Anda di halaman 1dari 2

EBP-G-TG1-G8

Andreas Devi

12030112120036

Aulia Nurrachmat

12030112130254

Sayogya N

120301132120025

a. manusia dan alam merupakan satu kesatuan sistem dikarenakan manusia memperlukan
sumber daya yang terdapat di alam sehingga dalam memanfaatkan sumber daya yang ada
di alam manusia perlu untuk memperhitungkan bebrapa hal seperti penggunaan yang
berkelanjutan, dan kondisi lingkungan hidup. Energi merupakan salah satu sumber daya
yang dibutuhkan manusia untuk menunjang kehidupan sehingga manusia memanfaatkan
adanya potensi yang terdapat di alam termasuk minyak dan gas. Dalam kasus Lapindo
Brantas dan kasus eksplorasi serta eksploitasi migas secara umum, tentu saja swasta
maupun pemerintah menanggung risiko terjadinya kerusakan atau kegagalan proses yang
dapat mengakibatkan kerugian materiil dan imateriil kepada masyarakat sekitar.
Persebaran penduduk di Indonesia sendiri tidak merata dan terkonsentrasi di Pulau Jawa
sehingga kurang tepat apabila melakukan eksplorasi minyak dan gas di Pulau Jawa
karena risiko-risiko yang mungkin terjadi dapat mengakibatkan kerugian di daerah yang
padat penduduk. Namun dari sudut pandang kebutuhan perlu di telaah lagi karena
besarnya jumlah penduduk di Pulau Jawa mengakibatkan kebutuhan akan energi semakin
besar. Permintaan energi yang besar di Pulau Jawa baik dari sektor industri maupun
masyarakat umum merupakan peluang bagi sektor swasta dan kewajiban bagi pemerintah
untuk menunjang kebutuhan energi tersebut. Berdasarkan data yang kami peroleh dari
prokum.esdm.go.id Pulau Jawa bagian barat memiliki cadangan gas 4,24 TSCF
sedangkan Pulau Jawa bagian timur memiliki 5,73 TSCF. Cadangan di Pulau Jawa
apabila dibandingkan dengan cadangan di pulau lain terutama Pulau Sumatra memang
kecil, namun Pulau Jawa penduduknya terpadat di seluruh Indonesia menjadi peluang
bagi swasta maupun pemerintah untuk memotong biaya distribusi. Kesimpulan dari
kelompok kami tidak tepat untuk melakukan eksplorasi minyak dan gas di daerah yang
padat penduduk karena risiko yang dapat terjadi dari eksplorasi tersebut namun adanya
potensi sumber daya yang ada di Pulau Jawa terutama Provinsi Jawa Timur yang
termasuk 4 besar penghasil minyak terbesar di Indonesia (republika.co.id 22 Mei 2014)
sangat sayang apabila dihentikan kegiatan eksplorasinya. Berkaitan dengan etika
lingkungan bukan eksplorasi alam yang dihentikan namun memeratakan penyebaran
penduduk yang terkonsentarasi di Pulau Jawa ke daerah lain di Indonesia sehingga dari
sisi etika alam dapat terpenuhi karena melakukan eksplorasi di daerah yang kurang padat
serta perekonomian di daerah lain yang minim penduduk dapat meningkat karena
keberadaan sumber daya manusia dari Pulau Jawa.
b. Pemberian izin konsesi eksplorasi migas oleh pemerintah, khususnya terkait dengan
eksplorasi pada daerah yang memiliki tingkat kepadatan penduduk yang tinggi
merupakan sebuah kesalahan besar. Sadar atau tidak pemerintah telah mendorong
rakyatnya kedalam jurang bencana yang besar. Untuk tahap awal masyarakat sekitar

mungkin akan memperoleh dampak positif dengan terbukanya lapangan pekerjaan dan
bergeliatnya roda ekonomi. Tapi hal ini tak akan berlangsung lama hal ini sesuai dengan
sifat migas yang tidak dapat diparbaharui yang tentunya pasti akan habis. Dampak
negatifnya mungkin tidak instan akan dirasakan tapi kedepannya tak bisa dipungkiri hal
itu kemungkinan besar akan terjadi. Seperti yang dicontohkan pada semburan lumpur
lapindo. Apa yang musti dilakukan oleh pemerintah? Memeriksa kembali AMDAL yang
di buat oleh Perusahaan untuk mengekplorasi migas, karena kita perlu memperhatikan
keberlanjutan dan konservasi lingkungan. Selain itu pemerintah juga perlu memastikan
aturan yang diberlakukan telah di penuhi sesuai ketentuan oleh Perusahaan terkait. Jika
tidak terpenuhinya ketentuan dan laporan AMDAL dari perusahaan yang baik, sebaiknya
pemberian izin di tunda atau di batalkan saja. Apa yang dilakukan oleh pemerintah saat
ini(pemberian izin konsesi eksplorasi) bila dilihat dari segi lapisan kesadaran masih
berada pada level kesadaran paling rendah yaitu level kesadaran fisik. Karena pemerintah
mengambil keputusan itu hanya berfikir untuk saat ini saja tanpa berfikir lebih jauh
kedepan tentang hal yang cakupannya lebih luas tidan hanya pada oriantasi semata
c. Dalam kasus lapindo brantas ini dapat dilihat bahwa tindakan PT Lapindo Brantas yang
tidak memasang casing sesuai dengan ketentuan merupakan suatu pelanggaran
khususnya bila kita lihat dari hakikat manusia secara utuh. Hal ini dikarenakan bila kita
lihat Lapindo Brantas disini hanya mementingkan kepentingan sendiri dengan berusaha
mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dari pengeboran ini namun dengan cara
yang salah. Mereka berusaha mengurangi pengeluaran mereka untuk menambah
keuntungan namun pengeluaran ini sebenarnya adalah pengeluaran yang penting dan
tidak seharusnya dilakukan tindakan yang demikian.
PT Lapindo Brantas tidak melihat lagi kepentingan orang lain dan malah merugikan
karena tindakan mereka ini. Aktifitas pengeboran seharusnya memiliki berbagai aturan
yang perlu diikuti. Aturan-aturan tidak hanya berisi mengenaiu bagaimana dalam
mendapatkan sumberdaya yang diinginkan tetapi juga mengenai keselamatan kerja yang
tentu sudah diperhitungkan oleh ahli dibidang ini.
Perusahaan seharusnya membuat planning serta blueprint yang tentunya harus mengikuti
semuat aturan-aturan tersebut. Dengan tidak memasang casing seperti ketentuan artinya
perusahaan sudah tidak lagi memperhitungkan keslamatan dan kepentingan orang lain
hanya demi keuntungan mereka sendiri. Bila dilihat dari letak perusahaan sendiri yang
berada didekat daerah pemukiman dan padat penduduk seharusnya lebih
memprioritaskan factor keamanan ini.
Jadi disini dapat disimplkan bahwa dengan tidak mengikuti aturan yang ada dan tidak
mempedulikan factor lingkungan serta social perusahaan telah melakukan pelanggaran
khususnya bila dilihat dari hakekat manusia secara utuh.