Anda di halaman 1dari 16

REFERAT BEDAH UROLOGI

URETERORENOSCOPY

Pembimbing :
dr. Tri Budiyanto, Sp. U.

Disusun Oleh :
Noni Frista Al Azhari

G4A013079

SMF ILMU BEDAH UROLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
RSUD PROF. Dr. MARGONO SOEKARJO
PURWOKERTO
2015
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN REFERAT
URETERORENOSCOPY

Diajukan untuk memenuhi syarat mengikuti Kepaniteraan Klinik


Di bagian SMF Bedah Urologi
RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

Disusun Oleh :
Noni Frista Al Azhari

G4A013079

Telah disetujui
Pada tanggal :

September 2015

Dosen Pembimbing :

dr. Tri Budiyanto, Sp.U

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia dan
rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan referat dengan judul
Ureterorenoscopy. Tujuan penulisan laporan referat ini ialah untuk memenuhi
salah satu syarat mengikuti Kepaniteraan Klinik di bagian Bedah RSUD Prof. Dr.
Margono Soekarjo, Purwokerto
Dalam kesempatan ini perkenakanlah penulis untuk menyampaikan
ucapan terima kasih kepada :
1. dr. Tri Budiyanto, Sp.U. selaku pembimbing yang telah memberikan arahan
pada laporan referat ini.
2. Teman-teman dan semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan
laporan referat ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan laporan referat
ini masih jauh dari kesempurnaan serta masih banyak terdapat kekurangan.
Penulis berharap semoga laporan referat ini dapat memberikan manfaat bagi para
pembaca serta perkembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang
kedokteran.

Purwokerto,

September 2015

Penyusun

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pendahuluan
Ureterorenoscopy diperkenalkan ke praktek klinis pada tahun 1980 dan
sejak itu telah menjadi metode yang diterima secara luas dan dapat diandalkan
untuk pengobatan batu ureter dengan beberapa komplikasi (Tiselius HG et al,
2001; Erhard M et al, 1996). Ini adalah metode yang sepenuhnya memenuhi
prinsip utama operasi minimal invasif - untuk mencapai pemulihan penuh
dengan trauma bedah minimal (Tiselius HG et al, 2001; Akhtar MS et al,
2003; Murthy PV et al, 1997). Karena menggunakan saluran kerja kaliber
kecil, irigasi terus menerus, dan penerapan video, ureterorenoscopy
memungkinkan eksplorasi yang lebih menyeluruh dan pendekatan yang
optimal untuk semua batu pada seluruh panjang penuh ureter.
Tingkat keberhasilan (tingkat batu-bebas) dari ureterorenoscopy di ureter
proksimal, tengah, dan distal adalah sekitar 80%, 90%, dan 95%, masingmasing (Tiselius HG et al, 2001; Wu CF et al, 2004; Hamano S et al, 2000;
Elashry OM et al, 2008). Dibandingkan dengan gelombang kejut lithotripsy
(SWL), ureterorenoscopy memiliki tingkat batu-bebas lebih tinggi untuk batu
lebih kecil dari atau sama dengan 10 mm di ureter distal dan batu besar lebih
dari 10 mm di ureter proksimal (Tiselius HG et al, 2001; Erhard M et al, 1996;
Wu CF et al, 2004; Hendrikx AJ, 1999).
B. Definisi
URS

atau

ureterorenoskopi

adalah

tindakan

yang

menggunakan

gelombang kejut dan endoskopi untuk menghancurkan batu (IAUI, 2006).


