Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
Indonesia merupakan salah satu negara yang sedang berkembang, dimana
memiliki jumlah daratan yang masih luas sehingga memungkinkan penduduknya
melakukan usaha pertanian sebagai sumber mata pencarian. Dengan melihat
kenyataan adanya kekayaan alam yang melimpah di bumi Indonesia, maka
pemerintah berupaya menggalinya dengan cara memajukan sektor pertanian yang
merupakan tulang punggung tata ekonomi Indonesia.
Di sisi lain, laju pertumbuhan penduduk yang terus meningkat membawa
korelasi antara meningkatnya kebutuhan pangan yang harus diikuti dengan usaha
peningkatan produksi melalui upaya intensifikasi dan ekstensifikasi di sektor
pertanian serta pembangunan pabrik kimia. Atas dasar pertimbangan itulah maka
Pemerintah merasa perlu untuk mendirikan sebuah perusahaan pupuk di
Indonesia, salah satu yang pertama adalah PT. Pupuk Sriwidjaja atau lebih dikenal
dengan sebutan PT. Pusri yang merupakan produsen pupuk pertama yang
didirikan di Indonesia. Keberadaan PT. Pusri ini memiliki peranan penting dalam
alih teknologi di bidang industri petrokimia dan pemenuhan kebutuhan pupuk
dalam negeri.
1.1

Sejarah dan Perkembangan Pabrik


Perencanaan pembangunan pabrik pupuk kimia dipercayakan kepada Biro

Perancang Negara (BPN), yang berada langsung di bawah Perdana Menteri Ir.
Juanda dengan Mr. Ali Budiarjo dan Prof. Otong Kosasih, masing-masing sebagai
Dirjen dan Wakil Dirjen BPN untuk membuat rancangan proyek pupuk urea yang
kemudian dimasukkan dalam Rancangan Pembanguna Lima Tahun Pertama
(1956-1960).
Biro Perancang Negara (BPN) sebagai bagian dari Rencana Pembangunan
Lima Tahun 1 (REPELITA I) periode 1956-1960 diberi kepercayaan untuk
perencanaan pembangunan pabrik pupuk urea pertama di Indonesia. BPN
1

melakukan studi kelayakan pembangunan pabrik pupuk tersebut, dilanjutkan


dengan pemilihan lokasi yaitu di Sumatera Selatan, dan percobaan lapangan
penggunaan pupuk urea. Proyek pendirian pabrik pupuk urea ini kemudian
dilimpahkan kepada Departemen Perindustrian dan Pertambangan dengan nama
Proyek Pupuk Urea 1.
PT. Pusri resmi didirikan berdasarkan Akte Notaris Eliza Pondaag No. 177
tanggal 24 Desember 1959 dan diumumkan dalam Lembaran Berita Negara
Republik Indonesia No. 46 tanggal 7 Juni 1960. PT. Pusri memiliki kantor pusat
dan pusat produksi berkedudukan di Palembang, Sumatera Selatan. NamaPT.
Pupuk Sriwidjaja merupakan gagasan Prof. Ir. Otong Kosasih dan Ir. Rachman
Subandi. Nama Sriwidjaja diambil sebagai nama perusahaan untuk mengabadikan
sejarah kejayaan Kerajaan Sriwijaya di Palembang, Sumatera Selatan yang sangat
disegani di Asia Tenggara hingga daratan Cina, pada abad ke tujuh Masehi.
PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang merupakan anak perusahaan dari PT Pupuk
Sriwidjaja (Persero) yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
dengan pemilik saham tunggal yaitu pemerintah Republik Indonesia melalui
Departemen Keuangan dan Departemen Perindustrian selaku kuasa pemegang
saham. PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang menjalankan usaha di bidang produksi
dan pemasaran pupuk. Perusahaan yang juga dikenal dengan sebutan PT. Pusri ini,
diawali dengan didirikannya Perusahaan Pupuk pada tanggal 24 Desember 1959,
merupakan produsen pupuk urea pertama di Indonesia.
Mulai tahun 1979, Pusri diberi tugas oleh Pemerintah melaksanakan
distribusi dan pemasaran pupuk bersubsidi kepada petani sebagai bentuk
pelaksanaan Public Service Obligation (PSO) untuk mendukung program pangan
nasional dengan memprioritaskan produksi dan pendistribusian pupuk bagi petani
di seluruh wilayah Indonesia.
Pada tahun 1997, Pusri ditunjuk sebagai perusahaan induk membawahi empat
BUMN yang bergerak di bidang industri pupuk dan petrokimia, yaitu
PT. Petrokimia Gresik di Gresik, Jawa Timur; PT. Pupuk Kujang di Cikampek,
Jawa Barat; PT. Pupuk Kaltim di Bontang, Kalimantan Timur; dan PT. Pupuk

