Anda di halaman 1dari 91

PENILAIAN POTENSI OBYEK DAN DAYA TARIK

WISATA ALAM SERTA ALTERNATIF PERENCANAANNYA


DI TAMAN NASIONAL BUKIT DUABELAS
PROVINSI JAMBI

SIAM ROMANI

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA


FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2006

RINGKASAN
Siam Romani. E34101014. Penilaian Potensi Obyek dan Daya Tarik Wisata
Alam serta Alternatif Perencanaannya di Taman Nasional Bukit Duabelas
Provinsi Jambi. Dibimbing oleh : Dr. E.K.S. Harini Muntasib, MS dan Eva
Rachmawati, S.Hut.
Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) merupakan tempat hidup bagi suku
terasing (Suku Anak Dalam/Orang Rimba), mempunyai keterwakilan ekosistem yang
masih alami dan sudah mengalami degradasi, mempunyai komunitas alam yang unik,
langka, dan indah serta bentang alam dan potensi alam yang dapat dijadikan sebagai
Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA). Penelitian lebih rinci mengenai
potensi ODTWA di TNBD belum pernah dilakukan. Untuk itu perlu dilakukan studi
dan penilaian terhadap potensi-potensi yang ada. Hasil studi dan penilaian tersebut
dapat digunakan dalam menyusun alternatif perencanaan wisata alam di TNBD.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai potensi ODTWA serta menyusun
alternatif perencanaan wisata alam di TNBD.
Penelitian dilaksanakan di Taman Nasional Bukit Duabelas Provinsi Jambi
selama dua bulan yaitu bulan September sampai bulan Oktober 2005. Alat yang
digunakan yaitu alat tulis, GPS (Geografis Position System) dan kamera. Bahan
yang diperlukan adalah Pedoman Analisis Daerah Operasi Obyek dan Daya Tarik
Wisata Alam (ADO-ODTWA) dari Dirjen PHKA (2003) yang telah dimodifikasi,
kuesioner dan panduan wawancara. Data dan informasi yang dikumpulkan adalah
kondisi umum, kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat, potensi obyek dan
daya tarik wisata, pengunjung dan pengelolaan wisata. Metode pengambilan data
dilakukan melalui studi pustaka, wawancara dan kuesioner serta pengamatan lapang.
Pengolahan data mengenai ODTWA di TNBD diolah dengan menggunakan metode
skoring yang selanjutnya diuraikan secara deskriptif.
Obyek wisata alam yang terdapat di dalam kawasan TNBD antara lain Gua
Kelelawar, Demplot Tanaman Obat, Aek Manitik, Air Terjun Talon dan Air Terjun
Lubuk Jering. Penilaian ODTWA dilakukan pada kelima obyek tersebut. Hasil
penilaian menunjukkan bahwa obyek Aek Manitik memiliki nilai tertinggi yaitu
3080 kemudian Demplot Tanaman Obat (3050), Air Terjun Talon (3040), Air Terjun
Lubuk Jering (2790) dan Gua Kelelawar (2760). Berdasarkan hasil penilaian
tersebut dapat ditentukan obyek prioritas untuk dikembangkan di TNBD yaitu
Demplot Tanaman Obat, Aek Ma nitik dan Air Terjun Talon. Selain potensi wisata
alam TNBD juga memiliki ODTW budaya Suku Anak Dalam/Orang Rimba. Di
sekitar kawasan TNBD juga terdapat obyek wisata ya itu Sumber Air Panas Bukit
Suban, Dam Sungai Jernih Air Meruap dan Sumber Air Panas Desa Baru. Semua
obyek wisata tersebut belum dikelola dan dimanfaatkan secara optimal.
Perencanaan wisata yang disusun meliputi perencanaan ODTWA dan
perencanaan pengelolaan wisata kawasan TNBD. Untuk perencanaan ODTWA
dilakukan pada tiga obyek prioritas berdasarkan hasil penilaian. Obyek-obyek
tersebut yaitu Demplot Tanaman Obat, Aek Manitik, dan Air Terjun Talon.
Perencanaan kegiatan wisata untuk obyek Demplot Tanaman Obat adalah pendidikan
dan penelitian, pengobatan ala rimba dan interpretasi alam. Perencanaan wisata
untuk Aek Manitik yaitu wisata petualangan, kemah konservasi, dan interpretasi

alam. Perencanaan untuk kegiatan wisata pada Air Terjun Talon yaitu wisata
petualangan, berenang, interpretasi alam dan bersepeda. Perencanaan pengelolaan
wisata kawasan TNBD yaitu usulan zonasi, pembentukkan UPT (Unit Pelaksana
Teknis), pengelolaan sumberdaya manusia, kebutuhan sarana dan prasarana,
pengelolaan multi pihak dan pemasaran/promosi.

PENILAIAN POTENSI OBYEK DAN DAYA TARIK


WISATA ALAM SERTA ALTERNATIF PERENCANAANNYA
DI TAMAN NASIONAL BUKIT DUABELAS
PROVINSI JAMBI

SIAM ROMANI

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Kehuta nan pada
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA


FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2006

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jambi pada tanggal 29 Juni 1983 dari pasangan
Marsudi dan Siti Aminah.

Penulis adalah anak ke-2 dari lima

bersaudara. Jenjang pendidikan formal dimulai pada tahun 1988-1989


di TK Islam Al-Falah Jambi. Kemudian melanjutkan ke SD Islam AlFalah Jambi dan lulus pada tahun 1995.

Pendidikan menengah pertama dilalui

penulis di SMPN 9 Jambi pada tahun 1995 hingga tahun 1998. Sekolah Menengah
Umum dihabiskan di SMUN 9 Jambi dari tahun 1998-2001.

Penulis diterima

sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) Fakultas Kehutanan Departemen


Konservasi Sumberdaya Hutan pada tahun 2001 melalui jalur USMI (Undangan
Seleksi Masuk IPB).
Semasa kuliah di IPB penulis aktif dalam beberapa organisasi diantaranya
International Forestry Student Association Local Comitte

(IFSA LC-IPB),

Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan (HIMAKOVA) dan Unit


Kegiatan Mahasiswa Uni Konservasi Fauna (UKM UKF-IPB).

Praktek Umum

Kehutanan dilaksanakan di Cagar Alam Leuweung Sancang, Cagar Alam dan TWA
Kawah Kamojang Garut.

Praktek Umum Pengelolaan Hutan dilaksanakan di

Kesatuan Pemangkuan Hutan Sumedang.

Praktek Kerja Lapang Profesi

dilaksanakan di Taman Nasional Alas Purwo Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa


Timur.
Penulis menyusun karya ilmiah (skripsi) yang berjudul Penilaian Potensi
Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam serta Alternatif Perencanaannya di
Taman Nasional Bukit Duabelas Provinsi Jambi dibawah bimbingan Dr. E.K.S.
Harini Muntasib, MS dan Eva Rachmawati, S.Hut sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Kehutanan.

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang Maha Pengasih
dan Maha Penyayang atas rahmat dan karunia -Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan penyusunan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
gelar Sarjana Kehutanan. Penulis melaksanakan penelitian selama dua bulan yaitu
bulan September-Oktober 2005 yang kemudian disusun sebagai sebuah skripsi
dengan judul Penilaian Potensi Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam serta Alternatif
Perencanaannya di Taman Nasional Bukit Duabelas Provinsi Jambi.

Skripsi ini

berisi tentang studi dan penilaian terhadap potensi obyek dan daya tarik wisata alam
yang terdapat di dalam kawasan TNBD. Hasil penilaian tersebut digunakan untuk
menentukan obyek prioritas untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata di TNBD
yang kemudian disusun alternatif perencanaan wisata alamnya.
Penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua
pihak yang telah mendukung dan membantu sehingga dapat terselesaikannya
penulisan skripsi ini. Ucapan terima kasih tersebut terutama disampaikan kepada
kedua orang tua, kakak dan adik-adik serta seluruh keluarga besar tercinta , Ibu Dr.
E.K.S. Harini Muntasib, MS dan Eva Rachmawati, S.Hut selaku dosen pembimbing,
serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat.

Bogor, Maret 2006

Siam Romani

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR.................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL .......................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR...................................................................................... v
DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................. vi
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................................ 1
B. Tujuan...................................................................................................... 2
C. Manfaat Penelitian................................................................................... 2
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Studi Potensi, Obyek dan Daya Tarik Wisata ......................................... 3
B. Wisata Alam dan Ekowisata .................................................................... 5
C. Taman Nasional....................................................................................... 7
D. Perencanaan Wisata ................................................................................. 8
III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
A. Sejarah Kawasan ..................................................................................... 10
B. Kondisi Fisik ........................................................................................... 11
B.1. Letak dan Luas ................................................................................. 11
B.2. Iklim, Topografi, Hidrologi dan Tanah........................................... 11
C. Kondisi Biologi Kawasan........................................................................ 12
C.1. Flora ................................................................................................. 12
C.2. Fauna ................................................................................................ 12
D. Masyarakat Sekitar Kawasan ................................................................. 13
D.1. Masyarakat di Dalam Taman Nasional ........................................... 13
D.2. Masyarakat di Luar Taman Nasional............................................... 14
F. Potensi Obyek dan Daya Tarik Wisata .................................................... 15
IV. METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian................................................................... 18
B. Alat dan Bahan ........................................................................................ 18
B.1. Alat................................................................................................... 18
B.2. Bahan ............................................................................................... 18
C. Metode ..................................................................................................... 18
C.1. Data yang Dikumpulkan................................................................... 18
C.2. Prosedur Kerja .................................................................................. 19
D. Metode Pengambilan Data ...................................................................... 20
D.1. Studi Pustaka ................................................................................... 20
D.2. Wawancara dan Kuesioner .............................................................. 20
D.3. Pengamatan Lapang......................................................................... 20

iii

E. Pengolahan Data ...................................................................................... 21


E.1 Metode Skoring ................................................................................ 21
E.2. Analisis Deskriptif .......................................................................... 22
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA)
di Dalam Kawasan TNBD ..................................................................... 23
A.1. Kriteria Penilaian ODTWA ........................................................... 23
A.1.1. Daya Tarik ............................................................................. 23
A.1.2. Aksesibilitas ........................................................................... 30
A.1.3. Kondisi Lingkungan Sosial Ekonomi.................................... 34
A.1.4. Akomodasi ............................................................................ 35
A.1.5. Sarana -Prasarana Penunjang.................................................. 35
A.1.6. Ketersediaan Air Bersih ......................................................... 37
A.2. Rekapitulasi Penilaian ODTWA ................................................... 38
B. Obyek dan Daya Tarik Wisata Budaya .................................................. 38
C. Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam di Sekitar Kawasan TNBD.......... 41
D. Pengunjung Taman Nasional Bukit Duabelas........................................ 44
D.1. Keadaan Pengunjung ..................................................................... 44
D.2. Karakteristik Pengunjung .............................................................. 46
D.3. Motif, Aktivitas dan Persepsi Pengunjung ................................... 47
D.4. Harapan Pengunjung...................................................................... 49
E. Masyarakat Desa Sekitar TNBD............................................................. 49
F. Pengelolaan dan Kebijakan..................................................................... 50
F.1. Pengelolaan.................................................................................... 50
F.2. Kebijakan Wisata .......................................................................... 52
G. Alternatif Perencanaan ........................................................................... 54
G.1. Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam............................................. 54
G.1.1. Demplot Tanaman Obat.......................................................... 55
G.1.2. Aek Manitik ............................................................................ 56
G.1.3. Air Terjun Talon ..................................................................... 57
G.2. Perencanaan Pengelolaan Wisata Kawasan................................... 58
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan............................................................................................. 61
B. Saran ....................................................................................................... 61
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 62
LAMPIRAN..................................................................................................... 65

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Letak Geografis dan Batas Kawasan TNBD......................................11
Tabel 2. Kondisi Topografi, Hidrologi dan Tanah Kawasan TNBD ...............12
Tabel 3. Desa-Desa Interaksi TNBD menurut Wilayah Administrasi.............15
Tabel 4. Daya Tarik Obyek Wisata Alam Di TNBD .......................................24
Tabel 5. Penilaian Kriteria Daya Tarik Wisata Alam Di TNBD .....................25
Tabel 6. Penilaian Kriteria Aksesibilitas Obyek Di TNBD.............................32
Tabel 7. Penilaian Kondisi Lingkungan Sosial Ekonomi ................................ 34
Tabel 8. Penilaian Sarana-Prasarana Penunjang Di TNBD .............................36
Tabel 9. Penilaian Ketersediaan Air Bersih .................................................... 37
Tabel 10. Rekapitulasi Penilaian ODTWA......................................................38
Tabel 11. Pengunjung TNBD Tahun 2005.......................................................45
Tabel 12. Karakteristik Pengunjung TNBD.................................................... 46
Tabel 13. Motif, Aktivitas dan Persepsi Pengunjung TNBD ...........................47
Tabel 14. Sarana dan Prasarana yang Ada Di TNBD Saat Ini.........................52

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Bagan Alir Penelitian .....................................................................19
Gambar 2. Pintu Masuk Gua Kelelawar...........................................................26
Gambar 3. Demplot Tanaman Obat ................................................................ 27
Gambar 4. Air Terjun Talon .............................................................................29
Gambar 5. Kondisi Jalan Kabupaten Menuju TNBD ......................................31
Gambar 6. Kondisi Jalan Menuju Obyek.........................................................33
Gambar 7. Sungai Sebagai Salah Satu Sumber Air Bersih Di TNBD .............37
Gambar 8. Kelompok Tumenggung Tarip .......................................................39
Gambar 9. Pemanfaatan Hasil Hutan Oleh Orang Rimba................................ 40
Gambar 10. Ambung dan Penjelasan Tumenggung Tarip Mengenai
Adat Istiadat Orang Rimba............................................................ 41
Gambar 11. Sumber Air Panas Desa Baru.......................................................42
Gambar 12. Sumber Air Panas Bukit Suban.................................................... 43
Gambar 13. Dam Sungai Jernih ......................................................................44
Gambar 14. Kegiatan yang Dilakukan Pengunjung TNBD .............................46
Gambar 15. Kegiatan yang Pernah Dilakukan Pengelola Berkaitan
Dengan Wisata Di TNBD ............................................................ 51
Gambar 16. Sarana dan Prasarana yang Ada Di TNBD ..................................52

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Tabel Kriteria Penilaian Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam ...66
Lampiran 2. Tabel Daftar Nama Jenis Flora yang Terdapat
Di Kawasan TNBD .....................................................................69
Lampiran 3. Tabel Daftar Nama Jenis Satwaliar Di Kawasan TNBD yang
Biasa Digunakan Untuk Obat......................................................70
Lampiran 4. Tabel Sebaran Komunitas Orang Rimba Di Dalam dan Luar
Kawasan TNBD Menurut Kelompok dan Lokasi .......................71
Lampiran 5. Tabel Gambaran Umum Desa Interaksi TNBD ..........................73
Lampiran 6. Kuesioner Untuk Pengunjung......................................................74
Lampiran 7. Panduan Wawancara.................................................................... 77
Lampiran 8. Peta Potensi Wisata TNBD..........................................................79
Lampiran 9. Peta Akses Jalan TNBD...............................................................80
Lampiran 10. Peta Sebaran Orang Rimba Tahun 2004 Di TNBD...................81

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keanekaragaman hayati, keunikan dan keaslian budaya tradisional,
keindahan bentang alam, gejala alam serta peninggalan sejarah/budaya adalah
anugerah Tuhan yang berpotensi sebagai obyek dan daya tarik wisata alam
(ODTWA).

Kosmaryandi dan Avenzora (2004) mengemukakan bahwa

pemanfaatan potensi ODTWA untuk kegiatan wisata alam harus dikelola secara
arif dan bertanggung jawab serta benar-benar mempertimbangkan kelestarian
lingkungan.
Pariwisata sebagai green industry akan dapat menekan laju pengrusakan
sumberdaya alam dan lingkungan.

Green industry sangat sesuai dengan

pariwisata yang berbasis alam utamanya ekowisata. Ekowisata yang menciptakan


pariwisata berkualitas memungkinkan akan dapat mempertahankan kualitas obyek
dan daya tarik alam dan dapat meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan dan
kehidupan sosial masyarakat lokal. Namun demikian apabila tidak direncanakan
dengan konsep pembangunan pariwisata berwawasan lingkungan kerusakan
lingkungan akan terjadi.

Pentingnya perencanaan dalam pengembangan

pariwisata sebagai suatu industri tidak lain adalah agar perkembangan industri
pariwisata sesuai dengan apa yang telah dirumuskan dan berhasil mencapai
sasaran yang dikehendaki baik itu ditinjau dari segi ekonomi, sosial, budaya dan
lingkungan hidup.

Perencanaan dapat menginformasikan bagaimana kondisi

dimasa mendatang melalui langkah-langkah yang akan diambil dalam proses


implementasinya secara lebih efisien dan sesuai dengan kondisi kawasan yang
dikelola (Fandeli dan Nurdin, 2005).
Taman nasional sebagai salah satu kawasan pelestarian alam yang memiliki
potensi ODTWA membutuhkan perencanaan yang dapat memberikan gambaran
bagaimana pariwisata dan hal- hal yang berkaitan dengan wisata untuk
pengelolaannya ke depan. Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) merupakan
tempat hidup bagi suku terasing (Suku Anak Dalam/Orang Rimba), mempunyai
keterwakilan ekosistem yang masih alami dan sudah mengalami degradasi,
modifikasi dan atau binaan, mempunyai komunitas alam yang unik, langka, dan

indah serta bentang alam dan potensi alam yang dapat dijadikan sebagai ODTWA.
Penelitian lebih rinci mengenai nilai potens i ODTWA di TNBD belum pernah
dilakukan. Untuk itu perlu dilakukan studi dan penilaian terhadap potensi-potensi
yang ada. Hasil studi dan penilaian tersebut selanjutnya dapat digunakan dalam
menyusun alternatif perencanaan wisata alam di TNBD.

B. Tujuan
Penelitian mengenai Penilaian Potensi Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam
serta Alternatif Perencanaannya di Taman Nasional Bukit Duabelas Provinsi
Jambi ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui nilai potensi obyek dan daya tarik wisata alam.
2. Menyusun alternatif pe rencanaan wisata alam di TNBD.

C. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai masukan bagi
pengelola dalam menyusun perencanaan wisata alam dan rencana pengembangan
wisata di TNBD.

II. TINJAUAN PUSTAKA


A. Studi Potensi, Obyek dan Daya Tarik Wisata
Studi potensi dalam kamus Kehutanan RI tahun 1989 adalah studi mengenai
kandungan gejala alam dari suatu kawasan. Undang-Undang No. 9 Tahun 1990
tentang Kepariwisataan menyebutkan bahwa wisata adalah kegiatan perjalanan
atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat
sementara untuk menikmati obyek dan daya tarik wisata. Studi potensi wisata
adalah studi mengenai kandungan gejala alam dari suatu kawasan yang dapat
dija dikan sebagai obyek dan daya tarik suatu perjalanan wisata.
Definisi mengenai obyek dan daya tarik wisata menurut :
1. UU No. 9 Tahun 1990 bahwa obyek dan daya tarik wisata adalah segala
sesuatu yang menjadi sasaran wisata. Obyek dan daya tarik wisata tersebut
terdiri atas :
a. Obyek dan daya tarik wisata ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang
berwujud keadaan alam serta flora dan fauna.
b. Obyek dan daya tarik wisata hasil karya manusia yang berwujud
museum, peninggalan purbakala, peninggalan sejarah, seni budaya,
wisata agro, wisata tirta, wisata buru, wisata petualangan alam, taman
rekreasi, dan tempat hiburan.
2. Marpaung (2002) mengemukakan bahwa obyek dan daya tarik wisata
adalah suatu bentukan dan/atau aktivitas dan fasilitas yang berhubungan
serta dapat menarik minat wisatawan atau pengunjung untuk datang ke
suatu daerah/tempat tertentu.

Daya tarik yang tidak atau belum

dikembangkan semata -mata hanya merupakan sumberdaya potensial dan


belum dapat disebut sebagai daya tarik wisata sampai adanya suatu jenis
pengembangan tertentu. Jenis obyek dan daya tarik wisata dibagi kedalam
dua kategori yaitu :
a. Obyek dan daya tarik wisata alam.
b. Obyek dan daya tarik wisata sosial budaya.
3. Hamid (1996) menyatakan obyek wisata sebagai segala sesuatu yang
menarik dan telah dikunjungi wisatawan sedangkan daya tarik adalah segala

sesuatu yang menarik namun belum tentu dikunjungi. Daya tarik tersebut
masih memerlukan pengelolaan dan pengembangan sehingga menjadi obyek
wisata yang mampu menarik kunjungan.
4. Wiwoho (1990) menyatakan bahwa dalam dunia kepariwisataan istilah
obyek wisata mempunyai pengertian sebagai sesuatu yang dapat menjadi
daya tarik bagi seseorang atau calon wisatawan untuk mau berkunjung ke
suatu daerah tujuan wisata. Daya tarik tersebut antara lain dapat berupa :
a. Sumber-sumber daya tarik yang bersifat alamiah seperti iklim,
pemandangan alam, lingkungan hidup, fauna, flora, kawah, danau,
sungai, karang dan ikan di bawah laut, gua-gua, tebing, lembah dan
gunung.
b. Sumber-sumber buatan manusia berupa sisa-sisa peradaban masa
lampau, monumen bersejarah, rumah peribadatan, museum, peralatan
musik, tempat pemakaman dan lain-lain.
c. Sumber-sumber daya tarik yang bersifat manusiawi. Sumber manusiawi
melekat pada penduduk dalam bentuk warisan budaya misalnya tarian,
sandiwara, drama, upacara adat, upacara penguburan mayat, upacara
keagamaan, upacara perkawinan dan lain-lain.
Daya tarik wisata menurut Kodhyat (1996) adalah segala sesuatu yang
mendorong orang untuk berkunjung dan singgah di daerah tujuan wisata yang
bersangkutan. Soekadijo (2000) juga menyatakan bahwa wisatawan hanya akan
berkunjung ke tempat tertentu kalau di tempat itu terdapat kondisi yang sesuai
dengan motif wisatawan.

