Anda di halaman 1dari 7

Last Updated on Friday, 24 June 2011

Sebelum kita dapat melakukan usaha penanggulangan kebakaran, adalah wajar apabila kita perlu
untuk mengetahui dan mengenal terlebih dahulu apa dan bagaimanakah kebakaran itu. Setelah
itu maka kita akan menyadari bahwa peristiwa/masalah kebakaran sesungguhnya merupakan
masalah yang menjadi ancaman bagi semua orang, baik disadari ataupun tidak.
Untuk itu tulisan ini dibuat tanpa maksud menggurui mengajak semua pihak untuk lebih
mengenal tentang Kebakaran khususnya api dengan lebih baik.
KIMIA API
Kita semua tahu bahwa untuk dapat menghadapi dan mengalahkan musuh, kita harus tahu segala
hal tentang musuh kita kekuatan, kelemahan, strategi perang, dan lainnya. Memiliki gambaran
tentang kemungkinan aksi yang akan dilakukan oleh musuh, membuat kita dapat membuat
rencana untuk menga-tasi aksi tersebut, dan lebih baik lagi melakukan pencegahan agar aksi
tersebut tidak dapat berjalan. Demikian juga apabila kita mengahadapi masalah kebakaran, kita
harus tahu tentang bagaimanakah api dapat terjadi, bagaimana api dapat menyebar, apa yang
dapat menimbulkan api, bagaimana mencegah api timbul, dan banyak lagi, sehingga kita siap
menghadapi musuh kita semua, yaitu kebakaran.
A. PEMBAKARAN
Pembakaran dan api adalah dua kata yang akan selalu berhubungan dan dalam ilmu kebakaran
dua kata tersebut sudah menjadi tak terpisahkan.
Pembakaran/api adalah peristiwa proses reaksi oksidasi cepat yang biasanya menghasilkan panas
dan cahaya (energi panas dan energi cahaya).
Selanjutnya apakah reaksi oksidasi itu?; Dalam konteks masalah kebakaran dapat dikatakan
bahwa reaksi oksidasi adalah reaksi pengikatan unsur oksigen oleh reduktor/pereduksi (bahan
bakar). Sedang dalam konteks lebih luas, dalam ilmu kimia, reaksi oksidasi didefinisikan sebagai
reaksi pemberian elektron oleh oksidator/pengoksidasi kepada reduktor/pereduksi.

Di atas telah disebutkan bahwa pembakaran/api adalah peristiwa oksidasi cepat, berarti ada
reaksi oksidasi lambat. Untuk rekasi oksidasi lambat sebagai contohnya adalah peristiwa
perkaratan besi. Satu hal yang perlu di pahami adalah bahwa hanya gas yang dapat terbakar. Jadi
bahan bakar dengan bentuk fisik padatan dan cairan sebelum ia dapat terbakar ia harus dirubah
dahulu ke bentuk fisik gas. Untuk bahan bakar padat harus mengalami pyrolysis, sehingga terbentuk gas-gas yang lebih seder-hana yang akan terbakar. Sedang untuk bahan bakar bentuk
cairan oleh panas akan diuapkan, lalu uap bahan bakar tadi yang akan terbakar.
Kembali ke masalah kebakaran ada peristiwa yang sering terjadi seiring dengan kebakaran, yaitu
ledakan/explosion. Ledakan/explosion adalah peristiwa oksidasi yang sangat cepat.

