Anda di halaman 1dari 19

KOMPETENSI PELATIH DALAM PENGEMBANGAN PROFESIONAL

Oleh : Herliana, M.Pd (Widyaiswara LPMP NAD)


Saat ini kegiatan pembelajaran di antara guru, kepala sekolah, dan pengawas
menjadi salah satu alat untuk membangun komunitas belajar. Selain bertugas sebagai
guru, kepala sekolah dan pengawas, posisi ini juga seringkali bertransformasi sesaat
sebagai pelatih bagi rekan kerja masing-masing, seperti pada pertemuan KKG,
MGMP, KKKS, KKPS atau pada kegiatan pelatihan lainnya di lingkungan kedinasan
masing-masing. Hal ini dimaksudkan untuk menumbuhkan semangat belajar, berbagi
informasi dan lessons learnt, dan melatih keterampilan praktis berkaitan dengan
kegiatan belajar mengajar.
Pelatih

merupakan

posisi

yang

penting

dalam

susksesnya

suatu

pengembangan profesional. Penguasannya terhadap materi latih tidak cukup untuk


menjadi andalan bila tidak didampingi dengan beberapa keahlian lain. Keahlian lain
ini berkaitan dengan pemahaman mengenai metode pembelajaran orang dewasa dan
keterkaitan kegiatan belajar dalam pelatihan tersebut dengan kegiatan profesional
para siswa latihnya selama ini. Selain itu pemahaman mengenai pengembangan
karirnya sendiri juga menjadi salah satu kompetensi penting seorang pelatih yang
sukses.
Berikut adalah beberapa kompetensi pelatih yang dapat menjadi bahan
masukan bagi pelatih dan pengembang praktisi lainnya dalam usaha meningkatkan
kualitas pelatihan.
1. Memahami cara belajar orang dewasa
UNESCO memberikan batasan mengenai pembelajaran orang dewasa sebagai
keseluruhan proses pendidikan yang diorganisasikan, apapun isinya, tingkatan dan
metodenya, baik formal maupun tidak, yang melanjutkan maupun menggantikan
pendidikan semula di sekolah, kolese dan universitas serta latihan kerja, yang
membuat orang dewasa dianggap dewasa oleh masyarakat mengembangkan

kemampuannya, memperkaya pengetahuannya, meningkatkan kualifikasi teknis atau


profesionalnya, dan mengakibatkan perubahan pada sikap dan prilakunya dalam
perspektif rangkap perkembangan pribadi secara utuh dan partisipasi dalam
perkembangan sosial, ekonomi dan budaya yang seimbang dan bebas.1
Pengetahuan mengenai cara belajar orang dewasa menjadi salah satu
pengetahuan wajib bagi seorang pelatih, karena peserta pelatihan pada umumnya
adalah orang dewasa yang telah memiliki pengelaman di bidangnya masing-masing.
Mereka unik secara individu, dengan latar pendidikan berbeda, adat istiadat, tata nilai
masyarakat yang berbeda dan cara pandang serta kemampuan berbeda. Untuk dapat
memahami mereka, seorang pelatih membutuhkan pengetahuan mengenai cara
belajar orang dewasa.
Terdapat beberapa hal yang semestinya menjadi perhatian pelatih dalam suatu
pelatihan untuk orang dewasa, yaitu:
a. Hambatan fisiologis
;

Dengan bertambahnya usia, titik-dekat penglihatan, atau titik terdekat yang


dapat dilihat secara jelas, mulai bergerak makin jauh. Pada usia 20 tahun
seseorang dapat melihat jelas suatu benda pada jarak 10 cm dari matanya,
namun pada usia 40 tahun titik dekat penglihatan itu sudah menjauh sampai 23
cm.

Karena faktor usia pula, titik-jauh penglihatan mulai berkurang atau makin
pendek.

Jumlah penerangan yang dibutuhkan untuk belajar pada usia 20 tahun adalah
100 Watt cahaya, namun pada usia 40 tahun dibutuhkan 145 Watt, dan usia 70
tahun seterang 300 Watt untuk dapat melihat dengan jelas.

Persepsi kontras warna cenderung ke arah merah daripada spektrum. Hal ini
disebabkan oleh menguningnya kornea mata, sehingga cahaya yang masung
agak tersaring. Akibatnya kurang dapat membedakan warna-warna lembut.

