Anda di halaman 1dari 15

BAYI DENGAN BBLR ATAU PREMATUR

Bayi dengan BBLR termasuk dalam bayi baru lahir risiko tinggi yaitu
keadaan di mana neonatus tanpa memperhatikan usia gestasi atau BB mempunyai
kemungkinan morbiditas atau mortalitas yang lebih besar dari rata-rata karena
kondisi yang tumpang tindih pada keadaan normal suatu kejadian yang dikaitkan
dengan kelahiran dan penyesuaian pada keadaan ekstrauterine.
Definisi
Bayi yang lahir dengan BB di bawah 10% pada kurva pertumbuhan
intrauterine, bayi tersebut dapat lahir pada kondisi preterm, term, atau postterm.
Klasifikasi
1. Bayi berat badan lahir rendah (BBLR): bayi yang lahir dengan BB kurang dari
2500 gram tanpa memperhatikan usia gestasi.
2. Berat badan lahir sangat rendah sekali atau bayi berat badan lahir ekstrem
rendah: bayi yang lahir dengan BB kurang dari 1000 gram.
Berat badan lahir sangat rendah: bayi yang lahir dengan berat badan kurang
dari 1500 gram.
3. Berat badan lahir rendah sedang: bayi yang lahir dengan BB antara 1501 2500
gram
4. Bayi kecil untuk kelahiran atau kecil untuk usia gestasi: bayi yang lahir dengan
BB berada di bawah persentil 10 pada kurva pertumbuhan intrauterin.
5. Retardasi pertumbuhan intrauterine (Intrauterine Growth Retardation/IUGR):
ditemukan pada bayi yang pertumbuhan intrauterinenya mengalami retardasi
(terkadang digunakan sebagai istilah yang lebih deskriptif untuk bayi kecil untuk
masa gestasi).
6. Bayi besar untuk usia gestasi: bayi yang BB-nya berada di atas presentil ke-90
pada kurva perumbuhan intrauterine.
Etiologi
1. Kelainan pada janin.
2. Gangguan fungsi plasenta.
3. Faktor ibu (penyakit vaskuler, keadaan uterus yang buruk, dll).
4. Infeksi ( ibu dan anak).
5. Obat dan merokok, dll.
Patofisiologi
Semakin kecil dan semakin prematur bayi, maka akan semakin tinggi risiko
gizinya. Beberapa faktor yang memberikan efek pada masalah gizi;

1. Menurunnya simpanan zat gizi, cadangan makanan di dalam tubuh sedikit.


Hampir semua lemak, glikogen, dan mineral seperti zat besi, kalsium, fosfor, dan
seng dideposit selama 8 minggu terakhir kehamilan.
2. Meningkatnya kebutuhan energi dan nutrien untuk pretumbuhan dibandingkan
BBLC.
3. Belum matangnya fungsi mekanis dari saluran pencernaan. Koordinasi antara
reflek hisap dan menelan, dengan penutupan epiglotis untuk mencegah aspirasi
pneoumonia belum berkembang denan baik sampai kehamilan 32 34 minggu.
Penundaan pengosongan lambung atau buruknya motilitas usus sering terjadi
pada bayi preterm.
Kurangnya kemampuan untuk mencerna makanan, pada bayi preterm
mempunyia lebih sedikit simpanan garam empedu, yang diperlukan untuk mencerna
dan mengabsorbsi lemak dibandingkan dengan bayi aterm. Produksi amilase
pankreas dan lipase, yaitu enzim yang terlibat dalam pencernaan lemak dan
karbohidrat juga menurun. Begitu pula kadar laktose (enzim yang diperlukan untuk
mencerna susu) juga sampai sekitar kehamilan 34 minggu.
Paru yang belum matang dengan peningkatan kerja nafas dan kebutuhan
kalori yang meningkat. Masalah pernafasan juga akan mengganggu makanan
secara oral. Potensial untuk kehilangn panas akibat permukaan tubuh dibanding
dengan BB dan sedikitnya jaringan lemak di bawah kulit. Kehilangan panas ini akan
meningkatkan kebutuhan akan kalori.
Masalah yang mungkin muncul
Masalah yang sering dihadapi bayi BBLR adalah imaturitas organ-organ
tubuh karena lahir kurang bulan. Beberapa gangguan akibat belum matangnya
organ-organ tersebut:
1. Sistem pengaturan tubuh yang belum matur, menyebabkan BBLR membutuhkan
perawatan khusus dalam inkubator.
2. Sistem imunologi yang belum berkembang dengan baik menyebabkan bayi
sangat rentan terhadap infeksi.
3. Imaturitas sistem syataf pusat menyebabkan mudahnya terjadinya perdarahan
peribentruker.
4. Imaturitas paru memudahkan terjadinya penyakit membran hialin.
5. Imaturitas metabolisme bilirubin mempermudah terjadinya hiperbiliribinemia.
6. Imaturitas saluran pencernaan mempermudah terjadinya sindrom malabsorbsi.
Faktor risiko BBLR
1. Ibu berusia kurang dari 18 tahun atau lebih dari 35 tahun.
2. Anemia.