Kondisi yang sesuai dengan motif wisatawan akan

merupakan daya tarik bagi wisatawan untuk mengunjungi tempat tersebut.


Unsur-unsur paling penting yang menjadi daya tarik dari sebuah daerah
tujuan ekowisata menurut Sudarto (1999) adalah kondisi alamnya, kondisi flora
dan fauna yang unik, langka dan endemik, kondisi fenomena alamnya, kondisi
adat dan budaya. Ko (2001) menyebutkan bahwa obyek wisata alam bisa berupa
gunung, lembah, sungai, pesisir, laut, pulau, air terjun, danau, lembah sempit
(canyon), rimba, gua dan sebagainya.

Keberadaan suatu obyek wisata dapat

dinilai memiliki daya tarik jika kunjungan ke lokasi tersebut memenuhi harapan
(expectation) pengunjung. Untuk itu perlu dianalisis terlebih dahulu apa yang

menjadi harapan konsumen memilih obyek wisata tersebut sebagai tujuan


kunjungan.
Beberapa komponen obyek wisata yang dikemukakan oleh Cooper et al
(1998) yaitu :
1. Atraksi wisata baik berupa alam, buatan (hasil karya manusia), atau
peristiwa (kegiatan) yang merupakan alasan utama kunjungan.
2. Fasilitas -fasilitas dan pelayanan dibutuhkan oleh wisatawan di daerah
tujuan wisata.
3. Akomodasi, makanan dan minuman tidak hanya tersedia dalam bentuk
fisik tapi juga harus dapat menciptakan perasaan hangat dan memberikan
kenangan pada lingkungan dan makanan setempat.
4. Aksesibilitas (jalan dan transportasi) merupakan salah satu faktor
kesuksesan daerah tujuan wisata.
5. Faktor-faktor pendukung seperti kegiatan pemasaran, pengembangan, dan
koordinasi.
Pembangunan obyek dan daya tarik wisata menurut UU No. 9 Tahun 1990
dilakukan dengan memperhatikan :
1. Kemampuan untuk mendorong peningkatan perkembangan kehidupan
ekonomi dan sosial budaya.
2. Nilai-nilai agama, adat istiadat serta cara pandangan dan nilai- nilai yang
hidup dalam masyarakat.
3. Kelestarian budaya dan mutu lingkungan hidup.
4. Kelangsungan usaha pariwisata itu sendiri.

B. Wisata Alam dan Ekowisata


Kata wisata (tourism) pertama kali muncul dalam Oxford English
Dictionory tahun 1811 yang mendeskripsikan atau menerangkan tentang
perjalanan untuk mengisi waktu luang (Hakim, 2004).

Kodhyat (1996)

menyatakan bahwa pariwisata adalah keseluruhan fenomena (gejala) da n


hubungan-hubungan yang ditimbulkan oleh perjalanan dan persinggahan manusia
di luar tempat tinggalnya dengan maksud bukan untuk tinggal menetap (di tempat
yang disinggahinya) dan tidak berkaitan dengan pekerjaan-pekerjaan yang

menghasilkan upah. Suwantoro (1997) mengemukakan bahwa wisata alam adalah


bentuk kegiatan wisata yang memanfaatkan potensi sumberdaya alam dan tata
lingkungan. Kegiatan wisata alam merupakan kegiatan rekreasi dan pariwisata
pendidikan, penelitian, kebudayaan dan cinta alam yang dilakukan di dalam obyek
wisata. Menurut PHPA (1996) kegiatan wisata alam di dalam kawasan konservasi
diarahkan pada upaya pendayagunaan potensi obyek wisata alam dengan tetap
memperhatikan prinsip keseimbangan antara kepentingan pemanfaatan dan
pelestarian alam.
Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia (2003)
menyatakan bahwa secara konseptual ekowisata dapat didefinisikan sebagai suatu
konsep pengembangan pariwisata berkelanjutan yang bertujuan untuk mendukung
upaya -upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya) dan meningkatkan
partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sehingga memberikan manfaat ekonomi
kepada masyarakat dan pemerintah setempat. Berdasarkan segi pengelolaannya
ekowisata dapat didefinisikan sebagai penyelenggaraan kegiatan wisata yang
bertanggung jawab di tempat-tempat alami dan atau daerah-daerah yang dibuat
berdasarkan kaidah alam yang secara ekonomi berkelanjutan dan mendukung
upaya -upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya) serta meningkatkan
kesejahteraan masyarakat setempat.
Sudarto (1999) menyatakan bahwa kegiatan (petualangan, pendidikan dan
penelitian) ekowisata juga merupakan daya tarik dalam sebuah produk ekowisata.
Selain itu unsur lainnya juga ikut menentukan dalam mengembangkan Daerah
Tujuan Ekowisata (DTE) tersebut. Sarana penunjang komunikasi, transportasi,
keamanan, dan juga kesiapan masyarakat setempat harus menjadi pertimbangan
utama.

Faktor yang membuat suatu kawasan potensial untuk dikembangkan

menjadi proyek ekowisata adalah keanekaragaman atraksi meliputi atraksi alam


(nature made ) yaitu flora, fauna dan fenomena alam; atraksi budaya (culture)
berupa peninggalan budaya seperti candi, artefak, makam-makam kuno; adat
istiadat dan budaya seperti upacara agama, perkawinan, kematian; atraksi
penelitian dan pendidikan seperti penelitian flora dan fauna, pendidikan
lingkungan; dan atraksi olah raga dan petualangan seperti olah raga air, olah raga
darat, olah raga dirgantara.

C. Taman Nasional
Undang-undang RI No. 5 Tahun 1990 menyatakan bahwa taman nasional
adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan
sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan,
pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi. Menurut PP No. 68
Tahun 1998 kawasan taman nasional dapat dimanfaatkan sesuai dengan sistem
zonasi pengelolaannya.

Berdasarkan sistem zonasi pengelolaannya kawasan

taman nasional dapat dibagi atas zona inti, zona pemanfaatan, zona rimba dan atau
zona lain yang ditetapkan Menteri berdasarkan kebutuhan pelestarian sumberdaya
alam hayati dan ekosistemnya. Zona pemanfaatan taman nasional adalah bagian
kawasan taman nasional yang dijadikan tempat pariwisata alam dan kunjungan
wisata. Rencana pengelolaan adalah suatu rencana bersifat umum dalam rangka
pengelolaan taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam yang
disusun oleh menteri kehutanan (PP No. 18 Tahun 1994).
Pemintakatan adalah alokasi ruang (kawasan) tiap-tiap mintakat mempunyai
fungsi tersendiri dan pengelolaannya berlainan sesuai dengan fungsinya. Menurut
PHPA (1988) taman nasional dibagi kedalam empat mintakat (zonasi) yaitu :
1. Zona inti (Sanctuary zone) ialah daerah yang berada di taman nasional
yang mutlak harus dilindungi dan tidak boleh mengalami perubahan
apapun juga yang disebabkan oleh tindakan-tindakan manusia. Daerah
tersebut sama sekali tidak boleh dikunjungi kecuali oleh pegawai taman
nasional dan para peneliti dengan izin khusus.
2. Zona rimba (Wilderness zone) ialah daerah yang berada di dalam taman
nasional

yang

merupakan

daerah

perlindungan.

Pengunjung

diperbolehkan memasukinya dengan kegiatan-kegiatan yang terbatas


sesuai dengan peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan yang berlaku.
Pada daerah ini diperkenankan untuk mengadakan kegiatan-kegiatan
seperti membuat jalan-jalan setapak, mendirikan shelter dan memasang
papan informasi.
3. Zona pemanfaatan (Intensive use zone) ialah daerah yang berada dalam
kawasan taman nasional dan diperuntukkan sebagai tempat yang

diperkenankan

untuk

membangun

sarana-sarana

kemudahan

bagi

pengunjung.
4. Zona penyangga (Buffer zone) merupakan zona yang umumnya terletak
berbatasan dengan pemukiman serta berfungsi sebagai pelindung potensi
sumberdaya taman nasional dari gangguan atau tekanan masyarakat sekitar
taman nasional atau sebaliknya untuk melindungi masyarakat dari
gangguan satwaliar yang ada di taman nasional.

D. Perencanaan Wisata
Perencanaan merupakan proses pembuatan keputusan tentang apa yang
harus dikerjakan dimasa depan dan bagaimana melakukannya. Perencanaan harus
memperhatikan keadaan sekarang secara realistis dan faktor potensial yang dapat
dikembangkan.

Perencanaan usaha harus dimulai dengan survei terperinci

mengenai sifat dan bentuk pengembangan yang direncanakan terutama dalam hal
sumberdaya yang dimiliki (Kusmayadi, 2004).
Page dan Ross (2002) mendefinisikan perencanaan sebagai sebuah proses
dengan tujuan tertentu yang akan dicapai, menanggulangi dan memonitor
perubahan yang akan terjadi untuk dapat menjaga/memelihara kelangsungan
kawasan serta dapat meningkatkan pengalaman wisatawan terhadap kawasan atau
lokasi tersebut. Hall (2000) mengungkapkan bahwa apabila perencanaan wisata
telah sesuai/mengikuti trend perencanaan regional maka wisata tidak selalu
dipandang sebagai fokus utama dalam proses perencanaan. Menurut Fandeli dan
Nurdin (2005) suatu hal penting dalam membuat perencanaan adalah perlu
mempertimbangkan faktor kemudahan untuk diikuti dan bersifat praktis sehingga
cepat dapat ditindaklanjuti dan mempunyai standar yang memudahkan penilaian
keberhasilan perencanaan.
Aspek-aspek yang perlu diketahui dalam perencanaan pariwisata menurut
Dimjati (1999) adalah :
1. Wisatawan (tourist) dengan melakukan penelitian tentang wisatawan
sehingga dapat diketahui karakteristik wisatawan yang diharapkan datang.
2. Pengangkutan (transportasi) adalah bagaimana fasilitas transportasi yang
tersedia baik dari negara asal atau angkutan ke obyek wisata.

3. Atraksi/obyek wisata (attraction) mengenai apa yang dilihat, dilakukan


dan dibeli di daerah tujuan wisata (DTW) yang dikunjungi.
4. Fasilitas pelayanan (service facilities).
5. Informasi dan promosi (information) yaitu cara-cara promosi yang akan
dilakukan baik melalui iklan atau paket yang tersedia.
Proses perencanaan wisata menurut Page dan Ross (2002) adalah sebagai
berikut :
a. Studi persiapan. Pemegang otoritas perencanaan termasuk pemerintah
lokal dan regional memutuskan untuk mengizinkan pembangunan/
pengembangan perencanaan wisata.
b. Penentuan tujuan adalah mengidentifikasi tujuan utama dari perencanaan.
c. Survei seluruh elemen adalah inventarisasi seluruh sumberdaya wisata
yang ada beserta fasilitasnya.

Kegiatan ini juga membutuhkan data

mengenai permintaan dan penawaran wisata, struktur ekonomi wisata


lokal, investasi kemungkinan finansial untuk pengembangan dimasa yang
akan datang.
d. Analisis dan sintesis data. Informasi dan data yang telah dikumpulkan
sebelumnya dianalisis dan digunakan sebagai pertimbangan untuk
merumuskan perencanaan.
e. Perumusan rencana dan kebijakan. Data yang telah diolah sebelumnya
digunakan untuk membuat pilihan-pilihan atau skenario pengembangan
wisata yang dapat dilakukan.
f. Rekomendasi. Perencanaan wisata yang telah lengkap untuk kemudian
disiapkan dan diajukan kepada komite perencanaan dari public agency
yang bertanggung jawab untuk memproses perencanaan tersebut.
g. Implementasi

dan

monitoring

perencanaan

wisata.

Perencanaan

dilanjutkan dengan tindakan yang biasanya merupakan proses lanjutan dari


tim perencana.

Dalam beberapa instansi, pengesahan juga dibutuhkan

untuk mengontrol aspek tertentu dalam pengembangan yang akan


ditetapkan sebagai bagian dari perencanaan.
h. Evaluasi berkala untuk mengetahui sejauh mana kemajuan pelaksanaan
dari perencanaan yang telah dilakukan.

III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN


A. Sejarah Kawasan
Keberadaan TNBD berawal dari gagasan Pemerintah Daerah Kabupaten
Sarolangun Bangko untuk menjadikan kawasan Hutan Bukit Duabelas sebagai
hutan lindung dan cagar biosfer yang difungsikan sebagai Cagar Budaya
Komunitas Anak Rimba.

Gubernur KDH Tk. I Jambi melalui Surat Nomor

522.51/863/84 tanggal 25 April 1984 mengusulkan kepada Menteri Kehutanan


agar kawasan Hutan Bukit Duabelas seluas 28.707 Ha diperuntukkan sebagai
cagar biosfer dengan fungsi sebagai Cagar Budaya Orang Rimba dan untuk
kepentingan penelitian dan pendidikan. Sementara dalam RTRW Provinsi Jambi
luas areal kawasan Hutan Bukit Duabelas untuk cagar biosfer ditetapkan seluas
29.485 Ha (BKSDA Jambi, 2004).

Menteri Kehutanan melalui SK Nomor

46/Kpts-II/1987 tanggal 12 Februari 1987 menetapkan kawasan Hutan Bukit


Duabelas sebagai kawasan cagar biosfer dengan luas areal 29.485 Ha.
Komunitas Konservasi Indonesia (KKI Warsi), suatu Lembaga Swadaya
Masyarakat yang sejak Agustus 1997 telah secara intensif melakukan
pendampingan dan kajian-kajian menyangkut kehidupan dan penghidupan
Komunitas Orang Rimba di Kawasan Cagar Biosfer Bukit Duabelas (CBBD) dan
kawasan sekitarnya pada tahun 1999 merekomendasikan agar areal kawasan PT
Inhutani V dan PT Sumber Hutan Lestari yang terletak di sisi luar bagian utara
CBBD diperuntukkan sebagai kawasan hidup Komunitas Orang Rimba. Menteri
Kehutanan membentuk tim terpadu untuk melakukan kajian mikro di kawasan
Bukit Duabelas. Tim terpadu merekomendasikan agar areal kawasan sisi utara
yang berbatasan dengan kawasan CBBD dijadikan kawasan lindung (BKSDA
Jambi, 2004).
Menteri Kehutanan dan Perkebunan melalui SK Nomor 258/Kpts-II/2000
tanggal 23 Juni 2000 membentuk Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD)
dengan total luas kawasan 60.500 Ha sudah termasuk ex kawasan cagar biosfer
seluas 26.800 Ha. Presiden RI pada tanggal 26 Januari 2001 bertempat di Jambi
mendeklarasikan terbentuknya Taman Nasional Bukit Duabelas (BKSDA Jambi,
2004).

B. Kondisi Fisik
B.1. Letak dan Luas
Kawasan TNBD mencakup tiga wilayah kabupaten dengan luas areal
keseluruhan berdasarkan data seme ntara BIPHUT (2004) dalam BKSDA Jambi
(2004) meliputi areal seluas 58.300 Ha dengan rincian luas menurut masingmasing kabupaten adalah sebagai berikut :
a. Kabupaten Batanghari

: 65 %

b. Kabupaten Sarolangun

:15 %

c. Kabupaten Tebo

: 20 %

Luasan ini merupakan data sementara sebab pada belahan kawasan di


Kabupaten Batanghari garis batas luar kawasan belum temu gelang (BKSDA
Jambi, 2004). Letak geografis kawasan TNBD dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Letak geografis dan batas kawasan TNBD
Uraian
Letak
a. Geografis
b.Administratif

Batas
a. Batas alam
b. Batas buatan

Utara

Timur

Selatan

01 04435 LS
Kec. Marosebo
Ulu, Kab.
Batanghari

1020 3137 BT
Kec. Batin
XXIV, Kab.
Batanghari

0200315 LS
Kec. Air
Hitam, Kab.
Sarolangun

PT Limbah Kayu
Utama dan PT
Sawit Desa
Makmur

PT Wana
Perintis

Kebun dan
pemukiman
masyarakat
desa-desa di
Kec. Air
Hitam
(Semurung,
Baru, Jernih,
Lubuk Jering,
Pematang
Kabau dan
Bukit Suban)

Barat
10204827 BT
Kec. Tebo Ilir,
Kab. Tebo

Sungai Bernai
Pemukiman
Transmigran
Kuamang
Kuning (SP A.
SP E. dan SP
G)

Sumber : Peta BIPHUT (2002) dalam BKSDA Jambi (2004).


Catatan : Garis batas di Kecamatan Marosebo Ulu Kabupaten Batanghari, sepanjang kurang lebih
9.000 m belum terselesaikan (belum temu gelang).

B.2. Iklim, Topografi, Hidrologi dan Tanah


Schmidt dan Ferguson mengklasifikasikan iklim di TNBD dalam tipe iklim
A dengan curah hujan antara 3294-3669 mm/tahun dan suhu udara 3240 0 C serta
kelembaban udara 80% -94%. Kondisi topografi, hidrologi dan tanah kawasan
TNBD tersaji dalam Tabel 2.

Tabel 2. Kondisi topografi, hidrologi dan tanah kawasan TNBD


Deskripsi
Topografi
Belahan Selatan
Belahan Utara
Hidrologi

Uraian

Keterangan

Perbukitan
Datar Bergelombang
Kawasan hulu dari
sejumlah sungai

Tanah

Ketinggian 50 438 mdpl


Daerah Aliran Sungai (DAS) penting di
dalam dan sekitar kawasan meliputi :
Sub DAS Air Hitam : Anak Sungai
Tembesi
Sub DAS Jelutih dan Serengam : Anak
Sungai Tembesi
Sub DAS Kejasung Kecil, Kejasung Besar,
Sungkai dan Makekal : A nak Sungai Tabir
Sub DAS Bernai dan Seranten : Anak
Sungai Tabir
Sifat tanah jenis podsolik umumnya miskin
hara dan mudah tererosi pada kondisi terbuka

Jenis tanah
didominasi oleh
Podsolik
Sumber : Berbagai sumber dalam BKSDA Jambi (2004).

C. Kondisi Biologi Kawasan


C.1. Flora
Jenis flora yang terdapat di TNBD antara lain bulian (Eusideroxylon
zwageri), meranti (Shorea sp), menggeris/kempas (Koompassia excelsa), jelutung
(Dyera costulata), jernang (Daemonorops draco), damar (Agathis sp), dan rotan
(Calamus sp). Disamping itu te rdapat sekitar 120 jenis tumbuhan yang berfungsi
sebagai tumbuhan obat (BKSDA Jambi, 2004).

Potensi flora di TNBD

selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 2.


C.2. Fauna
Taman nasional ini merupakan habitat dari satwa langka dan dilindungi
seperti harima u sumatera (Panthera tigris sumatrae), siamang (Hylobates
syndactylus) , beruk (Macaca nemestrina), macan dahan (Neofelis nebulosa
diardi), kancil (Tragulus javanicus), beruang madu (Helarctos malayanus
malayanus), kijang (Muntiacus

muntjak), meong congkok (Prionailurus

bengalensis sumatrana), lutra sumatera (Lutra sumatrana) , ajag (Cuon alpinus


sumatrensis), kelinci sumatera (Nesolagus netscheri) dan elang ular bido
(Spilornis cheela malayensis) (BKSDA Jambi, 2004). Fauna tersebut ada yang
dimanfaatkan sebagai obat oleh Orang Rimba, selengkapnya dapat dilihat pada
Lampiran 3.

D. Masyarakat Sekitar Kawasan


D.1. Masyarakat di Dalam Taman Nasional
Masyarakat di TNBD meliputi masyarakat yang berada di dalam kawasan
taman nasional yaitu Suku Anak Dalam dan masyarakat di luar kawasan yaitu
masyarakat desa. Masyarakat asli Suku Anak Dalam yang lebih suka disebut
Orang Rimba telah mendiami TNBD selama puluhan tahun.

Orang Rimba

menyebut hutan yang ada di TNBD sebagai daerah pengembaraan.