1 Edwin K. Townsend Coles dalam A.G. Lunandi. Pendidikan Orang Dewasa.1989. Jakarta: P.T.
Gramedia.

Untuk jelasnya perlu digunakan warna-warna cerah yang kontras untuk alatalat peraga.
;

Kemampuan pendengaran jauh berkurang pada usia 40 tahun ke atas. Pria


cenderung lebih mundur dalam hal ini dibandingkan wanita.

Kemampuan

membedakan

bunyi

juga

menjadi

berkurang

seiring

bertambahnya usia. Pembicaraan yang terlalu cepat sukar ditangkap. Bunyi


latar seakan menyatu dengan suara orang yang sedang didengarkan. Sukar pula
membedakan bunyi konsonan seperti t, g, b, c, dan d.
b. Psikologis
Orang dewasa memiliki sikap tertentu dalam suatu situasi belajar, maka pelatih
semestinya memperhatikan hal-hal berikut:
;

Mereka tidak diajar, tetapi dimotivasi untuk mencari pengetahuan baru,


keterampilan baru, sikap yang berbeda.

Orang dewasa belajar bila mereka menemukan arti pribadi dan melihat adanya
hubungan dari apa yang dipelajari dengan kebutuhannya.

Belajar bagi orang dewasa seringkali menjadi proses yang menyakitkan, karena
belajar adalah perubahan prilaku, yang kadang juga berarti meninggalkan
kebiasan, norma dan cara berfikir lama yang sudah melekat.

Orang dewasa belajar dari sesuatu yang dialami. Sedikit sekali hasil belajar
diperoleh melalui ceramah, khotbah, atau dengan digurui.

Proses belajar bagi mereka adalah khas dan bersifat individual. Setiap orang
memiliki kecepatan dan cara sendiri untuk memecahkan masalah.

Sumber terkaya untuk bahan belajar terdapat di dalam diri orang dewasa tersebut.
Pengalaman mereka perlu digali dan ditata kembali dengan cara yang lebih
berarti.

Belajar adalah proses emosional dan intelektual sekaligus.

Belajar juga merupakan hasil kerjasama antarmanusia. Dua atau lebih banyak
yang saling memberi dan menerima akan belajar lebih banyak, karena adanya
pertukaran pengetahuan dan pengalaman.

Belajar adalah proses evolusi. Kemampuan orang dewasa untuk mengerti,


menerima, mempercayai, menilai, mendukung, memerlukan suatu proses yang
yang berkembang secara perlahan.

2. Keterampilan penggunaan A/V


Seorang pelatih semestinya terampil menggunakan alat-alat audio, visual
maupun audio visual. Peralatan ini akan sangat membantu pelatih mengolah
pembelajaran menjadi lebih menarik, lebih fokus dan dapat memacu motivasi belajar
para trainee. Alat-alat yang biasanya dipakai dalam sebuah training adalah2:
1; Peralatan proyeksi (optik), seperti:
;

Overhead Projector (OHP) dengan transparansinya.

Microform Reader

Film strip projector

Slide projector

Ilm loop projector

Motion picture projector

2. Peralatan elektronik
;

Radio cassette recorder

Turner (penala radio)

Open reel tape recorder (perekam pita audio)

Cassette recorder (perekam kaset audio)

Amplifier

Loudspeaker

2 Arief S. Sadiman. Media Pendidikan.1996. Jakarta: P.T.RajaGrafindo Persada

Cassette synchrocorder (perekam kaset audio sinkron)

Video tape recorder (perekam pita video), termasuk VTR 1 inchi, VTR 2
inchi, dan VTR inchi.