Iskandar Muda di Lhokseumawe,Nangroe Aceh Darussalam; serta BUMN yang


bergerak di bidang engineering, procurement & construction (EPC), yaitu
PT. Rekayasa Industri (berkantor pusat di Jakarta). Pada tahun 1998, anak
perusahaan Pusri bertambah satu BUMN lagi, yaitu PT. Mega Eltra di Jakarta
yang bergerak di bidang perdagangan.
Pada tahun 2010 dilakukan Pemisahan (Spin Off) dari Perusahaan Perseroan
(Persero) PT. Pupuk Sriwidjaja disingkat PT. Pusri (Persero) kepada PT. Pupuk
Sriwidjaja Palembang serta telah terjadinya pengalihan hak dan kewajiban
PT. Pusri (Persero) kepada PT. Pusri Palembang sebagaimana tertuang didalan
RUPS-LB tanggal 24 Desember 2010 yang berlaku efektif 1 Januari 2010
sebagaimana dituangkan dalam Perubahan Anggaran Dasar PT. Pupuk Sriwidjaja
Palembang melalui Akte Notaris Fathiah Helmi, SH nomor 14 tanggal 12
November 2010 yang telah disahkan oleh Menteri Hukum dan HAM tanggal 13
Desember 2010 nomor AHU-57993.AH.01.01 tahun 2010.
Bermula dengan satu unit pabrik berkapasitas 100.000 ton urea per tahun,
perusahaan ini mengalami perkembangan pesat sepanjang tahun 1972 hingga
1994 dengan dibangunnya beberapa pabrik baru. Pembangunan beberapa pabrik
tersebut meningkatkan kapasitas produksi PT. Pusri hingga mencapai 2.260.000
ton urea per tahun. Pabrik pupuk urea pertama PT. Pusri diberi nama Pusri-I.
Start-up pabrik ini dimulai pada tanggal 16 Oktober 1963 dengan kapasitas
produksi sebesar 180 ton ammonia/hari dan 300 ton urea/hari.
PT. Pusri memperluas produksinya dengan pembangunan pabrik baru
dikarenakan kebutuhan pupuk dalam negeri yang semakin meningkat sebagai
akibat dari meningkatnya jumlah penduduk Indonesia dan juga kebutuhan beras
nasional. Perluasan pabrik Pusri mulai direncanakan pada tahun 1965 melalui
penandatanganan perjanjian kerjasama antara Departemen Perindustrian dengan
perusahaan engineering Toyo Menko dari Jepang, namun rencana tersebut
menemui kegagalan akibat kejadian G30S/PKI. Untuk menindak lanjuti rencana
perluasan pabrik tersebut kemudian diadakan studi kelayakan bersama John Van
Der Volk & Associate dari Amerika Serikat pada tahun 1968. Pada tahun 1972

mulai didirikanlah pabrik baru yang disebut pabrik Pusri-II dengan kapasitas
terpasang 660 ton ammonia/hari dan 1150 ton urea/hari.
Dikarenakan kebutuhan pupuk dalam negeri semakin meningkat dengan
sangat pesat, perluasan pabrik kembali dilakukan dengan membangun dua pabrik
baru yaitu pabrik Pusri-III dan Pusri-IV dalam jangka waktu yang relatif hampir
bersamaan. Pabrik Pusri-III dibangun pada tanggal 21 Mei 1975 dengan kapasitas
terpasang 1000 ton ammonia/hari dengan menggunakan proses Kellog dan
kapasitas produksi urea 1725 ton/hari dengan proses Mitsui Toatsu Total Recycle
(MTTR) C-Improved oleh Kellog Overseas Corp dan Toyo Engineering
Corporation (TEC). Pabrik Pusri-IV mulai dibangun dengan kapasitas terpasang
dan proses yang sama, lima bulan setelah pembangunan pabrik Pusri-III.
Pabrik PusriI-I dihentikan operasinya pada tahun 1985 karena dipandang
tidak efisien lagi. Untuk menggantikan pabrik Pusri-I, pada tahun 1990 mulai
dibangun pabrik baru yang diberi nama pabrik Pusri-IB. Pabrik Pusri-IB memiliki
kapasitas 446.000 ton ammonia per tahun dengan menggunakan proses Kellog
dan kapasitas pabrik urea 570.000 ton urea per tahun dengan menggunakan proses
Advanced Process for Cost and Energy Saving (ACES) dari Toyo Engineering
Corporation (TEC). Pabrik ini merupakan pabrik yang dibangun dengan konsep
hemat energi dan menggunakan sistem kendali komputer Distributed Control
System. Konstruksi pabrik ini dilaksanakan oleh PT. Rekayasa Industri.
Berikut ini adalah data pembangunan dan spesifikasi pabrik Pusri-I, Pusri-II,
Pusri-III, Pusri-IV, dan Pusri-IB:
1. Pusri-I
Studi Kelayakan Ekonomi
Pelaksanaan Konstruksi
Penandatanganan Kontrak
Mulai Konstruksi
Selesai Konstruksi
Produksi Pertama
Biaya
Sumber Dana
Kapasitas Terpasang

:
:
:
:
:
:
:
:
:

Gass Bell & Associates


Morrison Knudsen of Asia Inc. (AS)
01 Maret 1961
Oktober 1961
Agustus 1963
16 Oktober 1963
US $ 33 juta
Exim Bank (Japan)
Ammonia 180 ton/hari

Proses Pembuatan

Urea 300 ton/hari


Ammonia-Gidler

Kebutuhan Gas Alam


Sumber Gas Alam

:
:

Urea-MTC Total Recycle B (Jepang)


12.500 MMSCF
Stanvac

2. Pusri-II
Studi Kelayakan Ekonomi
Pelaksanaan Konstruksi

:
:

John Van der Valk


Kellog Overseas Corp. (AS)

Penandatanganan Kontrak
Mulai Konstruksi
Selesai Konstruksi
Produksi Pertama
Biaya
Sumber Dana

:
:
:
:
:
:

Toyo Engineering Corp. (Japan)


07 Agustus 1972
07 Desember 1972
06 Agustus 1974
06 Agustus 1974
US $ 86 juta
USAID,
OECF,
IDA Bank Asia,

Kapasitas Terpasang

Pemerintah RI
Urea 1.150 ton/hari

Proses Pembuatan

Ammonia 660 ton/hari


Ammonia-Kellog

Urea-MTC Total Recycle C-Improved (TRCI)


40.000 MMSCF

Kebutuhan Gas Alam

3. Pusri-III
Studi Kelayakan Ekonomi
Pelaksanaan Konstruksi

:
:

PT. Pusri
Kellog Overseas Corp. (AS)

Penandatanganan Kontrak
Mulai Konstruksi
Selesai Konstruksi
Produksi Pertama
Biaya
Sumber Dana

:
:
:
:
:
:

Toyo Engineering Corp. (Japan)


07 Agustus 1974
21 Mei 1975
November 1976
Desember 1976
US $ 192 juta
Bank Dunia,

Pemerintah RI
Urea 1.725 ton/hari

Ammonia 1000 ton/hari


Ammonia-Kellog

Kapasitas Terpasang
Proses Pembuatan

:
:

Urea-MTC Total Recycle C-Improved (TRCI)


50.000 MMSCF
Pertamina Pendopo Prabumulih

Studi Kelayakan Ekonomi


Pelaksanaan Konstruksi

:
:

PT. Pusri
Kellog Overseas Corp. (AS)

Penandatanganan Kontrak
Mulai Konstruksi
Selesai Konstruksi
Produksi Pertama
Biaya
Sumber Dana
Kapasitas Terpasang

:
:
:
:
:
:
:

Toyo Engineering Corp. (Japan)


07 Agustus 1975
25 Oktober 1975
Juli 1977
Oktober 1977
US $ 186 juta
Dana Pembangunan Saudi Arabia
Ammonia 1000 ton/hari

Proses Pembuatan

Urea 1.725 ton/hari


Ammonia-Kellog

Kebutuhan Gas Alam


Sumber Gas Alam

:
:

Urea-MTC Total Recycle C-Improved (TRCI)


50.000 MMSCF
Pertamina Pendopo Prabumulih

:
:
:
:
:
:
:
:

PT. Pusri
PT. Rekayasa Industri (indonesia)
14 Nopember 1989
Agustus 1990
Desember 1992
Desember 1994
US $ 247,5 juta
PT. Pusri,

Kebutuhan Gas Alam


Sumber Gas Alam
4. Pusri-IV

5. Pusri-IB
Studi Kelayakan Ekonomi
Pelaksanaan Konstruksi
Penandatanganan Kontrak
Mulai Konstruksi
Selesai Konstruksi
Produksi Pertama
Biaya
Sumber Dana

Pemerintah RI,
:

Bank Exim Jepang


Ammonia 1350 ton/hari

Proses Pembuatan

Urea 1.725 ton/hari


Ammonia-Kellog

Kebutuhan Gas Alam


Sumber Gas Alam

:
:

Urea-ACES
55.000 MMSCF
Pertamina Pendopo Prabumulih

Kapasitas Terpasang

PT. Pupuk Sriwidjaja yang semula hanya memiliki satu pabrik dengan
proses optimalisasi dan modifikasi telah membuat PT. Pusri mampu memproduksi
total 2.280.000 Urea/tahun dan 1.324.000 Ammonia/tahun. Perkembangan pabrik
PT. Pusri dapat dilihat pada Tabel 1.1
Tabel 1 Data Perkembangan Pabrik PT. Pusri
Pabrik

Tahun
Mulai
Operasi

PUSRI
II

Lisensor Proses

Kellog MTC, Total


1974
Recycle CImproved

PUSRI
III

Kellog MTC, Total


1976
Recycle CImproved

PUSRI
IV

Kellog MTC, Total


1977
Recycle CImproved

Kapasitas Terpasang

218.000 ton
Ammonia/tahun

Pelaksanaan
Konstruksi
KellogOverseas
Corp
(AS)

570.000 ton
Urea/tahun
330.000 ton
Ammonia/tahun

Kellog Overseas
Corp
(AS)

570.000 ton
Urea/tahun
330.000 ton
Ammonia/tahun

Kellog Overseas
Corp
(AS)

