Anda di halaman 1dari 43

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang KKN-P
Kuliah Kerja Nyata Profesi (KKNP) merupakan mata kuliah mahasiswa dengan
terjun langsung di dunia kerja, dan juga merupakan bentuk aplikasi penyelenggaraan
pendidikan profesional yang memadukan secara sistematis antara program
pendidikan dengan program keahlian yang diperoleh langsung melalui dunia kerja,
sehingga terarah dan dapat mencapai tingkat keahlian profesional tertentu.
Dengan Kuliah Kerja Nyata Profesi (KKNP) ini penulis dapat membandingkan
teori yang didapat di bangku kuliah dengan kenyataan langsung di lapangan (dunia
kerja), serta bermanfaat untuk menambah wawasan dan pengalaman kerja yang
bergerak di bidang Lembaga Keuangan Bank maupun di bidang Lembaga Keuangan
Non Bank.
Setelah melakukan Kuliah Kerja Nyata Profesi, diharapkan Mahasiswa dapat
memperoleh pengalaman ilmu pengetahuan khususnya mengenai lembaga jasa
keuangan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam
berbagai kegiatan yang ada dalam Lembaga Keuangan. Pencapaian Kuliah Kerja
Nyata Profesi ini pada akhirnya mengacu pada pembentukan profesionalisme
mahasiswa yang mempunyai pengetahuan dan keahlian sehingga lulusan Sarjana
Ekonomi Universitas Brawijaya diharapkan bisa menjadi sumber daya manusia yang
siap pakai di masa yang akan datang.
Untuk dapat melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Profesi, mahasiswa diwajibkan
telah mengumpulkan minimum 129 SKS atau sudah termasuk dengan mata kuliah
1

yang diprogram dan telah lulus matakuliah Metodologi Penelitian. Setelah


pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata Profesi selesai dilaksanakan, mahasiswa diwajibkan
membuat Laporan Pelaksanaan KKNP.
Berdasarkan ketentuan dan persyaratan tersebut, penulis telah melakukan Kuliah
Kerja Nyata Profesi pada BMT Maslahah Sidogiri Pasuruan yang beralamat di Jl.
Raya Sidogiri Kraton No. 10 Pasuruan selama 25 hari kerja efektif terhitung mulai
tanggal 21 Agustus s.d. 18 September 2014 dengan hari kerja Sabtu s.d. Kamis.

1.2 Tujuan KKN-P


Adapun tujuan dari pelaksanaan program Kuliah Kerja Nyata meliputi:
1. Sebagai sarana guna meningkatkan kompetensi praktik bagi lulusan Jurusan
Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya agar siap
memasuki dunia usaha.
2. Membekali mahasiswa dengan keahlian dalam memecahkan masalah di dunia
usaha.
3. Meningkatkan kemampuan emosional mahasiswa untuk beradaptasi dan
peduli dengan kehidupan masyarakat.

1.3 Manfaat KKN-P

Manfaat dari Kuliah Kerja Nyata Profesi adalah:


1.3.1

Bagi Mahasiswa
a. Meningkatkan kompetensi, kecerdasan intelektual, dan emosional
b. Mempelajari, membandingkan, dan menerapkan pengetahuan teoritis yang
diperoleh di bangku kuliah dengan keadaan nyata yang ada di dunia usaha.
c. memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengetahui ada
tidaknya

perbedaan

antara

teori

perbankan

syariah

dengan

operasionalisasi perbankan di bank syariah sehingga nantinya mahasiswa


dituntut berperan aktif dalam dunia usaha.

1.3.2

Bagi Perusahaan/Instansi
a. Dapat melaksanakan salah satu bentuk tanggung jawab sosial lembaga
terhadap masyarakat.
b. Mendapatkan sumbangan pemikiran dan tenaga guna meningkatkan
kinerja lembaga.
c. Dapat dijadikan sebagai sarana membangun jaringan kerja sama dalam
berbagai bidang dengan pihak Universitas Brawijaya.

