Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam mempertahankan kelanggenan hidupnya, hewan tertentu berkembang
biak dengan menghasilkan telur, seperti ikan, unggas, binatang melata dan
sebagainya. Peranan telur dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat Indonesia
tampak semakin penting. Hal ini disebabkan semakin tingginya kesadaran
masyarakat akan pentingnya gizi terutama protein hewani. Berbagai jenis telur yang
dapat dikonsumsi seperti telur ayam, itik, angsa, dan lain-lain.
Telur merupakan bahan makanan yang bernilai gizi tinggi, yang dibutuhkan
oleh tubuh manusia. Di samping mengandung kadar protein yang tinggi, telur juga
merupakan sumber zat besi, beberapa mineral lain dan vitamin, sehingga telur
merupakan bahan pangan hewani yang dapat dikonsumsi oleh manusia pada segala
umur. Menurut Buckle et al (1987), telur adalah bahan pangan yang memiliki gizi
tinggi yaitu mengandung protein, lemak, karbohidrat, vitamin dna mineral. Sifat
telur yang mudah rudak dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, suhu, kelembaban
dan panas, sehingga akan terjadi penurunan kualitas telur. Selama penyimpanan,
telur juga akan mengalami penurunan kualitas.
Setiap telur memiliki komposisi antara putih dan kuning telur yang berbeda,
terutama pada kandungan lemaknya. Selain lemak, kuning telur mengandung
banyak vitamin-vitamin yang larut lemak dan fosfolipid, termasuk lesitin yaitu zat
pengemulsi. Dari komposisi ini, maka telur dapat dijadikan berbagai produk olahan
dengan kandungan nutrisi yang tinggi, seperti tepung dan bahan baku produk
olahan. Akan tetapi telur sangat mudah rusak serta memiliki masa simpan yang
sangat pendek apabila tidak diberi perlakuan apapun. Oleh sebab itu, perlu
penanganan khusus dalam pengolahan telur. Untuk dapat mengangani dan
memanfaatkan telur seoptimal mungkin, dalam makalah ini akan dijelaskan
mengenai pengertian telur, struktur telur, komposisi kimia telur, sifat fungsional
telur dan kualitas telur.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian telur?
2. Bagaimana struktur telur?
3. Apa saja komposisi kimia telur?
4. Apa saja sifat fungsional telur?
5. Bagaimana cara menentukan kualitas telur?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui apa pengertian telur.
2. Untuk mengetahui bagaimana struktur telur.
3. Untuk mengethaui apa saja komposisi kimia telur.
4. Untuk mengetahui apa saja sifat fungsional telur.
5. Untuk mengetahui bagaimana cara menentukan kualitas telur.
D. Manfaat Penulisan
1. Menambah khazanah ilmu pengetahuan.
2. Mengetahui pengertian telur.
3. Mengetahui struktur telur.
4. Mengethaui komposisi kimia telur.
5. Mengetahui sifat fungsional telur.
6. Mengetahui cara menentukan kualitas telur.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Telur
Telur merupakan produk peternakan yang memberikan sumbangan terbesar
bagi tercapainya kecukupan gizi masyarakat. Dari sebutir telur didapatkan gizi yang
cukup sempurna karena mengandung zat-zat gizi yang sangat baik dan mudah
dicerna. Oleh karenanya telur merupakan bahan pangan yang sangat baik untuk
anak-anak yang sedang tumbuh dan memerlukan protein serta mineral dalam jumlah
banyak dan juga dianjurkan diberikan kepada orang yang sedang sakit untuk
mempercepat proses penyembuhan. Telur mempunyai kandungan protein yang
lengkap, akan tetapi lemak yang terkandung di dalamnya juga tinggi
(Sudaryani, 2003).
Telur dalam pengertian sehari-hari mempunyai dua kriteria yaitu sebagai
bahan biologi dan sebagai bahan pangan. Sebagai bahan biologi, telur merupakan
sumber nutrient kompleks yang lengkap bagi pertumbuhan sel yang dibuahi.
Sedangkan sebagai bahan pangan, telur merupakan salah satu sumber protein
hewani kedua yang mudah dijangkau setelah ikan. Nilai gizi telur serupa dengan
susu, dalam arti dapat dijadikan sumber makanan bagi pertumbuhan biologi.
Bedanya, susu merupakan bahan makanan bagi pertumbuhan anak, sedangkan telur
merupakan bahan makanan bagi pertumbuhan embrio. Sebagai bahan makanan,
telur memiliki reputasi yang tinggi karena,
1. Telur mengandung zat-zat makanan yang penting bagi tubuh yakni sumber
protein, lemak, vitamin dan mineral yang cukup lengkap sehingga bias
membantu memperlancar proses-proses metabolisme dalam tubuh.
2. Kandungan proteinnya secara nyata menyumbang gii yang diperlukan pada fase
pertumbuhan sehingga sangat tepat diberikan pada golongan masyarakat rawan
gizi seperti ibu hamil dan menyusui, anak-anak pada usia pertumbuhan, orang
tua maupun pekerja yang banyak menggunakan tenaga fisik.

