Anda di halaman 1dari 14

Pemeriksaan Fisik dan Penatalaksanaan Bayi Lahir Cukup Bulan

Eirene Megahwati Paembonan


102012082
BP3
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No. 6, Jakarta Barat 11510 Telp : (021) 5694-20
Pendahuluan
Dalam kehidupannya, manusia pasti akan mengalami lahir, tumbuh dan berkembang,
penuaan dan mati. Dari seluruh proses tersebut, salah satu proses yang sangat penting adalah
pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan sendiri berkaitan dengan masalah perubahan
dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa
diukur dengan ukuran berat(gram atau kilogram), ukuran panjang(centimeter dan meter),
umur tulang dan keseimbangan metabolik.1 Sedangkan perkembangan adalah bertambahnya
kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur
dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses pematangan.1
Dalam tumbuh kembang tidak sedikit pengaruh ibu terhadap anaknya, antara lain
pengaruh biologisnya terhadap pertumbuhan janin dan pengaruh psikologisnya terhadap
pertumbuhan post-natal dan perkembangan kepribadian.1 Pada bayi yang baru lahir akan
terjadi perubahan-perubahan fisiologi sebagai proses adaptasi terhadap lingkungan luar atau
kehidupan ekstrauteri.2
Anamnesis
Anamnesis adalah pengambilan data yang dilakukan oleh seorang dokter dengan cara
melakukan serangkaian wawancara. Anamnesis dapat langsung dilakukan terhadap pasien
(auto-anamnesis) atau terhadap keluarganya atau pengantarnya (alo-anamnesis).Anamnesis
sendiri terdiri dari beberapa pertanyaan yang dapat mengarahkan kita untuk dapat
mendiagnosa penyakit apa yang diderita oleh pasien. Dalam hal ini dikarenakan pasien
adalah seorang neonatus atau anak yang baru dilahirkan, maka dapat dilakukan alo-anamnesis
terhadap ibunya. Pertanyaan-pertanyaannya meliputi:3
I.

II.

Identitas
Menanyakan nama, umur dan jenis kelamin pemberi informasi (misalnya pasien,
keluarga, dll).
Riwayat kehamilan
1

Dalam hal ini dapat ditanyakan beberapa hal yang berkaitan dengan kehamilan ibu

bayi tersebut, seperti :


Apakah saat mengandung banyak terjadi benturan?
Apakah nutrisi ibu saat mengandung cukup?
Apakah saat mengandung ibu melakukan ante-natal care secara teratur?
Apakah saat mengandung ibu pernah mengalami sakit yang cukup parah? Jika

pernah, apa jenis penyakitnya dan berapa lama sakitnya.


Apakah saat mengandung ibu pernah mengkonsumsi obat-obatan tertentu? Jika

pernah, apa jenis obatnya dan berapa lama mengkonsumsinya?


Apakah saat mengandung ibu pernah melakukan imunisasi atau vaksin? Jika pernah,
imunisasi dan vaksin jenis apa?

III.

Riwayat persalinan
Pada riwayat persalinan dapat ditanyakan persalinan yang dilakukan normal yaitu
spontan pervaginam atau tidak. Dalam hal ini, pada skenario didapati ibu melahirkan
secara spontan pervaginam.

IV.

Riwayat tumbuh kembang


Pada riwayat ini dapat ditanyakan kepada ibunya mengenai bagaimana proses
pertumbuhan dan perkembangan janinnya setiap bulannya. Dapat dilakukan check up
rutin pada kehamilannya.

V.

Riwayat penyakit dahulu dan Riwayat penyakit keluarga


Selain hal-hal diatas, sebaiknya ditanyakan juga mengenai riwayat penyakit dahulu
dan riwayat penyakit keluarga untuk mengetahui ada tidaknya penyakit yang
diturunkan dari ibu ke bayinya.