3. Malnutrisi.
4. Anak kembar.
Pedoman pengkajian fisik
1. Pnegkajian umum
a. Dengan menggunakan timbangan elektronik, timbang setiap hari, atau lebih
sering apabila diinstruksikan.
b. Ukur panjang dan lingkar kepala secara periodik.
c. Gambarkan bentuk dan ukuran tubuh umum, postur saat istirahat,
kemudahan bernafas, adanya edema, dan lokasinya.
d. Gambarkan adanya deformitas yang nyata.
e. Gambarkan adanya tanda disstres: warna buruk, mulut terbuka, kepala
terangguk-angguk, meringis, alis berkerut.
2. Pengkajian pernafasan
a. Gambarkan bentuk dada (barrel, cembung), kesimetrisan, adanya insisi,
selang dada, atau penyimpangan lain.
b. Gambarkan otot aksesori: pernafasan cuping hidung atau substansial,
interkostal, atau retraksi subklavikular.
c. Tentukan frekuensi dan keteraturan pernafasan.
d. Auskultasi dan gambarkan bunyi pernafasan: stridor, krekels, mengi, ronki
basah, area yang tidak ada bunyinya, mengorok, penurunan udara masuk,
keseimbangan bunyi nafas.
e. Tentukan apakah penghisapan diperlukan.
f.

Gambarkan tangisan bila tidak diintubasi.

g. Gambarkan oksigen ambien dan metode pemberian, bila diintubasi


gambarkan ukuran selang, jenis ventilator dan penyiapannya, serta metode
pengamanan selang.
h. Tentukan saturasi oksigen dengan oksimetri nadi dan tekanan parsial
oksigen dan karbon dioksida dengan oksigen transkutan dan karbondioksida
transkutan.
3. Pengkajian kardiovaskular
a. Tentukan frekuensi dan irama jantung.
b. Gambarkan bunyi jantung, termasuk adanya murmur.
c. Tentukan titik intensitas maksimum, titik di mana bunyi dan palpasi denyut
jantung yang terkeras (perubahan pada titik intensitas maksimum dapat
menunjukkan pergeseran mediastinal).
d. Gambarkan warna bayi: sianosis, pucat, pletora, ikterik, mottling.
e. Kaji warna kuku, membran mukosa, bibir.

f.

Tentukan tekanan darah. Tunjukkan ekstremitas yang digunakan dan ukutan


manset, periksa setiap ekstremitas setidaknya sekali.

g. Gambarkan nadi perifer, pengisian kapiler (< 2 3 detik), perfusi perifer


mottling.
h. Gambarkan monitor, parameternya, dan apakah alarm berada pada posisi
on.
4. Pengkajian gastrointestinal
a. Tentukan distensi abdomen: lingkar perut bertambah, kulit mengkilat, tandatanda eritema dinding abdomen, peristaltik yang dapat dilihat, lengkung susu
yang dapat dilihat, status umbilikus.
b. Tentukan adanya tanda-tanda regurgitasi dan waktu yang berhubungan
dengan pemberian makan.
c. Gambarkan jumlah, warna, konsistensi, dan bau dari adanya muntah.
d. Gambarkan jumlah, warna, dan konsistensi feses, periksa adanya darah
samar dan atau penurunan substansibila diinstruksikan atau diindikasikan
dengan tampilan feses.
e. Gambarkan bisisng usus, ada atau tidak ada.
5. Pengkajian genitourinaria
a. Gambarkan adanya abnormalitas genetalia.
b. Gambarkan jumlah urin (warna, pH, dll).
c. Periksa BB (pengkajian paling akurat untuk hidrasi).
6. Pengkajian neurologis-muskuloskeletal
a. Gambarkan gerakan bayi: acak, bertujuan, gelisah, kedutan, spontan,
menonjol, tingkat aktivitas dengan stimulasi, evaliasi berdasarkan usia
gestasi.
b. Gambarkan posisi atau sikap bayi: fleksi, ekstensi.
c. Gambarkan reflek yang diamati: moro, menghisap, Babinski, reflek plantar,
dan reflek yang diharapkan.
d. Tentukan perubahan pada lingkar kepala (bila diindikasikan).
7. Pengkajian suhu
a. Tentuka suhu kulit dan aksila.
b. Tentukan dengan suhu lingkungan.
8. Pengkajian kulit
a. Gambarkan adanya perubahan warna, area kemerahan, tanda iritasi, lepuh,
abrasi atau area gundul, khususnya di mana alat pemantau, infus, atau alat
lain lontak dengan kulit, periksa juga dan perhatikan adanya preparat kulit
yang digunakan (misal plester,, providin-iodin).
b. Tentukan tekstur dan turgor kulit: kering, halus, pecah-pecah, terkelupas, dll.
c. Gambarkan adanya ruam, lesi kulit, atau tanda lahir.