Video cassette recorder (perekam kaset video), termasuk VCR inchi (Umatic) dan VCR inchi (sistem Beta dan VHS)

Video disc (Piringan video)

Video cartridge (sambang video)

Video monitor

Proyektor video

3. Pemahaman pengetahuan pengembangan karir


Seorang

pelatih semestinya mengetahui prosedur dan tata laksana

penngembangan karirnya sesuai dengan kebijakan di mana ia bekerja. Untuk seorang


Pegawai Negeri Sipil yang bekerja sebagai pelatih di lembaga pemerintahan,
peraturan yang berlaku sesuai dengan ketentuan pemerintah mengenai jabatannya di
lembaga tempat ia bekerja. Untuk trainer yang bekerja di perusahaan swasta,
pengembangan karirnya ditentukan oleh kebijakan perusahaan. Hal- hal yang
berkaitan dengan pengembangan karirnya semestinya diketahui secara jelas, sehingga
tidak menimbulkan masalah dalam kegiatannya melakukan pelatih maupun
kebutuhan finansial dan masa depan karirnya.
4. Keterampilan identifikasi: job, tugas dan peranan.
Seorang pelatih harus dengan cermat mengetahui wilayah kerjanya, tugastugas yang diembannya dan peranannya dalam tugas tersebut. Hal ini berkaitan
dengan pertanggungjawabannya dari segi pekerjaan dan secara moral. Berkaitan
dengan identifikasi job, tugas dan peranan seorang trainer harus dapat menjawab
pertanyaan-pertanyaan antara lain:

a; Apa tugas yang diembannya?


b; Siapa yang menjadi partnernya dalam tugas tersebut?
c; Seberapa jauh ia bertanggung jawab dalam tugas tersebut?
d; Kepada siapa ia bertanggung jawab?
e; Kapan tugas itu harus diselesaikan?
f; Apa yang ia peroleh baik secara materil maupun non materil dari tugas tersebut?
g; Apa tujuan dari tugas-tugas tersebut?
5. Kompetensi Komputer
Komputer menjadi alat yang sangat memegang peranan penting dalam
suksesnya sebuah training. Untuk itu seorang trainer harus berkompeten
menggunakannya secara maksimal. Komputer tidak saja digunakan secara manual,
seperti penggunaan program Microsof Office dalam kemampuan tingkat rendah
(seperti mengetik dan membuat tabel dalam program Microsoft Word), melainkan
juga harus dapat dimanfaatkan dalam bentuk pengolahan data saat ini, data penelitian
untuk prediksi, data base untuk kepentingan pegawai dan sebagainya.
6. Keterampilan Analisis Cost Benefit
Analisis Cost Benefit adalah analisis ekonomi untuk melihat keberhasilan
suatu training dari segi biaya (financial). Analisis Cost Benefit adalah bagian dari The
Rate-of-Return Approach, yang merupakan pendekatan dalam bidang ekonomi, yang
selanjutnya diaplikasikan dalam bidang pendidikan untuk merencanakan kegiatan
pendidikan yang efektif dan efisien dari segi biaya.3
Perencanaan yang matang dari seorang trainer dibutuhkan untuk menghindari
kekurangan biaya yang berakibat fatal dalam keberhasilan training. Perencanaan

3 Barrios, M and Russel G. Davis. The Rate-of-Return Approach to Educational Planning. Issues and
Problems in the Planning of Education in Developing Countries.1980.Massachusetts:Harvard
University..

dengan pendekatan ini memungkinkan sebuah pelatihan berjalan secara baik tanpa
adanya kerugian dari segi biaya.

7. Keterampilan Konseling: Needs, Values, Masalah, Alternatif, Goals.


Dalam perencanaan sebuah pelatihan, seorang pelatih membutuhkan
keterampilan konseling dengan kliennya. Keterampilan ini meliputi4:
a; Bagaimana ia mengidentifikasi kebutuhan kliennya, apakah kebutuhan itu akan
teratasi dengan training atau non training.
b; Mengetahui nilai dari training tersebut. Nilai di sini adalah penghargaan yang
diberikannya terhadap tugasnya dalam training yang akan dijalankan. Seorang
trainer harus dapat merasakan apa itu, untuk apa itu dilakukan, apakah itu
cukup berharga untuk dilaksanakan.
c; Mengetahui secara jelas permasalahan yang ada. Hal ini dapat dilakukan dengan
berbagai metode seperti observasi, interview, menyebarkan kuisioner, dan
sebagainya.
d; Dengan mengetahui masalah, dapat dilakukan analisis alternatif pemecahnnya
berdasarkan penyebab masalah. Perlu ditekankan bahwa tidak semua masalah
dapat diselesaikan dengan training. Bila suatu masalah tidak dicari penyebabnya,
maka pengadaan training untuk penyelesaian itu seringkali menjadi sia-sia.
e; Setelah alternatif penyelesaian masalah ditemukan, kemudian disusun prioritas
penyelesaian masalah, maka dapat ditentukan goal yang hendak dicapai.
Penentuan goals (tujuan umum) akan memberikan arah yang jelas bagi semua
kegiatan yang dilaksanakan, sehingga kegiatan akan berjalan efektif dan efisien.
8. Keterampilan reduksi data
4 Rossett, Allison. Training Needs Assessment. New Jersey: Educational Technology Publication.