570.000 ton
Urea/tahun

PUSRI

Kellog Advanced

IB

1995
Process For Cost
and Energy Saving
(ACES) of Toyo
Engineering Corp

446.000 ton
Ammonia/tahun

PT. Rekayasa
Industri (Indonesia)

570.000 ton
Urea/tahun

sumber: PT. PUSRI (PERSERO)

PT Pupuk Sriwidjaja ditunjuk oleh pemerintah menjadi perusahaan induk


(holding company) PT Pupuk Sriwidjaja (Persero), berdasarkan PP No.28/1997.
Sejak Pemerintah Indonesia mengalihkan seluruh sahamnya yang ditempatkan di
Industri Pupuk Dalam Negeri dan di PT. Mega Eltra kepada Pusri, melalui
Peraturan Pemerintah (PP) nomor 28 tahun 1997 dan PP nomor 34 tahun 1998,
maka Pusri, yang berkedudukan di Palembang, Sumatera Selatan, menjadi induk
perusahaan (operating holding) dengan membawahi 6 (enam) anak perusahaan
termasuk anak perusahaan penyertaan langsung yaitu PT. Rekayasa Industri,
masing-masing perusahaan bergerak dalam bidang usaha :
1.

PT. Petrokimia Gresik yang berkedudukan di Gresik, Jawa Timur.


Memproduksi dan memasarkan pupuk urea, ZA, SP-36/SP-18, Phonska,
DAP, NPK, ZK, dan industri kimia lainnya serta Pupuk Organik.

2.

PT. Pupuk Kujang, yang berkedudukan di Cikampek, Jawa Barat.


Memproduksi dan memasarkan pupuk urea dan industri kimia lainnya.

3.

PT. Pupuk Kalimantan Timur, yang berkedudukan di Bontang, Kalimantan


Timur. Memproduksi dan memasarkan pupuk urea dan industri kimia
lainnya.

4.

PT. Pupuk Iskandar Muda, yang berkedudukan di Lhokseumawe, Nangroe


Aceh Darussalam. Memproduksi dan memasarkan pupuk Urea dan industri
kimia lainnya.

5.

PT. Rekayasa Industri, yang berkedudukan di Jakarta, Bergerak dalam


penyediaan Jasa Engineering, Procurement & Construction (EPC) guna
membangun industri gas & minyak bumi, pupuk, kimia dan petrokimia,
pertambangan, pembangkit listrik (panas bumi, batu bara, micro-hydro,
diesel).

6.

PT. Mega Eltra, yang berkedudukan di Jakarta dengan bidang usaha


utamanya adalah Perdagangan Umum.
Dalam sejarah perkembangannya, PT. Pusri mendapat berbagai penghargaan

dari dalam dan luar negeri. Dalam laporan ini hanya dicantumkan penghargaanpenghargaan yang berhubungan dengan kinerja pabrik dan keselamatan kerja di
PT. Pusri .

Beberapa penghargaan tersebut diantaranya adalah:


1.

Upakarti sebagai Pembina Industri Kecil dari Presiden RI (1988)

2.

Upakarti sebagai Pembina Industri Kecil dari Presiden RI (1988)

3.

Piagam sebagai salah satu perusahaan pembayar pajak terbesar dari Menteri
Keuangan RI (1988)

4.

Highest Safety Performance dari British Safety Council (1989)

5.

Piagam sebagai Perusahaan Teladan dalam Kesehatan dan Keselamatan


Kerja (K3) tingkat nasional dari Menteri Tenaga Kerja (1991)

6.

Piagam Zero Accident dari Menteri Tenaga Kerja (1991)

7.

Penghargaan Sahwali (Sahwali Award) dari Indonesian Environmental


Management and Information Centre (1991)

8.

Satya Lencana Pembangunan dalam Pembinaan Koperasi Mandiri dari Wakil


Presiden RI (1992)

9.

Sword of Honour dari British Safety Council (1993)

10. Piagam Zero Accident dari Menteri Tenaga Kerja (1994)

10

11. Penghargaan ISO-25 dalam bidang Akreditasi Laboratorium atas Analisa


Pengujian Mutu Produk Ammonia dan Urea dari National Association of
Testing Authorities (NATA) Australia
12. Penghargaan ISO-14001 untuk keselamatan lingkungan (2000)
13. Penghargaan ISO-9002 untuk kualitas produk (2001)

1.1 Lokasi dan Tata Letak Pabrik


Pabrik Pupuk Sriwidjaja didirikan sekitar 7 Km dari pusat kota Palenbang , di
tepi sungai Musi yang merupakan sungai terbesar di Palembang. Alasan pemilihan
daerah tepi sungai Musi sebagai lokasi pabrik antara lain :
1. Letaknya berdekatan dengan wilayah operasi perkilangan minyak
Pertamina sehingga bahan baku gas akan mudah untuk diperoleh dan
tersedia dalam jumlah yang cukup besar.
2. Sungai Musi merupakan sumber air yang tidak pernah kering sepanjang
tahun yang menunjang bahan baku pembuatan steam dan keperluan utilitas
lainnya, di samping sebagai sarana transportasi untuk mengangkut hasil
pabrik.
3. Letaknya berjarak sekitar 198 Km dengan Tambang Bukit Asam yang
tidak jauh dari kota Palembang, yang banyak mengandung batubara yang

