Anda di halaman 1dari 13

Analisis Stabilitas Perbankan Indonesia: Mendukung Industri Kreatif

Menghadapi MEA 2015


Pendahuluan
Pada akhir tahun 2015, akan terjadi sebuah perubahan besar dalam
perekonomian di kawasan Asia Tenggara. Negara-negara ASEAN telah sepakat untuk
segera meresmikan ASEAN Economic Community atau Masyarakat Ekonomi ASEAN
(MEA) pada akhir tahun 2015 untuk memperkuat posisi ASEAN dalam perekonomian
global. Dengan dibentuknya MEA, diharapkan ASEAN menjadi kawasan ekonomi
dengan sistem perdagangan dan aliran modal serta tenaga kerja yang lebih bebas.
Salah satu pilar utama yang menopang MEA adalah Pasar Tunggal dan Basis
Produksi yang menandakan adanya aliran bebas barang maupun jasa dalam pasar
ASEAN. Kondisi yang demikian akan memperluas cakupan pasar negara-negara
ASEAN, termasuk Indonesia. Hal ini menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk meraup
pasar ASEAN, mengingat posisi Indonesia di ASEAN yang cukup tinggi. Tercatat
hingga tahun 2014, Indonesia memiliki PDB tertinggi di ASEAN, dengan pertumbuhan
yang stabil berkisar antara 5-7%. Indonesia pun menjadi salah satu negara tujuan
investasi paling besar dikawasan ASEAN dari negara-negara maju seperti Amerika dan
Jepang.
Meskipun posisi Indonesia di ASEAN cukup tinggi, masih terdapat tantangan
yang harus dihadapi Indonesia agar sukses menguasai pasar ASEAN, salah satunya
dalam ekspor. Struktur ekspor Indonesia masih didominasi oleh barang-barang hulu,
baik ekspor sumber daya alam maupun manufaktur berbasis sumber daya alam,
sehingga rentan terhadap perkembangan harga komoditas dunia dan nilai tambahnya
pun tidak sebesar ekspor barang hilir. Sementara dari sisi impor, Indonesia banyak
mengimpor barang-barang jadi atau hilir. Hal ini salah satunya disebabkan oleh sektor
manufaktur atau industri pengolahan di Indonesia yang kurang berkembang. Kondisi
yang demikian akhirnya menyebabkan Indonesia mengalami defisit neraca pembayaran.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Indonesia memilliki harapan baru pada
industri kreatif. Menurut Kementrian Perdagangan (2008), industri kreatif adalah
industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan, serta bakat individu

untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan melalui penciptaan dan


pemanfaatan daya kreasi dan daya cipta individu tersebut. Pada tahun 2012, industri
kreatif di Indonesia mampu menyumbang PDB Indonesia hingga 145.588,9 milyar
rupiah atau sekitar 7,02% dari PDB Indonesia dan menyumbang 5,51% terhadap ekspor
nasional. Pada tahun yang sama, industri kreatif mampu menyerap 10,65% tenaga kerja
Indonesia.
Industri kreatif terbagi dalam 14 subsektor yang cenderung merupakan barang
hilir siap pakai. Sehingga barang-barang tersebut memiliki nilai tambah yang tinggi dan
tidak terganggu oleh krisis dan perkembangan harga komoditas dunia. Hal ini membuat
permintaan terhadap barang-barang tersebut cenderung stabil. Ketika krisis tahun 2008.
nilai ekspor industri kreatif tetap tumbuh, yaitu dari 95.209 milyar rupiah menjadi
114.925 milyar rupiah pada tahun 2009.
Dengan potensi yang ada, industri kreatif layak dikembangkan dan diunggulkan
dalam menghadapi MEA 2015. Untuk mendorong perkembangan industri kreatif, tentu
saja dibutuhkan aliran modal bagi pelaku-pelaku industri kreatif. Salah satu sumber
modal yang dapat diakses oleh pelaku industri kreatif adalah melalui lembaga
perbankan, baik konvensional maupun syariah.
Agar aliran modal yang ada tidak terhambat, dibutuhkan sistem perbankan yang
stabil. Perbankan yang tidak stabil akan menimbulkan keraguan dan ketidakpercayan
masyarakat terhadap keamanan dalam menempatkan dananya pada sistem perbankan.
Sehingga fungsi perbankan sebagai penghimpun dan penyalur dana terhambat. Kondisi
ini akan mempengaruhi kinerja sektor ril termasuk industri kreatif sebagai salah satu
penerima dana (modal). Oleh karena itu, diperlukan penelitian khusus untuk mengetahui
sistem perbankan mana yang lebih stabil dan cocok untuk mendukung pertumbuhan
industri kreatif, konvensional yang berbasis bunga, atau syariah yang berbasis bagi
hasil.
Dalam penelitian ini, akan dibahas perkembangan industri kreatif di Indonesia
dan membandingan stabilitas perbankan syariah dan perbankan konvensional melalui
analisis performanya saat krisis tahun 2008. Dengan demikian diharapkan dapat
diketahui peran industri kreatif dalam perekonomian Indonesia dan dapat diketahui

