Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

I.1.

Latar Belakang
Logam nikel yang berwarna abu-abu dan keras, sebenarnya secara nisbi dapat

dikategorikan sebagai logam baru, baik ditinjau dari segi pengenalan maupun
penggunaannya di dalam usaha industri. Nikel ditemukan pertama kali dalam bentuk
persenyawaan dengan tembaga, yang pada saat itu dianggap sebagai kotoran
(impurity). Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa paduan (alloy) nikel,
terutama dengan baja, mempunyai sifat-sifat anti karat dan daya tahan serta keuletan
yang sangat diperlukan bagi kehidupan modern. Lebih dari 90 % nikel dunia
digunakan sebagai bahan paduan. Selain itu nikel digunakan pula untuk bidang kimia
dan pemurnian minyak, peralatan mesin listrik, keperluan industri pesawat terbang
termasuk suku cadangnya, industri kendaraan bermotor, konstruksi, peralatan rumah
tangga, dan industri lainnya.
Perkembangan pasar nikel dunia sampai sekarang, sebagian besar masih
dikendalikan oleh negara-negara industri yang merupakan konsumen nikel terbesar.
Hal ini karena faktor-faktor ekonomis dan teknologis yang dipunyai oleh kelompok
negara yang bersangkutan. Dalam beberapa tahun terakhir, memang peranan negaranegara berkembang produsen bijih dan nikel menunjukkan kenaikan. Namun
perkembangan ini belum mampu menggeser dominasi negar-negara industri. Resesi
dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang rendah di negara-negara industri sejak akhir
tahun 1970-an, ternyata masih tetap menentukan perkembangan, pola dan struktur
pasar nikel dunia.
Sehingga

keberadaan

nikel

yang

perkembangan industri yang semakin cepat

semakin

menipis

dengan

mrnyebabkan peran eksplorasi dan

eksploitasi bahan galian khususnya nikel semakin ditingkatkan.

seiring

Atas dasar tersebut di atas, maka kami sebagai salah satu perusahan yang
bergerak dibidang kontraktor dengan nama PT. ALSA Mining Corporation ingin
melakukan kerja sama dengan perusahaan bapak dalam hal eksplorasi bijih nikel di
DaerahSorowako.
I.2.

Tujuan
Tujuan dari kerjasama ini yaitu agar kami dapat melakukan proses eksporasi

bijih nikel sehingga dapat memenuhi kebutuhan pasar baik dalam negeri maupun luar
negeri.

BAB II
GEOLOGI REGIONAL
II. 1. Geologi Umum Daerah Sorowako
Ada beberapa penelitian yang menjelaskan mengenai proses tektonik dan
geologi daerah Sorowako, antara lain adalah Sukamto (1975) yang membagi pulau
Sulawesi dan sekitarnya terdiri dari 3 Mandala Geologi yaitu :
1. Mandala Geologi Sulawesi Barat, dicirikan oleh adanya jalur gunung api
Paleogen ,
2. Intrusi Neogen dan sedimen Mesozoikum. Mandala Geologi Sulawesi Timur,
dicirikan oleh batuan Ofiolit yang berupa batuan ultramafik peridotite, harzburgit,
dunit, piroksenit dan serpentinit yang diperkirakan berumur kapur.
3. Mandala Geologi Banggai Sula, dicirikan oleh batuan dasar berupa batuan
metamorf Permo-Karbon, batuan batuan plutonik yang bersifat granitis berumur
Trias dan batuan sedimen Mesozoikum.
Menurut Hamilton ( 1979 ) dan Simanjuntak ( 1991 ), Mandala Geologi banggai
Sula merupakan mikro kontinen yang merupakan pecahan dari lempeng New Guinea
yang bergerak kearah barat sepanjang sesar sorong.( Gambar 2.1 )
Daerah Soroako dan sekitarnya menurut ( Sukamto,1975,1982 & Simanjuntak,
1986 ) adalah termasuk dalam Mandala Indonesia bagian Timur yang dicirikan
dengan batuan ofiolit dan Malihan yang di beberapa tempat tertindih oleh sedimen
Mesozoikum.

Gambar 2.1. Geologi umum dan Tektonik Sulawesi ( Hamilton 1972 )

Sedangkan Golightly ( 1979 ) mengemukakan bagian Timur Sulawesi


tersusun dari 2 zona melange subduksi yang terangkat pada pre dan post-Miosen
(107 tahun lalu). Melange yang paling tua tersusun dari sekis yang berorientasi
kearah

Tenggara

dengan

disertai

beberapa

tubuh

batuan

ultrabasa

yang

penyebarannya sempit dengan stadia geomorfik tua. Sementara yang berumur post
Miocene telah mengalami pelapukan yang cukup luas sehingga cukup untuk
membentuk endapan nikel laterite yang ekonomis, seperti yang ada di daerah
Pomalaa.