Pemeriksaan fisik bayi


Pemeriksaan fisik pada bayi merupakan pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan oleh
bidan, perawat atau dokter untuk menilai status kesehatan yang dilakukan pada saat bayi baru
lahir, 24 jam setelah lahir, dan pada waktu pulang dari rumah sakit. Dalam melakukan
pemeriksaan ini sebaiknya bayi dalam keadaan telanjang di bawah lampu terang, sehingga
bayi tidak mudah kehilangan panas.2
Tujuan pemeriksaan fisik secara umum pada bayi adalah menilai status adaptasi atau
penyesuaian kehidupan intrauteri ke dalam kehidupan ekstrauteri serta mencari kelainan pada
bayi. Beberapa pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan pada bayi adalah:2

1. Menghitung frekuensi napas


Pemeriksaan frekuensi napas ini dilakukan dengan menghitung rata-rata
pernapasan dalam satu menit. Pemeriksaan ini dikatakan normal pada bayi baru lahir
apabila frekuensinya antara 30-60 kali per menit, tanpa adanya retraksi dada dan suara
merintih saat ekspirasi, tetapi bila bayi dalam keadaan lahir kurang dari 2.500 gram
atau usia kehamilan kurang dari 37 minggu, kemungkinan terdapat adanya retraksi
dada ringan. Jika pernapasan berhenti beberapa detik secara periodik, maka masih
dikatakan dalam batas normal.
2. Melakukan inspeksi pada warna bayi
Pemeriksaan ini berfungsi untuk mengetahui apakah ada warna pucat, ikterus,
sianosis sentral, atau tanda lainnya. Bayi dalam keadaan aterm umumnya lebih pucat
dibandingkan bayi dalam keadaan preaterm, mengingat kondisi kulitnya lebih tebal.
3. Menghitung denyut jantung bayi dengan menggunakan stetoskop
Pemeriksaan denyut jantung untuk menilai apakah bayi mengalami gangguan
yang menyebabkan jantung dalam keadaan tidak normal, seperti suhu tubuh yang tidak
normal, pendarahan atau gangguan napas. Pemeriksaan denyut jantung ini dikatakan
normal apabila frekuensinya antara 100-160 kali per menit. Masih dalam keadaan
normal apabila diatas 60 kali per menit dalam jangka waktu yang relatif pendek,
beberapa kali per hari dan terjadi selama beberapa hari pertama jika bayi mengalami
distres.
4. Ukur suhu aksilla
Lakukan pemeriksaan suhu melalui aksilla untuk menentukan apakah bayi dalam
keadaan hipo atau hipertermi. Dalam kondisi normal suhu bayi antara 36,5-37,5oC.
5. Mengkaji postur dan gerakan
Pemeriksaan ini untuk menilai ada atau tidaknya epistotonus/hiperekstensi tubuh
yang berlebihan dengan kepala atau tumit ke belakang, tubuh melengkung ke depan,
adanya kejang/spasme, serta tremor. Pemeriksaan postur dalam keadaan normal
apabila dalam keadaan istirahat kepalan tangan longgar dengan lengan panggul dan
lutut semifleksi. Selanjutnya gerakan ekstremitas bayi harusnya terjadi secara spontan
dan simetris disertai dengan gerakan sendi penuh dan pada bayi normal dapat sedikit
gemetar.
6. Periksa tonus atau kesadaran bayi