11

dapat dijadikan sebagai cadangan bahan baku yang sangat potensial jika
persediaan gas bumi sudah menipis, kemudian berjarak sekitar 14,2 Km
dengan Kereta Api.
Luas tanah yang digunakan untuk lokasi pabrik 20,4723 hektar,ditambah
untuk lokasi perumahan karyawan seluas 26,7095 hektar.Disamping itu lokasi
sebagai cadangan disiapkan tanah seluas 41,7965 hektar yang dimaksudkan untuk
persediaan perluasan komplek pabrik dan perumahan karyawan bila diperlukan
dikemudian hari. Lokasi dan Tata Letak PT. Pusri dapat dilihat pada Gambar 1.1
PT. Pusri berlokasi di Jalan Mayor Zein yang berbatasan dengan :
1. Sebelah Utara adalah Sekojo
2. Sebelah Barat adalah Lemabang
3. Sebelah Timur adalah Sungai Lais
4. Sebelah Selatan adalah Sungai Musi

Berikut ini merupakan tampilan lokasi PT. Pusri Palembang yang di ambil
dari foto udara.

12

Gambar 1 Peta lokasi PT. Pusri Palembang

Kompleks perindustrian PT. Pusri terletak tepat di tepi sungai Musi. Bagian
depan kompleks menghadap ke Jl. Mayor Zen. Bagian depan kompleks industri
merupakan gedung Kantor Pusat. Kantor Pusat merupakan kantor staff direksi dan
administrasi umum PT. Pusri. Di dalam kompleks tersebut juga terdapat kompleks
perumahan karyawan yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti rumah
sakit, fasilitas olah raga, gedung pertemuan, perpustakaan umum, rumah makan,
masjid, dan sebagainya. Selain itu, terdapat juga penginapan yang diperuntukkan
bagi tamu PT. Pusri. Kompleks perumahan dan kompleks pabrik dibatasi oleh
pagar dan terdapat dua buah gerbang masuk kompleks pabrik yang dijaga oleh
aparat

keamanan.

Empat

buah

pabrik

terletak

berkelompok-kelompok

mengelilingi daerah tangki penyimpanan ammonia.


Dalam setiap pabrik, terdapat rumah compressor dimana pada tempat tersebut
compressor dan pompa diletakkan menjadi satu. Alasan pengelompokkan ini

13

adalah karena compressor adalah peralatan yang sangat berisik, sehingga harus
dikelompokkan agar suara bising tidak tersebar kemana-mana. Jika compressor
dikelompokkan menjadi satu, penanganan kondensat juga menjadi lebih mudah.
Hal yang sama juga dilakukan dengan boiler. Boiler dan GTG (Gas Turbin
Generator) diletakkan berdekatan agar kehilangan panas akibat transportasi yang
panjang dapat dihindari.
Daerah yang agak mengarah ke sungai Musi digunakan sebagai daerah
pengantongan dan gudang. Peletakan gudang dan daerah pengantongan ke arah
dermaga khusus PT. Pusri atau yang lebih dikenal Dersus Pusri.

14

Gambar 2 Tata letak kompleks PT. Pusri

1.3 Struktur Organisasi dan Sistem Manajemen Perusahaan

15

1.3.1

Struktur Organisasi PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang

PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang berbentuk perseroan terbatas (PT) dengan


sistem organisasi line and staff organization, dimana proses manajemen di
PT.Pusri dilakukan berdasarkan Total Quality Control Management (TQCM)
dengan melibatkan seluruh pimpinan dan karyawan dalam rangka peningkatan
mutu secara kontinyu. Tugas operasional, sesuai dengan SK/DIR/240/2011
tanggal 21 Oktober 2011, pengoperasian PT. Pusri dipimpin oleh dewan direksi
yang terdiri dari direktur utama yang membawahi 4 orang direktur, yaitu:
1. Direktur produksi
2. Direktur keuangan dan pemasaran
3. Direktur teknik dan pengembangan
4. Direktur SDM dan umum
Di bawah direksi dibentuk sub-direktorat pada unit penunjang dan
kompartemen pada unit operasional dengan tugas sebagai koordinator aktivitas
kepala biro atau kepala departemen. Kepala kompartemen atau yang sekarang
disebut sebagai general manager. Kompartemen membawahi departemendepartemen yang dipimpin oleh seorang kepala departemen. Tetapi ada beberapa
departemen yang bertanggung jawab langsung kepada direksi. Departemen ini
membawahi dinas-dinas yang dipimpin oleh seorang kepala dinas yang langsung
dibawahi kompartemen.
Direktur produksi membawah Departemen produksi yang terbagi seperti
berikut :
1. Divisi Operasi
Divisi ini dipimpin oleh seorang general manager dan bagian shift serta
Superintenden yang masing-masing bertugas mengkoordinir jalannya operasi.
Ass. Manager yang masing-masing membawahi tiga superintenden yaitu :
1. Superintenden Operasi Utilitas
2. Superintenden Operasi Ammonia
3. Superintenden Operasi Urea
Superintenden Operasi dibantu oleh seorang Ass. Superintenden Operasi dan
membawahi langsung foremen senior, foremen, koordinator operator, operator
senior dan operator lapangan.

