Anda di halaman 1dari 2

NAMA

: ROFII

NIM

: B05213019

SMT/JRSAN : IV/ SOSIOLOGI


MATKUL

: METODE PENELITIAN KUANTITATIF

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT STRES DENGAN PERILAKU MEROKOK


Perilaku merokok masih merupakan masalah kesehatan dunia karena dapat menyebabkan
berbagai penyakit dan bahkan kematian (BKKBN dalam lizam et al,2009). Saat ini merokok
telah menjadi gaya hidup. Ironisnya, gaya hidup ini telah merambah usia muda, yakni usia
remaja (rohman, 2010). Merokok dikalangan remaja juga telah dilaporkan terkait dengan gaya
hidup yang tidak sehat lainnya seperti konsumsi alcohol, penggunaan narkoba dan seks pranikah.
Perokok remaja juga cenderung bolos dari sekolah, pengalaman yang lebih lanjut dapat
membahayakan peluang dalam kehidupan masa depan mereka (Siziya et al, 2007). Hal ini
didukung oleh hasil penelitian lainnya bahwa siswa yang merokok mengatakan merokok adalah
sumber kesenangan. Mereka tidak bisa berhenti merokok dengan alasan merokok dapat mengisi
waktu luang dan dapat mengurangi rasa stres. Ada beberapa kategori penyebab stress seperti
hubungan dengan keluarga, sekolah, teman kencan, akademik, kurikulum, kesehatan, keuangan,
dan masalah lain.
Penelitian yang dilakukan oleh Booker menghasilkan temuan bahwa remaja yang
mengalami stress akan mempengaruhi perilaku merokok yaitu semakin tinggi tingkat stress
berakibat terhadap meningkatnya resiko untuk merokok. Sehingga dengan merokok mereka
berharap dapat merasa lebih nyaman dari keadaan yang menyebabkan stress.
Jenis metode penelitian dalam penulisan ini menggunakan kuantitatif analitik dengan
desain penelitian cross-sectional. Teknik pengambilan sampel dipilih dengan cara total sampling
jika jumlah populasi yang kurang dari 100 seluruh populasi yang dijadikan sampel penelitian.
Alat ukur pada penelitian ini menggunakan kuesioner tingkat stress dan kuesioner perilaku
merokok.
Sementara hasil penelitian dilihat dari karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin,
laki-laki lebih banyak daripada perempuan dengan presentasi laki-laki 89,9% . Karakteristik
responden berdasarkan umur, umur 17 tahun mempunyai presentase tertinggi yaitu 46,9%.
Tingkat stress responden tertinggi 75,5%. Perilaku merokok responden mempunyai presentase
sedang yaitu 55,1%. Sementara uji normalitas data tingkat stress dan perilaku merokok distribusi
data tidak normal karena nilai signifikan perilaku merokok menunjukkan hasil P 0,05.

Dalam pembahasan dapat dilihat bahwa jenis kelamin sangat mempengaruhi perilaku
seseorang, laki-laki cenderung melakukan kegiatan yang beresiko tanpa memikirkan efek yang
ditimbulkan, sedangkan perempuan cenderung lebih memikirkan efek kedepan sebelum
bertindak. Laki-laki juag cenderung berani untuk mengakui apa yang mereka lakukan sedangkan
perempuan lebih menutupi apa yang mereka lakukan, oleh karena itu tidak menutup
kemungkinan bahwa perempuan akan merokok seperti yang dilakukan laki-laki.
Perokok dalam penelitian ini banyak dari remaja yang berumur 17 tahun, secara psikologi
belum siap dikatakan dewasa karean remaja masih menginginkan kebebasan yang erat kaitannya
dengan pencarian identitas. Tindakan yang dilakukan cenderung coba-coba Karena keinginan
yang kuat untuk menemukan jati dirinya. Stress ringan dapat menghampiri siapa saja, akan tetapi
stress yang dirasakan tidak sampai merusak aspek fisiologis dan tidak menimbulkan penyakit.
Stress yang menghampiri remaja menyebabkan ia memilih cara yang salah untuk
menghilangkan stress. Seperti merokok, remaja yang stress akan meningkatkan aktivitas
merokok, karean rokok dianggap cara yang praktis dan merupakan cara yang mudah dilakukan.
Perilaku merokok yang dilakukan oleh remaja tidak hanya disebabkan oleh satu faktor penyebab
yaitu stress, akan tetapi masih ada faktor lain yang mempengaruhi perilaku merokok seperti
pengaruh iklan, faktor teman, juga faktor orang tua yang merokok secara tidak langsung
memberi contoh pada anaknya.
Kesimpulannya, stress bisa menghampiri siapa saja termasuk remaja sehingga
menyebabkan remaja mengambil cara yang beresiko untuk keluar dari stresnya. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan peneliti dengan menggunakan uji spearman mengenai hubungan antara
tingkat stress dengan perilaku merokok. Merokok bisa dilakukan oleh siapa saja baik laki-laki
maupun perempuan. Dalam hal ini perilaku merokok banyak dilakukan remaja laki-laki (89,9%)
daripada perempuan (10,2%). Jika dilihat dari presntase umur, 17 tahun mempunyai presentase
tinggi yaitu 46,9%, tingkat stress ringan siswa/siswi 75,5%, dan perilaku merokok siswa/siswi
dengan presentase 55,1% yaitu perilaku merokok sedang. Terdapat korelasi yang positif antara
tingkat stress dengan perilaku merokok yang dibuktikan nilai P=0,004 dan r= 0,407 yang artinya
bahwa semakin tiggi perilaku merokok berarti semakin tinggi tingkat stress.