Melange yang berumur Miosen post Miosen menempati central dan lengan
North-East sulawesi. Uplift terjadi sangat intensif di daerah ini, diduga karena
desakan kerak samudera Banggai Craton. Kerak benua dengan density yang rendah
menyebabkan

terexpose-nya batuan-batuan laut dalam dari kerak samudera dan

mantel.Pada bagian Selatan dari zona melange ini terdapat kompleks batuan
ultramafik Soroako-Bahodopi yang pengangkatannya tidak terlalu intensif. Kompleks
ini menempati luas sekitar 11,000 km persegi dengan stadia geomorfik menengah,
diselingi oleh blok-blok sesar dari cretaceous abyssal limestone dan diselingi oleh
chert.
Geologi daerah Soroako dan sekitarnya sudah dideskripsikan sebelumnya
secara umum oleh Brouwer (1934), van Bemmelen (1949), Soeria Atmadja et al
(1974) dan Ahmad (1977). Namun yang secara spesifik membahas tentang geologi
deposit nikel laterit adalah Golightly (1979), dan Golightly membagi geologi daerah
Soroako menjadi tiga bagian, seperti yang terlihat dalam Gambar. 2, yaitu :
-

Satuan batuan sedimen yang berumur kapur; terdiri dari batugamping laut dalam
dan rijang. Terdapat di bagian barat Soroako dan dibatasi oleh sesar naik dengan
kemiringan ke arah barat.

Satuan batuan ultrabasa yang berumur awal tersier; umumnya terdiri dari jenis
peridotit, sebagian mengalami serpentinisasi dengan derajat yang bervariasi dan
umumnya terdapat di bagian timur. Pada satuan ini juga terdapat terdapat intrusiintrusi pegmatit yang bersifat gabroik dan terdapat di bagian utara.

Satuan aluvial dan sedimen danau (lacustrine) yang berumur kuarter, umumnya
terdapat di bagian utara dekat desa Soroako.

Gambar 2.2. Geology daerah Soroako ( Golightly 1979 )

Sesar besar disekitar daerah ini menyebabkan relief topografi sampai 600 m dpl dan
sampai sekarang aktif tererosi. Sejarah tektonik dan geomorfik di kompleks ini
sangat penting untuk pembentukan nikel laterite yang bernilai ekonomis. Matano
fault yang membuat topographic liniament yang cukup kuat adalah sesar mendatar
sinistral aktif yang termasuk strike slip fault dan menggeser Matano limestone dan
batuan lainnya sejauh 18 km kearah barat pada sisi Utara. Danau Matano yang
mempunyai kedalaman sekitar 600 m diperkirakan adalah graben yang terbentuk
akibat efek zona dilatasi dari sesar tersebut. Danau Towuti pada sisi selatan dari sesar
diperkirakan merupakan pergeseran dari lembah Tambalako akibat pergerakan sesar
Matano. Pergerakan sesar ini memblok aliran air ke arah utara sepanjang lembah dan
membentuk danau Towuti dan aliran airnya beralih ke barat menuju sungai Larona.

Danau-danau yang terbentuk akibat dari damming effect dari sesar ini merupakan
bendungan alami yang menahan laju erosi dan membantu mempertahankan deposit
nikel laterit yang terbentuk di daerah Soroako dan sekitar kompleks danau.

TAMBALAKO VALLEY
AXI S

GULF
OF
BONE

GULF OF TOLO

DISPLACED TERTI ARY


EXTENTION OF
TAMBALAKO VALLEY

Gambar 2.3. Geologi Struktur Danau Matano - Soroako dan sekitarnya


II.2. Variasi Batuan Dasar
Seperti yang dikemukakan oleh Golightly,(1979), daerah Soroako dibagi
menjadi 2 blok berdasarkan batuan dasarnya. West Block hampir seluruhnya dilandasi
oleh Fine-grained unserpentinized peridotite, sedangkan East Block didominasi
oleh Serpentinized coarse-grained peridotit dengan beberapa derajat serpentinisasi.
Tipe batuan dasar yang teridentifikasi adalah sebagai berikut :
-

Fine grained, unserpentinized harzburgite

Coarse grained, weakly (<10%) serpentinized peridotite

Coarse grained, strongly (10 100%)serpentinized lherzolite

Serpentinized peridotite mylonite

II.3. Geomorfologi Regional


Tinjauan mengenai geomorfologi regional yang meliputi daerah penelitian dan
sekitarnya didasari pada laporan hasil pemetaan geologi lembar Malili, Sulawesi yang
disusun oleh Simandjuntak, dkk

(1991).

