Anda di halaman 1dari 9

Magnetometer adalah sebuah instrumen pengukuran yang

digunakan untuk dua tujuan umum - untuk mengukur magnetisasi


bahan magnetik seperti feromagnet, atau untuk mengukur
kekuatan dan, dalam beberapa kasus, arah medan magnet pada
suatu titik dalam ruang angkasa (juga dikenal sebagai
Gaussmeter atau magnetometer survei).
Proton Precession Magnetometer

Proton Precession Magnetometer adalah instrument geofisika yang digunakan


untuk mengukur kekuatan medan magnet Bumi, pengukuran medan magnet
Bumi ini bertujuan untuk mengetahui lokasi deposit mineral, situs arkeologi,
material di bawah tanah, atau objek dibawah permukaan laut seperti kapal
selam atau kapal karam dan lain sebagainya.

Prinsip kerja Proton Procession Magnetometer adalah dengan proton yang ada
pada semua atom memintal atau berputar pada sumbu axis yang sejajar
dengan medan magnet Bumi. Normalnya, proton cenderung untuk sejajar
dengan medan magnet Bumi. Ketika subjek diinduksi medan magnet (dibuat
sedemikian), maka proton dengan sendirinya akan menyesuaikan dengan
medan yang baru. Dan ketika medan baru itu dihentikan maka proton akan
kembali seperti semula yang sejajar dengan medan magnet Bumi.Saat terjadi
perubahan kesejajaran, perputaran proton berpresesi, dan putarannya
semakin melambat. Frekuensi pada saat presesi berbanding lurus dengan kuat
medan magnet Bumi. Rasio Gyromagnetic proton adalah 0,042576 Hertz / nano
Tesla. Sebagai contoh, pada area dengan kekuatan medan sebesar 57.780 nT
maka frekuensi presesi menjadi 2460 Hz.
Komponen sensor pada proton precession magnetometer adalah tabung
silinder yang berisi cairan penuh atom hidrogen yang dikelilingi oleh lilitan
kabel. Cairan yang digunakan umumnya terdiri dari air, kerosin, dan alkohol.
Sensor tersebut dihubungkan dengan kabel ke unit yang berisi sebuah power

supply, sebuah saklar elektronik, sebuah amplifier, dan sebuah pencatat


frekuensi.
Ketika saklar ditutup, arus DC mengalir dari baterai ke lilitan, kemudian
memproduksi kuat medan magnet dalam silinder tersebut. Atom hidrogen
(proton) yang berputar seperti dipol magnet, menjadi sejajar dengan arah
medan (sepanjang sumbu silinder). Daya listrik kemudian memotong lilitan
dengan membuka saklar. Karena medan magnet Bumi menghasilkan torsi
(tenaga putaran) pada putaran atom hydrogen, maka atom hydrogen memulai
presesi disekitar arah total medan Bumi. Presesi tersebut menunjukkan medan
magnet dalam berbagai wktu (time-varying) yang mana menginduksi sedikit
arus AC pada lilitan tersebut. Frekuensi pada arus AC memiliki persamaan
dengan frekuensi presesi atom tersebut. Karena frekuensi presesi berbanding
dengan kuat medan total dan karena konstanta perbandingan diketahui, maka
kuat medan total dapat ditetapkan dengan akurat.

G E O M A G N E T W I T H M A G N E TO M E T E R
20 February 2012

Metoda Geomagnet adalah salah satu metoda di geofisika yang


memanfaatkan sifat kemagnetan bumi. Menggunakan metoda ini
diperoleh kontur yang menggambarkan distribusi susceptibility batuan di
bawah permukaan pada arah horizontal. Dari nilai susceptibility
selanjutnya dapat dilokalisir / dipisahkan batuan yang mengandung sifat
kemagnetan dan yang tidak. Mengingat survey ini hanya bagus untuk
pemodelan kearah horizontal, maka untuk mengetahui informasi
kedalamannya diperlukan metoda Resistivity 2D. Jadi, survey geomagnet
diterapkan untuk daerah yang luas, dengan tujuan untuk mencari daerah
prospek. Setelah diperoleh daerah yang prospek selanjutnya dilakukan
survey Resistivity 2D.
Metode Geofisika merupakan ilmu yang mempelajari tentang bumi
dengan menggunakan pengukuran fisis pada atau di atas permukaan. Dari
sisi lain, geofisika mempelajari semua isi bumi baik yang terlihat maupun
tidak terlihat langsung oleh pengukuran sifat fisis dengan penyesuaian
pada umumnya pada permukaan (Dobrin dan Savit, 1988). Secara umum,
metode geofisika dibagi menjadi dua kategori, yaitu:

Metode pasif dilakukan dengan mengukur medan alami yang


dipancarkan oleh bumi.


