Anda di halaman 1dari 8

UJI HOMOGENITAS DAN STABILITAS

Uji Homegenitas
Ini adalah materi Lanjutan dari tulisan tentang Uji Banding
Pada tulisan mengenai uji banding, disana saya katakana bahwa sebelum sampel itu dikirim
maka perlu dilakukan uji homogenitas terlebih dahulu. Kenapa perlu dilakukan uji
homogentis? Bagaimana cara melakukan uji Homogenitas? Maka pada tulisan kali ini saya
akan mencoba menjawab 2 pertanyaan tersebut.
Apa uji Homogenitas? Menurut kamus Besar Homogen artinya adalah tipe, jenis, macam,
watak yang sama, tidak berbeda-beda; serba sama, merupakan suatu yang utuh tidak
terpecah-pecah atau bila dijabarkan dalam istilah kimia homogen adalah suatu kondisi
dimana tiap bagian-bagian terkecil suatu sampel memiliki komposisi yang sama. Jadi
apabila kita mengambil satu bagian dari sampel, kemudian kita mengambil bagian dari lain
dari sampel maka komposisinya pastilah sama.
Bagaimana cara kita menentukan suatu sampel itu homogen atau tidak? Apakah cukup dilihat
dengan kasat mata? BIla sampel tersebut dalam ukuran yang besar mungkin dengan kasat
mata saja cukup. Berbeda hal nya bila yang ingin kita amati berbentuk mikro. Misalkan
kandungan vitamin C dalam suatu kapsul. Kita tidak bisa melihat dengan mata telanjang
bahwa vitamin C tersebut menyebar dengan merata di bagian-bagian kapsul tersebut. Untuk
mengetahuinya maka perlu dilakukan uji Homogenitas.
Mengapa uji homogenitas ini amat penting dalam pelaksanaan uji banding? Karena kita tidak
ingin sampel yang di analisa oleh Lab A berbeda dengan Lab C, lab D dan lab lain peserta uji
banding. Yang kita inginkan adalah sampel yang diterima oleh masing-masing lab dalam
komposisi yang sama sehingga hasil uji banding hanya dipengaruhi oleh kompetensi Lab uji.
Dengan begitu maka penilaian akan menjadi fair.
Sekarang Saya akan berlanjut ke tahapan pelaksanaan teknis Uji homogenitas. Seperti yang
telah saya ungkapkan pada tulisan yang berjudul uji banding. Sampel yang harus disiapkan
sebanyak jumlah lab uji ditambah dengan 10 sampel untuk uji banding, dan 3 sampel untuk
uji homogenitas. Jadi bila peserta uji banding adalah 20 lab maka sampel yang harus
disiapkan adalah 33 buah.
Pada saat pengemasan sampel, masing-masing kemasan diberi kode 1 hingga 33. Untuk uji
homogenitas kita ambil 10 sampel secara acak. Misalkan kita ambil nomor
2,5,8,10.13.17,20,24,27,dan 31. Lalu masing-masing kode sampel itu kita ubah kodenya
menjadi 1, 2 dst hingga 10. Maka kita akan dapatkan 10 sampel dengan kode 1 hingga 10.
Tahap selanjutnya adalah masing-masing sampel itu kita bagi menjadi 2 bagian untuk
pengukuran simplo dan duplo. Kita beri kode 1.1 dan 1.2, 2.1 dan 2.2 dan seterusnya. Kita
akan memiliki 20 sampel yang siap diuji. Berikut saya tampilkan contoh table kode sampel
yang akan diuji:

Nomor
Kemasa
n yang
diambil

10

13

17

20

24

27

31

Nomor
kemasan
baru

10

Nomor 1. 1. 2. 2. 3. 3. 4. 4. 5. 5. 6. 6. 7. 7. 8. 8. 9. 9. 10.
10.2
test
1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1