Daerah penelitian termasuk dalam

geomorfologi regional Lembar Malili yang merupakan Mandala Sulawesi Timur,


yang dapat dibagi dalam daerah pegunungan, daerah perbukitan, daerah krast dan
daerah pedataran.
Daerah pegunungan menempati bagian barat dan tenggara. Di bagian barat
terdapat dua rangkaian pegunungan yakni Pegunungan Tineba dan

Pegunungan

Koroue ( 700 - 3.016 m ) yang memanjang dari baratlaut-tenggara dibentuk oleh


batuan granit dan malihan. Sedang bagian tenggara ditempati Pegunungan Verbeek
dengan ketinggian 800 - 1.346 meter di atas permukaan laut disusun oleh batuan
basa, ultrabasa dan batugamping.
Daerah

perbukitan menempati bagian tenggara

dan timurlaut dengan

ketinggian 200 - 700 meter dan merupakan perbukitan agak landai yang terletak
diantara daerah pegunungan dan daerah pedataran. Perbukitan ini dibentuk oleh
batuan vulkanik, ultramafik dan batupasir. Dengan puncak tertinggi adalah Bukit
Bukila (645m)
Daerah karst menempati bagian timurlaut dengan ketinggian 800 1700 m
dan dibentuk oleh batugamping. Daerah ini dicirikan oleh adanya dolina dan sungai
bawah permukaan. Puncak tertinggi adalah Bukit Wasopute ( 1.768 m ).
Daerah pedataran menempati daerah selatan dan dibentuk oleh endapan
aluvium seperti Pantai Utara Palopo dan Pantai Malili sebelah timur. Pola aliran
sungai sebagian besar berupa pola rektangular dan pola dendritik. Sungai - sungai
besar yang mengalir di daerah ini antara lain Sungai Larona dan Sungai Malili yang
mengalir dari timur ke barat serta Sungai Kalaena yang mengalir dari utara ke selatan.
Secara umum sungai-sungai yang mengalir di daerah ini bermuara ke Teluk Bone.

II.4. Stratigrafi Regional


Berdasarkan himpunan batuan, struktur dan biostratigrafi, secara regional
Lembar Malili termasuk Mandala Geologi Sulawesi Timur dan Mandala Geologi
Sulawesi Barat dengan batas Sesar Palu-Koro yang membujur hampir utara - selatan.
Mandala Geologi Sulawesi Timur dapat dibagi ke dalam lajur batuan malihan dan
lajur ofiolit Sulawesi Timur yang terdiri dari batuan ultramafik dan batuan sedimen
pelagis Mesozoikum.
Mandala geologi Sulawesi Barat dicirikan oleh lajur gunungapi Paleogen dan
Neogen, intrusi neogen dan sedimen flysch Mezosoikum yang diendapkan di
pinggiran benua (Paparan Sunda).
Di Mandala Geologi Sulawesi Timur, batuan tertua adalah batuan ofiolit yang
terdiri dari ultramafik termasuk dunit, harzburgit, lherzolit, piroksenit websterit,
wehrlit dan serpentinit,

setempat batuan mafik termasuk gabro dan basal.

Umurnya belum dapat dipastikan, tetapi dapat diperkirakan sama dengan ofiolit
di Lengan Timur Sulawesi yang berumur Kapur Awal - Tersier (Simandjuntak,
1991).
Pada

Mandala

ini

dijumpai

kompleks

batuan bancuh (Melange

Wasuponda) terdiri atas bongkahan asing batuan mafik, serpentinit, pikrit,


rijang, batugamping terdaunkan sekis, ampibolit dan eklogit (?) yang tertanam
dalam massa dasar lempung merah bersisik. Batuan tektonika ini tersingkap baik
di daerah Wasuponda serta di daerah Ensa, Koro Mueli,
diduga terbentuk

dan Patumbea,

sebelum Tersier (Simandjuntak, 1991).Daerah Soroako dan

sekitarnya merupakan bagian Mandala Sulawesi Timur yang tersusun oleh kompleks
ofiolit, batuan metamorf, kompleks melange dan batuan sedimen pelagis.
Kompleks

ofiolit tersebut memanjang dari utara Pegunungan Balantak ke

arah tenggara Pegunungan Verbeek, tersusun oleh dunit, harzburgit, lerzolit,


serpentinit, werlit, gabro dan diabas, basal dan diorit (Simandjuntak, 1991). Sekuen
ini tersingkap dengan baik di bagian utara , sedangkan dibagian tengah dan selatan,

