia adil dan beradab.
Manusia
tidak
cukup sebagai manusia secara fisik, tetapi harus mampu meningkatkan
derajat
kemanusiaannya. Manusia harus dapat mengembangkan dirinya dari

tingkat
homo
menjadi human.
Berdasar sila persatuan Indonesia, pembangunan sosial budaya
dikembangkan
atas
dasar penghargaan terhadap nilai sosial dan budaya-budaya yang
beragam
si
seluruh wilayah Nusantara menuju pada tercapainya rasa persatuan
sebagai
bangsa.
Perlu ada pengakuan dan penghargaan terhadap budaya dan kehidupan
sosial
berbagai kelompok bangsa Indonesia sehingga mereka merasa dihargai
dan
diterima
sebagai warga bangsa. Dengan demikian, pembangunan sosial budaya
tidak
menciptakan kesenjangan, kecemburuan, diskriminasi, dan ketidakadilan
sosial.
G. Pancasila sebagai Paradigma Pengembangan Hankam
Pertahanan dan Keamanan negara harus mendasarkan pada tujuan demi
tercapainya kesejahteraan hidup manusia sebagai makhluk Tuhan yang
Maha Esa. Pertahanan dan Keamanan negara haruslah mendasarkan pada
tujuan demi kepentingan rakyat sebagai warga negara. Pertahanan dan
keamanan harus menjamin hak-hak dasar, persamaan derajat serta
kebebasan kemanusiaan dan Hankam diperuntukkan demi terwujudnya
keadilan dalam masyarakat agar negara benar-benar meletakkan pada
fungsi yang sebenarnya sebagai suatu negara hukum dan bukannya suatu
negara yang berdasarkan kekuasaan.
I. Pancasila sebagai Paradigma Reformasi
Negara Indonesia ingin mengadakan suatu perubahan, yaitu menata
kembali kehidupan berbangsa dan bernegara demi terwujudnya
masyarakat madani yang sejahtera, masyarakat yang bermartabat
kemanusiaan yang menghargai hak-hak asasi manusia, masyarakat yang
demokratis yang bermoral religius serta masyarakat yang bermoral
kemanusiaan dan beradab. Reformasi adalah mengembalikan tatanan
kenegaraan kearah sumber nilai yang merupakan platform kehidupan
bersama bangsa Indonesia, yang selama ini diselewengkan demi
kekuasaan sekelompok orang, baik pada masa orde lama maupun orde
baru. Proses reformasi walaupun dalam lingkup pengertian reformasi total
harus memiliki platform dan sumber nilai yang jelas dan merupakan arah,
tujuan, serta cita-cita yaitu nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.
1. Gerakan Reformasi
Pelaksanaan GBHN 1998 pada Pembangunan Jangka Panjang II Pelita ke
tujuh bangsa Indonesia menghadapi bencana hebat, yaitu dampak krisis

ekonomi Asia terutama Asia Tenggara sehingga menyebabkan stabilitas


politik menjadi goyah. Sistem politik dikembangkan kearah sistem
Birokratik Otoritarian dan suatu system Korporatik. Sistem ini ditandai
dengan konsentrasi kekuasaan dan partisipasi didalam pembuatan
keputusan-keputusan nasional yang berada hampir seluruhnya pada
tangan penguasa negara, kelompok militer, kelompok cerdik cendikiawan
dan kelompok pengusaha oligopolistik dan bekerjasama dengan
mayarakat bisnis internasional. Awal keberhasilan gerakan reformasi
tersebut ditandai dengan mundurnya Presiden Soeharto pada tanggal 21
Mei 1998, yang kemudian disusul dengan dilantiknya Wakil Presiden Prof.
Dr. B.J. Habibie menggantikan kedudukan Presiden. Kemudian diikuti
dengan pembentukan Kabinet Reformasi Pembangunan. Pemerintahan
Habibie inilah yang merupakan pemerintahan transisi yang akan
mengantarkan rakyat Indonesia untuk melakukan reformasi secara
menyeluruh, terutama perubahan paket UU politik tahun 1985, kemudian
diikuti dengan reformasi ekonomi yang menyangkut perlindungan hukum.
Yang lebih mendasar reformasi dilakukan pada kelembagaan tinggi dan
tertinggi negara yaitu pada susunan DPR dan MPR, yang dengan
sendirinya harus dilakukan melalui Pemilu secepatnya.