B. NYALA API
Selama ini api, umumnya, selalu identik dengan nyala api, sesungguhnya ini adalah salah satu
dari bentuk api. Nyala api sesung-guhnya adalah gas hasil reaksi dengan panas dan cahaya yang
ditimbulkannya. Warna dari nyala api ditentukan oleh bahan-bahan yang bereaksi (terbakar).
Warna yang dihasilkan oleh gas hidrokarbon, yang bereaksi sempurna dengan udara (oksigen)
adalah biru terang. Nyala api akan lebih mudah terlihat ketika karbon dan padatan lainnya atau
liquid produk antara dihasilkan oleh pembakaran tidak sempurna naik dan berpijar akibat
temperatur dengan warna merah, jingga, kuning, atau putih, tergantung dari tem-peraturnya.
C. BARA API
Bara api memiliki cirri khas yaitu tidak terlihatnya nyala api, akan tetapi adanya bahan-bahan
yang sangat panas pada permukaan dimana pembakaran terjadi. Contoh yang baik untuk bara api
adalah batu bara. Warna dari bara api pada permukaan benda berhubungan dengan
temperaturnya. Beberapa warna yang terlihat dan tempe-raturnya ditampilkan seperti di tabel 1.
SEGITIGA API
Dari bahasan sebelumnya kita telah tahu bahwa pembakaran/api adalah suatu reaksi oksidasi,
jadi harus ada oksidator/pengoksidasi dan reduktor/ pereduksi/bahan yang dioksidasi. Dari sini
kita telah men-dapatkan dua komponen peristiwa/reaksi pembakaran/api, yaitu oksidator yaitu
oksigen dan reduktor di sini adalah bahan bakar. Lalu selain itu apa lagi? Dalam kehidupan
sehari-hari kita mengetahui bahwa suatu benda yang dapat terbakar (bahan bakar) dalam kondisi
normal tidaklah terbakar, baru apabila kita panaskan untuk beerapa lama dia akan dapat terbakar.
Ini juga berarti kita telah mendapatkan satu lagi komponen pembakaran/api, dari apa yang sudah
umum kita ketahui.
Dalam ilmu kebakaran ketiga komponen tersebut dikenal dengan segitiga api, yaitu sebuah
bangun dua dimensi berbentuk segitiga sama sisi. Dimana masing-masing sisi mewakili satu
komponen kebakaran/api, yaitu: Oksigen, Panas dan Bahan bakar. Lalu mengapa segitiga sama
sisi? Jawabannya adalah bahwa suatu peristiwa/reaksi pembakaran akan dapat terjadi apabila
ketiga komponen tersebut berada dalam keadaan keseimbangannya. Kese-imbangan dimaksud di
sini bukanlah sama dalam jumlah atau banyaknya, akan tetapi suatu bahan akan dapat terbakar
apabila kondisi di mana terjadi/akan terjadi pembakaran/api memiliki perbandingan tertentu
antara bahan dimaksud dengan oksigen yang harus tersedia. Selain itu kondisi temperatur bahan
dan atau lingkungan reaksi memiliki tem-peratur (yang menggambarkan tingkat kepanasan suatu
benda) tertentu juga.
D. OKSIGEN
Pada sisi pertama dari segitiga adalah oksigen. Oksigen adalah gas yang tidak dapat terbakar
(nonflam-meable gas) dan juga merupakan satu kebutuhan untuk kehidupan yang sangat
mendasar. Di atas permukaan laut, atmosfir kita me-miliki oksigen dengan konsentrasi sekitar
21%. Sedang untuk ter-jadinya pembakaran/api oksigen dibutuhkan minimal 16%. Kembali lagi,
oksigen itu sendiri tidak terbakar, ia hanya mendukung proses pembakaran.

E. PANAS
Sisi kedua adalah panas. Panas adalah suatu bentuk energi yang dibutuhkan untuk meningkatkan
temperatur suatu benda/ bahan bakar sampai ketitik dimana jumlah uap bahan bakar tersebut
tersedia dalam jumlah cukup untuk dapat terjadi penyalaan.
1. Sumber-sumber Panas
Sumber-sumber panas/energi panas sangatlah beragam, dapat disebutkan disini adalah:
Arus listrik
Panas akibat arus listrik dapat terjadi akibat adanya hambatan terhadap aliran arus, kelebihan
beban muatan, hubungan pendek, dan lain-lain;
Kerja mekanik
Panas yang dihasilkan oleh kerja mekanik biasanya dari gesekan dua benda atau gas yang diberi
tekanan tinggi;
Reaksi kimia
Pada reaksi kimia, hubungan dengan panas, terdapat dua macam reaksi yaitu reaksi endotermis
dan eksotermis. Reaksi endotermis adalah reaksi yang mem-butuhkan panas untuk dapat
berjalan, sedang rekasi eksotermis adalah kebalikannya yaitu menghasilkan panas dan reaksi
inilah yang merupakan sumber panas. Reaksi kimia disini tidak hanya terbatas pada reaksi
perubahan atau pembentukan senyawa baru, akan tetapi dapat juga dalam bentuk proses
pencampuran dan atau pelarutan;
Reaksi nuklir
Reaksi nuklir yang menghasilkan panas dapat berupa fusi atau fisi.
Radiasi matahari
Sinar matahari dapat menjadi sumber panas yang dapat menye-babkan kebakaran apabila
intensitasnya cukup besar, atau di ter/difokuskan oleh suatu alat optik.
2. Cara-cara Perpindahan Panas
Panas dapat berpindah dan dalam suatu kejadian kebakaran perpindahan panas ini harus
mendapat perhatian yang besar, karena apabila perpindahan panas tidak terkontrol akan dapat
mengakibatkan kebakaran meluas dan atau mengakibatkan kebakaran lain.
Perpindahan panas ini dapat terjadi dengan berbagai cara, yaitu: konduksi, konveksi dan radiasi;
dan khusus dalam masalah kebakaran ada juga yang disnyulutan langsung.
Konduksi
Konduksi adalah perpindahan panas yang terjadi secara molekuler, jadi panas berpindah di
dalam suatu bahan penghantar (konduktor) dari satu titik ketitik lain yang memiliki temperatur
lebih rendah. Sebagai gambaran adalah apabila kita memanaskan salah satu ujung sebuah
tongkat besi maka lambat laun panas akan berpindah keujung lainnya, sedangkan tongkat
tersebut tidak berubah bentuk.
Konveksi
Konveksi adalah perpindahan panas yang berhubungan dengan bahan fluida atau bahan yang
dapat mengalir dalam bentuk gas atau cairan. Pada konveksi panas berpindah dengan
berpindahnya bahan penghantar, atau lebih tepat bahan pembawa panas tersebut. Sebagai

