Anda di halaman 1dari 53

Cooperative Learning

Pembelajaran kooperatif sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang penuh
ketergantungan dengan orang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama,
pembagian tugas, dan rasa senasib. Dengsan memanfaatkan kenyataan itu, belajar
berkelompok secara koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing)
pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih
berinteraksi-komunikasi-sosialisasikarena koperatif adalah miniature dari hidup
bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok
untuk bekerjasama saling membantu mengkontruksikan konsep, menyelesaikan persoalan
atau inkuiri.
Menurut teori dan pengalaman agarkelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota
kelompok terdiri dari 4-5 orang, siswa heterogen (kemampuan, gender, karakter), ada kontrol
dan fasilitas, dan meminta tanggung jawab hasil kelompokberupa laporan atau presentasi.
Sintak pembelajaran koperatif adalah informasi, pengarahan-strategi, membentuk kelompok
heterogen, kerja kelompok, presentasi hasil kelompok dan pelaporan.
Pustaka :
Ngalimun, 2012. Strategi dan Model Pembelajaran. Scripta Cendekia. Banjarmasin. Halaman
131-132
Sumber: http://weblogask.blogspot.com/2012/03/cooperative-learning.html#ixzz2BH9JpiBP

Problem Based Learning (PBL)


Problem Based Learning (PBL) = Pembelajaran Berbasis Masalah. Kehidupan adalah identik
dengan masalah. Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk
menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa,
untuk merangsang kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kondisi yang tetap harus dipelihara
adalah suasana kondusif, terbuka, negosiasi, demokrasi, suasana nyaman dan menyenangkan
agar siswa dapat berpikir optimal.
Indikator model pembelajaran ini adalahmetakognitif, elaborasi (analisis), interprestasi,
induksi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, konjektur, sintesis, generalisasi dan inkuiri.
Pustaka :
Ngalimun, 2012. Strategi dan Model Pembelajaran. Scripta Cendekia. Banjarmasin. Halaman
133
Sumber: http://weblogask.blogspot.com/2012/03/problem-based-learningpbl.html#ixzz2BHAca315

STAD (Student Team Achievement Division)


STAD adalah salah satu model pembelajaran kooperatif dengan sintaks : Pengarahan, buat
kelompok heterogen (4-5 orang), diskusikan bahan belajar-LKS-modul secara kolaboratif,
sajian-presentasi kelompok sehinggaterjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat skor
perkembangan tiap siswa atau kelompok, umumkan rekor tim dan individual dan berikan
reward.
Ngalimun, 2012. Strategi dan Model Pembelajaran. Banjarmasin. Scripta Cendekia.
Informasi dari sumber lain tentang STAD, yaitu :
Metode STAD merupakan salah satu model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan
teori Psikologi sosial. Dalam teori ini sinergi yang muncul dalam kerja kooperatif
menghasilkan motivasi yang lebih daripada individualistik dalam lingkungan kompetitif.
Kerja kooperatif meningkatkan perasaan positif satu dengan lainnya, mengurangi
keterasingan dan kesendirian , membangun hubungan dan menyediakan pandangan positif
terhadap orang lain. Model STAD ini mempunyai beberapa kelebihan antara lain didasarkan
pada prinsip bahwa para siswa bekerja bersama-sama dalam belajar dan bertanggung jawab
terhadap belajar teman-temannya dalam tim dan juga dirinya sendiri, serta adanya
penghargaan kelompok yang mampu mendorong para siswa untuk kompak, setiap siswa
mendapat kesempatan yang sama untuk menunjang timnya mendapat nilai yang maksimum
sehingga termotivasi untuk belajar. Model STAD memiliki dua dampak sekaligus pada diri
para siswa yaitu dampak instruksional dan dampak sertaan. Dampak instruksional yaitu
penguasaan konsep dan ketrampilan, kebergantungan positif, pemrosesan kelompok, dan
kebersamaan. Dampak sertaan yaitu kepekaan sosial, toleransi atas perbedaan, dan kesadaran
akan perbedaan. Kelemahan yang mungkin ditimbulkan dari penerapan metode STAD ini
adalah adanya perpanjangan waktu karena kemungkinan besar tiap kelompok belum d a p a t
menyelesaikan tugas sesuai waktu yang ditentukan sampai tiap anggota kelompok memahami
kompetensinya.
Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2243617-pengertian-metode-stad/
Sumber: http://weblogask.blogspot.com/2012/05/stad-student-team-achievementdivision.html#ixzz2BHAiqpa8

Model Pembelajaran Jigsaw


Jigsaw adalah tipe pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Elliot
Aronsons. Model pembelajaran ini didesain untuk meningkatkan rasa tanggung
jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang
lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga
harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut kepada kelompoknya.
Sesuai dengan namanya, teknis penerapan tipe pembelajaran ini maju mundur
seperti gergaji. Menurut Arends (1997), langkah-langkah penerapan model
pembelajaran Jigsaw dalam matematika, yaitu:
1. Membentuk kelompok heterogen yang beranggotakan 4 6 orang
2. Masing-masing kelompok mengirimkan satu orang wakil mereka untuk
membahas topik, wakil ini disebut dengan kelompok ahli
3. Kelompok ahli berdiskusi untuk membahas topik yang diberikan dan saling
membantu untuk menguasai topik tersebut
4. Setelah memahami materi, kelompok ahli menyebar dan kembali ke
kelompok masing-masing, kemudian menjelaskan materi kepada rekan
kelompoknya
5. Guru memberikan tes individual pada akhir pembelajaran tentang materi
yang telah didiskusikan

Kunci pembelajaran ini adalah interpedensi setiap siswa terhadap anggota


kelompok untuk memberikan informasi yang diperlukan dengan tujuan agar
dapat mengerjakan tes dengan baik.
Bila dibandingkan dengan metode pembelajaran tradisional, model pembelajaran
Jigsaw memiliki beberapa kelebihan yaitu:
1. Mempermudah pekerjaan guru dalam mengajar,karena sudah ada
kelompok ahli yang bertugas menjelaskan materi kepada rekan-rekannya
2. Pemerataan penguasaan materi dapat dicapai dalam waktu yang lebih
singkat
3. Metode pembelajaran ini dapat melatih siswa untuk lebih aktif dalam
berbicara dan berpendapat.

Dalam penerapannya sering dijumpai beberapa permasalahan yaitu :

Siswa yang aktif akan lebih mendominasi diskusi, dan cenderung


mengontrol jalannya diskusi. Untuk mengantisipasi masalah ini guru harus
benar-benar memperhatikan jalannya diskusi. Guru harus menekankan
agar para anggota kelompok menyimak terlebih dahulu penjelasan dari

tenaga ahli. Kemudian baru mengajukan pertanyaan apabila tidak


mengerti.
Siswa yang memiliki kemampuan membaca dan berfpikir rendah akan
mengalami kesulitan untuk menjelaskan materi apabila ditunjuk sebagai
tenaga ahli. Untuk mengantisipasi hal ini guru harus memilih tenaga ahli
secara tepat, kemudian memonitor kinerja mereka dalam menjelaskan
materi, agar materi dapat tersampaikan secara akurat.

Siswa yang cerdas cenderung merasa bosan. Untuk mengantisipasi hal ini
guru harus pandai menciptakan suasana kelas yang menggairahkan agar
siswa yang cerdas tertantang untuk mengikuti jalannya diskusi.

Siswa yang tidak terbiasa berkompetisi akan kesulitan untuk mengikuti


proses pembelajaran.

Sumber: http://weblogask.blogspot.com/2012/07/model-pembelajaranjigsaw.html#ixzz2BHApua7y

Model Pembelajaran NHT (Numbered Head Together)


Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mengutamakan adanya
kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Para siswa
dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran
yang telah ditentukan. Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan
kesempatan kepada siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan dalam
kegiatan-kegiatan belajar. Dalam hal ini sebagian besar aktifitas pembelajaran berpusat pada
siswa, yakni mempelajari materi pelajaran serta berdiskusi untuk memecahkan masalah.
Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang
menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa
dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik. Tipe ini dikembangkan oleh
Kagen dalam Ibrahim (2000: 28) dengan melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang
tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran
tersebut.
Ibrahim mengemukakan tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran kooperatif
dengan tipe NHT yaitu :
1. Hasil belajar akademik stuktural
Bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik.
2. Pengakuan adanya keragaman
Bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai latar
belakang.
3. Pengembangan keterampilan social
Bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa.
Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat
orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan
sebagainya.Penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT merujuk pada konsep Kagen dalam
Ibrahim (2000: 29), dengan tiga langkah yaitu :
a) Pembentukan kelompok;
b) Diskusi masalah;
c) Tukar jawaban antar kelompok
Langkah-langkah tersebut kemudian dikembangkan oleh Ibrahim (2000: 29) menjadi enam
langkah sebagai berikut :
Langkah 1. Persiapan
Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Skenario
Pembelajaran (SP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran
kooperatif tipe NHT.
Langkah 2. Pembentukan kelompok

Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 orang siswa.
Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang
berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang
sosial, ras, suku, jenis kelamin dan kemampuan belajar. Selain itu, dalam pembentukan
kelompok digunakan nilai tes awal (pre-test) sebagai dasar dalam menentukan masingmasing kelompok.
Langkah 3. Tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan
Dalam pembentukan kelompok, tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan
agar memudahkan siswa dalam menyelesaikan LKS atau masalah yang diberikan oleh guru.
Langkah 4. Diskusi masalah
Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan
dipelajari. Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan
meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam
LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang
bersifat spesifik sampai yang bersifat umum.
Langkah 5. Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban
Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor
yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas.
Langkah 6. Memberi kesimpulan
Guru bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan
dengan materi yang disajikan.
Ada beberapa manfaat pada model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap siswa yang
hasil belajar rendah yang dikemukakan oleh Lundgren dalam Ibrahim (2000: 18), antara lain
adalah :
1. Rasa harga diri menjadi lebih tinggi
2. Memperbaiki kehadiran
3. Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar
4. Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil
5. Konflik antara pribadi berkurang
6. Pemahaman yang lebih mendalam
7. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi
8. Hasil belajar lebih tinggi

Sumber: http://weblogask.blogspot.com/2012/07/model-pembelajaran-nht-numberedhead.html#ixzz2BHB09eGV

Two Stay-Two Stray (TS-TS)


Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah model TSTS. Dua tinggal dua
tamu yang dikembangkan oleh Spencer Kagan 1992 dan biasa digunakan
bersama dengan model Kepala Bernomor (Numbered Heads). Struktur TSTS yaitu
salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan kepada
kelompok membagikan hasil dan informasi kepada kelompok lain. Hal ini
dilakukan karena banyak kegiatan belajar mengajar yang diwarnai dengan
kegiatan-kegiatan individu. Siswa bekerja sendiri dan tidak diperbolehkan
melihat pekerjaan siswa yang lain. Padahal dalam kenyataan hidup di luar
sekolah, kehidupan dan kerja manusia saling bergantung satu sama lainnya.
Ciri-ciri model pembelajaran Two Stay Two Stray, yaitu
1. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi
belajarnya.
2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan
rendah.
3. Bila mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin
yang berbeda.
4. Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok dari pada individu
Tujuan Model Pembelajaran Two Stay Two Stray
Dalam model pembelajaran ini siswa dihadapkan pada kegiatan mendengarkan
apa yang diutarakan oleh temannya ketika sedang bertamu, yang secara tidak
langsung siswa akan dibawa untuk menyimak apa yang diutarakan oleh anggota
kelompok yang menjadi tuan rumah tersebut. Dalam proses ini, akan terjadi
kegiatan menyimak materi pada siswa.
Dalam model pembelajaran kooperatif TSTS ini memiliki tujuan yang sama
dengan pendekatan pembelajaran kooperatif yang telah di bahas sebelumnya.
Siswa di ajak untuk bergotong royong dalam menemukan suatu konsep.
Penggunaan model pembelajaran kooperatif TSTS akan mengarahkan siswa
untuk aktif, baik dalam berdiskusi, tanya jawab, mencari jawaban, menjelaskan
dan juga menyimak materi yang dijelaskan oleh teman. Selain itu, alasan
menggunakan model pembelajaran Two Stay Two Stray ini karena terdapat
pembagian kerja kelompok yang jelas tiap anggota kelompok, siswa dapat
bekerjasama dengan temannya, dapat mengatasi kondisi siswa yang ramai dan
sulit diatur saat proses belajar mengajar.
Dengan demikian, pada dasarnya kembali pada hakekat keterampilan berbahasa
yang menjadi satu kesatuan yaitu membaca, berbicara, menulis dan menyimak.
Ketika siswa menjelaskan materi yang dibahas oleh kelompoknya, maka tentu
siswa yang berkunjung tersebut melakukan kegiatan menyimak atas apa yang di
jelaskan oleh temannya. materi kepada teman lain. Demikian juga ketika siswa
kembali ke kelompoknya untuk menjelaskan materi apa yang di dapat dari
kelompok yang dikunjungi. Siswa yang kembali tersebut menjelaskan materi

yang di dapat dari kelompok lain, siswa yang bertugas menjaga rumah
menyimak hal yang dijelaskan oleh temannya.
Dalam proses pembelajaran dengan model two stay two stray, secara sadar
ataupun tidak sadar, siswa akan melakukan salah satu kegiatan berbahasa yang
menjadi kajian untuk ditingkatkan yaitu keterampilan menyimak. Dengan
menerapkan model pembelajaran kooperatif TSTS seperti itu, siswa akan lebih
banyak melakukan kegiatan menyimak secara langsung, dalam artian tidak
selalu dengan cara menyimak apa yang guru utarakan yang dapat membuat
siswa jenuh. Dengan penerapan model pembelajaran TSTS, siswa juga akan
terlibat secara aktif, sehingga akan memunculkan semangat siswa dalam belajar
(aktif).
Sedangkan tanya jawab dapat dilakukan oleh siswa dari kelompok satu dan yang
lain, dengan cara mencocokan materi yang didapat dengan materi yang
disampaikan. Dengan begitu, siswa dapat mengevaluasi sendiri, seberapa
tepatkah pola pikirnya terhadap suatu konsep dengan pola pikir nara sumber.
Kemudian bagi guru atau peneliti, menjadi acuan evaluasi berapa persenkah
keberhasilan penggunaan model pemelajaran kooperatif two stay two stray ini
dalam meningkatkan keterampilan menyimak siswa.
Langkah-langkah Model Pembelajaran Two Stay Two Stray
Adapun langkah-langkah model pembelajaran Dua Tinggal Dua Tamu (dalam Lie,
2002:60-61) adalah sebagai berikut:
a. Siswa bekerja sama dalam kelompok berempat seperti biasa.
b. Setelah selesai, dua siswa dari masing-masing kelompok akan meninggalkan
kelompoknya dan masing-masing bertamu ke kelompok yang lain.
c. Dua siswa yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan
informasi mereka ke tamu mereka.
d. Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan
temuan mereka dari kelompok lain.
e. Kelompok mencocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka
Tahapan-tahapan Dalam Model Pembelajaran TSTS
Pembelajaran kooperatif model TSTS terdiri dari beberapa tahapan sebagai
berikut:
1. Persiapan
Pada tahap persiapan ini, hal yang dilakukan guru adalah membuat silabus dan
sistem penilaian, desain pembelajaran, menyiapkan tugas siswa dan membagi
siswa menjadi beberapa kelompok dengan masing-masing anggota 4 siswa dan
setiap anggota kelompok harus heterogen berdasarkan prestasi akademik siswa
dan suku.
2. Presentasi Guru
Pada tahap ini guru menyampaikan indikator pembelajaran, mengenal dan
menjelaskan materi sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat.
3. Kegiatan Kelompok
Pada kegiatan ini pembelajaran menggunakan lembar kegiatan yang berisi
tugas-tugas yang harus dipelajari oleh tiap-tiap siswa dalam satu kelompok.
Setelah menerima lembar kegiatan yang berisi permasalahan-permasalahan

yang berkaitan dengan konsep materi dan klasifikasinya, siswa mempela-jarinya


dalam kelompok kecil (4 siswa) yaitu mendiskusikan masalah tersebut bersamasama anggota kelompoknya. Masing-masing kelompok menyelesai-kan atau
memecahkan masalah yang diberikan dengan cara mereka sendiri. Kemudian 2
dari 4 anggota dari masing-masing kelompok meninggalkan kelompoknya dan
bertamu ke kelompok yang lain, sementara 2 anggota yang tinggal dalam
kelompok bertugas menyampaikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu.
Setelah memperoleh informasi dari 2 anggota yang tinggal, tamu mohon diri dan
kembali ke kelompok masing-masing dan melaporkan temuannya serta
mancocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka.
4. Formalisasi
Setelah belajar dalam kelompok dan menyelesaikan permasalahan yang
diberikan salah satu kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya
untuk dikomunikasikan atau didiskusikan dengan kelompok lainnya. Kemudian
guru membahas dan mengarahkan siswa ke bentuk formal.
5. Evaluasi Kelompok dan Penghargaan
Pada tahap evaluasi ini untuk mengetahui seberapa besar kemampuan siswa
dalam memahami materi yang telah diperoleh dengan menggunakan model
pembelajaran kooperatif model TSTS. Masing-masing siswa diberi kuis yang
berisi pertanyaan-pertanyaan dari hasil pembelajaran dengan model TSTS, yang
selanjutnya dilanjutkan dengan pemberian penghargaan kepada kelompok yang
mendapatkan skor rata-rata tertinggi.
Kelebihan Dan Kekurangan Model TSTS
Adapun kelebihan dari model TSTS adalah sebagai berikut.:
a. Dapat diterapkan pada semua kelas/tingkatan
b. Kecenderungan belajar siswa menjadi lebih bermakna
c. Lebih berorientasi pada keaktifan.
d. Diharapkan siswa akan berani mengungkapkan pendapatnya
e. Menambah kekompakan dan rasa percaya diri siswa.
f. Kemampuan berbicara siswa dapat ditingkatkan.
g. Membantu meningkatkan minat dan prestasi belajar
Sedangkan kekurangan dari model TSTS adalah:
a. Membutuhkan waktu yang lama
b. Siswa cenderung tidak mau belajar dalam kelompok
c. Bagi guru, membutuhkan banyak persiapan (materi, dana dan tenaga)
d. Guru cenderung kesulitan dalam pengelolaan kelas.
Untuk mengatasi kekurangan pembelajaran kooperatif model TSTS, maka
sebelumpembelajaran guru terlebih dahulu mempersiapkan dan membentuk
kelompok-kelompok belajar yang heterogen ditinjau dari segi jenis kelamin dan
kemampuan akademis. Berdasarkan sisi jenis kelamin, dalam satu kelompk harus
ada siswa laki-laki dan perempuannya. Jika berdasarkan kemampuan akademis
maka dalam satu kelompok terdiri dari satu orang berkemampuan akademis
tinggi, dua orang dengan kemampuan sedang dan satu lainnya dari kelompok
kemampuan akademis kurang. Pembentukan kelompok heterogen memberikan
kesempatan untuk saling mengajar dan saling mendukung sehingga

memudahkan pengelolaan kelas karena dengan adanya satu orang yang


berkemampuan akademis tinggi yang diharapkan bisa membantu anggota
kelompok yang lain.
Sumber: http://weblogask.blogspot.com/2012/08/two-stay-two-stray-tsts.html#ixzz2BHBNvV1Z

Model Pembelajaran Tari Bambu


Model Pembelajaran Tari Bambu mempunyai tujuan agar siswa saling berbagi informasi pada
saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dalam waktu singkat secara teratur,
strategi ini cocok untuk materi yang membutuhkan pertukaran pengalaman pikiran dan
informasi antar siswa. Meskipun namanya Tari Bambu tetapi tidak menggunakan bambu.
Siswa yang berjajarlah yang diibaratkan sebagai bambu.
Langkah-Langkah pembelajarannya sebagai berikut :
1. Separuh kelas atau seperempat jika jumlah siswa terlalu banyak berdiri berjajar . Jika
ada cukup ruang mereka bisa berjajar di depan kelas. Kemungkinan lain adalah siswa
berjajar di sela-sela deretan bangku. Cara yang kedua ini akan memudahkan
pembentukan kelompok karena diperlukan waktu relatif singkat.
2. Separuh kelas lainnya berjajar dan menghadap jajaran yang pertama
3. Dua siswa yang berpasangan dari kedua jajaran berbagi sinformasi.
4. Kemudian satu atau dua siswa yang berdiri di ujung salah satu jajaran pindah ke ujung
lainnya di jajarannya. Jajaran ini kemudian bergeser. Dengan cara ini masing-masing
siswa mendapat pasangan yang baru untuk berbagi. Pergeseran bisa dilakukan terus
sesuai dengan kebutuhan.
Sumber: http://weblogask.blogspot.com/2012/08/model-pembelajaran-taribambu.html#ixzz2BHBXZ4dR

Model Pembelajaran Artikulasi


Dalam bahasan tentang Model Pembelajaran Artikulasi kali ini juga akan dibahas
tentang Pengertian, langkah-langkah serta kelebihan dan kekurangannya.
A. Pengertian Model Pembelajaran Artikulasi
Model pembelajaran Artikulasi merupakan model yang prosesnya seperti pesan
berantai, artinya apa yang telah diberikan Guru, seorang siswa wajib
meneruskan menjelaskannya pada siswa lain (pasangan kelompoknya). Di sinilah
keunikan model pembelajaran ini. Siswa dituntut untuk bisa berperan sebagai
penerima pesan sekaligus berperan sebagai penyampai pesan.
Model pembelajaran artikulasi merupakan model pembelajaran yang menuntut
siswa aktif dalam pembelajaran dimana siswa dibentuk menjadi kelompok kecil
yang masing-masing siswa dalam kelompok tersebut mempunyai tugas
mewawancarai teman kelompoknya tentang materi yang baru dibahas. Konsep
pemahaman sangat diperlukan dalam mode pembelajaran ini.
B. Langkah-langkah Model Pembelajaran Artikulasi
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2. Guru menyajikan materi sebagaimana biasa.
3. Untuk mengetahui daya serap siswa, bentuklah kelompok berpasangan dua
orang.
4. Menugaskan salah satu siswa dari pasangan itu menceritakan materi yang
baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatancatatan kecil, kemudian berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya.
5. Menugaskan siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil
wawancaranya dengan teman pasangannya sampai sebagian siswa sudah
menyampaikan hasil wawancaranya.
6. Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami
siswa.
7. Kesimpulan/penutup.
C. Kelemahan dan kelebihan Pembelajaran Artikulasi
Kelemahan dan kelebihan dari pembelajaran artikulasi ini antara lain:
A. Kelemahannya:
a. Untuk mata pelajaran tertentu
b. Waktu yang dibutuhkan banyak
c. Materi yang didapat sedikit
d. Banyak kelompok yang melapor dan perlu dimonitor
e. Lebih sedikit ide yang muncul
f. Jika ada perselisihan tidak ada penengah
B. Kelebihannya:
a. Semua siswa terlibat (mendapat peran)
b. Melatih kesiapan siswa
c. Melatih daya serap pemahaman dari orang lain

d. Cocok untuk tugas sederhana


e. Interaksi lebih mudah
f. Lebih mudah dan cepat membentuknya
g. Meningkatkan partisipasi anak
Sumber: http://weblogask.blogspot.com/2012/08/model-pembelajaranartikulasi.html#ixzz2BHBcVPCT