Mereka

berinteraksi dengan alam, saling memberi, saling memelihara dan saling


menghidupi (BKSDA Jambi, 2004).
Hasil sensus lapangan yang dilakukan KKI WARSI (2004) dalam BKSDA
Jambi (2004) menyatakan diluar tiga kelompok yang belum terdata diperoleh
keterangan sementara bahwa jumlah keseluruhan komunitas Orang Rimba yang
berada di dalam dan di sekitar kawasan TNBD tercatat sebanyak 1.524 orang.
Sebagian besar komunitas Orang Rimba di kawasan TNBD dan sekitarnya
mengambil ruang kehidupan dan penghidupan di belahan bagian barat (Air Hitam,
Makekal Hulu/Hilir dan Kejasung). Komunitas Orang Rimba umumnya memilih
areal ruang hidup di dataran rendah sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS). Sebaran
Orang Rimba di TNBD dan sekitarnya secara lebih jelas dapat dilihat pada
Lampiran 4.
Orang Rimba masih mempercayai adanya dewa-dewa seperti Dewa Gajah,
Dewa Harimau, Dewa Angsa, Dewa Padi, dan Dewa Trenggiling. Dewa tertinggi
adalah Dewa Gajah dan dewa-dewa tersebut biasanya dipanggil dalam upacaraupacara adat Orang Rimba seperti upacara perkawinan, kelahiran dan
penyembuhan penyakit dengan perantara dukun. Kebudayaan/adat istiadat Orang
Rimba sangat unik antara lain struktur pemerintahan dan hukum adat, upacaraupacara adat (upacara perkawinan, kelahiran, kematian) dan mitos -mitos yang
berlaku dalam kehidupan Orang Rimba (BKSDA Jambi, 2004).
Bagi Orang Rimba, hutan bukan hanya merupakan kawasan hidup dan
sumber penghidupan, tempat berladang, berburu dan memanen hasil hutan tapi
juga memiliki keterkaitan erat dengan budaya tradisi.

Untuk pe menuhan

kebutuhan hidup akan makanan umumnya Komunitas Orang Rimba masih


mengandalkan pada pemanenan sumberdaya hutan non kayu. Kebutuhan akan

makanan diperoleh dengan memanen jenis umbi-umbian, buah-buahan serta


umbut-umbutan dan berburu satwaliar (BKSDA Jambi, 2004). Pemanenan hasil
hutan dilakukan secara bijaksana dengan mengikuti aturan adat yang kuat
berwawasan pelestarian lingkungan seperti :
- Untuk pemanenan umbi-umbian dan umbut-umbutan berlaku aturan adat
ambil satu bayar satu, maksudnya bila mengambil satu umbi atau umbut
maka harus menanam satu umbi atau umbut.
- Untuk pemanenan buah-buahan berlaku aturan adat pohon induk dilarang
ditebang, maksudnya pemanenan dilakukan tidak dengan menebang pohon
yang diambil buahnya agar pohon tersebut da pat menghasilkan buah lagi di
musim panen selanjutnya dan dapat beregenerasi.
Kebutuhan akan bahan makanan hewani dipenuhi melalui berburu satwaliar.
Dalam melakukan kegiatan perburuan ada beberapa jenis satwa yang
dipantangkan antara lain enggang gading, berang-berang, harimau, kucing hutan
dan primata. Pemanenan untuk tujuan komersial (diperdagangkan) juga sudah
dikenal meluas antara lain rotan manau, rotan cacing, rotan sego, rotan paku, rotan
lilin, rotan sabut, rotan semi, rotan tebu-tebu, rotan gela ng-gelang, rotan suto,
rotan balam, rotan semut, getah jernang, getah damar, madu tawon hutan (maniy
rapah bumbun dan maniy rapah sialang), buah-buahan hutan, terutama duku dan
durian daun. Pemanenan getah jelutung dan getah balam sudah tidak banyak
dilakukan dikarenakan sulitnya mendapatkan pembeli (KKI Warsi, 2004 dalam
BKSDA Jambi, 2004).

Selain pemanenan hasil hutan kegiatan pertanian

tradisional yang sudah dikenal meluas oleh komunitas ini adalah tanaman karet
dan buah-buahan.

Penjualan hasil panena n hutan dan pertanian umumnya

dilakukan melalui jasa perantara (jenang).


D.2. Masyarakat di Luar Taman Nasional
Desa-desa di sekitar TNBD secara administratif berada di bagian utara
kawasan adalah sebanyak empat desa yang termasuk dalam wilayah Kecamatan
Tebo Ilir, Kabupaten Tebo dan satu desa di Kecamatan Muarosebo Ulu,
Kabupaten Batanghari.

Di bagian selatan TNBD terdapat enam desa yang

termasuk dalam Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun (Tabel 3).

Tabel 3. Desa-desa interaksi TNBD menurut wilayah administrasi


Kabupaten
1. Batanghari
2. Tebo

Kecamatan
Muarasebo Ulu
Tebo Ilir

Desa Interaksi
Batu sawar
Sungai Jernih
Tanah Garo
Lancar Tiang
3. Sarolangun
Air Hitam
Semurung
Baru
Jernih
Lubuk Jering
Pematang Kabau
Bukit Suban (ex trans SPI)
Sumber : Berbagai sumber (diolah kembali) dalam BKSDA Jambi (2004)

Jumlah Penduduk
479
2.158
1.361
2.564
1.141
1.605
1.630
771
1.878
3.124

Masyarakat desa di bagian utara TNBD mayoritas adalah etnis melayu dan
sebagian kecil masyarakat pendatang (transmigran).

Masyarakat desa yang

berada dalam wilayah bagian selatan TNBD sebagian adalah transmigran dan
selebihnya merupakan etnis melayu.

Mayoritas masyarakat memeluk agama

Islam dan sebagian lain memeluk agama Kristen, Budha dan Hindu. Hasil budaya
masyarakat desa sekitar TNBD berupa kesenian daerah yang meliputi tari-tarian
daerah dan kesenian alunan Biduk Sayak (berupa seni berbalas pantun dengan
diiringi musik biasanya dilakukan oleh muda-mudi).
Mata pencaharian utama masyarakat Desa Batu Sawar, Desa Sungai Jernih,
Desa Tanah Garo, Desa Lancar Tiang, Desa Baru, Desa Semurung, Desa Jernih
dan Desa Lubuk Jering yang sebagian besar merupakan etnis melayu adalah
bertani yang lebih bertumpu pada pertanian karet (alam) dikelola secara ekstensif
melalui sistem perladangan berpindah. Masyarakat pendatang (transmigran) di
Desa Pematang Kabau dan Desa Bukit Suban lebih banyak bertumpu pada
pertanian kelapa sawit dan sebagian lagi dari pertanian karet (unggul) yang
dikelola secara intensif (BKSDA Jambi, 2004). Gambaran umum desa-desa yang
berada di wilayah selatan TNBD disajikan dalam Lampiran 5.

F. Potensi Obyek dan Daya Tarik Wisata


Taman Nasional Bukit Duabelas sebagai kawasan pelestarian alam memiliki
potensi wisata kawasan yang terletak pada alam hutan dan ekosistemnya serta
sejumlah aspek budaya yang terkait dengan eksistensinya sebagai kawasan

adat/budaya Komunitas Orang Rimba. Secara garis besar potensi wisata kawasan
TNBD terdiri atas :
a. Spektrum ekosistem kawasan yang terbentuk dari per paduan antara alam
hutan perbukitan dan sungai. Kombinasi ini memberikan nuansa lansekap
alamiah yang menarik untuk dinikmati.
b. Adat istiadat, tradisi dan kearifan tradisional Komunitas Orang Rimba.
c. Lingkungan alam hutan primer yang relatif tidak banyak ditemukan lagi di
tempat-tempat lain.
d. Satwaliar terutama jenis-jenis yang dilindungi.
e. Flora yang bernilai tinggi sebagai plasma nutfah, jenis-jenis yang
tergolong langka dan dilindungi dan jenis-jenis yang memiliki daya tarik
visual.
f. Biota obat hutan tropis dan pengetahuan tradisional pengobatan mandiri
Komunitas Orang Rimba.
Potensi-potensi ini merupakan keunggulan komparatif yang dimiliki oleh
kawasan TNBD yang selanjutnya dapat dikemas dalam bentuk program
interpretasi untuk diketengahkan sebagai produk andalan ekowisata TNBD
(BKSDA Jambi, 2004).
Potensi obyek dan daya tarik wisata yang terdapat di TNBD menurut PHKA
(2003b) antara lain :
1. Sumber Air Panas Bukit Suban berupa danau seluas 30 m2 di tengahtengahnya keluar gelembung-gelembung air panas dengan suhu 39 0C dan
airnya tidak mengalir.
2. Air Terjun Lubuk Jering adalah air terjun dengan ketinggian 20 m yang
mengalir ke Sungai Telentam.
3. Air Terjun Talon memiliki tiga tingkatan yaitu 7 m, 4 m, dan 2m.
4. Aek Manitik merupakan air terjun dengan ketinggian 5 m di sebelah kanan
air terjun terdapat gua sarang kelelawar dan pada dinding air terjun juga
terdapat lubang dengan diameter 2.5 m.
5. Air Meruap adalah sumber air dengan arus deras keluar dari dasar Dam
memiliki kedalaman 8 m dan airnya sangat jernih.

6. Sumber Air Panas Dusun Baru memiliki panorama yang indah, udara yang
sejuk dan lingkungan yang masih asri.
Disamping itu terdapat banyak sumber mata air dan sungai dengan air yang
mengalir serta adat dan budaya tradisional khas Suku Anak Dalam.

IV. METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian ini berlokasi di Taman Nasional Bukit Duabelas Provinsi Jambi
selama dua bulan yaitu bulan September sampai bulan Oktober 2005.

B. Alat dan Bahan


B.1. Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain alat tulis, GPS
(Geografis Position System) dan kamera.
B.2. Bahan
Bahan yang diperlukan pada penelitian ini yaitu Pedoman Analisis Daerah
Operasi Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam (ADO-ODTWA) Dirjen PHKA
(2003) yang telah dimodifikasi, kuesioner untuk pengunjung dan panduan
wawancara (pengelola, Pemerintah Daerah dan tokoh masyarakat).
C. Metode
C.1. Data yang Dikumpulkan
Data dan informasi yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri atas :
1. Kondisi umum lokasi penelitian meliputi sejarah, letak dan luas wilayah,
status pengelolaan, kondisi fisik (topografi, hidrologi, tanah, iklim) dan
kondisi biologi (potensi flora dan fauna ).
2. Kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat sekitar lokasi penelitian,
masyarakat di dalam kawasan (Komunitas Orang Rimba) dan di luar
kawasan (masyarakat desa) meliputi jumlah penduduk, penyebarannya,
mata pencaharian, tingkat pendidikan, agama, adat istiadat dan budaya
masyarakat.
3. Potensi obyek dan daya tarik wisata alam meliputi daya tarik,
aksesibilitas, kondisi lingkungan sosial ekonomi, akomodasi, saranaprasarana penunjang dan ketersediaan air bersih.

4. Pengunjung meliputi keadaan, karakteristik, motif, aktivitas, persepsi dan


harapan pengunjung.
5. Pengelolaan wisata meliputi kebijakan wisata, pengelolaan, fasilitas dan
pelayanan serta perencanaan wisata.
C.2. Prosedur Kerja
1. Pengumpulan data melalui studi pustaka dan melakukan verifikasi di
lapangan mengenai potensi-potensi wisata di TNBD.
2. Menilai obyek dengan menggunakan Pedoman Analisis Daerah Operasi
Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam (ADO-ODTWA) Dirjen PHKA
tahun 2003 yang telah dimodifikasi.
3. Menganalisis potensi wisata alam di TNBD kemudian diuraikan secara
deskriptif dan menentukan obyek prioritas yang berpotensi untuk
dikembangkan.
4. Membuat alternatif perencanaan ODTWA di TNBD.
Potensi-potensi
TNBD

Obyek dan daya tarik


wisata alam TNBD
Penilaian
kriteria
ODTWA
Pengunjung dan
Masyarakat
TNBD

Analisis
deskriptif

Obyek
prioritas

Alternatif
perencanaan
wisata alam

Gambar 1. Bagan Alir Penelitian

Pengelola
TNBD dan
Pemerintah
Daerah

D. Metode Pengambilan Data


D.1. Studi Pustaka
Studi pustaka ini dimaksudkan untuk mengetahui kondisi lokasi penelitian
dan membantu pengumpulan data-data awal dengan mempelajari dan menelaah
pustaka yang menunjang penelitian. Pustaka yang ditelaah tersebut bersumber
dari buku-buku, majalah-majalah, dokumen-dokumen dan website -website yang
berkaitan dengan penelitian.

Data-data kepustakaan diperoleh dari kantor

BKSDA Jambi, kantor LSM KKI WARSI, Dinas Pariwisata, perpustakaan IPB,
perpustakaan daerah Provinsi Jambi dan tempat-tempat lain yang menunjang
pustaka penelitian.
D.2. Wawancara dan Kuesioner
Wawancara dilakukan secara terpandu kepada pihak-pihak terkait antara
lain pengelola (BKSDA Jambi) baik di pusat maupun pengelola di lapangan
meliputi kebijakan pengelolaan wisata TNBD, rencana pengelolaan wisata TNBD,
kegiatan yang berkaitan dengan wisata, pengunjung TNBD, kerjasama yang
dilakukan berkaitan dengan wisata, permasalahan dan kendala yang dihadapi serta
pemecahan dan harapan pengelola.

Pemerintah Daerah dalam hal ini Dinas

Pariwisata meliputi kebijakan wisata, rencana pengelolaan wisata serta kepada


tokoh masyarakat (Tumenggung Tarip sebagai ketua kelompok Orang Rimba Air
Hitam, Tengganai dari Rombong Ninjo dan Kepala Desa terdekat dengan obyek
wisata TNBD) meliputi kondisi sosial, ekonomi dan budaya/adat istiadat
masyarakat.
Kuesioner diberikan kepada pengunjung obyek wisata di TNBD. Penentuan
jumlah responden pengunjung ditentukan dengan teknik purposive sampling
(Kusmayadi, 2004).

Pengisian kuesioner dimaksudkan untuk mengetahui

karakteristik, motif, aktivitas, persepsi dan harapan pengunjung.


D.3. Pengamatan Lapang
Pengamatan lapang dilakukan untuk melihat dan mengetahui potensi obyek
dan daya tarik wisata alam.

Pengamatan lapang ini dimaksudkan sebagai

verifikasi potensi obyek dan daya tarik wisata serta sarana prasarana wisata dari
hasil studi pustaka dan informasi dari petuga s serta masyarakat sekitar TNBD

dengan keadaan/kondisi yang ada dilapangan.

Komponen-komponen yang

diamati yaitu :
1. Kondisi biologi; unsur yang diamati adalah jenis flora dan fauna yang
dijumpai di sekitar obyek wisata
2. Daya tarik; unsur yang diamati meliputi keunikan, kepekaan, variasi
kegiatan, sumberdaya alam yang menonjol, kebersihan lokasi, keamanan,
kenyamanan.
3. Aksesibilitas; unsur yang diamati yaitu kondisi dan jarak jalan darat, tipe
jalan.
4. Akomodasi; dilakukan dengan melihat dan mencari informasi mengenai
penginapan dalam radius 15 km dari obyek.
5. Sarana-prasarana penunjang meliputi kantor pos, jaringan telepon,
Puskesmas, jaringan listrik, jaringan air minum, rumah makan, pusat
perbelanjaan/pasar, bank, toko souvenir/cinderamata.
6. Ketersediaan air bersih; unsur yang diamati meliputi volume, jarak
sumber air terhadap lokasi obyek, dapat tidaknya/kemudahan air
dialirkan ke obyek, kelayakan dikonsumsi dan kontinuitas.

E. Pengolahan Data
E.1. Metode Skoring
Data mengenai potensi ODTWA diolah dengan me nggunakan Pedoman
Analisis Daerah Operasi Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam (ADO-ODTWA)
Direktorat Jenderal PHKA (2003a) yang telah dimodifikasi sesuai dengan
nilai/skor yang telah ditentukan untuk masing-masing kriteria (Lampiran 1).
Jumlah nilai untuk satu kriteria penilaian ODTWA dapat dihitung dengan
persamaan sebagai berikut :
S=NxB
Keterangan : S = skor/nilai suatu kriteria
N = jumlah nilai unsur -unsur pada kriteria
B = bobot nilai
Masing-masing kriteria tersebut dalam penilaiannya terdiri atas unsur dan
sub unsur yang berkaitan. Nilai masing-masing unsur dipilih dari salah satu

angka yang terdapat pada tabel kriteria penilaian ODTWA sesuai dengan potensi
dan kondisi masing-masing lokasi.
Daya tarik merupakan modal utama yang memungkinkan datangnya
pengunjung untuk itu bobot kriteria daya tarik diberi angka tertinggi yaitu 6.
Penilaian aksesibilitas diberi bobot 5 karena aksesibilitas merupakan faktor yang
sangat penting dalam mendukung potensi pasar.

Kondisi lingkungan sosial

ekonomi dinilai dalam radius 5 km dari batas intensive use atau jarak terdekat
dengan obyek. Kriteria penilaian kondisi lingkungan sosial ekonomi diberi bobot
5 karena kriteria ini juga sangat penting dalam mendukung potensi pasar.
Penilaian kriteria akomodasi diberi bobot 3.
Penilaian kriteria sarana-prasarana penunjang diberi bobot 3 karena sifatnya
sebagai penunjang.

Air bersih merupakan faktor yang harus tersedia dalam

pengembangan suatu obyek baik untuk pengelolaan maupun pelayanan. Bobot


yang diberikan untuk kriteria ketersediaan air bersih adalah 6. Hasil penilaian
seluruh kriteria obyek dan daya tarik wisata alam tersebut digunakan untuk
melihat

dan

menentukan

obyek

prioritas

yang

akan

dibuat

alternatif

perencanaannya.
E.2. Analisis Deskriptif
Hasil pengolahan data mengenai obyek dan daya tarik wisata alam tersebut
kemudian diuraikan secara deskriptif.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN


A.

Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) di Dalam Kawasan


TNBD

A.1. Kriteria Penilaian ODTWA


Kriteria penilaian obyek wisata alam merupakan suatu instrumen untuk
mendapatkan kepastian kelayakan suatu obyek untuk dikembangkan sebagai
obyek wisata alam. Fungsi kriteria adalah sebagai dasar dalam pengembangan
ODTWA melalui penetapan unsur kriteria, penetapan bobot, penghitungan
masing-masing sub unsur dan penjumlahan dari semua kriteria (Dirjen PHKA,
2003a). Hasil pengamatan terhadap potensi-potensi di TNBD dapat diketahui
bahwa terdapat beberapa tempat yang berpotensi sebagai ODTWA yaitu Gua
Kelelawar, Demplot Tanaman Obat, Aek Manitik, Air Terjun Talon dan Air
Terjun Lubuk Jering.

ODTWA tersebut selanjutnya dinilai menurut kriteria

penilaian yang dipakai sebagai dasar dalam penilaian ODTWA ini yaitu daya
tarik, aksesibilitas, kondisi lingkungan sosial ekonomi, akomodasi, saranaprasarana penunjang dan ketersediaan air bersih.
A.1.1. Daya Tarik
Daya tarik merupakan faktor yang membuat orang berkeinginan untuk
mengunjungi dan melihat secara langsung ke tempat yang mempunyai daya tarik
tersebut.

Pengkajian komponen daya tarik ini bertujuan untuk mengetahui

gambaran bentuk-bentuk kegiatan rekreasi yang sesuai dengan daya tarik dan
sumberdaya yang tersedia. Menurut PHKA (2003a) daya tarik merupakan modal
utama yang memungkinkan datangnya pengunjung.

Unsur -unsur yang dinilai

pada kriteria daya tarik ini yaitu keunikan, kepekaan, variasi kegiatan, jenis
sumberdaya yang menonjol, kebersihan obyek, keamanan, dan kenyamanan.
Unsur-unsur daya tarik yang terdapat pada masing-masing obyek wisata alam di
TNBD disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Daya tarik obyek wisata alam di TNBD


No.
1.

2.

Obyek Wisata Alam


Gua Kelelawar

Demplot Tanaman Obat

3.

A e k M anitik

4.

Air Terjun Talon

5.

Air
Terjun
Jering

Lubuk

Daya Tarik
Gua alam berbatu
Fauna : kelelawar, ular dan landak
Flora : kedundung tunjuk, sebalik sumpah, bambu, rotan
Kegiatan : menikmati keindahan, tracking, berkemah,
penelitian/pendidikan, hiking
Demplot berisi sekitar 52 jenis tanaman obat yang berasal
dari Bukit Duabelas
Flora : meranti, bambu, rotan
Fauna : berbagai jenis burung, simpai, bajing, monyet
ekor panjang
Kegiatan : menikmati keindahan, tracking, berkemah,
penelitian/pendidikan, hiking
Air terjun setinggi 5 m, di sebelah kanan air terjun
terdapat gua sarang kelelawar (lebar 6 m, 1.5 m dan
dalam 4 m)
Pada dinding air terjun juga terdapat lubang berdiameter
2.5 m
Kegiatan : menikmati keindahan, tracking, memancing,
berenang, berkemah, penelitian/pendidikan, hiking
Flora : bulian, kempas, meranti, rotan, bambu
Fauna : burung gagak, simpai, monyet ekor panjang,
bajing
Air terjun bertingkat tiga dengan tinggi sekitar 7 m, 4 m
dan 2 m
Kegiatan : menikmati keindahan, memancing, tracking,
berenang, berkemah, penelitian/pendidikan, hiking
Flora : pisang hutan, bernai, kasai, bayas, dan harendong
bulu
Fauna : kupu-kupu, burung elang, simpai, monyet ekor
panjang, dan ikan hias yang terdapat di sungai
Air terjun setinggi 20 m
Kegiatan : menikmati keindahan, memancing, tracking,
berenang, berkemah, penelitian/pendidikan, hiking
Flora : durian, meranti, bulian
Fauna : berbagai jenis burung, simpai, monyet ekor
panjang, bajing, katak

Hasil pengamatan terhadap daya tarik yang dimiliki masing-masing obyek


wisata alam di TNBD dapat diketahui penilaian kriteria daya tariknya (Tabel 5).