16

a.

General Manager
General Manager berkedudukan dibawah Direktur yang membawahi
beberapa manager. General manager bertugas sebagai pimpinan disuatu
kompartemen
pemasaran,

yang

meliputi

kompartemen

jasa

kompartemen
teknik

dan

produksi,

kompartemen

pengembangan

usaha,

kompartemen keuangan dan kompartemen SDM dan umum. General


manager bertanggung jawab kepada direktur.
b.

Manager
Manager berkedudukan dibawah seorang general manager dan bertanggung
jawab kepada general manager. Manager mempimpin suatu departemen,
misalnya Departemen Produksi.

c.

Staff Manager
Seorang staff manager berkedudukan langsung dibawah seorang manager
dan bertanggung jawab kepada manager.

d.

Superintendent
Superintendent bertanggung jawab langsung ke manager. Superintendent
memimpin suatu bagian didalam dinas tertentu. Misalnya bagian Utilitas pada
Departemen Operasi Pusri IV.

e.

Assistant Superintendent
Assistant superintendent

bertugas untuk membantu kinerja seorang

Superintendent dan mewakili tugas superintendent apabila superintendent


tidak berada ditempat. Assistant superintendent bertanggung jawab kepada
staff manager.

17

f.

Senior Foreman
Senior foreman bertanggung jawab kepada superintendent dan bertugas untuk
memimpin suatu seksi tertentu. Senior foreman membawahi beberapa
foreman.

g.

Foreman
Foreman atau kepala regu bertugas untuk mengkoordinir regu yang sedang
bertugas pada shift kerja tertentu dan membantu kinerja seorang senior
foreman.

h.

Koordinator Operator
Koordiantor operator bertugas untuk mengkoordinir operator yang bertugas
dilapangan. Koordinator operator bertanggung jawab kapada senior
foreman.

i.

Operator Senior
Operator senior bertugas untuk melaksanakan suatu kontrol operasi pada
pabrik yang berada dikontrol panel dan bertanggung jawab kepada senior
foreman.

j.

Operator Lapangan
Operator lapangan bertugas untuk mengoperasikan peralatan yang ada di
dilapangan pabrik sesuai instruksi dari operator kontrol panel dan
bertanggung jawab kepada senior foreman.

2. Divisi Pemeliharaan

18

Divisi pemeliharaan bertugas memelihara dalam memperbaiki alat-alat


pabrik yang berhubungan dengan operasi pabrik. Divisi pemeliharaan dipimpin
oleh seorang general manager pemeliharaan, yang membawahi manager
pemeliharaan mekanikal, manager pemeliharaan listrik dan instrument,
manager perbengkelan, manager jaminan dan pengendalian kualitas, dan
manager perencanaan dan pengendalian Turn Around.
3. Divisi Pengendalian Pabrik Keselamatan Kerja dan Lingkungan
Divisi pengendalian pabrik keselamatan kerja dan lingkungan bertugas
membantu divisi operasi dalam hal pengamatan operasi, persiapan

dan

pengendalian mutu bahan baku serta bahan pendukung, perhitungan produksi,


evaluasi kondisi operasi serta studi untuk melakukan modifikasi pabrik dan
peningkatan efisiensi.
Departemen pengendalian pabrik keselamatan kerja dan lingkungan,
membawahi 3 divisi yaitu:
a.

Dinas Perencanaan dan Pengendalian Produksi


Dinas perencanaan dan pengendalian produksi dipimpin oleh seorang
manager perencanaan dan pengendalian produksi yang membawahi :
1. Staff Teknik Proses dan Teknik Proses 2
2. Dinas Administrasi Teknik Proses,tugas utama sebagai berikut :
a. Memonitor dan mengevaluasi kondisi operasi pabrik sehingga
dapat dioperasikan pada kondisi yang optimum.
b. Mengendalikan dan mengavaluasi kualitas dan kuantitas hasil
hasil produksi.
c. Memberikan bantuan yang bersifat teknis kepada unit unit
yang terkait.
d. Merencanakan modifikasi peralatan produksi serta tambahan
unit

produksi

dalam

rangka

peningkatan

efisiensi

dan

produktifitas.
e. Memberikan rekomendasi pengganti katalis, resin dan bahan
sejenis.
b.