sistem perbankan yang cocok untuk mendukung kegiatan industri kreatif kedepannya
dalam menghadapi MEA 2015.

Metode Penelitian
Untuk menjawab tujuan penelitian di atas, peneliti menggunakan analisis
inferensia yang didukung oleh analisis deskriptif untuk memberikan gambaran ekonomi
kreatif dan stabilitas keuangan lembaga perbankan di Indonesia guna mendukung
industri ekonomi kreatif dalam menghadapi MEA 2015. Kestabilan lembaga perbankan
didekati menggunakan pendekatan z-score.
=

ROA (Return On Asset) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur


manajemen bank dalam memperoleh profitabilitas dan mengelola tingkat efisiensi usaha
bank secara keseluruhan. Sedangkan CAP adalah perbandingan antara ekuitas terhadap
aset. z-score digunakan sebagai variabel endegenous yang kemudian diregresikan
dengan beberapa variabel yang mempengaruhi nilai z-score setiap bank dari sisi faktor
internal perbankan. Semua variabel bersumber dari Direktori Perbankan Indonesia tahun
2008 yang dipublikasi oleh Bank Indonesia
Faktor internal yang dimaksud diantaranya, Loan Asset Ratio (LAR), Operating
Expenses to Operating Revenues (OEOR), Asset, dan Herfindahl Index (HI). Semua
data bersumber dari Direktori Perbankan Indonesia tahun 2008. LAR merupakan ukuran
yang digunakan untuk mengukur likuiditas bank. Semakin tinggi nilainya, semakin
rendah likuiditas bank karena bank terlalu banyak memberikan kredit kepada debitur.
Menurut Hasan (2010), tingginya nilai LAR berhubungan negatif dengan kestabilan
bank. OEOR (Operating Expenses to Operating Revenues), digunakan sebagai indikator
efisiensi pengeluaran perbankan. Peluang bank untuk memperoleh keuntungan yang
tinggi menjadi besar ketika pengeluaran bank rendah. Hipotesisnya adalah variabel ini
berpegaruh negatif terhadap kestabilan perbankan. Sedangkan, LTA berpengaruh
positif.