Tabel 5. Penilaian kriteria daya tarik wisata alam di TNBD


Obyek Wisata Alam
No.

Unsur-unsur
Penilaian

1.

Keunikan sumberdaya
alam
2.
Kepekaan sumberdaya
alam
3.
Variasi kegiatan
4.
Jenis
sumberdaya
alam yang menonjol
5.
Kebersihan lokasi
6.
Keamanan
7.
Kenyamanan
Jumlah (nilai x bobot (6))

Gua
Kelelawar

Demplot
Tanaman
Obat

Aek
Manitik

Air
Terjun
Talon

15

10

10

15

Air
Terjun
Lubuk
Jering
10

20

25

10

10

10

25
20

25
15

30
25

30
25

30
25

30
20
25
930

30
25
30
960

30
25
30
960

30
25
30
990

30
20
30
930

Penilaian kriteria daya tar ik pada obyek wisata alam di TNBD terlihat
bahwa Air Terjun Talon memiliki nilai daya tarik tertinggi yaitu sebesar 990
kemudian Demplot Tanaman Obat dan Aek Manitik memiliki nilai daya tarik
yang sama yaitu 960 selanjutnya Gua Kelelawar dan Air Terjun Lubuk Jering
mendapat nilai paling rendah yaitu sebesar 930.
Gua Kelelawar
Daya tarik Gua Kelelawar adalah keunikan berupa gua berbatu besar. Gua
ini terletak di Bukit Punai Banyak. Gua ini sangat gelap karena tidak ada lubang
yang dapat ditembus cahaya kecuali dari mulut gua. Mulut gua berada diantara
dua buah batu besar dan tidak terlalu lebar hanya bisa dimasuki orang secara satu
persatu dengan posisi badan miring dan sedikit membungkuk. Namun ruang di
bagian dalam gua cukup luas. Di dalam gua ini banyak sekali terdapat kelelawar
sehingga Orang Rimba menyebutnya Gua Kelelawar.

Menurut kepercayaan

Orang Rimba gua ini merupakan gua setan yang apabila kita masuk ke dalamnya
maka akan membuat kita menjadi sakit.
Variasi kegiatan yang dapat dilakukan pada obyek ini antara lain menikmati
keindahan alam hutan Bukit Punai Banyak, tracking, berkemah, penelitian, dan
hiking. Jenis sumberdaya alam yang menonjol adalah batuan yang menyusun gua.
Flora yang terdapat disekitar gua antara lain kedundung tunjuk (sala h satu pohon
sialang pohon yang terdapat sarang lebah madu milik Orang Rimba), sebalik
sumpah (sejenis jambu-jambuan yang bijinya digunakan untuk kalung dan gelang

yang dipercaya dapat menangkal sumpah serapah orang), bambu dan rotan. Fauna
yang dapat dijumpai selama perjalanan menuju Gua Kelelawar antara lain
siamang, burung gagak, burung pelatuk, kangkareng, dan katak bertanduk. Selain
itu di dalam gua juga terdapat fauna antara lain kelelawar, ular dan landak.
Kebersihan lokasi Gua Kelelawar ini sangat baik, bebas dari pengaruh industri,
jalan ramai, pemukiman penduduk, sampah, vandalisme dan pencemaran lain.
Keamanannya cukup baik meskipun ada kepercayaan Orang Rimba mengenai gua
ini namun cukup aman karena tidak ada arus sungai yang berbahaya, tidak ada
penebangan dan perambahan serta tidak ada pencurian.

Gua Kelelawar juga

cukup nyaman walaupun ada bau yang cukup mengganggu berasal dari kotoran
kelelawar namun udaranya sejuk, bebas kebisingan dan tidak ada lalu lintas umum
yang mengganggu. Gua Kelelawar ini sama sekali belum dikelola. Pengunjung
yang datang pun belum ada.

Diperlukan perencanaan yang matang dan

pengkajian secara mendalam tentang gua ini sehingga dapat menarik minat
pengunjung untuk datang.

Gambar 2. Pintu masuk Gua Kelelawar


Demplot Tanaman Obat
Ekspedisi biota medika tahun 1998 telah menemukan biota obat hutan di
kawasan TNBD yang sudah dimanfaatkan oleh Komunitas Orang Rimba.
Temuan-temuan ini diperoleh melalui pengamatan dan wawancara dengan
Tumenggung Ngamat, Tumenggung Kecik, Pagar Alam, Ngunci Lidah dan Istri
Tumenggung Kecik di Kejasung Kecil, Tumenggung Jelitai di Pasir Putih,
Tumenggung Tarip dan istri di Air Hitam. Jenis biota medika yang ditemukan
meliputi 137 jenis yang terdiri dari 101 jenis tumbuhan obat, 27 jenis cendawan
obat dan 9 jenis hewan obat.

Sebagian besar tumbuhan obat tersebut masih

tergolong tumbuhan liar/belum dibudidayakan (BKSDA, 2004).

Tumbuhan-tumbuhan obat tersebut dikumpulkan dan ditanam di satu lokasi


yang disebut demplot. Demplot tanaman obat ini dibuat sekitar tahun 2001. Di
dalam demplot seluas 0.5 Ha ini terdapat sekitar 101 jenis tanaman obat yang
berasal dari Bukit Duabelas namun saat ini hanya terdapat sekitar 52 jenis
tanaman obat saja. Tanaman obat tersebut telah diberi la bel berisi keterangan
mengenai nama lokal, khasiat, bagian yang digunakan dan cara penggunaannya.
Demplot Tanaman Obat ini memiliki nilai pengetahuan mengenai berbagai jenis,
khasiat, bagian yang digunakan dan penggunaan tumbuhan obat yang terdapat di
TNBD, nilai budayanya berupa penggunaan tumbuhan obat oleh Orang Rimba
untuk ritual- ritual adat dan nilai pengobatan secara tradisional oleh Orang Rimba.
Kegiatan yang dapat dilakukan pada obyek ini antara lain menikmati keindahan
alam, tracking , berkemah, pendidikan/penelitian mengenai tumbuhan obat, dan
hiking. Flora yang terdapat disekitar demplot antara lain meranti, bambu dan
rotan. Fauna yang dapat dijumpai selama perjalanan menuju demplot antara lain
berbagai jenis burung, monyet ekor panjang, bajing dan simpai. Lokasi obyek ini
sangat bersih tidak ada pengaruh dari industri, jalan ramai, pemukiman, sampah,
vandalisme dan pencemaran lain. Keamanannya pun baik tidak ada arus sungai
yang berbahaya, tidak ada penebangan dan perambahan, tidak ada pencur ian dan
tidak ada kepercayaan yang mengganggu. Demplot Tanaman Obat ini sangat
nyaman, udaranya sejuk, bebas bau yang mengganggu, bebas kebisingan dan tidak
ada lalu lintas umum yang mengganggu.

Dok. BKSDA Prov. Jambi

Dok. BKSDA Prov. Jambi

(a)
(b)
Gambar 3. (a) Demplot Tanaman Obat dan (b) salah satu jenis tanaman obat yang
terdapat di demplot
Pengunjung yang datang umumnya para peneliti yang bertujuan untuk
penelitian dan menambah pengetahuan mengenai tumbuhan obat yang biasa
digunakan oleh Orang Rimba. Demplot Tanaman Obat ini belum dikelola secara

optimal.

Hal ini terlihat dari kondisi demplot yang kurang terawat dan

berkurangnya jenis tanaman obat di dalam demplot.


Aek Manitik
Aek Manitik merupakan air terjun dengan ketinggian sekitar 5 m. Air terjun
ini berada di dalam kawasan TNBD secara geografis terletak pada 0105521 LS
dan 102 03458 BT. Disebut aek manitik berasal dari kata aek titek (bahasa
rimba) yang artinya air yang jatuh. Air ini berasal dari aliran Sungai Paku Aji
dengan debit sekitar 20 liter/detik. Di sebelah kanan air terjun terdapat gua sarang
kelelawar (lebar 6 m x 1.5 m x dalam 4 m). Pada dinding air terjun juga terdapat
lubang berdiameter 2.5 m (Tim Identifikasi Obyek Wisata Alam Taman Nasional
Bukit Duabelas dan Hutan Wisata Bukit Sari, 2002).
Kegiatan yang dapat dilakukan di lokasi ini antara lain menikmati
keindahan alam, memancing, trecking , berenang, berkemah dan hiking. Jenis
sumberdaya yang menonjol adalah batuan yang terdapat di Sungai Paku Aji, air
terjun yang jernih dan belum tercemar. Flora di sekitar Aek Manitik antara lain
bulian, meranti, bambu dan rotan.

Fauna yang dapat dijumpai sepanjang

perjalanan menuju Aek Manitik antara lain burung gagak, bajing, simpai, dan
monyet ekor panjang. Obyek Aek Manitik ini sangat bersih, tidak ada pengaruh
dari industri, jalan ramai, pemukiman, sampah, vandalisme dan pencemaran lain.
Keamanannya baik, tidak ada arus berbahaya, tidak ada penebangan dan
perambahan, tidak ada pencurian dan tidak ada kepercayaan yang mengganggu.
Aek Manitik juga dinilai sangat nyaman, udaranya sejuk, bebas bau yang
mengganggu, bebas kebisingan dan tidak ada lalu lintas umum yang mengganggu.
Pengunjung yang datang ke lokasi ini masih sangat jarang. Obyek ini cukup
potensial untuk dikembangkan karena lokasinya yang tidak begitu jauh dengan
Demplot Tanaman Obat.
Air Terjun Talon
Secara geografis Air Terjun Talon terletak pada 010 5808 LS dan 1020
4318 BT. Air Terjun Talon tidak terlalu tinggi namun memiliki tiga tingkat
dengan tinggi masing-masing tingkat sekitar 7 m, 4 m dan 2 m. Debit air 60
liter/detik berasal dari Sungai Karang mengalir ke hulu Sungai Jernih. Air yang

mengalir pada air terjun ini sangat jernih. Terdapat kolam di bawah air terjun
dengan kedalaman 4 m (Tim Identifikasi Obyek Wisata Alam Taman Nasional
Bukit Duabelas dan Hutan Wisata Bukit Sari, 2002) . Kolam ini dapat digunakan
untuk berenang/mandi, kegiatan lain yang dapat dilakukan di lokasi ini yaitu
memancing, trecking, berkemah, dan hiking.

(a)
(b)
Gambar 4. Air Terjun Talon : (a) tingkat satu setinggi 7 m, (b) tingkat dua
setinggi 4 m.
Jenis sumberdaya alam yang menonjol yaitu air sungai yang jernih, batuan
yang terdapat di sungai, flora yang terdapat di sekitar air terjun antara lain pisang
hutan, bernai (buahnya enak dan bisa dimakan), kasai (buah seperti buah enau dan
bisa dimakan), bayas, dan harendong bulu. Fauna yang dapat dijumpai antara lain
kupu-kupu, burung elang, simpai, monyet ekor panjang, dan ikan hias.
Kebersihan Air Terjun Talon sangat baik, tidak ada pengaruh dari industri, jalan
ramai, pemukiman, sampah, vandalisme dan pencemaran lain. Keamanannya
cukup baik, tidak ada arus sungai yang berbahaya, tidak ada penebangan dan
perambahan, tidak ada pencurian dan tidak ada kepercayaan yang mengganggu.
Namun di lokasi ini sangat rawan pohon tumbang karena kondisi pohon yang
sudah tua. Air Terjun Talon juga sangat nyaman, udaranya sejuk, bebas bau yang
mengganggu, bebas kebisingan dan tidak ada lalu lintas umum yang mengganggu.
Umumnya masyarakat Desa Jernih sudah ada yang mengetahui keberadaan Air
Terjun Talon ini meskipun belum banyak yang datang mengunjunginya. Obyek
ini sama sekali belum dikelola padahal daya tarik Air Terjun Talon memiliki nilai
yang tertinggi dari obyek lain. Hal ini perlu diperhatikan untuk dijadikan sebagai
bahan pertimbangan dalam pengembangan wisata alam di TNBD.

Air Terjun Lubuk Jering


Air terjun ini berada di dalam kawasan TNBD secara geografis terletak pada
010 5628 LS dan 1020 4033 BT. Air terjun Lubuk Jering ini mempunyai tinggi
sekitar 20 m. Airnya berasal dari sungai kecil yang mengalir ke Sungai Telentam
dengan debit air 10 liter/detik (Tim Identifikasi Obyek Wisata Alam Taman
Nasional Bukit Duabelas dan Hutan Wisata Bukit Sari, 2002).

Flora yang

terdapat disekitar jalur menuju air terjun ini antara lain durian hutan, bulian dan
meranti.

Fauna yang dapat dijumpai ketika menuju air terjun ini antara lain

simpai, monyet ekor panjang, bajing, katak dan berbagai je nis burung.
Kebersihan Air Terjun Lubuk Jering sangat baik, tidak ada pengaruh dari
industri, jalan ramai, pemukiman, sampah, vandalisme dan pencemaran lain.
Keamanannya dinilai cukup baik meskipun rawan perambahan namun tidak ada
arus sungai yang berbaha ya, tidak ada pencurian dan tidak ada kepercayaan yang
mengganggu. Air Terjun Lubuk Jering juga sangat nyaman, udaranya sejuk,
bebas bau yang mengganggu, bebas kebisingan dan tidak ada lalu lintas umum
yang mengganggu.

Masyarakat Desa Lubuk Jering belum banyak yang

mengetahui keberadaan air terjun ini hanya sebagian kecil saja yang sudah
mengetahuinya. Pengelolaan dan pemanfaatan Air Terjun Lubuk Jering ini sama
sekali belum dilakukan.
A.1.2. Aksesibilitas
Aksesibilitas merupakan suatu indikasi yang me nyatakan mudah tidaknya
suatu obyek untuk dijangkau. Soekadijo (2000) menyatakan bahwa aksesibilitas
merupakan syarat yang penting sekali untuk obyek wisata. Tanpa dihubungkan
dengan jaringan transportasi tidak mungkin suatu obyek mendapat kunjungan
wisatawan. Obyek wisata merupakan akhir perjalanan wisata dan harus mudah
dicapai dan dengan sendirinya juga mudah ditemukan. Oleh karena itu harus
selalu ada jalan menuju obyek wisata. Jalan itu merupakan akses ke obyek dan
jalan akses itu harus berhubunga n dengan prasarana umum. Kondisi jalan umum
dan jalan akses menentukan aksesibilitas suatu obyek wisata.
Akses menuju TNBD dapat dicapai melalui jalan darat (jalan kabupaten)
yang kondisinya kurang baik dan berlubang. Jarak TNBD dari ibukota kabupaten
(Kabupaten Sarolangun) sekitar 56 km dapat ditempuh dengan kendaraan roda

empat/roda dua dalam waktu sekitar 3 jam sedangkan dari ibukota provinsi
(Jambi) TNBD berjarak sekitar 220 km dapat ditempuh dalam waktu 5 jam
(BKSDA Jambi, 2004). Aksesibilitas me nuju TNBD meliputi :
1. Akses Regional
Letak geografis kawasan TNBD yang berada di bagian tengah wilayah
Provinsi Jambi memberikan kemudahan pencapaian darat Lintas Tengah
Sumatera.

Jalur ini terhubung langsung dengan sejumlah pintu masuk

regional/internasional perhubungan udara dan laut yaitu :


Bagian Utara Sumatera : Banda Aceh, Medan, Padang, Pekanbaru
Bagian Selatan Sumatera : Bakauheni dan Bandar Lampung.
2. Akses Pencapaian Kawasan
Kawasan TNBD perwilayahan kabupaten dapat diakses dari masing-masing
ibukota kabupaten. Kawasan TNBD dapat dicapai melalui :
Wilayah Kabupaten Sarolangun
Sarolangun => 75 km => Bangko => 62 km => Air Hitam (Pematang
Kabau)
Sarolangun => 24 km => Pauh => 60 km => Air Hitam (Pematang
Kabau)
Wilayah Kabupaten Tebo
Muara Tebo => 47.5 km => Tebo Ilir =>35.5 km => Sungai Jernih
Wilayah Kabupaten Batanghari
Muara Bulian => 84 km => Pauh => 60 km => Air Hitam (Pematang
Kabau)

Dok. BKSDA Prov. Jambi

Gambar 5. Kondisi jalan kabupaten menuju TNBD

Penilaian komponen aksesibilitas meliputi beberapa unsur yaitu kondisi dan


jarak jalan darat, tipe jalan dan waktu tempuh dari pusat kota. Tipe jalan menuju
obyek memiliki nilai terbesar yaitu 30 untuk tipe jalan yang terbuat dari tanah.
Tipe jalan tersebut diberi nilai tertinggi karena obyek berada di dalam kawasan
taman nasional yang memang tidak dianjurkan untuk dilakukan pengerasan jalan.
Kondisi jalan yang bagus (pengerasan jalan) menuju obyek wisata di kawasan
taman nasional bukanlah merupakan sesuatu yang menyebabkan aksesibilitas
menjadi tinggi.

Hal yang terpenting adalah kemudahan dalam mencapai dan

menemukan obyek wisata yang dituju.

Pengunjung yang diharapkan datang

adalah pengunjung ekowisata yang tidak membutuhkan fasilitas yang lengkap


yang terpenting adalah ada jalan yang jelas menuju obyek.

Hasil penilaian

aksesibilitas disajikan pada Tabel 6.


Tabel 6. Penilaian kriteria aksesibilitas obyek di TNBD
Obyek Wisata Alam
No.

Unsur-unsur
Penilaian

Kondisi dan jarak


jalan darat:
<5 km
5-10 km
10-15 km
> 15 km
2.
Tipe jalan
3.
Waktu tempuh dari
pusat kota
Jumlah (nilaix bobot (5))

Gua
Kelelawar

Demplot
Tanaman
Obat

Aek
Manitik

Air
Terjun
Talon

Air
Terjun
Lubuk
Jering

20
25
15
5
30
10

60
25
15
5
30
10

60
25
15
5
30
10

40
25
15
5
30
10

20
25
15
5
30
10

525

725

725

625

525

1.

Berdasarkan hasil penilaian kriteria aksesibilitas masing-masing obyek


dapat dilihat bahwa obyek Demplot Tanaman Obat dan Aek Manitik memiliki
nilai terbesar yaitu 725 kemudian Air Terjun Talon sebesar 625 diikuti oleh Gua
Kelelawar dan Air Terjun Lubuk Jering.

Untuk mencapai lokasi Demplot

Tanaman Obat dapat ditempuh dari Pauh maupun dari Bangko menuju Desa
Pematang Kabau berhenti pada Km 43. Jarak demplot ini sekitar 500 m dari jalan
kabupaten Desa Pematang Kabau. Jalan menuju Demplot Tanaman Obat berupa
jalan tanah dengan lebar jalan sekitar 3 meter dan sangat licin jika dilalui pada
saat atau setelah hujan.

Jalur menuju lokasi ini sudah cukup jelas meskipun

belum terdapat papan petunjuk arah.

Untuk menuju lokasi demplot dapat

menggunakan kendaraan roda dua/empat kemudian dilanjutkan dengan berjalan


kaki sekitar 100 meter melewati jalan setapak.
Jalan menuju lokasi Aek Manitik dapat ditempuh dengan melewati jalur
menuju Demplot Tanaman Obat di lanjutkan dengan berjalan kaki selama 2 jam
ke arah Timur melewati Kelompok Tumenggung Tarip. Jalan menuju obyek ini
berupa jalan setapak dan melewati beberapa anak sungai.

Jalur menuju Aek

Manitik kurang begitu jelas sehingga dibutuhkan pemandu untuk dapat


menemukan lokasi ini.

Dok. BKSDA Prov. Jambi

Dok. BKSDA Prov. Jambi

(a)

(b)

Dok. BKSDA Prov. Jambi

(c)
Gambar 6. Kondisi jalan menuju obyek (a) Demplot Tanaman Obat, (b) Aek
Manitik dan (c) Air Terjun Lubuk Jering
Air Terjun Talon dapat ditempuh melalui Pauh atau Bangko menuju Desa
Jernih berhenti pada Km 25 di Desa Jernih (pasar jernih) kemudian menyusuri
jalan setapak ke arah Timur dengan menggunakan kendaraan roda dua sekitar 1.5
km dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 750 m atau dengan waktu tempuh
sekitar 20 menit. Kondisi jalan menuju obyek Air Terjun Talon akan menjadi
sulit ditempuh pada saat hujan karena tanahnya menjadi licin dan berbahaya untuk
dilewati.

Jalur yang ada sudah cukup jelas meskipun belum terdapat papan

petunjuk arah namun untuk menemukan letak air terjun masih diperlukan

pemandu yang dapat menunjukkan lokasinya karena jalan untuk menemukan letak
air terjun masih kurang jelas karena tertutup tumbuhan bawah.
Air Terjun Lubuk Jering ini dapat ditempuh dari Pauh dan Bangko menuju
Desa Lubuk Jering pada Km 33 dilanjutkan dengan kendaraan roda dua atau
berjalan kaki melewati jalan setapak ke arah Timur melewati perkebunan karet
milik penduduk Desa Lubuk Jering sejauh 3.5 km kemudian berjalan kaki naikturun bukit sejauh 1.5 km. Jalur menuju Air Terjun Lubuk Jering saat ini dalam
kondisi yang buruk karena sudah tidak dapat diketahui secara jelas jalur yang ada
akibat penutupan oleh tumbuhan bawah (semak belukar) dan belum ada papan
petunjuk arah sehingga obyek ini sulit ditemukan. Sama halnya dengan kondisi
jalur pada Air Terjun Lubuk Jering jalur menuju Gua Kelelawar juga tidak begitu
jelas akibat penutupan tumbuhan bawah. Untuk menemukan lokasi gua harus
menggunakan pemandu dari Orang Rimba karena pihak pengelola sendiri belum
mengetahui adanya obyek Gua Kelelawar ini.
A.1.3. Kondisi Lingkungan Sosial Ekonomi
Penilaian kriteria kondisi lingkungan sosial ekonomi diperlukan karena
sangat penting dalam mendukung potensi pasar.