Pemeriksaan ini berfungsi untuk melihat adanya letargi, yaitu penurunan


kesadaran dimana bayi dapat bangun lagi dengan sedikit kesulitan, ada tidaknya tonus
otot yang lemah, mudah terangsang, mengantuk, aktivitas berkurang, dan sadar(tidur
yang tidak merespons terhadap rangsangan). Pemeriksaan ini dalam keadaan normal
dengan tingkat kesadaran mulai dari diam hingga sadar penuh serta bayi dapat
dibangunkan jika sedang tidur atau dalam keadaan diam.
7. Pemeriksaan ekstremitas
Pemeriksaan ini berfungsi untuk menilai ada tidaknya gerakan ekstremitas
abnormal, asimetris, posisi dan gerakan yang abnormal (menghadap ke dalam atau ke
luar garis tangan), serta menilai kondisi jari kaki, yaitu berlebih (polidaktili) atau
saling melekat.
8. Pemeriksaan kulit
Pemeriksaan ini berfungsi untuk melihat ada atau tidaknya kemerahan pada kulit
atau pembengkakan, postula (kulit melepuh), luka atau trauma, bercak atau tanda
abnormal pada kulit, elastisitas kulit, serta ada tidaknya ruam popok (bercak merah
terang kulit daerah popok pada bokong).
9. Pemeriksaan tali pusat
Pemeriksaan ini untuk melihat apakah ada kemerahan, bengkak, bernanah, berbau
atau lainnya pada tali pusat. Pemeriksaan ini normal apabila warna tali pusat putih
kebiruan pada hari pertama dan mulai mengering atau mengecil dan lepas pada hari
ke-7 hingga ke-10.
10. Pemeriksaan kepala dan leher
Pemeriksaan bagian kepala yang dapat diperiksa antara lain sebagai berikut:2
a. Pemeriksaan rambut dengan menilai jumlah dan warna, adanya lanugo
terutama pada daerah bahu dan punggung.
b. Pemeriksaan wajah dan tengkorak, dapat dilihat adanya maulage, yaitu tulang
tengkorak yang saling menumpuk pada saat lahir untuk dilihat asimetris atau
tidak. Ada tidaknya caput succedaneum (edema pada kulit kepala, lunak, dan
tidak berfluktuasi, batasnya tidak tegas, serta menyebrangi sutura dan akan
hilang dalam beberapa hari). Adanya cephal hematum terjadi sesaat setelah
lahir dan tidak tampak pada hari pertama karena tertutup oleh caput
succedaneum, konsistensinya lunak, berfluktuasi, berbatas tegas pada tepi
tulang tengkorak, tidak menyebrangi sutura dan apabila menyebrangi sutura
akan mengalami fraktur tulang tengkorak yang akan hilang sempuran dalam
waktu 2-6 bulan. Adanya pendarahan yang terjadi karena pecahnya vena yang
4

menghubungkan jaringan di luar sinus dalam tengkorak, batasnya tidak tegasm


sehingga bentuk kepala tampak asimetris. Selanjutnya diraba untuk menilai
adanya fluktuasi dan edema. Pemeriksaan selanjutnya adalah menilai fontanella
dengan cara melakukan palpasi menggunakan jari tangan, kemudian fontanel
posterior dapat dilihat proses penutupannya setelah usia 2 bulan dan fontanel
anterior menutup saat usia 12-18 bulan.
c. Pemeriksaan mata untuk menilai adanya strabismus atau tidak, yaitu koordinasi
gerakan mata yang belum sempurna. Cara memeriksanya adalah dengan
menggoyangkan kepala secara perlahan, sehingga mata bayi akan terbuka,
kemudian

baru

periksa.

Apabila

ditemukan

jarang

berkedip,

atau

sensitivitasnya terdapat cahaya berkurang, maka kemungkinan mengalami


kebutaan. Apabila ditemukan adanya epicantus melebar, maka kemungkinan
anak mengalami sindrom down. Pada glaukoma kongenital, dapat terlihat
pembesaran dan terjadi kekeruhan pada kornea. Katarak kongenital dapat
dideteksi apabila terlihat pupil yang berwarna putih. Apabila ada trauma pada
mata maka dapat terjadi edema palpebra, pendarahan konjungtiva, retina dan
lain-lain.
d. Pemeriksaan telinga dapat dilakukan untuk menilai adanya gangguan
pendengaran. Dilakukan dengan membunyikan bel atau suara jika terjadi
refleks terkejut, apabila tidak terjadi refleks, maka kemungkinan akan terjadi
gangguan pendengaran.
e. Pemeriksaan hidung dapat dilakukan dengan cara melihat pola pernapasan,
apabila bayi bernapas melalui mulut, maka kemungkinan bayi mengalami
obstruksi jalan napas karena adanya atresia koana bilateral atau fraktur tulang
hidung atau ensefalokel yang menonjol ke nasofaring. Sedangkan pernapasan
cuping hidung akan menunjukan gangguan pada paru, lubang hidung kadangkadang banyak mukosa. Apabila sekret mukopurulen dan berdarah, perlu
dipikirkan adanya penyakit sifilis kongenital dan kemungkinan lain.
f. Pemeriksaan mulut dapat dilakukan dengan melihat adanya kista yang ada pada
mukosa mulut. Pemeriksaan lidah dapat dinilai melalui warna dan kemampuan
refleks menghisap. Apabila ditemukan lidah yang menjulur keluar, dapat dilihat
adanya kemungkinan kecacatan kongenital. Adanya bercak pada mukosa
mulut, palatum, dan pipi biasanya disebut sebagai monilla albicans, gusi juga
perlu diperiksa untuk menilai adanya pigmen pada gigi, apakah terjadi
penumpukan pigmen yang tidak sempurna.
5

