Anda di halaman 1dari 12

TUGAS PERBAIKAN PENGANTAR MANAJEMEN & BISNIS

TENTANG
PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Disusun Oleh :
Nama

: Hera Rosdiana

NIM

: 4412216186

Jurusan

: Teknik Industri

UNIVERSITAS PANCASILA
2015

ANALISIS PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan suatu negara


dengan negara lain atas dasar saling percaya dan saling menguntungkan. Perdagangan
internasional tidak hanya dilakukan oleh negara maju saja, namun juga negara berkembang.
Perdagangan internasional ini dilakukan melalui kegiatan ekspor impor. Ekspor adalah
kegiatan menjual barang dan jasa dari dalam negeri ke luar negeri. Sedangkan, impor
adalah kegiatan membeli barang dan jasa dari luar negeri ke dalam negeri.
Perdagangan internasional melalui kegiatan ekspor impor, negara maju akan
memperoleh bahan-bahan baku yang dibutuhkan industrinya sekaligus dapat menjual
produknya ke negara-negara berkembang. Sementara itu, negara berkembang dapat
mengekspor hasil-hasil produksi dalam negeri sehingga memperoleh devisa.
Negara berkembang juga membutuhkan pinjaman dalam bentuk investasi dan modal
yang dapat diperoleh dari negara-negara maju. Devisa dan pinjaman dalam bentuk investasi
dan modal ini dapat digunakan negara berkembang untuk memajukan perekonomian dalam
negerinya.
Manfaat Perdagangan Intenasional adalah :
1. Terjalin hubungan baik antar negara
2. Kebutuhan saling tercukupi
3. Mendorong produksi lebih maksimal
4. Mendorong kemajuan teknologi
5. Setiap negara memiliki specialisasi produksi
6. Memperluas lapangan kerja
Sedangkan untuk hambatan dalam perdagangan internasional adalah :
1. Perbedaan mata uang
2. kualitas sumber daya yang rendah
3. Pembayaran antar negara sulit dan resiko besar
4. Kebijakan impor suatu negara

5. Terjadinya perang
6. Adanya organisasi-organisasi ekonomi regional

CONTOH KASUS

Ekspor dan Impor Beras di Indonesia dan Kasus Beras Sintetis atau Plastik
yang Beredar di Indonesia.
Dalam masalah ini, sebenarnya kita sama-sama mengetahui bahwa negara
kita ini merupakan negara yang sangat subur dan yang paling menguntungkan
adalah negara kita merupakan negara dengan penghasil komoditi utama yaitu beras.
Dalam hal Ekspor dan Impor, ternyata Indonesia dengan segala keunggulan
dibidang pertanian khususnya dalam hal komoditi beras, masih membeli (Impor)
beras dari negara lain.
Diantara negara yang menjalin kerjasama dengan Indonesia dalam hal impor
beras antara lain : Thailand, Vietnam, Kamboja dan Myanmar. Dari negara-negara
tersebut, contohnya Myanmar yang bisa mengekspor beras ke Indonesia karena
mereka mendapatkan surplus sekitar dua juta ton beras disebabkan oleh konsumsi
masyarakat mereka yang rendah.
Berikut data negara pemasok beras ke Indonesia pada Februari 2015:
1. Thailand 1.030 ton atau US$ 615.000.
2. Vietnam 550 ton atau US$ 219.000.
3. Pakistan 6.000 ton atau US$ 2,1 juta.
4. China 32 ton atau US$ 121.000.
5. Malaysia 300 ton atau US$ 28.000.
Dalam hal ini, ada beberapa faktor mengapa Indonesia melakukan impor
beras dari luar negri sedangkan kita sama-sama mengetahui bahwa negara kita
Indonesia ini termasuk negara yang sangat subur.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, kita dapat mengidentifikasikan masalah
sebagai berikut :

