Anda di halaman 1dari 20

PELAKSANAAN MANAJEMEN BIMBINGAN

KONSELING DI SEKOLAH

MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Manajemen Bimbingan dan Konseling
Dosen Pengampu :Prof. Dr. Sugiyo, M.Si.

Imroatul Hayyu Erfantinni

0105514047

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING


PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam sebuah lembaga pendidikan bimbingan dan konseling merupakan
suatu komponen yang sangat penting untuk memejukan mutu sebuah sekolah.
Karena jika kita lihat pada masyarakat pada umumnya sebuah sekolah atau
lembaga pendidikan secara umum dapat dikatakan berkualitas dengan cara
melitak output yang dihasilkan oleh sebuah sekolah, dalam arti kata
masyarakat akan menganggap sebuah sekolah itu berkualitas apabila siswa
atau peserta yang dihasilkan memiliki kualitas dan memenuhi harapan yang
masyarakat inginkan.
Ukuran kualitas lulusan tidak hanya diukur dari kematangan kognitif
saja, akan tetapi ukuran seorang peserta didik bisa dikatakan berkualitas
apabila dia sudah matang secara emosional, sosial, dapat menyesuaikan diri
dengan lingkungan, dapat mengembangkan bakat yang ada dalam dirinya,
dapat memenuhi kebutuhannya secara mandiri dan juga yang paling penting
yaitu kematangan moral, siswa bisa dikatakan berkualitas jika dia memiliki
moral yang baik, baik itu moral yang berlandaskan kepada norma-norma yang
berlaku dalam masyarakat maupun moral yang ada dalam agama.
Pada perkembangannya, manajemen digunakan secara luas termasuk
dalam bidang pendidikan. Driyarkara (dalam Nanang Fattah, 2011)
mengatakan bahwa pendidikan adalah memanusiakan manusia muda.
Pendidikan merupakan kegiatan yang kompleks, meliputi berbagai komponen
yang berkaitan satu sama lain. Untuk itu diperlukan pengelolaan usaha
pendidikan sebagai suatu sistem yang terstruktur melalui manajemen.
Optimalisasi pelayanan bimbingan dan konseling perlu dilakukan
sehingga pelayanan Bimbingan dan Konseling benar-benar memberikan
kontribusi pada pencapaian visi, misi, dan tujuan sekolah yang bersangkutan.
Suatu program pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah tidak mungkin
akan tersusun, terselenggara dan tercapai apabila tidak dikelolah dalam suatu
sistem manajemen yang bermutu. Manajemen yang bermutu sendiri akan
banyak ditentukan oleh kemampuan manajer pendidikan di sekolah dalam

merencanakan,

mengorganisasikan,

mengarahkan,

dan

mengendalikan

sumber daya yang ada.


Karena manajemen bimbingan dan konseling sangat dapat membantu
sekolah dalam meningkatkan mutu dari sekolahnya itu khususnya dalam
pengembangan sumber daya manusia yang ada dilingkungan sekolah.
Oleh karena itu manajemen bimbingan konseling merupakan satu
komponen yang sangat dibutuhkan dalam sebuah lembaga pendidikan untuk
meningkatkan mutu pendidikan dari segi kematangan sumber daya manusia.
Bimbingan dan konseling merupakan upaya bantuan untuk mewujudkan
perkembangan manusia secara opimal baik secara kelompok maupun
individual sesuai dengan hakikat kemanusiaannya dengan berbagai potensi,
kelebihan dan kekurangan, kelemahan, serta permasalahannya.
Oleh karena itu pelaksanakan manajemen bimbingan dan konseling harus
dirumuskan secara matang baik dari segi program pelayanan bimbingan dan
konseling, meneliti hal-hal apa sajakah yang dibutuhkan oleh para siswa,
materi-materi yang harus diajarkan untuk membentuk kematangan siswa,
satuan layanan dan kegiatan dalam bimbingan dan konseling, dapat
merumuskan dengan baik tatalaksana bimbingan dan konseling, dan
mengevaluasi program yang telah dilaksanakan.
Manajemen bimbingan dan konseling harus dilaksanakan secara matang
agar tujuan dari sebuah lembaga pendidikan yaitu menghasilkan lulusan yang
berkualitas dapat tercapai dengan efektif dan efisien
B. Perumusan Masalah
Adapun rumusan masalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1. Apa pengertian manajemen bimbingan dan konseling?
2. Bagaimana pelaksanaan pengarahan program bimbingan dan konseling ?
3. Bagaimana evaluasi pelaksanaan program bimbingan dan konseling ?
C. Tujuan Dan Manfaat
1. Untuk mengetahui pengertian manajemen bimbingan dan konseling.
2. Untuk mengetahui bagaimana perencanaan program bimbingan konseling.