g. Pemeriksaan leher dapat dilakukan dengan melihat pergerakan, apabila terjaid


keterbatasan dalam pergerakannya, maka kemungkinan terjadi kelainan pada
tulang leher, misalnya kelainan tiroid, hemangioma dan lain-lain.
11. Pemeriksaan abdomen dan punggung
Pemeriksaan pada abdomen ini meliputi pemeriksaan secara inspeksi untuk
melihat bentuk dari abdomen, apabila didapatkan abdomen membuncit dapat diduga
kemungkinan disebabkan hepatosplenomegali atau cairan di dalam rongga perut. Pada
perabaan, hati biasanya teraba 2 sampai 3 cm di bawah arcus costa kanan, limfa teraba
1 cm dibawah arcus costa kiri. Pada palpasi ginjal dapat dilakukan dengan pengaturan
posisi terlentang dan tungkau bayi dilipat agar otot-otot dinding perut dalam keadaan
relaksasi, batas bawah ginjal dapat diraba setinggi umbilikus diantara garis tengah dan
tepi perut. Bagian-bagian ginjal dapat diraba sekitar 2-3 cm. Adanya pembesaran pada
ginjal dapat disebabkan oleh neoplasma, kelainan bawaan atau trombosis vena renalis.
Untuk menilai daerah punggung atau tulang belakang, cara pemeriksaannya adalah
dengan meletakan bayi dalam posisi tengkurap. Raba sepanjang tulang belakang untuk
mencari ada tidaknya kelainan seperti spina bifida atau mielomeningeal (defek tulang
punggung, sehingga medula spinalis dan selaput otak menonjol).
12. Pengukuran antropometri
Pada bayi baru lahir, perlu dilakukan pengukuran antropometri seperti berat
badan, dimana berat badan yang normal adalah sekitar 2500-3500 gram, apabila
ditemukan berat badan kurang dari 2500 gram, maka dapat dikatakan bayi memiliki
berat badan lahir rendah(BBLR). Akan tetapi, apabila ditemukan bayi dengan berat
badan lahir lebih dari 3500 gram, maka bayi dimasukan dalam kelompok makrosomia.
Pengukuran antropometri lainnya adalah pengukuran panjang badan secara normal,
panjang badan bayi baru lahir adalah 45-50 cm, pengukuran lingkar kepala normalnya
adalah 33-35 cm, pengukuran lingkar dada normalnya adalah 30-33 cm. Apabila
ditemukan diameter kepala lebih besar 3 cm dari lingkar dada, maka bayi mengalami
hidrosefalus dan apabila diameter kepala lebih kecil dari 3 cm dari lingkar dada, maka
bayi tersebut mengalami mikrosefalus.
13. Pemeriksaan genitalia
Pemeriksaan genitalia dilakukan untuk mengetahui keadaan labium minor yang
tertutup oleh labiya mayor, lubang uretra dan lubang vagina yang seharusnya terpisah,
namun apabila ditemukan satu lubang makan didapatkan terjadinya kelainan dan
apabila ada sekret pada lubang vagina, hal tersebut karena pengaruh hormon. Pada
6

bayi laki-laki sering didapatkan fimosis, secara normal panjang penis pada bayi adalah
3-4 cm dan 1-1,3 cm untuk lebarnya, kelainan yang terdapat pada bayi adalah adanya
hipospadia yang merupakan defek di bagian ventral ujung penis atau defek sepanjang
penisnya. Epispadia merupakan kelainan defek pada dorsum penis.
14. Pemeriksaan urine dan tinja
Pemeriksaan urine dan tinja bermanfaat untuk menilai ada atau tidaknya diare
serta kelainan pada daerah anus. Pemeriksaan ini normal apabila bayi mengeluarkan
feses cair antara 6-8 kali per menit, dapat dicurigai apabila frekuensi meningkat serta
adanya lendir atau darah. Adanya pendarahan per vaginam pada bayi baru lahir dapat
terjadi selama beberapa hari pada minggu pertama kehidupan.
15. Apgar score
Apgar score adalah sebuah metode praktis yang secara sistematis digunakan
untuk menilai bayi baru lahir segera sesudah lahir. Apgar score dihitung dengan
menilai kondisi bayi yang baru lahir menggunakan lima kriteria sederhana dengan
skala nilai nol, satu, dan dua. Kelima nilai kriteria tersebut kemudian dijumlahkan
untuk menghasilkan angka nol hingga 10.
Tabel 1. Apgar Score4
Nilai 0