ln( ) = + 1 + 2 + 3 + 4 + 4 +
{

1,
0,

Hasil dan Pembahasan


Perkembangan Industri Kreatif di Indonesia
Menurut Kementrian Perdagangan (2008) ekonomi kreatif adalah era ekonomi
baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan
stock of knowledge dari SDM sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan
ekonominya. Ekonomi kreatif tersebut digerakkan oleh sektor industri yang dikenal
dengan industri kreatif yang terbagi dalam 14 subsektor, yaitu periklanan, arsitektur,
pasar barang seni, kerajinan, desain, fesyen, film dan fotografi, permainan interaktif,
musik, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, layanan komputer dan piranti
lunak, televisi dan radio serta riset dan pengembangan.
Industri kreatif diyakini dapat memberikan kontribusi besar bagi perekonomian
suatu negara, mengingat output yang dihasilkan industri kreatif cenderung merupakan
barang-barang jadi yang memiliki nilai relatif tinggi. Selain itu, industri kreatif dapat
terus dikembangkan dan bersifat tidak terbatas, karena tidak mengeksploitasi sumber
daya alam yang ada. Dalam kegiatan produksinya, industri kreatif memiliki keleluasaan
dalam memilih bahan baku, sehingga dapat memanfaatkan sumber daya terbarukan.
Pengembangan industri kreatif hanya akan terbatas pada ide, gagasan, talenta, inovasi
dan kreativitas pelakunya.
Indonesia sebagai negara dengan tingkat keragaman budaya yang tinggi, patut
melihat industri kreatif sebagai peluang untuk memperkuat perekonomiannya. Industri
kreatif dapat mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia, menekan tingkat
pengangguran dan membantu menyeimbangkan neraca perdagangan nasional, apalagi
mengingat bahwa dalam waktu dekat Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan segera
diresmikan. Industri kreatif dapat menjadi salah satu jalan bagi Indonesia agar tenaga
kerja dan hasil produksi dalam negeri tidak tergerus arus bebas barang dan jasa, dan
bahkan dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk merebut pasar ASEAN.

Untuk melihat keberhasilan kegiatan industri kreatif di Indonesia, menurut


Kementrian Perdagangan diperlukan beberapa indikator sebagai berikut:
1. Berbasis Nilai Pendapatan Domestik Bruto (PDB)
2. Berbasis Ketenagakerjaan
3. Berbasis Aktivitas Perusahaan.
Variabel yang termasuk dalam indikator berbasis nilai PDB diantaranya adalah nilai
PDB industri kreatif itu sendiri, proporsi atau sumbangannya terhadap PDB nasional
dan laju pertumbuhan PDB industri kreatif.
Tabel 1. Nilai Tambah Bruto Industri Kreatif dan Proporsinya dalam PDB
Indonesia Tahun 2010-2013
PDB (Milyar Rupiah)
Tahun

Proporsi
dalam

Ind.Kreatif Nasional

PDB(%)

Pertumbuhan
(%)

2010

132132,1

2314458,8 5,7090

2011

139230,1

2464566,1 5,6493

5,3718968

2012

145589,1

2618932

5,5591

4,5672595

2013

154320

2769053

5,5730

5,9969462

Rata-rata Pertumbuhan

3,9569357

Sumber: Kemenparekraf dan BPS (diolah)


Berdasarkan indikator berbasis PDB, dapat kita lihat dampak positif dari industri
kreatif bagi perekonomian Indonesia. Dari tahun 2010 hingga tahun 2013 nilai PDB
industri kreatif terus meningkat dengan rata-rata laju pertumbuhan 3,96% per tahunnya.
Industri kreatif juga memberikan kontribusi yang cukup stabil terhadap PDB nasional,
yaitu berkisar antara 5-6% per tahunnya. Kontribusi tersebut terbilang cukup besar dan
masih potensial untuk terus ditingkatkan.
Tabel 2. Jumlah Tenaga Kerja Industri Kreatif dan Proporsinya dalam Total
Angkatan Kerja Indonesia Tahun 2010-2013
Tahun

Tenaga Kerja

Proporsi

Ind.Kreatif Nasional

Angkatan

dalam Pertumbuhan
Kerja (%)

(%)
2010

7785980

172001679 4,5267

2011

7928941

172929563 4,5851

1,8361

2012

8064549

175969531 4,5829

1,7103

2013

8135459

179048916 4,5437

0,8793

Rata-rata Pertumbuhan

1,1037

Sumber: Kemenparekraf dan BPS (diolah)