1.3.3

Bagi Jurusan
a. Memperluas jaringan kerja sama dalam berbagai bidang dengan pihak
BMT Maslahah Sidogiri.
b. Meningkatkan relevansi kurikulum pendidikan di Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya dengan dunia usaha.

1.3.4

Bagi Dosen Pembimbing


a. Mendapatkan pengetahuan dan pemahaman tentang praktik usaha di BMT
Maslahah Sidogiri.
b. Meningkatkan jaringan dengan BMT Maslahah Sidogiri.
BAB II
RENCANA KEGIATAN

2.1 Tempat Pelaksanaan KKN-P


Kegiatan Kuliah Kerja Nyata Profesi (KKNP) ini dilaksanakan di bagian
Funding Officer (FO), Account Officer (AO), dan Teller BMT Maslahah Sidogiri
Cabang Pembantu Kebonagung Jl. Raya Kebonagung Purworejo Pasuruan.

2.2 Waktu Pelaksanaan KKN-P

Kegiatan Kuliah Kerja Nyata Profesi (KKNP) dilaksanakan selama 25 hari kerja
efektif terhitung sejak tanggal 21 Agustus 2014 s.d. 18 September 2014 dengan
jadwal 6 hari dalam satu minggu (Sabtu s.d. Kamis) mulai pukul 07.30-14.00 WIB.

2.3 Rencana Kegiatan


Sebelum pelaksanaan kegiatan Kuliah Kerja Nyata Profesi (KKNP) di BMT
Maslahah Sidogiri Cabang Pembantu Kebonagung, penulis telah menyusun jadwal
rencana kegiatan KKN-P yang akan dilaksanakan selama 25 hari kerja efektif guna
kemudahan penulis dalam proses mencari informasi untuk penyusunan Laporan
Kuliah Kerja Nyata Profesi. Adapun rencana kegiatan KKNP yang telah disusun
penulis sebagai berikut:

Tabel 1
Rencana Kegiatan KKNP Dalam 25 Hari Kerja Efektif
JADWAL
10 Hari Pertama

10 Hari Kedua
5 Hari Ketiga

RENCANA KEGIATAN
1. Perkenalan lingkungan kerja BMT Maslahah Sidogiri.
2. Mempelajarai profil BMT Maslahah Sidogiri.
3. Mempelajari produk-produk sekaligus akad yang
ditawarkan di BMT Maslahah Sidogiri.
4. Bekerja di bagian Teller untuk melayani nasabah dalam
penyetoran tunai, penarikan tunai, pengajuan
pembiayaan, dan pembayaran angsuran pembiayaan.
1. Mempelajari pekerjaan bagian Funding Officer (FO)
2. Mempelajari pekerjaan bagian Account Officer (AO)
1. Mempelajari manajemen BMT secara umum.
2. Mempelajari Sistem Pengendalian Internal

3. Mempelajari CSR pada BMT Maslahah Sidogiri


Pasuruan
4. Mempelajari sistem Permodalan pada BMT Maslahah
Sidogiri
5. Mempelajari bentuk Laporan Keuangan pada BMT
Maslahah Sidogiri
(Sumber: Data olahan penulis)
BAB III
PELAKSANAAN RENCANA KEGIATAN
3.1 Gambaran Umum Objek KKNP
3.3.1 Sejarah BMT Maslahah Sidogiri Pasuruan
Koperasi BMT Maslahah awalnya didirikan pada 17 Juli 1997 atau 12 Robiul
Awwal 1418 H dengan nama Koperasi BMT MMU (Maslahah Mursalah lil Ummah).
Koperasi ini didirikan atas dasar keprihatinan para uztad (guru) Madrasah Miftahul
Ulum Pondok Pesantren Sidogiri karena kurangnya kaidah-kaidah syariah dalam
praktik keuangan yang semaki terjerumus kedalam unsur ribawi.
Seiring berjalannya waktu, koperasi ini yang awalnya beranggotakan para santri,
uztad dan keluarga pondok pesantren Sidogiri, kemudian berkembang dan disahkan
oleh SK Perubahan Anggaran Dasar Nomor 518.I/PAD/BH/XVI/66/103/2009
menjadi koperasi yang dapat beranggotakan lebih luas ke seluruh Provinsi Jawa
Timur. Dengan adanya SK tersebut maka koperasi ini berubah nama menjadi BMT
Maslahah

dengan

Izin

Usaha

Simpan

Pinjam

dari

Gubernur

Nomor:

P2T/20/09.06/01/X/2013 tanggal 23 Oktober 2013.