Salah satu tugas pelatih adalah melakukan Training Needs Assessement


(TNA) atau Analisis Kebutuhan Pelatihan. TNA diawali dengan mencari data yang
akurat, yang selanjutnya diolah dengan teknik analisis data tertentu. Dari analisis data
yang dilakukan dapat diambil suatu kesimpulan berkaitan dengan kebutuhan
pelatihan. Reduksi data meliputi analisis, sisntesis dan menarik kesimpulan
berdasarkan analisis data yang tepat. Keterampilan mereduksi data semestinya
dimiliki seorang pelatih agar pelatihan yang dilakukan tepat sesuai dengan ketentuan
yang ada.
9. Keterampilan mendelegasi wewenang
Seorang pelatih bekerja sama dengan beberapa orang lain di satu kawasan
kerja, dalam usaha mencapai tujuan pelatihan secara efektif dan efisien. Dalam
menjalankan tugas-tugasnya pelatih harus dapat mendelegasikan wewenangnya
kepada orang-orang di sekitarnya, yang dianggap mampu menjalankan tugas dan
tanggung jawab tersebut.
10. Keterampilan mengelola fasilitas
Fasilitas memegang peranan penting dalam keberhasilan sebuah pelatihan.
Dengan pengetahuan pengelolaan fasilitas,s eorang pelatih dapat secara teratur
menggunakan fasilitas tersebut, tanpa adanya kesulitan akibat kerusakan dini,
kehilangan, sirkulasi yang tidak teratur, dan sebagainya. Untuk itu semestinya
fasilitas pelatihan, baik hardware maupun software dikelola dengan baik dan penuh
tanggung jawab oleh pelatih. Pengelolaan ini meliputi pengadaan, penyimpanan,
perawatan, pelayanan/ sirkulasi, dan perbaikan.
11; Keterampilan menganalisis, observasi, dan umpan balik
a; Analisis5 adalah kemampuan memecah atau menguraikan suatu materi atau
informasi menjadi komponen-komponen yang lebih kecil sehingga lebih mudah
5 Adi W. Gunawan. Genius Learning Strategy. 2004. Jakarta: P.T Gramedia Pustaka Utama

dipahami. Dengan adanya kemampuan ini pelatih dapat lebih cermat menentukan
prioritas, hubungan, dan dapat menarik kesimpulan dengan baik.
b; Observasi adalah salah satu teknik pengumpulan data melalui pengamatan
langsung dan pencatatan sistematis terhadap subjek. Pengetahuan mengenai
observasi mutlak harus diketahui pelatih, agar observasi berjalan dengan objektif
dan memberi hasil pengolahan data yang benar. Berdasarkan pelaksanaannya
teknik observasi ini dibedakan menjadi6:

Observasi langsung (tanpa menggunakan peralatan khusus)

Observasi tak langsung ( dengan menggunakan peralatan khusus)

Observasi dengan partisipasi, memperoleh data dengan catatan anekdot, daftar


cek dan data penilaian.

c; Feedback (umpan balik). Dalam suatu proses pembelajaran, feedback memegang


peranan penting. Seorang pelatih semestinya memiliki kompetensi mengelola
feedback para trainee (orang yang dilatih) dengan memberikan penguatan, arahan
dan perbaikan. Dengan adanya arahan dan perbaikan, pembelajaran dapat
mencapai hasil yang maksimal.
12; Keterampilan memprediksi kemungkinan masa depan dan implikasinya
Untuk dapat memprediksi kemungkinan masa depan dan merencanakan
aplikasinya,

seorang

pelatih

membutuhkan

keterampilan

prasyarat

seperti

keterampilan mengolah data dengan berbagai teknik dan menarik kesimpulan


berdasarkan hasil pengolahan data tersebut. Salah satu teknik yang dapat digunakan
untuk memprediksi suatu keadaan di dunia pendidikan adalah dengan anlisis Kohort.
13; Keterampilan mengelola proses kelompok
Proses kelompok seringkali menjadi pilihan dalam kegiatan pelatihan,
karenanya pengetahuan mengenai proses kelompok harus dimiliki oleh seorang