Divisi Laboratorium

19

Divisi laboratorium bertugas menganalisa, mengontrol dan


mengawasi mutu bahan baku dan bahan penunjang serta hasil produksi
pabrik. Divisi laboratorium ini terdiri dari tiga bagian laboratorium, yaitu :
a. Bagian Laboratorium Kimia Analisis,membawahi :

1. Seksi Analisis Instrument


2. Seksi Laboratorium Penguji Mutu
3. Seksi Laboratorium Pengujian dan Standar

b. Bagian Laboratorium Kontrol Produksi, membawahi :


1. Seksi shift Laboratorium Kontrol Produksi I membawahi
Laboratorium Kontrol Pusri IB dan II
2. Laboratorium Pusri II membawahi Laboratorium Kontrol Pusri III
dan IV
c. Bagian Laboratorium Penunjang Sarana, membawahi :
1. Seksi Penyelidikan dan Distribusi Sarana
2. Seksi Laboratorium Kalibrasi
3. Seksi Laboratorium Harian Alat dan Instrument
c. Divisi Kesehatan Keselamatan Kerja dan Lingkungan Hidup
Divisi ini berada di bawah departemen produksi yang dibagi
menjadi tiga dinas yaitu: Divisi Lingkungan Hidup, Divisi Pemeriksaan
Teknik, dan Divisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Divisi ini dipimpin
oleh seorang manajer yang dibantu oleh :
a. Dinas Pemeriksaan Teknik, terdiri atas :
1. Bagian Pemeriksaan Teknik Lapangan 1
2. Bagian Pemeriksaan Teknik Lapangan
3. Kelompok Jaminan Teknik

20

4. Seksi Pemeriksaan Teknik Bengkel


b. Dinas Keselamatan dan Lingkungan Hidup, terdiri atas :
1. Bagian Pengendalian Pencemaran
2. Bagian Pengendalian Lingkungan Hidup
c. Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Keselamatan Kerja
1. Bagian Penanggulangan Kebakaran dan Kecelakaan Kerja
2. Kelompok Teknik Keselamatan Kerja
3. Bagian hygiene dan Pemeriksaan Kesehatan
d. Dinas Administrasi Umum dan Keuangan Produksi

1.3.2

Struktur Organisasi Dinas Operasi Pusri.


Secara struktur organisasi perusahaan Dinas Operasi Pusri-III termasuk ke
dalam

Departemen

Produksi

II,

yang

tugas

departemen

ini

adalah

mengkoordinasikan jalannya Pusri-III dan Pusri-IV melalui Dinas Operasi PusriIII dan Dinas Operasi Pusri-IV. Sedangkan untuk Pusri-IB dan Pusri-II
dikoordinasikan di bawah Departemen Produksi I.
Pabrik Pusri - IV dipimpin oleh seorang manager Dinas Operasi Pusri -IV
yang bertanggung jawab terhadap operasional pabrik Pusri-IV secara keseluruhan.
manager Dinas Operasi Pusri-IV dibantu oleh 3 orang superintendent, yaitu:
1. Superintendent Operasi Utilitas
2. Superintendent Operasi Ammonia
3. Superintendent Operasi Urea
Setiap superintendent dibantu oleh assistant superintendent yang
membawahi langsung
1. Senior Foreman
2. Kepala Regu /Foreman

21

3. Koordinator Lapangan
4. Operator senior (panel)
5. Operator lapangan
Serta seorang senior foreman, bertugas sebagai pengkoordinir kegiatan di
lapangan antara unit kerja pabrik dan shift, mengawasi kerja operator untuk setiap
shift, dan sekaligus sebagai penanggung jawab operasional pabrik pada jam kerja
diluar day shift.
Operator yang mengoperasikan pabrik terdiri dari operator senior, yang
bertugas di control panel room, dan operator lapangan. Operator-operator tersebut
bekerja sesuai shift yang telah dijadwalkan dan diketuai oleh seorang kepala seksi
shift, dengan pembagian kerja sebagai berikut:
a. Day shift

: 07.00 15.00

b. Swing shift

: 15.00 23.00

c. Night shift

: 23.00 07.0

Dalam satu siklus kerja operator (pegawai shift) terdapat 4 regu yang mana 3 regu
bertugas dan 1 regu libur secara bergantian.
Selain operator dan karyawan lapangan yang jadwal kerjanya dibagi per shift
karena membutuhkan waktu 24 jam, terdapat pula karyawan non shift (pegawai
administrasi) dan jabatan setingkat kepala bagian ke atas dengan jadwal kerja:
1.

Hari senin-kamis : 07.3016.30 diselingi istirahat pukul 12.00-13.00.

2.

Hari jumat : 07.30-17.00


diselingi istirahat pukul 11.30-13.00.

3.

Hari sabtu dan minggu


libur.