komplek ofiolit ini umumnya tidak lengkap lagi dan telah terombakkan /
terdeformasi.
Batuan yang merupakan anggota Lajur Ofiolit Sulawesi Timur berupa batuan
ultrabasa (MTosu) yang terdapat disekitar danau Matano terdiri dari dunit, harzburgit,
lherzolit, wehrlit, websterit, serpentinit dan. Dunit berwarna hijau pekat kehitaman,
padu dan pejal, bertekstur faneritik, mineral penyusunnya adalah olivin, piroksen,
plagioklas, sedikit serpentin dan magnetit, berbutir halus sampai sedang. Mineral
utama olivin berjumlah sekitar 90%. Tampak adanya penyimpangan dan
pelengkungan kembaran yang dijumpai pada piroksen, mencirikan adanya gejala
deformasi yang dialami oleh batuan ini. Dibeberapa tempat dunit terserpentinkan kuat
yang ditunjukkan oleh struktur seperti jaring dan barik-barik mineral olivin dan
piroksen,

serpentin

dan

talkum

sebagai

mineral

pengganti.

Harzburgit

memperlihatkan kenampakan fisik berwarna hijau sampai kehitaman, holokristalin,


padu dan pejal. Mineralnya halus sampai kasar terdiri atas olivin, (60%), dan piroksen
(40%). Pada beberapa tempat menunjukkan struktur perdaunan. Hasil penghabluran
ulang pada mineral piroksin dan olivin mencirikan batas masing-masing kristal
bergerigi.
Lherzolit berwarna hijau kehitaman, holokristalin, padu dan pejal. Mineral
penyusunnya ialah olivin (45%), piroksin (25%) dan sisanya epidot, yakut, dan bijih
dengan mineral berukuran halus sampai kasar.
Serpentinit berwarna biru tua, tekstur lepidoblastik, struktur schistosity,
bentuk mineral hypidioblastik. Mineral utama yang menyusun batuan ini adalah
mineral

serpentin , sedikit olivin

dan

piroksin. Umumnya

memperlihatkan

persekisan yang setempat terlipat, dan dapat dilihat dengan mata telanjang.
Batuan serpentinit merupakan hasil ubahan batuan ultramafik. Ketebalan sulit
diperkirakan, berdasarkan penampang ketebalan sekitar 1000 m. Hubungan
sekitarnya berupa persentuhan tektonik.
Diatas ofiolit diendapkan tidak selaras Formasi Matano yang terbagi bagian
atas berupa batugamping kalsilutit, rijang, argilit dan batulempung napalan,

10

sedangkan bagian bawah dicirikan oleh rijang radiolaria dengan sisipan kalsilutit
yang semakin banyak ke bagian atas. Berdasarkan kandungan fosil formasi ini
menunjukan umur Kapur. Endapan termuda di daerah Lengan Timur Sulawesi adalah
endapan danau yang terdiri atas lempung, pasir, kerikil dan sebagian berupa
konglomerat yang terdapat di daerah sekitar Danau Matano, Danau Towuti dan
Danau Mahalona. Sedang endapan-endapan aluvial dapat ditemui di sekitar daerah
aliran sungai (Simandjuntak, 1981dalam Simandjuntak, 1991).
II.5. Struktur Geologi Regional
Struktur geologi Lembar Malili memperlihatkan ciri kompleks tumbrukan dari
pinggiran benua yang aktif. Berdasarkan struktur, himpunan batuan, biostratigrafi dan
umur, daerah ini dapat dibagi menjadi 2 kelompok yang sangat berbeda, yakni :
Alohton yang terdiri dari Ofiolit dan malihan, sedangkan Autohton terdiri dari :
Batuan gunungapi dan pluton Tersier dari pinggiran Sunda land, serta kelompok
Molasa Sulawesi.
Struktur struktur geologi yang penting di daerah ini adalah sesar, lipatan dan
kekar. Secara umum sesar yang terdapat di daerah ini berupa sesar naik, sesar
sungkup, sesar geser, dan sesar turun, yang diperkirakan sudah mulai terbentuk sejak
Mesozoikum. Beberapa sesar utama tampaknya aktif kembali. Sesar Matano dan
Sesar Palu Koro merupakan sesar utama berarah baratlaut - tenggara dan
menunjukkan gerak mengiri. Diduga kedua sesar itu masih aktif sampai sekarang,
keduanya bersatu di bagian baratlaut. Diduga pula kedua sesar tersebut terbentuk
sejak Oligosen dan bersambungan dengan Sesar Sorong sehingga merupakan suatu
sistem sesar transform. Sesar

lain yang lebih kecil berupa tingkat pertama dan

atau kedua yang terbentuk bersamaan atau setelah sesar utama tersebut.
Pada Kala Oligosen, Sesar Sorong yang menerus ke Sesar Matano dan Palu
Koro mulai aktif dalam bentuk sesar transcurrent. Akibatnya mikro kontinen Banggai
Sula bergerak ke arah barat dan terpisah dari benua Australia (gambar 3). Lipatan
yang terdapat di daerah ini dapat digolongkan ke dalam lipatan lemah, lipatan tertutup