1. Mengapa Indonesia masih mengimpor beras dari luar negeri sedangkan


Indonesia termasuk salah satu negara dengan kontribusi terhadap produksi
beras dunia mencapai 8,5%?
2. Apa solusi untuk menciptakan ketahanan pangan di Indonesia?
3. Bagaimana mencegah masuknya beras yang tidak bermutu seperti pada
kasus beras plastik yang terjadi saat ini yang berasal dari beberapa negara
yang bekerja sama dengan indonesia dalam hal impor beras ?
Pemecahan masalah
1. Negara Indonesia merupakan negara yang mempunyai kekayaan sumber
daya alam yang melimpah. Hal ini terbukti dengan keadaan tanah Indonesia
yang sangat subur. Negara Indonesia memiliki peran penting sebagai
produsen bahan pangan di mata dunia. Indonesia adalah produsen beras
terbesar ketiga dunia setelah China dan India. Kontribusi Indonesia terhadap
produksi beras dunia sebesar 8,5% atau 51 juta ton. China dan India sebagai
produsen utama beras berkontribusi 54%. Vietnam dan Thailand yang secara
tradisional merupakan negara eksportir beras hanya berkontribusi 5,4% dan
3,9%.
Dalam konteks pertanian umum, Indonesia memiliki potensi yang luar
biasa. Kelapa sawit, karet, dan coklat produksi Indonesia mulai bergerak
menguasai pasar dunia. Namun, dalam konteks produksi pangan memang
ada suatu keunikan. Meski menduduki posisi ketiga sebagai negara penghasil
pangan di dunia, hampir setiap tahun Indonesia selalu menghadapi persoalan
berulang dengan produksi pangan terutama beras.
Produksi beras Indonesia yang begitu tinggi belum bisa mencukupi
kebutuhan penduduknya, akibatnya Indonesia masih harus mengimpor beras
dari Negara penghasil pangan lain seperti Thailand. Salah satu penyebab
utamanya adalah jumlah penduduk yang sangat besar. Data statistik
menunjukkan pada kisaran 230-237 juta jiwa, makanan pokok semua
penduduk adalah beras sehingga sudah jelas kebutuhan beras menjadi
sangat besar.

Penduduk Indonesia merupakan pemakan beras terbesar di dunia


dengan konsumsi 154 kg per orang per tahun. Bandingkan dengan rerata
konsumsi di China yang hanya 90 kg, India 74 kg, Thailand 100 kg, dan
Philppine 100 kg. Hal ini mengakibatkan kebutuhan beras Indonesia menjadi
tidak terpenuhi jika hanya mengandalkan produksi dalam negeri dan harus
mengimpornya dari negara lain.
Faktor lain yang mendorong adanya impor bahan pangan adalah iklim,
khususnya cuaca yang tidak mendukung keberhasilan sektor pertanian
pangan, seperti yang terjadi saat ini. Pergeseran musim hujan dan musim
kemarau menyebabkan petani kesulitan dalam menetapkan waktu yang tepat
untuk mengawali masa tanam, benih besarta pupuk yang digunakan, dan
sistem pertanaman yang digunakan. Sehingga penyediaan benih dan pupuk
yang semula terjadwal, permintaanya menjadi tidak menentu yang dapat
menyebabkan kelangkaan karena keterlambatan pasokan benih dan pupuk.
Akhirnya hasil produksi pangan pada waktu itu menurun.
Penyebab impor bahan pangan selanjutnya adalah luas lahan
pertanian yang semakin sempit. Terdapat kecenderungan bahwa konversi
lahan pertanian menjadi lahan non pertanian mengalami percepatan. Dari
tahun 1981 sampai tahun 1999 terjadi konversi lahan sawah di Jawa seluas 1
Juta Ha di Jawa dan 0,62 juta Ha di luar Jawa. Walaupun dalam periode
waktu yang sama dilakukan percetakan sawah seluas 0,52 juta ha di Jawa
dan sekitar 2,7 juta Ha di luar pulau Jawa, namun kenyataannya percetakan
lahan sawah tanpa diikuti dengan pengontrolan konversi, tidak mampu
membendung peningkatan ketergantungan Indonesia terhadap beras impor.
2. Untuk mengurangi dampak ketergantungan kita akan bahan pangan impor
dan menciptakan ketahanan pangan, diperlukan beberapa usaha di
antaranya yaitu:
1. Mematok harga dasar pangan yang menguntungkan petani dan
konsumen. Harga tidak boleh tergantung kepada harga internasional
karena

tidak berkorelasi langsung dengan ongkos produksi

dan

keuntungan. Harga harus sesuai dengan ongkos produksi dan keuntungan


petani dan kemampuan konsumen.