6 Hermawan Warsito. Pengantar Metodologi Pendidikan.1997. Jakrta: P.T. Gramedia Pustaka Utama.

pelatih. Proses kelompok dilaksanakan untuk mengembangkan interpersonal


intelegence, dengan cara7:
a; mengembangkan kerjasama di antara trainee
b; melakukan pengelompokan secara acak maupun dengan kriteria tertentu
c; menjelaskan cara pelatih melakukan pengelompokan dan ragam dari metode
pembelajaran yang pelatih gunakan
d; megajarkan pada trainee bagaimana bersikap dan bermain dengan rekannya
e; menetapkan aturan kelas bersama dengan trainee
f; menetapkan tujuan pembelajaran dan bekerjasama mencari tujuan itu
14; Pemahaman tentang industri
Industri8 adalah suatu perusahaan yang menghasilkan suatu produk. Di dunia
pendidikan pemahaman tentang industri dimanfaatkan untuk mengelola pendidikan
secara efektif dan efisien berdasarkan ilmu ekonomi. Pengelolaan yang baik terhadap
aspek-aspek pendidikan akan membawa dampak pada ketercapaian tujuan pendidikan
secara maksimal. Pelatih yang terlibat langsung dalan diklat harus mengetahui
pengelolaan diklat dengan memanfaatkan ilmu ekonomi sebagaimana ilmu ekonomi
dalam dunia industri.
15; Kemampuan intelektual
Intelektual9 adalah pemikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan.
Kemapuan intelektual sudah semestinya dimiliki oleh seorang pelatih, karena segala
sesuatu yang berkaitan dengan perencanaan dan pelaksanaan dan evaluasi pelatihan
harus dibekali dengan landasan ilmiah ilmu pengetahuan.
16; Keterampilan memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber belajar
7.op.cit.hlm.246
8 Depdikbud. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1990. Jakarta: Balai Pustaka.
9 Ibid.

Perpustakaan adalah salah sumber belajar yang penting dalam pendidikan dan
pelatihan. Saat ini perpustakaan memiliki koleksi berupa bahan cetak dan noncetak
dengan fasilitas penelusuran koleksi yang lebih canggih. Pemanfaatan perpustakaan
dalam pendidikan dan pelatihan sudah menjadi hal yang semestinya dilakukan pelatih
untuk menambah ilmu pengetyahuan penunjang materi diklat.
17; Keterampilan menciptakan model
Model adalah suatu pola (contoh, acuan, ragam, dan sebagainya) dari sesuatu
yang akan dibuat atau dihasilkan. Model dapat memperjelas ide atau gagasan, arahan,
konsep dan sebagainya, sehingga orang lain dapat melaksanakan suatu pekerjaan
sesuai dengan harapan si pembuat model. Seorang pelatih membutuhkan
keterampilan menciptakan model sebagai suatu alat untuk mencitrakan idenya untuk
dapat diikuti oleh para trainee (orang-orang yang mengikuti pelatihan).
18; Keterampilan bernegosiasi
Negosiasi adalah penyelesaian suatu masalah secara damai melalui
perundingan antara pihak-pihak yang bermasalah. Keterampilan bernegosiasi
dilandasi oleh tiga elemen penting dalam komunikasi10:
a; Konten atau apa yang anda katakan
b; Penyampaian atau cara anda mengatakan informasi tersebut, meliputi penggunaan
tubuh anda sebagai media penyampaian, postur, kontak mata, ekspresi wajah, dan
gerakan tubuh. Juga meliputi kualitas suara seperti tinggi/rendah, volume,
kecepatan, dan ritme.
c; Konteks atau kondisi dan situasi yang terlibat, meliputi suasana hati (mood),
aturan yang berlaku, pengalaman, dan sebagainya.
19; Keterampilan merumuskan tujuan
Dalam diklat, merumuskan tujuan diklat adalah hal yang utama. Dengan
adanya tujuan, diklat dapat berjalan terarah, sehingga proses pembelajaran selalu
10 Adi W. Gunawan.op.cit.hlm.156.

dalam kontrol menuju tujuan sesuai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam merumuskan
tujuan diklat harus dilandasi taksonomi tujuan pendidikan seperti taksonomi Bloom
yang meliputi tiga kawasan kognitif, afektif dan psikomotor.