Metode aktif dilakukan dengan membuat medan gangguan
kemudian mengukur respon yang dilakukan oleh bumi.
Medan dalam ilmu geofisika terdiri dari 2 :

Medan alami adalah misalnya radiasi gelombang gempa bumi,


medan gravitasi bumi, medan magnet bumi, medan listrik dan
elektromagnetik bumi serta radiasi radiokativitas bumi.
Medan buatan dapat berupa ledakan dinamit, pemberian arus listrik ke
dalam tanah, pengiriman sinyal radar dan lain sebagainya.
Medan Magnet Bumi
Medan magnet bumi terkarakterisasi oleh parameter fisis atau disebut
juga elemen medan magnet bumi, yang dapat diukur yaitu meliputi arah
dan intensitas kemagnetannya. Parameter fisis tersebut meliputi :
Deklinasi (D), yaitu sudut antara utara magnetik dengan komponen
horizontal yang dihitung dari utara menuju timur
Inklinasi(I), yaitu sudut antara medan magnetik total dengan bidang
horizontal yang dihitung dari bidang horizontal menuju bidang vertikal ke
bawah.
Intensitas Horizontal (H), yaitu besar dari medan magnetik total pada
bidang horizontal.
Medan magnetik total (F), yaitu besar dari vektor medan magnetik
total.
Medan magnet utama bumi berubah terhadap waktu. Untuk
menyeragamkan nilai-nilai medan utama magnet bumi, dibuat standar
nilai yang disebut International Geomagnetics Reference Field (IGRF) yang
diperbaharui setiap 5 tahun sekali. Nilai-nilai IGRF tersebut diperoleh dari
hasil pengukuran rata-rata pada daerah luasan sekitar 1 juta km2 yang
dilakukan dalam waktu satu tahun. Medan magnet bumi terdiri dari 3
bagian :
1.

Medan magnet utama (main field)

Medan magnet utama dapat didefinisikan sebagai medan rata-rata hasil


pengukuran dalam jangka waktu yang cukup lama mencakup daerah
dengan luas lebih dari 106 km2..
1.

Medan magnet luar (external field)

Pengaruh medan magnet luar berasal dari pengaruh luar bumi yang
merupakan hasil ionisasi di atmosfer yang ditimbulkan oleh sinar
ultraviolet dari matahari. Karena sumber medan luar ini berhubungan
dengan arus listrik yang mengalir dalam lapisan terionisasi di atmosfer,
maka perubahan medan ini terhadap waktu jauh lebih cepat.
1.

Medan magnet anomali

Medan magnet anomali sering juga disebut medan magnet lokal (crustal
field). Medan magnet ini dihasilkan oleh batuan yang mengandung
mineral bermagnet seperti magnetite (), titanomagnetite () dan lain-lain
yang berada di kerak bumi.
Dalam survei dengan metode magnetik yang menjadi target dari
pengukuran adalah variasi medan magnetik yang terukur di permukaan
(anomali magnetik). Secara garis besar anomali medan magnetik
disebabkan oleh medan magnetik remanen dan medan magnetik induksi.
Medan magnet remanen mempunyai peranan yang besar terhadap
magnetisasi batuan yaitu pada besar dan arah medan magnetiknya serta
berkaitan dengan peristiwa kemagnetan sebelumnya sehingga sangat
rumit untuk diamati. Anomali yang diperoleh dari survei merupakan hasil
gabungan medan magnetik remanen dan induksi, bila arah medan
magnet remanen sama dengan arah medan magnet induksi maka
anomalinya bertambah besar. Demikian pula sebaliknya. Dalam survei
magnetik, efek medan remanen akan diabaikan apabila anomali medan
magnetik kurang dari 25 % medan magnet utama bumi (Telford, 1976),
Metode Pengukuran Data Geomagnetik
Dalam melakukan pengukuran geomagnetik, peralatan paling utama yang
digunakan adalah magnetometer. Peralatan ini digunakan untuk
mengukur kuat medan magnetik di lokasi survei. Salah satu jenisnya
adalah Proton Precission Magnetometer (PPM) yang digunakan untuk
mengukur nilai kuat medan magnetik total. Peralatan lain yang bersifat

pendukung di dalam survei magnetik adalah Global Positioning


System (GPS). Peralatan ini digunaka untuk mengukur posisi titik
pengukuran yang meliputi bujur, lintang, ketinggian, dan waktu. GPS ini
dalam penentuan posisi suatu titik lokasi menggunakan bantuan satelit.
Penggunaan sinyal satelit karena sinyal satelit menjangkau daerah yang
sangat luas dan tidak terganggu oleh gunung, bukit, lembah dan jurang.
Beberapa peralatan penunjang lain yang sering digunakan di dalam survei
magnetik, antara lain (Sehan, 2001) :
1.