Model Pembelajaran Debate


Dalam model pembelajaran Debate siswa juga dilatih bagaimana mengeluarkan pendapat
seperti dalam model pembelajaran Think Pair and Share, perbedaannya adalah dalam debate
situasi pembelajaran disengaja dibuat 2 kelompok yang berseberangan (pro dan kontra).
Siswa dilatih mengutarakan pendapat/pemikirannya dan
bagaimana mempertahankan pendapatnya dengan alasan-alasan yang logis dan dapat
dipertanggungjawabkan. Bukan berarti siswa diajak saling bermusuhan, melainkan siswa
belajar bagaimana menghargai adanya perbedaan.
Adapun langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut :
1. Guru membagi siswa menjadi 2 kelompok peserta debat, yang satu pro dan yang
lainnya kontra.
2. Guru memberikan tugas untuk membaca materi yang akan diperdebatkan oleh kedua
kelompok diatas.
3. Setelah selesai membaca materi, Guru menunjuk salah satu anggota kelompok pro
untuk berbicara saat itu,
4. kemudian setelah selesai ditanggapi oleh kelompok kontra. Demikian seterusnya
sampai sebagian besar siswa bisa mengemukakan pendapatnya.
5. Sementara siswa menyampaikan gagasannya, guru menulis inti/ide-ide dari setiap
pembicaraan sampai mendapatkan sejumlah ide yang diharapkan.
6. Guru menambahkan konsep/ide yang belum terungkapkan.
7. Dari data-data yang diungkapkan tersebut, guru mengajak siswa membuat
kesimpulan/rangkuman yang mengacu pada topik yang ingin dicapai.
Sumber: http://weblogask.blogspot.com/2012/08/model-pembelajarandebate.html#ixzz2BHBhGOa2

Model Pembelajaran Snowball Throwing


Model Pembelajaran Snowball Throwing adalah suatu tipe Model pembelajaran
kooperatif. Model pembelajaran ini menggali potensi kepemimpinan murid dalam
kelompok dan keterampilan membuat-menjawab pertanyaan yang di padukan
melalui permainan imajinatif membentuk dan melempar bola salju (Komalasari:
2010)
Langkah-langkah Model Pembelajaran Snowball Throwing sebagai berikut
1.Guru menyampaikan materi yang akan disajikan
2.Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua
kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi
3.Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing,
kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya
4.Kemudian masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas kerja, untuk
menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah
dijelaskan oleh ketua kelompok
5.Kemudian kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke
siswa yang lain selama 15 menit
6.Setelah siswa dapat satu bola/satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada
siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola
tersebut secara bergantian
7.Evaluasi
8.Penutup
Sumber: http://weblogask.blogspot.com/2012/09/model-pembelajaran-snowballthrowing.html#ixzz2BHBny114

Model Pembelajaran Make A Match


Model Pembelajaran Make A Match adalah suatu tipe Model pembelajaran Konsep . Model
pembelajaran ini mengajak murid mencari jawaban terhadap suatu pertanyaan konsep melalui
suatu permainan kartu pasangan (Komalasari, 2010: 85).
Langkah langkah Model Pembelajaran Make A Match menurut Lorna Curran(Komalasari,
2010: 85) adalah sebagai berikut :
1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok
untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban
2. Setiap siswa mendapat satu buah kartu
3. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegan
4. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya
(soal jawaban)
5. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin
6. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda
dari sebelumnya
7. Demikian seterusnya
8. Kesimpulan/penutup
Sumber: http://weblogask.blogspot.com/2012/09/model-pembelajaran-makematch.html#ixzz2BHBsT0uy

Model Pembelajaran Mind Mapping


Mind mapping merupakan cara untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan
mengambilnya kembali ke luar otak. Bentuk mind mapping seperti peta sebuah jalan di kota
yang mempunyai banyak cabang. Seperti halnya peta jalan kita bisa membuat pandangan
secara menyeluruh tentang pokok masalah dalam suatu area yang sangat luas. Dengan sebuah
peta kita bisa merencanakan sebuah rute yang tercepat dan tepat dan mengetahui kemana kita
akan pergi dan dimana kita berada. (http://www.kaskus.us/showthread.php?t=702661)
Mind mapping bisa disebut sebuah peta rute yang digunakan ingatan, membuat kita bisa
menyusun fakta dan fikiran sedemikian rupa sehingga cara kerja otak kita yang alami akan
dilibatkan sejak awal sehingga mengingat informasi akan lebih mudah dan bisa diandalkan
daripada menggunakan teknik mencatat biasa.
Konsep Mind Mapping asal mulanya diperkenalkan oleh Tony Buzan tahun 1970-an. Teknik
ini dikenal juga dengan nama Radiant Thinking. Sebuah mind map memiliki sebuah ide atau
kata sentral, dan ada 5 sampai 10 ide lain yang keluar dari ide sentral tersebut. Mind Mapping
sangat efektif bila digunakan untuk memunculkan ide terpendam yang kita miliki dan
membuat asosiasi di antara ide tersebut. Mind Mapping juga berguna untuk
mengorganisasikan informasi yang dimiliki. Bentuk diagramnya yang seperti diagram pohon
dan percabangannya memudahkan untuk mereferensikan satu informasi kepada informasi
yang lain.(http://escaeva.com)
Mind mapping merupakan tehnik penyusunan catatan demi membantu siswa menggunakan
seluruh potensi otak agar optimum. Caranya, menggabungkan kerja otak bagian kiri dan
kanan. Dengan metode mind mapping siswa dapat meningkatkan daya ingat hingga 78%.
Beberapa manfaat memiliki mind map antara lain :
a. Merencana
b. Berkomunikasi
c. Menjadi Kreatif
d. Menghemat Waktu
e. Menyelesaikan Masalah
f. Memusatkan Perhatian
g. Menyusun dan Menjelaskan Fikiran-fikiran
h. Mengingat dengan lebih baik
i. Belajar Lebih Cepat dan Efisien
j. Melihat gambar keseluruhan
Ada beberapa kelebihan saat menggunakan teknik mind mapping ini, yaitu :
a. Cara ini cepat
b. Teknik dapat digunakan untuk mengorganisasikan ide-ide yang muncul dikepala anda
c. Proses mengganbar diagram bisa memunculkan ide-ide yang lain.
d. Diagram yang sudah terbentuk bisa menjadi panduan untuk menulis.
( http://www.escaeva.com/tips-menulis/tips-fiksi/menulis-dengan-diagram-balon.html)
Perbedaan Catatan Biasa dan Mind Maping
Catatan Biasa : Peta Pikiran

Hanya berupa tulisan-tulisan saja erupa tulisan : symbol dan gambar

Hanya dalam satu warna : Berwarna-warni

Untuk mereview ulang diperlukan waktu yang lama : Untuk mereview ulang
diperlukan waktu yang pendek

Waktu yang diperlukan untuk belajar lebih lama : Waktu yang diperlukan untuk
belajar lebih cepat dan efektif

Statis : Membuat individu menjadi kreatif (Sumber Iwan Sugiarto, 2004 : 76).

Dari uraian tersebut, peta pikiran (mind mapping) adalah satu teknik mencatat yang
mengembangkan gaya belajar visual. Peta pikiran memadukan dan mengembangkan potensi
kerja otak yang terdapat di dalam diri seseorang. Dengan adanya keterlibatan kedua belahan
otak maka kan memudahkan seserorang untuk mengatur dan mengingat segala bentuk
informasi, baik secara tertulis maupun secara verbal. Adanya kombinasi warna, simbol,
bentuk dan sebagainya memudahkan otak dalam menyerap informasi yang diterima.Peta
pikiran yang dibuat oleh siswa dapat bervariasi setiap hari. Hal ini disebabkan karena
berbedanya emosi dan perasaan yang terdapat dalam diri siswa setiap harinya. Suasana
menyenangkan yang diperoleh siswa ketika berada di ruang kelas pada saat proses belajar
akan mempengaruhi penciptaan peta pikiran. Tugas guru dalam proses belajar adalah
menciptakan suasana yang dapat mendukung kondisi belajar siswa terutama dalam proses
pembuatan mind mapping.(Sugiarto,Iwan. 2004. Mengoptimalkan Daya Kerja Otak Dengan
Berfikir.)
Cara membuat mind mapping, terlebih dahulu siapkan selembar kertas kosong yang diatur
dalam posisi landscape kemudian tempatan topik yang akan dibahas di tengah-tengah
halaman kertas dengan posisi horizontal. Usahakan menggunakan gambar, simbol atau kode
pada mind mapping yang dibuat. Dengan visualisasi kerja otak kiri yang bersifat rasional,
numerik dan verbal bersinergi dengan kerja otak kanan yang bersifat imajinatif, emosi,
kreativitas dan seni. Dengan ensinergikan potensi otak kiri dan kanan, siswa dapat dengan
lebih mudah menangkap dan menguasai materi pelajaran.
Selain itu, siswa dapat menggunakan kata-kata kunci sebagai asosiasi terhadap suatu ide pada
setiap cabang pemikiran berupa sebuah kata tunggal serta bukan kalimat. Setiap garis-garis
cabang saling berhubungan hingga ke pusat gambar dan diusahakan garis-garis yang dibentuk
tidak lurus agar tidak membosankan. Garis-garis cabang sebaiknya dibuat semakin tipis
begitu bergerak menjauh dari gambar utama untuk menandakan hirarki atau tingkat
kepentingan dari masing-masing garis.
Sumber: http://weblogask.blogspot.com/2012/09/model-pembelajaran-mindmapping.html#ixzz2BHBz6xIY

Model Pembelajaran Example Non Example


Model Pembelajaran Example Non Example atau juga biasa di sebut example and
non-example merupakan model pembelajaran yang menggunakan gambar
sebagai media pembelajaran. Penggunaan media gambar ini disusun dan
dirancang agar anak dapat menganalisis gambar tersebut menjadi sebuah
bentuk diskripsi singkat mengenai apa yang ada didalam gambar.
Penggunaan Model Pembelajaran Example Non Example ini lebih menekankan
pada konteks analisis siswa. Biasa yang lebih dominan digunakan di kelas tinggi,
namun dapat juga digunakan di kelas rendah dengan menenkankan aspek
psikoligis dan tingkat perkembangan siswa kelas rendah seperti ; kemampuan
berbahasa tulis dan lisan, kemampuan analisis ringan, dan kemampuan
berinteraksi dengan siswa lainnya. Model Pembelajaran Example Non Example
menggunakan gambar dapat melalui OHP, Proyektor, ataupun yang paling
sederhana adalah poster. Gambar yang kita gunakan haruslah jelas dan
kelihatan dari jarak jauh, sehingga anak yang berada di belakang dapat juga
melihat dengan jelas.
Konsep pada umumnya dipelajari melalui dua cara. Paling banyak konsep yang
kita pelajari di luar sekolah melalui pengamatan dan juga dipelajari melalui
definisi konsep itu sendiri. Example and Nonexample adalah taktik yang dapat
digunakan untuk mengajarkan definisi konsep. Taktik ini bertujuan untuk
mempersiapkan siswa secara cepat dengan menggunakan 2 hal yang terdiri dari
example dan non-example dari suatu definisi konsep yang ada, dan meminta
siswa untuk mengklasifikasikan keduanya sesuai dengan konsep yang ada.
Example memberikan gambaran akan sesuatu yang menjadi contoh akan suatu
materi yang sedang dibahas, sedangkan non-example memberikan gambaran
akan sesuatu yang bukanlah contoh dari suatu materi yang sedang dibahas.
Example Non Example dianggap perlu dilakukan karena suatu definisi konsep
adalah suatu konsep yang diketahui secara primer hanya dari segi definisinya
daripada dari sifat fisiknya. Dengan memusatkan perhatian siswa terhadap
example dan non-example diharapkan akan dapat mendorong siswa untuk
menuju pemahaman yang lebih dalam mengenai materi yang ada.
Menurut Buehl (1996) keuntungan dari metode example and nonexample antara
lain:
1. Siswa berangkat dari satu definisi yang selanjutnya digunakan untuk memperluas pemahaman konsepnya dengan lebih mendalam dan lebih komplek
2. Siswa terlibat dalam satu proses discovery (penemuan), yang mendorong
mereka untuk membangun konsep secara progresif melalui pengalaman dari
example dan non example
3. Siswa diberi sesuatu yang berlawanan untuk mengeksplorasi karakteristik dari
suatu konsep dengan mempertimbangkan bagian non example yang
dimungkinkan masih terdapat beberapa bagian yang merupakan suatu karakter
dari konsep yang telah dipaparkan pada bagian example.