3. Untuk

mengetahui

bagaimana

pelaksanaan

pengarahan

program

bimbingan dan konseling.


4. Untuk mengetahui bagaimana evaluasi pelaksanaan program bimbingan
dan konseling.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Manajemen Bimbingan dan Konseling
1. Manajemen
Manajemen berasal dari bahasa Inggris, management dengan kata
kerja to manage yang berarti mengelola. Kata mengelola mempunyai
makna yang luas seperti mengatur, mengarahkan, mengendalikan,
menangani, dan melaksanakan serta memimpin.(Sugiyo, 2011).
Manajemen berhubungan dengan pencapaian tujuan yang dilakukan
melalui orang lain H. Koontz & O Donnel (dalam purwoko budi, 2008).
Sedangkan menurut siagian manajemen dinyatakan sebagai kemampuan
atau ketrampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka pencapaian
tujuan melalui kegiatan kegiatan orang lain. Berdasarkan definisi
tersebut maka manajemen diartikan sebagai alat pelaksana utama
administrasi, yaitu alat untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan
dalam administrasi.
Pendapat dari berbagai ahli diatas yang beragam dapat ditarik
kesimpulan bahwa manajemen mempunyai beberapa esensi yaitu (1)
manajemen sebagai suatu proses kegiatan, (2) manajemen untuk mencapai
tujuan, dan (3) manajemen memanfaatkan sumber daya (manusia,
lingkungan, fasilitas, sarana, prasarana, dan lain-lain).
Dalam proses manajemen terlibat fungsi fungsi pokok yang
ditampilkan oleh seorang manajer / pimpinan , yaitu perencanaan
(planning), pengorganisasian (organizing), Pemimpinan (leading), dan
pengawasan (controlling), jadi manajemen merupakan suatu proses
melaksanakan fungsi fungsi yang telah disebutkan diatas.
2. Bimbingan dan Konseling
Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh
orang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang individu, baik anak
anak, remaja, maupun dewasa agar orang yang dibimbing dapat
mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan
memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat
dikembangkan berdasarkan norma norma yang berlaku (Prayitno, 2008).

Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui


wawancara konseling oleh seorang ahli (konselor) kepada individu yang
sedang mengalami sesuatu masalah (klien) yang bermuara pada teratasinya
masalah yang dihadapi klien.
Bimbingan dan konseling merupakan seperangkat program pelayanan
bantuan yang dilakukan melalui kegiatan perorangan dan kelompok untuk
membantu peserta didik melaksanakan kehidupan sehari hari secara
mandiri dan berkembang secara optimal, serta membantu peserta didik
mengatasi masaah yang dihadapinya.(Badrujaman, 2010)
3. Manajemen Bimbingan dan Konseling
Pada prinsipnya manajemen memuat makna segala upaya menggerakkan
individu atau kelompok untuk bekerja sama dalam mendayagunakan
sumber daya dalam suatu sistem untuk mencapai tujuan. Apabila
diterapkan dalam pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah, maka
manajemen bimbingan dan konseling adalah segala upaya atau cara yang
digunakan untuk mendayagunakan secara optimal semua komponen atau
sumber daya (tenaga, dana, sarana/prasarana) dan sistem informasi berupa
himpunan data bimbingan untuk menyelenggarakan pelayanan bimbingan
dan konseling dalam rangka mencapai tujuan. Prinsip-prinsip dalam
Manajemen Pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi : planning,
organizing, staffing, leading & controlling.
Sugiyo (2011) menjelaskan bahwa manajemen bimbingan dan konseling
merupakam salah satu kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh
konselor. Hal tersebut dikarenakan dalam kegiatannya seorang konselor
harus merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan dan mengevaluasi
kegiatan bimbingan dan konseling. Melalui perencanaan yang baik akan
memperoleh kejelasan arah pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling
serta memudahkan untuk mengontrol kegiatan yang dilaksankan.