3. Gizi yang terkandung dalam telur mudah dicerna dan diabsorbsi oleh tubuh
secara sempurna, misalnya lemak dalam telur yang sudah dalam keadaan
teremulsi sehingga mudah dicerna tubuh (Varcania, 2008).
B. Struktur Telur
Pada dasarnya, struktur telur terdiri atas sel yang hidup dan dikelilingi oleh
kuning telur sebagai cadangan makanan terbesar. Kedua komponen tersebut
dikelilingi oleh putih telur yang mempunyai kandungan air tinggi, bersifat elastis
dan dapat mengabsorbsi goncangan yang mungkin terjadi pada telur tersebut.
Komponen dalam itu dikelilingi oleh kulit telur yang berfungsi untuk mengurangi
kerusakan fisik dan biologis. Adanya kulit telur ini memungkinkan dilakukan
pernapasan dan pertukaran gas-gas dari dalam dan luar kulit telur. Komponen pokok
telur adalah kulit telur (shell), kuning telur (yolk) dan putih telur (albumin).
Presentase kulit telur 8-11%, kuning telur 27-32% dan putih telur 56-61% (Varcania,
2008).
Struktur telur secara terperinci dapat dibagi menjadi 5 bagian, yaitu sebagai
berikut:
1. Kerabang atau kulit telur dengan permukaan agak berbintik-bintik. Kerabang
telur merupakan pembungkus telur yang paling tebal, bersifat keras dan kaku.
Pada kerabang terdapat pori-pori yang berfungsi untuk pertukaran gas. Pada
permukaan

luar

kerabang

terdapat

lapisan

kutikula

yang

merupakan

pembungkus telur paling luar.


2. Selaput kerabang luar dan dalam, dimana selaput kerabang dalam lebih tipis dari
selaput kerabang luar dna keduanya mempunyai ketebalan 0,01-0,02 mm. Pada
ujung telur yang tumpul, kedua selapus terpisah dan membentuk rongga.
3. Albumin (putih telur) terdiri dari 4 lapisan, yaitu paling dalam lapisan tipis dan
encer atau lapisan chalaiferous (lapisan 4) dimana lapisan ini berhubungan
dengan selaput vitelina, lapisan luar yang tipis dan encer (lapisan 3) yang
mengelilingi lapisan kental (lapisan 2), dan paling luar adalah lapisan tipis dan
encer (lapisan 1).
4. Struktur keruh berserat yang terdapat pada kedua ujung kuning telur yang
disebut khalaza dan berfungsi memantapkan posisi kuning telur.

5. Kuning telur yang terdiri dari latebra, diskus terminalis, cincin atau lingkaran
konsentris dengan warna gelap dan terang, serta dikelilingi oleh selaput vitelina
(Azizah dkk, 2012).

Gambar 1.1 Penampang Telur dan Bagian-bagiannya (Muchtadi dkk, 2010)


C. Komponen Kimia Telur
Komposisi telur didasarkan pada berat telur 58 gram dengan 11% kulit, 58%
putih telur dan 31% uning telur. Jika dihitung berdasarkan berat bagian dalam telur
saja terdiri dari 65% putih telur dan 35% kuning telur.
Tabel 1.1 Komposisi Kimia Berbagai Telur
Kadar air
Protein
Lemak
Hewan
(%)
(%)
(%)
Ayam
73.7
12.9
11.5
Itik
70.4
13.3
14.5
Angsa
70.4
13.9
13.3
Merpati
72.8
13.8
12.0
Puyuh
73.7
13.1
11.1
Kalkun
72.6
13.1
11.8
Penyu
66.7
16.5
11.6
(Muchtadi dkk, 2010)