2. Memberikan insentif harga kepada petani komoditas pangan (terutama


beras, kedelai, jagung, singkong, gula dan minyak goreng) jika terjadi
fluktuasi harga. Hal ini sebagai jaminan untuk tetap menggairahkan
produksi pangan dalam negeri.
3. Mengatur kembali tata niaga pangan. Pangan harus dikuasai oleh negara
dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Bulog bisa
diberikan peran ini, tapi harus dengan intervensi yang kuat dari
Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan dan Kementerian
Keuangan.
4. Mengoptimalkan penelitian dan pengembangan benih varietas unggul
yang tahan terhadap anomali iklim dan berumur sedang. Ini dapat
dilakukan

dengan

melibatkan

lembaga-lembaga

penelitian,

studi

perguruan tinggi, maupun kerjasama bilateral.


5. Menambah produksi pangan secara terproyeksi dan berkesinambungan,
dengan segera meredistribusikan tanah objek landreform yang bisa
segera dipakai untuk pertanian pangan.
6. Menyediakan insentif bagi petani komoditas pangan, terutama bibit,
pupuk, teknologi dan kepastian beli.
7. Memperlancar arus distribusi hasil pertanian dengan siklus yang pendek,
sehingga dapat tersalurkan ke seluruh penjuru Nusantara dengan harga
yang terjangkau sampai ke tangan rakyat.
8. Memberikan dukungan pelembagaan organisasi petani komoditas pangan,
yakni kelompok tani, koperasi, dan ormas tani.
9. Menciptakan diversifikasi pangan yang memiliki nilai gizi yang setara
dengan beras dan ekonomis terjangkau oleh rakyat. Sehingga rakyat tidak
selalu bergantung pada ketersediaan beras. Hal ini dapat dijalankan
bersamaan dengan menggali potensi tanaman tradisional (lokal) yang
sudah terbiasa dikonsumsi oleh masyarakat setempat.
10. Untuk menunjang budidaya tanaman pangan yang lebih cermat dan
akurat perlu didukung dengan ketersediaan data iklim khususnya curah

hujan yang secara kontinyu dapat di-update secara otomatis dari stasiunstasiun iklim yang telah dipasang. Selain itu, Balitklimat telah dan sedang
menyusun kalender tanam yang diharapkan dapat membantu Dinas
Pertanian, petani dan pelaku agribisnis serta pengguna lainnya dalam
budidaya dan pengembangan tanaman pangan khususnya dan tanamantanaman semusim lainnya.
Mengapa harus Impor ?
Pertama, bulog mengklaim bahwa mereka mengimpor dengan tujuan
mengamankan stok beras dalam negeri. Bulog berargumen bahwa data
produksi oleh BPS tidak bisa dijadikan pijakan sepenuhnya. Perhitungan
produksi beras yang merupakan kerjasama antara BPS dan Kementrian
Pertanian ini masih diragukan keakuratannya, terutama metode perhitungan
luas panen yang dilakukan oleh Dinas Pertanian yang megandalkan metode
pandangan mata.
Selanjutnya, data konsumsi beras juga diperkirakan kurang akurat.
Data ini kemungkinan besar merupakan data yang underestimate atau
overestimate.

Angka

konsumsi

beras

sebesar

139

kg/kapita/tahun

sebenarnya bukan angka resmi dari BPS. Jika merujuk pada data BPS yang
didasarkan pada Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS), konsumsi
beras pada tahun ini mencapai 102 kg/kapita/tahun. Angka ini underestimate,
karena SUSENAS memang tidak dirancang untuk menghitung nilai konsumsi
beras nasional.
Sebenarnya kebijakan impor beras ini juga bisa menjadi tantangan
tersendiri bagi petani untuk meningkatkan produksi dan kualitas beras. Para
petani dituntut untuk berproduksi bukan hanya mengandalkan kuantitas tetapi
juga kualitas. Tentunya hal ini sedikit sulit terjadi tanpa adanya dukungan dari
pemerintah. Hal ini dikarenakan petani lokal relatif tertinggal dari petani luar
negeri terutama dalam bidang teknologi. Pemerintah harus memberi
kepastian jaminan pasar sebagai peluang mengajak petani bergiat menanam
komoditas tanaman pangan.
Mengapa Tidak Impor ?