a. Gerakan Reformasi dan Ideologi Pancasila


Arti Reformasi secara etimologis berasal dari kata reformation dengan
akar katareform yang artinya make or become better by removing
or putting right what is bad or wrong. Secara harfiah reformasi
memiliki arti suatu gerakan untuk memformat ulang, menata ulang atau
menata kembali hal-hal yang menyimpang untuk dikembalikan pada
format atau bentuk semula sesuai dengan nilai-nilai ideal yang dicitacitakan rakyat. Oleh karena itu suatu gerakan reformasi memiliki
kondisi syarat-syarat sebagai berikut :
1.
Suatu gerakan reformasi dilakukan karena adanya suatu
penyimpangan- penyimpangan. Misalnya pada masa orde baru, asas
kekeluargaan menjadi nepotisme, kolusi, dan korupsi yang tidak sesuai
dengan makna dan semangat UUD 1945.
2. Suatu gerakan reformasi dilakukan harus dengan suatu cita-cita yang
jelas (landasan ideologis) tertentu. Dalam hal ini Pancasila sebagai
ideologi bangsa dan negara Indonesia.
3. Suatu gerakan reformasi dilakukan dengan berdasarkan pada suatu
kerangka struktural tertentu (dalam hal ini UUD) sebagai kerangka acuan
reformasi.
4. Reformasi dilakukan ke arah suatu perubahan kondisi serta keadaan
yang lebih baik dalam segala aspek antara lain bidang politik, ekonomi,
sosial, budaya, serta kehidupan keagamaan.

5. Reformasi dilakukan dengan suatu dasar moral dan etika sebagai


manusia yang berketuhanan yang maha esa, serta terjaminnya persatuan
dan kesatuan bangsa.
b. Pancasila sebagai Dasar Cita-cita Reformasi
Menurut Hamengkubuwono X, gerakan reformasi harus tetap diletakkan
dalam kerangka perspektif Pancasila sebagai landasan cita-cita dan
ideologi sebab tanpa adanya suatu dasar nilai yang jelas maka suatu
reformasi akan mengarah pada suatu disintegrasi, anarkisme,brutalisme
pada akhirnya menuju pada kehancuran bangsa dan Negara Indonesia.
Maka reformasi dalam perspektif Pancasila pada hakikatnya harus
berdasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang
adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Berkerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat
kebijaksanaan
dalam
permusyawaratan/perwakilan
serta
berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pancasila sebagai sumber nilai memiliki sifat yang reformatif artinya
memiliki aspek pelaksanaan yang senantiasa mampu menyesuaikan
dengan dinamika aspirasi rakyat. Dalam mengantisipasi perkembangan
jaman yaitu dengan jalan menata kembali kebijaksanaan-kebijaksanaan
yang tidak sesuai dengan aspirasi rakyat.
2. Pancasila sebagai Paradigma Reformasi Hukum
Setelah peristiwa 21 Mei 1998 saat runtuhnya kekuasaan orde baru, salah
satu subsistem yang mengalami kerusakan parah adalah bidang hukum.
Produk hukum baik materi maupun penegaknya dirasakan semakin
menjauh dari nilai-nilai kemanusiaan, kerakyatan serta keadilan.
Kerusakan atas subsistem hukum yang sangat menentukan dalam
berbagai bidang misalnya, politik, ekonomi dan bidang lainnya maka
bangsa Indonesia ingin melakukan suatu reformasi, menata kembali
subsistem yang mengalami kerusakan tersebut.
Pancasila sebagai Sumber Nilai Perubahan Hukum Dalam negara terdapat
suatu dasar fundamental atau pokok kaidah yang merupakan sumber
hukum
positif
yang
dalam
ilmu
hukum
tata
negara
disebut staatsfundamental. Sumber hukum positif di Indonesia tidak
lain adalah Pancasila. Hukum berfungsi sebagai pelayanan kebutuhan
masyarakat, maka hukum harus selalu diperbarui agar aktual atau sesuai
dengan keadaan serta kebutuhan masyarakat. Sebagai cita-cita hukum,
Pancasila dapat memenuhi fungsi konstitutif maupun fungsi regulatif.
Dengan fungsi regulatif Pancasila menentukan dasar suatu tata hukum
yang memberi arti dan makna bagi hukum itu sendiri sehingga tanpa
dasar yang diberikan oleh Pancasila maka hukum akan kehilangan arti dan
maknanya sebagai hukum itu sendiri. Fungsi regulatif Pancasila
menentukan apakah suatu hukum positif sebagai produk yang adil
ataukah
tidak
adil.
Sebagai staatfundamentalnorm,
Pancasila
merupakan pangkal tolak derivasi (sumber penjabaran) dari tertib hukum
di Indonesia termasuk UUD 1945. Dalam pengertian inilah menurut istilah