Karbohidrat
(%)
0.9
0.7
1.5
0.8
1.0
1.7
3.3

Abu (%)
1.0
1.1
0.9
1.1
0.8
1.9

Sebutir telur berisi 6-7 gram protein. Protein telur mempunyai kualitas yang
tinggi untuk pangan manusia. Protein telur berisi semua asam amino esensial yang
berkualitas sangat baik sehingga sering dipakai untuk standarisasi mengevaluai
protein pangan lain. Telur juga mengandung 6 gram lemak yang mudah di cerna.
Jumlah asam lemaj tidak jenuh lebih tinggi dibandingkan dengan yang terdapat
produk hewani yang lain.
Telur biasanya juga mengandung semua vitamin yang sangat dibutuhkan
kecuali vitamin C. Semua vitamin larut lemak (A, D,E dan K), vitamin yang larut air
(thiamin, riboflavin, asam pantotenat, niacin, asam folat dan vitamin B 12) dan faktor
pertumbuhan yang lain juga ditemukan dalam telur. Kuning telur cukup tinggi
kandungan kolesterolnya.
Tabel 1.2 Komposisi Kimia Bagian Telur Ayam dalam 100 gram
Nutrisi
Putih Telur Kuning Telur
Proporsi
60
30.7
Energi (kcal)
47
364
Air (g)
88.6
49
Protein (g)
10.6
16.1
Karbohidrat (g)
0.8
0.5
Abu (g)
0.5
1.6
Lemak (g)
0.1
34.5
Trigliserida (g)
22.9
Phospolopid (g)
10.0
Kolesterol (g)
0
1.2
Lesitin (g)
7.2
Asam lemak jenuh (g)
13.0
Asam palmitat (g)
7.3
Asam stearat (g)
2.5
Asam lemak tidak jenuh (g)
20.7
Asam palmitoleik (C16:1)
1.1
Asam oleat (C18:1)
12
Asam linoleat (C18:2)
3.6
Asam linolenat (C18:3)
0.12
Asam arakidonat (C20:4)
0.6
EPA (C20:5)
0
DHA (C22:6)
0.4
Asam amino esensial (mg)
Isoleusin
240
410
Leusin
560
870
Lysine
880
1390
Methionin + cystine
660
1170
6

Telur Utuh
90.7
154
74.4
12.3
0.7
0.9
11.9
7.7
3.4
0.42
2.30
4.4
2.5
0.86
7.0
0.4
4.1
1.25
0.04
0.2
0
0.15
290
660
1040
820

Phenylalanine + tyrosine
Threonine
Trypthopan
Valine
Mineral (mg/ 100 g)
Sodium
Klorin
Potasium
Kasium
Fosfor
Besi
Magnesium
Sulfur
Seng
Tembaga
Mangan
Iodin
Vitamin (g/ 100 g)
Asam askrobat
Vitamin A, eqivalen retinol
Vitamin D
Vitamin E
Vitamin B1
Vitamin B2
Vitamin B6
Vitamin B12
Asam folat
Niasin
Biotin
Asam pantotenat
(Muchtadi dkk, 2010)

670
1020
470
170

660
1420
850
240

640
1150
590
190

155
175
140
8
18
0.1
10
163
0.12
0.02
0.007
0.003

50
162
100
133
530
4.8
15
165
3.9
0.14
0.11
0.14

120
172
125
50
193
1.7
12
164
1.4
0.06
0.04
0.05

0
0
0
0
10
430
10
0.1
12
90
7
250

0
450
4.5
3600
250
480
370
2.8
140
60
60
4500

0
150
1.5
1200
913
447
133
1
56
79
25
1700

D. Sifat Fungsional Telur


Sifat-sifat fungsional telur didefinisikan sebagai sekumpulan sifat dari
pangan atau bahan pangan yang mempengaruhi penggunaanya. Sifat-sifat tersebut
antara lain: daya koagulasi, daya buih, daya emulsi, kontrol kristalisasi serta
pewarna. Sifat-sifat fungsional sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor baik faktor
fisika maupun kimia. Yang banyak berperan dalam menentukan sifat tersebut adalah
sifat fisika-kimia protein yang meliputi komposisi asam amino termasuk presentase
dan penyebarannya, ukuran molekul, konformasi dan ikatan serta gaya yang
berperan dalam struktur molekul protein tersebut. Jadi perubahn sifat fisika-kimia