B. Pelaksanaan Pengarahan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah


Aktualisasi pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling perlu
disadari bahwa berbeda dengan guru bidang studi yang lain yang sudah
terjadwal secara rincidan jelas, sedangkan pada konselor kegiatan dapat
5

dilakukan di dalam kelas dan diluar kelas, sehingga konselor dituntut mampu
mengalokasikan kegiatan kegiatan yang ada di dalam kelas dan di luar kelas
sehingga kegiatan berjalan dengan baik dan dapat mencapai tujuan yang telah
ditentukan. Selanjutnya semua kegiatan yang telah dilaksankan dievaluasi
secara komprehensif yang mencakup penilaian personil, program dan
penilaian dampak/hasil, baik dalam jangka pendek, menengah maupun jangka
panjang.
Manajemen bimbingan dan konseling yang terarah dan sistematis
merupakan manifestasi dan akumulasi pelayanan bimbingan dan konseling
sehingga merupakan salah satu indikator kerja konselor. Selanjutnya dengan
manajemen bimbingan dan konseling yang sistematis dan terarah yang baik
pada gilirannya akan memberikan panduan pelaksanaan kegiatan bimbingan
konseling sekaligus menghilangkan kesan bahwa konselor bekerja sifatnya
isedental dan bersifat kuratif semata mata. Sehubungan dengan konsep
manajemen maka penerapan atau implementasi manajemen bimbingan dan
konseling merupakan salah satu manifestasi suatu kegiatan yang sistematis
tentang bagaimana merencanakan suatu aktifitas bimbingan dan konseling,
bagaimana menggerakkan sumber daya manusia yang ada dalam organisasi
bimbingan dan konseling untuk mencapai tujuan, mengawasi bagaimana
kegiatan bimbingan dan konseling berjalan dan menilai kegiatan bimbingan
dan koseling.
Berdasarkan hal tersebut, maka implementasi pelaksaanaan manajemen
bimbingan dan konseling disekolah, yang kaitannya dengan proses
perencanaan, pengorganisasian,pelaksanaan, dan pengawasan. Dasar yang
menjadi acuan dari penulisan ini adalah pengalaman yang didapatkan penulis
pada saat melakukan observasi disekolah sekolah, yang ternyata
kebanyakan ditemui fakta fakta yang sama mengenai implementasi
pelaksanaan manajemen bimbingan dan konseling. Yaitu sebagai berikut:
1. Planning (Perencanaan)
Planning atau perencanaan adalah proses penentuan tujuan atau sasaran
yang hendak dicapai dan menetapkan jalan serta sumber yang untuk mencapai
tujuan itu seefektif mungkin dan seefesien mungkin. Secara umum perencanaan

merupakan pedoman yang memberi arah pelaksanaan Bimbingan Konseling


dalam mencapai tujuannya. Wujud perencanaan adalah persiapan persiapan
sistem, teknik, metode, fasilitas, personalia, waktu, dan pencapaian aktivitas
Bimbingan Konseling. Keseluruhan aspek tersebut tidak dibahas satu persatu
namun terangkum dalam program Bimbingan dan Konseling. Perencanan
program harus memenuhi aspek terkait kebutuhan kebutuhan para siswa, sejauh
mana kebutuhan kebutuhan tersebut telah dapat terpenuhi pada kondisi
sekarang, dan bagaimana sekolah dapat memenuhi kebutuhan tersebut dengan
lebih baik yang menyangkut kemampuan sekolah mewujudkan jenis bantuan
tertentu berdasarkan potensi dan daya dukung personil, keuangan, sarana
prasarana, waktu, maupun kebijakan. Untuk mengetahui kebutuhan kebutuhan
tersebut perlu dilakukan assesmen
Dalam perencanaan ini konselor sekolah rata rata telah melakukan
perencanaan yang baik, yaitu dengan memperhatikan sebagai berikut:
a.

Analisis kebutuhan/permasalahan siswa,

b. Penentuan tujuan yang ingin dicapai,


c.

Analisis situasi dan kondisi sekolah,

d. Penentuan jenis kegiatan yang akan dilakukan,


e.

Penentuan teknik dan strategi kegiatan,

f.

Penentuan personil personil yang akan melaksanakan,

g. Perkiraan biaya dan fasilitas yang digunakan,


h.

Mengantisipasi kemungkinan hambatan dalam pelaksanaan kegiatan bimbingan


dan konseling, dan

i.

Waktu dan tempat artinya kapan kegiatan itu akan dilaksanakan dan dimana
kegiatan itu akan dilakukan.
Perencanaan yang dilakukan oleh konselor sekolah telah dilakukan dengan
matang, hal tersebut terbukti dengan banyaknya pertimbangan yang harus
diperhatikan oleh konselor untuk merencakan program bimbingan dan konseling.
Perencanaan yang telah matang ini bertujuan untuk menunjukkan eksistensi
bahwa konselor itu benar benar bekerja sistematis dalam pembuatan program,
bukan isidental. Karena didapati banyak guru yang masih menganggap konselor
itu sebagai guru yang tidak memiliki perencanaan yang baik. Dengan adanya