gambaran adalah apabila terjadi kebakaran di lantai bawah sebuah bangunan bertingkat, maka
panas akan dibawa oleh asap atau gas hasil pembakaran yang panas ke lantai di atasnya.
Radiasi
Perpindahan panas dengan cara radiasi tidak membutuhkan suatu bahan penghantar seperti pada
dua perpindahan panas sebe-lumnya. Pada radiasi panas berpindah secara memancar, jadi panas
dipancarkan segala arah dari suatu sumber panas. Sebagai contohnya adalah radiasi sinar
matahari, yang kita semua tahu bahwa dari jarak yang jutaan kilometer melalui ruang kosong di
antariksa panas matahari dapat sampai ke bumi.
F. BAHAN BAKAR
Sisi yang lain (ke-tiga) adalah bahan bakar. Berbeda dengan apa yang umum disebut sebagai
bahan bakar oleh setiap orang, bahan bakar dalam hubungannya dengan ilmu kebakaran adalah
setiap benda, bahan atau material yang dapat terbakar dianggap sebagai bahan bakar. Apabila
kita perhatikan, maka akan kita dapati bahwa hidup kita selalu dikelilingi oleh bahan bakar. Oleh
karena itu adalah sesuatu yang wajib bagi kita untuk selalu siap siaga menghadapi ancaman
bahaya kebakaran.
Ada beberapa istilah yang perlu diketahui dalam hubungannya dengan bahan bakar, yaitu:
Flash point: temperatur terendah pada saat dimana suatu bahan bakar cair menghasilkan uap
dalam jumlah yang cukup untuk menghasilkan nyala sesaat dari campuran bahan bakar dan
udara (oksigen).
Fire point : temperatur (akibat pemanasan) dimana suatu bahan bakar cair dapat memproduksi
uap dengan cukup cepat sehingga memungkinkan terjadinya pembakaran yang kontinyu/terus
menerus.
TETRAHEDRON API
Pada perkembangan selanjutnya,ditemukan bahwa selain ketiga komponen seperti yang
dimaksud dalam segitiga api ada lagi komponen keempat dalam proses pembakaran yang
dibutuhkan oleh proses pembakaran untuk mendukung kesinambungannya dan juga untuk
bertambah besar, yaitu rantai reaksi kimia antara bahan bakar dengan bahan
pengoksidasi/oksidator. Seiring dengan menyalanya api, molekul bahan bakar juga berkurang
berubah menjadi molekul yang lebih sederhana. Dengan berlanjutnya proses pembakaran,
naiknya temperatur menyebabkan oksigen tambahan terserap ke area nyala api. Lebih banyak
molekul bahan bakar akan terpecah, bergabung ke rantai reaksi, mencapai titik nyalanya, mulai
menyala, menyebabkan naiknya temperatur, menyeap oksigen tambahan, dan melanjutkan rantai
reaksi. Proses rantai reaksi ini akan berlanjut sampai seluruh substansi/bahan yang terkait
mencapai area yang lebih dingin dinyala api. Selama tersedia bahan bakar dan oksigen dalam
jumlah yang cukup, dan selama temperatur mendukung,reaksi rantai akan meningkatkan reaksi
pembakaran. Sehingga dengan demikian segitiga api tadi dengan adanya faktor rantai reaksi
kimia, yang juga termasuk komponen pembakaran, berubah menjadi satu bangun tiga dimensi
segitiga piramida (tetrahedron).