Kebijakan yang dipilih pemerintah untuk membuka kran Impor juga


mendatangkan kontra. Pada satu sisi, keputusan importasi beras tersebut
berlangsung ketika terjadi kenaikan harga beras saat ini. Selain itu, produksi
padi dalam negeri dinyatakan cukup, dan masa panen masih berlangsung di
banyak tempat. Bahkan berdasarkan Angka Ramalan (ARAM) II yang
dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi nasional tahun ini
diperkirakan mencapai 68,06 juta ton gabah kering giling, meningkat 1,59 juta
ton (2,40%) dibandingkan tahun 2010 lalu. Kenaikan produksi diperkirakan
terjadi karena peningkatan luas panen seluas 313,15 ribu hektar (2,36%), dan
produktivitas sebesar 0,02 kuintal per hektar (0,04%). Sementara itu,
berdasarkan data Kementerian Pertanian, terdapat tiga provinsi yang
mencatat surplus padi, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi
Selatan. Surplus yang tejadi pada beberapa daerah ini tentunya dapat
dijadikan cadangan oleh Bulog dan untuk didistribusikan ke daerah lain yang
mengalami defisit.
Selanjutnya, impor beras yang terjadi di tengah produksi berlebih
menurut data BPS sekarang ini memiliki dampak negatif yang panjang,
seperti berkurangnya devisa negara, disinsentif terhadap petani, serta
hilangnya sumber daya yang telah terpakai dan beras yang tidak dikonsumsi
dan terserap oleh bulog.
3. Beberapa kebijakan atau aturan pemerintah untuk mencegah masuknya

beras yang tidak bermutu seperti pada kasus beras plastik yang berasal dari
negara-negara yang bekerja sama dengan indonesia dalam hal impor.
Rakyat Indonesia dihebohkan dengan qberedarnya barang tiruan asal
China yang membahayakan kesehatan. Barang yang dimaksud bukanlah
mainan, produk pakaian bekas, ataupun elektronik tiruan dari negara itu yang
lazim ditemui di pasar.
Adalah beras, komoditas pangan pokok yang dikonsumsi hampir 250
juta penduduk Indonesia. Heboh beras palsu berbahan plastik ini awalnya
santer diperbincangkan di media sosial setelah cara pembuatannya
diunggahnya video di lama youtube beberapa tahun lalu. Karena itu,
beredarnya beras palsu yang kabarnya berasal dari Taiyuan, provinsi

Shaanxi, China, dengan sekejap mata tersebar luas di media sosial dan
menjadi topik hangat di negara-negara yang masyarakatnya konsumen beras.
Saat ini, beras palsu tersebut dikabarkan telah mencapai di pantai
beberapa negara Asia seperti, Vietnam, Malaysia dan India. Bahkan berita
terbaru seperti dikutip dari Malaysia Cronicle, beras plastik itu sudah
mendarat di Singapura.
Di Indonesia, informasi telah beredar beras palsu itu berasal dari Dewi
Septiani, seorang pedagang nasi uduk dan bubur ayam di Ruko GT Grande
Mutiara Gading Timur, Bekasi.
Secara kasat mata beras palsu tersebut tidak terlalu jelas terlihat. Tapi,
ukurannya lebih besar jika diperhatikan dengan seksama, warna putihnya
juga lebih bersih dan mengkilat. Namun, perbedaan akan sangat mencolok
setelah dimasak. Beras palsu jika ditekan menggunakan dua jari akan
meninggalkan bekas putih dan hancur dengan cepat. Sedangkan beras asli,
meskipun ditekan masih lebih pulen, selain itu