20; Pemahaman prilaku organisasi


Organisasi merupakan kumpulan orang-orang yang bekerjasama untuk
mencapai tujuan bersama. Dalam usaha mereka mencapai tujuan bersama, diwarnai
dengan dinamika kelompok yang dipengaruhi oleh prilaku orang-orang di dalam
organisasi itu. Walaupun setiap anggota oarganisasi memiliki latar belakang berbeda,
namun dalam satu organisasi terdapat suatu norma yang disepakati bersama. Dengan
adanya kesepakatan norma organisasi, maka prilaku organisasi juga tidak lepas dari
norma-norma tersebut. Apabila ada anggota yang berprilaku tidak sesuai dengan
prilaku organisasi tersebut (yang juga berarti tidak sesuai dengan norma yang telah
disepakati), maka anggota lain akan merasa terganggu.
Pemahaman tentang prilaku organisasi harus dikuasi oleh seorang pelatih,
agar ia berada dalam jalur sesuai dengan norma organisasinya dan dapat berkarya
sesuai dengan norma yang telah ditetapkan.
21; Pemahaman organisasi, strategi, struktur jaringan kekuasaan, posisi
finansial, sistem, kekhususan
a; Organisasi adalah sekumpulan orang-orang yang bekerjasama untuk mencapai
tujuan bersama yang telah ditetapkan.
b; Strategi adalah rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran
khusus. Dalam diklat, rencana cermat ini meliputi uraian kegiatan, penentuan
metode yang tepat, media yang sesuai, waktu yang efisien, sehingga tujuan
pembelajaran dalam diklat dapat dicapai dengan maksimal.
c; Struktur jaringan kekuasaan. Dalam suatu organisasi struktur jaringan kekuasaan
yang dapat digambarkan dalam bentuk skema, dapat menjelaskan arah

pertanggungjawaban, hubungan kerja antarbagian, dan batasan ruang lingkup


kerja masing-masing. Dengan adanya struktur ini, masing-masing pihak
mengetahui dengan jelas posisi, tugas dan tanggung jawabnya.
d; Posisi finanasial. Dalam perencanaan diklat, terutama perencanaan dengan
pendekatan The Rate of Return, dapat diketahui denga jelas posisi finansial
developer yang akan mengadakan diklat. Kebutuhan diklat dapat semaksimal
mungkin disesuaikan dengan posisi finansial saat ini. Dengan perencanaan yang
matang, diklat akan berjalan dengan baik sesuai prediksi, dan dapat dikontrol.
Prediksi dan pengontrolan ini menjadi salah satu tanggung jawab pelatih dan tim
pengembangnya.
e; Sistem11 adalah suatu kesatuan yang terdiri atas komponen-komponen atau
elemen-elemen atau unsur-unsur sebagai sumber-sumber yang mempunyai
hubungan fungsional yang teratur, tidak sekedar acak, yang saling membentuk
untuk mencapai suatu hasil (product). Sistem memiliki ciri-ciri:

Bertujuan

Memiliki fungs-fungsi

Adanya komponen-komponen yang masing-masing memiliki fungsi khusus

Seluruh komponen berinteraksi atau saling berhubungan

Adaya penggabungan yang menimbulkan jalinan perpaduan (efek sinergis)

Adanya proses transformasi

Adanya umpan balik untuk koreksi

Adanya batasan dan lingkungan

f; Kekhususan (spesialisai) adalah hal yang mutlak menjadi salah satu kompetensi
seorang pelatih. Seorang pelatih harus jelas berada di bidang yang ditekuninya,
berada di kawasan kerjanya, di wilayah tanggung jawabnya. Adanya kekhususan