Tahap selanjutnya adalah analisa sesuai dengan metode yang telah ditentukan oleh
laboratorium. Pada saat pengujian, urutan sampel yang diuji harus diacak kembali, misalkan:
Nomor
10.
4.11.28.12.23.13.21.14.2
5.26.16.27.19.22.18.29.17.25.110.2
test
1
Jadi yang kita analisa adalah sampel dengan kode 4.1 dilanjut dengan 1.2 dan seterusnya.
Setelah semua sampel dianalisa. Data yang diperoleh dimasukkan ke dalam table berikut:
Kemasan Data-1 Data-2
2(1)
5(2)
8(3)
10(4)
13(5)
17(6)

20(7)
24(8)
27(9)
31(10)
Selanjutnya kita lakukan perhitungan untuk menentukan nilai Standar deviasi nya yang
didapatkan dari rumus dibawah ini:

Dimana:
Ss

= Standar Deviasi total

Sx

= Standar deviasi rata-rata lab

Sw

= Standar deviasi antara simplo dan duplo

Untuk menghitung masing-masing nilai menggunkan rumus dibawah ini:

Dimana:
Xt,.

= Rata-rata data simplo dan duplo

Wt

= Perbedaan data simplo dan duplo dimutlakkan

Xr.,.

= Rata-rata perbedaan data simplo dan duplo n sampel ke-1 hingga ke-10

= Jumlah sampel (10)

Sebagai contoh akan saya gambarkan tabe yang berisi data-data di atas:
Kemasan Data-1 Data-2 Xt,.

Xt,.-Xr.,. (Xt,.-Xr.,.)2 Wt

wt2

10.12

10.17

10.15

0.02

0.0003 0.05 0.0025

10.22

10.19

10.21

0.08

0.0060 0.03 0.0009

9.99

10.09

10.04

-0.09

0.0077 0.10 0.0100

10.08

10.01

10.05

-0.08

0.0068 0.07 0.0049

10.29

10.24

10.27

0.14

0.0189 0.05 0.0025

10.03

10.12

10.08

-0.05

0.0028 0.09 0.0081

10.25

10.19

10.22

0.09

0.0086 0.06 0.0036

10.26

10.17

10.22

0.09

0.0077 0.09 0.0081

9.98

9.99

9.99

-0.14

0.0203 0.01 0.0001

10.05

10.11

10.08

-0.05

0.0023 0.06 0.0036

2(1)
5(2)
8(3)
10(4)
13(5)
17(6)
20(7)
24(8)
27(9)
31(10)
X.,.

10.13

0.0812

0.0443

0.0950
Sx

0.0471
Sw

0.0090
Sx

0.0022
S

2
w

0.0011
2
w

S /2

Ss

0.0825
Untuk menentukan sampel di atas homogeny atau tidak, maka kita bandingkan dengan
menggunkan nilai horwitz yang diperoleh dari perhitungan sebagai berikut:
21-0,5logC
CV Horwitz

Konsentrasi

10.13
0.00001013
-4.9944
log C

0,5 log C

-2.4972
3.4972
1-0,5 Log C

21-0,5logC

11.2917
11.2917
CVHorwitz

Shorwitz

1.1439
0.3432
0,3 x S Horwitz =
Sampel dianggap Homogen apabila nilai Ss < 0,3xSDPA(CVHorwitz)
Dari perhitungan di atas, didapatkan nilai Ss adalah 0,0825 sedangkan CVHorwitz adalah 0,3432
yang berarti nilai Ss lebih kecil dari pada nilai CVHorwitz
Hal di atas menunjukkan bahwa sampel telah homogen.