URS yaitu prosedur spesialistik dengan menggunakan alat endoskopi
semirigid / fleksibel berukuran kurang dari 30 mm yang dimasukkan melalui
saluran kemih ke dalam saluran ginjal (ureter) kemudian batu dipecahkan
dengan pemecah batu litotripsi. Tindakan ini memerlukan pembiusan umum
atau regional dan rawat inap dan memerlukan waktu kira-kira 30 menit.
Dengan menggunakan laser atau lithoclast, kita dapat melakukan kontak
langsung dengan batu untuk dipecahkan menjadi pecahan kecil-kecil . Alat ini

dapat mencapai batu dalam kaliks ginjal dan dapat diambil atau dihancurkan
dengan sarana elektrohidraulik atau laser. Tindakan ini dilakukan dengan
memasukkan alat melalui uretra ke dalam kandung kemih untuk
menghancurkan batu buli atau ke dalam ureter untuk menghancurkan batu
ureter (Departemen Urology RSCM, 2008). Sebuah ureteroscopy (URS)
merupakan prosedur investigasi sederhana yang memungkinkan dokter bedah
untuk membuat diagnosis dan memberikan perlakuan yang diperlukan. Ini
melibatkan baik menggunakan teleskop yang kaku disebut ureteroscopy atau
yang

fleksibel

disebut

ureterorenoscopy.

Sebuah

ureterorenoscopy

memungkinkan ahli bedah untuk melihat ke ureter dan atau ginjal (University
College London Hospitals NHS, 2014).
C. Prosedur lengkap
a. Dokter Umum
- Anamnesa
- Pemeriksaan klinis
- Pemeriksaan foto rontgen
- Merujuk ke spesialis Urologi
b. Spesialis Urologi
- Pemeriksaan radiologi
- Pemeriksaan penunjang
- Tindakan URS
D. ALAT-ALAT:
- Baju operasi steril (operator/asistensi/instrumen)
- Sarung tangan
- Duk steril

- Duk klem
- Alat set endoskopi
- Sheath + optic ukuran bermacam-macam (6 sampai 15 Ch)
- Optik 0 atau lainnya
- Guidewire
- Kateter ureter
- Stone basket
- Forceps
- Carm (Fluoroscopy)

E. Indikasi URS :
1. Diagnosa

- Evaluasi filling defect atau obstruksi pada radiologi


- Evaluasi gross hematuri unilateral
- Evaluasi maligna sitologi unilatera
- Surveilance pada terapi konservatip tumor traktus urinous atas
2.Tindakan
- Untuk batu-batu ureter atau dan ginjal basket (tertentu) : diambil dengan
forceps atau dipecah (lithotripsi)
- Biopsi tumor /polyp ureter
- Reseksi tumor
- Dilatasi striktura
- Pengambilan benda asing
F. Indikasi tindakan pada batu saluran kemih :
Penatalaksanaan pada batu saluran kemih ada 2 macam :
1. Konservatif : dengan banyak minum, olah raga loncat-loncat maupun obat
diuretikum (menambah kencing).
2. Operatif : kalau secara konservatif tidak berhasil.
Ada 2 prosedur operasi :
a) Terbuka : dengan membuat sayatan.
b) Tertutup/ endoskopi : tanpa sayatan, yaitu lithotripsy, URS, ESWL, PCN
G. Indikasi tindakan dilakukan bila :
1) Ukuran batu 7 mm. Ukuran ini tidak mutlak karena batu yang kecil
kadang-kadang tidak bisa keluar spontan.
2) Kolik terus-terusan yang tidak ada respon terhadap obat-obatan (intractable
pain)
3) Derajat sumbatan terhadap ginjal (hidronefrosis).
4) Adanya infeksi.
5) Bila secara konservatif 1 bulan tidak berhasil.
Indikasi ini terpenuhi bila salah satu indikasi ada. Ada lagi 1 indikasi sosial
sehubungan dengan pekerjaan, yaitu seorang pilot harus segera menjalani
tindakan kalau ada batu.
H. Indikasi URS dan lithoclast untuk batu pada ureter distal dan tengah,
kadang proksimal bisa dengan ureteroskop fleksibel :
1) Besar batu > 4 mm sampai 15 mm.
2) Ukuran batu 4 mm dilakukan bila gagal dengan terapi konservatif,
intractable pain dan pekerjaan yang mempunyai resiko tinggi bila terjadi
kolik.
3) Batu pelvic ginjal yang simptomatik.
4) Lokasi batu yang terletak di bagian bawah ginjal.
5) Morbid obesity dimana operasi terbuka lebih sukar dilakukan.
7

6) Perdarahan diathesis yang tidak dapat diatasi.