11 Fuad Ihsan. Dasar-Dasar Kependidikan. 1997. Jakarta: P.T. Rineka Cipta.

(spesialisasi) akan mengarahkan pelatih untuk lebih fokus dan mendalam di


bidangnya.
22; Keterampilan mengobservasi kinerja
Mengobservasi kinerja menjadi salah satu kompetensi seorang pelatih, karena
banyak hal dalam diklat dievaluasi dengan observasi, terutama yang berkaitan dengan
prilaku kerja (kinerja) baik dari tim timnya (dalam evaluasi penyelenggaraan diklat)
dan dari trainee (dalam evaluasi hasil belajar diklat). Observasi dilakukan dengan
langkah12:
a; menyusun tabel spesifikasi kinerja yang akan diobservasi
b; menentukan indikator
c; menentukan skala pengukuran
d; melakukan uji coba instrumen
e; mencari/ menghitung validitas/ reliabilitas instrumen observasi
f; revisi/ perbaikan bila perlu
g; penerapannya pada kelas yang sebenarnya
23; Pemahaman tentang Human Resource Development (HRD)
Human Resource Development atau Pengembangan Sumberdaya Manusia
semestinya dipahami oleh pelatih untuk mengembangkan dirinya dan orang-orang di
sekitarnya. Pengembangan SDM ini dapat ditempuh dengan:
a; pendidikan lanjutan dari pendidikan formal yang telah dilalui
b; pelatihan- pelatihan tertentu sesuai bidangnya
c; seminar, lokakarya, dan sejenisnya
d; studi banding
24; Keterampilan mempresentasikan pelatihan (bahan ajar)

12 Arikunto, Suharsimi. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan.2005.Jakarta: Bumi Aksara.

Pelatihan dengan tujuan apapun selalu membutuhkan pengantar, arahan,


bimbingan, petunjuk dari pelatih. Dalam penyampaian hal-hal tersebut, dibutuhkan
keterampilan mempresentasikan bahan ajar yang sesuai dengan tujuan diklat.
Keterampilan ini meliputi penguasaan:
a; komunikasi verbal
b; pemahaman analisis instruksional
c; penguasaan materi bahan ajar
d; teknik pemilihan dan penggunaan media yang tepat
e; penguasaan kerja dalam sistem
f; pengaturan waktu
g; pengolahan umpan balik

25; Keterampilan bertanya


Bertanya adalah awal dari mengetahui dan belajar. Dalam diklat bertanya
dilakukan secara timbal balik antara trainer (pelatih) dan trainee (orang-orang yang
dilatih). Tanya (jawab) antara trainer dan trainee dilakukan untuk mencari tahu
permasalahan belajar, hambatan-hambatan dalam mencapai tujuan belajar, kaitan
dengan ilmu pengetahuan dan lingkungan luar (transfer belajar), dan perumusan hasil
belajar secara konkrit menjadi satu kompetensi nyata bagi trainee. Untuk itu perlu
ditekankan tiga pertanyaan dalam tanya jawab antara pelatih dan trainee13:
a; apa yang terjadi?
b; apa yang anda (telah) pelajari?
c; bagaimana cara menerapkan apa yang telah anda pelajari?
26; Keterampilan mengelola perekaman/ rekaman