Tennyson dan Pork (1980 hal 59) dalam Slavin 1994 menyarankan bahwa jika
guru akan menyajikan contoh dari suatu konsep maka ada tiga hal yang
seharusnya diperhatikan, yaitu:
1. Urutkan contoh dari yang gampang ke yang sulit.
2. Pilih contoh contoh yang berbeda satu sama lain.
3. Bandingkan dan bedakan contoh contoh dan bukan contoh
Menyiapkan pengalaman dengan contoh dan non-contoh akan membantu siswa
untuk membangun makna yang kaya dan lebih mendalam dari sebuah konsep
penting. Joyce and Weil (1986) dalam Buehl (1996) telah memberikan kerangka
konsep terkait strategi tindakan, yang menggunakan model inkuiri untuk
memperkenalkan konsep yang baru dengan metode Example and Nonexample.
Kerangka konsep tersebut antara lain:
1. Menggeneralisasikan pasangan antara contoh dan non-contoh yang menjelaskan beberapa dari sebagian besar karakter atau atribut dari konsep baru. Menyajikan itu dalam satu waktu dan meminta siswa untuk memikirkan perbedaan apa
yang terdapat pada dua daftar tersebut. Selama siswa memikirkan tentang tiap
examples dan non-examples tersebut, tanyakanlah pada mereka apa yang
membuat kedua daftar itu berbeda.
2. Menyiapkan examples dan non examples tambahan, mengenai konsep yang
lebih spesifik untuk mendorong siswa mengecek hipotesis yang telah dibuatnya
sehingga mampu memahami konsep yang baru.
3. Meminta siswa untuk bekerja berpasangan untuk menggeneralisasikan konsep
examples dan non-examples mereka. Setelah itu meminta tiap pasangan untuk
menginformasikan di kelas untuk mendiskusikannya secara klasikal sehingga
tiap siswa dapat memberikan umpan balik.
4. Sebagai bagian penutup, adalah meminta siswa untuk mendeskripsikan
konsep yang telah diperoleh dengan menggunakan karakter yang telah didapat
dari examples dan non-examples
Langkah-langkah Model Pembelajaran Example Non Example:
CONTOH DAPAT DARI KASUS/GAMBAR YANG RELEVAN DENGAN KOMPETENSI
DASAR.
1. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran
2. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui
OHP/Proyektor/ hanya berupa slide kertas.
3. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk
memperhatikan/menganalisa gambar
4. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar
tersebut dicatat pada kertas
5. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya

6. Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai
tujuan yang ingin dicapai
7. Kesimpulan
Sumber: http://weblogask.blogspot.com/2012/09/model-pembelajaran-examplenon-example.html#ixzz2BHECPStR

Model Pembelajaran Picture And Picture


Model Pembelajaran Picture and Picture adalah suatu model pembelajaran dengan
menggunaan media gambar. Dalam oprasionalnya gambar-gambar dipasangkan satu sama
lain atau bisa jadi di urutkan menjadi urutan yang logis. Prinsip dasar dalam model
pembelajaran kooperatif picture and picture adalah sebagai berikut:
1. Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang
dikerjakan dalam kelompoknya.
2. Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok
mempunyai tujuan yang sama.
3. Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang
sama di antara anggota kelompoknya.
4. Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.
5. Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan
keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
6. Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggungjawabkan secara
individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Adapun langkah-langkah dari pelaksanaan Picture and Picture ini menurut Istarani (2011:7)
adalah sbb:
1). Guru menyampaikan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai. Di langkah
ini guru diharapkan untuk menyampaikan apakah yang menjadi Kompetensi Dasar mata
pelajaran yang bersangkutan. Dengan demikian maka siswa dapat mengukur sampai sejauh
mana yang harus dikuasainya. Disamping itu guru juga harus menyampaikan indicatorindikator ketercapaian KD, sehingga sampai dimana KKM yang telah ditetapkan dapat
dicapai oleh peserta didik.
2). Memberikan materi pengantar sebelum kegiatan. Penyajian materi sebagai pengantar
sesuatu yang sangat penting, dari sini guru memberikan momentum permulaan pembelajaran.
Kesuksesan dalam proses pembelajaran dapat dimulai dari sini. Karena guru dapat
memberikan motivasi yang menarik perhatian siswa yang selama ini belum siap. Dengan
motivasi dan teknik yang baik dalam pemberian materi akan menarik minat siswa untuk
belajar lebih jauh tentang materi yang dipelajari.
3). Guru menyediakan gambar-gambar yang akan digunakan (berkaitan dengan materi).
Dalam proses penyajian materi, guru mengajar siswa ikut terlibat aktif dalam proses
pembelajaran dengan mengamati setiap gambar yang ditunjukan oleh guru atau oleh
temannya. Dengan Picture atau gambar kita akan menghemat energy kita dan siswa akan
lebih mudah memahami materi yang diajarkan. Dalam perkembangan selanjutnya sebagai
guru dapat memodifikasikan gambar atau mengganti gambar dengan video atau demontrasi
yang kegiatan tertentu.
4). Guru menunjuk siswa secara bergilir untuk mengurutkan atau memasangkan gambargambar yang ada. Di langkah ini guru harus dapat melakukan inovasi, karena penunjukan
secara langsung kadang kurang efektif dan siswa merasa terhukum. Salah satu cara adalah
dengan undian, sehingga siswa merasa memang harus menjalankan tugas yang harus
diberikan. Gambar-gambar yang sudah ada diminta oleh siswa untuk diurutkan, dibuat, atau
di modifikasi.
5). Guru memberikan pertanyaan mengenai alasan siswa dalam menentukan urutan gambar.

Setelah itu ajaklah siswa menemukan rumus, tinggi, jalan cerita, atau tuntutan KD dengan
indicator yang akan dicapai. Ajaklah sebanyak-banyaknya peran siswa dan teman yang lain
untuk membantu sehingga proses diskusi dalam PBM semakin menarik.
6). Dari alasan tersebut guru akan mengembangkan materi dan menanamkan Konsep materi
yang sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai. Dalam proses diskusi dan pembacaan
gambar ini guru harus memberikan penekanan-penekanan pada hal ini dicapai dengan
meminta siswa lain untuk mengulangi, menuliskan atau bentuk lain dengan tujuan siswa
mengetahui bahwa hal tersebut penting dalam pencapaian KD dan indikator yang telah
ditetapkan. Pastikan bahwa siswa telah menguasai indikator yang telah ditetapkan.
7). Guru menyampaikan kesimpulan. Di akhir pembelajaran, guru bersama siswa mengambil
kesimpulan sebagai penguatan materi pelajaran.
Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran Picture and Picture: Kelebihan: 1. Guru lebih
mengetahui kemampuan masing-masing siswa. 2. Melatih berpikir logis dan sistematis. 3.
Membantu siswa belajar berpikir berdasarkan sudut pandang suatu subjek bahasan dengan
memberikan kebebasan siswa dalam praktik berpikir, 4. Mengembangkan motivasi untuk
belajar yang lebih baik. 5. Siswa dilibatkan dalam perencanaan dan pengelolaan kelas.
Kekurangan: 1. Memakan banyak waktu 2. Banyak siswa yang pasif. 3. Guru khawatir bahwa
akan terjadi kekacauan dikelas. 4. Banyak siswa tidak senang apabila disuruh bekerja sama
dengan yang lain 5. Dibutuhkan dukungan fasilitas, alat dan biaya yang cukup memadai.
Sedangkan menurut Istarani (2011:8) kelebihan dan kekurangan Picture And Picture adalah :
Kelebihan Model Pembelajaran Picture And Picture: 1. Materi yang diajarkan lebih terarah
karena pada awal pembelajaran guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai dan materi
secara singkat terlebih dahulu. 2. Siswa lebih cepat menangkap materi ajar karena guru
menunjukkan gambar-gambar mengenai materi yang dipelajari. 3. Dapat meningkat daya
nalar atau daya pikir siswa karena siswa disuruh guru untuk menganalisa gambar yang ada. 4.
Dapat meningkatkan tanggung jawab siswa, sebab guru menanyakan alasan siswa
mengurutkan gambar. 5. Pembelajaran lebih berkesan, sebab siswa dapat mengamati
langsung gambar yang telah dipersiapkan oleh guru.
Kelemahan Model Pembelajaran Picture And Picture: 1. Sulit menemukan gambar-gambar
yang bagus dan berkulitas serta sesuai dengan materi pelajaran. 2. Sulit menemukan gambargambar yang sesuai dengan daya nalar atau kompetensi siswa yang dimiliki. 3. baik guru
ataupun siswa kurang terbiasa dalam menggunakan gambar sebagai bahan utama dalam
membahas suatu materi pelajaran. 4. Tidak tersedianya dana khusus untuk menemukan atau
mengadakan gambar-gambar yang diinginkan.
Sumber: http://weblogask.blogspot.com/2012/09/model-pembelajaran-picture-andpicture.html#ixzz2BHEIoaof

Model Pembelajaran COOPERATIVE SCRIPT


Model Pembelajaran COOPERATIVE SCRIPT adalah metode belajar dimana siswa
bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan, bagianbagian dari materi yang dipelajari.
Langkah-langkah :
1. Guru membagi siswa untuk berpasangan
2. Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat
ringkasan
3. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai
pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar
4. Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan
memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya.
5. Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan
sebaliknya. Serta lakukan seperti diatas. Kesimpulan Siswa bersama-sama
dengan Guru
6. Penutup
Sumber: http://weblogask.blogspot.com/2012/09/model-pembelajarancooperative-script.html#ixzz2BHEOPQWY

Model Pembelajaran Take and Give


Model Pembelajaran menerima dan memberi (Take and Give) merupakan model
pembelajaran yang memiliki sintaks, menuntut siswa mampu memahami materi pelajaran
yang diberikan guru dan teman sebayanya (siswa lain).
Kelebihan :
Siswa akan lebih cepat memahami penguasaan materi dan informasi karena
mendapatkan informasi dari guru dan siswa yang lain.
Dapat menghemat waktu dalam pemahaman dan penguasaan siswa akan informasi.
Kelemahan:
Bila informasi yang disampaikan siswa kurang tepat (salah) maka informasi yang
diterima siswa lain pun akan kurang tepat.
Media Model Pembelajaran Take and Give
1. Siapkan Kartu dengan ukuran 10 x 15 cm untuk sejumlah siswa.
2. Setiap kartu berisi nama siswa, bahan belajar (sub materi) dan nama yang diberi
informasi, kompetensi dan sajian materi.
Kesimpulan :
Model pembelajaran menerima dan memberi adalah dengan sintaks:
1. Siapkan kartu dengan yang berisi nama siswa dan bahan belajar,
2. Informasikan kompetensi,
3. Menyajikan materi,
4. Pemantapan materi : pada tahap pemantapan tiap siswa disuruh berdiri dan mencari
teman dan saling informasi tentang materi atau pendalaman-perluasannya kepada
siswa lain kemudian mencatatnya pada kartu, dan seterusnya dengan siswa lain secara
bergantian,
5. Evaluasi, dan
6. Refleksi.
Sumber: http://weblogask.blogspot.com/2012/10/model-pembelajaran-take-andgive.html#ixzz2BHETrJPQ