Penilaian kriteria kondisi

lingkungan sosial ekonomi dinilai dalam radius 5 km dari batas kawasan intensive
use atau jarak terdekat dengan obyek. Unsur -unsur yang dinilai adalah tata ruang
wilayah obyek, status lahan, mata pencaharian penduduk dan tingkat pendidikan.
Penilaian kriteria kondisi lingkungan sosial ekonomi pada obyek wisata alam di
TNBD disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7. Penilaian kondisi lingkungan sosial ekonomi
Obyek Wisata Alam
No.

1.

Unsur-unsur
Penilaian

Tata ruang wilayah


obyek
2.
Status lahan
3.
Mata
pencaharian
penduduk
4.
Pendidikan
Jumlah (nilai x bobot (5))

Gua
Kelelawar

Demplot
Tanaman
Obat

Aek
Manitik

Air
Terjun
Talon

Air
Terjun
Lubuk
Jering
5

30
20

30
20

30
20

30
20

30
20

20
375

20
375

20
375

20
375

20
375

Hasil penilaian kondisi lingkungan sosial ekonomi masing-masing obyek


menunjukkan bahwa semua obyek menghasilkan nilai yang sama yaitu sebesar
375. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi lingkungan sosial ekonomi di sekitar
obyek wisata alam yang ada di TNBD relatif sama. Penataan ruang wilayah
obyek wisata alam di TNBD belum ada sama sekali. Status lahan semua obyek
tersebut adalah hutan negara yang dikelola oleh BKSDA Jambi.

Mata

pencaharian penduduk sekitar obyek sebagian besar adalah petani karet dengan
tingkat pendidikan sebagian besar adalah lulus Sekolah Dasar.
A.1.4. Akomodasi
Akomodasi merupakan salah satu faktor yang diperlukan dalam kegiatan
wisata khususnya dari pengunjung yang cukup jauh. Unsur -unsur yang dinilai
adalah jumlah penginapan dan jumlah kamar (radius 15 km dari obyek). Hasil
pengamatan di lapangan dan informasi dari petugas serta masyarakat sekitar
diketahui bahwa di sekitar TNBD belum terdapat penginapan yang disediakan
bagi pengunjung TNBD.

Pengunjung yang datang dari luar kota biasanya

menginap di penginapan/hotel yang ada di Kota Bangko keesokan harinya baru


melanjutkan perjalanan menuju TNBD. Biasanya pengunjung yang datang dari
jauh dipersilahkan beristirahat di pondok Satuan Kerja (Satker) TNBD di Desa
Pematang Kabau. Ada juga yang memilih mendirikan tenda di dalam kawasan
atau menginap dirumah penduduk.
A.1.5. Sarana-Prasarana Penunjang
Sarana-prasarana penunjang merupakan sarana-prasarana yang dapat
menunjang kemudahan dan kenyamanan pengunjung dalam kegiatan wisata.
Prasarana dan sarana penunjang yang dinilai adalah prasarana dan sarana
penunjang yang berada dalam radius 10 km dari obyek. Prasarana penunjang
yang dinilai meliputi kantor pos, jaringan telepon, Puskesmas, jaringan listrik dan
jaringan air minum. Sarana penunjang yang dinilai yaitu rumah makan, pusat
perbelanjaan/pasar, bank, toko souvenir/cinderamata dan angkutan umum.
Sarana-prasarana penunjang yang terdapat pada masing-masing obyek wisata
alam di TNBD dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Penilaian sarana -prasarana penunjang di TNBD


Obyek Wisata Alam

1.

Prasarana

20

20

20

30

Air
Terjun
Lubuk
Jering
20

2.

Sarana

30

30

30

30

10

150

150

150

180

90

Unsur-u nsur
Penilaian

No.

Jumlah (nilai x bobot (3))

Gua
Kelelawar

Demplot
Tanaman
Obat

Aek
Manitik

Air
Terjun
Talon

Berdasarkan Tabel 8 dapat diketahui obyek Air Terjun Talon memiliki nilai
tertinggi yaitu sebesar 180 kemudian Gua Kelelawar. Demplot Tanaman Obat
dan Aek Manitik memiliki nilai yang sama yaitu sebesar 150 selanjutnya Air
Terjun Lubuk Jering memiliki nilai terendah sebesar 90.
Desa Bukit Suban merupakan desa terdekat dengan Gua Kelelawar. Sarana
dan prasarana penunjang yang terdapat di desa tersebut adalah rumah makan,
pasar tradisional yang hanya buka pada hari Selasa dan Puskesmas pembantu.
Demplot Tanaman Obat dan Aek Manitik merupakan obyek wisata terdekat
dengan Desa Pematang Kabau.

Sarana-prasarana penunjang yang ada yaitu

warung makan, pasar tradisional yang hanya buka pada hari Jumat dan Puskesmas
pembantu.

Desa Pematang Kabau dan Desa Bukit Suban belum mempunyai

jaringan listrik. Menurut informasi dalam waktu dekat kedua desa tersebut akan
dilengkapi jaringan listrik.

Desa Jernih merupakan desa terdekat dengan Air

Terjun Talon. Sarana-prasarana penunjang yang terdapat di desa ini yaitu warung
makan, pasar tradisional yang hanya ada hari Selasa, Puskesmas pembantu dan
jaringan listrik. Air Terjun Lubuk Jering diberi nama sesuai dengan nama desa
terdekat dengan obyek ini yaitu Desa Lubuk Jering. Prasarana penunjang yang
ada di desa ini hanya jaringan listrik.
Angkutan umum menuju TNBD (Desa Pematang Kabau) hanya tersedia
satu unit dan waktunya pun hanya satu kali sehari. Jenis angkutan umum yang
bisa digunakan adalah bis atau travel atau kendaraan sewaan (carter) dari Jambi
menuju Bangko dan dari Bangko menuju TNBD (Desa Pematang Kabau). Ada
kendaraan berupa mobil pribadi milik Bapak Surung yang dijadikan angkutan
umum Bangko-Pematang Kabau namun hanya satu kali sehari yaitu sekitar jam 2
sampai jam 4 sore.

A.1.6. Ketersediaan Air Bersih


Air bersih merupakan faktor yang harus tersedia dalam pengembangan suatu
obyek baik untuk pengelolaan maupun pelayanan.

Unsur-unsur yang dinilai

meliputi volume/ketercukupan air, jarak sumber air terhadap obyek, kemudahan


air dialirkan ke obyek, kelayakan konsumsi dan kontinuitas.

Hasil penilaian

kriteria ketersediaan air bersih selengkapnya disajikan pada Tabel 9.


Tabel 9. Penilaian ketersediaan air bersih
No.

Unsur-unsur
Penilaian

Volume/ketercukupan
Jarak
sumber
air
terhadap lokasi obyek
3.
Dapat
tidaknya/kemudahan
air dialirkan ke obyek
4.
Kelayakan dikonsumsi
5.
Kontinuitas
Jumlah (ni lai x bobot (6))

Gua
Kelelawar

Obyek Wisata Alam


Demplot
Aek
Air
Tanaman
Manitik
Terjun
Obat
Talon

25
30

30
30

30
30

30
30

Air
Terjun
Lubuk
Jering
30
30

20

25

30

30

30

25
30
780

25
30
840

25
30
870

25
30
870

25
30
870

1.
2.

Kawasan TNBD merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan tropis dataran


rendah dan merupakan daerah tangkapan air penting bagi DAS Batanghari.
Kawasan

TNBD

merupakan

kawasan

hulu

dari

sejumlah

Volume/ketercukupan air pada obyek wisata di TNBD dinilai banyak.

sungai.
Jarak

sumber air terhadap lokasi obyek sangat dekat (<1 km) dan sangat mudah untuk
dialirkan.

Untuk kelayakan konsumsi umumnya sumber air di TNBD dapat

dikonsumsi namun dibutuhkan perlakuan sederhana yait u harus dimasak terlebih


dahulu dan selalu tersedia sepanjang tahun meskipun saat kemarau.

Dok

Dok. BKSDA Prov. Jambi

Gambar 7. Sungai sebagai salah satu sumber air bersih di TNBD

A. 2. Rekapitulasi Penilaian ODTWA


Penilaian ODTWA di dalam kawasan TNBD dilakukan pada obyek Gua
Kelelawar, Demplot Tanaman Obat, Aek Manitik, Air Terjun Talon dan Air
Terjun Lubuk Jering. Penilaian yang dilakukan meliputi enam kriteria yaitu daya
tarik, aksesibilitas, kondisi lingkungan sosial ekonomi, akomodasi, saranaprasarana penunjang dan ketersediaan air bersih. Hasil penilaian keenam kriteria
tersebut dapat direkapitulasi dengan hasil penilaiannya tersaji dalam Tabel 10.
Tabel 10. Rekapitulasi penilaian ODTWA
No.

Kriteria penilaian

Gua
Kelelawar

Demplot
Tanaman
Obat

Aek
Manitik

Air
Terjun
Talon

1.
2.
3.

Daya Tarik
Aksesibilitas
Kondisi Lingkungan Sosial
Ekonomi
Akomodasi
Sarana-Prasarana Penunjang
Ketersediaan Air Bersih
Jumlah

930
525
375

960
725
375

960
725
375

990
625
375

Air
Terjun
Lubuk
Jering
930
525
375

150
780
2760

150
840
3050

150
870
3080

180
870
3040

90
870
2790

4.
5.
6.

Berdasarkan Tabel 10 diketahui bahwa obyek Aek Manitik memiliki nilai


tertinggi yaitu 3080 kemudian Demplot Tanaman Obat (3050), Air Terjun Talon
(3040), Air Terjun Lubuk Jering (2790) dan Gua Kelelawar (2760). Dari hasil
tersebut dapat ditentukan obyek prioritas untuk dikembangkan sebagai obyek
wisata alam di TNBD yaitu Demplot Tanaman Obat, Aek Manitik dan Air Terjun
Talon.

Namun masih diperlukan pembenahan terhadap obyek-obyek tersebut.

Ketiga obyek prioritas inilah yang kemudian disusun perencanaan wisata


alamnya.

B. Obyek dan Daya Tarik Wisata Budaya


Keberadaan Suku Anak Dalam atau yang lebih senang disebut Orang Rimba
merupakan ciri khas yang dimiliki TNBD yang membedakan dengan taman
nasional yang lain. Keberadaan TNBD berawal dari gagasan Pemerintah Daerah
Kabupaten Sarolangun Bangko untuk menjadikan kawasan Hutan Bukit Duabelas
sebagai hutan lindung dan cagar biosfer yang berfungsi sebagai Cagar Budaya
Komunitas Orang Rimba.

Mereka sangat bergantung pada keberadaan

sumberdaya alam di TNBD sebagai sumber kehidupan dan penghidupannya.

Sumberdaya alam yang terdapat di TNBD dimanfaatkan untuk memenuhi


kebutuhan akan pangan, pengobatan tradisional dan upacara/ritual adat.
Orang Rimba berprinsip ado rimbo ado bungo, ado bungo ado dewa, hopi
ado rimbo hopi ado pulo perkawinan, habiy lah Orang Rimbo, artinya ada rimba
ada bunga, ada bunga ada dewa, tidak ada rimba tidak ada pula perkawina n,
habislah Orang Rimba. Maksudnya adalah dalam adat istiadat perkawinan Orang
Rimba memerlukan beberapa jenis bunga yang terdapat di rimba.

Bunga ini

digunakan untuk memanggil para dewa. Apabila bunga sudah tidak ada lagi di
dalam rimba maka dewa tidak akan datang dan perkawinan tidak dapat terlaksana
sehingga Orang Rimba tidak dapat lagi mempunyai keturunan dan lama-kelamaan
akan habis. Kelompok Orang Rimba yang selama ini menjadi tujuan wisata di
TNBD adalah Kelompok Tumenggung Tarip di Kecamatan Air Hitam.
Tumenggung

Tarip

merupakan

Orang

Rimba

contoh/panutan bagi Orang Rimba yang lain.

yang

dapat

dijadikan

Tumenggung Tarip pernah

mendapat KEHATI award dalam kategori perintis lingkungan pada tahun 2000.

Dok. BKSDA Prov. Jambi

Dok. BKSDA Prov. Jambi

Gambar 8. Kelompok Tumenggung Tarip di Air Hitam sebagai tujuan wisata


budaya di TNBD
Keunikan dan kekhasan adat istiadat/kebudayaan yang dimiliki Orang
Rimba secara turun-temurun merupakan salah satu daya tarik wisata di TNBD.
Hasil kebudayaan dan adat istiadat Orang Rimba yang dapat dinikmati wisatawan
antara lain keseharian Orang Rimba memanfaatkan hasil hutan secara tradisional
seperti memancing ikan (menggunakan tuba akar), berburu (menggunakan
tombak), memanen rotan jernang, memanen madu pada pohon sialang (pohon
yang terdapat lebah madu) dengan berbagai ritual sebelum memanjat pohon dan

penggunaan lantak (patok dari kayu) untuk memanjat pohon sialang tersebut.
Hal ini sangat menarik untuk dilihat dan diketahui.

Dok. BKSDA Prov. Jambi

Dok. BKSDA Prov. Jambi

(a)

(b)

Dok. BKSDA Prov. Jambi

(c)
Gambar

9. Keseharian Orang Rimba : (a) menangkap ikan dengan tombak, (b)


memanen Rotan Manau, (c) menangkap ikan dengan tuba akar.

Adat istiadat/kebudayaan lain seperti asal-usul, hukum adat, struktur


pemerintahan dan sistem kepemimpinan, kehidupan ekonomi, sosial dan budaya,
kepercayaan, mitos-mitos, pranata sosial, dan budaya melangun Orang Rimba
juga dapat disaksikan pengunjung secara langsung maupun melalui penjelasan
dari Orang Rimba.

Adat perkawinan (pertunangan, upacara perkawinan,

pernikahan), adat kelahiran (pantangan dan larangan, upacara Sirih Badan,


melahirkan dan pengaturan kelahiran) serta adat kematian (upacara Besale dan
pemakaman jenasah) tidak dapat dilihat secara langsung. Menurut kepercayaan
Orang Rimba upacara/ritual perkawinan, kelahiran dan kematian tidak boleh
disaksikan oleh orang luar (selain Orang Rimba) karena dapat menyebabkan para
dewa tidak mau datang sehingga upacara tidak dapat dilangsungkan. Pengunjung
dapat mengetahuinya melalui penjelasan dari Tumenggung atau Tengganai.
Orang Rimba juga memiliki keunikan berbahasa bahasa rimba yang berbeda
dengan bahasa Indonesia bahkan bahasa daerah setempat. Namun ada beberapa
Orang Rimba seperti Tumenggung Tarip yang sudah bisa dan mengerti bahasa

Indonesia. Untuk memudahkan pengunjung dalam berkomunikasi dengan Orang


Rimba diperlukan pendamping/fasilitator. Pendamping tersebut dapat berasal dari
pengelola TNBD (petugas) atau dari LSM KKI Warsi yang memang selama ini
berinteraksi dengan Orang Rimba dalam bidang pendidikan dan pendampingan.
Pengunjung juga dapat belajar kepada induk (sebutan bagi ibu-ibu Orang
Rimba) mengenai cara membuat hasil kerajinan Orang Rimba yaitu ambung
(wadah terbuat dari rotan biasanya digunakan sebagai tempat hasil memancing
ikan).

Hasil kerajinan tangan lainnya yaitu tikar pandan dan kalung/gelang

sebalik sumpah (terbuat dari biji sebalik sumpah yang dipercaya dapat menangkal
sumpah serapah orang lain). Hasil kerajinan ini belum dipasarkan hanya untuk
keperluan sehari-hari.

Pengunjung bisa memesan dan membeli kepada Orang

Rimba namun harus dipesan jauh-jauh hari (tidak bisa langsung).

Dok. KKI- Warsi

(a)
(b)
Gambar 10. (a) Ambung, salah satu hasil kerajinan tangan Orang Rimba dan (b)
penjelasan oleh Tumenggung Tarip mengenai adat istiadat Orang
Rimba.
C. Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam di Sekitar Kawasan TNBD
Selain obyek dan daya tarik wisata alam yang ada di dalam kawasan TNBD
terdapat pula potensi wisata alam di luar kawasan TNBD yang dapat menunjang
potensi wisata TNBD. Potensi wisata tersebut belum dikelola dan dimanfaatkan
secara optimal oleh masyarakat desa sekitar TNBD. Potensi tersebut antara la in :
1. Sumber Air Panas Desa Baru
Letak geografis Sumber Air Panas Desa Baru adalah 0200214 LS dan
10204508 BT. Obyek ini dapat ditempuh dari arah Pauh menuju Desa Baru
berhenti pada Km 23. Sumber air panas ini berada di Desa Baru sekitar 300 m
dari ja lan desa. Kondisi jalan berupa jalan setapak dari tanah selebar 1 m. Jalan

menuju sumber air panas ini dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua
dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 75 m.
Air panas ini berbentuk kolam-kolam kecil yang muncul di tiga tempat
dengan suhu air sekitar 32 0C. Kondisinya sangat memprihatinkan karena sama
sekali tidak dikelola.

Keadaan sekitarnya merupakan tanah berawa dan

bergambut tebal dengan air berwarna hitam sehingga sulit diketahui seberapa
besar sumber air panas tersebut. Sumber air panas ini terletak di bawah pohon
beringin yang besar. Airnya tidak mengalir dan selalu ada (tidak pernah kering)
meskipun musim kemarau. Flora yang terdapat di lokasi ini antara lain beringin,
pulai, harendong raja, dan anggrek hutan.

(a)
(b)
Gambar 11. (a) Sumber Air Panas Desa Baru yang terletak dibawah pohon
beringin dan (b) pohon beringin
2. Sumber Air Panas Bukit Suban
Air panas ini terletak di Desa Bukit Suban. Secara geografis terletak pada
posisi 010 5704 LS dan 10203404 BT. Dapat ditempuh dari Pauh menuju
Bukit Suban tepatnya pada Km 53, dari jalan raya dapat ditempuh dengan
kendaraan roda dua atau berjalan kaki sejauh 300 m.

Sumber air panas ini

berbentuk danau kecil seluas kurang lebih 30 m2. Di tengah-tengah danau keluar
gelembung-gelembung air panas. Suhu air panas tersebut sekitar 390 C dan tidak
mengalir. Di lokasi ini sama sekali belum ada fasilitas. Disekitar lokasi sebagian
berawa dengan limpahan air panas tidak berbentuk sungai melainkan menuju ke
segala arah sekitarnya. Flora yang terdapat disekitar sumber air panas antara lain
bambu kuning dan semak belukar. Fauna yang dapat dijumpai yaitu monyet ekor
panjang, burung gagak, bajing, dan kutilang.
Menurut

kepercayaan

masyarakat

sumber

air

panas

ini

dapat

menyembuhkan berbagai penyakit seperti penyakit kulit, lumpuh, mata rabun dan

lain-lain.

Sumber air panas ini pertama kali ditemukan oleh Orang Rimba.

Kepercayaan masyarakat Desa Bukit Suban (orang dusun) apabila terkena


penyakit maka harus segera mandi/berendam di air panas tersebut sebelum
matahari muncul/terbit. Dahulu banyak orang yang datang dari berbagai daerah
seperti Medan, Sumatera Barat, Sumatera Selatan yang datang ke lokasi ini untuk
berendam dan mengambil air tersebut untuk obat.

Namun sekitar tahun

1986/1987 sumber air panas ini sempat menjadi dingin selama setengah bulan.
Menurut penduduk desa hal ini disebabkan karena banyak yang menyalahgunakan
sumber air panas ini. Adanya beberapa oknum dukun yang mengaku dapat
menyembuhkan penyakit padahal penyembuhan penyakit tersebut adalah dari
sumber air panas. Kejadian tersebut menyebabkan pengunjung menjadi semakin
berkurang. Dahulu pernah ada pengunjung dari Sumatera Barat yang lumpuh
kemudian ia berobat ke air panas Desa Bukit Suban. Mengingat kondisi fisiknya
yang sudah tua dan pada waktu itu banyak sekali pengunjung yang berendam di
kolam tersebut akhirnya pengunjung itu meninggal dunia di lokasi sumber air
panas. Di dekat jalan besar setelah masuk ke lokasi sumber air panas Bukit Suban
( 100 m dari danau) terdapat makam Orang Rimba bernama Tumenggung
Besiring. Beliau adalah Orang Rimba yang sudah memeluk agama Islam dan
berganti nama menjadi Muhammad Ali.

(a)
(b)
Gambar 12. (a) Sumber Air Panas Bukit Suban dan (b) jalan menuju sumber air
panas
3. Dam Sungai Jernih Air Meruap
Kawasan ini secara geografis terletak pada 0105955 LS dan 1020 4238
BT. Perjalanan menuju lokasi ini dapat ditempuh dari Pauh menuju Desa Jernih
Km 25 dilanjutkan dengan berjalan kaki ke arah timur (kanan) menyusuri saluran
irigasi sepanjang 300 m.