perencanaan yang baik yang dilakukan konselor, maka kesan buruk itupun sedikit
demi sedikit telah mulai berkurang.
2. Organizing (Pengorganisasian)
Perencanaan yang matang saja tidaklah cukup untuk membuat progaram
bimbingan dan koseling. Selanjutnya tahap yang harus dikerjakan oleh konselor
adalah organizing atau pengorganisasian, yaitu proses untuk merancang,
mengelompokan, dan mengatur serta membagi bagi tugas atau pekerjaan
diantara anggota organisasi bimbingan dan konseling, agar tujuan dari organisasi
bimbingan dan konseling dapat dicapai dengan efisien. Konselor sekolah
menentukan siapa saja pihak pihak yang dilibatkan, sarana dan prasarana apa
saja yang dibutuhkan. Biasanya konselor sekolah melibatkan semua stakeholder
sekolah untuk membantu pembuatan dan pelaksanaan program bimbingan dan
konseling, yaitu dari penjaga sekolah/satpam, ibu kantin, cleaning servis, guru
mata pelajaran, wali kelas, wakil kepala sekolah, sampai dengan kepala sekolah.
Pengorganisasian ini sendiri bertujuan untuk meningkatkan efektifitas dan
efesiensi pelaksanaan bimbingan dan konseling, meningkatkan pemahaman
terhadap stakeholder dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling, membangun
komunikasi dari berbagai petugas bimbingan dan konseling sehingga terjadi
persepsi yang sama, dan membangun dan menetapkan akuntabilitas dalam
layanan bimbingan dan konseling (Sugiyo, 2011)
Pengergonisasian ini sering kali menemui banyak kendala, yaitu sebagai
berikut:
a. Kurangnya pengetahuan mereka mengenai pentingnya bimbingan dan
konseling,
b. Terjadinya banyak kesalahpahaman mengenai bimbingan dan koneling
disekolah
c. Kurangnya pengetahuan mereka mengenai peran konselor dan kedudukan
bimbingan dan konseling disekolah
d. Masih banyaknya pihak yang menganggap bahwa bimbingan dan
konseling adalah tidak penting
e. Banyak guru mata pelajaran yang menganggap guru BK/Konselor sekolah
adalah guru yang suka mengganggu pelajaran, karena sering memanggil
siswa disaat jam pelajaran.

Banyaknya kendala tersebut tidak menyurutkan semangat para konselor


sekolah untuk melakukan pengorganisasian. Mereka para konselor sekolah yang
asalnya banar benar dari jurusan bimbingan dan konseling akan melakukan
pendekatan pendekatan untuk membenahi kesalahpahaman yang terjadi. Tetapi
jika dalam sekolah tersebut konselor sekolahnya berasal bukan dari jurusan
bimbingan dan konselinng, maka mereka akan tetep membiarkan hal ini
berlanjut. Hal tersebut dikarenakan, untuk menjelaskan kesalahpahaman
tersebut, dia tidak memiliki dasar yang kuat.
Untuk mengatasi kendala kendala dalam pengorganisasian, konselor
sekolah menjalin komunikasi yang baik dengan stakeholder lainnya.
Menjelaskan peran stakeholder dalam kaitannya pelaksanaan pemberian layanan
bimbingan dan konseling. Dengan komunikasi yang terjalin dengan baik
diantara stakeholder, maka kendala kendala yang sebelumnya terjadi akan
sedikit demi sedikit teratasi. Dengan seperti itu, stakeholder lainnya akan
mengerti tugas dan peran mereka dalam membantu pelaksanaan layanan
bimbingan dan konseling.

Manurut konselor sekolah yang panulis ketemui,

intinya dari pengorganisasian ini adalah harus membina hubungan komunikasi


yang baik diantara stakeholder, dengan seperti itu akan membuat tujuan yang
ingin dicapai dapat terpenuhi.
selain itu, pelibatan orang-orang dalam organisasi bimbingan dan konseling
ini tidak hanya semata-mata dari personel sekolah akan tetapi dari pihak diluar
sekolah. Pelibatan orang-orang tersebut sebagai koordinasi dapat membantu dalam
menetapkan hubungan antar personalia dan sumber daya yang lain termasuk
stakeholder lain diluar lembaga sehingga dapat berfungsi secara optimal. Purwoko
(2008) membagi tugas personel sekolah dalam bimbingan dan konseling sebagai
berikut:

Personil

1) Kepala sekolah

1) Menyusun program sekolah secara keseluruhan, termasuk menyusun secara


kolektif program bimbingan yang bersifat komprehensif
2) Mengusahakan bentuk-bentuk pembinaan intern yang intensif melalui rapat
rutin, incidental, konfrensi kasus, dsb
3) Mengkoordinasikan bentuk kegiatan bimbingan konseling dengan kegiatan
guru bidang studi
4) Mengusahakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh bimbingan
konseling
5) Mengadakan hubungan kerjasama dengan instansi lain diluar sekolah yang
berhubungan dengan bimbingan konseling
6) Mengusahakan dan membina bentuk kerjasama bimbingan dan konseling
antar sekolah dalam berbagai bentuk dan pengalaman.
7) Mendorong para petugas bimbingan konseling untuk melaksanakan
tugasnya, serta menciptakan situasi yang menggairahkan kerja petugas
bimbingan dan konseling
8) Menggali berbagai sumber informasi yang dapat digunakan untuk
pengembangan bimbingan konseling.
9) Mengawasi pelaksanaan program bimbingan dan konseling.
2) Konselor
1) Mengkoordinasikan penyusunan program bimbingan dan konseling
2) Memberikan garis-garis kebijakan umum kegiatan bimbingan konseling
3) Bertanggung jawab atas pelaksanaan program bimbingan konseling
4) Memberikan laporan kegiatan kepada kepala sekolah
5) Membantu para siswa dalam memahami dan menyesuaiakan diri sendiri,
lingkungan sekolah, dan lingkungan social.
6)

Menyelenggarakan prtemuan dan mengadakan konsultasi dengan guru,


wali kelas, dan staf sekolah.

7) Melaksanakan bimbingan kolompok dan konseling individual


8) Mengumpulkan dan menyusun data, mengolah dan menafsirkan data,serta
dipergunakan untuk pihak-pihak yang berkepentingan
9)

Memberikan berbagai informasi kepada siswa sehubungan dengan


pendidikan dan pekerjaan

10

10) Mngadakan konfrensi kasus untuk membicaakan masalah yang dihadapi


siswa serta upaya untuk memecahkannya.
11) Mengadakan konsultasi orang tua siswa dan melaksaknakan kunjungan
rumah
12)

Mengadakan

kerjasama

dengan

instansi

lain

berkaita

dengan

penyelenggaraan program bimbingan konseling


13) Memilih dan mempergunakan instrument sesuai kewenangannya untuk
kepentingan bantuan siswa
14) Bersama guru membantu siswa memilih pengalaman kegiatan kurikulum
yang sesuai dengan minat dan kebutuhannya
15) Menyelenggarakan layanan reveral kepada pihak-pihak yang berwenang
16) Mengadakan evaluasi dan studi tindak lanjut berkaitan dengan perbaikan
program bimbingan konseling
3) Wali Kelas
1) Mengumpulkan data tentang siswa
2) Mengidentifikasi kebutuhan dan masalah yang dihadapi siswa dikelas.
3) Menyelenggarakan diagnosa kesulitan belajar siswa
4) Membantu memberikan informasi kepada siswa
5) Menyelenggarakan bimbingan kelompok
6) Berpartisipasi aktif dalam konfresnsi kasus
7)

Mengadakan penilaian prestasi belajar siswa dan menyampaikan pada


konselor

8)

Merujuk siswa yang bermasalah kepada konselor untuk memperoleh


bantuan profesional

9)

Membantu secara aktif penyelenggaraan program bimbigan konseling


sekolah

10) Bekerja sama dengan konselor dalam memanfaatkan berbagai data siswa

d. Guru
1) Turut aktif dalam membantu pelaksanaan bimbingan konseling
2) Memberikan informasi tentang siswa kepada konselor

11

3) Memberikan layanan pengajaran


4) Berpartisipasi dalam konferensi kasus
5) Meneliti kesulita kemajuan belajar siswa
6) Membantu pemecahan masalah siswa sesuai kewenangannya
7) Merujuk siswa bermasalah kepada konselor.
e.

Petugas Administrasi BK
1)

Mengisi kartu pribadi siswa dengan data-datasiswa baik tentang pribadi,


sekolah maupun lingkungan siswa

2) Mengelola data pada tempat yang telah disediakan


3)

Membantu proses pengumpulan data dan mempersiapkan laporan


bimbingan konseling

4)

Menyelenggarakan surat menyurat dan pembukuan berkaitan dengan


program bimbingan konseling

5) Menyiapkan alat-alat pengumpulan data siswa


6) Menata serta memalihara ruanagan bimbingan konseling.