Karena sampel tersebut telah homogen, maka sampel siap didistribusikan untuk dilakukan uji
banding.
untuk diskusi lebih lanjut dapat mengirim e-mail ke karim.abdullah@yahoo.com
Read Full Post

Sebuah pengenalan Singkat tentang uji banding


Diposkan dalam Uncategorized, tagged uji banding, uji dixone, uji grubss, uji profisiensi, zscore pada Februari 28, 2013 | Leave a Comment
Terlalu sering mengomentari tentang kondisi perpolitikan dan sosial yang terjadi saat ini
ternyata membuat saya menjadi bosan. Oleh karena itu maka pada kesempatan kali ini saya
akan membahas tentang ilmu dasar yang saya miliki yaitu kimia analitik
Untuk orang-orang yang berkecimpung di dunia kimia analitik mungkin sudah tidak asing
lagi dengan kata uji banding, uji profisiensi, namun untuk sebagaian masyarakat istilah itu
tidak terlalu familiar. oleh karena itu pada tulisan ringkas ini saya ingin berbagi tentang apa
itu uji banding.
Kenapa harus dilakukan uji banding.? karena sebagai laboratorium yang menerapkan ISO
SNI 19-17025-2008 harus menerapkan semua persyaratan yang ada di dalam SNI tersebut.
Salah satu pasal yang ada dalam SNI tersebut adalah pasal 5.9 yang berbunyi Laboratorium
harus mempunyai prosedur pengendalian mutu untuk memantau keabsahan pengujian yang
dilakukan. Pemantauan tersebut mencakup;1 keteraturan penggunaan bahan acuan
bersertifikat, partisipasi dalam uji banding anatar laboratorium atau program uji profisiensi,
dan lain-lain. Itu adalah dasar kenapa uji banding/uji profisiensi harus dilakukan.
Sekarang saya akan menjelaskan apa itu uji banding. Sebuah produk yang akan dijual kepada
konsumen harus lah sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan. Banyak pengujian yang
harus dilakukan sebelum produk tersebut mendapatkan label siap diedarkan. Ada pengujian
secara kimia dan ada juga pengujian secara fisika. Nah saya akan memfokuskan pada
pengujian secara kimia. Karena hasil pengujian ini amat penting bagi keberlangsungan
produk tersebut, maka data hasil pengujian haruslah akurat sesuai dengan kondisi yang
sebenarnya. Bagaimana kita mengetahui bahwa hasil analisa itu telah sesuai atau tidak
sesuai? itu dapat dilakukan dengan berbagai macam cara seperti yang saya tulis pada paragraf
ketiga bisa melalui uji bahan bersertifikat atau dengan cara melakukan uji banding
Untuk uji bahan bersertifikat atau yang biasa disebut dengan CRM (certified Reference
material) memiliki kendala dalam hal ketersediaan bahan tersebut, selain harganya mahal,
keberadaanya pun sulit untuk ditemukan. Oleh karena itua maka dilakukan cara ke-dua yaitu
uji Banding. Apa itu uji banding? yaitu pengujian suatu sampel yang sama di berbagai lab
yang berbeda untuk mengetahui apakah hasil yang didapat telah akurat atau belum.
Sederhananya adalah sebagai berikut; Saya menguji kandungan vitamin C di dalam suatu
minuman. Saya mendapatkan hasil analisa bahwa kandungan vit-C adalah 100ppm, apakah
hasil saya itu telah sesuai atau belum? untuk mengetahuinya maka saya kirim sampel saya
tersebut ke Laboratorium lain untuk diuji kandungan vitamin C nya. Bila lab itu

