Anda di halaman 1dari 8

OUT LINE PENELITIAN

Nama : M. Mas’ud
Nim : 206 100
Jurusan : Syari’ah / Ekonomi Islam
Judul Penelitian : Analisis Faktor-faktor yang mempengaruhi kepailitan
Usaha kecil menengah Konveksi dengan ukuran Black
List Perbankan studi Pada Usaha Konveksi di
Kabupaten Kudus.

A. Latar Belakang Masalah

Di Indonesia, jumlah perusahaan kecil mencapai lebih


dari separuh kegiatan dalam dunia usaha. Sekitar 90% dari
semua perusahaan diklasifikasikan sebagai perusahaan kecil.1
Upaya penumbuhan kemampuan dan ketangguhan Usaha
Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang memiliki jumlah
besar dan tersebar di seluruh tanah air, merupakan kegiatan
yang tak dapat dipisahkan dari upaya menumbuhkan
kemampuan, ketangguhan dan ketahanan nasional secara
keseluruhan.
Lincolin (1999) mengatakan UMKM, merupakan bagian
integral dunia usaha nasional mempunyai kedudukan, potensi
dan peranan yang sangat penting dan strategis dalam
mewujudkan tujuan Pembangunan Nasional pada umumnya
dan tujuan Pembangunan Ekonomi pada khususnya. Usaha
Mikro Kecil dan Menengah merupakan kegiatan usaha yang
mampu memperluas lapangan kerja dan memberikan
pelayanan ekonomi yang luas pada masyarakat, dapat

1 Jawa Pos. 2001. UKM Selalu Terbentur Birokrasi. 16 Juli. Hal 10A
berperan dalam proses pemerataan dan meningkatkan
pendapatan masyarakat, serta mendorong pertumbuhan
ekonomi.2
Sektor UKM, merupakan komponen penting bagi upaya
pemberdayaan ekonomi rakyat. Ini terbukti bahwa sektor UKM
secara potensial mempunyai modal penghasil pelbagai
barang murah dan terjangkau oleh kekuatan ekonomi rakyat
dan distribusinya menyebar luas.3
Kenyataan menunjukkan bahwa UMKM masih belum
dapat mewujudkan kemampuan dan perannya secara optimal
dalam perekonomian nasional. Hal ini disebabkan UMKM
masih menghadapi berbagai hambatan dan kendala, baik
yang berisfat eksternal maupun internal, dalam bidang
produksi dan pengolahan, pemasaran, permodalan, sumber
daya manusia dan teknologi, serta iklim usaha yang belum
mendukung bagi perkembangnya (Akyuwen, 2005).
Lebih lanjut dikatakan Akyuwen (2005), secara spesifik
setidaknya terdapat 3 (tiga) permasalahan internal yang
dihadapi UMKM yaitu: (1) terbatasnya penguasaan dan
pemilikan asset produksi terutama permodalan; (2)
rendahnya kemampuan SDM dan(3) kelembagaan usaha
belum berkembang secara optimal dalam penyediaan fasilitas
bagi kegiatan ekonomi rakyat. Sedangkan permasalahan
eksternal terdapat 7 (tujuh) permasalahan yaitu: (1)
terbatasnya pengakuan dan jaminan keberadaan UMKM; (2)
alokasi kredit sebagai aspek pembiayaan masih sangat
timpang, baik antar golongan, antar wilayah dan antar desa-