Fasilitas
Setelah para petugas (man), berikut akan diketengahkan tentang fasilitas

(material) bimbingan, yang meliputi


1) Instrument pengumpul data, meliputi daftar isian angket, pedoman wawancara,
pedoman observasi, daftar isian, sosiometri, kartu pemeriksaan kesehatan, alatalat tes psikologis.
2) Perlengkapan penyimpan data
Data siswa yang telah terkumpul, perlu disimpan dengan baik dan sistematik
agar mempermudah kjika sewaktu-waktu diperlukan. Alat penyimpan data ini
dapat bersifat individual (setiap siswa), dan dapat bersifat kelompok (missal,
menurut kelas). Alat penyimpan data dapar berupa : kartu, folders, booklets,
cumulative atau buku prbadi, map, dan komputer.
3) Alat pelaksanaan teknis bimbingan konseling
Alat-alat teknis pelaksanaan bimbingan konseling merupakan alat-alat
administrative yang diperlukan dalam layanan bimbingan konseling. Beberapa
diantaranya adalah form surat panggilan siswa, form surat panggilan orang tua,

12

surat kunjungan rumah, kartu konseling, laporan konseling, form laporan


konfrensi kasus, surat pengantar reveral, form pilihan jurusan, dll.
4) Tata laksana bimbingan dan perlengkapan fisik bimbingan konseling
Tata laksana dan perlengkapan fisik bimbingan konseling meliputi perlengkapan
parabot, alat-alat elektronik, dan ruang bimbigan konseling. Perabot ini antara
lain meja tamu, meja-kursi bimbingan-konseling kelompok, kursi konseling,
meja-kursi kerja konselor, lemari penyimpan data, meja-kursi konfresi kasus,
papan program, papan mekanisme layanan konseling, gambar-gambar dekoratif,
dll. Sedang ruang bimbingan konseling setidaknya meliputi ruang tamu, ruang
administrasi, ruang kerja konselo, ruang bimbingan / konseling kelompok, ruang
baca/perpusatakaan, ruang penyimpan data, ruang konfrensi kasus, dan ruangruang lain jika memungkinkan. Sedang seting tata ruang dikonstruksikan sesuai
kondisi sekolah yang ada.

Anggaran biaya
Selain petuga (men), dan perlengkapan (material) factor lain yang tidak
dapat dilupakan dan sangat diperlukan dalam melaksanakan suatu kegiatan
adalah anggaran biaya (money). Untuk pelaksanaan pelaksanaan bimbingan
konseling disekolah, anggaran biaya diperlukan untuk para petugas bimbingan,
untuk mengadakan dan memelihara perlengkapan.

3. Actuating (Penggerakan)
Actuating

atau

penggerakkan

adalah

fungsi

fundamental

dalam

pelaksanaan manajemen bimbingan dan konseling disekolah. Diakui bahwa usaha


usaha perencanaan dan pengorganisasian bersifat sangat vital , tetapi tidak akan
terjadi output secara konkrit yang dihasilkan tanpa ditindak lanjuti kegiatan untuk
menggerakkan stakeholder sekolah untuk melakukan tindakan.
Penggerakan dapat didefinisikan sebagai keseluruhan usaha, cara,
teknik,dan metode untuk mendorong para anggota organisasi agar mau dan ikhlas
bekerja dengan sebaik mungkin demi tercapainya tujuan organisasi dengan
efektif, efesien dan ekonomis.
Setelah konselor merencanakan dan mengorganisasiakan langkah berat
selanjutnya adalah penggerakkan. Langkah ini adalah langkah yang tersulit. Hal

13

tersebut dikareakan kurangnya komunikasi dan koordinasi diantara stakeholder


sekolah dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling. Stakeholder sekolah banyak
yang masih egois dengan kepentingan mereka sendiri dan menganggap bahwa
kegiatan bimbingan dan konseling adalah tidak penting. Sehingga kebanyakan
dari mereka dalam pelaksanaannya tidak dapat membantu banyak. Walaupun
sebelumnya pada tahap pengorganisasian mereka menyanggupi untuk membantu
dalam pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling, tapi pada kenyataannya
pada saat mereka dibutuhkan kadang mereka tidak ada dan kadang mereka
menghindar. Dengan alasan mereka juga mempunyai banyak tugas dan
kepentingan sendiri. Sehingga pada saat penggerakkan ini kadang tidak dapat
berjalan susuai dengan apa yang telah direncanakan. Konselor sekolah tidak
jarang melakukam kegiatan apapun sendiri tanpa ada bantuan dari stakeholder
lainnya.
4. Controlling (Pengawasan)
Controlling atau pengawasan adalah proses pengamatan dari seluruh
kegiatan bimbingan dan konseling guna menjamin bahwa semua layanan yang
sedang dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya.
Controlling dalam bimbingan dan konseling yaitu bagaimana mengawasi,
mensupervisi dan menilai aktivitas layanan bimbingan dan konseling apakah
bimbingan dan konseling sesuai dengan program yang telah direncanakan.
Pengawasan dalam bimbingan dan konseling dilakukan pengawas yang berasal
dari Dinas Pendidikan dimasing masing kabupaten serta kepala sekolah.
Pengawasan ini dalam kenyataannya hanya digunakan sebagai formalitas saja.
Pengawasan yang dari Dinas Pendidikan hanya terjadi sekali dalam satu semester.
Itupun yang diperiksa hanya administrasi saja. Bukan mengawasi dari
pelaksanaannya. Hal tersebut menyebabkan banyak konselor sekolah sibuk
melakukan administrasi, tetapi tidak melakukan layanan. Karena mereka
kebanyakan hanya dituntut dengan administrasi dan administrasi. Tetapi ada juga
konselor sekolah yang benar benar selalu melakukan layanan, tetapi malah
melupakan administrasi. Hal tersebut dalam saat penilaian juga akan menyulitkan.
Sedangkan penilaian atau pengawasan yang dilakukan oleh kepala sekolah
hanya terbatas dari pengamatan saja. Kepala sekolah mengamati apakah