Sedangkan untuk indikator berbasis ketenagakerjaan, tercakup didalamnya
antara lain jumlah tenaga kerja yang terserap industri kreatif, proporsi tenaga kerja
industri kreatif terhadap total angkatan kerja Indonesia serta laju pertumbuhan tenaga
kerja industri kreatif. Berdasarkan Tabel 2, jumlah tenaga kerja yang diserap oleh
industri kreatif terus meningkat dengan laju pertumbuhan rata-rata 1,10% per tahunnya.
Setiap tahunnya, industri kreatif mampu menampung 4-5% dari total angkatan kerja
yang tersedia di Indonesia. Proporsi tersebut cukup besar dan dapat meningkat dengan
pesat seiring dengan bertambahnya jumlah usaha industri kreatif maupun perkembangan
skala industri kreatif itu sendiri. Sehingga industri kreatif memiliki potensi untuk
menekan tingkat pengangguran Indonesia.
Tabel 3. Nilai Ekspor Industri Kreatif dan Proporsinya dalam Total Nilai Ekspor
Indonesia Tahun 2010-2013
Ekspor(Juta Rupiah)
Tahun

Ind.Kreatif Nasional

Proporsi
Ekspor
Nasional (%)

Pertumbuhan
(%)

2010

71132266

1433352123 4,9627

2011

76141238

1786596365 4,2618

7,0418

2012

78628950

1782464522 4,4112

3,2672

2013

85450025

1907916406 4,4787

8,6750

Rata-rata Pertumbuhan

4,6915

Sumber: Kemenparekraf dan BPS (diolah)


Untuk indikator yang terakhir, yaitu indikator berbasis aktivitas perusahaan,
dapat diterangkan melalui variabel seperti nilai ekspor industri kreatif, proporsinya

dalam ekspor nasional, pertumbuhan nilai ekspor serta jumlah dan pertumbuhan unit
usaha industri kreatif di Indonesia. Pada Tabel 3, dapat kita lihat bahwa nilai ekspor
industri kreatif terus meningkat sejak tahun 2010 hingga tahun 2013, dengan laju
pertumbuhan rata-rata sebesar 4,69% per tahun dan pertumbuhan pesat terjadi dari
tahun 2012 ke tahun 2013 yaitu mencapai 8,68%. Industri kreatif menyumbang nilai
ekspor nasional hingga 4-5% pertahunnya. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa
industri kreatif memiliki dampak yang baik bagi neraca pembayaran Indonesia.

Tabel 4. Jumlah Unit Usaha Industri Kreatif Indonesia Tahun 2010-2013


Tahun

Jumlah

Unit Pertumbuh

Usaha

an (%)

2010

2312179

2011

2342201

1,2984

2012

2366866

1,0531

2013

2380885

0,5923

Rata-rata Pertumbuhan

0,7347

Sumber: Kemenparekraf dan BPS(diolah)


Jika dilihat dari jumlah unit usaha industri kreatif, dari tahun 2010 hingga tahun
2013 setiap tahunnya jumlah unit usaha industri kreatif terus bertambah. Rata-rata
pertumbuhan unit usaha industri kreatif adalah 0,73% per tahunnya. Meskipun angka
tersebut terbilang kecil, namun jika dibandingkan dengan pertumbuhan tenaga kerja
yang terserap dan PDB nya, dapat kita simpulkan bahwa industri kreatif merupakan
sektor yang produktif dan termasuk padat karya. Sehingga pertumbuhan jumlah unit
usaha sebaiknya terus di dorong untuk terus meningkatkan produksi industri kreatif dan
menekan pengangguran nasional.
Untuk meningkatkan jumlah unit usaha industri kreatif tersebut diperlukan
kondisi yang kondusif dari segi keamanan dan kenyamanan bagi pelaku usaha. Untuk
mengakomodasi kebutuhan tersebut, pemerintah membentuk lembaga-lembaga yang
akan mengatur dan mengawasi kegiatan ekonom atau industri kreatif. Berawal dengan
menjadi bagian dari departemen di beberapa kementrian seperti kementrian

perdagangan, perindustrian dan terakhir menjadi bagian dari kementrian pariwisata,


pada tahun 2015 presiden Republik Indonesia membentuk sebuah badan bernama
Badan Ekonomi Kreatif dalam rangka mengembankan ekonomi dan industri kreatif di
Indonesia.
Dari segi kepastian hukum, pemerintah dalam hal ini Komite III DPD RI pada
bulan Februari lalu (2015) telah mengajukan RUU tentang ekonomi kreatif dalam
Program Legislasi Nasional Tahun 2015-2019. Jika disetujui, peraturan tersebut
diharapkan dapat menjadi payung hukum dan landasan hukum kegiatan ekonomi dan
industri kreatif sehingga tercipta keamanan dan kenyamanan dalam pelaksanaan
kegiatannya. Namun, selain peraturan yang jelas, perkembangan industri kreatif juga
memerlukan dorongan dari sumber modal yang kuat dan stabil sehingga proses produksi
industri kreatif dapat berjalan lancar dan dapat terus berkembang.