Model Pembelajaran Role Playing dan Beberapa Pengertiannya


Model pembelajaran Role Playing juga dikenal dengan nama model pembelajaran Bermain
Peran. Pengorganisasian kelas secara berkelompok, masing-masing kelompok
memperagakan/menampilkan scenario yang telah disiapkan guru. Siswa diberi kebebasan
berimprofisasi namun masih dalam batas-batas scenario dari guru.
Langkah-langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut :
1. Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan.
2. Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dalam waktu beberapa hari
sebelum pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar.
3. Guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya 5 orang.
4. Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai.
5. Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah
dipersiapkan.
6. Masing-masing siswa berada di kelompoknya sambil mengamati skenario yang
sedang diperagakan.
7. Setelah selesai ditampilkan, masing-masing siswa diberikan lembar kerja untuk
membahas/memberi penilaian atas penampilan masing-masing kelompok.
8. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya.
9. Guru memberikan kesimpulan secara umum.
10. Evaluasi.
11. Penutup.
Beberapa Pengertian tentang Model pembelajaran Role Playing :
Role playing atau bermain peran adalah sejenis permainan gerak yang didalamnya ada tujuan,
aturan dan sekaligus melibatkan unsur senang (Jill Hadfield, 1986). Dalam role playing murid
dikondisikan pada situasi tertentu di luar kelas, meskipun saat itu pembelajaran terjadi di
dalam kelas. Selain itu, role playing sering kali dimaksudkan sebagai suatu bentuk aktivitas
dimana pembelajar membayangkan dirinya seolah-olah berada di luar kelas dan memainkan
peran orang lain (Basri Syamsu, 2000).
Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui
pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan
dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini
pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang
diperankan.
Pada metode bermain peranan, titik tekanannya terletak pada keterlibatan emosional dan
pengamatan indera ke dalam suatu situasi masalah yang secara nyata dihadapi. Murid
diperlakukan sebagai subyek pembelajaran, secara aktif melakukan praktik-praktik berbahasa
(bertanya dan menjawab) bersama teman-temannya pada situasi tertentu. Belajar efektif

dimulai dari lingkungan yang berpusat pada diri murid (Departemen Pendidikan Nasional,
2002). Lebih lanjut prinsip pembelajaran memahami kebebasan berorganisasi, dan
menghargai keputusan bersama, murid akan lebih berhasil jika mereka diberi kesempatan
memainkan peran dalam bermusyawarah, melakukan pemungutan suara terbanyak dan
bersikap mau menerima kekalahan sehingga dengan melakukan berbagai kegiatan tersebut
dan secara aktif berpartisipasi, mereka akan lebih mudah menguasai apa yang mereka pelajari
(Boediono, 2001). Jadi, dalam pembelajaran murid harus aktif, karena tanpa adanya aktivitas,
maka proses pembelajaran tidak mungkin terjadi.
Sumber: http://weblogask.blogspot.com/2012/08/model-pembelajaran-role-playingdan.html#ixzz2BHNcyQuq

Model Pembelajaran Kooperatif tipe GI (Group Investigation)


Model pembelajaran kooperatif tipe GI (Group Investigation) dikembangkan oleh
Shlomo dan Yael Sharan di Universitas Tel Aviv. Stahl (1999: 257-258)
menyebutkan bahwa:
group investigationin particular encourages students initiative and responsibility
for their work, as individuals,
as members of study groups, and as members of an entire class. The
investigation combines independent study as weel as work in pairs and in small
groups (from three to five students). When they complete their search, groups
integrate and summarize their findings and decide how to present the essence of
their work to their classmates.
Makna dari pendapat Stahl di atas menyatakan bahwa dalam investigasi
kelompok siswa diberikan tanggung jawab terhadap pekerjaan mereka, baik
secara individu, berpasangan maupun dalam kelompok. Setiap kelompok
investigasi terdiri dari 3-5 orang, dan akhirnya siswa dapat menggabungkan,
mempersentasikan dan mengikhtisarkan jawaban mereka.
Pelaksanaan investigasi kelompok menurut Stahl (1999: 265-266) dapat
dilakukan dengan:
chosing the problem to investigate, preparing for a group investigation task, and
introducing the project, sedangkan guru dapat berperan dalam guiding the
students and facilitating the process of investigation and helping maintain
cooperative norms of behavior.
Pernyataan di atas mengandung makna bahwa pelaksanaan investigasi
kelompok dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu memilih persoalan untuk
diivestigasi, menyiapkan tugas investigasi kelompok dan memperkenalkan
proyek yang berhubungan dengan materi pembelajaran. Sedangkan peran guru
selama pembelajaran investigasi kelompok adalah: membimbing siswa dan
memfasilitasi proses investigasi dan membantu menjaga aturan perilaku
kooperatif.
Menurut Slavin (1995: 113-114) dalam implementasi teknik group investigation
dapat dilakukan melalui 6 (enam) tahap. Tahapan tersebut adalah: 1) identifying
the topic and organizing pupils into groups, 2) planning the learning task, 3)
carring out the investigation, 4) preparing a final report, 5) presenting the final
report, and 6) evaluation. Dengan melihat tahapan tersebut, maka pembelajaran
dengan teknik group investigation berawal dari mengidentifikasi topik dan
mengatur murid kedalam kelompok, merencanakan tugas yang akan dipelajari,
melaksanakan investigasi, menyiapkan laporan akhir, mempersentasikan laporan
akhir dan berakhir pada evaluasi.
Dari uraian pendapat Slavin, di atas dapat dijelaskan bahwa dalam group
investigation, para siswa bekerja melalaui enam tahapan. Tahapan-tahapan ini
dan komponen-komponennya dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Mengidentifikasikan topik dan mengatur siswa ke dalam kelompok.
a) Para siswa meneliti beberapa sumber, mengusulkan sejumlah topik dan

mengkategotikan saran-saran.
b) Para siswa begabung dengan kelompoknya untuk mempelajari topik yang
mereka pilih.
c) Komposisi kelompok didasarkan pada ketertarikan siswa dan harus bersifat
homogen.
d) Guru membantu dalam mengumpulkan informasi dan memfasilitasi
pengaturan.
2. Merencanakan tugas yang akan dipelajari
Para siswa merencanakan bersama mengenai apa yang akan dipelajari,
bagaiman memepelajarinya dan pembagian tugas .
3. Melaksanakan investigasi
a) Para siswa mengumpulkan informasi, mengenai data dan membuat
kesimpulan
b) Tiap anggota kelompok berkontribusi untuk usaha-usaha yang dilakukan
kelompoknya.
c) Para siswa saling bertukar, bediskusi, mengklasifikasi, dan mensintesis semua
gagasan.
4. Menyiapkan laporan akhir
a) Anggota kelompok menentukan pesan-pesan esensial dari tugas mereka
b) Anggota kelompok merencanakan apa yang mereka laporkan, dan bagaiman
mereka membuat pesentasinya.
c) Wakil-wakil kelompok membentuk panitia untuk mengkoordinasikan rencanarencana presentasi.
5. Mempresentasikan laporan akhir
a) Presentasi yang dibuat untuk semua kelas dan berbagai macam bentuk
b) Presentasi harus dapat melibatkan peseta secara aktif
c) Para peserta mengevaluasi kejelasan dan penampilan presentasi berdasarkan
keriteria yang telah ditentukan sebelumnya.
6. Evaluasi
a) Para siswa saling meberikan umpan balik mengenai topik tersebut.
b) Guru dan murid berkolaborasi dalam mengevaluasi pembelajaran siswa.
c) Penilaian atas pembelajaran harus mengevaluasi pemikiran paling tinggi.
d) Pendekatan lain untuk mengevaluasi dapat dengan membuat para siswa
merekonstruksi proses investigasi yang telah mereka lakukan dan memetakan
langkah-langkah yang telah mereka terapkan dalam pembelajaran mereka.
Slavin (1995: 113-114) menyebutkan bahwa dalam melaksanakan tugas
investigasi siswa dapat:
students gather information, analyze the data and reach conclusions, 2) each
group member contributes to the group effort, and 3) students exchange discuss
clarify, and synthesize ideas. Dalam menyiapkan laporan akhir, aktifitas yang
dilakukan adalah:1) group members determine the essential message of their
project, 2) group members plan what they will report and how they will make
their presentation and 3) group representatives form a steering committee to
coordinate plans for the presentation. Pada tahap mempersentasekan laporan
akhir yang harus dipehatikan adalah the presentation is made to the entire class
in a variety of forms, part of the presentation should actively involve the
audience, and the audience evaluates the clarity and appeal of presentation

according to criteria determined in advance by the whole class. Sedangkan


dalam evaluasi, aktifitas siswa adalah students share feedback about the topik,
about the work they did, and about their effective experiences (1) teachers and
pupils collaborate in evaluating student learning, and (3) assessment of learning
should evaluate higher-level thinking.
Pendapat tersebut mengandung pengertian bahwa dalam melaksanakan tugas
investigasi siswa dapat mengumpulkan informasi, menganalisis, dan membuat
simpulan, setiap anggota kelompok berkontribusi untuk usaha-usaha yang
dilakukan kelompoknya, dan saling bertukar pikiran, berdiskusi, mengklarifikasi,
dan mensintesis semua gagasan, sedangkan dalam menyiapkan laporan akhir,
aktifitas yang dilakukan siswa adalah nggota kelompok menentukan pesanpesan esensial dari pekerjaan mereka, anggota kelompok merencanakan apa
yang akan mereka laporkan dan bagaimana membuat persentase, wakil-wakil
kelompok membentuk sebuah tim untuk mengkoordinasikan rencana persentasi.
Dalam mempersentasikan laporan akhir, persentase harus dapat melibatkan
pendengarnya secara aktif dan pendengar menevaluasi berdasrakan keriteria
yang telah ditentukan sebelumnya, sedangakan pada tahap evaluasi, siswa
saling memberikan umpan balik, kolaborasi guru dan murid dalam mengevaluasi
pembelajaran dan penilaian atas pembelajaran harus mengevaluasi pemikiran
yang paling tinggi
Sumber: http://weblogask.blogspot.com/2012/08/model-pembelajaran-kooperatiftipe-gi.html#ixzz2BHNjs0cF