protein telur juga akan berpengaruh terhadap sifat-sifat fungsional telur yang
bersangkutan.
Telur, baik secara keseluruhan maupun bagian misalnya kuning telur atau
putih telur memiliki sifat seperti berikut:
1. Daya Koagulasi
Koagulasi pada telur ditandai dengan kelarutan berubahnya bentuk cairan (sol)
menjadi padat (gel). Perubahan struktur molekul protein ini dapat disebabkan
oleh pengaruh panas, mekanik, asam, basa, garam dan pereaksi garam lain
seperti uera. Koagulasi yang irreversible disebabkan dengan pemanasan pada
suhu 60-70 . Sifat koagulasi ini dimiliki putih telur maupun kuning telur.
2. Daya Buih (foaming)
Buih adalah bentuk dispersi koloida gas dalam cairan. Apabila putih telur maka
gelembung udara akan terperangkap dalam albumin cair dan membentuk busa.
Semakin banyak udara yang terperangkap busa yang terbentuk akan semakin
kakudan kehilangan sifat alirnya. Kestabilan buih ditentukan oleh kandungan
ovomusin (salah satu komponen putih telur).
3. Daya Emulsi (Emulsifying properties)
Emulsi adalah campuran dari dua jenis cairan yang secara normal tidak dapat
bercampur, dimana salah satu fase terdispersi dalam fase pendispersi. Kuning
telur juga merupakan emulsi minyak dalam air. Kuning telur mengandung
bagian yang bersifat surface active yaitu lesitin, kolesterol dan lesitoprotein.
Lesitin mendukung terbentuknya emulsi minyak dalam air (o/w), sedangkan
kolesterol cenderung untuk membentuk emulsi air dalam minyak (w/o).
4. Kontrol Kristalisasi
Penambahan albumin kedalam larutan gula (sirup) dapat mencegah terbentuknya
kristal gula. Keberadaan albumin tersebut mencegah penguapan sehingga
mencegah inversi sukrosa yang berlebihan. Sifat telur yang demikian ini
dimanfatkan dalam pembuatan gula-gula (candy). Penambahan telur dalam
pembuatan gula-gula memberikan rasa manis, halus serta selalu basah dimulut.

5. Pemberi Warna
Sifat ini hanya dimiliki kuning telur, yaitu pigmen kuning dari xantofil, lutein,
beta karotein dan kriptoxatin. Sifat ini tidak banyak dimanfaatkan seperti yang
lain, hanya digunakan dalam beberapa produk misalnya backed product, es krim,
custrad dan saus.
Tabel 1.3. Penggunaan dan Fungsi Telur dalam Pangan
Produk Pangan
Sifat Fuangsional
Foaming dan coagulation
Cakes
Flavor
Warna kuning telur
Candy
Penghambatan kristalisasi
Koagulasi
Custrads
Flavor
Koagulasi
Putih telur
Flavor
Telur rebus, goreng
Emulsifikasi
Mayonnaise
Daya buih
Meringues
Koagulasi
Salad dressing
Emulsifikasi
(Muchtadi dkk, 2010)
E. Kualitas Telur
Menurut U.S. Departement of Agriculture, secara standar umum, telur
memiliki 3 grade (tingkat kualitas) yaitu grade AA, grade A dan grade B tetapi
tidak berpengaruh terhadap keamanan produk dan kualitas nutrisi.