7) Batu diantara calyceal diverticulum atau infundibular stenosis.
I. TEKNIK OPERASI :
1. Anestesi umum atau regional (SAB, peridural)
2. Posisi pasien tergantung letak batu biasanya : litotomi
3. Dilakukan retrograde pyelografi untuk melihat anatomi ureter
4. Bila perlu dilatasi muara ureter
5. Masukkan alat URS secara avue dan bantuan fluoroskopi
6. Lakukan tindakan yang diperlukan
7. Bila batu perlu dihancurkan dipakai transducer Elektro Hidrolik atau
Lithoclast (Pneumatik) atau sarana lainnya
8. Bila perlu pemasangan ureter kateter/ DJ Stent
9. Kateter uretra dipasang bila perlu (anestesi SAB, dsb)
J. PERSIAPAN PRA OPERASI DAN PERAWATAN PASCA OPERASI
Penderita dengan kelainan diatas (filling defect,obstruksi sitologi abnormal,
hematuri, batu,tumor, benda asing) dipersiapkan operasi dan pasca operasi.
1. Persiapan pra operasi
Klinis:
- keadaan umum penderita baik
- tidak ada ko morbiditas yang berat
Laboratorium :
- darah lengkap, urine lengkap
- faal hemostasis, faal hati, faal ginjal
- kultur urin dan test sensitivitas
- glukosa darah puasa /2 jam post prandial (usia > 40 tahun)
Pemeriksaan penunjang :
- EKG (untuk usia > 40 tahun
- Foto thorak
- BNO/IVP/Tomogram/USG
- Retrograde pyelografi (durante operasi)
Penderita masuk rumah sakit
Informed consent (surat persetujuan tindakan)
Antibiotika profilaksis
2. Perawatan Pasca Operasi
8

Foto polos abdomen dan bila perlu USG hari pertama pasca bedah. Bila dipasang DJ
Stent, diambil bila sudah tidak dibutuhkan melalui cystoskopi (2-4
minggu, atau bila ada pertimbangan lain dapat lebih cepat atau lebih lambat).
K. DJ STENT
Dj stent merupakan singkatan dari double J stent. Alat ini sering
digunakan urolog dengan bentuk seperti 2 buah huruf J. Alat ini dipasang di
ureter, satu ekornya berada di sistem pelvikokaliks ginjal dan satu lagi di
kandung kemih.

Fungsi dari benda ini adalah untuk mempermudah aliran kencing dari
ginjal ke kandung kencing, juga memudahkan terbawanya serpihan batu
saluran kencing. Ketika ujung DJ stent berada di sistema pelvikokaliks maka
peristaltik ureter terhenti sehingga seluruh ureter dilatasi. (Sumber peristaltik
berada di kaliks minoris ginjal). Urine dari ginjal mengalir di dalam lubang
DJ stent dan juga antara DJ stent dengan ureter.

