Anda di halaman 1dari 32

MENGKAJI TUJUAN AUDIT SIKLUS PENDAPATAN,

PROSES AUDIT, MATERIALITAS & RISIKO AUDIT

1. AUDIT SIKLUS PENDAPATAN


A. PENDAPATAN DAERAH
Pengertian Pendapatan Daerah
Di dalam keuangan daerah terdapat hak-hak daerah yang dapat dinilai dengan uang
yang tercermin dalam pendapatan daerah. Pendapatan daerah yang dipungut oleh Pemerintah
Daerah dimaksudkan untuk membiayai berbagai pengeluaran pemerintah yang berhubungan
dengan tanggung jawabnya sebagai pelayan publik (public service). Pendapatan daerah pada
dasarnya merupakan penerimaan daerah dalam bentuk peningkatan aktiva atau penurunan
utang dari berbagai sumber dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan. Untuk
mendapatkan pengertian yang lebih jelas dan tepat mengenai pendapatan, di bawah ini
dikemukakan beberapa definisi mengenai pendapatan daerah.
1. Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) No. 2 tentang Laporan Realisasi Anggaran,
mendefinisikan : pendapatan sebagai semua penerimaan rekening Kas Umum
Negara/Daerah yang menambah ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran
bersangkutan yang menjadi hak pemerintah dan tidak perlu dibayar kembali oleh
pemerintah.
2. Undang-Undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UndangUndang No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat
dan Pemerintahan Daerah, yang dimaksud dengan pendapatan daerah adalah Hak
Pemerintah Daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih dalam
periode tahun bersangkutan.
Berdasarkan beberapa definisi mengenai pendapatan daerah di atas dapat ditarik
kesimpulan bahwa pendapatan daerah memiliki beberapa karakteristik, yaitu sebagai berikut :
1. Pendapatan merupakan arus kas masuk atau penerimaan kas daerah yang menambah
ekuitas dana lancar.
2. Pendapatan yang diterima daerah berdampak pada peningkatan aktiva atau
penurunan utang daerah.
3. Dalam periode tahun anggaran tertentu.
4. Tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah.
Sumber Pendapatan daerah
Audit Sektor Publik

Page 1

Penyelenggaraan otonomi daerah membawa dampak dalam pengelolaan keuangan


daerah dimana daerah diberi kewenangan untuk mengatur dan mengurus keuangannya
sendiri. Agar pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah dapat berjalan dengan lancar maka
pemerintah mengaturnya dalam pasal 155 Undang-Undang No. 32 tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah, sebagai berikut :
1. Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah didanai
dari dan atas beban anggaran pendapatan dan belanja daerah.
2. Penyelenggaraan urusan pemerintah yang menjadi kewenangan Pemerintah di
daerah didanai dari dan atas beban anggaran pendapatan dan belanja negara.
3. Administrasi pendanaan penyelenggaraan urusan pemerintahan sebagaimana
dimaksud ayat (1) dilakukan secara terpisah dari administrasi pendanaan
penyelenggaraan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud ayat (2).
Selain itu, dalam rangka menyelenggarakan pemerintahan daerah diberikan sumbersumber keuangan untuk pembiayaan berbagai tugas dan tanggung jawabnya. Sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu Undang-Undang RI Nomor 32 tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah; dan Undang-Undang RI No 33 tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah, sumber-sumber pendapatan
bagi daerah terdiri atas:
1. Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Pendapatan asli daerah (PAD) bagi Pemerintah Daerah sangatlah penting karena PAD
menunjukan kemampuan daerah dalam menggali sumber keuangannya sendiri yang
kemudian menjadi sebuah ukuran kinerja bagi Pemerintah Daerah dalam proses
pengembangan ekonomi daerah. Pengertian pendapatan asli daerah menurut Ketentuan
Umum UU RI No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat
dan Pemerintahan Daerah adalah sebagai berikut : Pendapatan Asli Daerah, selanjutnya
disebut PAD adalah pendapatan yang diperoleh Daerah yang dipungut berdasarkan Peraturan
Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.Berdasarkan pengertian di atas, PAD
dipungut/diperoleh berdasarkan pada ketentuan perundang-undangan. Pasal 6 UU RI No. 33
tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan
Daerah mengungkapkan bahwa :
1. Pendapatan asli daerah yang selanjutnya disebut PAD, yaitu :
a. Hasil pajak daerah;
b. Hasil retribusi daerah;
c. Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan; dan
Audit Sektor Publik

Page 2

d. Lain-lain PAD yang sah.


2. Lain-lain pendapatan daerah yang sah yang dimaksud adalah, seperti :
a. Hasil penjualan kekayaan Daerah yang tidak dipisahkan;
b. Jasa giro;
c. Pendapatan bunga;
d. Keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing; dan
e. Komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau
pengadaan barang dan/atau jasa oleh Daerah.
2. Dana Perimbangan
Menurut pasal 1 UU RI No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah Dana Perimbangan adalah dana yang
bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah untuk mendanai
kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Berdasarkan pasal 10
Undang-Undang tersebut, dana perimbangan terdiri atas :
a. Dana Bagi Hasil
Dana Bagi Hasil (DBH) merupakan dana hasil dari pengelolaan sumber daya alam
dan pemungutan pajak, yang dibagi berdasarkan persentase tertentu antara pusat
dan daerah. Dana ini tidak bersifat hibah murni. Dana Bagi Hasil adalah dana yang
bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah dengan angka
persentase tertentu didasarkan atas daerah penghasil untuk mendanai kebutuhan
daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Selanjutnya dana bagi hasil
(DBH) ini dibagi menjadi tiga, yaitu :
1. Dana bagi hasil berasal dari pajak, terdiri dari :
a. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sektor pedesaan, perkotaan,
perkebunan, pertambangan serta kehutanan.
b. Bea Perolehan Atas Hak Tanah dan Bangunan (BPHTB) sektor pedesaan,
perkotaan, perkebunan, pertambangan serta kehutanan.
2. Dana Bagi Hasil yang bersumber dari sumberdaya alam, berasal dari :
a. Penerimaan kehutanan yang berasal dari iuran hak pengusahaan hutan
(IHPH), provisi sumber daya hutan (PSDH) dan dana reboisasi yang
dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan;
b. Penerimaan pertambangan umum yang berasal dari penerimaan iuran
tetap (landrent) dan penerimaan iuran eksploitasi (royalty) yang dihasilkan
dari wilayah daerah yang bersangkutan;
c. Penerimaan perikanan yang diterima secara nasional yang dihasilkan dari
penerimaan pungutan pengusahaan perikanan dan penerimaan pungutan
hasil perikanan;
d. Penerimaan pertambangan minyak yang dihasilkan dari wilayah daerah
yang bersangkutan;

Audit Sektor Publik

Page 3

e. Penerimaan pertambangan gas alam yang dihasilkan dari wilayah daerah


yang bersangkutan;
f. Penerimaan pertambangan panas bumi yang berasal dari penerimaan
setoran bagian Pemerintah, iuran tetap dan iuran produksi yang dihasilkan
dari wilayah daerah yang bersangkutan.
3. Dana Bagi Hasil dari penerimaan PPh Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak
Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21
(UU RI No. 32 tahun 2004 pasal 160) DBH dari penerimaan PBB sebesar 90%
dibagikan kepada Daerah dengan rincian sebagai berikut :
1. 16,2% (enam belas dua persepuluh persen) untuk daerah provinsi yang
bersangkutan dan disalurkan ke Rekening Kas Umum Daerah provinsi;
2. 64,8% (enam puluh empat delapan persepuluh persen) untuk daerah
kabupaten/kota yang bersangkutan dan disalurkan ke Rekening Kas
Umum Daerah kabupaten/kota; dan 3. 9% (sembilan persen) untuk biaya
pemungutan.
Sedangkan sisanya 10% dari penerimaan PBB merupakan bagian
Pemerintah dibagikan kepada seluruh daerah kabupaten dan kota yang
didasarkan atas realisasi penerimaan PBB tahun anggaran berjalan, dengan
imbangan 6,5% (enam lima persepuluh persen) dibagikan secara merata
kepada seluruh daerah kabupaten dan kota; dan 3,5% (tiga lima persepuluh
persen) dibagikan sebagai insentif kepada daerah kabupaten dan kota yang
realisasi tahun sebelumnya mencapai/melampaui rencana penerimaan sektor
tertentu.
DBH dari penerimaan BPHTB sebesar 80% disalurkan dengan rincian sebagai
berikut :
1. 16% (enam belas persen) untuk daerah provinsi yang bersangkutan dan
disalurkan ke Rekening Kas Umum Daerah Provinsi; dan
2. 64% (enam puluh empat persen) untuk daerah kabupaten dan kota
penghasil dan disalurkan ke Rekening Kas Umum Daerah kabupaten/kota.
Sisa dana bagi hasil dari penerimaan BPHTB sebesar 20% merupakan bagian
pemerintah dibagikan dengan porsi yang sama besar untuk seluruh kabupaten
dan kota.

Audit Sektor Publik

Page 4

DBH dari penerimaan PPh Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi
Dalam Negeri dan PPh Pasal 21 yang merupakan milik daerah adalah 20% dua
puluh persen, yang dibagi dengan rincian sebagai berikut :
1. 8% (delapan persen) untuk provinsi yang bersangkutan; dan
2. 12% (dua belas persen) untuk kabupaten/kota dalam provinsi yang
bersangkutan
DBH dari penerimaan kehutanan yang berasal dari Iuran Hak
Pengusahaan Hutan (IHPH) dan Propinsi Sumber Daya Hutan (PSDH) dibagi
dengan imbangan 20% untuk Pemerintah dan 80% untuk daerah. DBH dari
penerimaan kehutanan yang berasal dari Dana Reboisasi dibagi dengan
perimbangan 60% untuk pemerintah dan 40% untuk daerah. Bagian
pemerintah digunakan untuk rehabilitasi hutan dan lahan secara nasional,
sedangkan dana rebiosasi bagian daerah digunakan untuk kegiatan rahabilitasi
hutan dan lahan di kabupaten/kota penghasil.
DBH dari Penerimaan Pertambangan Umum yang dihasilkan dari wilayah
daerah yang bersangkutan dibagi dengan perimbangan 20% untuk pemerintah
dan 80% untuk daerah. Dana bagi hasil dari Penerimaan Pertambangan Umum
yang berasal dari Penerimaan Iuran Tetap (Land-rent) yang menjadi bagian
daerah dibagi dengan rincian 16% untuk propinsi yang bersangkutan dan 64%
untuk kabupaten/kota penghasil. Sedangakan Penerimaan Pertambangan
Umum yang berasal dari Iuran Eksploitasi (Royalty) yang menjadi bagian
daerah dibagi dengan imbangan 16% untuk propinsi, 32% untuk
kabupaten/kota penghasil dan 32% dibagikan untuk kabupaten/kota lainnya
dalam propinsi yang bersangkutan.
DBH dari Penerimaan Perikanan dibagi dengan imbangan 20% untuk
pemerintah dan 80% untuk seluruh kabupaten/kota. DBH dari Pertambangan
Minyak Bumi setelah dikurangi pajak dan pungutan lainnya sesuai dengan
peraturan perundang-undangan dibagi dengan imbangan 84,5% untuk
pemerintah dan 15,5% untuk daerah. dana bagi hasil yang menjadi bagian
daerah dibagi dengan imbangan 3% untuk provinsi, 6% untuk kabupaten/kota
penghasil dan 6% dibagikan untuk kabupaten/kota lainnya dalam propinsi
yang bersangkutan.
Audit Sektor Publik

Page 5

DBH dari Penerimaan Pertambangan Gas Bumi yang dihasilkan oleh


daerah yang bersangkutan setelah dikurangi pajak dan pungutan lainnya dibagi
dengan imbangan 69,5% untuk pemerintah dan 30,5% untuk daerah.
Penerimaan Pertambangan Gas Bumi yang menjadi bagian daerah dibagi
dengan rincian 6% dibagikan untuk propinsi, 12% dibagikan untuk
kabupaten/kota penghasil dan 12% dibagikan untuk kabupaten/kota lainnya
dalam propinsi bersangkutan.
DBH dari Penerimaan Pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi yang
menjadi bagian daerah 0,5% dialokasikan untuk menambah anggaran
pendidikan dasar dengan imbangan 0,1% dibagikan untuk propinsi yang
bersangkutan; 0,2% dibagikan untuk kabupaten/kota penghasil dan 0,2%
dibagikan untuk kabupaten/kota lainnya dalam propinsi yang bersangkutan.
DBH dari Penerimaan Pertambangan Panas Bumi yang dihasilkan oleh
daerah yang bersangkutan dibagi dengan rincian 16% untuk provinsi yang
bersangkutan, 32% untuk kabupaten/kota penghasil dan 32% untuk seluruh
kabupaten/kota lainnya dalam privinsi yang bersangkutan.
b. Dana Alokasi Umum
Kebijakan perimbangan keuangan membawa dampak terhadap semakin
besarnya kesenjangan kemampuan keuangan antar daerah, khususnya karena setiap
daerah mempunyai kemampuan keuangan daerah yang berbeda-beda. Dengan kata
lain daerah yang mempunyai potensi PBB, BPHTB dan SDA yang besar akan
memperoleh penerimaan yang besar, daerah yang potensinya kecil tentunya akan
mendapatkan pendapatan yang kecil juga. Pengaturan Dana Alokasi Umum (DAU)
diarahkan untuk mengurangi kesenjangan tersebut, yang berarti daerah yang
memiliki kemampuan keuangan yang relatif besar akan memperoleh DAU yang
relaif kecil demikian pula sebaliknya. Pasal 1 UU RI No. 33 tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah
menyebutkan bahwa : Dana Alokasi Umum, selanjutnya disebut DAU adalah dana
yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan
pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan daerah
dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi.
Berdasarkan Undang-Undang tersebut Dana Alokasi Umum ditetapkan
sekurang-kurangnya 26% yang kemudian disalurkan kepada provinsi sebesar 10%
Audit Sektor Publik

Page 6

dan kabupaten atau kota sebesar 90% dari total DAU. Hal ini sesuai dengan PP No.
55 tahun 2005 Pasal 37 yaitu:
1. Jumlah keseluruhan DAU ditetapkan sekurang-kurangnya 26% (dua puluh enam
persen) dari Pendapatan Dalam Negeri Neto.
2. Proporsi DAU antara provinsi dan kabupaten/kota dihitung dari perbandingan
antara bobot urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi dan
kabupaten/kota.
3. Dalam hal penentuan proporsi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) belum dapat
dihitung secara kuantitatif, proporsi DAU antara provinsi dan kabupaten/kota
ditetapkan dengan imbangan 10% (sepuluh persen) dan 90% (sembilan puluh
persen).
4. Jumlah keseluruhan DAU sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan
dalam APBN.
Selanjutnya dari jumlah DAU 90%, yang ditujukan untuk kabupaten dan kota,
maka setiap kabupaten dan kota akan mendapatkan DAU sesuai dengan hasil
perhitungan Formula DAU yang ditetapkan berdasarkan Celah Fiskal dan Alokasi
Dasar. Hal ini sesuai dengan PP No. 55 tahun 2005 Pasal 40 yaitu:
1. DAU untuk suatu daerah dialokasikan berdasarkan formula yang terdiri atas
celah fiskal dan alokasi dasar.
2. Celah fiskal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan selisih antara
kebutuhan fiskal dan kapasitas fiskal.
3. Kebutuhan fiskal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diukur dengan
menggunakan variabel jumlah penduduk, luas wilayah, Indeks Kemahalan
Konstruksi, Produk Domestik Regional Bruto per kapita, dan Indeks
Pembangunan Manusia.
4. Kapasitas fiskal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diukur berdasarkan
Pendapatan Asli Daerah dan DBH.
5. Alokasi dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung berdasarkan
jumlah gaji Pegawai Negeri Sipil Daerah.
Ketentuan perolehan DAU untuk Kabupaten/Kota menurut PP No.55 tahun 2005
pasal 45 yaitu :
1. Daerah yang memiliki celah fiskal lebih dari 0 (nol), menerima DAU sebesar
alokasi dasar ditambah celah fiskal.

Audit Sektor Publik

Page 7

2. Daerah yang memiliki celah fiskal sama dengan 0 (nol), menerima DAU
sebesar alokasi dasar.
3. Daerah yang memiliki celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut lebih kecil
dari

alokasi

dasar,

menerima

DAU

sebesar

alokasi

dasar

setelah

diperhitungkan nilai celah fiskal.


4. Daerah yang memiliki celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut sama atau
lebih besar dari alokasi dasar, tidak menerima DAU.
c. Dana Alokasi Khusus
Pasal 1 UU RI No. 33tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah menyebutkan bahwa : Dana Alokasi
Khusus, selanjutnya disebut DAK adalah dana yang bersumber dari pendapatan
APBN yang dialokasikan kepada Daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu
mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan Daerah sesuai dengan prioritas
nasional. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Pemerintah Pusat
mengalokasikan Dana Alokasi Khusus dari APBN kepada daerah tertentu dengan
tujuan untuk :
1. Mendanai kegiatan khusus yang ditentukan Pemerintah atas dasar prioritas
nasional,
2. Mendanai kegiatan khusus yang diusulkan daerah tertentu. Daerah penerima
Dana Alokasi Khusus wajib menyediakan Dana Pendamping sekurangkurangnya 10% dari alokasi DAK yang dianggarkan dalam APBD.
3. Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah
Menurut Pasal 164 UU RI No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
menyebutkan bahwa lain-lain pendapatan daerah yang sah merupakan Seluruh pendapatan
daerah selain PAD dan dana perimbangan, yang meliputi hibah, dana darurat, dan lain-lain
pendapatan yang ditetapkan Pemerintah. Hibah merupakan bantuan berupa uang, barang
dan/atau jasa yang berasal dari Pemerintah, masyarakat dan badan usaha dalam negeri atau
luar negeri. Dana darurat merupakan bantuan pemerintah dari APBN kepada Pemerintah
Daerah untuk mendanai keperluan mendesak yang diakibatkan peristiwa tertentu yang tidak
dapat ditanggulangi daerah dengan menggunakan sumber APBD. Dana darurat diberikan
kepada daerah yang mengalami bencana nasional atau kejadian luar biasa.
4. Piutang Pajak dan Retribusi
Piutang Pajak adalah Pajak yang masih harus dibayar oleh wajib pajak termasuk sanksi
administrasi berupa kenaikan Pajak dan atau Bunga yang tercantum dalam Surat Ketetapan
Pajak Daerah atau Surat sejenis berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan
Audit Sektor Publik

Page 8

daerah. Sedangkan piutang retribusi daerah adalah sisa utang retribusi atas nama wajib
retribusi yang tercantum pada surat ketetapan retribusi daerah, surat tagihan retribusi daerah,
surat ketetapan retribusi daerah kurang bayar dan surat ketetapan retribusi daerah kurang
bayar tambahan yang belum kedaluwarsa dan retribusi lainnya yang masih terutang.
Menurut UU No. 28 Tahun 2009 tentang pajak dan retribusi daerah, Kepala Daerah dapat
menghapuskan piutang pajak dan/atau retribusi apabila sudah kadaluwarsa. Kondisi
kadaluarsa menyebabkan piutang pajak dan/atau retribusi tidak dapat atau tidak mungkin
ditagih lagi, disebabkan karena:
1. Wajib Pajak meninggal dunia dengan tidak meninggalkan harta warisan dan tidak
mempunyai ahli waris, atau ahli waris tidak ditemukan;
2. Wajib Pajak tidak memiliki kekayaan lagi;
3. Hak untuk melakukan penagihan sudah kedaluwarsa; atau
4. Sebab lain sesuai dengan hasil penelitian.

B. SIKLUS PENDAPATAN DAERAH


Pendapatan Asli Daerah
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. 28 tahun 2009 tentang Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah, tata cara pemungutan pajak dilakukan dengan :
a. Wajib pajak yang memenuhi kewajiban perpajakan berdasarkan penetapan kepala
daerah dibayar dengan menggunakan SKPD atau dokumen lain yang dipersamakan
(official assessement).
b. Wajib pajak yang memenuhi kewajiban perpajakan sendiri dibayar dengan
menggunakan SPTPD, SKPDKB, dan/atau SKPDKBT (self assessement).
Wajiib pajak melakukan pembayaran pajak pada bank persepsi atau kantor pos yang
telah ditunjuk dan ditujukan kepada Rekening Kas Daerah.
Dana Perimbangan
1. Dana Bagi Hasil
a. DBH Pajak (PBB, BPHTB, PPh WPOPDN, dan PPh pasal 21)
DBH PBB dan BPHTB disalurkan dengan cara pemindahbukukan dari
Rekening Kas Umum Negara ke Rekening Kas Umum Daerah secara
mingguan. Penyaluran tersebut dilaksanakan berdasarkan realisasi penerimaan
tahun anggaran berjalan.
b. DBH Sumber Daya Alam

Audit Sektor Publik

Page 9

Penyaluran DBH SDA dilaksanakan berdasarkan realisasi penerimaan SDA


tahun anggaran berjalan. Penyaluran tersebut dilaksanakan secara triwulanan
dengan cara pemindahbukukan dari Rekening Kas Umum Negara ke Rekening
Kas Umum Daerah.
2. Dana Alokasi Umum
DAU disalurkan dengan cara pemindahbukukan dari Rekening Kas Umum Negara
ke Rekening Kas Umum Daerah secara bulanan sebesar 1/12 dari alokasi DAU
daerah yang bersangkutan.
3. Dana Alokasi Khusus
DAK disalurkan dengan cara pemindahbukukan dari Rekening Kas Umum Negara
ke Rekening Kas Umum Daerah. Berdasarkan PMK No 21 tahun 2009 tentang
Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Transfer ke Daerah, penyaluran DAK adalah :
a. Tahap 1 sebesar 30% dari alokasi DAK, paling cepat pada bulan Februari,
setelah peraturan daerah mengenai APBD, laporan penyerapan penggunaan
DAK tahun sebelumnya, dan surat pernyataan penyediaan dana pendamping
diterima DJPK.
b. Tahap 2 sebesar 45% dari alokasi DAK, dilaksanakan selambatnya 15 hari
setelah laporan penyerapan penggunaan DAK tahap 1 diterima oleh DJPK.
c. Tahap sebesar 25% dari alokasi DAK, dilaksanakan selambatnya 15 hari
setelah laporan penyerapan penggunaan DAK tahap 2 diterima oleh DJPK.
Lain-lain Pendapatan yang Sah
1. Hibah
Pendapatan hibah merupakan bantuan yang tidak mengikat yang dituangkan dalam
suatu naskah perjanjian antara pemerintah daerah dan pemberi hibah dan digunakan
sesuai dengan naskah perjanjian tersebut.
2. Dana Darurat
Dana darurat merupakan dana yang berasal dari APBN yang dialokasikan untuk
keperluan mendesak yang diakibatkan oleh bencana nasional dan/atau peristiwa luar
biasa yang tidak ditanggulangi oleh daerah dengan menggunakan APBD. Pemerintah
juga dapat mengalokasikan dana darurat pada daerah yang dinyatakan mengalami
krisis solvabilitas.
C. PEMERIKSAAN SIKLUS PENDAPATAN DAERAH
Tujuan Audit Siklus Pendapatan
Tujuan adanya audit siklus pendapatan adalah mengungkapkan ada atau tidaknya
salah saji material dalam Pos Pendapatan Daerah, Dana Perimbangan, dan lain-lain
Pendapatan yang sah.

Audit Sektor Publik

Page 10

Pemahaman Atas Pengendalian Internal Pendapatan


Pemahaman atas struktur pengendalian siklus pendapatan daerah meliputi
pertimbangan lingkungan pengendalian, system akuntansi, dan prosedur pengendalian.
Pemahaman atas komponen-komponen ini diperlukan baik menurut strategi audit substantive
yang utama maupun pendekatan penilaian tingkat risiko pengendalian yang lebih rendah.
Pemahaman atas aspek-aspek yang berlaku pada pengendalian internal diperoleh melalui
review pengalaman sebelumnya dengan klien,mengajukan pertanyaan kepada manajemen
atau personil lainnya, memeriksa bagian yang relevan dari buku pedoman, catatan, dan
dokumen lainnya, serta mengobservasi aktivitas siklus pendapatan.

Lingkungan Pengendalian
Dalam lingkungan pengendalian ,auditor harus memahami struktur Organisasi
klien (pemerintah daerah) atas kegiatan penerimaan. Pengajuan pertanyaan
mengenai dan penelaahan terhadap bagan Organisasi sangat membantu

pemahaman terhadap struktur pengendalian internal.


Sistem Akuntansi
Sistem akuntansi adalah metode pengolahan data dokumen dan catatan. Sistem
akuntansi pendapatan daerah yang terdiri atas pendapatan asli daerah dan
penerimaan pembiayaan harus dapat menyediakan adanya jejak audit yang
lengkap atas setiap transaksi. Pemahaman atas system akuntansi diperoleh dengan
menelaah manual akuntanasi dan diagram alur system. Di samping itu auditor
dapat mengajukan pertanyaan atau melakukan wawancara pada pihak-pihak yang
terkait diantaranya PPKD dan PA selaku BUD.
Apabila suatu penugasan audit merupakan penugasan dari klien lama,maka
auditor dapat menlaah kembali pengalaman terdahulu dengan klien tersebut,yaitu
dengan melihat kembali kertas kerja tahun sebelumnya. Pemahaman system
akuntasni juga dapat diperoleh dengan menilik pengalaman terdahulu dengan

klien.
Prosedur Pengendalian
Prosedur pengendalian terdiri atas:
1. Otorisasi yang memadai
2. Adanya pemisahan tugas
3. Dokumen dan catatan

Audit Sektor Publik

Page 11

2. PROSES AUDIT
Proses pemeriksaan atas siklus pendapatan mencakup pemeriksaan atas:
1. Pendapatan Daerah, meliputi : pos pajak daerah, retribusi laba, bagian laba usaha
daerah, dan lain-lain pendapatan asli daerah.
2. Dana Perimbangan, mencakup : bagi hasil pajak, bukan pajak, DAU, DAK, dana
perimbangan dari pusat.
3. Lain-lain pendapatan yang sah
3. MATERIALITAS DAN RISIKO AUDIT
Transaksi-transaksi dalam siklus pendapatan sangat berpengaruh terhadap laporan
keuangan. Kesalahan dalam membedakan antara pendapatan yang diterima secara tunai
dengan pendapatan yang diterima secara kredit (piutang) akan menimbulkan salah saji dalam
laporan keuangan. Risiko bawaan dari sikus bawaan dapat disebabkan oleh tingkat volume
transaksi. Tingginya volume transaksi akan memperbesar kemungkinan terjadinya salah saji.
Semakin tinggi volume transaksi maka semakin tinggi pula kemungkinan terjadinya
kesalahan dalam pencatatan transaksi tersebut.
Setelah tujuan audit ditetapkan dan berbagai bidang yang diaudit dianalisis dalam
prosedur analitis awal, tingkat materialitas untuk angka-angka yang diaudit harus ditetapkan.
Auditor tidak mungkin memeriksa semua hal untuk memastikan bahwa semuanya telah
diperlakukan dengan selayaknya dalam suatu sistem atau telah dilaporkan dengan benar. Ia
harus memutuskan sampai tingkatan mana memeriksa hal-hal tersebut yang sesuai dengan
tujuantujuannya, dan karena hal inilah konsep materialitas dan risiko muncul dalam audit.
Banyak faktor yang menyebabkan auditor tidak dapat memeriksa semua hal, seperti:
Jangka waktu audit.
Sifat audit dan kapasitas sumber daya yang ada.
Keterbatasan anggaran, dan Suatu opini audit memiliki probabilitas untuk dikatakan
benar, tidak benar 100%. Pembaca laporan audit memberikan kepercayaan pada opini
berdasarkan probabilitas bahwa laporan itu salah. Dengan asumsi bahwa auditor
memiliki kemampuan yang layak, probabilitas laporan audit memberikan hasil yang
benar berkaitan secara langsung dengan kedalaman pemeriksaan yang dilakukan, dan
hal ini terejawantahkan dalam nilai-nilai yang diterapkan kepada materialitas dan
risiko.
Audit Sektor Publik

Page 12

Materialitas
Boynton, Johnson & Kell (2001:286) dalam bukunya mendefinisikan materialitas
sebagai berikut:
Besarnya suatu pengabaian atau salah saji informasi akuntansi yang, di luar keadaan di
sekitarnya, memungkinkan bahwa pertimbangan seseorang yang bergantung pada informasi
tersebut akan berubah atau terpengaruh oleh pengabaian atau salah saji tersebut.
Definisi lain dari materialitas menurut Arens & Loebbecke (2003:42) dalam bukunya
yang diterjemahkan oleh Amir Abadi Jusuf mendefinisikan materialitas sebagai berikut :
Suatu salah saji dalam laporan keuangan dapat dianggap material jika pengetahuan atas
salah saji tersebut dapat mempengaruhi keputusan pemakai laporan keuangan yang
rasional
Mulyadi (2002) mendefinisikan materialitas sebagai berikut:
Materialitas adalah besarnya nilai yang dihilangkan atau salah saji informasi akuntansi,
yang dilihat dari keadaan yang melingkupinya, dapat mengakibatkan perubahan atas atau
pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan terhadap informasi
tersebut, karena adanya penghilangan atau salah saji itu.
Berdasarkan definisi definisi diatas dapat disimpulkan bahwa materialitas adalah
besaran jumlah nilai yang dihilangkan atau salah saji informasi akuntansi, dimana salah saji
dapat dikatakan material jika pengetahuan atas salah saji tersebut dapat mempengaruhi
keputusan para pegguna laporan keuangan.
Definisi tersebut mensyaratkan auditor untuk mempertimbangkan baik:
1. Situasi yang berkenaan dengan entitas dan
2. Informasi yang dibutuhkan oleh pihak yang akan meletakkan kepercayaan atas
laporan keuangan yang diaudit.
Sebagai contoh, suatu jumlah yang material bagi laporan keuangan suatu entitas
mungkin tidak material bagi laporan keuangan entitas lainnya yang memiliki ukuran atau
Audit Sektor Publik

Page 13

sifat yang berbeda. Juga apa yang material bagi laporan keuangan entitas tertentu mungkin
akan berubah dari satu peride ke periode lainnya.
Pernyataan FASB No. 2 mendefinisikan materialitas sebagai jumlah atau besarnya
kekeliruan atau salah saji dalam informasi akuntansi yang, dalam kaitannya dengan kondisi
yang bersangkutan, mungkin membuat pertimbangan pengambilan keputusan pihak yang
berkepentingan berubah atau terpengaruh oleh salah saji tersebut. Materialitas juga
didefinisikan dalam International Accounting Standard. Menurut standar ini, informasi
dipandang sebagai material bila disajikan salah atau tidak disajikan dapat mempengaruhi
keputusan-keputusan ekonomis yang diambil oleh pengguna laporan yang mendasarkan
keputusan-keputusannya sebagian pada informasi dalam laporan keuangan. Materialitas
bergantung pada ukuran pos atau kesalahan dan bergantung pada situasi-situasi tertentu yang
melingkup kesalahsajian atau peniadaan informasi. Oleh karena itu, materialitas lebih
merupakan pemberian suatu batasan daripada suatu karakteristik kualitatif primer yang harus
dimiliki oleh informasi yang berguna.
Definisi ini pada kenyataannya sulit diterapkan oleh auditor dalam praktik. Definisi ini
memberikan penekanan kepada pengguna yang penuh pertimbangan (reasonable users)
dalam menggunakan laporan keuangan untuk pengambilan keputusan. Oleh karena itu,
auditor harus memiliki pemahaman tentang pengguna laporan keuangan dan keputusankeputusan yang mereka buat. Dalam suatu audit keuangan, tujuan audit adalah
memungkinkan auditor menyatakan opininya apakah laporan keuangan, dalam hal-hal yang
material, disajikan sesuai dengan standar akuntansi. Dengan demikian, penilaian apakah
sesuatu itu material merupakan pertimbangan profesional. Tujuan penetapan materialitas
adalah untuk membantu auditor merencanakan pengumpulan bahan bukti yang cukup. Jika
auditor menetapkan jumlah yang rendah berarti lebih banyak bahan bukti yang harus
dikumpulkan. Tanggung jawab auditor adalah menetapkan apakah suatu laporan keuangan
salah saji dalam jumlah yang material. Apabila auditor berpendapat adanya salah saji yang
material, ia harus memberitahukan hal tersebut pada auditan, sehingga koreksi dapat
dilakukan. Jika auditan menolak untuk mengkoreksi laporan tersebut, pendapat dengan
pengecualian atau pernyataan tidak wajar harus diberikan. Oleh karena itu, auditor harus
memahami benar penerapan materialitas.
Materialitas merupakan konsep relatif, bukan absolut dalam jumlah. Salah saji dalam
jumlah tertentu dapat dianggap material pada sebuah perusahaan kecil tetapi tidak material
Audit Sektor Publik

Page 14

pada perusahaan besar. Karena sifatnya relatif, diperlukan basis untuk menentukan tingkat
materialitas suatu salah saji. Basis penetapan dapat berdasarkan neraca atau laporan laba rugi
atau suatu angka-angka kuantitas input atau output tertentu, seperti besarnya anggaran.
Materialitas menunjukkan dua aspek dari auditing. Aspek pertama yang lebih umum adalah
penggunaan materialitas pada ukuran dan sensitivitas kesalahan yang dapat mempengaruhi
laporan audit. Aspek lainnya seperti yang telah dikemukakan sebelumnya berkenaan dengan
kedalaman pemeriksaan dalam suatu audit. Kedua konsep ini bertautan satu dengan lainnya
karena kedalaman pemeriksaan akan menentukan kemungkinan kesalahan akan ditemukan.
Pada intinya, materialitas berkaitan dengan angka-angka moneter di atas jumlah tertentu yang
menurut auditor akan mempengaruhi tujuantujuan auditnya. Oleh karenanya, materialitas
merupakan hal yang subyektif dan dapat bervariasi dari satu situasi audit ke situasi audit
lainnya.
Oleh karena auditor bertanggung jawab menentukan apakah terdapat salah saji
informasi akuntansi yang dilihat dari keadaan yang melingkupinya dapat mengakibatkan
perubahan atas atau pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan
terhadap informasi tersebut, karena adnaya penghilangan atau salah saji tersebut. Jika klien
menolak untuk mengoreksi salah saji tersebut, maka auditor harus menerbitkan opini wajar
dengan pengecualian atau tidak wajar, bergantung pada seberapa signifikan salah saji
tersebut. Untuk menentukan hal tersebut, auditor sangat bergantung pada pengetahuan yang
mendalam atas penerapan materialitas.
Ada lima langkah audit yang terkait dengan penerapan konsep materialitas, dua
diantaranya dilakukan pada tahap perencanaan, yaitu:
1) Menetapkan penentuan awal tentang materialitas.
PSA 25 (SA 312) menharuskan auditor untuk memutuskan jumlah gabungan
salah saji dalam laporan yang akan mereka anggap material di awal pengauditan
bersamaan dengan ketika mereka mengembangkan strategi audit secara keseluruhan.
Dinamakan pertimbangan materialitas awal, karena meskipun merupakan opini
professional, penilaian tersebut dapat berubah selama kontrak kerja. Penilaian tersebut
harus didokumentasikan dalam arsip audit. Penentuan ini dinyatakan sebagai
penentuan awal karena akan berubah sepanjang audit proses bila ada perubahan
kondisi. Alasan utama untuk menetapkan penentuan awal ini adalah untuk membantu
auditor merencanakan bukti yang cukup untuk dikumpulkan dan dievaluasi. Jika
auditor menetapkan tingkat materialitas yang rendah maka diperlukan bukti yang
lebih banyak daripada jika auditor menetapkan tingkat materialitas yang lebih tinggi.
Audit Sektor Publik

Page 15

Pertimbangan

materialitas

mencakup

pertimbangan

kuantitatif

dan

pertimbangan kualitatif. Pertimbangan kuantitatif berkaitan dengan hubungan salah


saji dalam laporan keuangan seperti:
a.Laba bersih sebelum pajak dalam laporan keuangan
b. Total aktiva dalam neraca
c.Total aktiva lancar dalam neraca
d. Total ekuitas pemegang saham dalam neraca
Pertimbangan kualitatif berkaitan dengan penyebab salah saji adapun
faktornya seperti:
a. Kemungkinan terjadinya pembayaran yang melanggar huku
b. Kemungkinan terjadinya kecurangan
c. Syarat yang tercantum dalam perjanjian penarikan kredit dari bank yang
mengharuskan klien untuk mempertahankan beberapa rasio keuangan
pada tingkat minimum tertentu.
d. Adanya gangguan dalam trend laba
e. Sikap manajemen terhadap integritas laporan keuangan
Dalam perencanaan suatu audit, auditor harus menetapkan materialitas pada dua tingkat
beriku ini:
a.

Tingkat laporan keuangan, karena pendapat auditor mengenai kewajaran atas laporan

keuangan secara keseluruhan.


b. Tingkat saldo akun, karena auditor menguji saldo akun dalam memperoleh kesimpulan
keseluruhan atas kewajaran laporan keuangan.
Pertimbangan materialitas awal merupakan jumlah maksimal dimana auditor yakin
terdapat salah saji dalam laporan keuangan namun tidak memengaruhi keputusan-keputusan
para pengguna yang rasional. (secara konsep, ini adalah jumlah yang Rp 1 lebih kecil dari
pada materialitas yang didefinisikan oleh FASB. Untuk kemudahan, kita mendefinisikan hal
tersebut sebagai materialitas awal). Penilaian ini merupakan salah satu keputusan yang paling
penting yang harus diambil oleh audior, dan sangat membutuhkan pemahaman dan
pertimbangan professional yang tinggi. Auditor menetapkan pertimbangan materialitas awal
untuk membantunya merencanakan pengumpulan bukti-bukti audit yang tepat.

Audit Sektor Publik

Page 16

Selama melakukan audit, auditor sering kali mengubah pertimbangan awal yang
diistilahkan sebagai penilaian materialitas yang direvisi. Beberapa factor yang memengaruhi
auditor dalam melakukan pertimbangan materialitas awal dalam laporan keuangan. Hal-hal
yang sangat penting untuk diperhatikan dalam konsep materialitas adalah sebagai berikut :
1. Materialitas Merupakan Konsep Relative, Bukan Absolute
Sebuah salah saji dengan besaran tertentu dapat menjadi material bagi suatu
perusahaan kecil, sebaiknya dengan jumlah salah saji yang sama dapat menjadi
tidak material bagi perusahaan yang besar. Sehingga tidak mungkin untuk
menetukan acuan nilai nominal untuk pertimbangan materialitas awal yang dapat
diterapkan untuk semua klien audit.
2. Dibutuhkan Dasar untuk Mengevaluasi Materialitas
Karena materialitas adalah konsep yang relative, sehingga sangat penting untuk
memiliki dasar dalam menentukan apakah suatu jumlah tertentu material atau
tidak.laba bersih sebelum pajak biasanya dijadikan sebagai dasar dalam
menentukan materialitas bagi perusahaan yang berorientasi laba karena dianggap
sebagai unsure yang sangat penting bagi para penggunanya. Beberapa perusahaan
menggunakan dasar utama yang berbeda, karena laba bersih sering kali naik turun
secara signifikan dari tahun ketahun, sehingga tidak dapat memberikas dasar
secra stabil, atau ketika entitasnya adalah suatu perusahaan nirlaba. Sering kali
dasar utama yang digunakan adalah penjualan bersih, laba kotor, dan total asset
atau asset bersih. Setelah menetapkan dasar utama, auditorjuga harus
memutuskan apakah salah saji tersebut secara signifikan berpengaruh pada
kewajaran dasar lainnyaseperti asset lancar, total asset liabilitas lancar dan ekuitas
pemilik. PSA 25 (SA 312) mengharuskan auditor untuk mendokumentasikan
dasar yang digunakan dalam melakukan pertimbangan materialitas awal kedalam
prinsip audit.
3. Factor-Faktor Kualitatif Juga Memengaruhi Materialitas.
Faktor kualitatif seperti:
1. Kemungkinan terjadinya pembayaran yang melanggar hukum dan kecurangan
2.

Syarat yang tercantum dalam perjanjian penarikan kredit dari bank yang
mengharuskan klien untuk mempertahankan beberapa ratio keuangan pada
tingkat minimum tertentu.

Audit Sektor Publik

Page 17

3.

Adanya gangguan dalam trend laba

4.

Sikap manajemen terhadap integritas laporan keuangan

2) Mengalokasikan penentuan materialitas awal kepada berbagai bidang atau segmen.


Pengalokasian pertimbangan materialitas awal kesetiap bagian merupakan hal yang
penting untuk dilakukan karena auditor mengumpulkan bukti audit per bagian dibandingkan
dengan laporan keuangan secara keseluruhan. Ketika auditor mengalokasikan pertimbangan
materialitas awal pada saldo-saldo akun, materialitas yang dialokasikan setiap saldo akun
yang dimaksud dalam PSA 25 (SA 312) sebagai salah saji yang dapat diterima. Alokasi ini
diperlukan karena bukti-bukti dikumpulkan untuk setiap bidang atau segmen pemeriksaan,
bukannya keseluruhan pemeriksaan. Jika auditor memiliki penetapan materialitas awal untuk
setiap bidang atau segmen, penetapan ini akan membantunya menentukan bukti audit yang
tepat untuk dikumpulkan bagi setiap bidang atau segmen. Dalam praktik, alokasi ini sulit
dilakukan karena sulitnya menduga bidang atau segmen mana yang mungkin mengandung
salah saji atau temuan. Oleh karena itu, alokasi materialitas ini juga memerlukan
pertimbangan profesional.
Ketika pertimbangan awal auditor mengenai materialitas

laporan keuangan

dikuantifikasikan, estimasi pendahuluan mengenai materialitas untuk tiap akun bisa didapat
dengan mengalokasikan materialitas laporan keuangan ke akun secara individual.
Pengalokasian ini dapat dilakukan untuk akun neraca dan labarugi. Tapi karena kebanyakan
salah saji pada laporan labarugi juga mempengaruhi neraca dan hanya terdapat akun neraca
maka banyak auditor melakukan alokasi berdasarkan akun-akun neraca. Dalam melakukan
alokasi auditor harus mempertimbangkan (1) kemungkinan salah saji dalam akun, dan (2)
biaya yang mungkin untuk menguji akun.
3) Memperkirakan Salah Saji dan Membandingkan dengan Penilaian Awal
Salah saji dalam suatu akun dapat berbentuk satu dari dua jenis ini, yaitu salah saji yang
diketahui salah saji yang mungkin. Salah saji yang diketahui adalah salah saji dimana auditor
dapat menetukan jumlah salah saji dalam akun tersebut. Salah saji yang mungkin terdapat dua
jenis, pertama yaitu salah saji yang muncul karena adanya perbedaan antara penilaian

Audit Sektor Publik

Page 18

manajemen dan penilaian auditor mengenai estimasi saldo akun. Yang kedua adalah proyeksi
salah saji bedasarkan pengujian auditor atas sampel yang diambil dari populasi.
4) Mengestimasikan Salah Saji Gabungan
5) Membandingkan Estimasi Salah Saji Gabungan dengan Materialitas dalam Penilaian
Awal atau Penilaian yang Direvisi
Dalam menilai tingkat materialitas suatu entitas, program, aktivitas atau layanan
pemerintah, auditor sektor publik perlu menetapkan tingkat materialitas yang lebih rendah
daripada tingkat materialitas yang ditetapkan dalam audit-audit pada sektor swasta karena
adanya akuntabilitas publik dari auditan, berbagai persyaratan peraturan perundang-undangan
dan visibilitas dan sensitivitas dari program-program pemerintah. Auditor juga harum
mempertimbangkan kenyataan bahwa laporan-laporan pada sektor publik berkaitan erat
dengan aspek legal dan kepatuhan pada peraturan-peraturan yang berlaku. Auditor sektor
publik dalam menetapkan tingkat materialitas, baik dalam nilai absolut rupiah maupun dalam
persentase, harus memperhatikan kebijakan yang telah ditetapkan oleh lembaga audit karena
audit yang dilakukannya tidak berdiri sendiri melainkan bagian dari rencana strategis yang
telah ditetapkan oleh lembaga. Pada bidang-bidang tertentu, pertimbangan politis suatu
lembaga atau pos atau permasalahan mengharuskan auditor menetapkan tingkat materialitas
khusus yang hanya berlaku untuk pos tersebut dan hal ini umumnya telah ada dalam panduan
yang diberikan kepada auditor oleh lembaga auditnya.
Hubungan Antara Materialitas dengan Bukti Audit
Materialitas

merupakan

satu

diantara

berbagai

faktor

yang

mempengaruhi

pertimbangan auditor tentang kecukupan ( kuantitas ) bukti audit. Dalam membuat


generalisasi hubungan antara materialitas dengan bukti audit, perbedaan istilah materialitas
dan saldo akun material harus tetap diperhatikan. Semakin rendah tingkat materialitas,
semakin besar jumlah bukti yang diperlukan ( hubungan terbalik ).

RISIKO

Audit Sektor Publik

Page 19

Risiko (risk) penerimaan auditor bahwa terdapat beberapa tingkat ketidakpastian dalam
menjalankan fungsi audit. Auditor menangani risiko dalam perencanaan bukti audit umumnya
dengan menggunakan model risiko audit. Dalam menilai tingkat materialitas suatu entitas,
program, aktivitas atau layanan pemerintah, auditor sektor publik perlu menetapkan tingkat
materialitas yang lebih rendah daripada tingkat materialitas yang ditetapkan dalam audit-audit
pada sektor swasta karena adanya akuntabilitas publik dari auditan, berbagai persyaratan
peraturan perundang-undangan dan visibilitas dan sensitivitas dari program-program
pemerintah. Auditor juga harus mempertimbangkan kenyataan bahwa laporan-laporan pada
sektor publik berkaitan erat dengan aspek legal dan kepatuhan pada peraturan-peraturan yang
berlaku.
Auditor sektor publik dalam menetapkan tingkat materialitas, baik dalam nilai absolut
rupiah maupun dalam persentase, harus memperhatikan kebijakan yang telah ditetapkan oleh
lembaga audit karena audit yang dilakukannya tidak berdiri sendiri melainkan bagian dari
rencana strategis yang telah ditetapkan oleh lembaga. Pada bidang-bidang tertentu,
pertimbangan politis suatu lembaga atau pos atau permasalahan mengharuskan auditor
menetapkan tingkat materialitas khusus yang hanya berlaku untuk pos tersebut dan hal ini
umumnya telah ada dalam panduan yang diberikan kepada auditor oleh lembaga auditnya.
Risiko dalam audit berarti bahwa auditor menerima suatu tingkat ketidakpastian
tertentu dalam pelaksanaan audit. Risiko adalah penilaian auditor akan kemungkinan terjadi
kesalahan dalam simpulan-simpulannya yang dinyatakan dalam laporan audit. Risiko audit
dapat didefinisikan sebagai risiko yang dihadapi auditor dengan menderita kerugian karena
menghasilkan laporan atau memberikan opini audit yang tidak layak. Kerugian ini dapat
berupa rusaknya reputasi auditor atau dalam bentuk kompensasi moneter atas kerugian yang
diderita pihak lain (misalnya auditan atau pihak yang memberikan penugasan) atau bahkan
keduanya. Menurut Nasamiku Liandu, laporan/opini yang tidak layak ini dapat terjadi karena:

Tidak mengumpulkan bukti audit yang layak.


Secara sengaja diarahkan pengumpulan buktinya oleh pihak-pihak yang menyediakan
bukti dengan menyembunyikan bukti yang bila diberikan kepada auditor dapat

mengarah pada simpulan/opini yang berbeda.


Salah menginterpretasikan (mengambil simpulan yang salan) dari bukti yang
dikumpulkan.

Audit Sektor Publik

Page 20

Bila audit menggunakan pendekatan non-statistik, risiko harus dipertimbangkan


bersama-sama dengan materialitas. Dalam pendekatan statistik, penilaian risiko bukan
merupakan permasalahan utama dalam proses perencanaan karena pada umumnya
materialitas yang menjadi penentu utama ukuran sampel. Auditor akan memerlukan
perencanaan berkaitan dengan risiko bila menghadapi tiga situasi berikut:
1. Bila melakukan perencanaan pekerjaan audit yang menggunakan pendekatan nonstatistik.
2. Bila tingkat kesalahan dalam sampling diperkirakan akan tinggi. Hal ini akan dibahas
lebih lanjut dalam pembahasan sampling statistik pada bagian berikutnya.
3. Menilai kebergantungan kepada pengendalian intern. Hal ini akan dibahas pada
bagian pemahaman dan penilaian pengendalian intern.
Auditor harus menerima tingkat risiko tertentu dalam melakukan audit dengan alasan
yang sama sebagaimana harus menentukan tingkat materialitas tertentu. Seorang auditor yang
efektif akan mengenali adanya risiko dan akan menghadapi risiko dengan cara yang benar.
Sebagian besar risiko ini sulit diukur dan memerlukan pemikiran yang mendalam untuk
menanggapinya.
Audit yang berkualitas mengharuskan auditor untuk tanggap secara kritis terhadap
risiko-risiko ini. Model risiko audit dapat digunakan terutama untuk tahap perencanaan dalam
menentukan berapa besar bahan bukti yang harus dikumpulkan dalam tiap siklus.
Risiko Deteksi yang Direncanakan
Risiko deteksi yang direncanakan adalah risiko bahwa bahan bukti yang dikumpulkan
dalam segmen gagal menemukan salah saji yang melewati jumlah yang dapat ditoleransi,
kalau salah saji semacam itu timbul. Ada dua hal penting mengenai risiko deteksi yang
direncanakan di atas: pertama, ia tergantung pada tiga unsur risiko lain dalam model dan
kedua, risiko deteksi yang direncanakan menentukan besarnya rencana bahan bukti yang akan
dikumpulkan, dalam hubungan yang berlawanan. Risiko deteksi yang direncanakan hanya
akan berubah bila auditor mengubah faktor-faktor risiko lainnya.
Risiko ini juga yang menentukan jumlah bukti yang rencananya akan dikumpulkan,
yang hubungannya berbanding terbalik dengan risiko deteksi yang direncanakan. Bila risiko
deteksinya dikurangi maka maka auditor harus menambah bukti yang harus dikumpulkan..
Risiko Bawaan
Risiko bawaan adalah penetapan auditor akan kemungkinan adanya salah saji dalam
segmen audit yang melewati batas toleransi, sebelum memperhitungkan faktor efektivitas
Audit Sektor Publik

Page 21

pengendalian intern. Faktor-faktor yang mempengaruhi risiko bawaan adalah sifat kegiatan
auditan, integritas manajemen, motivasi manajemen, hasil audit sebelumnya, penugasan
pertama atau berulang, hubungan istimewa, transaksi nonrutin, pertimbangan yang
diperlukan, kemungkinan terhadap kecurangan, dan unsur-unsur populasi.
Ketika memulai audit, tidak banyak upaya yang dapat dilakukan untuk mengubah risiko
bawaan. Auditor harus menilai faktor-faktor di atas yang mempengaruhi risiko bawaan dan
memodifikasi

bukti

audit

untuk

memastikan

bahwa

faktor-faktor

tersebut

telah

diperhitungkan. Faktor-faktor tertentu akan mempengaruhi seluruh tujuan ruang lingkup


audit, seperti movitasi atau integritas manajemen. Sementara itu, beberapa faktor tertentu
hanya akan mempengaruhi tujuan audit tertentu dan/atau bidang-bidang tertentu yang diaudit,
seperti faktor transaksi-tansksi nonrutin.
Risiko Pengendalian
Risiko pengendalian adalah ukuran penetapan auditor akan kemungkinan adanya
kekeliruan (salah saji) dalam segmen audit yang melewati batas toleransi, yang tidak
terdeteksi atau tercegah oleh struktur pengendalian intern. Faktor yang mempengaruhi risiko
pengendalian adalah efektivitas pengendalian intern dan keandalan yang direncanakan oleh
auditor. Risiko pengendalian ditetapkan setelah auditor memahami struktur pengendalian
intern auditan.
Risiko Audit yang Dapat Diterima
Risiko audit yang dapat diterima adalah ukuran ketersediaan auditor untuk menerima
bahwa laporan audit tidak memberikan pendapat atau simpulan yang sesuai dengan
kenyataan yang ada. Faktor yang mempengaruhi risiko audit yang dapat diterima adalah
tingkat ketergantungan pemakai laporan auditan dan kemungkinan adanya permasalahan
dalam organisasi auditan, seperti masalah keuangan.
Pertimbangan-Pertimbangan Lain dalam Materialitas dan Risiko
Risiko pengendalian dan risiko bawaan biasanya ditetapkan untuk setiap bidang atau
siklus atau akun dan juga untuk setiap tujuan audit, tidak untuk keseluruhan audit. Oleh
karena itu, tingkat risikonya akan bervariasi antar setiap bidang/siklus/akun dan antar setiap
tujuan pada satu penugasan audit. Pengendalian intern mungkin lebih efektif pada
pembayaran honor daripada pada transaksi pengadaan barang. Risiko pengendaliannya tentu
saja akan berbeda bergantung pada efektivitas pengendaliannya. Faktor-faktor yang
Audit Sektor Publik

Page 22

mempengaruhi risiko bawaan, seperti kemungkinan kecurangan dan rutinitas transaksi, juga
akan berbeda dari satu bidang audit ke bidang audit lainnya.
Untuk alasan tersebut, auditor umumnya akan menetapkan tingkar risiko bawaan yang
berbeda-beda pada bidang-bidang berbeda kecuali pada entitas auditan ada satu faktor
menyeluruh yang kuat, seperti integritas manajemen. Risiko audit yang dapat diterima pada
umumnya ditetapkan oleh auditor untuk digunakan sepanjang pelaksanaan audit dan besarnya
selalu tetap untuk setiap bidan/siklus/akun. Misalnya, diasumsikan auditor menetapkan risiko
audit yang dapat diterima pada tingkatan menengah karenasedikitnya jumlah pengguna
laporan auditan dan program-program diselenggarakan dengan baik (tidak ada permasalahanpermasalahan dalam organisasi). Auditor akan cenderung menggunakan risiko audit yang
dapat diterima pada tingkatan menengah untuk audit inventaris, pembangunan gedung,
penerimaan bukan pajak, pembayaran honor dan transaksi-transaksi utama lainnya. Auditor
menggunakan tingkatan risiko yang sama karena faktor-faktor yang mempengaruhi risiko
audit terkait dengan audit secara keseluruhan, bukannya bidang/siklus/akun individual.
Pada kasus-kasus tertentu, auditor akan menggunakan tingkat risiko audit yang dapat
diterima pada tingkatan yang lebih rendah pada bidangbidang audit tertentu. Misalnya,
tingkat risiko audit pada pengeluaranpengeluaran tertentu yang berasal dari pinjaman luar
negeri umumnya ditetapkan lebih rendah daripada bidang-bidang lain karena adanya berbagai
persyaratan tambahan dan pelaporan tambahan berkenaan dengan pengeluaran-pengeluaran
tersebut.
Satu kelemahan utama dalam aplikasi model risiko audit ini adalah sulitnya mengukur
komponen-komponen dari setiap modal. Seberapa baiknya upaya auditor dalam perencanaan
audit, penilaian risiko audit yang dapat diterima, risiko bawaan dan risiko pengendalian dan
juga risiko deteksi yang direncanakan merupakan upaya yang sangat subyektif dan
kesesuaian dengan kenyataan hanya diupayakan sebaik mungkin. Oleh karena itu, auditor
hanya menggunakan ukuran-ukuran relatif dalam menilai tingkat risiko, yaitu rendah, sedang
atau tinggi. Hal yang sama juga terjadi pada pengukuran jumlah bukti audit yang sesuai
dengan tingkat risiko deteksi yang direncanakan Konsep materialitas dan risiko dalam
auditing berkaitan erat dan tidak dapat dipisahkan. Risiko adalah ukuran ketidakpastian
sedangkan materialitas adalah ukuran jumlah atau magnitude. Digunakan bersama-sama,
keduanya mengukur tingkat ketidakpastian pada suatu jumlah. Tujuan utama auditor
menggunakan materialitas dan risiko adalah untuk membantu auditor dalam mengumpulkan
bukti yang kompeten secukupnya dengan cara yang paling efisien.

Audit Sektor Publik

Page 23

Menilai Risiko Audit yang Dapat Diterima


Dalam sebuah pengauditan, auditor harus memutuskan risiko audit yang dapat diterima,
lebih utama dilakukan selama masa perencanaan. Pertama, auditor menetapkan risiko kontrak
kerja dan kemudian menggunakan risiko kontrak kerja tersebut untuk memodifikasi risiko
audit yang dapat diterima.
Dampak Risiko Kontrak Kerja Terhadap Risiko Audit Yang Dapat Diterima
Risiko kontrak kerja (engagement risk) adalah risiko dimana auditor atau KAP akan
mendapat masalah setelah audit diselesaikan, meskipun laporan audit sudah benar. Risiko
kontrak kerja sangat terkait erat dengan risiko bisnis klien. Sangat penting untuk dicatat
bahwa auditor tidak menyetujui mengenai apakah risiko kontrak kerja harus dipertimbangkan
dalam perencanaan audit.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Risiko Audit
1.

Tingkat Ketergantungan Pengguna Eksternal Laporan Keuangan


Factor-faktor

yang

merupakan

indikator

yang

baik

untuk

menilai

tingkat

ketergantungan para pengguna terhadap laporan keuangan:


a) Ukuran klien. Umumnya, makin besar kegiatan operasi klien, makin luas
penggunaan laporan keuangan. Ukuran klien, yang diukur dengan asset total atau
pendapatan total, akan berpengaruh terhadap risiko audit yang dapat diterima.
b) Distribusi kepemilikan. Laporan keuangan perusahaan public umumnya diandalkan
oleh lebih banyak pengguna dibandingkan dengan perusahaan tertutup lainnya.
Untuk perusahaan public ini, pihak yang berkepentingan lainnya adalah SEC,
analisis keuangan, dan masyarakat umum.
c) Sifat dan jumlah liabilitas. Ketika laporan memiliki sejumlah besar liabilitas,besar
kemungkinan laporan tersebut akan digunakan secara lebih luas oleh para kreditor
yang ada ataupun para calon kreditor dibandingkan dengan perusahaan yang
memiliki lebih sedikit liabilitas.
2. Kemungkinan Klien Akan Mengalami Kesulitan Keuangan Setelah Laporan Audit
Diterbitkan

Audit Sektor Publik

Page 24

Sulit bagi auditor untuk memprediksi kegagalan keuangan sebelum hal itu terjadi,
namun beberapa factor berikut dapat menjadi indikator yang baik atas meningkatnya
kemungkinan kegagalan keuangan tersebut.
a) Posisi likuiditas. Jika klien terus menerus kekurangan kas dan modal kerja, hal ini
mengindikasikan adanya masalah dimasa mendatang dalam pembayaran utangutangnya. Auditor harus menilai kemungkinan dan seberapa besar penurunan posisi
likuiditas yang terjadi terus-menerus.
b) Laba (rugi) ditahun-tahun sebelumnya. Sangat penting untuk mempertimbangkan
perubahan laba relative terhadap saldo yang tersisa dalam saldo laba.
c) Metode pertumbuhan pembiayaan. Auditor harus mengevaluasi apakah asset tetap
klien dibiayai oleh pinjaman jangka pendek atau jangka penjan, karena sejumlah
besar kas keluar yang dibutuhkan dalam waktu yang singkat akan memaksa
perusahaan untuk mengalami kebangkrutan.
d) Sifat kegiatan operasi klien. Beberapa jenis bisnis secara alamiah lebih berisiko
dibandingkan dengan bisnis lainnya.
e) Kompetensi manajemen. Manajemen yang kompeten secara terus menerus akan
mewaspadai adanya potensi kesulitan keuangan dan memodifikasinya dengan
berbagai metode operasi untuk meminimalkan pengaruh dari masalah jangka
pendek. Auditor harus menilai kemampuan manajemen sebagai bagian dari
evaluasi atas kemungkinan terjadinya kebangkrutan.
3. Evaluasi Auditor Terhadap Integritas Manajemen
Perusahan-perusahaan dengan integritas rendah sering kali menjalankan aktivitas
bisnis mereka dengan cara-cara yang dapat menimbulkan konflik dengan para
pemegang sahamnya, pemerintah dan pelanggannya. Pada akhirnya, konflik-konflik
tersebut sering kali tercermin dalam persepsi pengguna terhadap kualitas audit dan
dapat mengakibatkan adanya tuntutan hukum dan ketidaksetujuan lainnya.
4. Membuat Keputusan Risiko Audit yang Dapat Diterima
Evaluasi yang biasanya dilakukan untuk risiko audit yang dapat diterima adalah
tinggi, sedang atau rendah, dimana risiko audit yang dapat diterima rendah berarti
bagi klien yang berisiko harus mendapatkan bukti yang lebih banyak, penugasan
staf audit yang lebih bepengalaman, dan/atau penelaahan yanag lebih mendalam atas
dokumentasi audit. Sejalan dengan perkembangan kemajuan kontrak kerja, auditor
mendapatkan informasi tambahan mengenai klien, sehingga risiko audit yang dapat
diterima dapat dimodifikasi.
Menilai Risiko Bawaan

Audit Sektor Publik

Page 25

Masuknya risiko bawaan dalam model risiko audit merupakan slah satu konsep penting
dalam pengauditan. Hal ini mengimplikasikan bahwa auditor harus mencoba untuk
memprediksi bagian mana kemungkinan terdapat salah saji dalam laporan keuangan.
Informasi ini memengaruhi jumlah bukti yang akan dikumpulkan auditor, penugasan staf dan
penelaahan dokumentsi audit.
1.

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Risiko Bawaan


Auditor harus menilai factor-faktor yang menyusun risiko dan memodifikasi bukti audit
yang akan dijadikan bahan pertimbangan. Auditor harus mempertimbangkan beberapa
factor utama berikut ketika menilai risiko pengendalian.
a)
b)
c)
d)
e)
f)

Sifat bisnis klien


Hasil pengauditan sebelumnya
Kontrak kerja yang pertama atau kontrak kerja yang berulang
Pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa
Transaksi-transaksi yang tidak rutin
Penilaian yang diperlukan untuk mencatat saldo-saldo akun dan transaksi-transaksi

dengan benar
g) Membuat populasi
h) Factor-faktor yang terkait dengan kecurangan dalam laporan keuangan
i) Factor-faktor yang terkait dengan penyalahgunaan asset
2.
Membuat Keputusan Risiko Bawaan
Auditor harus mengevaluasi informasi yang dapat memengaruhi risiko bawaan dan
memutuskan factor risiko bawaan yang tepat untuk setiap siklus, akun dan untuk setiap
tujuan audit. Beberapa factor seperti kontrak kerja pertama atau kontrak kerja yang
3.

berulang, hanya akan memengaruhi akun-akun atau tujuan audit tertentu saja.
Mendapatkan Informasi Untuk Menilai Risiko Bawaan
Auditor mulai melakukan penilaian atas risiko bawaan selama fase perencanaan dan
memperbarui penilaian tersebut disepanjang pengauditan.

Hubungan Antara Risiko dan Materialitas dengan Bukti Audit


Konsep materialitas dan risiko dalam audit sangat berkaitan erat dan tidak dapat
dipisahkan. Risiko merupakan ukuran atas ketidakpastian, sedangkan materialitas merupakan
ukuran besaran atau tinggi rendanhnya. Bersama-sama keduanya mengukur jumlah
ketidakpastian dalam suatu besaran tertentu. Berbagai kemungkinan hubungan antara
materialitas, bukti audit dan risiko audit sebagai berikut:

Audit Sektor Publik

Page 26

1.

Jika auditor mempertahankan risiko audit konstan dan tingkat materialitas dikurangi,
auditor harus menambah jumlah bukti audit yang di kumpulkan.

2.

Jika auditor mempertahankan tingkat materialitas konstan dan mengurangi jumlah


bukti audit yang dikumpulkan, risiko audit menjadi meningkat.

3.

Jika auditor menginginkan untuk mengurangi risiko audit, auditor dapat menempuh
salah satu dari tiga cara berikut ini :

Menambah tingkat materialitas, sementara itu mempertahankan jumlah bukti


audit yang dikumpulkan.

Menambah jumlah bukti audit yang dikumpulkan, sementara itu tingkat


materialitas tetap dipertahankan.

Menambah sedikit jumlah bukti audit yang dikumpulkan dan tingkat materialitas
secara bersama-sama.

Merivisi Risiko dan Bukti


Dalam merivisi risiko dan bukti audit, auditor sebaiknya mengikuti pendektan dua
langkah berikut ini :
1. Auditor harus merivisi penilaian awal dari risiko yang wajar. Adalah pelanggaran jika
membiarkan penilaian awal tidak diubah jika auditor tahu itu adalah tidak wahar
2. Auditor harus mempertimbangkan dampak dari rivisi terhadap bukti yang diharuskan,
tanpa penggunaan model risiko audit. Penelitian dalam bidang audit telah
menunjukkan, jika risiko yang dirivisi digunakan dalam model risiko audit untuk
menentukan risiko deteksi yang direncanakan yang juga telah direvisi, ada bahaya
dari tidak meningkatkannya bukti secara memadai. Sebagai gantinya, auditor harus
berhati-hati mengevaluasi implikasi dari revisi risiko dan memodifikasi dengan tepat,
diluar dari model risiko audit.
CONTOH
HASIL PEMERIKSAAN ATAS PENDAPATAN DAERAH
Audit Sektor Publik

Page 27

TAHUN ANGGARAN 2004 DAN 2005


PADA KABUPATEN SIDOARJO DI SIDOARJO
GAMBARAN UMUM
1. Tujuan Pemeriksaan
Tujuan Pemeriksaan Pendapatan Daerah Tahun Anggaran 2004 dan 2005 adalah untuk
mengetahui, menguji, dan menilai apakah:
a. Pendapatan Daerah Kabupaten yang seharusnya menjadi hak daerah yang
bersangkutan telah diterima tepat waktu, dan dalam jumlah yang menjadi haknya
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
b. Pengelolaan Anggaran Pendapatan Daerah telah ditatausahakan atau dicatat secara
tertib, dan dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
c. Sistem pengendalian menajemen pengelolaan anggaran pendapatan daerah telah
cukup memadai.
2. Sasaran Pemeriksaan
Pemeriksaan dilakukan terhadap pendapatan daerah yang berasal dari :
a. Pajak Daerah;
b. Retribusi Daerah;
c. Hasil/Laba Badan Usaha Milik Daerah (BUMD);
d. Lain-lain pendapatan daerah yang sah;
e. Dana Perimbangan.
3. Metodologi Pemeriksaan
Pemeriksaan dilakukan secara uji petik atas dokumen-dokumen yang berkaitan dengan
pendapatan daerah, melakukan konfirmasi dengan pejabat satuan kerja dan pelaksana
pendapatan yang terkait serta pengecekan di lapangan.
4. Jangka Waktu Pemeriksaan
Pemeriksaan dilaksanakan dari Tanggal 7 September 2005 sampai dengan 1 Oktober
2005.
5. Obyek yang diperiksa
a. Pemeriksaan dilakukan atas Pendapatan Daerah Kabupaten Sidoarjo Tahun Anggaran
2004 dan 2005.
b. Anggaran dan realisasi
c. Anggaran dan realisasi Pendapatan Daerah Kabupaten Sidoarjo Tahun Anggaran
2004 dan 2005 (s.d. Juli) adalah sebagai berikut:

Audit Sektor Publik

Page 28

HASIL PEMERIKSAAN
Berdasarkan ketentuan pasal 23E Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 dan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1973, Badan
Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI) telah melakukan pemeriksaan atas
Audit Sektor Publik

Page 29

Pendapatan Daerah Tahun Anggaran 2004 dan 2005 pada Pemerintah Kabupaten Sidoarjo di
Sidoarjo. Pemeriksaan tersebut dilakukan dengan berpedoman pada Standar Audit
Pemerintahan (SAP) yang ditetapkan oleh BPK-RI.
Pendapatan Daerah Kabupaten Sidoarjo Tahun 2004 dan 2005 terdiri dari Pendapatan
Asli Daerah, Dana Perimbangan dan Lain-lain Pendapatan yang Sah. Realisasi Pendapatan
Asli Daerah pada tahun 2004 melebihi target yang ditetapkan, yaitu pada tahun 2004
dianggarkan sebesar Rp 115.924.633.310,00 dan terealisasi sebesar Rp 128.834.195.079,68
atau 111,14% dan tahun 2005 dianggarkan sebesar Rp 125.251.789.300,00 realisasinya
sampai dengan Juli 2005 sebesar Rp 69.675.219.280,80 atau baru mencapai 55,63% dari
anggaran.

Bagian

Dana

Perimbangan

Tahun

2004

dianggarkan

sebesar

Rp

466.486.041.000,00 dan terealisasi sebesar Rp 504.497.383.005,00 atau 108,15%. Sedangkan


tahun 2005 (s.d Juli) dianggarkan sebesar Rp 491.477.399.000,00 dan terealisasi sebesar Rp
278.148.260.786,00 atau baru mencapai 56,59%. Lain-lain Pendapatan yang Sah Tahun 2004
dianggarkan sebesar Rp 20.180.000.000,00 terealisir sebesar Rp 25.180.000.000,00 atau
125%, sedangkan tahun 2005 dianggarkan sebesar Rp 18.320.000.000,00 namun sampai
dengan pemeriksaan berakhir belum teralisir.
Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern menunjukkan bahwa sistem
pengendalian intern telah dirancang dan diterapkan secara memadai. Pengendalian intern
memberikan keyakinan memadai kepada manajemen bahwa penerimaan pendapatan telah
dilaksanakan dengan otorisasi manajemen dan dicatat semestinya. Karena adanya
keterbatasan bawaan dalam setiap pengendalian intern, kekeliruan atau ketidakberesan dapat
saja terjadi dan tidak terdeteksi. Hal tersebut tercermin dalam temuan-temuan pemeriksaan.
Tanpa mengurangi keberhasilan yang telah dicapai, hasil pemeriksaan menunjukkan ada
kelemahan, sehingga menghasilkan temuan sebagai berikut:
1. Penerimaan daerah dari sumber daya alam berupa gas alam kurang diterima sebesar
Rp 23.489.026.528,00.
2. Pengelolaan Terminal Bungurasih dilaksanakan tidak sesuai perjanjian kerjasama.
3. Penetapan target Retribusi Parkir di Jalan Umum tidak didasarkan potensi yang
sebenarnya (riil).
4. Ketetapan Pajak Parkir tidak sesuai ketentuan sebesar Rp 89.370.300,00.
5. Penerimaan Retribusi Pasar Krian tidak dapat direalisasikan sebesar Rp
615.572.500,00.
6. Sebanyak 14 pasar belum ditingkatkan menjadi pasar kelas I.
7. Pemberian keringanan ketetapan pajak dan retribusi belum diatur dengan ketentuan.
8. Pendapatan Puskesmas Tarik yang berasal dari pelayanan unit kamar operasi belum
diatur dengan Peraturan Daerah.
Audit Sektor Publik

Page 30

DAFTAR PUSTAKA
Murwanto, Rahmadi; Adi Budiarso; Fajar Hasri Ramadhana. Audit Sektor Publik : Suatu
Pengantar Bagi Pembangunan Akuntabilitas Instansi Pemerintah. Lembaga Pengkajian
Keuangan Publik dan Akuntabilitas Pemerintah.Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan
Departemen Keuangan RI.2008.
Audit Sektor Publik

Page 31

http://merahkuning.wordpress.com/2012/05/20/contoh-makalah-audit-sektor-publik/
2014

28 Oktober

http://www.scribd.com/doc/94408102/Prosedur-Audit-Penerimaan-Pembiayaan 28 Oktober
2014
http://www.scribd.com/doc/50335353/Program-Audit-Untuk-Siklus-Pendapatan 28 Oktober
2014

Audit Sektor Publik

Page 32