Stabilitas Perbankan Sebagai Sumber Modal Industri Kreatif


Menurut fungsi Cobb-Douglas, selain tenaga kerja, modal dibutuhkan untuk
meningkatkan total output dan mendukung perkembangan teknologi. Dalam industri
kreatif, keterampilan dan teknologi menjadi salah satu faktor penting dalam proses
produksinya. Hampir semua subsektor dalam industri

kreatif membutuhkan

keterampilan teknologi tinggi. Seperti, periklanan, arsitektur, fesyen, film dan fotografi,
permainan interaktif, musik, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, layanan
komputer dan piranti lunak, televisi dan radio serta riset dan pengembangan.
Dibutuhkan modal yang cukup untuk mengadakan teknologi-teknologi tersebut maupun
untuk mengadakan pelatihan keterampilan tenaga kerja.
Oleh karena itu, peran modal dalam pengembangan industri kreatif menjadi
penting. Agar dukungan modal terhadap industri kreatif dapat berjalan lancar tanpa
hambatan, diperlukan sumber modal yang memiliki stabilitas yang baik, dalam hal ini
sumber modal yang dibahas adalah perbankan.

Kestabilan perbankan diukur menggunakan pendekatan z-score. Semakin tinggi


nilainya, semakin kecil kemungkinan terjadinya gangguan dalam sistem individu suatu
perbankan. Berikut tabel z-score lembaga perbankan di Indonesia tahun 2008,
Tabel 5. Daftar lembaga perbankan dengan Z-score tertinggi tahun 2008

No.

Nama Bank

Bank Bisnis Internasional

z-

z-

No.

Nama Bank

7,14

12

Bank of Tokyo

2,12

Bank Keb Indonesia

3,03

13

BPD Bali

2,04

Deutsche Bank

2,81

14

BRI

1,96

Citibank

2,63

15

BPD Sumatera Utara

1,93

Bank Mestika Dharma

2,47

16

BPD Jawa Timur

1,86

BPD Sulawesi Tenggara

2,40

17

Bank UOB Indonesia

1,62

BPD Jambi

2,31

18

Central Asia

1,62

Bank ANZ Indonesia

2,18

19

BPD Jawa Barat dan Banten

1,59

BPD Kalimantan Timur

2,17

20

BPD Papua

1,57

10

BPD NTB

2,15

34

Bank Muamalat Indonesia

1,23

11

BPD Jawa Tengah

2,14

44

Bank Syariah Mandiri

0,87

score

Sumber: Direktori Perbankan Indonesia, Bank Indonesia (diolah)


Bank Pembangunan Daerah mendominasi 20 daftar perbankan dengan z-score
tertinggi. Bank Muamalat Indonesia dan Bank Syariah Mandiri berada jauh di bawah
perbankan konvensional, yaitu pada urutan ke-34 dan 44. Hal ini menggambarkan
keuntungan yang diperoleh bank syariah berada di bawah perbankan konvensional
sehingga peluang bank syariah untuk beresiko merugi atau bangkrut lebih tinggi
dibandingkan perbankan konvensional. Tetapi untuk menarik kesimpulan ini, perlu diuji
menggunakan metode statistik, apakah perbedaan resiko antara kedua sistem perbankan
tersebut signifikan atau tidak.
Stabilitas Lembaga Perbankan
Asumsi dasar yang harus dipenuhi jika menggunakan estimasi OLS (Ordinary Least
Square),

score

Normalitas, pengujian normalitas menggunakan Uji Kolmogorov Smirnov satu sampel.