Menurut Min, C.C, (2013) URS mungkin juga memerlukan DJ stant


yang tindakannya membuka serta melebarkan ureter untuk mempermudah
keluarnya pecahan batu. DJ stant atau double J stent adalah tabung halus yang
dimasukan kedalam tempat operasi. DJ stant digunakan untuk mencegah
terjadinya sumbatan di dalam ureter akibat pecahan batu dan mengeluarkan
pecahan batu ke kandung kemih (Ko, Raymond., 2009). Menurut Metro
urology, (2008) DJ stent memungkinkan pecahan batu dapat lewat karena alat
ini memungkinkan ureter berdilatasi. Selain itu, menurut Metro urology,
(2008), DJ stant juga digunakan dalam perbaikan bekas luka dalam ureter,
menghilangkan tumor dari dalam ureter ataupun ginjal dan menghilangkan
tumor dari sekitar ureter.
DJ stant memiliki ikal di kedua ujungnya yang berfungsi untuk
mencegah turunnya DJ stant ke dalam kandung kemih atau naik ke ginjal
(Metro urology, 2008). Oleh karena itu, terkadang klien sering merasa ingin
BAK, merasa tidak nyaman di daerah ginjal saat BAK dan terdapat darah di
dalam urinnya apabila ke dua ikal ini mengiritasi saluran kemih (Ko,
Raymond., 2009). Sedangkan menurut Metro urology, (2008), selain terdapat
rasa tidak nyaman, terdapatnya darah dalam urin, klien dengan DJ stent juga
akan mengalami peningkatan frekuensi berkemih dan rasa terbakar saat BAK.
Akan tetapi menurut Ko, Raymond., (2009), gejala ini akan berkurang seiring
dengan waktu dan hilang setelah DJ stent di lepas. Oleh karena itu, klien
dengan terpasang DJ stant dianjurkan untuk mengkonsumsi banyak minum
untuk mengurangi efek yang terjadi (Metro urology, 2008).

10

Lamanya DJ stant dipasang, bergantung dengan alasan alat tersebut


digunakan. Metro urology., (2008) mengatakan bahwa DJ stent biasanya
dipasang tidak lebih dari tiga bulan. Sedangkan menurut Ko, Raymond.,
(2009) DJ stent harus sudah dihapus atau dikeluarkan dalam waktu enam
bulan setelah pemasangan.
DJ stent dipasang ketika (indikasi pemasangan DJ stent):
1

menyambung ureter yang terputus.

jika saat tindakan URS lapisan dalam ureter terluka.

setelah operasi URS batu ureter distal, karena dikhawatirkan muara ureter
bengkak sehingga urine tidak dapat keluar.

stenosis atau penyempitan ureter. DJ stent berfungsi agar setelah dipasang


penyempitan tersebut menjadi longgar.

setelah URS dengan batu ureter tertanam, sehingga saat selesai URS
lapisan dalam ureter kurang baik.

operasi batu ginjal yang jumlahnya banyak dan terdapat kemungkinan batu
sisa. Jika tidak dipasang dapat terjadi bocor urine berkepanjangan.

batu ginjal yang besar dan direncanakan ESWL. Seandainya tidak


dipasang maka serpihan batu dapat menimbulkan rasa nyeri.

untuk mengamankan saluran kencing pada pasien kanker cervix.

untuk mengamankan ginjal saat kedua ginjal/ureter tersumbat dan baru


dapat diterapi pada 1 sisi saja. Maka sisi yang lain dipasang DJ stent.

10 pada pasien gagal ginjal karena sumbatan kencing, (jika tidak dapat
dilakukan nefrostomi karena hidronefrosis kecil).
Resiko pemasangan DJ stent:
1

berlubangnya saluran kencing.

urosepsis yaitu kuman saluran kencing beredar di aliran darah.

munculnya batu di DJ stent, oleh karena itu DJ stent diangkat/diganti


setelah suatu waktu tertentu. Lama usia DJ stent bervariasi, umumnya 2
bulan dan terdapat yang dapat berusia 1 tahun. Jika tidak diberikan
keterangan, biasanya DJ stent berusia 2 bulan. Disarankan DJ stent dicabut
atau diganti setelah 2 bulan.

11

DJ stent tak dapat ditarik. Seandainya hal ini terjadi maka diperlukan
operasi terbuka.