Dam ini dibangun sekitar tahun 1975 dengan

kedalaman 4 m. Kawasan ini dahulu dikelola oleh Dinas Pekerjaan Umum


namun sekarang tidak ada pengelolanya. Air Dam tersebut berasal dari Sungai
Jernih. Dinamakan Sungai Jernih karena airnya sangat jernih tidak berlumpur
meskipun saat hujan dan tidak pernah kering walaupun kemarau. Air di sungai
sangat jernih sampai ke dasar sungainya sehingga ikan-ikan yang hidup di sungai
juga kelihatan.

Sungai ini dimanfaatkan oleh masyarakat desa untuk mandi,

mencuci dan keperluan lainnya.

Di dekat Dam tersebut terdapat danau yang

mengeluarkan air yang bersuara (meruap). Sumber air dengan arus deras keluar
dari dasar Dam yang kedalaman se kitar 8 m. Air meruap artinya air yang keluar
dari dasar sungai dengan debit yang tinggi sehingga terdengar sampai kejauhan.
Kenyataan dilapangan lokasi tersebut terletak di tengah bendungan dan sudah
tidak diketahui dimana sumbernya karena ditumbuhi rumput yang tebal dan tidak
pernah dibersihkan.
Menurut Kepala Desa Jernih bahwa danau ini angker dan di dalam danau ini
terdapat buaya putih yang tidak memiliki ekor tapi buaya ini tidak mengganggu.
Selain itu juga terdapat ular dan ikan Toman yang jahat.

Dahulu ada salah

seorang warga yang bermimpi melihat ular berkepala manusia menyerupai putri
yang sangat cantik. Di dalam danau ini juga terdapat banyak sekali batu untuk
cincin yang sudah dapat langsung digunakan karena telah digosok oleh air yang
ada di danau. Cara mengambilnya adalah dengan memasukkan keranjang ke
dalam sungai.

Dok. BKSDA Prov. Jambi

Dok. BKSDA Prov. Jambi

(a)
(b)
Gambar 13. (a) Dam Sungai Jernih dan (b) Air Meruap

D. Pengunjung Taman Nasional Bukit Duabelas


D.1. Keadaan Pengunjung
Pendataan jumlah pengunjung di TNBD dilakukan dengan melihat
SIMAKSI (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi) yang ada. Data mengenai
jumlah pengunjung TNBD tahun 2005 selengkapnya disajikan pada Tabel 11.
Tabel 11. Pengunjung Taman Nasional Bukit Duabelas Tahun 2005
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Bulan
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Jumlah

Penelitian
DN
LN
5
5
7
4
1
4
3
3
1
25
8

Sumber : BKSDA Jambi, 2005


Ket : DN = dalam negeri/domestik

Widyawisata
DN
LN
1
48
49
-

Rekreasi
DN
LN
35
35
-

Jumlah
DN
LN
5
5
7
4
1
4
3
3
36
49
109
8

LN = luar negeri/mancanegara

Berdasarkan data jumlah pengunjung tahun 2005 (Febr uari-September)


dapat diketahui bahwa pengunjung TNBD berasal dari dalam dan luar negeri.
Jumlah pengunjung yang berasal dari dalam negeri relatif lebih banyak
dibandingkan pengunjung luar negeri. Jumlah pengunjung terbanyak adalah pada
bulan September dan bulan Agustus. Pengunjung yang datang ke TNBD adalah
pengunjung widyawisata, pengunjung rekreasi dan peneliti. Promosi mengenai
TNBD yang telah dilakukan pihak pengelola antara lain melalui leaflet, poster dan
pameran-pameran pembangunan di Kabupaten Sarolangun. Kegiatan ini perlu
lebih ditingkatkan misalnya mengadakan pameran di tingkat provinsi, membuat
video-video mengenai TNBD dan penyebaran leaflet, booklet dan brosur yang
lebih luas dan dalam bentuk yang lebih menarik.

Dok. KKI-Warsi

(a)
Dok. BKSDA Prov. Jambi

(b)
Gambar 14. Kegiatan yang dilakukan pengunjung TNBD : (a) pengkajian
kebudayaan Orang Rimba dan (b) outbond.
D.2. Karakteristik Pengunjung
Karekteristik pengunjung sangat penting diketahui untuk menentukan
bentuk dan kegiatan wisata yang sesuai dengan karakter pengunjung yang datang
dan diharapkan datang.

Karakter pengunjung diketahui dari hasil penyebaran

kuesioner. Karakter pengunjung yang perlu diketahui tersebut antara lain umur,
jenis kelamin, asal, pendidikan terakhir, pekerjaan dan status perkawinan.
Karakteristik pengunjung TNBD dari hasil penyebaran kuesioner secara lengkap
tersaji pada Tabel 12.
Tabel 12. Karakteristik pengunjung TNBD
No.
1.

2.

3.

4.

5.

Karakteristik
Umur (tahun) :
17-25
26-35
36-45
>45
Jenis kelamin :
Perempuan
Laki-laki
Asal :
Sarolangun
Jambi
Pendidikan terakhir :
SD
SMP
SMA
Diploma/Sarjana
Pekerjaan :
Swasta

Persentase (%)
50
20
10
20
20
80
90
10
30
40
30
0
20

Lanjutan Tabel 12.


No.
Karakteristik
Tani
PNS
Pelajar
6.
Status perkawinan :
Menikah
Belum menikah

Persentase (%)
30
30
20
50
50

Hasil kuesioner menunjukkan bahwa karakter pengunjung TNBD umumnya


berumur antara 17-32 tahun, berjenis kelamin laki-laki dan berasal dari daerah
sekitar TNBD (Kabupaten Sarolangun). Tingkat pendidikan sebagian besar SMP
dengan pekerjaan sebagai besar adalah tani dan PNS dan berstatus sudah menikah
(50 %).
D.3. Motif, Aktivitas dan Persepsi Pengunjung
Motif wisata atau disebut juga motif perjalanan adalah hasrat pembawaan
dalam bentuknya yang konkret yang berupa keperluan atau dorongan atau alasan
tertentu. Sudah tentu motif perjalanan itu berbeda menurut tingkat kebudayaan
orang yang mengadakan perjalanan.

Makin tinggi kebudayaannya makin

beranekaragam pula motif perjalananya (Soekadijo, 2000). Motif, aktivitas dan


persepsi pengunjung TNBD dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13. Motif, aktivitas dan persepsi pengunjung TNBD
No.
1.

2.

3.

4.

5.

Parameter
Motif
Sumber informasi mengenai TNBD :
Sendi ri
Teman
Keluarga
Cerita orang
Media massa/elektronik
Frekuensi kunjungan :
Pertama kali
Kedua kali
Ketiga kali
> tiga kali
Dengan siapa :
Sendiri
Teman
Keluarga
Lamanya berada di dalam kawasan :
Satu hari
Dua hari
> dua hari
Kapan biasa berkunjung :
Hari libur
Hari biasa

Persentase (%)

30
60
10
0
0
40
10
0
50
0
100
0
20
30
50
50
50

Lanjutan Tabel 13.


No.
Parameter
6.
Tujuan datang :
Menikmati pemandangan
Suasana tenang dan nyaman
Pendidikan/penelitian
Menikmati keunikan flora/fauna
Menikmati kebudayaan
Mengisi waktu luang
Lain-lain
Aktivitas
1.
Kendaraan :
Pribadi
Umum
Sewaan
Lainnya
2.
Kegiatan yang disukai :
Melihat pemandangan alam
Melihat/mengamati flora-fauna
Menjelajah
Berkemah
Penelitian
Fotografi
Lainnya
Persepsi
1.
Obyek unggulan :
Sumber air panas Bukit Suban
Air terjun Lubuk Jering
Air terjun Talon
Aek menitik
Air Meruap
Sumber air panas Desa Baru
Lainnya (SAD)
2.
Hambatan :
Ya
Tidak
3.
Kondisi sarana-prasarana :
Baik
Cukup baik
Kurang baik
4.
Sistem pengelolaan :
Baik
Cukup baik
Kurang baik
5.
Kesan :
Menyenangkan
Tidak menyenangkan
6.
Keinginan mengunjungi kembali :
Ya
Tidak

Persentase (%)
40
10
10
20
0
40
0

50
20
0
30
50
10
30
0
10
0
0

30
20
10
10
10
0
20
10
90
10
30
60
20
60
20
100
0
100
0

Motif pengunjung TNBD sebagian besar mengetahui informasi mengenai


TNBD dari teman. Pengunjung umumnya sudah lebih dari tiga kali mengunjungi
kawasan dan datang bersama teman. Sebagian besar pengunjung berada dalam
kawasan selama lebih dari dua hari. Mereka mengunjungi kawasan pada hari

libur dan hari biasa. Tujuan mereka mengunjungi kawasan bermacam-macam ada
yang sekedar menikmati pemandangan dan mengisi waktu luang.
Pengunjung TNBD umumnya datang dengan menggunakan kendaraan
pribadi. Kegiatan yang banyak disukai yaitu menikmati pemandangan alam dan
menjelajah.

Persepsi pengunjung terhadap TNBD bahwa obyek wisata yang

menjadi unggulan TNBD adalah Sumber Air Panas Bukit Suban. Pengunjung
sebagian besar menyatakan tidak mengalami hambatan untuk mengunjungi
kawasan meskipun kondisi jalan yang masih buruk terutama saat musim hujan.
Kondisi sarana dan prasarana dinilai masih kurang Baik.
pengelolaan dinilai cukup baik oleh pengunjung (60%).

Untuk sistem

Semua pengunjung

merasa senang telah berkunjung ke TNBD meskipun sa rana-prasarana masih


sangat kurang namun dengan udara yang sejuk, pemandangan yang indah, serta
flora dan faunanya mereka merasa sangat senang dan berminat untuk berkunjung
kembali ke TNBD.

D.4. Harapan Pengunjung


Secara umum pengunjung TNBD menginginkan adanya penambahan dan
perbaikan fasilitas dan sarana-prasarana penunjang seperti jalan, transportasi,
jaringan listrik dan peningkatan pelayanan pengunjung.

Mereka juga

mengharapkan pengelolaan wisata dilakukan secara optimal sehingga potensi


wisata di TNBD dapat menjadi obyek wisata unggulan.

E. Masyarakat Desa Sekitar TNBD


Kawasan TNBD dikelilingi oleh desa-desa interaksi TNBD yaitu desa-desa
di sekitar dan berbatasan langsung dengan kawasan TNBD sehingga
masyarakatnya berinteraksi dengan kawasan TNBD baik secara langsung maupun
tidak langsung. Interaksi tersebut terutama dilihat dari segi penggunaan lahan dan
pemanfaatan sumberdaya hutan baik di sekitar maupun di dalam kawasan TNBD
(BKSDA Jambi, 2004).

Berkaitan dengan kegiatan wisata di TNBD terdapat

enam desa interaksi yang semuanya berada di wilayah bagian selatan TNBD
tepatnya di Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun. Desa-desa tersebut

yaitu Desa Bukit Suban, Desa Pematang Kabau, Desa Lubuk Jering, Desa Jernih,
Desa Semurung dan Desa Baru.
Desa-desa tersebut memiliki kebudayaan berupa tari-tarian tradisional.
Pertunjukan tari-tarian tersebut kini sudah jarang sekali diselenggarakan. Taritarian tersebut meliputi tari tauh, tari hitam manis, tari dana, tari cerai kasih, tari
kain, tari payung, tari piring 12, pencak silat, lukah gilo dan kesenian biduk sayak
(seni berbalas pantun, biasanya dilakukan oleh muda -mudi).

Selain tari-tarian

tradisional masyarakat desa juga memiliki kerajinan tangan antara lain nyiru
(tempat untuk menampi beras), tikar pandan, ambung, bakul nasi, kursi rotan,
topi, tudung nasi, sangkek (keranjang), dan atap daun pandan. Hasil kerajinan
tersebut hanya dimanfaatkan untuk keperluan sendiri (belum diperjual belikan).
Pengetahuan masyarakat desa mengenai wisata di TNBD dinilai masih
kurang. Umumnya masyarakat hanya mengetahui potensi wisata yang ada namun
masyarakat tidak mengetahui rencana pengelola terhadap potensi tersebut.
Pelibatan masyarakat desa dan Orang Rimba dalam kegiatan wisata yaitu sebagai
peserta pelatihan pemanduan wisata alam yang diselenggarakan oleh pengelola
dan dilibatkan sebagai pemandu yang menunjukkan kepada pengelola dan
pengunjung mengenai lokasi obyek yang mereka ketahui.

Hasil wawancara

dengan tokoh masyarakat menyebutkan bahwa masyarakat desa sangat


menginginkan adanya pengelolaan wisata di TNBD dan tentunya dengan
melibatkan mereka dalam kegiatan tersebut.

Pelibatan tersebut dapat berupa

pengelolaan secara kolaboratif bersama masyarakat dalam kegiatan wisata di


TNBD.

F. Pengelolaan dan Kebijakan


F.1. Pengelolaan
Sejak pembentukannya tahun 2000 sampai saat ini pengelolaan TNBD
masih dilakukan oleh Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Provinsi
Jambi.

Pengelolaan TNBD dilaksanakan oleh Satuan Kerja (Satker) yang

bertanggung jawab langsung kepada Kepala BKSDA (dalam struktur organisasi


tidak dijelaskan). Satker ini dikelola oleh seorang Kepala Satker yang dibantu
oleh empat orang PEH (Pengendali Ekosistem Hutan) dan empat orang Polhut

(Polisi Hutan). Petugas tersebut secara bergiliran melaksanakan piket (per 15 hari
sebanyak dua orang PEH dan dua orang Polhut) yang bertugas mengawasi TNBD.
Komposisi dan jumlah pegawai BKSDA Jambi masih belum mencukupi
untuk mengelola beberapa kawasan konservasi yang ada di Provinsi Jambi begitu
pula halnya dengan kawasan TNBD. Jumlah petugas yang sedikit dan bertugas
mengawasi sebuah taman nasional yang mempunyai luas wilayah sebesar 60.500
Ha dirasa tidak efektif.

Bagian khusus yang menangani kepariwisataan di

kawasan TNBD juga belum ada. Hal ini merupakan salah satu kendala yang
dihadapi pengelola. Untuk itu perlu adanya penambahan dan peningkatan kualitas
dan kuantitas pegawai sehingga pengelolaan dapat menjadi lebih optimal.
Pelayanan pengunjung yang ada berupa kegiatan pemanduan kepada pengunjung.
Kerjasama dan kegiatan yang pernah dilakukan pengelola dalam kegiatan wisata
di TNBD antara lain :
1. Ekspedisi Biomedika oleh Tim Gabungan DepkesIPBUILIPI di kawasan
ex Cagar Biosfer tahun 1998.
2. Eksplorasi flora oleh Balai Pengembangan Kebun Raya LIPI Bogor tahun
2003.
3. Eksplorasi Rotan Manau (Calamus manan Miq) oleh Balai Pengembangan
Kebun Raya LIPI Bogor di kawasan ex Cagar Biosfer Kecamatan Pauh
tahun 2003.
4. Inventarisasi anggrek hutan oleh BKSDA Provinsi Jambi tahun 2003.
5. Kegiatan identifikasi obyek wisata alam pada tahun 2002.
6. Kegiatan pelatihan pemandu wisata alam bagi masyarakat desa sekitar
kawasan TNBD Kabupaten Sarolangun pada tahun 2005 bekerjasama
dengan LSM KKI Warsi dan Dinas Pariwisata, Olah Raga dan Seni Budaya
Kabupaten Sarolangun.

Dok. BKSDA Prov. Jambi

Dok. BKSDA Prov. Jambi

Gambar 15. Kegiatan yang pernah dilakukan pengelola berkaitan dengan wisata
di TNBD

Sarana merupakan fasilitas yang secara langsung dapat menunjang kegiatan


wisata sedangkan prasarana merupakan penunjang sarana atau fasilitas yang
secara tidak langsung menunjang kegiatan wisata. Sarana -prasarana yang terdapat
di TNBD selengkapnya disajikan pada Tabel 14.
Tabel 14. Sarana dan prasarana yang ada di TNBD saat ini
No.

Sarana dan Prasarana

Jumlah (Unit)

Lokasi

1.

Kantor Seksi Wilayah

Bangko dan Muara Bulian

2.

Pos Jaga

Bukit Suban dan Sungai Jernih

3.
4.

Pondok Kerja
Pusat Informasi

1
1

Pematang Kabau
Pematang Kabau

5.

Gerbang

Pematang Kabau

6.

Shelter

Pematang Kabau

Sumber : BKSDA Jambi (2004) .

Sarana dan prasarana yang terdapat di TNBD dinilai masih sangat kurang
sehingga perlu adanya penambahan fasilitas yang mendukung kegiatan wisata dan
perbaikan fasilitas yang sudah ada.

Sarana-prasarana wisata yang terdapat di

TNBD antara lain shelter sebanyak satu buah yang terletak pada jalur menuju
Demplot Tanaman Obat dengan kondisi baik. Jalan trail yang belum terdapat
petunjuk arah menuju obyek sehingga agak menyulitkan pengunjung. Papan
informasi/pengumuman juga masih kurang hanya berupa papan larangan dan
himbauan untuk tidak berburu dan menebang pohon dengan kondisi yang tidak
terlalu baik dan ada yang roboh bahkan sudah tidak dapat dibaca lagi.

(a)
(b)
Gambar 16. Sarana -prasarana : (a) shelter, (b) pondok kerja (Satker) di Desa
Pematang Kabau
F.2. Kebijakan Wisata
Landasan hukum yang digunakan dalam pengelolaan wisata alam di TNBD
antara lain :

a. Undang-Undang No. 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok


Kehutanan.
b. Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam
Hayati dan Ekosistemnya.
c. Undang-Undang No. 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan.
d. Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan
Hidup.
e. Undang-Undang No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang.
f. Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1994 tentang Pengusahaan Pariwisata
Alam di Zona Pemanfaatan Taman Nasional, Taman Wisata Alam dan
Taman Hutan Raya.
g. Peraturan Pemerintah No. 5 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan.
h. Peraturan Pemerintah No. 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan
Kawasan Pelestarian Alam
i. Keputusan Presiden No. 111 Tahun 1999 tentang Pembinaan Kesejahteraan
Sosial Komunitas Adat Terpencil.
j. Keputusan Direktur Jenderal PHPA No. 129/Kpts-VI/1996 tentang Pola
Pengelolaan Kawasan Suaka Alam, Kawasan Pelestarian Alam, taman Buru
dan Hutan Lindung.
Pokok-pokok Kebijakan Pembangunan Kehutanan dan Konservasi Alam
Propinsi Jambi meliputi :
a. Pemantapan keberadaan kawasan hutan yang lestari sesuai dengan
fungsinya.
b. Pemulihan kondisi hutan, peningkatan manfaat sosial hutan, peningkatan
upaya konservasi sumberdaya hutan dan optimasi manfaat hasil hutan.
Menuju perwujudan visi dan misi yang diemban dengan berpedoman pada
kebijakan pengelolaan taman nasional dan memperhatikan peran spesifik yang
diemban serta tekanan dan ancaman yang dihadapi, pokok-pokok kebijakan
pengelolaan TNBD meliputi :
a. Memantapkan eksistensi kawasan sesuai dengan fungsinya.

b. Mengintegrasi kebijakan pengembangan kawasan kedalam kebijakan


pembangunan daerah.
c. Memperkuat sistem pe ngelolaan kawasan.
d. Memulihkan keutuhan habitus kawasan.
e. Meningkatkan manfaat sosial dan ekonomi kawasan.
Perencanaan obyek dan daya tarik wisata (BKSDA Jambi, 2004) yang akan
dikembangkan di TNBD antara lain :
a. Wisata budaya Orang Rimba.
b. Merancang dan mengembangkan areal budidaya biota obat hutan dan
tanaman hias.
c. Mengembangkan penangkaran satwa.
d. Mengembangkan sarana, prasarana dan program interpretasi pariwisata
untuk memicu pertumbuhan kunjungan wisatawan.
e. Mengembangkan laboratorium alam terbuka.
f. Menyelenggarakan promosi pariwisata Kabupaten Sarolangun.
g. Melakukan pengkajian teknis pengembangan Pusat Penyelamatan Satwa
Endemik Sumatera.
Berdasarkan perencanaan tersebut terlihat bahwa obyek dan daya tarik
wisata yang dinilai belum secara jelas disusun perenc anaan wisata alamnya.
Begitu pula dalam rencana pengembangan pariwisata Kabupaten Sarolangun
berdasarkan RIPPDA Kabupaten Sarolangun tahun 2004 bahwa obyek wisata
yang berada di kawasan TNBD yang termasuk dalam rencana pengembangan
pariwisata Kabupaten Sarolangun adalah wisata budaya Suku Anak Dalam/Orang
Rimba.

G. Alternatif Perencanaan
G.1. Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam
Pada dasarnya perecanaan wisata dimaksudkan untuk dapat meningkatkan
keuntungan ekonomi. Namun di dalam perencanaan ini harus diupayakan juga
agar tidak menyebabkan terjadinya perubahan sosial dan kerusakan lingkungan.
Mempertahankan kualitas lingkungan pada obyek wisata alam mutlak diperlukan
sebab daya tarik utamanya justru terletak pada lingkungan.