menghasilkan angka yang tidak jauh berbeda dengan 100ppm berarti pengujian kita bisa
disebut akurat, namun bila tidak sama maka perlu dilakukan investigasi kenapa hasil analisa
tidak sama padahal sampel yang di uji sama.
Namun pada kenyataanya, prosedur uji banding dan uji profesiensi tidak sesederhana itu.
Banyak tahapan yang harus dipersiapkan hingga akhirnya kita dapat menarik kesimpulan
bahwa hasil analisa kita tersebut telah sesuai atau belum? adapun tahapan-tahapan yang harus
dilakukan adalah sebagai berikut:
1. tahap Persiapan
Pada tahap ini kita mempersiapkan kebutuhan untuk uji banding meliputi tim yang akan
bertanggung jawab dalam uji banding, sampel yang akan diuji, waktu pengujian serta cara
mengolah data.
2. Tahap persiapan sampel.
Sampel yang diuji harus dalam keadaan homogen. Untuk menghomogenkannya dapat
dilakukan dengan berbagai macam cara. Sampel padatan dihomogenkan dengan cara
penghalusan terlebih dahulu hingga ukuran 200mikor, lalu diaduk. Setelah itu sampel
dimasukkan ke dalam wadah yang sesuai seperti alumunium foil atau lainnya. JUmlah
kantong sampel harus sebanyak jumlah lab uji yang akan menguji ditambah dengan 10
sampel untuk uji homogentias dan 3 sampel untuk uji stabilitas. Bila peserta uji adalah 7 lab
maka sampel yang disiapkan adalah 20 kantong. Sampel yang telah disiapkan tersebut
selanjutnya diuji homogenitasnya dengan cara mengambil 10 sampel, kemudian diuji dengan
metode yang telah ditentukan. data hasil uji selanjutnya dihitung dengan suatu perhitungan
statistik yang. Bila nilai uji lebih kecil dari nilai teoritis berarti sampel tersebut siap untuk
disebar.
3.tahap pengiriman.
Sampel dikirim kepada peserta uji banding dengan menggunkan wadah khusus yang dapat
mencegah kontaminasi atau kerusakan sampel.
4. Tahap analisa
Sampel dianalisa oleh masing-masing Laboratorium sesuai dengan metode yang mereka
gunakan. data yang diperoleh selanjutnya diserahkan kepada panitia untuk dihitung dengan
menggunkan metode analisa tertenut.
5.Tahap perhitungan
Perhitungan dilakukan dengan menggunkan Z-score atau robust Z-score. Perhitungan dengan
menggunakan metode ini akan menghasilkan nilai bagi masing-masing peserta uji. ada 3
kategori yaitu kompeten, diperingati dan yang terakhir adalah outlier. Namun bila peserta uji
banding hanya 2 Laboratorium dapat diuji dengan menggunkan t-student. Untuk menghitung
dengan menggunkan Z-score, data yang didapat sebaiknya diuji terlebih dahulu dengan
menggunkan uji dixone atau grubss untuk membuang data yang outlier. Pembuangan data ini
penting agar data keseluruhan tidak menjadi kacau.

P
PELATIHAN JAMINAN MUTU DATA HASIL PENGUJIAN
METRIZALBANDUNG, 25-29 Juli 2011
I.PENDAHULUAN
Di bidang perdagangan dan kegiatan komersil lainnya sering kali diperolehhasil
analisis yang berbeda untuk contoh yang sama. Hal ini disebabkankarena hasil
tersebut diperoleh dari laboratorium atau analis yang berbeda.Bagi pengguna
data perbedaan yang kecil dapat memberikan dampak yangbesar. Keputusan
yang didasarkan atas data analisis yang tidak akurat iniakan menghadapi resiko
kesalahan yang besar, termasuk kerugian dari segiekonomi.Kesalahan hasil uji
pada prinsipnya memiliki dua golongan yaitu pertama,kesalahan yang bersifat
acak
(random error)
yaitu kesalahan yangditimbulkan oleh efek yang bersifat tidak tentu (acak) yang
kesalahantersebut tidak dapat dielakkan. Sumber kesalahan acak
(random)
meliputimasalah homogenitas contoh, perbedaan analis dari hari ke hari,
perubahanlingkungan laboratorium, kesalahan pembacaan pada peralatan, dan
noise
dari instrument. Kedua, Kesalahan sistematik berbeda dengan kesalahanacak,
kesalahan sistematik ditimbulkan oleh factor-faktor tertentu
sehinggamenghasilkan kesalahan yang praktis konstan yang disebut dengan
bias.Sumber kesalahan sistematik meliputi penyimpanan contoh yang salah,