d. Tentukan apakah kateter infus intravena atau jarum berada pada tempatnya
dan amati adanya tanda-tanda infiltrasi.
e. Gambarkan jalur pemadangn kateter infus intravena, jenis (arteri, vena,
perifer, umbilikus, sentral, vena sentral perifer), jenis infus (obat, salin,
dekstrosa, elektrolit, lemak, nutrisi parenteral total), jenis pompa infus dan
frekuensi aliran, jenis jarum (kupu=kupu, kateter), tampilan area insersi.
Tanda stres atau keletihan pada neonatus
1. Stres otonomik
a. Akrosianosis.
b. Pernafasan dalam dan cepat.
c. Frekuensi jantung reguler dan cepat.
2. Perubahan pada status
a. Status tidur atau dangkal.
b. Menangis atau rewel.
c. Mata berkaca-kaca atau kewaspadaan tegang.
3. Perubahan perilaku
a. Mata tidak berfokus atau tidak terkoordinasi.
b. Lengan dan kaki lemas.
c. Bahu flaksid turun ke belakang.
d. Cegukan.
e. Bersin.
f.

Menguap.

g. Mengejan, buang air besar.


Diagnosa yang mungkin muncul
1. Pola nafas tidak efektif b.d imaturitas paru dan neorumuskular, penurunan
energi, dan keletihan.
2. Termoregulasi tidak efektif b.d kontrol suhu yang imatur dan penurunan lemak
tubuh subkutan.
3. Resiko infeksi b.d pertahanan imunologis yang kurang.
4. Risiko gangguan integritas kulit b.d struktur kulit imatur, imobilitas, penurunan
status nutrisi, prosedur invasif.
5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d ketidakmampuan
mencerna nutrisi.
6. Nyeri b.d prosedur, diagnosa, tindakan.
7. Keterlambatan

pertumbuhan

perpisahan dari orangtua.

dan

perkembangan

b.d

lingkungan

NICU,

8. Perubahan proses keluarga b.d krisis situasi, gangguan proses kedekatan


orangtua.
Rencana keperawatan
No
Tujuan
Intervensi
1
Klien
Posisi untuk pertukaran udara
menunjukkan
yang optimal, seperti posisi
oksigenasi
telungkup dan posisi telentang
yang adekuat.
dengan leher sedikit ekstensi dan
Kriteria hasil:
hidung menghadap ke atap
jalan
nafas
dalam posisi mengendus
tetap paten
Hindari hiperekstensi leher.
Lakukan pengisapan.
Gunakan teknik penghisapan
yang tepat.
Gunakan teknik pengisapan duaorang.
Lakukan perkusi, vibrasi, dan
drainage postural yang sesuia.
Hindari
penggunaan
posisi
Trendelenburg.
Gunakan posisi semi-telungkup
atau miring.
Pertahankan suhu lingkungan
yang netral.

Klien
mempertahan
kan
suhu
tubuh stabil.
Kriteria hasil:
Suhu
aksila
bayi
tetap
dalam rentang
normal untuk
usia

Tempatkan bayi pada inkubator,


penghangat rsian, atau pakaian
hangat dalam keranjang terbuka.
Atur unit servokontrol atau kontrol
suhu udara sesuai kebutuhan.
Gunakan pelindung panas plastik
bila tepat.
Periksa
suhu
bayi
dalam
hubungannya
dengan
suhu