11

dan lipatan tumpang-tindih, sedangkan kekar terdapat dalam hampir semua jenis
batuan dan tampaknya terjadi dalam beberapa periode.
Pada Kala Miosen Tengah, bagian timur kerak samudera di Mandala Sulawesi
Timur yakni Lempeng Banggai Sula yang bergerak ke arah barat tersorong naik
(terobduksi). Di bagian barat lajur penunjaman dan busur luar tersesarsungkupkan di
atas busur gunungapi, mengakibatkan ketiga Mandala tersebut saling berhimpit.
Kelurusan Matano sepanjang 170 km dinamakan berdasarkan nama danau
yang dilaluinya yakni danau Matano. Analog dengan sesar Palu Koro sesar Matano
ini merupakan sesar mendatar sinistral, membentang membelah timur Sulawesi dan
bertemu kira-kira disebelah utara Bone, pada kelurusan Palu-Koro. Sesar-sesar sistem
Riedel berkembang dan membentuk sistem rekahan umum.
Sepanjang sesar mendatar ini terdapat juga cekungan tipe pull apart. Yang
paling nyata adalah Danau Matano dengan batimetri sekitar 600 m dan
dikontrol oleh sesar - sesar normal yang menyudut terhadap kelurusan Matano.
Medan

gaya

yang

diamati

di

umumnya horizontal dan berarah

lapangan

memperlihatkan

bahwa

tekanan

tenggara - baratlaut didampingi tarikan

timurlaut-baratdaya (gambar 4). Sesar Matano bermuara di Laut Banda pada


cekungan dan teluk Losoni sebagai pull apart basin dan menerus ke laut sampai ke
utara anjakan bawah laut Tolo (Magetsari, 1987)

12

120

118

TELUK GORONT
ALO

BANGGAI

B
O
N
E

KEP. SULA

SULAWE
SI

TELUK
TOLO

T
E
LUK

MAKA
SSAR

124

122

LAUT
FLORES
8

Gambar 2. 4. Struktur Geologi Regional Pulau Sulawesi

13

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
III.1. Definisi
Pada umumnya endapan nikel terdapat dalam dua bentuk yang berlainan,
yaitu berupa nikel sulfida dan nikel laterit. Endapan nikel laterit merupakan bijih
yang dihasilkan dari proses pelapukan batuan ultrabasa yang ada di atas permukaan
bumi. Istilah Laterit sendiri diambil dari bahasa Latin later yang berarti batubata
merah, yang dikemukakann oleh M. F. Buchanan (1807), yang digunakan sebagai
bahan bangunan di Mysore, Canara dan Malabr yang merupakan wilayah India
bagian selatan. Material tersebut sangat rapuh dan mudah dipotong, tetapi apabila
terlalu lama terekspos, maka akan cepat sekali mengeras dan sangat kuat (resisten)
Smith (1992) mengemukakan bahwa laterit merupakan regolith atau tubuh batuan
yang mempunyai kandungan Fe yang tinggi dan telah mengalami pelapukan,
termasuk di dalamnya profil endapan material hasil transportasi yang masih tampak
batuan asalnya.
Sebagian besar endapan laterit mempunyai kandungan logam yang tinggi dan dapat
bernilai ekonomis tinggi, sebagai contoh endapan besi, nikel, mangan dan bauksit.
Dari beberapa pengertian bahwa laterit dapat disimpulkan merupakan suatu
material dengan kandungan besi dan aluminium sekunder sebagai hasil proses
pelapukan yang terjadi pada iklim tropis dengan intensitas pelapukan tinggi.
Di dalam industri pertambangan nikel laterit atau proses yang diakibatkan
oleh adanya proses lateritisasi sering disebut sebagai nikel sekunder.
III.2. Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Proses Pembentukan Nikel Laterit
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan bijih nikel laterit ini adalah:
1.