beras asli akan menyatu

dengan air jika dimasak menjadi bubur. Beras yang diduga berbahan plastik
sintetis tersebut tidak menyatu dan masih terlihat bentuk awalnya.
Beras yang palsu dari China, kabarnya menggunakan bahan baku kentang
atau umbi-umbian yang dicampur oleh resin sintetik. Resin sendiri adalah
eksudat (getah) yang dikeluarkan oleh banyak jenis tetumbuhan, terutama
oleh jenis-jenis pohon runjung (konifer). Getah ini biasanya membeku, lambat
atau segera, dan membentuk massa yang keras dan, sedikit banyak,
transparan. Dalam hal ini resin yang dipakai adalah sintetis dan yang telah
dicampur bahan kimia.
Kepala ahli gizi National Heart Institute (IJN), Mary Easaw-John seperti
dikutip dari The Straits Times Asia menegaskan beberapa zat seperti resn
plastik, tidak diperbolehkan untuk konsumsi. "Dan dalam jika dikonsumsi
dalam jangka panjang memiliki implikasi serius pada sistem pencernaan,"
ujarnya.
Di China sendiri menurutnya, pemalsuan makanan adalah masalah serius
yang terjadi. Karena sekitar 300.000 orang jatuh sakit dan setidaknya enam

bayi meninggal pada 2008, ketika susu dan formula bayi di negara itu
ditemukan produksinya dicampur oleh melamin.
Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan menerbitkan aturan peredaran
merek beras menyusul adanya temuan beras yang diduga terbuat dari plastik
di Bekasi. Aturan tersebut nantinya berupa Peraturan Menteri Perdagangan
(Permendag). Menteri perdagangan Rachmat gobel menyatakan bahwa akan
melakukan pengetatan terhadap izin kepada perusahaan-perusahaan yang
khususnya di (kegiatan) distribusi beras, termasuk kepada mereka yang
mempunyai merek-merek (beras) sendiri. Pemerintah mengakui selama ini
Kemendag tidak memiliki data merek beras yang beredar. Dampaknya,
Kemendag tidak dapat segera mengetahui siapa yang memproduksi suatu
merek beras. Oleh sebab itu Kemendag akan mendata semua merek beras
yang beredar di pasaran.
Selain itu, produsen beras yang memproduksi beras campuran dalam satu
kemasan (oplosan) juga wajib melaporkan kepada Kemendag. Direktur
Jenderal

Standardisasi

dan

Perlindungan

Konsumen

Kementerian

Perdagangan Widodo menjelaskan aturan tersebut nantinya tidak mewajibkan


produsen beras mendaftarkan merek dagang berasnya.
Dalam masalah-masalah diatas, adanya proses impor beras dari luar negri
disaat nilai produksi beras di Indonesia mengalami surplus memang banyak
menimbilkan tanda tanya. Seharusnya, pemerintah dalam hal ini khususnya Bulog
melakukan manajemen stok yang lebih baik, bulog harus memaksimalkan
penyerapan beras dari para petani lokal. Hal ini selain dapat mengamankan stok
beras juga dapat menghasilkan pendapatan bagi petani sehingga kesejahteraan
petani dapat naik. Bulog harus lebih agresif menyerap gabah dari petani agar
mereka tidak dirugikan.
Selanjutnya, pemerintah diharapkan dapat menggelar operasi pasar untuk
menstabilkan harga. Hal ini tentunya harus diimbangi dengan manajemen stok yang
baik. Pemerintah harus berkomitmen kuat mengatasi segala persoalan perberasan
nasional secara komprehensif dari hulu ke hilir agar tidak harus selalu bergantung
pada impor.

Akan tetapi, kebijakan untuk mengimpor beras dengan alasan pengamanan


stok oleh Bulog ini tidak dapat sepenuhnya disalahkan. Hal ini dikarenakan data
produksi dan data konsumsi beras yang masih diragukan keakuratan dalam
perhitungannya. Pada akhirnya, tugas bagi berbagai pihak yang terkait adalah
memperbaiki kinerja masing-masing. BPS diharapkan dapat memberikan data yang
lebih akurat lagi. Akan tetapi, diperlukan juga kebijaksanaan oleh Bulog agar setiap
kebijakan yang diambil tidak merugikan petani lokal yang kesejahteraannya masih
rendah tanpa mengorbankan ketahanan pangan Indonesia.