Rasional
telungkup:
posisi
ini
menghasilkan
perbaikan
oksigenasi,
pembrian
makan ditoleransi dengan
lebih baik, dan lebih
mengatur
pola
tidur.
Telentang:
untuk
mencegah
adanya
penyempitan jalan nafas.
Karena akan mengurangi
diameter trakhea.
Untuk
menghilangkan
mukus yang terkumulasi
dari nasofaring, trahkea,
dan selang endotrakheal.
Karena penghisapan yang
tidak
tepat
dapat
menyebabkan
infeksi,
kerusakan jalan nafas,
penumothoraks,
dan
hemoragi intraventrikuler.
Karena
asisten
dapat
memberikan
hiperoksigenasi
dengan
cepat sebelum dan setelah
insersi kateter.
Drainage
pustural
mempermudah
drainage
sekret.
Karena
ini
akan
menyebabkan peningkatan
TIK
dan
menurunkan
kapasitas paru akibat dari
gravitasi yang mendorong
organ ke arah diafragma.
Untuk mencegah aspirasi
pada bayi dengan mukus
berlebihan
atau
yang
sedang diberi makan.
Untuk
menghemat
penggunaan oksigen.

Untuk
mempertahankan
suu tubuh stabil.
Untuk
mempertahankan
suhu kulit dalam rentang
termal yang dapat diterima.
Untuk
menurunkan
kehilangan panas.
Untuk kehilangan panas
radian langsung.

pascakonseps
i.
Klien
tidak
menunjukkan
infeksi
nosokomial.
Kriteria hasil:
bayi
tidak
menunjukkan
tanda-tanda
infeksi
nosokomial.

Klien
mempertahan
kan intergritas
kulit.
Kriteria hasil:
kulit
tetap
bersih
dan
utuh
tanpa
tanda-tanda
iritasi
atau
cedera.

ambien dan suhu unit pemanas.


Pantau nilai glukosa darah.
Pastikan bahwa semua pemberi
perawatan
mencuci
tangan
sebelum dan setelah mengurus
bayi .
Padstikan bahwa semua alat
kontak dengan bayi sudah bersih
atau steril.
Cegah personel dengan infeksi
saluran pernafasan atas atau
infeksi menular agar tidak
mengadakan kontak langsung
dengan bayi.
Isolasi bayi lain yang mengalami
infeksi
sesuai
kebijakan
institusional.
Instruksikan pekerja perawatan
kesehatan da orangtua dalam
prosedur kontrol infeksi.
Beri terapi antibiotik sesuai
instruksi.
Pastikan aseptik ketat atau
sterilisasi seperti terapi IV perifer,
pungsi limbal, dan pemasangan
kateter arteri atau vena.
Bersihkan kulit dengan sabun
lembutatau pembersih . Bilas
dengan baik dengan air hangat.
Bersihkan mata setiap hari, dan
juga area oral dan popok atau
perianal, dan area di mana terjadi
kerusakan kulit.
Berikan zat pelembab setelah
dibersihkan
untuk
menpertahankan
kelembaban
dan rehidrasi kulit, bersihkan kulit
dari krim yang lama sebelum
menambahkan lapisan baru.
Gunakan plester atau perekat
minimal pada kulit yang sangat
sensitif,
gunakan
pelindung,
barier kulit dengan hidrokoloid
dan yang berbahan dasar pektin
di antara kulit dan plester atau
perekat.
Pastikan bahwa jari-jari tangan
atau jari kaki dapat terlihat kapan
pun, ekstremitas digunakan untuk
jalur IV atau arterial.
Kurangi
pergesekan
dengan
menjaga agar kulit tetap keringa
(berikan
bubuk
penyerap
(absoben), seperti tepung pati)
dan gunakan linen serta pakaian
yang halus dan lembut.
Jangan
memasase
daerah

Untuk
menentukan
euglikemia.
Untuk
meminimalkan
pemajanan
pada
organisme infektif.
Untuk
meminimalkan
pemajanan
pada
organisme infektif.
Untuk
mencegah
penularan penyakit dari
petugas ke bayi.
Untuk
mencegah
penularan penyakit kepada
bayi lain.
Untuk mencegah infeksi
nosokomial.
Untuk mematikan agen
infeksius.
Untuk mencegah infeksi
nosokomial.

Untuk menjaga kebersihan


kulit.
Untuk mencegah tetjadinya
rash pada kulit.
Untuk menjag integritas
kulit.
Untuk menghindari alergi
kulit.
Untuk mencegah adanya
luka pada daerah lipatan
dan
untuk
mencegah
plebitis
pada
daerah
insersi.
Untuk
mencegah
luka
gesekan pada bayi.
Untuk
mencegah
luka
dekubitus pada bayi.
Karena
mempengaruhi
kemampuan kulit untuk
mempertahankan
integritasnya.

Klien
mndapatkan
nutrisi
yang
adekuat,
dengan
masukan
kalori
untuk
mempertahan
kan
keseimbangan
nitrogen
positif,
dan
menunjukkan
penambahan
BB
yang
tepat.
Kriteria hasil:
Bayi
mendapatkan
kalori
dan
nutrien
esensial yang
adekuat.