Nilai 1

Nilai 2

Akronim

seluruhnya
biru

warna kulit tubuh


normal merah muda,
tetapi tangan dan
kaki kebiruan
(akrosianosis)

warna kulit tubuh,


tangan, dan kaki
normal merah
Appearance
muda, tidak ada
sianosis

Denyut jantung

tidak ada

<100 kali/menit

>100 kali/menit

Respons refleks

tidak ada
respons
terhadap
stimulasi

meringis/menangis
lemah ketika
distimulasi

meringis/bersin/ba
tuk saat stimulasi Grimace
saluran napas

Tonus otot

lemah/tidak
ada

sedikit gerakan

bergerak aktif

Activity

Pernapasan

tidak ada

lemah atau tidak


teratur

menangis kuat,
pernapasan baik
dan teratur

Respiration

Warna kulit

Tabel 2. Intepretasi Apgar score4


Jumlah skor

Interpretasi

Catatan
7

Pulse

7-10

Bayi normal

4-6

Agak rendah

Memerlukan tindakan medis segera seperti penyedotan


lendir yang menyumbat jalan napas, atau pemberian
oksigen untuk membantu bernapas.

0-3

Sangat rendah

Memerlukan tindakan medis yang lebih intensif

Jumlah skor rendah pada tes menit pertama dapat menunjukkan bahwa bayi yang baru
lahir ini membutuhkan perhatian medis lebih lanjut tetapi belum tentu mengindikasikan akan
terjadi masalah jangka panjang, khususnya jika terdapat peningkatan skor pada tes menit
kelima. Jika skor Apgar tetap dibawah 3 dalam tes berikutnya (10, 15, atau 30 menit), maka
ada risiko bahwa anak tersebut dapat mengalami kerusakan syaraf jangka panjang. Juga ada
risiko kecil tapi signifikan akan kerusakan otak. Namun demikian, tujuan tes Apgar adalah
untuk menentukan dengan cepat apakah bayi yang baru lahir tersebut membutuhkan
penanganan medis segera; dan tidak didesain untuk memberikan prediksi jangka panjang
akan kesehatan bayi tersebut.
Working diagnosis
Dari anamnesa dan pemeriksaan fisik yang telah dilakukan, dalam
hal ini pada bayi yang baru saja dilahirkan, didapatkan tidak ada
komplikasi pada riwayat kehamilan ibu dan ante-natal care ibu teratur.
Bayi lahir spontan pervagiam, cukup bulan, tidak terdapat komplikasi dan
bayi menangis kuat dan aktif. Oleh karena itu, didapatkan working
diagnosisnya adalah well-baby, yaitu seorang bayi yang sehat.
Penatalaksanaan
ASI
Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan terbaik untuk bayi yang nilainya tidak bisa
digantikan oleh makanan jenis apapun. Yang dimaksud dengan ASI eksklusif adalah bayi
hanya diberi ASI saja, tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air
teh, air putih ataupun makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, nasi tim
ataupun biskuit. Pemberian ASI secara ekslusif ini dianjurkan setidaknya selama 6
bulan.4