ilmu hukum disebut sebagai sumber dari segala peraturan perundangundangan di Indonesia. Sumber hukum meliputi dua macam pengertian,
sumber hukum formal yaitu sumber hukum ditinjau dari bentuk dan tata
cara penyusunan hukum, yang mengikat terhadap komunitasnya,
misalnya UU, Peraturan Menteri, Peraturan Daerah.

Sumber hukum material yaitu suatu sumber hukum yang menentukan


materi atau isi suatu norma hukum. Jika terjadi ketidakserasian atau
pertentangan satu norma hukum dengan norma hukum lainnya yang
secara hierarkis lebih tinggi apalagi dengan Pancasila sebagai sumbernya,
berarti terjadi inkonstitusionalitas(unconstitutionality) dan ketidak
legalan (illegality) dan karenanya norma hukum yang lebih rendah itu
batal demi hukum.
Dasar Yuridis Reformasi Hukum Reformasi total sering disalah artikan
sebagai dapat melakukan perubahan dalam bidang apapun dengan jalan
apapun. Jika demikian maka kita akan menjadi bangsa yang tidak
beradab,
tidak
berbudaya,
masyarakat
tanpa
hukum,
yang
menurut Hobbes disebut
keadaan homo homini lupus, manusia
akan menjadi serigala manusia lainnya dan hukum yang berlaku adalah
hukum rimba. UUD 1945 beberapa pasalnya dalam praktek
penyelenggaraan negara bersifat multi interpretable (penafsiran ganda),
dan memberikan porsi kekuasaan yang sangat besar kepada presiden
(executive heavy). Akibatnya memberikan kontribusi atas terjadinya krisis
politik serta mandulnya fungsi hukum dalam negara RI. Berdasarkan isi
yang terkandung dalam Penjelasan UUD 1945, Pembukaan UUD 1945
menciptakan pokok-pokok pikiran yang dijabarkan dalam pasal-pasal UUD
1945 secara normatif. Pokok-pokok pikiran tersebut merupakan suasana
kebatinan dari UUD dan merupakan cita-cita hukum yang menguasai baik
hukum dasar tertulis (UUD 1945) maupun hukum dasar tidak tertulis
(Convensi).
Selain itu dasar yuridis Pancasila sebagai paradigma reformasi hukum
adalah Tap MPRS No.XX/MPRS/1966 yang menyatakan bahwa Pancasila
sebagai sumber dari segala sumber hukum di Indonesia, yang berarti
sebagai sumber produk serta proses penegakan hukum yang harus
senantiasa bersumber pada nilai-nilai Pancasila dan secara eksplisit dirinci
tata urutan peraturan perundang-undangan di Indonesia yang bersumber
pada nilai- nilai Pancasila.
3. Pancasila sebagai Paradigma Reformasi Politik
Landasan aksiologis (sumber nilai) sistem politik Indonesia adalah dalam
Pembukaan UUD 1945 alinea IV yang berbunyi maka disusunlah
kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-undang
Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara

Republik Indonesia yang Berkedaulatan Rakyat dengan berdasar kepada


Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,
Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang Dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan
mewujudkan suatu Keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia. Nilai
demokrasi politik sebagaimana terkandung dalam Pancasila sebagai
fondasi bangunan negara yang dikehendaki oleh para pendiri negara kita
dalam
kenyataannya
tidak
dilaksanakan
berdasarkan
suasana
kerokhanian berdasarkan nilai-nilai tersebut.
Berdasarkan semangat dari UUD 1945 esensi demokrasi adalah :
1.
Rakyat merupakan pemegang kedaulatan tertinggi dalam negara.
2.
Kedaulatan rakyat dijalankan sepenuhnya oleh Majelis
Permusyawaratan Rakyat.
3.
Presiden dan wakil presiden dipilih oleh Majelis Permusyawaratan
Rakyat dan karenanya harus tunduk dan bertanggungjawab kepada MPR.
4.
Produk hukum apapun yang dihasilkan oleh Presiden, baik sendiri
maupun bersama- sama lembaga lain kekuatannya berada di bawah
Majelis Permusyawatan Rakyat atau produk-produknya Pancasila sebagai
Paradigma Reformasi Ekonomi Kebijaksanaan ekonomi yang selama ini
diterapkan hanya mendasarkan pada pertumbuhan dan mengabaikan
prinsip nilai kesejahteraan bersama seluruh bangsa, dalam kenyataannya
hanya menyentuh kesejahteraan sekelompok kecil orang bahkan
penguasa. Pada era ekonomi global dewasa ini dalam kenyataannya tidak
mampu bertahan. Krisis ekonomi yang terjadi di dunia dan melanda
Indonesia mengakibatkan ekonomi Indonesia terpuruk, sehingga
kepailitan yang diderita oleh para pengusaha harus ditanggung oleh
rakyat.
Pancasila yang mengutamakan kesejahteraan seluruh bangsa
adalah sebagai berikut :
1.
Keamanan pangan dan mengembalikan kepercayaan, yaitu
dilakukan dengan program social safety net yang popular dengan
program Jaring Pengaman Sosial (JPS). Sementara untuk mengembalikan
kepercayaan rakyat terhadap pemerintah, maka pemerintah harus secara
konsisten menghapuskan KKN, serta mengadili bagi oknum pemerintah
masa orde baru yang melakukan pelanggaran. Hal ini akan memberikan
kepercayaan dan kepastian usaha.
2.
Program rehabilitasi dan pemulihan ekonomi. Upaya ini
dilakukan dengan menciptakan kondisi kepastian usaha, yaitu dengan
diwujudkan perlindungan hukum serta undang-undang persaingan yang
sehat. Untuk itu pembenahan dan penyehatan dalam sektor perbankan
menjadi prioritas utama, karena perbankan merupakan jantung
perekonomian.

3.
Transformasi struktur, yaitu guna memperkuat ekonomi rakyat
maka perlu diciptakan sistem untuk mendorong percepatan perubahan
struktural (structural transformation). Transformasi struktural ini
meliputi proses perubahan dari ekonomi tradisional ke ekonomi modern,
dari ekonomi lemah ke ekonomi yang tangguh, dari ekonomi subsistem ke
ekonomi pasar, dari ketergantungan kepada kemandirian, dari orientasi
dalam negeri ke orientasi ekspor. Dengan sendirinya intervensi birokrat
pemerintahan yang ikut dalam proses ekonomi melalui monopoli demi
kepentingan pribadi harus segera diakhiri. Dengan sistem ekonomi yang
mendasarkan nilai pada upaya terwujudnya kesejahteraan seluruh bangsa
maka peningkatan kesejahteraan akan dirasakan oleh sebagian besar
rakyat, sehingga dapat mengurangi kesenjangan ekonomi
AKTUALISASI PANCASILA DAN UUD 1945.
A. AKTUALISASI PANCASILA.
Aktualisasi berasal dari kata aktual, yang berarti betul betul
ada, terjadi, atau sesungguhnya.
Aktualisasi Pancasila adalah bagaimana nilai nilai Pancasila
benar benar dapat tercermin dalam sikap dan perilaku seluruh
warga negara mulai dari aparatur dan pimpinan nasional sampai
kepada rakyat biasa.
Nilai nilai Pancasila yang bersumber pada hakikat Pancasila
adalah bersifat universal, tetap dan tak berubah. Nilai nilai
tersebut
dapat
dijabarkan
dalam
setiap
aspek
dalam
penyelenggaraan Negara dan dalam wujud norma norma, baik
norma hukum, kenegaraan, maupun norma norma moral yang
harus dilaksanakan dan diamalkan oleh setiap warga Negara
Indonesia.
Aktualisasi Pancasila dapat dibedakan atas dua macam yaitu :
Aktualisasi objektif dan aktualisasi subjektif.
1. Aktualisasi
Pancasila
yang objektif adalah
pelaksanaan
Pancasila
dalam
bentuk
realisasi
dalam
setiap
aspek
penyelenggaraan negara, baik di bidang legislatif, eksekutif,
yudikatif maupun semua bidang kenegaraan lainnya.