GAS BERACUN HASIL PEMBAKARAN


Selain bahaya panas tinggi ternyata ada satu bahaya yang menjadi penyebab utama kematian
dalam peristiwa kebakaran, yaitu asap. Mengapa asap menjadi penyebab utama? Hal ini
dikarenakan asap mengandung bermacam-macam gas beracun yang dihasilkan oleh peristiwa
pembakaran.
Beberapa gas beracun yang paling banyak dan selalu ada pada peristiwa kebakaran dapat dilihat
dibawah ini.
Karbon monoksida (Carbon monoxide)
Karbon monoksida (CO) adalah pembunuh terbesar dalam peristiwa kebakaran karena tingkat
kehadirannya yang sangat tinggi dan juga cepatnya ia mencapai konsentrasi mematikan pada
peristiwa kebakaran. Karbon monoksida adalah hasil produksi dari pembakaran tidak sempurna
yang dihasilkan dari pembakaran senyawa-senyawa organic dan berbagai bentuk karbon. Sering
juga kematian akibat karbon monoksida terjadi akibat masuknya asap knalpot ke kabin mobil.
Karbon monoksida berbahaya karena ia adalah gas yang tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak
terlihat. Gas ini mematikan pada konsentrasi 1,28 persen volume dalam udara dalam 1 sampai 3
menit; 0,64 persen mematikan dalam 10 sampai 15 menit; 0,32 persen mematikan dalam 30
sampai 60 menit, dan 0,16 persen mematikan dalam waktu 2 jam. Pada konsentrasi 0,05 persen
gas ini tetap menyimpan bahaya.
Karbon dioksida (Carbon dioxide)
Karbon dioksida (Carbon dioxide) adalah hasil dari pembakaran sempurna senyawa organic atau
senyawa karbon. Bertambahnya konsentrasi karbon dioksida akan mengakibatkan meningkatnya
kecepatan pernafasan; sampai di mana tubuh tidak mampu lagi. Kegagalan pernafasan akhirnya
akan terjadi. Karbon dioksida dalam jumlah yang sangat banyak dapat mengakibatkan sesak
nafas karena kekurangan oksigen dalam darah, selain itu juga dapat berfungsi sebagai bahan
pemadam api. Konsentrasi lebih dari 5 persen di lingkungan dapat merupakan tanda
bahaya,bukan karena keberadaannya akan tetapi karena kondisi tersebut adalah kondisi yang
jauh dari kondisi normal.
Hidrogen sianida (Hydrogen cyanide)
Walau Hidrogen sianida (HCN) jauh lebih beracun dari Karbon monoksida tetapi dalam
kebakaran,biasanya, jumlahnya sangat kecil. Pada konsentrasi 100 ppm dapat menyebabkan
kematian dalam waktu 30 sampai 60 menit. Hidrogen sianida dihasikan dari pembakaran
senyawan hirokarbon terklorinasi di udara, plastik, kulit karet, sutra, wool, atau juga kayu.
Seperti halnya karbon monoksida hydrogen sianida lebih ringan dari udara sehingga tingkat
bahayanya lebih tinggi pada kebakaran dalam ruangan, dibanding kebakaran luar ruangan.
Phosgene (COCl2)
Phosgene juga dihasilkan pada dekomposisi atau pembakaran senyawa hidrokarbon terklorinasi,
seperti karbon tetraklorida, Freon, atau etilene diklorida. Phosgene beracun dan berbahaya pada
konsentrasi yang sangat kecil sekalipun. Konsntrasi 25 ppm dapat mematikan dalam waktu
30 sampai 60 menit.

Hidrogen klorida (Hydrogen Chloride)