22

Gambar 3 Bagan
struktur organisasi PT.
Pupuk Sriwidjaja

1.4
Pendistribusian dan
Pemasaran
Pada tahun 1979,
PT.

Pusri

sebagai

ditunjuk

penanggung

jawab pengadaan dan


penyaluran

seluruh

jenis pupuk bersubsidi,


baik yang berasal dari
produksi dalam negeri
maupun
untuk
kebutuhan

luar

negeri

memenuhi
program

intensifikasi pertanian
melalui

Keputusan

Menteri

Perdagangan

dan

Koperasi

No.56/KP/II/1979.
Berdasarkan penunjukan tersebut, PT. Pusri bertanggung jawab dalam
memasarkan dan mendistribusikan berbagai jenis pupuk hingga sampai di tangan
petani (Pipe Line Distribution Pattern) dengan menekankan mekanisme distribusi
pada faktor biaya (Least Cost Distribution Pattern). Untuk dapat memenuhi
kewajibannya tersebut, PT. Pusri memiliki sistem distribusi sebagaimana dapat
dilihat pada Gambar 4 dan Gambar 5 berikut ini.

23

Gambar 4 Jalur pengadaan dan distribusi pupuk dalam negeri


(Pipe Line Distribution Pattern)
Importir
yang
ditunjuk
pemerintah

Gudang
Lini II

Gudang
Lini III

KUD
Koperasi
penyalur

Pengecer

Petani

Gambar 5 Pengadaan dan distribusi pupuk impor


Pada tanggal 1 Desember 1998, pemerintah menghapus tata niaga pupuk,
baik produksi dalam negeri maupun impor. Keputusan pemerintah tersebut
membuat setiap pabrik pupuk berhak untuk memasarkan sendiri produknya di
Indonesia, meskipun begitu untuk mencegah persaingan yang tidak sehat
pemerintah menentukan daerah-daerah penyaluran untuk setiap pabrik pupuk
yang ada. Adanya keputusan pemerintah ini hanya berlaku pada tata niaga pupuk

24

nasional dan tidak mempengaruhi status PT. Pusri sebagai sebuah holding
company.
Pada tahun 2001, tata niaga pupuk kembali diatur oleh pemerintah melalui
Keputusan Menteri Perindag RI No.93/MPP/Kep/3/2001, dimana unit niaga Pusri
dan atau produsen melaksanakan penjualan pupuk di lini III (kabupaten)
sedangkan dari kabupaten sampai ke tangan petani dilaksanakan oleh distributor
(BUMN, swasta, dan koperasi).
Kemudian pada tahun 2003, dikeluarkan kebijakan tambahan mengenai
tata niaga pupuk, yaitu keputusan Menteri Perindag RI No.70/MPP/2003 tanggal
11 Februari 2003 yang menyatakan tentang tata niaga pupuk yang bersifat
rayonisasi. PT. Pusri tidak lagi bertanggung jawab untuk pengadaan dan
penyediaan pupuk secara nasional namun dibagi dalam beberapa rayon. Mulai
Mei 2003, PT. Pusri mengatur distribusi untuk delapan propinsi, yaitu Sumatera
Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Bangka-Belitung, Jawa
Tengah, dan Banten.

Kemudian menyusul Surat Keputusan No. 306/MPP/Kep/4/2003 yang


mengatur tentang perubahan atas Keputusan Menteri Perindustrian dan
Perdagangan No 70/MPP/Kep/2/2003 tentang Pengadaan dan Penyaluran Pupuk
Bersubsidi untuk Sektor Pertanian. Surat keputusan ini mengatur tentang syaratsyarat bagi importir, serta tatacara pengadaan pupuk bersubsidi dan non subsidi
melalui impor.
Terakhir, dalam rangka lebih meningkatkan kelancaran pengadaan dan
pendistribusian pupuk bersubsidi, maka Pemerintah menerbitkan Surat Keputusan
nomor: 356/MPP/Kep/5/2004 tanggal 27 Mei 2004 yang menegaskan kembali
tanggung jawab masing-masing produsen, distributor, pengecer, serta pengawasan
terhadap pelaksanaannya dilapangan.
Sarana distribusi dan pemasaran yang dimiliki PT. Pusri meliputi :
1. Satu buah kapal ammonia, yaitu MV Sultan Machmud Badaruddin II

25

2. Tujuh buah kapal pengangkut pupuk curah dan satu unit kapal sewa berdaya
muat masing-masing 66500 ton, yaitu MV Pusri Indonesia, MV Abusamah,
MV Sumantri Brojonegoro, MV Mochtar Prabumangkunegara, MV Julianto
Mulio Diharjo, MV Ibrahim Zahier, dan MV Otong Kosasih
3. Empat unit pengantongan pupuk di Belawan, Cilacap, Surabaya, dan
Banyuwangi, serta 1 UPP (Unit Pengantongan Pupuk) sewa di Semarang
4. Gerbong kereta api sebanyak 595 buah
5. Gudang persediaan pupuk sebanyak 107 unit dan gudang sewa sebanyak 261
unit
6. Pemasaran Pusri Daerah (PPD) sebanyak 25 unit di ibukota provinsi
7. Pemasaran Pusri Kabupaten (PPK) sebanyak 180 kantor di ibukota kabupaten
8. Empat unit Kantor Perwakilan Pusri di produsen pupuk lain, yaitu
1.
2.
3.
4.

PT. Pupuk Kujang


PT. Pupuk Iskandar Muda
PT. Petrokimia Gresik
PT. Pupuk Kalimantan Timur