Klien
mencapai
pertumbuhan
dan
perkembanga
n
potensial
yang normal.
Kriteria hasil:
Bayi
menunjukkan
penambahan
BB
mentap
saat melewati
fase
akut
penyakit. Bayi
hanya
terpapar
stimulasi yang
tepat.

tonjolan tulang yang memerah


karena
dapat
menyebabkan
kerusakan
jaringan
dalam,
berikan penghilang tekanan pada
area ini sebagai gantinya.
Secara rutin kaji status nutrisi
anak.
Pertahankan cairan parenteral
atau nutrisi parenteral total sesuai
intruksi.
Tantau
adanya
tanda-tanda
intileransi
terhadap
terapi
patenteral total, terutama protein
dan glukosa.
Kaji
kesiapan
bayi
umtuk
menyusu pada payudara ibu,
khususnya kemampuan untuk
mengkoordinasikan menelan dan
pernafasan.
Susukan bayi pada payudara ibu
bila penghisapan kuat, serta
menelan dan refleks muntah ada
(biasanya pada usia gestasi 35
sampai 37 minggu).
Ikuti
protokol
unit
untuk
meningkatkan
volume
dan
konsentrasi formula.
Gunakan
pemberian
makan
orogastrik bila bayi mudah lelah
atau mengalami penghisapan,
refleks muntah atau menelan
yang lemah.
Bantu ibu mengeluarkan ASI
Gunakan
berbagai
stategi
pengkajian nyeri.
Gunakan skala pengkajian nyeri
hanya untuk nyeri.
Kaji efektifitas tindakan nyeri
nonfarmakologis.
Evaluasi perubahan perilaku dan
fisiologis.
Observasi adanya perbaikan
perilaku, misalnya kepekaan
berkurang, berhenti menangis,
tidur, atau bermain setelah
pemberian analgesik.
Anjurkan
orangtua
untuk
memberi tindakan kenyamanan
bila memungkinkan.

Untuk
mempertahankan
balance cairan.
Untuk menncegah terjadi
diare karena intileransi
laktosa.
Untuk mencegah tersedak.
Unutk meminimalkan risiko
aspirasi.
Untuk
menghindari
intoleransi
pembrian
makan.
Karena makan dengan ASI
dapat
mengakibatkan
penurunan BB.
Untuk menciptakan dan
mempertahankan
laktasi
sampai
bayi
dapat
menyusu ASI.

Karena
strategi
yang
berbeda
meberikan
informasi kualitaitf dan
kuantitatif tentang nyeri.
Pneggunaan skala ganda,
misalnya sebagai ukuran
umum terhadap perasaan
anak, dapat menyebabkan
anak kehilangan minat
pada skala.
Karena beberapa tindakan
(misalnya
mengayun)
dapat
meningkatkan
disstres bayi prematur.
Karena
perubahanperubahan
ini
adalah
indikator umum dari nyeri
pada anak dan nilai khusus
dalam
mengkaji
pada
pasien nonverbal.
Karena
perilaku-perilaku
seperti
ini
merupakan
petunjuk terbaik untuk nyeri
yang
ada
sebelum

Klien
mencapai
pertumbuhan
dan
perkembanga
n
potensial
yang normal.
Kriteria hasil:
bayi
hanya
terpapar
stimulus yang
tepat.

Berikan nutrisi optimal.


Berikan periode istirahat yang
teratur tanpa gangguan.
Berikan intervensi perkembangan
sesuai usia.
Kenali
adanya
tanda-tanda
stimulasi berlebihan (flaksiditas,
menguap,
membelalak,
memalingkan wajah dengan aktif,
peka rangsang, menangis).
Tingkatkan interaksi orangtuabayi.

Klien
(keluarga)
mendapatkan
informasi
tentang
kemajuan
bayi.
Kriteria hasil:
orangtua
mengekspresi
kan perasaan
dan
kekuatiran
mengenai bayi
dan
prognosis,
serta
menunjukkan
pemahaman
dan
keterlibatan
dalam
perawatan.

