Anda di halaman 1dari 2

Menghadapi Pemeriksaan Pajak

Pemeriksaan pajak adalah salah satu kegiatan yang dilakukan oleh pemeriksa
pajak yang sangat tidak diharapkan oleh wajib pajak karena dengan dilakukannya
pemeriksaan pajak maka wajib pajak akan mempunyai tambahan kegiatan yang
akan mengganggu kegiatan usahanya. Dalam pemeriksaan pajak, wajib pajak
harus melakukan hal-hal sebagai berikut:

Harus memenuhi seluruh permintaan peminjaman buku, catatan maupun

dokumen yang dimiliki wajib kepada pemeriksa


Harus menyediakan waktu khusus untuk

melayani,

menjawab,

menjelaskan permohonan pemeriksaan pajak dalam kaitannya dengan

pelaksanaan pemeriksaan pajak tersebut


Hasil pemeriksaan pajak dapat berupa Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau
Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan yang bagi wajib pajak akan

menambah beban pajak


Ketetapan Kurang Bayar pasti berkaitan dengan adanya sanksi, dimana
sanksi tersebut dikenakan bukan semata-mata karena kesalahan wajib
pajak.

Pemeriksaan pajak merupakan salah satu fungsi yang dimiliki oleh Direktur
Jenderal Pajak dalam rangka pengawasan kepatuhan dan pemenuhan kewajiban
perpajakan. Tujuan pemeriksaan pajak bagi fiskus antara lain:
1. Menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan wajib pajak
2. Melaksanakan ketentuan perundang-undangan perpajakan.
Dati fungsi pemeriksaan pajak, sesuai bunyi undang-undangnya, pada prinsipnya
Direktur Jenderal Pajak mempunyai wewenang untuk melakukan pemeriksaan
pajak terhadap wajib pajak dalam kondisi apapun, baik menguji kepatuhan
ataupun memenuhi ketentuan perpajakan.
Sebab Dilakukannya Pemeriksaan Pajak
1. Menguji Kepatuhan Wajib Pajak
Menguji kepatuhan wajib pajak mempunyai arti bahwa wajib pajak sudah
memenuhi kewajibannya tapi dalam memenuhi kewajibannya tersebut wajib
pajak masih diragukan kepatuhannya. Untuk itulah perlu dilakukannya
pemeriksaan pajak yang telah diatur oleh undang-undang perpajakan.

Beberapa criteria ketidak-patuhan yang dilakukan oleh wajib pajak yang perlu
diuji melalui pemeriksaan pajak, antara lain:
a. Laporan wajib pajak yang tidak benar
Direktorat Jenderal Pajak akan menganggap laporan wajib pajak melalui
SPT-nya tidak benar apabila DJP mendapatkan ketidakbenaran data pada
SPT yang dilaporkan oleh wajib pajak. Data yang diperoleh DJP didapat
atas dua interen yang dimiliki pada kantor di lingkuangan DJP maupun
data eksteren yang berasal dari luar kantor wilayah DJP. Data yang didapat
atas wajib pajak tersebut akan dibandingkan dengan data yang dilaporkan
wajib pajak melalui SPT masa maupun SPT tahunan, maka akan tampak
apakah wajib pajak telah melaporkan SPT-nya dengan benar. Apabila SPTnya dianggap tidak benar maka fiskus akan mengusulkan pemeriksaan
pajak terhadap SPT wajib pajak tersebut.
b. Laporan wajib pajak tidak tertib