2 Glendoh, Harman, Sentot. 2001. Pembinaan Dan Pengembangan Usaha Kecil. Jurnal
Management & Kewirausahaan. Vol 3. No 1. FE.UKP. Hal 1-13
3 Arifin, Bustanul. 2005. Pendekatan Baru Pengembangan Pasar
Keuangan Pedesaan: Bukan Sekedar Basis Komersial, Tetapi Penguatan Modal
Sosial. Jakarta: INDEF
kota; (3) sebagian besar produk industri kecil memiliki ciri
sebagai produk fashion dan kerajinan dengan lifetime yang
pendek; (4) rendahnya nilai komoditi yang dihasilkan; (5)
terbatasnya akses pasar; (6) terdapatnya pungutan-pungutan
siluman yang tidak proporsional; (7) munculnya krisis
ekonomi dengan berbagai implikasinya.
Akyuwen menyebutkan UMKM saat ini mendapat
perhatian yang cukup serius dari pemain sektor keuangan
seperti bank komersial,4 BPR dan kredit yang diberikan oleh
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang menyediakan
sosial untuk berkembang wajar dan bertahan pada semua
kondisi, relatif mandiri karena tidak tidak tergantung pada
dinamika sektor moneter secara nasional. Bahkan mempunyai
potensi yang besar menyerap tenaga kerja, penyumbang
devisa, berbagai produk dan layanan keuangan mikro yang
memfasilitasi pengumpulan tabungan kemudian
mengalokasikannya secara efisien kepada Usaha Mikro Kecil
dan Menengah yang potensial.
Alasan utama sektor keuangan mengalokasikan secara
efisien kepada UMKM adalah tingginya resiko pinjaman.
Beberapa kelemahan yang biasanya dilekatkan pada UMKM
adalah dalam hal manajemen keuangan, agunan tidak cukup,
kurang pengalaman kredit, teknologi produksi yang masih
tradisional, kurang disiplin, kurang ahli dalam
mengembangkan pasar, dan suka mengambil resiko tanpa
analisis penilaian risiko yang benar.
Meskipun demikian, sejumlah pengalaman internasional
yang diperoleh menunjukan, banyak faktor resiko yang
dilekatkan kepada UMKM, sebenarnya juga terdapat pada

4 Akyuwen, Roberto. 2005. Efeketivitas Kelembagaan Keuangan Dalam Penyaluran


Kredit Mikro: kajian Pendekatan Ekonomi Kelembagaan Baru. Semarang: FE Undip
perusahaan besar. Faktor resiko itu biasanya berhubungan
dengan “budaya usaha” dan tidak berkaitan dengan skala
usaha. Arifin menyebutkan tingkat kredit macet untuk skala
mikro dan kecil telah menembuskan angka 10%, bahkan
apabila tidak dilakukan restrukturisasi dan write off, angka
non performing loan (NPL) dapat mencapai 15 % atau lebih.
Salah satu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)
yang ada di Kabupaten Kudus adalah usaha konveksi. Yang
merupakan sebagian besar menjadi mata pencaharian
penduduk di Kabupaten Kudus.
Kudus adalah sebagai pembuat pakaian jadi, di samping
sebagian ada yang bekerja sebagai pegawai negeri,
pedagang, serta petani. Di mana hasil konveksi tersebut
dikirim ke berbagai daerah seperti Petarukan, Comal,
Pekalongan tempat grosir pakaian jadi serta dikirim ke
Jakarta.
Sejalan dengan hal tersebut, keberadaan industri
konveksi di Kabupaten Kudus yang merupakan asset daerah
yang cikal bakalnya sebagian besar dari usaha keluarga
dilanjutkan secara turun temurun yang keberadaannya harus
dilestarikan. Untuk mendorong dan meningkatkan industri
konveksi ini, maka Pemerintah Kabupeten Kudus terus
berupaya membina kelompok industri konveksi, agar tumbuh
dan mampu bersaing sehingga menjadi efisien dan mandiri
serta mampu meningkatkan peranannya dalam penyediaan
barang-barang konsumsi di pasar lokal maupun regional.
Upaya meningkatkan peranan dan kemandirian industri
konveksi, seperangkat kebijaksanaan telah dilakukan
Pemerintah Kabupaten Pemalang seperti: pelatihan teknologi
produksi, manajemen produksi, achivement motivasi training,
sertifikasi
ISO 9000, penerapan gugus kondisi mutu, bantuan modal
dan mengikutsertakan dalam berbagai kegiatan pameran,
bantuan peralatan, pelaksanaan dan sebagainya yang
kesemuanya merupakan dasar-dasar bagi perkembangan
kemitraan industri konveksi.
Berdasarkan data dari dinas Perindustrian Pemerintah
Kab. Kudus konveksi dikabupaten Kudus terdapat 120
Konveksi UMKM, dari jumlah tersebut terdapat 40% (48
UMKM) yang mengalami kepailitan usaha dan mengakibatkan
bermasalah dengan pembayaran kreditnya yang digunakan
untuk mendanai operasional usaha konveksi. Hal ini
mengakibatkan Lembaga keuangan banyak yang mengalami
kerugian, sehingga dikeluarkan peraturan oleh Bank Indonesia
tentang kriteria usaha yang tidak diberikan Fasilitas pinjaman,
yaitu diantaranya Konveksi, mebel, transportasi dan ternak
unggas.
Mendasarkan pada latar belakang di atas serta wacana
yang ada saat ini, maka perlu dilakukan penelitian yang
berkaitan dengan: ”ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI KEPAILITAN USAHA MIKRO KECIL DAN
MENENGAH PADA KONVEKSI DI KABUPATEN KUDUS.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada uraian di atas, maka permasalahan
yang muncul dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Apakah Penggunaan modal mempengaruhi
tingkat kepailitan Usaha mikro kecil dan
menengah pada konveksi di kabupaten
Kudus?
2. Apakah pendapatan mempengaruhi tingkat
kepailitan Usaha mikro kecil dan menengah
pada konveksi di kabupaten Kudus?
3. Apakah pola pemasaran mempengaruhi
tingkat kepailitan Usaha mikro kecil dan
menengah pada konveksi di kabupaten
Kudus?
4. Apakah kebijakan pemerintah mempengaruhi
tingkat kepailitan Usaha mikro kecil dan
menengah pada konveksi di kabupaten
Kudus?
5. Apakah tingkat persaingan mempengaruhi
kepailitan usaha mikro kecil dan menengah
pada konveksi di Kabupaten Kudus?
6. faktor apakah yang paling besar
pengaruhnya terhadap kepailitan usaha
mikro kecil dan mennengah pada konveksi di
kabupaten Kudus?