Batuan asal.
Adanya batuan asal merupakan syarat utama untuk terbentuknya endapan

nikel laterit, macam batuan asalnya adalah batuan ultra basa. Dalam hal ini pada

14

batuan ultra basa tersebut: - terdapat elemen Ni yang paling banyak diantara batuan
lainnya - mempunyai mineral-mineral yang paling mudah lapuk atau tidak stabil,
seperti olivin dan piroksin - mempunyai komponen-komponen yang mudah larut dan
memberikan lingkungan pengendapan yang baik untuk nikel.
2.

Iklim
Adanya pergantian musim kemarau dan musim penghujan dimana terjadi

kenaikan dan penurunan permukaan air tanah juga dapat menyebabkan terjadinya
proses pemisahan dan akumulasi unsur-unsur. Perbedaan temperatur yang cukup
besar akan membantu terjadinya pelapukan mekanis, dimana akan terjadi rekahanrekahan dalam batuan yang akan mempermudah proses atau reaksi kimia pada
batuan.
3.

Reagen-reagen kimia dan vegetasi


Yang dimaksud dengan reagen-reagen kimia adalah unsur-unsur dan senyawa-

senyawa yang membantu mempercepat proses pelapukan. Air tanah yang


mengandung CO2 memegang peranan penting didalam proses pelapukan kimia.
Asam-asam humus menyebabkan dekomposisi batuan dan dapat merubah pH larutan.
Asam-asam humus ini erat kaitannya dengan vegetasi daerah. Dalam hal ini, vegetasi
akan mengakibatkan: penetrasi air dapat lebih dalam dan lebih mudah dengan
mengikuti jalur akar pohon-pohonan akumulasi air hujan akan lebih banyak humus
akan lebih tebal Keadaan ini merupakan suatu petunjuk, dimana hutannya lebat pada
lingkungan yang baik akan terdapat endapan nikel yang lebih tebal dengan kadar
yang lebih tinggi. Selain itu, vegetasi dapat berfungsi untuk menjaga hasil pelapukan
terhadap erosi mekanis.
4.

Struktur
Struktur yang sangat dominan yang terdapat didaerah Polamaa ini adalah

struktur kekar (joint) dibandingkan terhadap struktur patahannya. Seperti diketahui,


batuan beku mempunyai porositas dan permeabilitas yang kecil sekali sehingga
penetrasi air sangat sulit, maka dengan adanya rekahan-rekahan tersebut akan lebih
memudahkan masuknya air dan berarti proses pelapukan akan lebih intensif.

15

5.

Topografi
Keadaan topografi setempat akan sangat mempengaruhi sirkulasi air beserta

reagen-reagen lain. Untuk daerah yang landai, maka air akan bergerak perlahan-lahan
sehingga akan mempunyai kesempatan untuk mengadakan penetrasi lebih dalam
melalui rekahan-rekahan atau pori-pori batuan. Akumulasi andapan umumnya
terdapat pada daerah-daerah yang landai sampai kemiringan sedang, hal ini
menerangkan bahwa ketebalan pelapukan mengikuti bentuk topografi. Pada daerah
yang curam, secara teoritis, jumlah air yang meluncur (run off) lebih banyak daripada
air yang meresap ini dapat menyebabkan pelapukan kurang intensif.
6.

Waktu
Waktu yang cukup lama akan mengakibatkan pelapukan yang cukup intensif

karena akumulasi unsur nikel cukup tinggi.


III.3. Proses Pembentukan nikel Laterit
Batuan induk bijih nikel adalah batuan peridotit. Menurut Vinogradov batuan
ultra basa rata-rata mempunyai kandungan nikel sebesar 0,2 %. Unsur nikel tersebut
terdapat dalam kisi-kisi kristal mineral olivin dan piroksin, sebgai hasil substitusi
terhadap atom Fe dan Mg. Proses terjadinya substitusi antara Ni, Fe dan Mg dapat
diterangkan karena radius ion dan muatan ion yang hampir bersamaan diantara unsurunsur tersebut. Proses serpentinisasi yang terjadi pada batuan peridotit akibat
pengaruh larutan hydrothermal, akan merubah batuan peridotit menjadi batuan
serpentinit atau batuan serpentinit peroditit. Sedangkan proses kimia dan fisika dari
udara, air serta pergantian panas dingin yang bekerja kontinu, menyebabkan
disintegrasi dan dekomposisi pada batuan induk.
Pada pelapukan kimia khususnya, air tanah yang kaya akan CO2 berasal dari
udara dan pembusukan tumbuh-tumbuhan menguraikan mineral-mineral yang tidak
stabil (olivin dan piroksin) pada batuan ultra basa, menghasilkan Mg, Fe, Ni yang
larut; Si cenderung membentuk koloid dari partikel-partikel silika yang sangat halus.
Didalam larutan, Fe teroksidasi dan mengendap sebagai ferri-hydroksida, akhirnya

16

membentuk mineral-mineral seperti geothit, limonit, dan haematit dekat permukaan.