2. Aktualisasi Pancasila yang subyektif adalah pelaksanaan dalam


sikap pribadi, perorangan, setiap warga negara, setiap individu,
setiap penduduk, setiap penguasa, dan setiap orang Indonesia.
B. TRIDARMA PERGURUAN TINGGI.
*
Pembangunan di Bidang Pendidikan yang dilaksanakan atas
falsafah Negara Pancasila diarahkan untuk membentuk manusia
manusia pembangunan yang berjiwa Pancasila, membentuk
manusia manusia Indonesia yang sehat jasmani dan rohaninya,

memiliki pengetahuan dan keterampilan, dapat mengembangkan


kecerdasan yang tinggi disertai budi pekerti yang luhur,
mencintai bangsa dan negara dan mencintai sesama manusia.
*
Peranan perguruan tinggi dalam usaha pembangunan
mempunyai tugas pokok menyelenggarakan pendidikan dan
pegajaran di atas perguruan tingkat menengah berdasarkan
kebudayaan bangsa Indonesia dengan cara ilmiah yang meliputi :
pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada
masyarakat, yang disebut Tri Darma Perguruan Tinggi.
Peningkatan peranan
Perguruan
Tinggi
sebagai
satuan
pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi dalam
usaha pembangunan selain diarahkan untuk menjadikan
Perguruan
Tinggi
sebagai
pusat
pemeliharaan
dan
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni, juga
mendidik mahasiswa untuk berjiwa penuh pengabdian serta
memiliki tanggung jawab yang besar pada masa depan bangsa
dan Negara, serta menggiatkan mahasiswa, sehingga bermanfaat
bagi usaha pembangunan nasional dan pengembangan daerah.
C. BUDAYA AKADEMIK
* Budaya merupakan nilai yang dilahirkan oleh warga
masyarakat yang mendukungnya.
* Budaya akademik merupakan nilai yang dilahirkan oleh
masyarakat akademik yang bersangkutan.
* Pancasila merupakan nilai luhur bangsa Indonesia.
*
Masyarakat akademik di manapun berada, hendaklah
perkembangannya dijiwai oleh nilai budaya yang berkembang di
lingkungan akademik yang bersangkutan. Suatu nilai budaya
yang mendorong tumbuh dan berkembangnya sikap kerja sama,
santun, mencintai kemajuan ilmu dan teknologi, serta mendorong
berkembangnya sikap mencintai seni.
D. KAMPUS SEBAGAI MORAL FORCE PENGEMBANGAN HUKUM DAN
HAM
*
Kampus merupakan wadah kegiatan pendidikan, penelitian,
dan pengabdian masyarakat, sekaligus merupakan tempat
persemaian dan perkembangan nilai nilai luhur.
*
Kampus merupakan wadah perkembangan nilai nilai moral,
di mana seluruh warganya diharapkan menjunjung tinggi sikap
yang menjiwai moralitas yang tinggi dan dijiwai oleh pancasila.
*
Kampus merupakan wadah membentuk sikap yang da pat
memberikan kekuatan moral yang mendukung lahir dan
berkembangnya sikap mencintai kebenaran dan keadilan dan
menjunjung tinggi hak asasi manusia.
Kesimpulan

Pancasila sebagai paradigma pembangunan merupakan suatu sumber


nilai, kerangka piker, model, orientasi dasar, sumber asas serta arah dan
tujuan pembangunan. Yang meliputi pembangunan politik, IPTEK,
pengembangan bidang politik, poembangunan ekonomi, pembangunan
social budaya, pengembangan hankam, pembangunan pertahanan
keamanan, dan sebagai reformsi, baik itu reformasi hukum ataupun
reformasi politik. Semuanya ditujukan untuk membuat menjadikan bangsa
yang semakin berkembang dan masyarakat yang semakin mapan.
Pancasila sebagai aktualisasi diri yang berarti betul-betul ada, terjadi atau
sesungguhnya. Sehingga terbentuklah aktualisasi objektif dan subjektif.
Aktualisasi Pancasila yang objektifadalah pelaksanaan Pancasila dalam
bentuk realisasi dalam setiap aspek penyelenggaraan negara, baik di
bidang legislatif, eksekutif, yudikatif maupun semua bidang kenegaraan
lainnya. Aktualisasi Pancasila yang subyektif adalah pelaksanaan dalam
sikap pribadi, perorangan, setiap warga negara, setiap individu, setiap
penduduk, setiap penguasa, dan setiap orang Indonesia.
Aktualisasi diripun meliputi mencakup dalam tridarma perguruan tinggi,
budaya akademik dan lingkungan kampus sebagai moral force
pengembangan hukum dan ham. Yang mencerminkan bahwa aktualisasi
diri itupun benar-benar ada dan terjadi disekitar kita.