Manfaat pemberian ASI pada bayi khususnya ASI ekslusif yang diberikan selama
enam bulan diantaranya:4
1. ASI sebagai nutrisi
ASI merupakan sumber gizi yang sangat ideal dengan komposisi yang
seimbang dan disesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan bayi. ASI adalah makanan
bayi paling sempurna, baik kualitas maupun kuantitasnya. Dengan tatalaksana
menyusui yang benar, ASI sebagai makanan tunggal akan cukup memenuhi
kebutuhan tumbuh bayi normal sampai usia enam bulan. Setelah usia enam bulan,
bayi harus mulai diberi makanan pendamping, tetapi ASI diteruskan sampai usia dua
tahun atau lebih.
2. ASI meningkatkan daya tahan tubuh
Bayi yang lahir secara alamiah mendapat immunoglobulin (zat kekebalan
tubuh) dari ibunya melalui plasenta. Namun kadar zat ini akan cepat sekali menurun
segera setelah bayi lahir. Badan bayi sendiri baru membuat zat kekebalan tubuh cukup
banyak sehingga mencapai kadar protektif pada waktu berusia sekitar Sembilan
sampai duabelas bulan. Pada saat kadar zat kekebalan bawaan menurun, sedangkan
yang dibentuk oleh badan bayi belum mencukupi maka akan terjadi kesenjangan zat
kekebalan pada bayi, pada saat inilah peranan ASI sangat dibutuhkan untuk
meningkatkan daya tahan tubuh terhadap berabagai macam penyakit.
3. ASI meningkatkan kecerdasan
Faktor utama yang mempengaruhi perkembangan kecerdasan adalah pertumbuhan
otak. Sementara itu, faktor terpenting dalam proses pertumbuhan termasuk
pertumbuhan otak adalah nutrisi yang diberikan. Pemberian ASI eksklusif sampai
bayi berusia enam bulan akan menjamin tercapainya kecerdasan anak secara optimal.
Hal ini karena selain sebagai nutrient yang ideal, dengan komposisi yang tepat, serta
disesuaikan dengan kebutuhan bayi, ASI juga mengandung nutrien-nutrien khusus
yang diperlukan otak bayi agar tumbuh optimal. Nutrien-nutrien khusus tersebut tidak
terdapat atau hanya sedikit terdapat pada susu sapi. Nutrient yang diperlukan untuk
pertumbuhan otak yang tidak ada atau sedikit sekali pada susu sapi, antara lain:
Taurin yaitu suatu bentuk zat putih telur yang hanya terdapat di ASI
Laktosa merupakan hidrat arang utama dari ASI yang hanya sedikit sekali

terdapat pada susu sapi


Asam lemak ikatan panjang (DHA, AA, Omega-3, Omega-6) merupakan asam
lemak utama dari ASI yang hanya terdapat sedikit dalam susu sapi.

4. Menyusui meningkatkan jalinan kasih sayang


Bayi yang sering dalam dekapan ibu karena menyusu akan merasakan kasih
sayang ibunya. Ia juga akan merasa aman dan tentram, terutama karena masih dapat
mendengar detak jantung ibunya yang telah ia kenal sejak dalam kandungan. Perasaan
terlindung dan disayangi inilah yang akan menjadi dasar perkembangan emosi bayi
dan membentuk kepribadian yang percaya diri dan dasar spiritual yang baik.
Seiring dengan bertambahnya usia bayi, bertambah pula kebutuhan akan zat-zat gizi.
Oleh karena itu mulai usia enam bulan, selain ASI bayi perlu diberi makanan lain. Makanan
ini disebut dengan makanan pendamping ASI. Makanan pendamping ASI yang diperlukan
bayi akan semakin meningkat, sesuai dengan pertambahan usianya. Makanan pendamping
ASI atau makanan tambahan diperlukan karena bayi membutuhkan makanan padat untuk
memberikan energy, protein, vitamin A, vitamin D, serta tambahan zat besi (Fe), seng (Zn),
dan tembaga (Cu).
Makanan pendamping ASI yang merupakan makanan padat pertama yang
diperkenalkan kepada bayi adalah makanan berupa cairan dan lembut, misalnya bubur susu
beras atau bahan hidrat lain yang dicampur ASI atau susu formula lanjutan. Alpukat, pisang,
pepaya, apel atau pir merupakan buah pertama yang diberikan kepada bayi dengan
menghancurkannya menjadi bubur terlebih dahulu. Baru setelah itu meningkat dari bubur ke
beras yang disaring, nasi tim, dan akhirnya makanan orang dewasa.5

Imunisasi

Imunisasi adalah prosedur rutin pemberian vaksinasi yang akan melindungi anak
terhadap penyakit tertentu. Vaksin yang diberikan akan menstimulasi sistem kekebalan
tubuh bayi/anak untuk memproduksi zat anti guna melawan suatu penyakit, sehingga
anak menjadi kebal atau bila terkena sakitnya menjadi ringan dan tidak menimbulkan
komplikasi yang berbahaya.6
Segera setelah bayi lahir, terdapat imunisasi pasif yang dikeluarkan oleh ibu
melalui ASI yang disebut dengan kolostrum. Kolostrum merupakan ASI pertama yang
dikeluarkan oleh seorang ibu yang berwarna kekuningan dan mengandung banyak gizi
serta zat-zat pertahanan tubuh. Kolostrum pada hari pertama tiap 100 ml mengandung
600 IgA, 80 IgG, dan 125 IgM. Komposisi ini akan terus berubah sesuai ketahanan tubuh
bayi. Peran kolostrum sampai hari ke-3 setelah persalinan selain sebagai imunisasi pasif