Hasil penilaian

kriteria ODTWA menghasilkan tiga obyek yang menjadi prioritas pengembangan


wisata alam di TNBD yaitu Demplot Tanaman Obat, Aek Manitik dan Air Terjun
Talon. Berdasarkan potensi yang dimiliki obyek prioritas tersebut dapat disusun
alternatif perencanaan wisata alam pada masing-masing obyek.
G.1.1. Demplot Tanaman Obat
Potensi flora berupa tanaman obat dan flora lain disekitarnya serta potensi
fauna yang dapat dijumpai di sepanjang jalur menuju demplot dapat menjadikan
obyek ini sebagai laboratorium alam terbuka sesuai perencanaan wisata alam
TNBD. Di demplot ini pengunjung dapat melihat sekitar 52 jenis tanaman obat
yang berasal dari Bukit Duabelas sehingga dapat menambah pengetahuan
pengunjung mengenai jenis, khasiat, bagian yang digunakan, cara penggunaan dan
pemanf aatan secara tradisional oleh Orang Rimba. Melihat kondisinya saat ini
untuk menambah daya tarik Demplot Tanaman Obat ini perlu dilakukan kegiatankegiatan antara lain :
Pembuatan program perbaikan demplot dan daerah sekitar demplot beserta
tanaman obatnya.
Perbaikan label dengan menambahkan keterangan yang lebih lengkap
mengenai tanaman obat tersebut.
Melengkapi jenis -jenis tanaman obat di demplot dengan jenis tumbuhan
obat lainnya yang banyak terdapat di TNBD.
Pembuatan souvenir
Untuk melengkapi kepuasan pengunjung maka dapat dibuat souvenir berupa
hasil racikan/ramuan beberapa jenis tumbuhan obat yang berkhasiat untuk
menyembuhkan berbagai penyakit yang dikemas dengan menarik.
Pengadaan sarana dan prasarana antara lain papan petunjuk arah, papan
infor masi, papan himbauan, papan selamat datang, lokasi karcis dan peta
lokasi obyek, kamar mandi/wc, dan tempat sampah.
Pengadaan penginapan
Penginapan dibuat sealami mungkin yang diutamakan adalah kenyamanan
dan sanitasi yang baik.

Penginapan dapat dibuat dalam bentuk pondok

wisata. Bentuk pondok ini dapat mengikuti/menyerupai rumah godong


(rumah Orang Rimba).
Penambahan sarana dan prasarana penunjang antara lain angkutan menuju
lokasi, jaringan listrik, jaringan telepon dan toko souvenir.
Kegiatan yang dapat dijadikan daya tarik wisata pada Demplot Tanaman
Obat yaitu :
Pendidikan dan penelitian
Potensi tanaman obat yang terdapat di demplot dapat dijadikan sebagai
obyek pendidikan dan penelitian bagi pengunjung yang ingin mengetahui
dan meneliti mengenai tumbuhan obat yang terdapat di TNBD. Kajian
pendidikan/penelitian yang dapat dilakukan antara lain mengenai jenis-jenis
tumbuhan obat, khasiat, bagian yang digunakan, cara penggunaan dan
pemanfaatan secara tradisional oleh Orang Rimba.
Pengobatan ala rimba
Pengobatan ala rimba adalah pengobatan secara tradisional oleh Orang
Rimba dengan memanfaatkan tumbuhan obat yang terdapat di Bukit
Duabelas. Pengobatan ini bisa dilakukan bagi pengunjung yang ingin
mencoba pengobatan tradisional Orang Rimba.
Interpretasi alam
Kegiatan interpretasi alam dapat dilakukan secara langsung oleh interpreter
maupun secara tidak langsung yaitu melalui papan interpretasi, tanda -tanda
interpretasi, media massa/elektronik dan sebagainya.

Kegiatan ini

diharapkan dapat menambah pengetahuan pengunjung mengenai potensi


flora dan fauna yang terdapat di sekitar demplot sehingga dapat
meningkatkan kesadaran dan kecintaan terhadap alam.
G.1.2. Aek Manitik
Aek Manitik memiliki kondisi lingkungan yang masih alami, potensi flora
dan fauna ya ng cukup banyak serta potensi alam berupa air terjun setinggi 5 m.
Di dekat air terjun terdapat gua sarang kelelawar. Potensi ini dapat menjadikan
daya tarik wisata alam TNBD. Bentuk kegiatan wisata yang bisa dilakukan antara
lain :

Wisata petualangan
Kondisi alam sekitar Aek Manitik yang cukup menantang merupakan daya
tarik tersendiri bagi pengunjung yang menyukai petualangan di alam.
Kegiatan

yang

mungkin

dilakukan

antara

lain

menikmati

keindahan/pemandangan alam, animal watching, tracking, hiking dan


outbond.
Kemah konservasi
Kegiatan kemah konservasi ini ditujukan bagi pelajar/mahasiswa. Kegiatan
ini di harapkan dapat menambah pengalaman, pengetahuan dan kecintaan
pengunjung terhadap lingkungan.
Interpretasi alam
Kegiatan interpretasi alam dilakukan untuk memberikan informasi pada
wisatawan yang bertujuan agar mereka tertarik untuk mengetahui lebih
banyak dan memberikan apresiasi terhadap alam dan budaya.

Kegiatan

interpretasi alam dilakukan untuk menambah pengetahuan, kesadaran dan


kecintaan terhadap alam.
Untuk mengadakan kegiatan tersebut diperlukan pengadaan sarana
prasarana antara lain areal camping, lokasi api unggun, kamar mandi/wc, tempat
beribadah/musholla, shelter, tempat sampah, papan petunjuk arah, papan
informasi, papan himbauan, papan se lamat datang, peta lokasi obyek dan lokasi
karcis.
G.1.3. Air Terjun Talon
Air Terjun Talon memiliki keunikan yaitu berupa air terjun bertingkat tiga
dengan tinggi masing-masing sekitar 7 m, 4 m dan 2 m. Potensi flora dan fauna di
sekitar Air Terjun Talon juga dapat dijadikan sebagai daya tarik.

Kondisi

lingkungan yang alami menjadikan Air Terjun Talon berpotensi untuk


dikembangkan sebagai obyek wisata alam. Bentuk kegiatan yang dapat dilakukan
pada obyek Air Terjun Talon antara lain :
Wisata petualangan
Kondisi alam sekitar Air Terjun Talon yang cukup menantang merupakan
daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang menyukai petualangan di alam.

Kegiatan

yang

mungkin

dilakukan

antara

lain

menikmati

keindahan/pemandangan alam, animal watching dan outbond , tracking dan


hiking.
Berenang
Di lokasi ini terdapat sungai yang berbentuk kolam yang bisa digunakan
untuk berenang.
Interpretasi alam
Kegiatan interpretasi alam dilakukan untuk menambah pengetahuan,
kesadaran dan kecintaan terhadap alam.

Kegiatan interpretasi dapat

dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Interpretasi dilakukan


terhadap potensi flora dan fauna yang terdapat disekitar obyek.
Bersepeda
Kondisi lingkungan yang masih alami di sekitar Air Terjun Talon dapat
dikembangkan bagi kegiatan olah raga seperti bersepeda.

Kegiatan ini

merupakan wisata terbatas bukan untuk wisata massal. Kondisi jalan yang
alami dan cukup menantang menjadi tantangan tersendiri bagi pengendara
sepeda gunung.

Untuk mengembangkan kegiatan ini dibutuhkan kajian

lebih lanjut sehingga tidak menimbulkan dampak negatif terhadap keutuhan


kawasan.
Sarana dan prasarana yang diperlukan antara lain papan petunjuk arah,
papan informasi, papan himbauan, papan selamat datang, lokasi karcis dan peta
lokasi obyek, kamar mandi/wc, shelter, tempat ibadah/musholla dan tempat
sampah.

Pengunjung juga memerlukan sarana akomodasi (penginapan).

Penginapan dibuat sealami mungkin diutamakan adalah kenyamanan dan sanitasi


yang baik.
G.2. Rencana Pengelolaan Wisata Kawasan
1. Usulan zonasi
Berdasarkan usulan zonasi yang ada dalam rencana pengelolaan TNBD
diperlukan penetapan dan penentuan serta pemantapan zona pemanfaatan
wisata sesuai dengan keberadaan Orang Rimba dan potensi obyek dan daya
tarik wisata alam yang sudah ada. Hal ini sangat penting dan perlu segera
dilakukan sehingga kegiatan perencanaan dapat dilaksanakan.

2. Pembentukan UPT (Unit Pelaksana Teknis)


Pembentukan UPT TNBD diperlukan untuk mengoptimalkan pengelolaan.
Selama ini pengelola TNBD adalah BKSDA Jambi yang tidak hanya
mengelola kawasan TNBD saja tetapi juga mengelola kawasan konservasi
lain yang ada di Propinsi Jambi. Untuk meningkatkan pengelolaan TNBD
diperlukan pengelola yang khusus (terfokus) mengelola TNBD sehingga
dengan dibentuknya UPT TNBD diharapkan pengelolaan menjadi lebih
optimal.
3. Pengelolaan sumberdaya manusia
Untuk mendukung operasional pengelolaan TNBD dibutuhkan pengelolaan
sumberdaya manusia baik kualitas maupun kuantitas. Terbentuknya UPT
TNBD diiringi sumberdaya yang memadai dan berkualitas diharapkan dapat
lebih mengoptimalkan pengelolaan di TNBD termasuk pengelolaan wisata.
Penambahan sumberdaya manusia harus diiringi dengan peningkatan
kualitasnya. Kegiatan yang dapat dilakukan untuk peningkatan kualitas
sumberdaya manusia antara lain memberikan pelatihan dan pengembangan,
kursus-kursus, seminar, studi banding dan pembinaan khususnya yang
berkaitan dengan wisata.
4. Kebutuhan sarana dan prasarana
Sarana dan prasarana fisik yang dibutuhkan untuk pengelolaan wisata
TNBD antara lain gerbang utama masuk kawasan, gerbang masuk ke obyek
wisata

dan

loket

ticketing ,

pusat

informasi/visitor

center,

penginapan/pondok wisata, papan informasi, petunjuk arah dan papan


himbauan, peta lokasi obyek, pengadaan tempat sampah.

Sarana dan

prasarana penunjang yang dibutuhkan antara lain kantor pos, jaringan


telepon, jaringan listrik, bank, toko souvenir dan angkutan umum.
5. Pengelolaan multi pihak
Untuk mengelola suatu obyek dan daya tarik wisata alam diperlukan
kerjasama dengan pihak lain yang terkait dengan kegiatan wisata di TNBD
seperti masyarakat sekitar, Pemerintah Daerah, biro perjalanan, LSM dan
lain sebagainya.

Pelibatan semua pihak yang terkait dengan TNBD

sebaiknya dilakukan sejak dalam kegiatan perencanaan. Pelibatan tersebut

diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan Orang Rimba dan masyarakat


desa. Untuk itu perlu dilakukan pendekatan dan kerjasama yang baik antara
pengelola dengan pihak-pihak yang dilibatkan. Koordinasi dan sosialisasi
kegiatan perencanaan harus selalu diperhatikan oleh semua pihak yang
terkait. Pelibatan tersebut misalnya berupa pengadaan pondok pengobatan
dan pembuatan souvenir, penyedia penginapan, rumah makan, toko
souvenir, penjaga tiket dan pemanduan serta membantu kegiatan
pengawasan dan pengamanan obyek dan kawasan.
6. Pemasaran/promosi
Kegiatan pemasaran/promosi produk wisata perlu dilakukan untuk menarik
pengunjung. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara publikasi melalui
media cetak maupun elektronik, penyebaran leaflet, booklet, poster,
mengikuti kegiatan pameran-pameran baik tingkat lokal, regional, nasional
maupun internasional.

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Hasil penilaian menunjukkan bahwa obyek Aek Manitik memiliki nilai
tertinggi yaitu 3080 kemudian Demplot Tanaman Obat (3050), Air Terjun Talon
(3040), Air Terjun Lubuk Jering (2790) dan Gua Kelelawar (2760). Berdasarkan
hasil penilaian tersebut dapat ditentukan obyek prioritas untuk dikembangkan di
TNBD yaitu Demplot Tanaman Obat, Aek Manitik dan Air Terjun Talon. Selain
potensi wisata alam TNBD juga memiliki ODTW budaya Suku Anak
Dalam/Orang Rimba. Di sekitar kawasan TNBD juga terdapat obyek wisata yaitu
Sumber Air Panas Bukit Suban, Dam Sungai Jernih Air Meruap dan Sumber
Air Panas Desa Baru.

Semua obyek wisata tersebut be lum dikelola dan

dimanfaatkan secara optimal.


Perencanaan wisata yang disusun meliputi perencanaan ODTWA dan
perencanaan pengelolaan wisata kawasan TNBD. Untuk perencanaan ODTWA
dilakukan pada tiga obyek prioritas berdasarkan hasil penilaian. Obyek-obyek
tersebut yaitu Demplot Tanaman Obat, Aek Manitik, dan Air Terjun Talon.
Perencanaan kegiatan wisata untuk obyek Demplot Tanaman Obat adalah
pendidikan dan penelitian, pengobatan ala rimba dan interpretasi alam.
Perencanaan wisata untuk Aek Manitik yaitu wisata petualangan, kemah
konservasi, dan interpretasi alam. Perencanaan untuk kegiatan wisata pada Air
Terjun Talon yaitu wisata petualangan, berenang, interpretasi alam dan bersepeda.
Perencanaan

pengelolaan

wisata

kawasan

TNBD

yaitu

usulan

zonasi,

pembentukkan UPT (Unit Pelaksana Teknis), pengelolaan sumberdaya manusia,


kebutuhan sarana dan prasarana, pengelolaan multi pihak dan pemasaran/promosi.

B. Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai perencanaan tapak yang
tepat sesuai dengan kondisi lingkungan, daya dukung kawasan dan perencanaan
interpretasi di kawasan TNBD.

DAFTAR PUSTAKA

[BKSDA] Balai Konservasi Sumberdaya Alam, Provinsi Jambi. 2004. Rencana


Pengelolaan Taman Nasional Bukit Duabelas (RPTNBD). Balai
Konservasi Sumberdaya Ala m Provinsi Jambi. Jambi.
Cooper, C., J. Fletcher, D. Gilbert, S. Wanhill, R. Shepherd, Editor. 1998.
Tourism: Priciples and Practic. Ed ke-2. Pearson Education Limited.
England.
Dimjati, A. 1999. Produk Pariwisata: Pengembangan Ekowisata (Wisata Ekologi).
Departe men Pariwisata Seni dan Budaya. Jakarta.
[DISPORADA] Dinas Pariwisata, Olah Raga dan Seni Budaya, Kabupaten
Sarolangun. 2004. Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah
(RIPPDA) Kabupaten Sarolangun. Pemerintah Kabupaten Sarolangun
Dinas Pariwisata, Olah Raga dan Seni Budaya. Jambi.
Departemen Kehutanan. 1989. Kamus Kehutanan. Ed ke -1. Departemen
Kehutanan Republik Indonesia. Jakarta.
Departemen Kehutanan. 1998. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor
68 Tahun 1998 Tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian
Alam. Departemen Kehutanan. Jakarta.
Departemen Kehutanan. 1990. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9
Tahun 1990 Tentang Kepariwisataan. Departemen Kehutanan Republik
Indonesia. Jakarta.
Departemen Kehutanan. 1990. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5
Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan
Ekosistemnya. Departemen Kehutanan Republik Indonesia. Jakarta.
Departemen Kehutanan. 1994. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor
18 Tahun 1994 Tentang Pengusahaan Pariwisata Alam di Zona
Pemanfaatan Taman Nasional, Taman Hutan Raya, dan Taman Wisata
Alam. Departemen Kehutanan Republik Indonesia. Jakarta.
Fandeli, C. dan M. Nurdin. 2005. Pengembangan Ekowisata Berbasis Konservasi
di Taman Nasional. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Pusat
Studi Pariwisata UGM dan Kantor Kementerian Lingkungan Hidup.
Yogyakarta.
Hakim, L. 2004. Dasar-Dasar Ekowisata. Bayumedia. Malang.
Hall, C. M. 2000. Tourism Planning : Policy, Processes and Relationships.
Pearson Education Limited. England.

Hamid, E. A. C. 1996. Dasar-Dasar Pengetahuan Pariwisata. Yayasan Bhakti


Membangun. Jakarta.
Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia. 2003. Ekowisata
Prinsip dan Kriteria . Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik
Indonesia dan Indecon. Jakarta.
Ko, R. K .T. 2001. Obyek Wisata Alam : Pedoman Identifikasi, Pengembangan,
Pengelolaan, Pemeliharaan dan Pemasaran. Yayasan Buena Vista. Bogor.
Kodhyat, H. 1996. Sejarah Pariwisata dan Perkembangannya di Indones ia. PT
Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.
Kosmaryandi, N dan R. Avenzora. 2004. Studi Potensi Wisata Taman Wisata
Alam Gunung Papandayan Pasca Letusan Bulan November 2002.
Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut
Pertanian Bogor. Bogor (tidak dipublikasikan).
Kusmayadi. 2004. Statistika Pariwisata Deskriptif. PT Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.
Marpaung, H. 2002. Pengetahuan Kepariwisataan. Ed Revisi. Alfabeta. Bandung.
Page, S. J and Ross, K. D. 2002. Ecotourism. Pearson Education Limited.
England.
[PHPA] Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam. 1988. Pedoman Investasi dan
Pengembangan Obyek Wisata Alam. Direktorat Jenderal Perlindungan
Hutan dan Pelestarian Alam. Jakarta.
[PHPA] Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam. 1996. Pola Pengelolaan
Kawasan Suaka Alam, Kawasan Pelestarian Alam, Taman Wisata Alam
dan Hutan Lindung. Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan
Pelestarian Alam. Bogor.
[PHKA] Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. 2003 (a). Pedoman Analisis
Daerah Operasi Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam (ADO-ODTWA).
Direktorat JenderalPerlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Bogor.
[PHKA] Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. 2003 (b). Informasi, Promosi
dan Peluang Usaha di Taman Nasional. Direktorat Jenderal Perlindungan
Hutan dan Konservasi Alam. Bogor.
Soekadijo, R. G. 2000. Anatomi Pariwisata: Memahami Pariwisata sebagai
Systemic Linkage. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Sudarto, G. 1999. Ekowisata: Wahana Pelestarian Alam, Pengembangan Ekonomi


Berkelanjutan, dan Pemberdayaan Masyarakat. Yayasan Kalpataru
Bahari. Bekasi.
Suwantoro, G. 1997. Dasar-Dasar Pariwisata. ANDI. Yogyakarta.
Tim Identifikasi Obyek Wisata Alam Taman Nasional Bukit Duabelas dan Hutan
Wisata Bukit Sari. 2002. Laporan Kegiatan Identifikasi Obyek Wisata
Alam di Taman Nasional Bukit Duabelas Provinsi Jambi. Balai
Konservasi Sumberdaya Alam [BKSDA] Provinsi Jambi. Jambi. (tidak
dipublikasikan).
Wiwoho, B., Ratna, P., dan Yullia, H. 1990. Pariwisata, Citra, dan Manfaatnya.
PT Bina Rena Pariwara. Jakarta.

Lampiran 1. Tabel kriteria penilaian ODTWA di TNBD


Kriteria Penilaian Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam
di Taman Nasional Bukit Duabelas
(Modifikasi Pedoman Analisis Daerah Operasi dan Daya Tarik Wisata Alam,
Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Tahun 2003)
3. Daya tarik wisata
No
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

Unsur/Sub Unsur
Keunikan sumberdaya alam:
a. Sumber air panas
b. Gua
c. Air terjun
d. Flora
e. Fauna
Kepekaan
sumberdaya
alam,
memiliki:
a. Nilai pengetahuan
b. Nilai budaya/sejarah
c. Nilai pengobatan
d. Nilai kepercayaan
Variasi kegiatan wisata alam:
a. Menikmati keindahan
b. Memancing
c. Tracking
d. Berenang
e. Berkemah
f. Pendidikan/penelitian
g. Hiking
Banyaknya jenis sumberdaya alam
yang menonjol:
a. Batuan
b. Flora
c. Fauna
d. Air
e. Gejala alam
Kebersihan lokasi, tidak ada
pengaruh dari:
a. Industri
b. Jalan ramai
c. Pemukiman penduduk
d. Sampah
e. Vandalisme
f. Pencemaran lain
Keamanan:
a. Tidak ada arus berbahaya
b. Tidak ada penebangan liar
dan perambahan
c. Tidak ada pencurian
d. Tidak ada kepercayaan
yang mengganggu
e. Bebas penyakit berbahaya
seperti malaria
Kenyamanan:
a. Bebas
bau
yang

Bobot : 6
Ada 5
30

Ada 4
25

Nilai
Ada 3
20

ada 4
(30)

ada 3
(25)

ada 2
(20)

>5
(30)

ada 5
(25)

ada 4
(20)

ada 3
(15)

ada 12
(10)

Ada 5
(30)

Ada 4
(25)

Ada 3
(20)

Ada2
(15)

Ada 1
(10)

ada 5-6
(30)

ada 3-4
(20)

ada 2-3
(15)

ada 5
(30)

ada 4
(25)

Ada 3
(20)

ada 4
(30)

ada 3
(25)

ada 2
(20)

Ada 2
15

Ada 1
10

ada 1
(10)

ada 1-2
(10)

ada 2
(15)

ada 1
(10)

ada 1
(15)

No

Unsur/Sub Unsur
mengganggu
b. Tidak ada lalu lintas
umum yang mengganggu
c. Bebas kebisingan
d. Udara sejuk
Jumlah

Nilai

b. Aksesibilitas
No.

Bobot : 5

Unsur/Sub Unsur

Baik

Cukup

Sedang
Buruk

1.