Kompas geologi, untuk mengetahui arah utara dan selatan dari medan
magnet bumi.

2.

Peta topografi, untuk menentukan rute perjalanan dan letak titik


pengukuran pada saat survei magnetik di lokasi

3.

Sarana transportasi

4.

Buku kerja, untuk mencatat data-data selama pengambilan data

5.

PC atau laptop dengan software seperti Surfer, Matlab, Mag2DC, dan lainlain.

Pengukuran data medan magnetik di lapangan dilakukan menggunakan


peralatan PPM, yang merupakan portable magnetometer. Data yang
dicatat selama proses pengukuran adalah hari, tanggal, waktu, kuat
medan magnetik, kondisi cuaca dan lingkungan.
Dalam melakukan akuisisi data magnetik yang pertama dilakukan adalah
menentukan base station dan membuat station station pengukuran
(usahakan membentuk grid grid). Ukuran gridnya disesuaikan dengan
luasnya lokasi pengukuran, kemudian dilakukan pengukuran medan
magnet di station station pengukuran di setiap lintasan, pada saat yang
bersamaan pula dilakukan pengukuran variasi harian di base station.
Pengaksesan Data IGRF
IGRF singkatan dati The International Geomagnetic Reference Field.
Merupakan medan acuan geomagnetik intenasional. Pada dasarnya nilai
IGRF merupakan nilai kuat medan magnetik utama bumi (H0). Nilai IGRF
termasuk nilai yang ikut terukur pada saat kita melakukan pengukuran
medan magnetik di permukaan bumi, yang merupakan komponen paling
besar dalam survei geomagnetik, sehingga perlu dilakukan koreksi untuk
menghilangkannya. Koreksi nilai IGRF terhadap data medan magnetik

hasil pengukuran dilakukan karena nilai yang menjadi terget survei


magnetik adalan anomali medan magnetik (Hr0).
Nilai IGRF yang diperoleh dikoreksikan terhadap data kuat medan
magnetik total dari hasil pengukuran di setiap stasiun atau titik lokasi
pengukuran. Meskipun nilai IGRF tidak menjadi target survei, namun nilai
ini bersama-sama dengan nilai sudut inklinasi dan sudut deklinasi sangat
diperlukan pada saat memasukkan pemodelan dan interpretasi.
Pengolahan Data Geomagnetik
Untuk memperoleh nilai anomali medan magnetik yang diinginkan, maka
dilakukan koreksi terhadap data medan magnetik total hasil pengukuran
pada setiap titik lokasi atau stasiun pengukuran, yang mencakup koreksi
harian, IGRF dan topografi.
1.

Koreksi Harian

Koreksi harian (diurnal correction) merupakan penyimpangan nilai medan


magnetik bumi akibat adanya perbedaan waktu dan efek radiasi matahari
dalam satu hari. Waktu yang dimaksudkan harus mengacu atau sesuai
dengan waktu pengukuran data medan magnetik di setiap titik lokasi
(stasiun pengukuran) yang akan dikoreksi. Apabila nilai variasi harian
negatif, maka koreksi harian dilakukan dengan cara menambahkan nilai
variasi harian yang terekan pada waktu tertentu terhadap data medan
magnetik yang akan dikoreksi. Sebaliknya apabila variasi harian bernilai
positif, maka koreksinya dilakukan dengan cara mengurangkan nilai
variasi harian yang terekan pada waktu tertentu terhadap data medan
magnetik yang akan dikoreksi, datap dituliskan dalam persamaan
H = Htotal Hharian
1.

Koreksi IGRF

Data hasil pengukuran medan magnetik pada dasarnya adalah konstribusi


dari tiga komponen dasar, yaitu medan magnetik utama bumi, medan
magnetik luar dan medan anomali. Nilai medan magnetik utama tidak lain
adalah niali IGRF. Jika nilai medan magnetik utama dihilangkan dengan
koreksi harian, maka kontribusi medan magnetik utama dihilangkan
dengan koreksi IGRF. Koreksi IGRFdapat dilakukan dengan cara

mengurangkan nilai IGRF terhadap nilai medan magnetik total yang telah
terkoreksi harian pada setiap titik pengukuran pada posisi geografis yang
sesuai. Persamaan koreksinya (setelah dikoreksi harian) dapat dituliskan
sebagai berikut :
H = Htotal Hharian H0
Dimana H0 = IGRF
1.