10

juga mempunyai fungsi sebagai pencahar untuk mengeluarkan mekonium dari usus bayi.
Oleh karenanya bayi sering defekasi dan feses berwarna hitam.7
Keberhasilan pemberian imunisasi pada anak dipengaruhi oleh beberapa
faktor, diantaranya terdapat tingginya kadar antibodi pada saat dilakukan imunisasi,
potensi antigen yang disuntikan, waktu antara pemberian imunisasi dan status nutrisi
terutama kecukupan protein karena protein diperlukan untuk mensintesis antibodi. Di
Indonesia terdapat jenis imunisasi yan diwajibkan oleh pemerintah(imunisasi dasar) dan
ada juga yang hanya dianjurkan. Beberapa imunisasi dasar yang diwajibkan oleh
pemerintah antara lain:2
1. Imunisasi BCG
Imunisasi BCG (Bacillus calmette Guerin) merupakan imunisasi yang digunakan
untuk mencegah terjadinya penyakit TBC, sebab terjadinya penyakit TBC yang
primer atau yang ringan dapat terjadi walaupun sudah dilakukan imunisasi BCG.
Vaksin BCG merupakan vaksin yang mengandung kuman TBC yang telah
dilemahkan. Vaksin BCG diberikan melalui intradermal. Efek samping pemberian
imunisasi BCG adalah terjadinya ulkus pada daerah suntikan, limfadenitis regionalis,
dan reaksi panas.
2. Imunisasi Hepatitis B
Imunisasi hepatisis B merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah
terjadinya penyakit hepatitis B. kandungan vaksin ini adalah HbsAg dalam bentuk
cair. Frekuensi pemberian imunisasi hepatitis B sebanyak 3 kali dan penguatnya dapat
diberikan pada usia 6 tahun. Imunisasi hepatitis B ini diberikan intramuskular.
3. Imunisasi Polio
Imunisasi polio merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya
poliomyelitis yang dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak. Kandungan vaksin ini
adalah virus yang dilemahkan. Imunisasi polio diberikan melalui oral.
4. Imunisasi DPT
Imunisasi DPT (Diphteria, Pertussis, Tetanus) merupakan imunisasi yang
digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit difteri, pertusis dan tetanus. Vaksin
DPT ini merupakan vaksin yang mengandung racun kuman difteri yang telah
dihilangkan sifat racunnya, namun masih dapat merangsang pembentukan zat anti
(toksoid). Imunisasi DPT diberikan melalui intramuskular. Pemberian DPT dapat
berefek samping ringan atau berat. Efek ringan misalnya terjadi pembengkakan, nyeri
11