Prioritaskan informasi.
Bersikap jujur, berespon p[ada
pertanyaan dengan jawaban
yang benar.
Dorong ibu dan ayah untuk
berkunjung
dan
atau
menghubungi unit dengan sering.
Tekankan aspek positif dari status
bayi.

pemberian analgesik.
Karena orangtua adalah
yang paling mengetahui
tentang anak mereka.
Untuk
menjamin
penambahan BB yang
mantap dan pertumbuhan
otak.
Untuk
menurunkan
penggunaan kalori dan
oksigen yang tidak perlu.
Untuk mendapatkan tingkat
perkembangan
sesuai
dengan usia.
Sehingga bayi dibiarkan
untuk istirahat.
Karena merupakan hal
yang
esensial
untuk
pertumbuhan
dan
perkembangan nornal.
Untuk membantu orangtua
memahami aspek paling
penting dari perawatan,
tanda
perbaikan,
atau
penyimpangan
pada
kondisi bayi.
Untuk menciptakan rasa
percaya.
Sehingga
mereka
mendapat
informasi
tentang kemajuan bayi.
Untuk mendorong rasa
pengharapan.

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FK UGM


FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN ANAK
Nama mahasiswa/NPM
Tempat praktek
Tanggal

: Yani Indrastuti
: NICU RS Sardjito
: 22 Mei s.d 27 Mei 2005

I. IDENTITAS DATA
Nama
Tempat/tanggal lahir
Nama ayah/ibu
Pekerjaan ayah
Pendidikan ayah
Pekerjaan ibu
Pendidikan ibu
Alamat/no. telepon
Kultur
Agama

: By. Ny. S
: Yogyakarta, 13 Mei 2005
: Tn. S / Ny. S
: PNS
: STM
: IRT
: SMEA
: Wonosidi, Wates, KulonProgo
: Jawa
: Islam

II. KELUHAN UTAMA


Bayi perempuan lahir dari ibu usia 43 tahun menderita PEB, P3A0, spontan, cukup
bulan, ditolong dokter di RS Sardjito, tidak langsung menangis, A/S 2/3, ketuban hijau
kental, KPD (-), BBL 1800 gram
III. RIWAYAT KELAHIRAN DAN KELAHIRAN
1. Prenatal
Jumlah kunjungan
: 10 kali
Bidan/dokter
: Bidan 6 X dokter 4 X
Penkes yang didapat
: Dianjurkan untuk banyak makan buah dan sayur
dan mengkonsumsi pace sebagai pengganti obat
hipertensi
HPHT
: 8 Agustus 2004
Kenaikan BB selama hamil
: Tidak jelas, timbangan terakhir 70 kg
Komplikasi kehamilan
: PEB
Komplikasi obat
:Obat-obatan yang didapat
: vitamin
Riwayat hospitalisasi
:Golongan darah ibu
:A
Pemeriksaan kehamilan/maternal sceening
(-) Rubella
(-) Hepatitis
(-) CMV
(-) GO
(-) herpes
(-) HIV
(-) lain-lain sebutkan: 2. Natal
Awal Persalinan
: Tgl 14 Mei 2005, ibu lupa jam berapa
Lama persalinan
: Bayi lahir tgl 15 mei 2005 jam 04.00 WIB
Komplikasi persalinan
:Terapi yang diberikan
:Cara melahirkan
: ( ) pervaginan
( ) Caesar
( ) lain-lain sebutkan
Tempat melahirkan
( ) Rumah bersalin
( ) Rumah
( ) rumah sakit
3. Postnatal
Usaha napas
Kebutuhan Resusitasi

( ) dengan bantuan

( ) tanpa bantuan

Jenis dan lamanya dari 1 menit dan 5 menit: ETT (Ventilasi tekanan
positive)
Skor Apgar
: 2/3
Obat-obatan yang diberikan pada neonatus: Vit.K
Interaksi orang tua dan bayi
( ) ada
( ) tidak ada
Ibu menjenguk pada siang hari selama 4 jam, ayah hanya melihat lewat kaca
Trauma lahir
( ) ada
( ) tidak ada
Keluarnya urin/BAB
( ) ada
( ) tidak ada
Respon fisiologis atau perilaku yang bermakna: Gerak tidak aktif
IV. RIWAYAT KELUARGA
Bayi (pasien) merupakan anak ke-3 dalam keluarga. Anak pertama 15 tahun dan anak
kedua 11 tahun, semuanya berjenis kelamin perempuan dan lahir dengan sehat, BBL
cukup dan usia kehamilan cukup bulan.
Garis ayah dari keluarga ibu mempunyai penyakit hipertensi. Semua saudara ibu
mempunyai penyakit hipertensi
GENOGRAM

Keterangan:
: Perempuan
: Laki-laki

: meniggal
: Klien

:Tinggal1rumah
V. RIWAYAT SOSIAL
1. Sistem pendukung yang dapat dihubungi: Ayah dan ibu
2. Hubungan orang tua dengan bayi
Ibu