L. Keuntungan :
1) Batu yang keras dapat dipecahkan.
2) Ureter dapat dilebarkan perlahan saat memasukkan endoscopy yang
nantinya akan dilewati oleh batu untuk keluar.
3) Rasa sakit dan perdarahan biasanya minimal.
M. Komplikasi :
1) Darah di urin. Akan hilang setelah beberapa hari.
2) Perforasi di ureter. Jika hal ini terjadi, terjadi kebocoran urin dan ada nyeri.
Sehingga dipasang double J-stent selama 2-6 minggu agar batu dapat lewat,
jika terjadi luka pada dinding saluran ginjal atau terjadi pembengkakan
pada ginjal untuk mencegah kebocoran dan memperkuat proses
penyembuhan saluran ginjal.
3) Batu berpindah tempat. Karena menggunakan air yang bertekanan untuk
memperjelas melihat saluran ginjal dan batu, terkadang tekanan tersebut
mendorong batu lebih jauh dari jangkauan ureteroscope. Jika hal ini terjadi,
DJ stent dipasang dan selanjutnya dilakukan ESWL.
4) Trauma pada mukosa saluran kemih
5) Perdarahan
6) Nyeri
7) Demam (Turk, C and at all, 2011)

Seperti semua prosedur, ada risiko dari operasi ini seperti yang
dijelaskan di bawah ini.
Anda harus meyakinkan bahwa sebagian besar pasien tidak menderita
masalah yang signifikan setelah prosedur ini. Diantara resikonya adalah:

Umum (Lebih dari 1 dari 10 pasien)

12

Pembakaran ringan atau perdarahan pada urin: ini dapat terjadi sampai
12 jam setelah prosedur. Jika stent ditempatkan gejala ini dapat berlangsung
lama.
Penyisipan sementara kateter: Sebuah kateter dapat dibiarkan dalam
waktu yang singkat setelah operasi jika terjadi perdarahan selama operasi atau
jika prosedur berkepanjangan.
Penyisipan stent dengan prosedur lebih lanjut untuk menghapusnya:
Stent kadang-kadang tersisa di tempat di akhir prosedur untuk memastikan
aliran bebas urin. Itu dapat menyebabkan iritasi dan akan membutuhkan
prosedur lebih lanjut untuk menghilangkannya sekitar 2 minggu kemudian.
Hampir semua pasien dengan stent akan mengalami beberapa gejala, namun
beratnya adalah bervariasi. Keluhan umum meliputi peningkatan urgensi dan
frekuensi buang air kecil, rasa tidak nyaman ketika buang air, urine merah
muda, tidak nyaman. .

Sesekali (Terjadi antara 1 dari 10 pasien dan 1 dari 50 pasien)


Ketidakmampuan untuk menghilangkan batu atau mendorong batu itu
kembali ke ginjal: Kadang-kadang batu tersebut berdampak pada dinding
ureter dan tidak dapat dengan aman terfragmentasi. Kadang-kadang batu-batu
kecil yang terdorong kembali ke dalam ginjal. Pada kasus ini, stent
ditempatkan, yang akan menyebabkan ureter berdilatasi, memungkinkan akses
yang aman di kemudian hari atau menyebabkan batu-batu kecil dapat masuk
ke dalam kandung kemih.
Kegagalan untuk lulus dengan aman ureteroscope: Dalam beberapa
kasus ureter ketat atau tertekuk menghalangi ureteroscope yang melewati
ureter untuk menghilangkan batu. Dalam situasi ini stent ditempatkan dan
prosedur diulang pada kemudian hari.

13

Infeksi urin: Risiko ini diminimalkan dengan menguji air seni Anda
sebelum operasi dan dengan memberikan antibiotik pada awal dari operasi.
Jika Anda merasa demam atau tidak enak badan setelah operasi atau memiliki
gejala lain infeksi, silakan ke dokter segera.
Kekambuhan batu: Sekitar setengah dari pasien yang memiliki batu
ginjal akan memiliki batu lain seumur hidup. Urolog Anda akan membahas
cara-cara untuk mengurangi risiko ini.