Sampai saat ini Koperasi BMT Maslahah yang berkantor pusat di Jalan Raya No
10 Sidogiri Kraton Pasuruan telah membuka 70 kantor pelayanan tambahan yang

terdiri dari 68 kantor cabang dan cabang pembantu serta 2 kantor kas yang tersebar di
beberapa kota dan kabupaten di Jawa Timur di antaranya Kabupaten Pasuruan, Kota
Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Mojokerto, Kota Surabaya, Kabupaten
Malang, Kota Gresik, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Ngawi, dan Kabupaten
Lumajang.
Untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia, BMT Maslahah melakukan
berbagai pelatihan dan pendidikan untuk Pengurus, Pengawas, Managerial,
Karyawan, dan Anggota koperasi. Tujuan dari pendidikan dan pelatihan ini adalah
untuk mempersiapkan para pengelola menghadapi semakin kuatnya arus persaingan
dari berbagai lembaga keuangan lainnya sehingga para pengelola dan pengurus
mampu bertahan bahkan mengembangkan koperasi BMT Maslahah agar lebih baik
lagi dan semakin maju.
Koperasi BMT Maslahah bergerak di bidang pembiayaan dan simpanan sesuai
pola syariah yang berorientasi ganda, yakni Profit Oriented (Maitul Tamwil) dan
Social Oriented (Baiutul Mal). Lebih jelasnya, selain profit atau keuntungan yang
diperoleh BMT maslahah juga menghimpun dan menyalurkan ZIS (Zakat, Infaq dan
Shodaqoh). Bidang usaha lain yang menjadi bagian BMT Maslahah antara lain
layanan pembayaran online melalui Bank serta investasi penyertaan di unit usaha Roti
dan Selep Padi.
3.1.2

Bentuk Badan Hukum dan Izin Usaha


Identitas BMT Maslahah Sidogiri telah memiliki badan hukum dan memiliki izin

usaha dengan nomor keputusan legalitas:

Badan Hukum: Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil RI, nomor:
608/BH/KWK.13/IX/2013, tanggal 04 September 1997.
TDP: Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pasuruan, nomor:
13.26.2.64.00099 tanggal 13 September 2013
SIUP:

Badan

Penanaman

Modal

Provinsi

Jawa

Timur,

nomor

P2T/20/

09.06/01/x/2013, tanggal 23 Oktober 2013


NPWP: 01.718.668.5-651.000

3.1.3 Lokasi
BMT Maslahah Sidogiri berlokasi di Jalan Raya No. 10 Sidogiri Kraton Pasuruan
Jawa Timur. BMT Maslahah Sidogiri juga memiliki jumlah Kantor Cabang/Capem
sebanyak 68 Kantor yang tersebar di seluruh Jawa Timur, di antaranya:
1. Kabupaten Pasuruan: 1 Kantor Pusat, 2 Kantor Kas, 1 Kantor Cabang, dan 19
Kantor Cabang Pembantu.
2. Kota Pasuruan: 1 Kantor Cabang dan 2 Kantor Cabang Pembantu.
3. Kabupaten Probolinggo: 1 Kantor Cabang dan 10 Kantor Cabang Pembantu.
4. Kabupaten Mojokerto: 1 Kantor Cabang dan 4 Kantor Cabang Pembantu
5. Kota Surabaya: 1 Kantor Cabang dan 5 Kantor Cabang Pembantu
6. Kabupaten Malang: 1 Kantor Cabang dan 8 Kantor Cabang Pembantu
7. Kota Gresik: 1 Kantor Cabang dan 1 Kantor Cabang Pembantu
8. Kabupaten Situbondo: 1 Kantor Cabang dan 4 Kantor Cabang Pembantu
9. Kabupaten Lumajang: 1 Kantor Cabang dan 4 Kantor Cabang Pembantu
10. Kabupaten Ngawi: 1 Kantor Cabang

3.1.4

Keanggotaan
Berdasarkan Buku Laporan Pertanggungjawaban Pengurus dan Pengawas

Rapat Anggota Tahunan 2013, jumlah anggota terdaftar sebanyak 2.999 orang
meningkat dari tahun 2012 yang berjumlah 1.994 orang.