Menyentuh

Memeluk

Berbicara

Berkunjung

Kontak mata
3. Anak yang lain
Jenis Kelamin Anak
Perempuan
Perempuan
Kelahiran ini

Riwayat Persalinan
Spontan, 3600 gram,
Spontan, 3800 gram,

Ayah

Riwayat Imunisasi
Lengkap
Lengkap

4. Lingkungan Rumah
Rumah yang dihuni adalah rumah permanen, cukup bersih, udara bersih, cukup sinar
matahari, lingkungan rumah cukup bersih, keluarga tidak mempunyai masalah
dengan lingkungan atau tetangga.
5. Problema social yang penting
(-) Kurangnya system pendukung social
(-) Perbedaan bahasa
(-) Riwayat penyalahgunaan zat adiktif (obat-obatan)
(-) Lingkungan rumah yang kurang memadai
() keuangan
(-) Lain, lain, sebutkan
VI. KEADAAN KESEHTAN SAAT INI
1. Diagnosa Medis
: BBLR, cukup bulan, spontan, KMK
Aspirasi mekonium
Riwayat asfiksia berat
2. Tindakan Operasi
:3. Status nutrisi
: BB bayi saat ini 1798 kg. Bayi minum ASI/PASI 8
x 35-45 cc
Bayi terpasang NGT, mulai hari ini sudah dapat
belajar netek. Setiap akan diberi susu, tidak ada
residu, tapi bayi masih muntah 2cc 1x
D10 S : 40 cc/kgBB/hr : 1,6 cc/jam stop
Kalori 106 kkal
4. Status cairan
: Kebutuhan cairan 160 cc/kgBB/hari : 288 cc/hari
5. Obat-obatan
: Thermoregulasi
Ampicilin 2X100mg
Gentamicin 2x5mg
Aminopilin 3x4mg
Laktoferin 2x
6. Aktivitas
: Bayi aktif bergerak
7. Tindakan Keperawatan yang telah dilakukan
Perawatan kebersihan diri
Pemberian nutrisi (ASI/PASI) secara bertahap sesuai dengan kemampuan bayi,
Menimbang BB, mengobservasi vital sign, memberikan terapi, mengatur posisi bayi
secara bergantian, menjaga keseimbangan suhu tubuh bayi, mengobservasi intake
nutrisi dan eliminasi (feses/urin)
8. Hasil Laboratorium
13-5-05
Differential manual:
WBC : 24,16 x 103/l
segmen
: 43
RBC : 4,66 x 106/l
Lymp
: 50
HGB : 17,9 g/dl
Mono
:2
HCT : 60,6%
1/c rasio
: 0,2
MCV : 130 fl
MCH : 38,4 pg
MCHC : 29,5 g/dl
PLT
: 53 x 103l
9. Pemeriksaan Penunjang:
13-5-2005
Elektrolit
Ca
: 2,29 mmol/l
Glu
: 3 mg/dl
Na
: 135 mmol/l
K
: 4,30 mmol/l
Cl
: 104 mmol/l

10. Lain-lain: VII. PEMERIKSAAN FISIK


Keadaan Umum
: Baik
Kesadaran
: CM
Tanda vital
: Nadi : 113x/mnt
RR : 56x/mnt

1. berat badan (gram)


2. Panjang badan
3. Lingkar Kepala

Suhu
TD
Saat lahir
1800
45
30

: 37,70C
:
Saat ini
1798
45
31

Beri tanda (cek) pada istilah yang tepat dari data-data di bawah ini. Gambarkan semua
temuan abnormal secara objektif, gunakan kolom komentar bila perlu.
1. Reflek
() Moro
() Menggenggam
() Menghisap
2. tonus / aktivitas
a. (-) Aktif
() Tenang
(-) letargi
(-) Kejang
b. () Menangis keras
(-) Lemah
(-) Melengking
(-) Sulit menangis
3. Kepala / Leher
a. Fontanel anterior
() Lunak
(-) Tegas
(-) Datar
(-) Menonjol
(-) Cekung
b. Sutura Sagitalis
() Tepat
(-) Terpisah
(-) Menjauh
c. Gambaran wajah
() Simetris
(-) Asimetris
d. Molding
(-) Caput succudaneum
(-) Chepalohematome
4. mata
() Bersih
(-) Sekresi,
5. THT
a. Telinga
() Normal
(-) abnormal
b. Hidung
() Bilateral
(-) Obstruksi
(-) Cuping hidung
c. Palatum
() Normal
(-) abnormal
6. Abdomen
a. () Lunak
(-) Tegas
(-) Datar
(-) kembung
b. Lingkar perut
: 25 cm
c. Liver
: () kurang dari 2 cm
(-) Lebih dari 2 cm
7. Toraks
a. () Simetris
(-) Asimetris
b. Retraksi () Derajad 1
(-) Derajad 2
(-) Derajad 3
c. Klavikula : () Normal
(-) Abnormal
8. Paru-paru
a. suara napas
: () Sama Kanan kiri
(-) Tidak sama kanan kiri
() bersih
(-) Ronkhii
(-) Rales
(-) Sekret
b. Bunyi napas
() terdengar di semua lapang paru (-) Tidak terdengar
(-) Menurun
c. Respirasi
() Spontan
jumlah : 56 x/mnt
(-) Sungkup/boxhead,
jumlah : - x/mnt
(-) ventilasi assisted CPAP
9. Jantung
a. () Bunyi Normal Sinus Rytm (NSR)
: 113 x/mnt
(-) Murmur
(-) lain-lain, sebutkan