14

bimbingan dan konseling disekolah berjalan dengan baik atau tidak, bagaimana
tanggapan siswa mengenai kegiatan yang dilakukan oleh guru bimbingan dan
konseling dan bagaimana tanggapan guru mengenai pelaksanaan yang dilakukan
oleh guru bimbingan dan konseling. Jadi dalam melakukan pengawasan ini,
kepala sekolah tidak melihat administrasi. Kepala sekolah hanya bisa pengamati
yang bisa dilihat saja. Hal tersebut dikarenakan banyak administrasi dalam
bimbingan dan konseling sehingga tidak memungkinkan untuk melihat secara
keseluruhan, disamping itu juga kurangnya pengetahuan

kepala sekolah

mengenai peran dan tugas konselor sekolah.Jadi dalam pelaksanaan controling ini,
kebanyakan tidak dilakukan dengan secara maksimal. Pelaksanaan hanya
dilakukan untuk formalitas saja.
C. Evaluasi Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling.
Evaluasi merupakan komponen penting dari program bimbingan konseling
komprehensif guna memastikan akuntabilitas. Tujuan evaluasi adalah untuk
menentukan nilai, program, kegiatan, dan staf dalam rangka untuk membuat
keputusan atau mengambil tindakan tentang masa depan. Evaluasi akan mengukur
pelayanan (evaluasi proses) dan hasil (evaluasi produk). Proses yang
berkelanjutan ini memberikan informasi untuk memastikan perbaikan terus
menerus pada program bimbingan dan memberikan arahan kepada perubahan
yang diperlukan. Evaluasi adalah suatu proses yang memiliki delapan langkah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Menyatakan pertanyaan evaluasi,


Menentukan penonton / menggunakan untuk evaluasi,
Pengumpulan data untuk menjawab pertanyaan,
Menerapkan standar yang telah ditentukan,
Penarikan kesimpulan,
Mempertimbangkan konteks,
Membuat rekomendasi, dan
Bertindak berdasarkan rekomendasi

Konselor dan program konseling memainkan peran penting dalam membantu guru
dan staf lain di sekolah dengan tujuan instruksional dan tujuan lainnya. Oleh
karena itu, evaluasi harus mengupayakan kolaborasi antara semua pihak yang
terlibat dalam program. Kegiatan evaluasi memungkinkan konselor dan orang lain
untuk :

15

Menentukan dampak dari program bimbingan pada mahasiswa, dosen,

orang tua, dan kondisi sekolah


Mengidentifikasi tujuan yang dicapai.
Mengidentifikasi komponen efektif dari program
Menghilangkan atau memperbaiki komponen kurang efektif dari program
Beradaptasi dan memperbaiki program bimbingan dan proses pelaksanaan
Mengidentifikasi dampak dari program (baik positif maupun negatif)
Mengidentifikasi daerah-daerah lain yang perlu ditangani
Menetapkan tujuan untuk pengembangan profesional konselor
Menentukan kebutuhan staf dan penyesuaian beban kerja
Menentukan sumber daya tambahan yang diperlukan yang memadai

meneruskan program
Memberikan informasi akuntabilitas kepada pendidik dan masyarakat
Penilaian merupakan kegiatan menentukan atau mempertimbangkan nilai