Jarang (Kurang dari 1 dari 50 pasien)


Kerusakan ureter: Pergerakan ureteroscope sepanjang ureter dapat
menyebabkan jaringan parut. Hal ini dapat menyebabkan penyempitan atau
penyumbatan ureter yang mungkin perlu perawatan lebih lanjut di masa
depan.
Risiko diminimalkan dengan hati-hati menggunakan stent.
Selama

fragmentasi

batu,

laser

juga

dapat

merusak

ureter

menyebabkan jaringan parut atau bahkan lubang di dinding ureter. Jika hal ini
terjadi prosedur akan ditinggalkan dan stent dimasukkan untuk mencegah
kebocoran urin.

14

DAFTAR PUSTAKA
1. Tiselius HG, Ackermann D, Alken P, Buck C, Conort P, Gallucci
M, et al. Guidelines on urolithiasis. Eur Urol. 2001;40:36271. doi:
10.1159/000049803.[PubMed] [Cross Ref]
2. Erhard M, Salwen J, Bagley DH. Ureteroscopic removal of mid
and proximal ureteral calculi. J Urol. 1996;155:3842. doi:
10.1016/S0022-5347(01)66533-9. [PubMed][Cross Ref]
3. Akhtar MS, Akhtar FK. Utility of the Lithoclast in the treatment of
upper, middle and lower ureteric calculi. Surgeon. 2003;1:1448.
doi: 10.1016/S1479-666X(03)80093-8.[PubMed] [Cross Ref]
4. Wu CF, Shee JJ, Lin WY, Lin CL, Chen CS. Comparison between
extracorporeal

shock

wave

lithotripsy

and

semirigid

ureterorenoscope with holmium:YAG laser lithotripsy for treating


large proximal ureteral stones. J Urol. 2004;172:1899902. doi:
10.1097/01.ju.0000142848.43880.b3. [PubMed] [Cross Ref]
5. Hamano S, Nomura H, Kinsui H, Oikawa T, Suzuki N, Tanaka M,
et al. Experience with ureteral stone management in 1,082 patients
using semirigid ureteroscopes. Urol Int. 2000;65:10611. doi:
10.1159/000064849. [PubMed] [Cross Ref]
6. Elashry OM, Elgamasy AK, Sabaa MA, Abo-Elenien M, Omar
MA, Eltatawy HH, et al. Ureteroscopic management of lower
15

ureteric

calculi:

Int. 2008;102:10107.

15-year
doi:

single-centre

experience. BJU

10.1111/j.1464-410X.2008.07747.x.

[PubMed] [Cross Ref]


7. Hendrikx AJ, Strijbos WE, de Knijff DW, Kums JJ, Doesburg WH,
Lemmens WA. Treatment for extended-mid and distal ureteral
stones: SWL or ureteroscopy? Results of a multicenter study. J
Endourol. 1999;13:72733.

doi:

10.1089/end.1999.13.727.

[PubMed] [Cross Ref]


8.
IAUI. (2006). Batu Saluran Kemih.

Retrieved from

www.iaui.or.id/ast/file/batusaluran _kemih.doc. Diunduh tanggal


26 Agustus 2015, pukul 20.00.
9. Ko, Raymond. (2009). Kidney Stone Clinic. Retrieved from
http://www.kidneystoneclinic.com.au/pdf/urinary-tract-double-jstent.pdf. Diunduh 26 Agustus 2015, pukul 22.00.
10. Metro urology. (2008). Double J Stent Instructions. Retrieved from
http://www.Metrourology.com/wpcontent/uploads/pdf/Procedures/
Double%20J%20Stent%20 Instructions.pdf. Diunduh 26 Agustus
2015, pukul 22.00.
11. Turk, C and at all. (2011). Guidelines on Urolithiasis. Retrieved

from

http://www.uroweb.org/guidelines/online-guidelines.

Diunduh tanggal 26 Agustus 2015, pukul 16.00.

16

Anda mungkin juga menyukai