Model Pembelajaran Talking stick


Talking stick termasuk salah satu model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran ini
dilakukan dengan bantuan tongkat, siapa yang memegang tongkat wajib menjawab
pertanyaan dari guru setelah siswa
mempelajari materi pokoknya. Pembelajaran Talking Stick sangat cocok diterapkan bagi
siswa SD, SMP, dan SMA/SMK. Selain untuk melatih berbicara, pembelajaran ini akan
menciptakan suasana yang menyenangkan dan membuat siswa aktif. Langkah-langkah
penerapannya dapat dilakukan sebagai berikut.
1. Guru membentuk kelompok yang terdiri atas 5 orang.
2. Guru menyiapkan sebuah tongkat yang panjangnya 20 cm.
3. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan
kesempatan para kelompok untuk membaca dan mempelajari materi pelajaran.
4. Siswa berdiskusi membahas masalah yang terdapat di dalam wacana.
5. Setelah kelompok selesai membaca materi pelajaran dan mempelajari isinya, guru
mempersilahkan anggota kelompok untuk menutup isi bacaan.
6. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada salah satu anggota kelompok,
setelah itu guru memberi pertanyaan dan anggota kelompok yang memegang tongkat
tersebut harus menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa
mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru.
7. Siswa lain boleh membantu menjawab pertanyaan jika anggota kelompoknya tidak
bisa menjawab pertanyaan.
8. Guru memberikan kesimpulan.
9. Guru melakukan evaluasi/penilaian, baik secara kelompok maupun individu.
10. Guru menutup pembelajaran.
Sumber: http://weblogask.blogspot.com/2012/09/model-pembelajaran-talkingstick.html#ixzz2BHNoPKkg

Model pembelajaran scramble


Model pembelajaran scramble tampak seperti model pembelajaran word square,
bedanya jawaban soal tidak dituliskan di dalam kotak-kotak jawaban, tetapi
sudah dituliskan, namun dengan susunan yang acak, jadi siswa bertugas
mengoreksi (membolak-balik huruf) jawaban tersebut sehingga menjadi jawaban
yang tepat / benar.
Kelebihan Model pembelajaran Scramble :
1. Memudahkan mencari jawaban
2. Mendorong siswa untuk belajar mengerjakan soal tersebut
3. Semua siswa terlibat
4. Kegiatan tersw dapat mendorong pemahaman siswa terhadap materi
pelajaran
5. Melatih untuk disiplin
Kekurangan model pembelajaran scramble
1. Siswa kurang berfikir kritis
2. Bisa saja mencontek jawaban teman lainnya
3. Mematikan kreatifitas siswa
4. Siswa tinggal menerima bahan mentah
Langkah-langkah Model pembelajaran scramble :
1. Guru menyajikan materi sesuai topic, misalnya guru menyajikan materi
pelajaran tentang Tata Surya
2. Setelah selesai menjelaskan tentang Tata Surya, guru membagikan lembar
kerja dengan jawaban yang diacak susunannya.
3. Media yang digunakan dalam model pembelajaran scramble :
4. Buat pertanyaan yang sesuai dengan TPK
5. Buat jawaban yang diacak hurufnya
Media :
Buatlah pertanyaan yang sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
Buat jawaban yang diacak hurufnya
Langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut :
Guru menyajikan materi sesuai kompetensi yang ingin dicapai.
Membagikan lembar kerja sesuai contoh.
Susunlah huruf-huruf pada kolom B sehingga merupakan kata kunci (jawaban)
dari pertanyaan pada kolom A!
Kolom A
1. Sebelum mengenal uang orang melakukan pertukaran dengan cara
2. digunakan sebagai alat pembayaran yang sah
3. Uang saat ini banyak dipalsukan
4. Nilai bahan pembuatan uang disebut nilai
5. Kemampuan uang untuk ditukar dengan sejumlah barang atau jasa disebut
nilai

6. Nilai perbandingan uang dalam negeri dengan mata uang asing disebut
7. Nilai yang tertulis pada uang disebut nilai
8. dorongan seseorang menyimpan uang untuk keperluan jual beli disebut
9. perintah tertulis dari seseorang yang mempunyai rekening di bank untuk
membayar sejumlah uang disebut
Kolom B
1. TARREB . ( Contoh : jawaban yang benarBARTER )
2. GANU
3. TRASEK
4. KISTRINI
5. LIRI
6. SRUK
7. MINALON .
8. SAKSITRAN
9. KEC
Sumber: http://weblogask.blogspot.com/2012/09/model-pembelajaranscramble.html#ixzz2BHNugI00

Model Pembelajaran Student Facilitator and Explaining


A. Pengertian Model Student Facilitator and Explaining
Model pembelajaran Student Facilitator and Explaining merupakan model
pembelajaran dimana siswa / peserta didik belajar mempresentasikan ide atau
pendapat pada rekan peserta didik lainnya. Model pembelajaran ini efektif untuk
sendiri.
Langkah-langkah pembelajaran :
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai / KD
2. Guru mendemonstrasikan / menyajikan garis-garis besar materi pembelajaran
3. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjelaskan kepada siswa
lainnya, misalnya melalui bagan / peta konsep. Hal ini bisa dilakukan secara
bergiliran
4. Guru menyimpulkan ide / pendapat dari siswa
5. Guru menerangkan semua materi yang disajikan saat ini
6. Penutup
Kelebihan :
Siswa diajak untuk dapat menerangkan kepada siswa lain, dapat mengeluarkan
ide-ide yang ada dipikirannya sehingga lebih dapat memehami materi tersebut.
Kekurangan :
1. Adanya pendapat yang sama sehingga hanya sebagian saja yang terampil
2. Banyak siswa yang kurang aktif.
B. Materi yang Cocok dengan Student Facilitator and Explaining
a. Kelas 5 :
Cahaya dan sifat-sifatnya
Benda dan sifatnya
b. Kelas 6 :
Gerakan bumi dan bulan
Konduktor dan isolator panas
c. Alasan memilih materi tersebut
Karena pada saat guru ingin mencapai tujuan pembelajaran dalam model
pembelajaran Student Facilitator and Explaining ini guru bisa menyampaikan
atau menyajikan materi dengan mendemonstrasikannya terlebih dahulu. Hal ini
dapat membuat anak dapat dengan mudah memahami materi-materi
pembelajaran tersebut karena pelajaran tersebut disajikan lebih konkret.
Sehingga, pada saat guru memberikan kesempatan kepada salah satu atau
beberapa siswa untuk menjelaskan, dia bisa menjelaskan tentang materi
pelajaran tersebut sesuai dengan ide atau pikirannya masing-masing.
Sumber: http://weblogask.blogspot.com/2012/09/model-pembelajaran-studentfacilitator.html#ixzz2BHNzJODQ

Model Pembelajaran Course Review Horay


A. Pengertian
Model pembelajaran Course Review Horay merupakan model pembelajaran yang
dapat menciptakan suasana kelas menjadi meriah dan menyenangkan karena
setiap siswa yang dapat menjawab benar maka siswa tersebut diwajibkan
berteriakhore! atau yel-yel lainnya yang disukai.
Jadi, model pembelajaran course review horay ini merupakan suatu model
pembelajaran yang dapat digunakan guru agar dapat tercipta suasana
pembelajaran di dalam kelas yang lebih menyenangkan. Sehingga para siswa
merasa lebih tertarik. Karena dalam model pembelajaran course review horay
ini, apabila siswa dapat menjawab pertanyaan secara benar maka siswa tersebut
diwajibkan meneriakan kata hore ataupun yel-yel yang disukai dan telah
disepakati oleh kelompok maupun individu siswa itu sendiri.
Model pembelajaran course review horay juga merupakan suatu metode
pembelajaran dengan pengujian pemahaman siswa menggunakan soal dimana
jawaban soal dituliskan pada kartu atau kotak yang telah dilengkapi nomor dan
untuk siswa atau kelompok yang mendapatkan jawaban atau tanda dari jawaban
yang benar terlebih dahulu harus langsung berteriak horay atau menyanyikan
yel-yel kelompoknya.
Jadi, dalam pelaksanaan model pembelajaran course review horay ini pengujian
pemahaman siswa dengan menggunakan kotak yang berisi nomor untuk
menuliskan jawabannya. Dan siswa yang lebih dulu mendapatkan tanda atau
jawaban yang benar harus langsung segera menyoraki kata-kata horay atau
menyoraki yel-yelnya.
Agar pemahaman konsep materi yang akan dibahas dapat dikaji secara terarah
maka seiring dengan perkembangan dunia pendidikan pembelajaran Corse
Review Horay menjadi salah satu alternative sebagai pembelajaran yang
mengarah pada pemahaman konsep. Pembelajaran Course Review Horay,
merupakan salah satu pembelajaran kooperatif yaitu kegiatan belajar mengajar
dengan cara pengelompokkan siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil.
Pembelajaran Course Review Horay yang dilaksanakan merupakan suatu
pembelajaran dalam rangka pengujian terhadap pemahaman konsep siswa
menggunakan kotak yang diisi dengan soal dan diberi nomor untuk menuliskan
jawabannya. Siswa yang paling terdahulu mendapatkan tanda benar langsung
berteriak horay atau yel-yel lainnya. Melalui Pembelajaran Course Review Horay
diharapkan dapat melatih siswa dalam menyelesaikan masalah dengan
pembentukkan kelompok kecil.
B. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Course Review Horay
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2. Guru menyajikan atau mendemonstrasikan materi sesuai topik dengan tanya

jawab
3. Guru membagi siswa dalam kelompok-kelompok.
4. Untuk menguji pemahaman siswa disuruh membuat kartu atau kotak sesuai
dengan kebutuhan dan diisi dengan nomor yang ditentukan guru.
5. Guru membaca soal secara acak dan siswa menuliskan jawabannya didalam
kartu atau kotak yang nomornya disebutkan guru.
6. Setelah pembacaan soal dan jawaban siswa telah ditulis didalam kartu atau
kotak, guru dan siswa mendiskusikan soal yang telah diberikan tadi.
7. Bagi yang benar,siswa memberi tanda check list ( v ) dan langsung berteriak
horay atau menyanyikan yel-yelnya.
8. Nilai siswa dihitung dari jawaban yang benar dan yang banyak berteriak horay
.
9. Guru memberikan rewardv pada yang memperoleh nilai tinggi atau yang
banyak memperoleh horay.
10. Penutup
C. Kelebihan Model Pembelajaran Corse Review Horay
a. Pembelajarannya menarik dan mendorong siswa untuk dapat terjun
kedalamnya.
b. Pembelajarannya tidak monoton karena diselingi sedikit hiburan sehingga
suasana tidak menegangkan.
c. Siswa lebih semangat belajar karena suasana pembelajaran berlangsung
menyenangkan
d. Melatih kerjasama
D. Kelemahan Model Pembelajaran Course Review Horay
a. Siswa aktif dan pasif nilainya disamakan
b. Adanya peluang untuk curang
Sumber: http://weblogask.blogspot.com/2012/09/model-pembelajaran-coursereview-horay.html#ixzz2BHO4Uyot

Model Pembelajaran Demonstrasi


Demonstration Method - Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan
cara memperagakan barang, kejadian, aturan dan urutan melakukan suatu
kegiatan baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran
yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan
(Muhibbin Syah, 2000)
Metode demontrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan
sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan
pelajaran (Syaiful Bahri Djamarah, 2000)
Manfaat psikologis pedagogis dari metode demonstrasi yaitu sebagai berikut:
a. perhatian siswa dapat lebih difokuskan
b. proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari.
c. Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri
siswa (Daradjat, 1985)
Kelebihan metode demontrasi sebagai berikut:
1. membantu anak didik memahami dengan jelas jalannya suatu proses atau
kerja suatu benda
2. memudahkan berbagai jenis penjelasan
3. kesalahan-kesalahan yang terjadi dari hasil ceramah dapat diperbaiki melalui
pengalaman dan contoh konkret, dengan menghadirkan objek sebenarnya.
(Syaiful Bahri Djamarah, 2000)
Kelemahan metode demonstrasi sebagai berikut:
1. anak didik terkadang sukar melihat dengan jelas benda yang akan
dipertunjukkan,
2. tidak semua benda dapat didemonstrasikan
3. sukar dimengerti apabila didemonstrasikan oleh guru yang kurang menguasai
apa yang didemonstrasikan . (Syaiful Bahri Djamarah, 2000)
Sumber: http://weblogask.blogspot.com/2012/09/model-pembelajarandemonstrasi.html#ixzz2BHOFhq60