C. Tujuan Penelitian
1. Untuk menguji secara empiris pengaruh
Penggunaan modal terhadap tingkat
kepailitan Usaha mikro kecil dan menengah
pada konveksi di kabupaten Kudus
2. Untuk menguji secara empiris pengaruh
pendapatan terhadap tingkat kepailitan
Usaha mikro kecil dan menengah pada
konveksi di kabupaten Kudus
3. Untuk menguji secara empiris pengaruh
pemasaran mempengaruhi terhadap tingkat
kepailitan Usaha mikro kecil dan menengah
pada konveksi di kabupaten Kudus
4. Untuk menguji secara empiris pengaruh
kebijakan pemerintah terhadap tingkat
kepailitan Usaha mikro kecil dan menengah
pada konveksi di kabupaten Kudus
5. Untuk menguji secara empiris pengaruh
tingkat persaingan terhadap kepailitan usaha
mikro kecil dan menengah pada konveksi di
Kabupaten Kudus
6. Untuk menguji secara empiris faktor apakah
yang paling besar pengaruhnya terhadap
kepailitan usaha mikro kecil dan mennengah
pada konveksi di kabupaten Kudus

D. Manfaat penelitian

1. Teoritis

a. Hasil Penelitian ini dapat menjadi informasi dan referensi dalam


penelitian ilmiah berikutnya.
b. Hasil Penelitian ini dapat menjadi hasanah dalam pengembangan ilmu
ekonomi dalam bidang manajemen strategi.

2. Praktis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan


masukan bagi institusi terkait dalam mengembangkan
Usaha mikro kecil dan menengah secara umum
b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan
pertimbangan bagi pengusaha konveksi pada khususnya
agar dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan
penggunaaan modal, pendapatan, pemasaran, kebijakan
pemerintah dan tingkat persaingan..
c. Hasil penelitian ini diharapkan dapat
bermanfaat bagi para pengusaha konveksi
diKabupaten Kudus.

E. Kerangka Penelitian