Gambar 1.2 Grade AA

Gambar 1.3 Grade A

Gambar 1.4 Grade B

Grade AA dan grade A adalah telur yang paling diminati dna dibeli banyak
konsumen (terutama industri tata boga). Perbedaan utama dalam grade AA dan
grade A dilihat dari kekukuhan (firmness) dari kuning telur, putih telur dan ukuran
dari rongga udara. Telur dalam grade AA dan A biasanya digunakan untuk
menggoreng dan merebus karena telur dapat mempertahankan tekstur dari telur.
Grade B ada kemungkinan memiliki satu atau beberapa cacat di dalamnya
(misalnya seperti kulit telur yang ternoda, memiliki ronggaudara yang besar, putih
telur yang terlalu berair, ada sedikit bercak darah di dalam putih telur dan kuning
telur yang melebar). Telur grade B masih dapat digunakan secara umum, tetapi
putih telur dengan grade B ini mungkin tidak dapat dikocok dengan baik apabila
putih telurnya terlalu berair. Penentuan grade juga bias diperiksa dengan cara
melihat kedalaman ruang udaranya (air cell). Grade AA memiliki kedalaman ruang
udara sebesar 0,3 cm, grade A memiliki kedalaman ruang udara sebesar 0,5 cm dan
grade B memiliki kedalaman ruang udara lebih besar dari 0,5 cm.
Kualitas telur secara keseluruhan ditentukan oleh kualitas isi dan kulit telur.
Oleh karena itu, penentuan kualitas telur dilakukan pada kedua bagian telur tersebut.
Kualitas telur sebelum keluar dari organ reproduksi ayam dipengaruhi oleh beberapa
faktor yaitu kels, strain, family, individu, pakan, penyakit,umur dan suhu
lingkungan. Kualitas telur sesudah keluar dari organ reproduksi dipengaruhi oleh
penganganan telur dan penyimpanan yaitu lama, suhu dan bau penyimpanan
(Sudaryani, 2003).
Pada dasarnya ada dua cara penentuan kualitas telur yaitu penentuan kualitas
telur secara eksterior dan interior.
1. Penentuan kualitas telur secara eksterior
a. Bentuk telur
Untuk menentukan bentuk telur, sebelumnya harus diketahui bentuk telur
yang ideal. Hal ini dapat dibantu dengan penentuan indeks bentuk telur
(ayam) yang norman adalah 74 dan memiliki ujung runcing pada satu sisi
serta ujung tumpul pada sisi yang lain.
b. Berat telur
Berat telur (ayam) yang ideal adalah 58 gram.

10

c. Keadaan kerabang
USDA Egg Grading Manual telah membuat klasifikasi kualitas telur
berdasarkan bentuk dan tekstur kerabang menjadi 3 yaitu:
1) Normal, yaitu kerabang telur memiliki bentuk normal termasuk tekstur
dan kekuatan kerabang. Pada kerabang tidak ada bagian yang kasar
sehingga tidak berpengaruh pada bentuk, tekstur dan kekuatan dari
kerabang.
2) Sedikit normal, yaitu pada kerabang telur ada bagian yang bentuknya
tidak atau kurang beraturan. Pada kerabang ada bagian yang sedikit
kasar, tetapi tidka terdapat bercak-bercak.
3) Abnormal, yaitu bentuk kerabang tidak normal, tekstur kasar, dan
terdapat bercak-bercak atau bagian yang kasar pada kerabang.
Dalam pennetuan kualitas telur, kekuatan kerabang merupakan salah satu
pertimbangan ekonomi dalam industri. Hal ini dapat dilakukan dengan
mengukur tebal kerabang. Tebal kerabang minimal 0,33 mmadalah cukup
baik atau dapat dikatakan telur tersebut cukup kuat kerabangnya.
2. Penentuan kualitas telur secara interior
a. Candling (Peneropongan)
Candling yang akurat paling baik dilakukan di dalam ruangan gelap dengan
pengaturan arah sinar lampu melewati telur ke pemirsa. Karakter yang
diamati adalah cangkang, rongga udara, yolk, albumin dan blastoderm.
Dengan candling memungkinkan untuk mendeteksi retak pada cangkang,
ukuran rongga udara, ukuran dan mobolitas yolk, blood spot, meat spot,
cacat mikrobiologis dan germinasi (ada tidaknya perkembangan embrio).
b. Pemecahan
1) Kondisi albumin, dimana dengan menggunakan indeks putih telur dna
nilai Haugh Unit. Indeks putih telur secara normal berkisar 0,090 dan
0,120.