Model pembelajaran Explicit instruction


A. Pengertian
Pembelajaran langsung khusus dirancang untuk mengembangkan belajar siswa
tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang dapat
diajarkan dengan pola selangkah demi selangkah.
Model Direct Intruction merupakan suatu pendekatan mengajar yang dapat
membantu siswa dalam mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh
informasi yang dapat diajarkan selangkah demi selangkah. Pendekatan mengajar
ini sering disebut Model Pengajaran Langsung (Kardi dan Nur,2000a :2). Arends
(2001:264) juga mengatakan hal yang sama yaitu :A teaching model that is
aimed at helping student learn basic skills and knowledge that can be taught in a
step-by-step fashion. For our purposes here, the model is labeled the direct
instruction model. Apabila guru menggunakan model pengajaran langsung ini,
guru mempunyai tanggung jawab untuk mengudentifikasi tujuan pembelajaran
dan tanggung jawab yang besar terhadap penstrukturan isi/materi atau
keterampilan, menjelaskan kepada siswa, pemodelan/mendemonstrasikan yang
dikombinasikan dengan latihan, memberikan kesempatan pada siswa untuk
berlatih menerapkan konsep atau keterampilan yang telah dipelajari serta
memberikan umpan balik.
Model pengajaran langsung ini dirancang khusus untuk menunjang proses
belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan prosedural dan pengetahuan
deklaratif yang terstruktur dengan baik, yang dapat diajarkan dengan pola
kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah. Hal yang sama
dikemukakan oleh Arends (1997:66) bahwa: The direct instruction model was
specifically designed to promote student learning of procedural knowledge and
declarative knowledge that is well structured and can be taught in a step-by-step
fashion.
Lebih lanjut Arends (2001:265) menyatakan bahwa: Direct instruction is a
teacher-centered model that has five steps:establishing set, explanation and/or
demonstration, guided practice, feedback, and extended practiceA direct
instruction lesson requires careful orchestration by the teacher and a learning
environment that businesslike and task-oriented. Hal yang sama dikemukakan
oleh Kardi dan Nur (2000a : 27), bahwa suatu pelajaran dengan model
pengajaran langsung berjalan melalui lima fase: (1) penjelasan tentang tujuan
dan mempersiapkan siswa, (2) pemahaman/presentasi materi ajar yang akan
diajarkan atau demonstrasi tentang keterampilan tertentu, (3) memberikan
latihan terbimbing, (4) mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik, (5)
memberikan latiham mandiri.
B. Prinsip
Pembelajaran ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritmaprosedural, langkah demi langkah bertahap.

Pembelajaran langsung khusus dirancang untuk mengembangkan belajar siswa


tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang dapat
diajarkan dengan pola selangkah demi selangkah.
Langkah-langkah:
1.Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa.
2. Mendemonstrasikan pengetahuan dan ketrampilan.
3. Membimbing pelatihan.
4. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik.
5. Memberikan kesempatan untuk latihan lanjutan
Sintaknya adalah:
1. sajian informasi kompetensi,
2. mendemontrasikan pengetahuan dan ketrampilan procedural,
3. membimbing pelatihan-penerapan,
4. mengecek pemahaman dan balikan,
5. penyimpulan dan evaluasi,
6. refleksi.
C. Kesimpulan
Model pembelajaran explicit instruction merupakan model pembelajaran secara
langsung agar sisiwa dapat memahami serta benar-benar mengetahui
pengetahuan secara menyeluruh dan aktiv dalam suatu pembelajaran. Jadi
model pembelajaran ini sangat cocok diterapakan dikelas dalam materi tertentu
yang bersifat dalil pengetahuan agar proses berpikir siswa dapat mempunyai
keterampilan procedural.
D. Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan:
1. Siswa benar-benar dapat menguasai pengetahuannya.
2. Semua siswa aktif / terlibat dalam pembelajaran.
Kekurangan:
1. Memerlukan waktu lama sehingga siswa yang tampil tidak begitu lama.
2. Untuk mata pelajaran tertentu.
Sumber: http://weblogask.blogspot.com/2012/09/model-pembelajaran-explicitinstruction.html#ixzz2BHOKy69n

Model Pembelajaran CIRC


A. Pengertian Model Pembelajaran CIRC
Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis
secara koperatif kelompok.
Model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition-CIRC
(Kooperatif Terpadu
Membaca dan Menulis) merupakan model pembelajaran khusus Mata pelajaran
Bahasa Indonesia dalam rangka membaca dan menemukan ide pokok, pokok
pikiran atau,tema sebuah wacana/kliping.
Model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) ini
dapat dikategorikan pembelajaran terpadu.
Menurut Fogarty (1991), berdasarkan sifat keterpaduannya, pembelajaran
terpadu dapat dikelompokkan menjadi:
1) model dalam satu disiplin ilmu yang meliputi model connected
(keterhubungan) dan model nested (terangkai);
2) model antar bidang studi yang meliputi model sequenced (urutan), model
shared (perpaduan), model webbed (jaring laba-laba), model theaded (bergalur)
dan model integreted (terpadu);
3) model dalam lintas siswa.
Dalam pembelajaran CIRC atau pembelajaran terpadu setiap siswa bertanggung
jawab terhadap tugas kelompok. Setiap anggota kelompok saling mengeluarkan
ide-ide untuk memahami suatu konsep dan menyelesaikan tugas (task),
sehingga terbentuk pemahaman yang dan pengalaman belajar yang lama. Model
pembelajaran ini terus mengalami perkembangan mulai dari tingkat Sekolah
Dasar (SD) hingga sekolah menengah. Proses pembelajaran ini mendidik siswa
berinteraksi sosial dengan lingkungan.
Prinsip belajar terpadu ini sejalan dengan empat pilar pendidikan yang digariskan
UNESCO dalam kegiatan pembelajaran. Empat pilar itu adalah belajar untuk
mengetahui (learning to know), belajar untuk berbuat (learning to do), belajar
untuk menjadi diri sendiri (learning to be), dan belajar hidup dalam kebersamaan
(Learning to live together), (Depdiknas, 2002).
B. Langkah - Langkah Pembelajaran CIRC
Langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut :
1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang siswa secara heterogen.
2. Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran.
3. Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan
memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas.
4. Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok.
5. Guru dan siswa membuat kesimpulan bersama.
6. Penutup.
Dari setiap fase tersebut di atas dapat kita perhatikan dengan jelas sebagai

berikut:
a. Fase Pertama, Pengenalan konsep. Fase ini guru mulai mengenalkan tentang
suatu konsep atau istilah baru yang mengacu pada hasil penemuan selama
eksplorasi. Pengenalan bisa didapat dari keterangan guru, buku paket, atau
media lainnya.
b. Fase Kedua, Eksplorasi dan aplikasi. Fase ini memberikan peluang pada siswa
untuk mengungkap pengetahuan awalnya, mengembangkan pengetahuan baru,
dan menjelaskan fenomena yang mereka alami dengan bimbingan guru minimal.
Hal ini menyebabkan terjadinya konflik kognitif pada diri mereka dan berusaha
melakukan pengujian dan berdiskusi untuk menjelaskan hasil observasinya. Pada
dasarnya, tujuan fase ini untuk membangkitkan minat, rasa ingin tahu serta
menerapkan konsepsi awal siswa terhadap kegiatan pembelajaran dengan
memulai dari hal yang kongkrit. Selama proses ini siswa belajar melalui tindakantindakan mereka sendiri dan reaksi-reaksi dalam situasi baru yang masih
berhubungan, juga terbukti menjadi sangat efektif untuk menggiring siswa
merancang eksperimen, demonstrasi untuk diujikannya.
c. Fase Ketiga, Publikasi. Pada fase ini Siswa mampu mengkomunikasikan hasil
temuan-temuan, membuktikan, memperagakan tentang materi yang dibahas.
Penemuan itu dapat bersifat sebagai sesuatu yang baru atau sekedar
membuktikan hasil pengamatannya.. Siswa dapat memberikan pembuktian
terkaan gagasan-gagasan barunya untuk diketahui oleh teman-teman
sekelasnya. Siswa siap menerima kritikan, saran atau sebaliknya saling
memperkuat argumen.
C. Kelebihan Model Pembelajaran CIRC
Kelebihan dari model pembelajaran terpadu atau (CIRC) antara lain:
1) Pengalaman dan kegiatan belajar anak didik akan selalu relevan dengan
tingkat perkembangan anak;
2) kegiatan yang dipilih sesuai dengan dan bertolak dari minat siswa dan
kebutuhan anak;
3) seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi anak didik sehingga hasil belajar
anak didik akan dapat bertahan lebih lama;
4) pembelajaran terpadu dapat menumbuh-kembangkan keterampilan berpikir
anak;
5) pembelajaran terpadu menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis
(bermanfaat) sesuai dengan permasalahan yang sering ditemuai dalam
lingkungan anak;
6) pembelajaran terpadu dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa kearah
belajar yang dinamis, optimal dan tepat guna;
7) menumbuhkembangkan interaksi sosial anak seperti kerjasama, toleransi,
komunikasi dan respek terhadap gagasan orang lain;
8) membangkitkan motivasi belajar, memperluas wawasan dan aspirasi guru
dalam mengajar (Saifulloh, 2003).
D. Kekurangan Model Pembelajaran CIRC
Kerurangan dari model pembelajaran CIRC tersebut antara lain:
Dalam model pembelajaran ini hanya dapat dipakai untuk mata pelajaran yang

menggunakan bahasa, sehingga model ini tidak dapat dipakai untuk mata
pelajaran seperti: matematika dan mata pelajaran lain yang menggunakan
prinsip menghitung.
E. Kesimpulan
Model pembelajaran ini sangat bagus dipakai karena dengan menggunakan
model ini siswa dapat memahami secara langsung peristiwa yang terjadi di
dalam kehidupan dengan materi yang dijelaskan.
Sumber: http://weblogask.blogspot.com/2012/08/model-pembelajarancirc.html#ixzz2BHOQVifZ

Model Pembelajaran IOC (Inside Outside Circle)


Model Pembelajaran IOC (Inside Outside Circle)adalah model pembelajaran dengan sistim
lingkaran kecil dan lingkaran besar (Spencer Kagan, 1993) di mana siswa saling membagi
informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan ssingkat dan
teratur.
Sintaks pembelajaran ini adalah:
1. Separuh dari sejumlah siswa membentuk lingkaran kecil menghadap keluar,
2. separuhnya lagi membentuk lingkaran besar menghadap ke dalam,
3. siswa yang berhadapan berbagi informasi secara bersamaan,
4. siswa yang berada di lingkran luar berputar kemudian berbagi informasi kepada
teman (baru) di depannya, dan seterusnya.
Sumber: http://weblogask.blogspot.com/2012/08/model-pembelajaran-ioc-insideoutside.html#ixzz2BHQCFKHb