Hidrogen klorida (HCl) dihasilkan oleh pembakaran bahan-bahan yang mengandung klorin.
Walau tidak beracun seperti hydrogen sianida ataupun phosgene, HCl berbahaya apabila kita
berada dalam waktu yang cukup lama di lingkungan yang terdapat gas ini.
TAHAPAN KEBAKARAN DALAM RUANGAN
Pada umumnya kebakaran dalam ruangan dengan terbagi dalam tiga tahapan. Masing-masing
tahapan memiliki ciri-ciri karaktersitik dan efeknya berhubungan dengan bahan yang terbakar
yang berbeda-beda. Lama dari masing-masing tahapan bervariasi tergantung keadaan dari
penyulutan, bahan bakar, dan ventilasi, akan tetapi secara keseluruhan tahapannya adalah
kebakaran awal kebakaran bebas kebakaran menyurut.
A. Kebakaran Tahap Awal Ini adalah tahapan awal dari suatu kebakaran setelah terjadi
penyulutan.
Nyala api masih terbatas dan pembakaran dengan lidah api terlihat. Konsntrasi Oksigen dalam
ruangan masih dalam kondisi normal (21%) dan temperatur dalam ruangan secara keseluruhan
belum meningkat. Gas panas hasil pembakaran dalam betuk kepulan bergerak naik dari titik
nyala. Dalam kepulan gas panas terkandung bermacam-macam material seperti deposit karbon
(jelaga) ataupun padatan lain, uap air, H2S, CO2, CO, dan gas beracun lainnya,semuanya
tergantung dari jenis bahan bakar atau bahan yang terbakar. Panas akan dihantar secara konveksi
oleh material-material tadi ke atas ruangan dan mendorong oksigen kebawah yang berarti ke titik
nyala untuk mendukung pembakaran selanjutnya.
B. Tahap Penyalaan-bebas
Kebakaran akan menghebat sejalan dengan bertambahnya bahan yang terbakar. Konveksi,
konduksi, dan kontak langsung memperluas perambatan api dan keluar dari bahan bahakar awal
sampai bahan didekatnya mencapai temperatur penyalaannya dan mulai terbakar. Radiasi panas
dari nyala api mulai menyebabkan bahan bahan lain mencapai titik nyalanya, memperluas
kebakaran kesamping. Kecepatan perluasan kebakaran kesamping tergantung dari berapa dekat
bahan di dekatnya dan juga susunan bahannya. Gas panas yang dihasilkan pembakaran
berkumpul di langit-langit ruangan membentuklapisan asap. Temperatur dari lapisan asp ini
meningkat. Lapisan yang lebih tinggi di ruangan tersebut memiliki konsentrasi oksigen paling
rendah; temperatur tinggi; dan jelaga, asap, dan produk pirolisis yang belum terbakar sempurna
pada saat itu sangatlah berbeda dengan kondisi di dekat lantai ruangan. Pada daerah dekat lantai
lapisan udaranya masih relatif dingin dan mengandung udara segar (konsentrasi oksigen
mendekati normal) yang bercampur dengan hasil pembakaran. Kemungkinan untuk hidup masih
cukup di dalam ruangan apabila seseorang bertahan pada posisi merendah pada lapisan dingin
dan tidak menghirup gas di bagian atas. Ketika lapisan panas mencapai titik kritisnya pada +
600oC (1100oF), ini sudah cukup untuk menghasilkan radiasi panas yang menyebabkan bahan
bakar lainnya (seperti karpet dan furnitur) di dalam ruang mencapai titik nyalanya. Pada saat ini
seisi ruangan akan menyala secara serentak, dan ruangan dikatakan mengalami flashover. Saat
ini terjadi, temperatur seluruh ruangan mencapai titik maksimalnya dan kemungkinan hidup
dalam berada di dalam ruangan ini untuk lebih dari beberapa detik sangat tidak mungkin.
Flashover oleh ahli ilmu kebakaran didefinisikan sebagai proses pengembangan, radiasi, dan
pembakaran lengkap dari semua bahan bakar dalam suatu ruangan.

Api/kebakaran adalah suatu aksi kesetimbangan kimia antara bahan bakar, udara, dan temperatur
(bahan bakar oksigen - panas). Apabila ventilasi terbatas, pertumbuhan api
akan lambat, peningkatan temperatur akan lebih bertahap, asap akan dihasilkan lebih banyak,
dan penyalaan gas panas akan tertunda sampai didapat tambahan udara (oksigen) yang cukup.
C. Tahap Api Mengecil
Akhirnya, bahan bakar habis dan nyala api secara bertahap akan berkurang dan berkurang.
Apabila konsentrasi oksigen dibawah 16%, nyala api dari pembakaran akan berhenti meskipun
masih terdapat bahan bakar yang belum terbakar. Pembakaran yang terjadi adalah pembakaran
tanpa nyala api. Temperatur masih tinggi di dalam ruangan, tergantung dari bahan penyekat dan
ventilasi dari ruangan tersebut. Beberapa bahan masih mengalami pirolisis atau terbakar tidak
sempurna menghasilkan gas karbon monoksida dan gas bahan bakar lain, jelaga, dan bahan
bakar lain yang terkandung dalam asap. Apabila ruangan tidak memiliki ventilasi yang cukup,
maka akan terbentuk campuran gas yang dapat terbakar. Maka apabila ada sumber penyalaan
yang baru, akan dapat terjadi kebakaran kedua diruangan tersebut, sering disebut backdraft atau
ledakan asap.

Sumber : Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta