Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

PENGANTAR PENDIDIKAN
MASALAH PENDIDIKAN YANG TERJADI
DI INDONESIA

DI SUSUN OLEH:
Kurniawan Subiantoro
Lukman Fajar
Muhammad Mawahibil Idhom
Muhammad Nur Ali
Muhammad Suryaningrat
Muqorrobin
Naufal Iqbal Maulana

:
:
:
:
:
:
:

1505 1360 5432


1505 1360 7935
1505 1360 7073
1505 1360 6419
1505 1360 7738
1505 1360 8068
1505 1360 7441

S1 PENDIDIKAN TEKNIK OTOMOTIF


FAKULTAS TEKNIK MESIN
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan
rahmat dan hidayahnya kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini tepat pada
waktunya. Dalam penulisan makalah yang berjudul Masalah Pendidikan di
Kalangan Masyarakat di Indonesia. Pembuatan makalah ini bertujuan untuk
menyelesaikan tugas Pengantar Pendidikan dan untuk membahas masalah
pendidikan yang masih terjadi di Indonesia serta pembahasan solusi agar setiap
masalah pendidikan yang terjadi dapat segera di atasi demi kemajuan pendidikan
dan karakter masyarakat di Indonesia.
Kami juga mengucap terima kasih kepada segenap pihak yang telah
membantu, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.seperti pepatah yang
mengatakan tak ada gading yang tak retak seperti makalah ini pula yang tentu
banyak kekurangan dan kesalahan . Oleh karena itu, untuk pembaca, khususnya
pembimbing mata kulliah Pengantar Pendidikan, dapat memberikan kritik dan
saran yang membangun untuk penyempurnaan makalah ini.

Malang, 8 September 2015

Kelompok 2

DAFTAR ISI
Kata Pengantar

Daftar Isi

Pendahuluan
Latar belakang

Perumusan masalah

Tujuan

Pembahasan
Definisi Pendidikan

Tujuan Pendidikan

Bentuk & penyebab masalah pendidikan

Solusi mengatasi masalah pendidikan

Penutup
Simpulan

Saran

Daftar Pustaka

10

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.

LATAR BELAKANG

Pendidikan adalah sarana pengembangan potensi peserta didik menjadi


lebih baik.yang dilakukan oleh berbagai pihak. Dengan pendidikan, diharapkan
dapat mencetak individu dengan kualitas inteligensi, kompetensi, dan karakter
yang baik dimana nantinya akan berguna untuk kepentingan individu, masyarakat,
dan juga Negara.
Namun, di dalam pendidikan itu sendiri, terdapat oknum oknum dan
hal - hal yang merusak nilai pendidikan itu sendiri. Yang berdampak
berkurangnya kualitas peserta didik, dimana nantinya hal tersebut akan berimbas
ke masyarakat bahkan Negara. Korupsi, kolusi, dan Nepotisme, eksploitasi SDA
oleh Negara asing, dan masih banyak lagi contohnya
Dengan pembahasan masalah pendidikan yang terjadi, kami berharap
dapat menemukan solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sehingga
masalah seperti itu tidak muncul lagi di dunia pendidikan. Dengan tujuan akhir
pendidikan di Indonesia dapat berjalan maksimal dan dapat menghasilkan kader
kader bangsa yang berguna untuk kalangan masyarakat dan Negara.

1.2.PERUMUSAN MASALAH
Dari penjelasan latar belakang diatas maka penulis dapat merumuskan
masalah sebagai berikut
1. Defnisi Pendidikan
2. Apa saja masalah pendidikan yang muncul di kalangan masyarakat ?
3. Apa penyebab munculnya masalah pendidikan tersebut ?
4. Apa solusi untuk mengatasi masalah pendidikan tersebut ?

1.3.TUJUAN
1.
2.
3.
4.

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:


Mengetahui definisi dan macam macam pendidikan
Mengetahui masalah pendidikan yang muncul di masyarakat
Mencari akar penyebab munculnya masalah pendidikan
Menemukan solusi untuk mengatasi masalah pendidikan tersebut

BAB II
4

PEMBAHASAN
2.1. DEFINISI PENDIDIKAN
Menurut Undang Undang SISDIKNAS no. 20 tahun 2003, pendidikan
adalah sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran sedemikian rupa supaya peserta didik dapat mengembangkan
potensi dirinya secara aktif supaya memiliki pengendalian diri, kecerdasan,
keterampilan dalam bermasyarakat, kekuatan spiritual keagamaan, kepriadian
serta akhlak mulia.
Sedangkan menurut bahasa, pendidikan adalah perubahan tata laku dan
sikap seseorang atau sekelompok orang dalam usahanya mendewasakan manusia
lewat pelatihan dan pengajaran.
Dan masih banyak definisi pendidikan menurut ahlinya yang intinya
semua sama, yaitu sebagai usaha pengembangan diri.

2.2. TUJUAN PENDIDIKAN


Berikut ini beberapa fungsi nyata lembaga pendidikan :
1. Mengembangkan bakat yang dimiliki tiap orang demi kepentingan
individu maupun kelompok
2. Mecetak pribadi yang peka akan kehidupan sosial di sekitarnya
3. Mempersiapkan individu untuk dapat mencari nafkah
4. Mempersiapkan individu agar nantinya dapat berperan aktif
menjalankan pemerintahan Negara dalam berbagai bidang
5. Menanamkan tingkah laku / kebiasaan yang baru

2.3. BENTUK & PENYEBAB MASALAH PENDIDIKAN


1. Pembelajaran yang terpaku pada buku paket (kurikulum buku
paket)
Indonesia telah berganti beberapa kurikulum. Hampir setiap
Menteri Pendidikan mengganti kurikulum lama dengan kurikulum
yang baru. Pembelajran di sekolah sejak dulu memakai kurikulum
buku paket. Sejak era 60 - 70an, pembelajaran di kelas tidak jauh
berbeda. Di sini kita melihat peran guru statis, tidak inofatif, apalagi
inspiratif.
2. Model pembelajaran ceramah
Model pembelajaran yang menjadi favorit guru mungkin hanya
satu, yaitu metode berceramah. model pembelajaran ini sebenarnya

sudah usang, tetapi masih banyak kita temui praktiknya dalam kelas.
Model pembelajaran seeperti itu menjadikan posisi murid sebagai
objek yang di jejali pengetahuan. Imbasnya kemampuan bernalar para
murid semakin tak terlatih, dan digantikan oleh kemampuan berhafal
saja.
3. Kurangnya daya dukung sarana prasarana dari regulator
Sebenarnya, perhatian pemerintah itu masih kurang untuk
memajukan dan meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Perhatian
terhadap pendidikan kurang dihargai jasanya, kurang diperhatikan
kesejahteraannya, kurang memberi peningkatan. Dan juga kurangnya
pengawasan pemerataan alokasi dana untuk pendidikan, menjadikan
hal tersebut salah satu penyebab sulit berkembangnya pendidikan di
Indonesia.
4. Peraturan yang membelenggu
Peraturan yang membelenggu ini berkaitan dengan kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Seharusnya, sekolah memiliki
kurikulum masing-masing sesuai dengan karakteristiknya. Namun apa
yang terjadi karena tuntutan RPP, silabus membelenggu kreatifitas
guru dan sekolah dalam mengembangkan kemampuannya.
Administrasi administrasi yang membelenggu guru, yang
menjadikan guru lebih terfokus pada administrator sehingga guru lupa
fungsi utama lainnya sebagai motivator, akselerator, mediator, dan
fasilitator
5. Suasana kelas yang kurang aktif
Pembelajaran di ruang kelas sepertinya sudah diseragamkan. Murid
duduk rapi, tangan dilipat di meja, dan mendengarkan guru
menjelaskan. Murid dipaksa mendengar dan menerimma informasi
sejak pagi hingga siang. Sementara kompetensi bertanya tak disentuh.
Suasana begitu kaku dan tidak kondusif untuk pembelajaran yang
merdeka dan berkualitas.
6. Kurang kreatifnya pendidik ( guru )
Salah satu ciri Negara Finlandia yang merupakan Negara dengan
kualitas pendidikan tertinggi, dalam ujian guru memberikan soal
terbuka. Siswa boleh menjawab soal dengan membaca buku. DI
Indonesia Itu tak bisa dilakukan karena nanti banyak yang menyontek.
Guru Indonesia belum siap menerapkan ini karena masih kesulitan
membuat pertanyaan terbuka. Soal terbuka seolah olah menjadi
beban berat. Lebih baik membuat soal tertutup atau soal pilihan ganda,
menilainya mudah, begitu kira kira pemikiran para guru.

7. Paradoks kebijakan UN ( Ujian Nasional )


Apakah UN yang dilakukan tidak lebih dari tiga hari, dengan tiga
mata pelajaran ( Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris )
dapat dijadikan standar mutu pendidikan Indonesia
Tidak ada sedikitpun ruang untuk kecerdasan kecerdasan yang
lain untuk menjadi penentu kelulusan seseorang. Karena itu tidak aneh
jika sekarang para peserta didik mengalami depresi berat. Cita cita
besar membangun bangsa Indonesia kandas disebabkan sistem UN
yang tidak memihak.

2.4. SOLUSI MENGATASI MASALAH PENDIDIKAN


1. Membentuk Badan Pengawas di tiap tiap wilayah
Dari beberapa masalah yang telah ada, sebagian besar disebabkan oleh
tidak adanya pengawasan bagaimana jalannya suatu pendidikan di sebuah
wilayah. Seharusnya dengan diadakannya lembaga pengawasan dan juga
penempatan anggota pengawas di lembaga pendidikan. Dengan begitu,
pengawas tersebut dapat melakukan evaluasi terhadap lembaga yang
ditempatinya. Dengan sering diadakannya evaluasi terhadap metode
pembelajaran, kualitas pendidik, alokasi dana bantuan pendidikan, dapat
membantu mengontrol jalannya pengembangan potensi peserta didik secara
optimal. Serta dapat memberikan hukuman tegas terhadap para pelaku tindak
penyelewengan terhadap pendidikan ( malpraktek pendidikan ).
2. Pelatihan dan penilaian Guru secara intensif
Pengadaan pelatihan dan penilaian kompetensi guru dalam mengajar
secara intensif diharapkan dapat meningkatkan kualitas guru. Jadi tidak hanya
murid yang dinilai perkembangannya, namun juga bagaimana para guru
melakukan pengajaran kepada muridnya. Sehingga tidak hanya murid yang
mendapat tantangan untuk berkembang, namun juga para guru.
3. Menyukseskan program pemerintah SM3T
Dengan program yang telah diadakan ini, diharapkan penyeleksian pada
calon guru semakin baik. Jadi para calon guru ini semakin terbukti
kualitasnya. Dan juga dengan program ini pemerataan pendidikan di seluruh
Indonesia dapat terlaksana dengan baik. Karena kita tahu, pengembangan
pendidikan hanya terfokus pada daerah Ibukota saja pada tiap provinsi.

4. Fokus terhadap pendidikan dasar


Pendidikan dasar bagaikan pondasi pada bangunan. Kuatnya suatu
bangunan sangat bergantung pada pondasi. Seperti pendidikan yang
diterapkan oleh Negara Finlandia, mereka sangat memperhatikan secara detail
7

perkembangan peserta didik pada pendidikan dasar. Karena jika peserta didik
dapat memahami pendidikan dasar secara optimal dan mantap, untuk jenjang
berikutnya peserta didik hanya fokus terhadap kejuruan saja tanpa mengulang
materi pendidikan dasar. Sehingga dapat menghasilkan tenaga ahli sesuai
profesinya.
5. Kurangi dan berantas korupsi
Menurut laporan BPK tahun 2003, Depdiknas merupakan lembaga
pemerintah terkorup kedua setelah Departemen Agama. Laporan ICW
menyebutkan bahwa korupsi dalam dunia pendidikan dilakukan secara
bersama-sama dalam berbagai jenjang mulai tingkat sekolah dinas, sampai
departemen. Pelakunya mulai dari guru. Kepala sekolah, kepala dinas,dan
seterusnya. Sekolah yang diharapkan menjadi benteng pertahanan yang
menjunjung nilai kejujuran.
6. Berikan sarana dan prasarana yang layak
Menurut kepmendikbud No. 053/U/2001 tentang Standar Pelayanan
Minimal (SPM), sekolah harus memiliki persyaratan minimal untuk
menyelenggarakan pendidikan dengan serba lengkap dan cukup, seperti luas
lahan, perabot lengkap, peralatan laboratorium, infrastruktur, dan sarana
olahraga yang lengkap dan memadai.

BAB III
PENUTUP
3.1 .

SIMPULAN
Terlalu bergantungnya para guru dengan kebudayaan lama tentang
pendidikan membuat perkembangan pendidikan menjadi kurang
8

berkualitas. Kualitas peserta didik sangat bergantung dari metode


pembelajaran yang diterapkan oleh lembaga pendidik dan tenaga pendidik
( guru ). Dengan berkualitasnya pendidikan maka dapat dihasilkan pula
anak anak bangsa yang ahli pada bidangnya, serta dapat memajukan
Indonesia dalam berbagai bidang.

3.2.

SARAN
Berjalannya pendidikan di Indonesia, memang menjadi tugas guru
di garis depan. Namun diperlukan juga kerjasama dari berbagai pihak
( orang tua, masyarakat, pemerintah, dan peserta didik ) untuk tercapainya
tujuan dari pendidikan secara optimal.

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
Sumber referensi
Rifai, Muhammad. 2011. Politik Pendidikan Nasional.
Jogjakarta : Ar Ruzz Media.

Laman Internet
9

http://www.kajianteori.com/2013/03/definisi-pendidikan-pengertian-pendidikanoleh-ahli.html
Mohammad Afrizal,2015 Tahukah kalian perbedaan pendidikan negara kita
dengan negara lain, (Online),
(http://mohammadafrizal.web.ugm.ac.id/2015/02/24/tahukah-kalian-perbedaan
-pendidikan-negara-kita-dengan-negara-lain/), diakses 5 September 2015

10

Anda mungkin juga menyukai