3.1.5

Susunan Keorganisasian
Susunan keorganisasian terdiri dari 4 bagian, yaitu:

1. Pengurus, terdiri dari:


Ketua
Wakil Ketua I
Wakil Ketua II
Sekretaris
Bendahara
Perwakilan Pengurus tiap Kota/Kabupaten
2. Pengawas, terdiri dari:
- Pengawas Syariah
-

- Pengawas Managemen
- Pengawas Keuangan
3. Dewan Penasehat
4. Pengelola/Karyawan, terdiri dari:
- Manager Utama
- Manager Operational
- Manager Marketing
- Manager Personalia
- Manager Teknologi Informasi
- Staf Manager
- Karyawan Pusat dan Cabang/Capem
Berikut merupakan bagan susunan organisasi RSUD Dr. Saiful Anwar Malang:

10

Gb 1. Struktur Organisasi BMT Sidogiri Pasuruan

3.1.6

Tata Laksana Operasional


Dalam menjalankan aktivitas operasiona organisasi dan usaha, koperasi BMT

Maslahah Sidogiri melakukan kegiatan sesuai ketentuan operasional kerja dan terus
melakukan

perbaikan,

operasionalnya.

dan

pengembangan

guna

meningkatkan

kinerja

11

a. Operasional Kerja
1) Aktivitas operasional mengacu pada Anggaran Dasar, Anggaran Rumah
Tangga, SOM (Standar Operasional Managemen), SOP (Standar
Operasional Prosedur), dan peraturan-peraturan khusus lainnya.
2) Operasional kerja sehari-hari dikuasakan kepada Manager Utama dengan
dibantu Manager Operasional, Marketing, Personalia, dan TI. Setiap
manager dibantu oleh stafnya masing-masing.
3) Pengawas melakukan berbagai aktivitas di antaranya mengawasi keadaan
yang terkait keuangan dan usaha koperasi yang dilakukan secara
mendadak dan terencana atas berbagai aktivitas yang dilakukan oleh
Manager dan para karyawan koperasi. Pengawas juga bertugas
mengadakan pengecekan kas setiap akhir bulan.
4) Pengurus mengadakan rapat rutin yang terkait teknis maupun non teknis
seperti Rapat Anggota Tahunan, Rapat Anggota Evaluasi Program Kerja
dan Anggaran Pendapatan dan Biaya, Rapat Anggota Perubahan Anggaran
Dasar Koperasi, dan rapat lainnya baik terkait hal-hal teknis maupun non
teknis secara rutin maupun non rutin. Pengurus bersama Manajerial juga
mengadakan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kualitas Sumber
Daya Manusia.
b. Administrasi
Kegiatan administrasi di BMT Maslahah Sidogiri dibagi menjadi 2, yaitu
Kegiatan Administrasi Pengurus yang meliputi keanggotaan, kelembagaan,
inventaris, dan kegiatan yang terkait organisasi. Lalu Kegiatan Administrasi
Manajerial dan Cabang/Capem meliputi semua administrasi usaha, akuntansi,
dan keuangan.