pada tempat penyuntikan, dan demam. Efek berat misalnya kesakitan kurang lebih
empat jam, kesadaran menurun, terjadi kejang, ensefalopati, dan syok. Upaya
pencegahan penyakit difteri, pertusis dan tetanus perlu dilakukan sejak dini melalui
imunisasi karena penyakit tersebut sangat cepat serta dapat meningkatkan kematian
bayi dan anak balita.
5. Imunisasi campak
Imunisasi campak merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah
terjadinya penyakit campak pada anak karena termasuk penyakit menular. Kandungan
vaksin ini adalah virus yang dilemahkan. Imunisasi campak diberikan melalui
subkutan. Imunisasi ini memiliki efek samping seperti terjadi ruam pada tempat
suntikan dan panas. Angka kejadian campak juga sangat tinggi dalam mempengaruhi
angka kesakitan dan kematian anak.
6. Imunisasi MMR
Imunisasi MMR(Mumps, Measles and Rubella) merupakan imunisasi yang
digunakan dalam memberikan kekebalan terhadap penyakit campak(measles),
gondong(mumps), dan campak jerman(Rubella). Dalam imunisasi MMR, antigen
yang dipakai adalah virus campak strain edmonson yang dilemahkan, virus rubella
strain RA 27/3 dan virus gondong. Vaksin ini tidak dianjurkan untuk bayi usia
dibawah 1 tahun karena di khawatirkan terjadi intervensi dengan antibodi material
yang masih ada.
7. Imunisasi thypus abdominalis
Imunisasi thypus abdominalis merupakan imunisasi yang digunakan untuk
mencegah terjadinya penyakit thypus abdominalis. Dalam persediaan khususnya di
Indonesua terdapat 3 jenis vaksin thypus abdominalis, diantaranya kuman yang
dimatikan, kuman yang dilemahkan(vivotif berna) dan antigen capsular Vi
polysaccharida(Thypim Vi, Pasteur Meriux). Pada imunisasi awal dapat diberikan
sebanyak 2 kali dengan interval 4 minggu kemudian penguat setelah 1 tahun
kemudian.
8. Imunisasi varicella
Imunisasi varicella merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya
penyakit cacar air (varicella). Vaksin varicella merupakan virus hidup varicella
zooster strain OKA yang dilemahkan. Pemberian vaksin varicella dapat diberikan
suntukan tunggal pada usia 12 tahun di daerah tropis dan bila di atas usia 13 tahun
dapat diberikan 2 kali suntikan dengan interval 4-8 minggu.
12

9. Imunisasi Hepatitis A
Imunisasi hepatitis A merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah
terjadinya penyakit hepatitis A. Pemberian imunisasi ini dapat diberikan untuk usia
diatas 2 tahun. Imunisasi awal menggunakan vaksin Havrix (berisi virus hepatitis A
strain HM175 yang dinonaktifkan) dengan 2 suntikan dan interval 4 minggu, booster
pada 6 bulan setelahnya.
10. Imunisasi HiB
Imunisasi HiB (Hemophilus infulezae tipe b) merupakan imunisasi yang
diberikan untuk mencegah terjadinya oenyakit influenzae tipe b.
Edukasi
Selain penatalaksanaan medik, pasien, dalam hal ini seorang ibu yang baru
melahirkan, harus diberi edukasi dalam rangka melaksanakan penatalaksanaan medik.
Antara lain dengan memberikan edukasi mengenai pemberian ASI eksklusif untuk
bayinya dan juga penyuluhan mengenai jadwal-jadwal imunisasi yang tepat bagi
bayinya.
Kesimpulan
Pada seorang bayi baru lahir, dapat dilakukan berbagai macam pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan fisik tersebut antara lain pemeriksaan seluruh organ-organ tubuh bayi,
pemeriksaan denyut jantung dan laju pernapasan, warna kulit bayi, pemeriksaan antropometri
dan sebagainya. Salah satu metode praktis yang secara sistematis digunakan untuk menilai
bayi baru lahir segera sesudah lahir adalah dengan menggunakan apgar score. Setelah
didapati bayi lahir sehat maka penatalaksanaan yang tepat adalah dengan memberikan ASI
eksklusif dari ibunya dan imunisasi. Selain itu ibu yang baru melahirkan juga harus diberikan
edukasi agar penatalaksanaan terhadap bayi yang baru lahir tersebut dapat berjalan dengan
lancar dan baik sehingga bayi dapat tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas dan
berkepribadian baik.

13

Daftar Pustaka
1. Soetjiningsih. Tumbuh kembang anak. Jakarta: EGC, 1995. Hal. 1-16.
2. Aziz AHA. Pengantar ilmu kesehatan anak untuk ilmu kebidanan. Jakarta:
Salemba Medika, 2008. Hal. 63-87.
3. Gleadle J. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Penerbit
Erlangga, 2005. Hal. 55.
4. Nelson. Ilmu kesehatan anak. Jakarta: EGC, 1999. Hal. 541.
5. Roesli U. Mengenal ASI eksklusif. Jakarta: Puspa Swara, 2009. Hal. 6-12.
6. Suririnah. Buku pintar mengasuh batita. Jakarta: Gramedia Pustaka, 2007. Hal.
255-64.
7. Purwanti HS. Konsep penerapan ASI eksklusif. Jakarta: EGC, 2004. Hal.9-10.

14

Anda mungkin juga menyukai