13 DePorter, Bobbi, Mark Reardon & Sarah Singer Nourie.Quantum Teaching. 2000. Bandung: P.T.
Mizan Pustaka.

Perekaman/ rekaman adalah salah satu bentuk dokumentasi yang dimafaatkan


di segala bidang, termasuk pendidikan. Hasil rekaman dapat dijadikan sumber belajar
yang sangat bermanfaat, karena hasil rekaman dalam bentuk audio, visual, maupun
audio visual akan menjadi menarik untuk didengar dan dilihat. Penggunaan sumber
belajar dari hasil rekaman dengan sistem multimedia memberikan kesempatan pada
pelatih untuk menyampaikan sebanyak mungkin informasi selain dengan komunikasi
verbal. Perekaman dapat diterapkan untuk materi-materi yang terencana maupun
materi yang tidak direncanakan. Untuk materi yang direncanaan dengan tujuan
pembelajaran, sistem perekaman dilakukan dengan langkah14:
a; Menganalisis kebutuhan dan akrakteristik trainee
b; Merumuskan tujuan instruksional
c; Merumuskan butir-butir materi secara terperinci
d; Mengembangkan alat pengukur keberhasilan
e; Menulis naskah
f; Mengadakan tes/ revisi
27; Fleksibilitas hubungan
Hubungan yang fleksibel (tidak kaku) dalam interaksi antar pelatih dan trainee
menjadi satu hal yang menetukan keberhasilan pelatihan. Fleksibilitas ini dapat
dikuasai oleh pelatih dengan menguasai ilmu komunikasi dan mengenal sistem di
mana ia berada.
28; Keterampilan Research (meneliti)
Tugas-tugas pelatih tidak lepas dari penelitian. Analisis kebutuhan pelatihan,
monitoring dan evaluasi, dilakukan dengan metode-metode penelitian. Untuk itu
seorang pelatih harus menguasai keterampilan research (meneliti) dan metode-metode
penelitian yang dapat diterapkan dalam perencanaan dan evaluasi diklat.
29; Pemahaman wilayah pelatihan dan pengembangan
14 Arief. S. Sadiman. op.cit.hlm.100

Setiap pelatihan memiliki wilayah masing-masing. Seorang pelatih harus


memahami wilayah pelatihan dan pengembangan yang ia lakukan. Dengan
memahami wilayah pelatihan dan pengembangan itu, seorang pelatih dapat lebih
dalam dan terarah menjalankan tugasnya dalam pelatihan tersebut.

30; Pemahaman teknik pelatihan dan pengembangan


Ada beberapa teknik pelatihan dan pengembangan yang dapat diterapkan
dalam kegiatan diklat. Teknik-teknik ini dituangkan ke dalam model-model
pengembangan instruksional diklat, yang masing-masing memiliki orientasi berbeda.
Orientasi model-model ini meliputi orientasi kelas, orientasi hasil, orientasi sistem,
dan orientasi organisasi15.
Pengetahuan
pengembangan

ini

mengenai

berbagai

memungkinkan

teknik

seorang

dan

pelatih

model

pelatihan

menyesuaikan

dan

orientasi

pembelajaran diklat dengan teori-teori yanhg sesuai. Dengan demikian diharapkan


proses pembelajaran diklat dapat berjalan dengan baik.
31; Keterampilan menulis
Penulisan karya ilmiah, berupa artikel ilmiah atau laporan atau jurnal
penelitian menjadi salah satu kompetensi seorang pelatih. Karya tulis ilmiah dapat
menggambarkan tingkat pemahaman, pemikiran, dan sumbangan ilmu seorang
pelatih bagi kemajuan dunia pendidikan.

15 Toeti Soekamto.Perancangan dan Pengembangan Sistem Instruksional.1993.Jakarta: Intermedia.

Daftar Pustaka
Adi W. Gunawan. Genius Learning Strategy. 2004. Jakarta: P.T Gramedia Pustaka
Utama
Arief S. Sadiman. Media Pendidikan.1996. Jakarta: P.T.RajaGrafindo Persada
Arikunto, Suharsimi. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan.2005.Jakarta: Bumi Aksara.
Barrios, M and Russel G. Davis. The Rate-of-Return Approach to Educational
Planning. Issues and Problems in the Planning of Education in Developing
Countries.1980.Massachusetts:Harvard University..
DePorter, Bobbi, Mark Reardon & Sarah Singer Nourie.Quantum Teaching. 2000.
Bandung: P.T. Mizan Pustaka.
Edwin K. Townsend Coles dalam A.G. Lunandi. Pendidikan Orang Dewasa.1989.
Jakarta: P.T. Gramedia.
Fuad Ihsan. Dasar-Dasar Kependidikan. 1997. Jakarta: P.T. Rineka Cipta.
Hermawan Warsito. Pengantar Metodologi Pendidikan.1997. Jakarta: P.T. Gramedia
Pustaka Utama.
Rossett, Allison. Training Needs Assessment. New Jersey: Educational Technology
Publication.
Toeti Soekamto.Perancangan dan Pengembangan Sistem Instruksional.1993.Jakarta:
Intermedia.