Uji tersebut menghasilkan p-value 0,29 yang lebih besar dari nilai galat 1. Dengan
tingkat signifikansi 5%, dapat disimpulkan bahwa residual data perbankan yang
dijadikan sampel berdistribusi normal. Hal ini memenuhi asumsi penggunaan OLS
(Ordinary Least Square) untuk menghasilkan estimator yang BLUE (Best Linier
Unbiased Estimator).
Homokedastisitas, menggunakan Uji Park yang meregresikan logaritma natural dari
kuadrat residual dengan semua variabel independen. Ketika parameter jatuh di luar titik
kritis saat uji simultan, maka varian data estimasi akan konstan. Sebaliknya, jika jatuh
di wilayah titik kritis, varian yang dihasilkan tidak konstan. Artinya, penaksir tidak lagi
efisien dalam sampel kecil maupun sampel besar. Dari pengujian yang dilakukan, nilai
F hitung tidak jatuh di wilayah kritis. Hal ini menandakan bahwa varian penaksir
konstan dengan nilai p-value 0,065.
Multikolinieritas, menggunakan indikator VIF. Nilai yang dihasilkan untuk smeua
variabel independen berada di bawah 5, yang artinya tidak ada hubungan antara variabel
independen.
Persamaan yang diusulkan pada penelitian ini telah memenuhi asumsi di atas.
Sehingga, kriteria estimator yang dihasilkan bersifat BLUE (Best Linear Unbiased
Estimator), telah terpenuhi.
ln( ) = 4,564 0,786 0,043 + (7,539 1010 ) 1,295
0,335

(0,109)
(0,000)

(0,000)

(0,538)

(0,003)

(0,619)

2 = 0,55
2

= 0,52
Model yang diajukan dapat menjelaskan lebih dari setengah efek perubahan
yang terjadi pada z-score. Tetapi tidak semua variabel independen berpengaruh
signifikan terhadap variabel dependen secara linier. Salah satu variabel yang tidak
signifikan adalah variabel dummy yang membedakan antara perbankan syariah dan
konvensional, hal ini bisa disebabkan karena ukuran sampel yang kecil dan tidak
seimbang mengingat jumlah bank syariah di Indonesia masih sangat sedikit

dibandingkan bank konvensional, sampel yang digunakan yaitu 78 bank konvensional


dan 4 perbankan syariah. Cihak & Hesse (2008) meneliti kestabilan perbankan dengan
jumlah sampel mencapai 520 perbankan syariah dan 3248 konvensional. Hanya variabel
OEOR dan ID yang berpengaruh signifikan. Kedua variabel berpengaruh negatif
terhadap perubahan nilai z-score. Begitu juga dengan variabel LAR, tetapi tidak
berpengaruh signifikan. Sedangkan variabel aset memberikan efek yang positif yang
tidak signifikan kepada nilai z-score.
Dari model yang didapat, bisa dianalisis untuk mengetahui perbankan yang lebih
stabil. Nilai koefisien dummi syariah bernilai negatif, atau dapat dikatakan perbankan
syariah memiliki z-score lebih rendah dibandingkan perbankan konvensional dengan
variabel

independen

lain

dianggap

tetap.

Sehingga

perbankan

konvensional

diindikasikan lebih stabil dibandingkan perbankan syariah. Tetapi, t-statistik yang ada
menunjukan jika perbedaan tersebut tidak signifikan atau tidak berarti. Artinya, sistem
perbankan yang berbeda memberikan resiko dan kestabilan yang sama. Dengan jumlah
bank syariah yang relatif sedikit dan masih berumur jagung, perbankan syariah bisa
menyeimbangkan kestabilan perbankan konvensional yang telah berumur panjang
dengan jumah bank yang lebih banyak.
Meskipun industri perbankan syariah di Indonesia saat ini masih dalam tahap
awal evolusi, namun perlahan sistem perbankan ini memberikan pengaruh yang positif
terhadap perkembangan ekonomi Indonesia. Menurut Aziz Budi Setiawan (2006), jika
dibandingkan dengan negara tetangga, Malaysia, perkembangan industri perbankan
syariah di Indonesia saat ini lebih baik. Dari sisi kuantitas, jumlah bank umum yang
menawarkan layanan syariah di Indonesia melebihi Malaysia. Begitu juga dari sisi
kualitas, jumlah pembiayaan yang bermasalah di Indonesia jauh lebih sedikit dari pada
Malaysia. Di dalam tulisan yang sama disebutkan bahwa profitabilitas maupun efisiensi
operasi perbankan syariah di Indonesia jauh lebih baik.
Kesimpulan
Perkembangan industri kreatif di Indonesia memiliki dampak positif bagi
perekonomian di Indonesia. Selain mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia,
Industri kreatif mampu meningkatkan nilai ekspor dan menyerap tenaga kerja di