Model Pembelajaran Concept Sentence


Concept Sentence merupakan pembelajaran dimana siswa dibentuk kelompok
heterogen dan membuat kalimat dengan minimal 4 kata kunci sesuai materi
yang disajikan.
Langkah-langkah pembelajaran concept Sentence
1.Guru menyampaikan tujuan.
2.Guru menyajikan materi secukupnya.
3.Guru membentuk kelompok yang anggotanya kurang lebih 4 orang secara
heterogen.
4.Menyajikan beberapa kata kunci sesuai materi/ tpk yang disajikan.
5.Tiap kelompok disuruh membuat beberapa kalimat dengan menggunakan
minimal 4 kata kunci setiap kalimat.
6.Hasil diskusi kelompok didiskusikan lagi secara pleno yang dipandu guru.
7.Kesimpulan.
Kelebihan:
1. Lebih memahami kata kunci dari materi pokok pelajaran.
2. Siswa yang lebih pandai mengajari siswa yang kurang pandai.
Kekurangan:
1. Hanya untuk mata pelajaran tertentu.
2. Untuk yang pasif mengambil jawaban dari temannya.
Sumber: http://weblogask.blogspot.com/2012/09/model-pembelajaran-conceptsentence.html#ixzz2BHQInMZ7

Model Pembelajaran Complete Sentence


A. Pengertian
Model pembelajaran complete sentence adalah model pembelajaran mudah dan
sederhana di mana siswa belajar melengkapi paragraf yang belum sempurna
dengan menggunakan kunci jawaban yang tersedia.
Langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut :
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2. Guru Menyampaikan materi secukupnya atau siswa disuruh membacakan
buku atau modul dengan waktu secukupnya.
3. Guru membentuk kelompok 2 atau 3 orang secara heterogen.
4. Guru membagikan lembar kerja berupa paragraf yang kalimatnya belum
lengkap.
5. Siswa berdiskusi untuk melengkapi kalimat dengan kunci jawaban yang
tersedia.
6. Siswa berdiskusi secara berkelompok.
7. Setelah jawaban didiskusikan, jawaban yang salah diperbaiki. Tiap peserta
membaca sampai mengerti atau hafal.
8. Kesimpulan.
B. Prinsip/ ciri-ciri Complete sentence
a. Soal yang disampaikan berupa kalimat yang belum lengkap, sehingga makna/
arti kalimat tersebut belum dapat dimengerti
b. Kalimat yang banyak dan saling berkaitan dalam sebuah paragrap, dan belum
sempurna serta belum dimengerti maknanya
c. Kalimat dapat dilengkapi dengan pilihan kata yang disediakan
d. Harus diisi dengan kata-kata tertentu, misal istilah keilmuan/ kata asing.
e. Jawaban dari kalimat yang belum lengkap itu sudah disediakan
C. Kelebihan/kekurangan model pembelajaran complete sentence
a. Kelebihan
1. Mudah dibuat guru, hanya dengan menghilangan satu kata dalam kalimat
2. Siswa tidak perlu menjelaskan jawabannya, hanya perlu memadukan
rumpang/tidak jawabannya.
3. Siswa diajarkan untuk mengerti dan hafal mengenai materi
b. Kekurangan
1. Guru kurang kreatif dan inovasi dalam membuat soal
2. Siswa kurang terpacu mencari jawaban karena hanya cukup menebak kata,
karena biasanya hanya kata hubung.
3. Kurang cocok untuk dipergunakan dalam setiap bidang studi.
D. Kesimpulan
Model pembelajaran complete sentence adalah model pembelajaran yang
sederhana di mana siswa belajar melengkapi paragraf yang belum sempurna
dengan menggunakan kunci jawaban yang tersedia. Model pembelajaran ini

sebenarna mempermudah guru namun terkadang gurunya kurang inovatif dan


kreatif dalam membuat soalnya. Dan siswanya kurang terpacu untuk mencari
jawabannya karena hanya tinggal menebak kaata-kata yang rumpang yang
jawabannya telah disediakan.
Sumber: http://weblogask.blogspot.com/2012/09/model-pembelajaran-completesentence.html#ixzz2BHQMqVqz

Model Pembelajaran Time Token


Model pembelajaran Time Token Arends merupakan salah satu contoh kecil dari penerapan
pembelajaran yang demokratis di sekolah. Proses pembelajaran yang demokratis adalah
proses belajar yang menempatkan siswa sebagai subyek. Mereka harus mengalami sebuah
perubahan ke arah yang lebih positif.
Dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari tidak paham menjadi paham, dan dari tidak tahu
menjadi tahu. Di sepanjang proses belajar itu, aktivitas siswa menjadi titik perhatian utama.
Dengan kata lain mereka selalu dilibatkan secara aktif. Guru dapat berperan untuk mengajak
siswa mencari solusi bersama terhadap permasalahan yang ditemui.
Model ini digunakan (Arends, 1998) untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan sosial
agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. Guru memberi sejumlah
kupon berbicara dengan waktu 30 detik per kupon pada tiap siswa. Sebelum berbicara,
siswa menyerahkan kupon terlebih dahulu pada guru. Setiap tampil berbicara satu kupon.
Siswa dapat tampil lagi setelah bergiliran dengan siswa lainnya. Siswa yang telah habis
kuponnya tak boleh bicara lagi. Siswa yang masih memegang kupon harus bicara sampai
semua kuponnya habis.
SINTAK MODEL PEMBELAJARAN TIME TOKEN ARENDSAdapun sintak dari model
pembelajaran Time Token Arends ini adalah sebagai berikut :
1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran/KD.
2. Guru mengkondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi klasikal.
3. Guru memberi tugas pada siswa.
4. Guru memberi sejumlah kupon berbicara dengan waktu 30 detik per kupon pada
tiap siswa.
5. Guru meminta siswa menyerahkan kupon terlebih dahulu sebelum berbicara atau
memberi komentar. Setiap tampil berbicara satu kupon. Siswa dapat tampil lagi
setelah bergiliran dengan siswa lainnya. Siswa yang telah habis kuponnya tak boleh
bicara lagi. Siswa yang masih memegang kupon harus bicara sampai semua kuponnya
habis. Demikian seterusnya hingga semua anak berbicara.
6. Guru memberi sejumlah nilai sesuai waktu yang digunakan tiap siswa
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN MODEL PEMBELAJARAN TIME TOKEN
ARENDSKelebihan Model Time Token Arends
Mendorong siswa untuk meningkatkan inisiatif dan partisipasinya.
Siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali

Siswa menjadi aktif dalam kegiatan pembelajaran

Meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi (aspek berbicara)

Melatih siswa untuk mengungkapkan pendapatnya.

Menumbuhkan kebiasaan pada siswa untuk saling mendengarkan, berbagi,


memberikan masukan dan keterbukaan terhadap kritik

Mengajarkan siswa untuk menghargai pendapat orang lain.

Guru dapat berperan untuk mengajak siswa mencari solusi bersama terhadap
permasalahan yang ditemui.

Tidak memerlukan banyak media pembelajaran.

Kekurangan Model Time Token Arends


Hanya dapat digunakan untuk mata pelajaran tertentu saja.
Tidak bisa digunakan pada kelas yang jumlah siswanya banyak.

Memerlukan banyak waktu untuk persiapan dan dalam proses pembelajaran, karena
semua siswa harus berbicara satu persatu sesuai jumlah kupon yang dimilikinya.

Siswa yang aktif tidak bisa mendominasi dalam kegiatan pembelajaran

Model Pembelajaran Time Token sangat tepat untuk pembelajaran struktur yang dapat
digunakan untuk mengajarkan keterampilan sosial, untuk menghindari siswa mendominasi
pembicaraan atau siswa diam sama sekali.
Model pembelajaran time token adalah model pembelajaran yang digunakan dengan tujuan
agar siswa aktif berbicara. Dalam pembelajaran diskusi, time token digunakan agar siswa
aktif bertanya dalam berdiskusi. Dengan membatasi waktu berbicara misalnya 30 detik,
diharapkan siswa secara adil mendapatkan kesempatan untuk berbicara.
LANGKAH-LANGKAH MODEL PEMBELAJARAN TIME TOKEN
Langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut :
1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran/KD.
2. Guru mengkondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi (cooperative learning / CL).
3. Tiap siswa diberi sejumlah kupon berbicara dengan waktu 30 detik per kupon. Tiap
siswa diberi sejumlah nilai sesuai waktu yang digunakan.
4. Bila telah selesai bicara kupon yang dipegang siswa diserahkan. Setiap tampil
berbicara satu kupon. Siswa dapat tampil lagi setelah bergiliran dengan siswa lainnya.
5. Siswa yang telah habis kuponnya tak boleh bicara lagi. Siswa yang masih memegang
kupon harus bicara sampai semua kuponnya habis.
6. Demikian seterusnya.
Sumber: http://weblogask.blogspot.com/2012/10/model-pembelajaran-timetoken.html#ixzz2BHQRU0u5

Model Pembelajaran Pair Check


Satu lagi Model Pembelajaran siswa berpasangan, yaitu Pair Check. Model
pembelajaran ini juga untuk melatih rasa sosial siswa, kerja sama dan
kemampuan memberi penilaian.
Langkah-langkah Pembelajarannya sebagai berikut :
1). Bekerja Berpasangan
Guru membentuk tim berpasangan berjumlah 2 (dua) siswa. Setiap pasangan
mengerjakan soal yang pas sebab semua itu akan membantu melatih siswa
dalam menilai.
2). Pelatih Mengecek
Apabila patner benar pelatih memberi kupon.
3). Bertukar Peran
Seluruh patner bertukar peran dan mengulangi langkah 1 3.
4). Pasangan Mengecek
Seluruh pasangan tim kembali bersama dan membandingkan jawaban.
5). Penegasan Guru
Guru mengarahkan jawaban /ide sesuai konsep.
Sumber: http://weblogask.blogspot.com/2012/09/model-pembelajaran-paircheck.html#ixzz2BHQVodt7

Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS)


Strategi think pair share (TPS) atau berpikir berpasangan berbagi adalah merupakan jenis
pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa.
Strategi think pair share ini berkembang dari penelitian belajar kooperatif dan waktu tunggu.
Pertama kali dikembangkan oleh Frang Lyman dan Koleganya di universitas Maryland sesuai
yang dikutip Arends (1997),menyatakan bahwa think pair share merupakan suatu cara yang
efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Dengan asumsi bahwa semua
resitasi atau diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas secara
keseluruhan, dan prosedur yang digunakan dalam think pair share dapat memberi siswa lebih
banyak waktu berpikir, untuk merespon dan saling membantu. Guru memperkirakan hanya
melengkapi penyajian singkat atau siswa membaca tugas, atau situasi yang menjadi tanda
tanya . Sekarang guru menginginkan siswa mempertimbangkan lebih banyak apa yang telah
dijelaskan dan dialami .Guru memilih menggunakan think-pair-share untuk membandingkan
tanya jawab kelompok keseluruhan.
Guru menggunakan langkah-langkah ( fase ) berikut:
Langkah 1 : Berpikir ( thinking ) : Guru mengajukan suatu pertanyaan atau masalah
yang dikaitkan dengan pelajaran, dan meminta siswa menggunakan waktu beberapa
menit untuk berpikir sendiri jawaban atau masalah.

Langkah 2 : Berpasangan ( pairing ) : Selanjutnya guru meminta siswa untuk


berpasangan dan mendiskusikan apa yang telah mereka peroleh. Interaksi selama
waktu yang disediakan dapat menyatukan jawaban jika suatu pertanyaan yang
diajukan menyatukan gagasan apabila suatu masalah khusus yang diidentifikasi.
Secara normal guru memberi waktu tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan.

Langkah 3 : Berbagi ( sharing ) : Pada langkah akhir, guru meminta pasanganpasangan untuk berbagi dengan keseluruhan kelas yang telah mereka bicarakan. Hal
ini efektif untuk berkeliling ruangan dari pasangan ke pasangan dan melanjutkan
sampai sekitar sebagian pasangan mendapat kesempatan untuk melaporkan. Arends,
(1997) disadur Tjokrodihardjo, (2003).

Sumber: http://weblogask.blogspot.com/2012/08/model-pembelajaran-think-pair-sharetps.html#ixzz2BHQahZBm