Bersama mineral-mineral ini selalu ikut serta unsur cobalt dalam jumlah kecil.
Larutan yang mengandung Mg, Ni, dan Si terus menerus kebawah selama
larutannya bersifat asam, hingga pada suatu kondisi dimana suasana cukup netral
akibat adanya kontak dengan tanah dan batuan, maka ada kecenderungan untuk
membentuk endapan hydrosilikat. Nikel yang terkandung dalam rantai silikat atau
hydrosilikat dengan komposisi yang mungkin bervariasi tersebut akan mengendap
pada celah-celah atau rekahan-rekahan yang dikenal dengan urat-urat garnierit dan
krisopras. Sedangkan larutan residunya akan membentuk suatu senyawa yang disebut
saprolit yang berwarna coklat kuning kemerahan. Unsur-unsur lainnya seperti Ca dan
Mg yang terlarut sebagai bikarbonat akan terbawa kebawah sampai batas pelapukan
dan akan diendapkan sebagai dolomit, magnesit yang biasa mengisi celah-celah atau
rekahan-rekahan pada batuan induk. Dilapangan urat-urat ini dikenal sebagai batas
petunjuk antara zona pelapukan dengan zona batuan segar yang disebut dengan akar
pelapukan (root of weathering).
Penyelidikan di daerah Soroako menunjukkan, penampang laterit dapat
digambarkan sebagai empat lapisan yang berubah secara berangsur-angsur. Karena
kedaaan setempat, yaitu batuan dasar maupun tingkat kikisan, mungkin saja ada
sebuah lapisan atau lebih yang tidak ditemukan. Keempat lapisan itu adalah tudung
besi, lapisan limonit, perkotakan silika (silica boxworks), dan lajur saprolit. Tudung
besi yang berwarna merah terdiri dari goethit dan limonit yang menyerupai spon,
berkadar besi tinggi, tetapi kadar nikelnya sangat rendah. Lapisan limonit warnanya
coklat merah atau kuning. Lapisan yang berbutir ini merupakan selimut pada
sebagian daerah. Pada lereng, selimut itu hanya tipis saja atau bahkan telah terkikis
habis. Perkotakan silika terdapat pada dasar lapisan limonit. Sampai batas tertentu, di
sini masih dikenali struktur dan tekstur batuan aslinya. Endapan garnierit supergen di
dalam perkotakan silika ini mengakibatkan terjadinya bijih nikel silika yang tinggi
kadar nikelnya. Jalur saprolit merupakan peralihan dari limonit ke batuan dasar yang
keras dan belum lapuk. Jalur inilah yang merupakan tempat bijih dengan kadar nikel

17

tertinggi, akibat proses pengkayaan supergen. Perkembangan jalur saprolit tergantung


pertama-tama, pada sifat fisika dan mineralogi batuan dasar.
Proses Lateralisasi
1.

Proses pelapukan batuan peridotit, yang tersusun oleh group olivine


Magnesium Silikat (forsterite) Mg2SiO4, besi Silikat (Fayalit) Fe2SiO4.

2.

beraksi dengan air tanah yang kaya akan CO 2, yang menguraikan olivib
menjadi larutan MG, Fe dan Ni serta Koloidal Si, dengan reaksi

Mg , Fe 2 SiO4 CO 4 H 2 O Mg , Fe HCO3 H 2 SiO4


3.

Dalam larutan besi akan teroksidasi dan membentuk ferrihidroksida


(ferroferri/Fe2+ - Fe3+) dan mengalami hidrasi (penyerapan molekul air)
membentuk geothit (FeO(OH)2) dan Hematit (Fe2O3) dan membentuk kerak.

4.

Sedangkan MG, Ni, dengan SiO tetap dalam larutan akan tetapi jika larutan
yang asam ini dinetralisasikan oleh tanah dan batuan, maka zat tersebut
mengendap sebagaim mineral hidrosilikat (salah satunya garnierit).
6 Ni, Mg O 4 SiO2 4 H 2 O ( Ni, Mg ) 6 Si4 O10 OH
Garnierit

Proses Serpentinisasi
Pelapukan serpentinisasi proses oleh adanya reaksi antara batuan dan larutan
encer yang kaya CO2 (unsure organik) pada P&T >>> sehingga mengakibatkan
pengurangan kadar MgO pada batuan karena adanya pengikatan oleh air dan CO 2 dan
membentuk mineral brucite dan magnesit.
Misalnya pada batuan dunit yang kaya akan olivine : (menurut Charles F. Parks,1964.
Ore deposit)
2Mg 2 SiO4 3H 2 O Mg 3 Si 2 O5 OH 4 Mg OH 2 atau
Olivin