Indonesia, sehingga dapat membantu menyeimbangkan neraca perdagangan Indonesia.


Namun laju pertumbuhan jumlah unit usaha industri kreatif masih tergolong lambat,
sehingga memerlukan perhatian dan dukungan dari pemerintah.
Salah satu bentuk perhatian yang telah diberikan pemerintah terhadap industri
kreatif adalah dengan membentuk lembaga-lembaga terkait seperti Badan Ekonomi
Kreatif (BEK) pada awal tahun 2015 lalu. Pemerintah juga mendukung kegiatan
ekonomi dan industri kreatif dengan berusaha memberikan perlindungan hukum yang
tercermin dengan pengajuan RUU tentang ekonomi kreatif dalam Program Legislasi
Nasional Tahun 2015-2019.
Selain itu, untuk mengembangkan dan meningkatkan jumlah unit usaha industri
kreatif, dibutuhkan aliran modal yang cukup dan stabil. Untuk itu, diperlukan sumber
modal, dalam hal ini perbankan, yang memiliki stabilitas tinggi. Berdasarkan hasil
analisis stabilitas perbankan di Indonesia menggunakan z-score, sekilas terlihat bahwa
perbankan konvensional memiliki z-score yang lebih tinggi dibandingkan perbankan
syariah. Namun, berdasarkan uji t-statistik, perbankan syariah, yang masih minim dari
segi jumlah dan belum banyak diperhatikan di Indonesia, tidak memiliki perbedaan
stabilitas yang signifikan dengan perbankan konvensional. Hal ini mengindikasikan
adanya potensi dari perbankan syariah untuk maju sebagai perbankan yang stabil yang
dapat mendukung perkembangan industri kreatif di Indonesia.
Apalagi perbankan syariah memiliki hubungan langsung dengan sektor riil yang
termasuk didalamnya industri kreatif, karena dalam proses penyaluran dananya, sesuai
syariah diwajibkan untuk terjun langsung dan mengetahui bentuk kegiatan yang
dibiayainya. Berbeda dengan perbankan konvensional yang dapat memberikan
pinjaman tanpa perlu mengetahui secara pasti penggunaan dana tersebut. Sistem
perbankan syariah juga menekankan sistem risk sharing dalam perannya sebagai
pengumpul dan penyalur dana. Sehingga, perbankan syariah pantas untuk lebih
diperhatikan dan dikembangkan agar dimasa yang akan datang dapat menjadi sumber
modal yang lebih stabil bagi industri kreatif.
Referensi

Cihak, M, Hesse. 2008. Islamic Banks and Financial Stability: An Empirical Analysis.
IMF Working Paper, WP/08/16. International Monetary Fund, Wasington.
Gamaginta, et al. 2011. The Stability Comparison between Islamic Banks and
Conventional Banks: Evidence in Indonesia. Paper presenter at 8th International
Conference on Islamic Economics and Finance, 9-21 December, Doha, Qatar.
Hassan, M. K., Kayed. 2010. The Global Financial Crisis and the Islamic Finance
Solution. Paper presented at Durham Islamic Finance Conference, 14-15 July,
Durham University, United Kingdom.
Islam, Muhammad Umar, et al. 2009. Stability of Islamic and Conventional Banks, an
Empirical Comparative Analysis. Lund University, Swedia.
Rahim, Siti Rohaya, et al. 2013. Comparison on Stability Between Islamic and
Conventional Bank in Malaysia. Journal of Islamic and Economic, Banking and
Finance, Vol. 9 No. 3, July- Sept 2013.