Koreksi Topografi

Koreksi topografi dilakukan jika pengaruh topografi dalam survei megnetik


sangat kuat. Koreksi topografi dalam survei geomagnetik tidak
mempunyai aturan yang jelas. Salah satu metode untuk menentukan nilai
koreksinya adalah dengan membangun suatu model topografi
menggunakan pemodelan beberapa prisma segiempat (Suryanto, 1988).
Ketika melakukan pemodelan, nilai suseptibilitas magnetik (k) batuan
topografi harus diketahui, sehingga model topografi yang dibuat,
menghasilkan nilai anomali medan magnetik (Htop) sesuai dengan fakta.
Selanjutnya persamaan koreksinya (setelah dilakukan koreski harian dan
IGRF) dapat dituliska sebagai
H = Htotal Hharian H0 Htop
Setelah semua koreksi dikenakan pada data-data medan magnetik yang
terukur dilapangan, maka diperoleh data anomali medan magnetik total di
topogafi. Untuk mengetahui pola anomali yang diperoleh, yang akan
digunakan sebagai dasar dalam pendugaan model struktur geologi bawah
permukaan yang mungkin, maka data anomali harus disajikan dalam
bentuk peta kontur. Peta kontur terdiri dari garis-garis kontur yang
menghubungkan titik-titik yang memiliki nilai anomali sama, yang diukur
dar suatu bidang pembanding tertentu.
Reduksi ke Bidang Data
Untuk mempermudah proses pengolahan dan interpretasi data magnetik,
maka data anomali medan magnetik total yang masih tersebar di
topografi harus direduksi atau dibawa ke bidang datar. Proses
transformasi ini mutlak dilakukan, karena proses pengolahan data
berikutnya mensyaratkan input anomali medan magnetik yang

terdistribusi pada biang datar. Beberapa teknik untuk mentransformasi


data anomali medan magnetik ke bidang datar, antara lain : teknik
sumber ekivalen (equivalent source), lapisan ekivalen (equivalent layer)
dan pendekatan deret Taylor (Taylor series approximaion), dimana setiap
teknik mempunyai kelebihan dan kekurangan (Blakely, 1995).
Pengangkatan ke Atas
Pengangkatan ke atas atau upward continuation merupakan proses
transformasi data medan potensial dari suatu bidang datar ke bidang
datar lainnya yang lebih tinggi. Pada pengolahan data geomagnetik,
proses ini dapat berfungsi sebagai filter tapis rendah, yaitu unutk
menghilangkan suatu mereduksi efek magnetik lokal yang berasal dari
berbagai sumber benda magnetik yang tersebar di permukaan topografi
yang tidak terkait dengan survei. Proses pengangkatan tidak boleh terlalu
tinggi, karena ini dapat mereduksi anomali magnetik lokal yang
bersumber dari benda magnetik atau struktur geologi yang menjadi target
survei magnetik ini.
Koreksi Efek Regional
Dalam banyak kasus, data anomali medan magnetik yang menjadi target
survei selalu bersuperposisi atau bercampur dengan anomali magnetik
lain yang berasal dari sumber yang sangat dalam dan luas di bawah
permukaan bumi. Anomali magnetik ini disebut sebagai anomali magnetik
regional (Breiner, 1973). Untuk menginterpretasi anomali medan
magnetik yang menjadi target survei, maka dilakukan koreksi efek
regional, yang bertujuan untuk menghilangkan efek anomali magnetik
regioanl dari data anomali medan magnetik hasil pengukuran.
Salah satu metode yang dapat digunakan untuk memperoleh anomali
regional adalah pengangakatan ke atas hingga pada ketinggian-ketinggian
tertentu, dimana peta kontur anomali yang dihasilkan sudah cenderung
tetap dan tidak mengalami perubahan pola lagi ketika dilakukan
pengangkatan yang lebih tinggi.
Interpretasi Data Geomagnetk
Secara umum interpretasi data geomagnetik terbagi menjadi dua, yaitu
interpretasi kualitatif dan kuantitatif. Interpretasi kualitatif didasarkan

pada pola kontur anomali medan magnetik yang bersumber dari distribusi
benda-benda termagnetisasi atau struktur geologi bawah permukaan
bumi. Selanjutnya pola anomali medan magnetik yang dihasilkan
ditafsirkan berdasarkan informasi geologi setempat dalam bentuk
distribusi benda magnetik atau struktur geologi, yang dijadikan dasar
pendugaan terhadap keadaan geologi yang sebenarnya.
Interpretasi kuantitatif bertujuan untuk menentukan bentuk atau model
dan kedalaman benda anomali atau strukutr geologi melalui pemodelan
matematis. Untuk melakukan interpretasi kuantitatif, ada beberapa cara
dimana antara satu dengan lainnya mungkin berbeda, tergantung dari
bentuk anomali yang diperoleh, sasaran yang dicapai dan ketelitian hasil
pengukuran.