11

2) Kondisi yolk, yaitu warna, bentuk dan kekuatan selaput yang


membungkus yolk. Bentuk yolk dinyatakan dengan perbandingan antara
tinggi dan lebar yolk (indeks yolk). Indeks yolk yang baik berkisar antara
0,42-0,40 (Azizah dkk, 2012).
Menurut Sidakaton (2013), cara untuk membedakan telur yang baik dan
buruk adalah sebagai berikut:
1. Memperhatikan dan menyentuh kulit telur
Jika terdapat butiran-butiran kecil yang menonjol dalam jumlah cukup banyak
serta terasa kasar saat disentuh berarti kondisi telur masih segar dan baik untuk
dikonsumsi. Namun apabila kondisi kulit telur licin di tangan dan terlihat
mengkilap berarti telur dalam kondisi kurang segar.
2. Direndam dengan air dingin
Apabila telur yang dimauskkan ke air dalam posisi tidur maka telur masih segar
dan baik, sedangkan apabila dalam posisi miring maka telur telah disimpan
kurang lebih 3-5 hari. Jika posisi telur berdiri di dalam air maka telur telah
disimpan selama 10 hari atau lebih dan apabila telur mengambang maka telur
telah rusak atau busuk.
3. Mengguncang telur
Telur yang bagus tidak akan mengeluarkan suara, sedangkan telur yang
mengalami getaran saat digoyang berarti telur telah busuk.
4. Menyorot dengan lampu
Telur yang bagus terlihat jernih dan terang. Penyimpanan telur dilakukan dengan
posisi bagian yang lebih lebar di bawah, yang bertujuan agar posisi kuning telur
tetap di tengah. Selain itu, harus dijauhkan dari bahan makanan lain terutama
yang menghasilkan bau menyengat karena kulit telur memiliki pori-pori yang
bersifat dapat menyerap bau di sekitarnya.

12

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari makalah mengenai telur di atas, maka dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut:
1. Telur dalam pengertian sehari-hari mempunyai dua kriteria yaitu sebagai bahan
biologi dimana telur merupakan sumber nutrient kompleks yang lengkap bagi
pertumbuhan sel yang dibuahi dan sebagai bahan pangan dimana telur
merupakan salah satu sumber protein hewani kedua yang mudah dijangkau
setelah ikan.
2. Struktur telur secara terperinci dapat dibagi menjadi 5 bagian, yaitu kerabang
atau kulit telur dengan permukaan agak berbintik-bintik, selaput kerabang luar
dan dalam, albumin (putih telur), struktur keruh berserat yang terdapat pada
kedua ujung kuning telur (khalaza) dan kuning telur (yolk).
3. Komposisi kimia telur ayam adalah kadar air 73,7%, protein 12,9%, lemak
11,5%, karbohidrat 0,9% dan abu 1,0%.
4. Sifat fungsional telur adalah daya koagulasi,daya buih (foaming), daya emulsi
(emulsifying properties), kontrol kristalisasi dan pemberi warna.
5. Secara standar umum, telur memiliki 3 grade (tingkat kualitas) yaitu grade AA,
grade A dan grade B.
6. Pada dasarnya ada dua cara penentuan kualitas telur yaitu penentuan kualitas
telur secara eksterior (bentuk telur, berat telur, keadaan kerabang) dan penentuan
kualitas telur secara interior (candling/ peneropongan, pemecahan)
7. Cara untuk membedakan telur yang baik dan buruk adalah smemperhatikan dan
menyentuh kulit telur, direndam dengan air dingin, mengguncang telur dan
menyorot dengan lampu.

13

DAFTAR PUSTAKA
Azizah, Nurul, Betty Ayu Noviani dan Stevia Tafdhila Ramadhani. 2012. Makalah
Kelompok, Tugas Mata Kuliah Pengetahuan Bahan Pangan. Pendidikan
Teknik Tata Boga UNY. Yogyakarta.
Buckle, K. A., R. A. Edwards., G. H. Fleet and M. Wooton. 1987. Ilmu Pangan. UIPress. Jakarta.
Muchtadi, Tien R., Sugiyono dan Fitriyono Ayustaningwarno. 2010. Ilmu Pengetahuan
Bahan Pangan. Alfabeta. Bandung.
Sidakaton,

Safari.

2013.

Ini

Tips

Membedakan

telur

Baik

dan

Buruk.

http://www.tnol.co.id/tips-trik/20796-ini-tips-membedakan-telur-baik-danburuk.html. Diakses pada tanggal 11 September jam 12.22 WIB.


Sudaryani, T. 2003. Kualitas Telur. Penebar Swadaya. Jakarta.
Varcania, Dea Rizky. 2008. Penetapan Kadar Asam Dolosaheksaenoat (DNA) dalam
Kuning Telur yang Diperkaya Omega 3 secara Kromatografi Gas. Skripsi
Sarjana Ilmu Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Indonesia. Jakarta.

14