sesuatu berdasar kriteria atau tujuan sehingga diperoleh informasi guna


pengambilan keputusan. (Purwoko, 2008)
Menurut Flurentin (dalam Purwoko, 2008) Tujuan diadakannya penilaian program
bimbingan dan konseling adalah :
a) untuk meneliti secara periodik hasil pelaksanaan program bimbingan konseling
agar dapat diketahui bagian program mana yang perlu di perbaiki.
b) Untuk memperkuat perkiraan-perkiraan yang mendasari pelaksanaan program
bimbingan konseling. Salah satu perkiraan itu adalah nyata tidaknya bimbingan
tersebut dalam membantu siswa.
c) Untuk melengkapi bahan-bahan informasi dan data yang diperlukan guna memberi
bantuan pada siswa
d) Untuk mendapatkan dasar yang sehat bagi kelancaran pelaksanaan hubungan
masyarakat.
Aspek yang dinilai/ dievaluasi proses dan hasil yaitu kesesuaian antara
program dan pelaksanaan, keselarasan program, hambatan-hambatan yang
dijumpai, dampak kegiatan bimbingan terhadap kegaiatan belajar mengajar,
respon siswa, personel sekolah orang tua dan masyarakat terhadap layanan
bimbingan, dan perubahan kemajuan siswa dilihat dari pencapaian tujuan layanan
bimbingan.

16

Penilaian proses yaitu mengatasi partisipasi dan aktifitas dalam kegiatan


layanan bimbingan, mengungkapkan pemahaman siswa atas bahan-bahan yang
disajikan, mengungkapkan kegunaan layanan bagi siswa dan perolehan siswa
sebagai kasih dari partisipasi atau aktifitasnya dalam kegiatan layanan bimbingan,
mengungkapkan minat siswa tentang perlunya layanan bimbinga lebih lanjut,
mengamati perkembangan siswa sari waktu ke waktu, mengungkapkan kelancaran
proses dan suasana penyelenggaraan kegiatan layanan. Penilaian dilakukan
dengan menggunakan berbagai cara dan alat seperti wawancara, observasi, studi
dokumentasi, angket, tes, analisa hasil kerja siswa. Penilaian perlu diprogramkan
secara sistematis dan terpadu, kegiatan penilaian baik mengenai proses maupun
hasil perlu dianalisis untuk kemudian dijadikan dasar dan tindak lanjut untuk
perbaikan dan pengembangan program layanan bimbingan. Dengan dilakukan
penilaian secara komprehensip, jelas dan cermat maka diperoleh data atau
informasi ini dapat dijadikan bahan untuk pertanggungjawaban, akuntabilitas,
pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Manajemen
menggerakkan

Bimbingan
individu

dan

atau

Konseling
kelompok

merupakan
untuk

segala

upaya

bekerjasama

dalam

mendayagunakan sumber daya di dalam suatu sistem untuk mencapai suatu


tujuan untuk mendayagunakan secara optimal semua komponen atau sumber
17

daya dan sistem informasi berupa himpunan data bimbingan untuk


menyelenggarakan pelayanan bimbingan konseling dalam mencapai tujuan.
Semua kegiatan BK di sekolah ini berujuk kepada tugas perkembangan
siswa yang perlu dioptimalkan secara tepat guna menunjang kegiatan belajar
siswa dan mengembangkan minat bakat siswa dalam bidang akademik maupun
non akademik. Pelaksanaan progam BK ini juga terorganisir sangat baik,
dimulai dengan perencanaan yang matang sampai diadakannya evaluasi
kembali terhadap kegiatan-kegiatan BK tersebut.
B. Saran
Dengan adanya Manajemen Bimbingan dan Konseling diharapkan dapat
menuntun terselenggaranya pelayanan bimbingan konseling dalam mencapai
tujuan yang akan dicapai sesuai tujuan umum dan khusus. Agar proses
pelayanan dapat berjalan dengan baik, maka semua pihak yang terkait dalam
bimbingan dan konseling di sekolah harus menjalankan tugasnya masing.

18

DAFTAR PUSTAKA

Fattah, Nanang. (2008). Landasan Manajemen Pendidikan.Bandung. PT Remaja


Rosda Karya.
Purwoko, Budi. (2008). Organisasi dan Manajemen Bimbingan Konseling.
Surabaya. Unesa University Press
Prayitno & Erman Amti. 2004. Dasar Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta.
PT Rineka Cipta.
Rex, Jim.(2008).The South Carolina Comprehensive Developmental Guidance
and Counseling Program Model. South Carolina Department of
Education
Columbia, South Carolina.
Sugiyo. (2011). Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah.Semarang.
Widya Karya.
Badrujaman, aip. (2009). Diktat teori dan praktek evaluasi program bimbingan
dan konseling. Jakarta
Yuen, Mantax. (2009). School Counseling: Current International Perspectives.
Asian Journal of Counselling The Hong Kong Professional Counselling
Association (online).(http//library. The University of Hong Kong.ac.id)
diakses 27- 11- 2014.
Yuksel-Sahin, Fulya. (2009). The Evaluation Of Counseling And Guidanceservices
Based On Teacher Views And Their Prediction Based On Some Variables.

International Journal of Instruction (online). (http// www.eiji.net) diakses 27- 11- 2014.

19