10. Ekstremitas
() semua ekstremitas gerak
(-) ROM terbatas
b. Ekstremitas atas dan bawah
: () simetris
11. Umbilikus
: normal
12. Genital
: Paten
13. Anus
: paten
14. Spina
: normal
15. Kulit
Warna
: pink, keriput, sedikit lapisan lemak
16. Suhu
a. Lingkungan
: suhu ruang dan boks terbuka
b. Suhu kulit
: 37,70C

(-) tidak dapat dikaji


(-) Asimetris

Komentar:
Terjadi penurunan berat badan, suhu tubuh belum stabil.
VIII. PEMERIKSAAN TINGKAT PERKEMBANGAN/REFLEK PRIMITIF
1. Kemandirian dan bergaul
Bayi menangis bila haus, BAB/ngompol
2. Motorik halus
Bayi mampu mengeluarkan tangan dari bedongan
3. Kognitif dan bahasa
Bisa mengikuti arah datangnya rangsang
4. Motorik kasar
Saat tidur telentang bisa menggerakkan kaki dan tangan
IX. RINGKASAN RIWAYAT KEPERAWATAN
Bayi perempuan dengan diagnosa medis BBLR, CK, KMK, aspirasi mekonium, dengan
riwayat asfiksia berat, dengan BBL 1800 gram, KU: CM, Suhu: 37,7 0C, Nadi: 113 x/mnt,
RR: 56 x/mnt.
Pengobatan: Thermoregulasi
- Ampicilin 2X100mg
- Gentamicin 2x5mg
- Aminopilin 3x4mg
- Laktoferin 2x
- ASI/PASI 8 x 35-45 cc
- Kebutuhan cairan: 160 cc/kgBB/hr
Kesimpulan perkembangan
- Menangis bila tidak nyaman
- Mengeluarkan suara
- Menggerakkan tangan dan tungkai ketika telentang

X. ANALISA DATA
DATA
DS: DO: - BBL 1800 gram
- Terjadi penurunan BB
DS: DO: Suhu 37,70C
Nadi 113 x/mnt

MASALAH
Nutrisi
kurang
kebutuhan tubuh

PENYEBAB
dari ketidakmampuan mencerna

Termoregulasi tidak efektif

nutrisi.
kontrol suhu yang imatur dan
penurunan

lemak

tubuh

subkutan.
DS: Resiko infeksi
DO: BBL 1800 gram
Bayi terpasang infuse di
tangan kiri
Terpasang NGT
DS:
Impaired parenting
- Ibu mengatakan bahwa
karena rumahnya jauh dan
ibu
pusing
bila
naik
kendaraan umum maka ibu
jarang menengok bayi.
- Ibu mengatakan sibuk
mengurusi anaknya yang lain
DS: Pola napas tidak efektif
DO:
-RR: 56 x/mnt
-Punya riwayat asfiksia berat
-Aspirasi mekonium
-Terdapat retraksi dada

Prosedur
invasive,
pertahanan imunologis yang
kurang
Perpisahan dengan orang tua,
kesulitan transportasi

imaturitas
neorumuskular,

paru

dan

penurunan

energi, dan keletihan.

Prioritas masalah:
1. pola napas tidak efektif b.d imaturitas paru dan neorumuskular, penurunan energi,
dan keletihan
2. Termoregulasi tidak efektif b.d kontrol suhu yang imatur dan penurunan lemak
tubuh subkutan.
3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan mencerna nutrisi.
4. Resiko infeksi b.d prosedur invasive, pertahanan imunologis yang kurang
5. Impaired parenting b.d perpisahan dengan orang tua, kesulitan transportasi