Serpentin

Brucite

2 Mg 2 SiO4 2 H 2 O CO2 Mg 3 Si 2 O5 (OH ) 4 MgCO4


Olivin

Serpentin

Magnesit

Atau pada Harzburgit yang kaya akan orthopiroxen

18

Mg 2 SiO4 MgSiO2 2 H 2 O Mg 3 Si 2 O5 (OH ) 4


Olivin

Orthopiroxen

Serpentin

Menurut Golithtly (1979) dalam Suratman (2000) zonasi profit laterit dibagi
menjadi 4, yaitu :
Zona limonite overburden (LO)

Zona ini terletak paling atas dari profil dan sangat dipengaruhi oleh aktivitas
permukaan yang kuat. Tersusun oleh humus dan limonit. Mineral mineral
penyusunnya geothit, hematite, tremolit dan mineral mineral lainnya yang
terbentuk pada kondisi asam dekat permukaan dengan relief relative datar.
Secara umum material-material penyusun zona ini berukuran halus (lempung lanau), sering dijumpai mineral stabil seperti spinel, magnetit, dan kromit.
Zona medium grade limonite (MGL)

Zona ini mempunyai sifat fisik tidak jauh dari zona limonite. Teksture sisa batuan
induk mulai dapat dikenal dengan hadirnya fragmen batuan induk, yaitu peridotit
atau serpentinit. Rata rata berukuran antara 1-2 cm dalam jumlah sedikit.
Ukuran material penyusun berkisar antara lempung pasir halus. Ketebalan zona
ini berkisar antara 0-6 meter. Umumnya singkapan zona ini terdapat pada lereng
bukit yang ralatif datar. Mineralisasi sama dengan zona limonit dan zona saprolit,
yang membedakan adalah hadirnya kuarsa, lithiopirit, dan opal.
Zona Saprolit

Zona ini merupakan zona bijih, tersusun atas fragmen fragmen batuan induk
yang teralterasi, sehingga penyusunan, tekstur dan struktur batuan dapat dikenali.
Zona ini dibagi lagi menjadi 3 bagian :

Mineral mineral supergen urat


Terdiri dari mineral mineral garnierite, kuarsa, asbolit, magnesit.

Mineral mineral primer terlapukan

19

Adalah serpentin

mengandung

nikel besi sepertin, magnetit,

nickelliferous chlorite (schuscardite)

Produk pelapukan tahap awal


Limonit nicklleferous + mineral residu batuan induk tidak teralterasi.

Zona bedrock
Berada paling bawah dari profil laterit. Batuan induk ini merupakan batuan yang
masih segar dengan pengaruh proses proses pelapukan sangat kecil. Batuan
induk umumnya berupa peridotit, serpentinit atau peridotit terserpentinisasi.

20

BAB VI
KEGIATAN PELAKSANAAN

Kegiatan yang akan dilakukan terkait dengan program kerja sama ini adalah
kegiatan penambangan yang meliputi meliputi :
-

Pembersihan daerah penambangan dari tumbuh-tumbuhan,

Pembuatan jalan-jalan,

Pengupasan lapisan penutup dan lapisan limonit,

Perhitungan cadangan

Pemodelan tambang

Penambangan.
Kegiatan di atas dilakukan sesuai dengan jadwal/waktu yang telah ditetapkan

bersama

21

BAB V
PENUTUP
Dari kerja sama ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan keuntungan
baik untuk perusahaan yang memberikan kewenangan selaku pemilik tambang
ataupun bagi kami selaku perusahaan yang akan melakukan eksplorasi di daerah
tambang tersebut.

22

DAFTAR PUSTAKA

Bateman, A. M., 1956, The Formation of Mineral Deposits John Wiley & Sons
Inc, Third Edition.
Edwards, R., and Atkinson, K., 1986, Ore Deposits Geology, Chapman and Hall
Lmt, New York.
Lindgreen, W., 1933, Mineral Deposits, McGraw Hill Book Company, New York.
Mottana, A., Crespi, R. And Liborto, G., 1995, Guide Rocks and Minerals,
Published by Simon & Schuster Inc, New York.
Tim Analisa dan Evaluasi Komoditi Mineral Internasional Proyek Pengembangan
Pusat Informasi Mineral, 1985, Kajian Nikel, Pusat Pengembagan
Teknologi Mineral Dirjen Pertambangan Umum DEPTAMBEN,
Bandung.

23