2.

3.

Kondisi dan jarak jalan


darat:
<5 km
5-10 km
10-15 km
> 15 km
Tipe j alan

Waktu tempuh dari pusat


kota
Jumlah

80
60
40
20
Jalan aspal
lebar > 3 m
10
1-2 Jam
30

60
40
20
10
Jalan aspal
lebar < 3m
20
2-3 Jam
25

40
25
15
5

20
15
5
Jalan tanah

Jalan
batu/makadam
25
3-4 Jam
20

30
>5 Jam
10

c. Kondisi lingkungan sosial ekonomi (radius 5 km dari batas kawasan


intensive use atau jarak terdekat dengan obyek)
Bobot : 5
No.
1.

Unsur/Sub Unsur
Tata ruang wilayah
obyek

2.

Status lahan

3.

Mata pencaharian
penduduk

4.

Pendidikan

Ada dan
sesuai
30
Hutan negara
30
Sebagian
besar buruh
tani

30
Sebagian
besar lulus
SLTA keatas
30

Nilai
Ada tapi tidak Dalam proses
sesuai
penyusunan
20
15
Hutan adat
Hutan hak
25
20
Sebagian
Petani
besar
pedagang
kecil, industri
kecil dan
kerajinan
25
20
Sebagian
Sebagian
besar lulus
besar lulus
SMP ke atas
SD
25
20

Tidak ada
5
Tanah milik
15
Pemilik
lahan/pegawai

15
Sebagian
besar tidak
lulus SD
15

Jumlah

d. Akomodasi (radius 15 Km Dari Obyek)


No.
1.
2.

unsur
Jumlah Penginapan
Jumlah kamar

Jumlah

> 10
30
Sampai
dengan 30
10

Bobot : 3

7-10
25
30-50
15

Nilai
5-7
20
50-75
20

3-5
15
75-100

1-3
10
> 100

25

30

e. Sarana-Prasarana Penunjang (radius 10 Km Dari Obyek) Bobot : 3


No.

Unsur/Sub Unsur
3

Macam
2

1.

Prasarana:
Kantor pos
Jaringan telepon
Puskesmas
Jaringan listrik
Jaringan air minum

50

40

30

20

Tidak
Ada
10

2.

Sarana penunjang:
Rumah makan
Pusat perbelanjaan/pasar
Bank
Toko
souvenir/cinderamata
Angkutan umum

50

40

30

20

10

Jumlah

f. Kriteria Penilaian Ketersediaan Air Bersih


No.
1.

Bobot : 6

Unsur/sub unsur
Volume

Nilai
Banyak

Cukup

Sedikit

Sangat

(30)

(25)

(20)

sedikit
(15)

2.

Jarak sumber air terhadap


lokasi obyek

3.

Dapat

tidaknya/kemudahan

air dialirkan ke obyek

0-1 km

1.1-2 km

2.1-4 km

> 4 km

(30)

(25)

(20)

(15)

sangat

mudah

agak sukar

sukar

mudah

(25)

(20)

(15)

dapat

perlu

Perlakuan

tidak layak

langsung

perlakuan

dengan

(10)

dikonsumsi

sederhana

bahan kimia

(30)

(25)

(20)

sepanjang

6-9 bulan

3-6 bulan

< 3 bulan

tahun

(25)

(20)

(10)

(30)
4.

5.

Kelayakan dikonsumsi

Kontinuitas

(30)

Jumlah

Lampiran 2. Tabel daftar nama jenis flora yang terdapat di kawasan TNBD
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.

Nama Lokal
Terap
Bakil/Sepan
Beringin
Meranti
Keruing
Cengal/Merawan
Sindur
Kedondong/Lalan
Kempas
Kenari
Bintangur
Mangga
Tembesu
Jelutung
Rotan
Kopi-kopian
Mempisang/Terpis
Mempisang
Kayu Hitam
Jambu-jambuan
Mendarahan
Pala
Kenanga
Pasang
Pala hutan
Bayur
Saninten
Rambai/Kepundang
Manggis
Manggis -manggis
Rotan manau
Rotan
Pasang bungkus
Tembesu
Kulim
Kantong semar
Pandan-pandanan
Pinang
Bintangur
Petai
Simpur
Pulai
Kemenyan
Gaharu
Kayu manis
Pinang
Kaca piring
Rotan
Lansatan
Durian
Cempaga
Keranji

Nama Ilmiah
Artocarpus elasticus
Artocarpus anisophyllus
Ficus spp
Shorea sp
Dipter ocarpus sp
Hopea sp
Sindora sp
Santiria densyphylla
Koompassia sp
Canarium spp
Calophyllum spp
Mangifera sp
Fragraera fragrans
Dyera costulata
Calamus spp
Psychotria sp
Polyalthia sp
Desmos sp
Diospyr os buxifolia
Syzygium spp
Knema sp
Myristicaceae
Cananga odorata
Quercus sp
Horsfieldia sp
Pterospermum javanicum
Cartanopsis sp
Baccaurea sp
Garcinia spp
Garcinia nervosa
Calamus mannan
Calamus ciliaris
Lithocarpus sp
Fragrea sp
Scorodocarpus borneensis
Nepenthes ampularia
Pandanus sp
Pinanga sp
Calophyllum dasypodum
Parkia sp
Dillenia spp
Alstonia scolaris
Stirax benzoin
Aquilaria malaccensis
Cinnamomum culilawan
Pinanga malayana
Gardenia augusta
Calamus ornatus
Aglaia sp
Durio sp
Dysoxyllum sp
Diallium sp

Keterangan
Kayu
Kayu
Kayu
Kayu
Kayu
Kayu
Kayu
Kayu, unik
Kayu
Kayu
Kayu
Kayu, buah
Kayu
Resin, dilindungi
Rotan
Buah
Unik
Tanaman hias
Langka
Kayu, buah
Kayu
Kayu, buah
Kayu
Kayu
Kayu
Kayu
Kayu
Kayu
Kayu
Kayu, Palm
Rotan
Dilindungi
Kayu
Kayu
Dilindungi
Obat
Obat
Obat, Palm
Unik
Buah
Kayu
Kayu
Obat, dilindungi
Dilindungi
Kayu, buah
Obat
Buah
Rotan
kayu, buah
Buah
Buah
kayu

No.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62.
63.
64.
65.

Nama Lokal
Gerunggang
Gandaria/Raman
Mempisang
Nenga gajah
Bulian
Sengon
Balam durian
-

Nama Ilmiah
Cratoxyllum sp
Bouea appositifolia
Mezettia sp
Palmae
Eusideroxylon zwagerii
Paraserianthes sp
Payena sp
Piper sp
Dinochloa sp
Euricoma longifolia
Alocasia sp
Cytrosperma sp
Archidendron sp

Keterangan
kayu
Langka
Kayu
Dilindungi
Dilindungi
Kayu
Kayu, buah
Kayu
-

Sumber : BKSDA Jambi (2004)

Lampiran 3. Tabel daftar nama jenis satwaliar di kawasan TNBD yang biasa
digunakan untuk obat
No.
1.
2.

Nama Lokal
Kijang
Beruang

Nama Ilmiah
Muntiacus muntjak
Helarctos malayanus

3.

Landak

Hystryx brachyura

4.

Biawak

Varanus salvator

5.

Buaya

Crocodylus porosus

6.
7.

Ikan kaluin (Kalus)


Tupai jumput

8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
Sumber

Keterangan
Beri-beri
Mules, campak, berak
darah
Batuk kering,
keracunan
Sakit mata (mata
merah)
Keluarnya alat
reproduksi wanita
Sakit lambung
Keracunan jengkol,
petai

Harimau sumatera
Panthera tigris sumatrae
Kucing hutan
Felis bengalensis
Rusa sambar
Cervus unicolor
Babi hutan
Sus spp
Tapir
Tapirus indicus
Tupaia tanah
Lariscus spp
Musang
Paradoxurus hermaphroditus
Monyet ekor panjang
Macaca fascicularis
Beruk
Macaca nemestrina
Burung balam
Streptopelia sp
Burung murai batu
Copsycus malabaricus
Ayam hutan
Gallus gallus
Kuau
Argusianus argus
Enggang gading
Rhinoplax vigil
: Laporan Ekspedisi Biota Medika TNBD, Depkes, IPB, UI, LIPI (1998) dalam BKSDA
Jambi (2004)

Lampiran 4. Tabel sebaran Komunitas Orang Rimba di dalam dan luar kawasan
TNBD menurut kelompok dan lokasi
No.

Kelompok

1.

Air Hitam

2.

3.

Makekal

Kejasung

Pemimpin
Kelompok
Tumenggung Tarip

Lokasi
S. Paku Aji

Jumlah
Jiwa
38

Betaring

S. Semapuy

50

Nyuyut

S. Semapuy Ulu

16

Segrib/Nugraha

TSM Air Panas

76

Tumenggung Majid

S. Keruh

76

Tumenggung Mirak
Menti Ngandun
Tuha
Setapak

S. Gemuruh
S. Pengelaworon
S. Aek Behan

90

Tumenggung
Ngukir

S. Bernai Ulu

100

Wakil Tuha
Pelindung

S. Sako Nini Tuo

67

Depati Pengelam

S. Bernai

65

Depati Laman
Senjo
Tumenggung
Nggrib

S. Sungkai/S. Tabir

41

S. Kedundung
Muda

83

Mangku Tuha
Besuai
Laman

S. Sako Jenang

146

S. Tengkuyungon

29

Tumenggung Tuha
Bayu

S. Depari/Seranten

14

Tumenggung
Celetai

S. Kejasung Besar
Ulu

65

Tumenggung
Meladang

S. Kejasung besar
Ulu

72

134
10

Keterangan
Ke-3 kelompok ini
masih
mempertahankan jati
diri
dan
tradisi
kehidupan dalam hutan
Sudah memeluk agama
Islam dan menjadi
warga masyarakat desa
Bukit Suban
Sebagian
anggota
kelompok
sudah
memeluk agama Islam
dan
sudah
mengorient asikan diri
dengan
masyarakat
desa
Masih
Mempertahankan jati
diri
dan
tradisi
kehidupan alam hutan

Sebagian
Anggota
kelompok
sudah
mengorientasikan diri
dengan
masyarakat
desa
Sudah
mengorientasikan diri
dengan
masyarakat
desa
Sebagian
besar
anggotya
kelompok
pindah ke TNBT
Sudah
mengorientasikan diri
dengan
lingkungan
luar/masyarakat desa

No.

4.

Kelompok

TerabSerengam

Pemimpin
Kelompok
Tumenggung
Besulit

S. Kejasung kecil
Ulu

Depati Gerak

S. Keruh Ulu

Tumenggung
Mariytua
Tumenggung
Nggirang
Tumenggung Kecik

Ke-2 kelompok ini


bergabung di S.
Terab

144

S. Kejasung Kecil
Ulu
S. Kejasung Kecil
Ulu

31

Tumenggung
Mulung

Lokasi

Jumlah
Jiwa
49

Keterangan

35

Masih
mempertahankan jati
dir i
dan
tradisi
kehidupan alam huta n
Masih
mempertahankan jati
diri
dan
tradisi
kehidupan alam hutan

Tidak ada data

Tumenggung
Ngamal

S. Jern ang

Tidak ada data

Tumenggung
Nyenong

S. Sakolado

Tidak ada data

Total
Sumber: KKI WARSI (2004) dalam BKSDA Jambi (2004 )

1.524

Lampiran 5. Tabel gambaran umum desa interaksi Sebelah Selatan TNBD


Keterangan

D e s a

No.
Lubuk Jering

Desa Baru
6.400 ha

Semurung
3.000 ha

Jernih
12.000 ha

9.600 ha

Pematang Kabau
2.500 ha

U: TNBD
S: S. Mentawak
B: Jernih
T: Baru

U: TNBD
S: S. Mentawak
B: Lubuk Jering
T: Semurung

U: TNBD
S: S. Mentawak
B: Pematang Kabau
T: Jernih

U: TNBD
S: Mentawak Baru
B: Bukit Suban
T: Lubuk Jering

1.

Luas Wilayah

2.

Batas Wilayah

U: TNBD
S: S. Mentawak
B: Semurung
T: Lubuk Kepayang

3.

352 KK

4.

Jumlah Kepala
Keluarga
Jumlah Jiwa

5.

345 KK*

483 KK

219 KK

619 KK ^
2327 orang ^

Bukit Suban
6.400 ha
U: TNBD
S: Papit
B: Bungo Antoi
T: Pematang
Kabau
888 KK

1493 orang

1360 orang *

1902 orang

1012 orang

Jumlah Laki -laki

742 orang

672 orang *

956 orang

440 orang

1221 orang ^

1331 orang

6.

Jumlah Perempuan

751 orang

688 orang *

945 orang

572 orang

1106 orang ^

1141 orang

7.

Jarak dari Ibukota


Kabupaten

35 Km

37 Km

40 Km

48 Km

56 Km

64 Km

8.

Jarak dari Ibukota


Propinsi

198 Km

200 Km

203 Km

212 Km

220 Km

228 Km

Sumber : Survey Tim KKI WARSI, 2000


* Profil Desa Semurung Tahun 2003
^ Profil Desa Pematang Kabau Tahun 2003

2472 orang

Lampiran 6. Kuesioner untuk pengunjung


Salam sejahtera,
Sebelumnya mohon maaf apabila dengan adanya pengisian kuisioner ini telah
mengganggu aktivitas rekreasi Bapak/Ibu/Saudara/Saudari, perkenalkan saya
mahasiswa Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor yang sedang melakukan
penelitian mengenai Studi Potensi Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam dan
Perencanaannya di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD). Di bawah ini
terdapat beberapa pertanyaan dan isian, saya sangat mengharapkan kesediaan
Bapak/Ibu/Saudara/Saudari untuk mengisi pertanyaan dan isian tersebut. Atas
perhatian dan kesediaannya saya ucapkan terima kasih.
No. Responden

Hari/Tanggal

A. Data Pribadi Responden.

Nama

Umur

Jenis Kelamin

: Perempuan / Laki-laki*

Asal/tempat tinggal :

Pendidikan Terakhir : SD/SMP/SMA/D3/S1/S2/S3*

Pekerjaan

Status Perkawinan

: menikah/belum menikah*
*) Coret yang tidak perlu

B. Mohon pilih salah satu jawaban dengan memberi tanda X pada pilihan
anda:
1. Dari mana anda mengetahui informasi mengenai kawasan ini?
a. sendiri b. teman c. keluarga d. cerita orang e.media massa/elektronik
2. Berapa kali anda pernah mengunjungi kawasan ini?
a. pertama kali

b. kedua kali c. ketiga kali

d. lebih dari tiga kali

3. Dengan siapa anda datang ke kawasan ini?


a. sendiri

b. teman..orang

c. keluarga..orang

4. Berapa lama anda berada di dalam kawasan ini?


a. satu hari

b. dua hari

c. lebih dari dua hari..hari

5. Kapan biasanya anda berkunjung ke kawasan ini?


a. hari libur
alasan:
b. hari biasa
alasan:
6. Jenis kendaraan apa yang anda gunakan untuk mencapai lokasi ini?
a. kendaraan pribadi (motor/mobil) b. kendaraan umum (ojek/bis/taksi/truk)
c. kendaraan sewaan/travel

d. lainnya.

7. Apa tujuan anda mengunjungi tempat wisata ini?


a. menikmati pemandangan

b. suasana tenang dan nyaman

c. alasan pendidikan/penelitian

d. menikmati keunikan flora -fauna

e. menikmati kebudayaan

f. mengisi waktu luang

g. lainnya..
8. Kegiatan apa yang anda lakukan/sukai di kawasan ini?
a. melihat pemandangan alam b. melihat/mengamati flora-fauna
c. menjelajah

d. berkemah e. penelitian/pengamatan

f. fotografi

g. lainnya

9. Apakah anda berkunjung ke kawasan ini dengan alasan khusus seperti


mistik, keperluan agama dan kepercayaan atau semacamnya?
a. ya, tepatnya di lokasi..
b. tidak
10. Menurut anda, apakah kawasan ini cukup nyaman?
a. bebas dari bau

b. Bebas bau yang mengganggu

d.Tidak ada lalu lintas umum yang mengganggu

c. Udara sejuk
e. Bebas kebisingan

11. Menurut anda obyek wisata manakah yang dapat dijadikan sebagai wisata
unggulan di kawasan ini?
a. Sumber air panas Bukit Suban

b. Air terjun Lubuk Jering

c. Air terjun Talon

d. Air terjun Aek Manitik

e. Air Meruap

f. Sumber air panas di Dusun Baru

g. lainnya, sebutkan..

12. Apakah anda mengalami hambatan untuk datang ke kawasan ini?


a.Tidak
b.Jika YA, berupa apa..
13. Bagaimana kondisi sarana/prasarana wisata di kawasan ini?
a. baik

b. cukup baik

c. kurang baik

14. Bagaimana sistem pengelolaan kawasan dan pengelolaan pengunjung


kawasan ini?
a. baik

b. cukup baik

c. kurang baik

15. Bagaimana kesan anda setelah mengunjungi kawasan ini?


a. menyenangkan, alasan:..
b. tidak menyenangkan, alasan:.
16.

Apakah anda berminat untuk berkunjung kembali ke kawasan ini?


a. ya, alasan:..
b. tidak, alasan:..

17.

Menurut anda, apa yang perlu dikembangkan di kawasan ini untuk


menambah daya tarik wisata alamnya?
a. perluasan wilayah

b. penambahan jenis kegiatan yang dilakukan

c. penambahan/perbaikan fasilitas d. peningkatan pelayanan pengunjung


e. lainnya, sebutkan..
19. Apakah keinginan/harapan anda terhadap kawasan ini?

Terima kasih atas partisipasinya

Lampiran 7. Panduan wawancara


A. Untuk Pengelola Pusat (BKSDA Jambi)
1. Riwayat/sejarah dan status kawasan dan masing-masing obyek wisata
yang ada di kawasan TNBD
2. Kebijakan-kebijakan yang berlaku sehubungan dengan wisata
3. Rencana pengembangan wisata alam (master plan tentang wisata)
4. Kerjasama yang berkaitan dengan wisata (jika ada, dengan pihak mana
saja, kriteria pihak yang diaja k kerjasama, kesepakatan dengan pihak
tersebut)
5. Kegiatan dan paket wisata yang telah, sedang dan akan dilaksanakan
6. Pendidikan dan pelatihan yang pernah dilaksanakan berkaitan dengan
wisata
7. Penelitian mengenai wisata
8. Promosi dan strategi pemasaran
9. Permasalahan/kendala/konflik

yang

dihadapi

berkaitan

dengan

pengelolaan kawasan khususnya kegiatan wisata


10. Harapan/keinginan pengelola terhadap kawasan terutama berkaitan dengan
wisata

B. Untuk Petugas di Lapangan (TNBD)


1. Sistem pembagian tugas/kerja seperti apa
2. Kerja sama dilapangan dengan sesama petugas khususnya berkaitan dengan
wisata
3. Pelayanan pengunjung (akomodasi, interpretasi, dll)
4. Bagaimana koordinasi dengan pengelola pusat dan pihak lain yang
bekerjasama
5. Apakah ada masyarakat sekitar yang dilibatkan dalam kegiatan wisata
(jika ada, bentuknya seperti apa, kesepakatannya bagaimana)
6. Kendala/hambatan/permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan wisata
7. Solusi yang pernah diupayakan untuk mengatasi masalah tersebut
8. Harapan/keinginan pengelola berkaitan dengan wisata

C. Untuk Pemerintah Daerah (Dinas Pariwisata)


1. Kebijakan-kebijakan yang ada berhubungan dengan wisata alam di TNBD
2. Rencana pengembangan berkaitan dengan wisata alam di TNBD
3. Potensi-potensi wisata alam di TNBD yang diketahui
4. Kerjasama yang akan, sedang dan te lah dilakukan dengan pengelola
TNBD yang berhubungan dengan wisata
5.

Apakah ada masyarakat sekitar yang dilibatkan dalam kegiatan wisata


(jika ada, bentuknya seperti apa, kesepakatannya bagaimana)

6. Permasalahan/kendala yang ada berkaitan dengan kegiatan wisata alam


7. Harapan/keinginan pemerintah daerah terhadap kawasan berkaitan dengan
wisata

D. Untuk Tokoh Masyarakat (Kepala Desa)


1. Riwayat/sejarah dan status TNBD dan masing-masing obyek wisata yang
ada di kawasan TNBD
2. Potensi-potensi wisata alam di TNBD yang diketahui
3. Kerjasama yang akan, sedang dan telah dilakukan dengan pengelola
TNBD yang berhubungan dengan wisata
4. Kesiapan masyarakat untuk dilibatkan dalam kegiatan wisata di TNBD
5. Apakah ada masyarakat sekitar yang dilibatkan dalam kegiatan wisata
(jika ada, bentuknya seperti apa, kesepakatannya bagaimana)
6. Kondisi sosial, ekonomi, sistem sosial, dan budaya masyarakat
7. Kondisi sarana -prasarana: ekonomi, kesehatan, transportasi, komunikasi,
keamanan yang terdapat di daerah tersebut
8. Permasalahan/kendala yang ada berkaitan dengan kegiatan wisata alam
9. Harapan/keinginan pemerintah desa terhadap kawasan berkaitan dengan
wisata

Lampiran 8. Peta Potensi Wisata di TNBD

Lampiran 9. Peta akses jalan TNBD

Lampiran 10. Peta sebaran Orang Rimba