12

3.1.7

Bidang Usaha
Produk-produk yang ditawarkan di koperasi BMT Maslahah Sidogiri
antara lain:
1. Simpanan/Tabungan
a. Tabungan Umum Syariah
b. Tabungan Wadiah
c. Tabungan Aqiqah/Qurban
d. Tabungan Haji
e. Tabungan Ziarah/Wisata
f. Tabungan Walimah
g. Tabungan Pendidikan
h. Deposito
2. Pembiayaan/Piutang
a. Mudharabah/Bagi Hasil
b. Musyarakah/Penyertaan
c. Murabahah/Jual Beli
d. BaI Bitsamanil Ajiil/Jual Beli Angsuran
e. Qordul Hasan/Kebajikan
f. Rahn/Gadai
g. Ijarah/Sewa
h. Talangan Haji
3. Jasa dan Layanan
a. PPOB (Payment Point Online Banking)
Layanan ini bekerja sama dengan PT. Magna Karsa Mulya Malang
untuk pembayaran tagihan Listrik dan Telepon.
b. Transfer Santri
c. Pengurusan Haji
d. Jasa Pengurusan Lain-lain
e. Ticketing
4. ZIS (Zakat, Infaq dan Shadaqah)
a. Zakat konsumtif berupa sembako, uang tunai, dan subsidi kepada
Guru Madrasah yang tidak mampu.
b. Zakat Produktif disalurkan melalui Lembaga Amil Zakat (LAZ)
Sidogiri.
c. Amil Zakat (LAZ Sidogiri)
d. Beasiswa Murid Madrasah
e. Operasional Zakat Konsumtif

13

3.1.8

f. Zakat kepada mustahiq lainnya


Permodalan dan Keuangan

Modal yang didapatkan untuk kelangsungan usaha di BMT Maslahah ini terdiri
dari modal sendiri dan modal dari luar (pinjaman pihak ke-3). Modal sendiri terdiri
dari setoran pokok anggota dan sertifikat modal koperasi. Modal dari luar terdiri dari
pinjaman dari lembaga Bank dan Non Bank yakni BNI Syariah Malang, LPDB
KUMKM Jakarta dan INKOPSYAH. Selain modal luar yang berasal dari
pinjaman/pembiayaan dari lembaga keuangan baik Bank maupun Non Bank,
Koperasi BMT Maslahah juga mendapat modal pinjaman dari anggota dan calon
anggota berupa tabungan syraiah umum, tabungan syariah berjangka, tabungan
wadiah dan deposito syariah.
Dalam

menjalankan

aktivitas

operasionalnya

koperasi

BMT Maslahah

berpedoman pada Anggaran Dasar Rumah Tangga, Standar Operasional Managemen,


Standar Operasional Prosedur, dan peraturan-peraturan khusus yang terus menerus
diperbaiki demi kenyamanan dan keamanan anggotanya. Penataan operasional kerja
sehari-hari dikuasakan kepada Manager Utama dengan dibantu oleh Manager
Operasional Marketing, Personalia dan TI setiap Manager bagian dibantu oleh
beberapa staff.
Kegiatan administrasi koperasi BMT Masalahah dibagi menjadi 2, yaitu
administrasi pengurus dan administrasi Managerial. Adminstrasi pengurus meliputi
administrasi keanggotaan, kelembagaan, inventaris, dan semua yang terkait dengan
organisasi/koperasi. Kegiatan administrasi managerial meliputi kegiatan administrasi

14

usaha, akuntansi, dan keuangan yang mengacu pada ketentuan dan peraturan yang
berlaku di koperasi BMT Maslahah.
Sarana dan prasarana yang ada di kantor pusat maupun cabang dan kas BMT
Maslahah juga senantiasa diperbaiki sesuai dengan kebutuhan demi menunjang
kelancaran kegiatan dan operasionalnya. Sarana dan prasarana tersebut, seperti
kendaraan inventaris kantor, lahan berupa tanah dan ruko di beberapa wilayah yang
kini ditempati sebagai kantor cabang.
3.2. Kegiatan yang Ditekuni
Kuliah Kerja Nyata Profesi (KKNP) dilaksanakan di Kantor BMT Maslahah
Sidogiri Cabang Pembantu Kebonagung yang beralamat di Jl. Raya Kebonagung
Purworejo Pasuruan. Kegiatan ini dilaksanakan selama kurang lebih 1 bulan (25 hari
kerja efektif) yang dimulai pada tanggal 21 Agustus 2014 sampai dengan 18
September 2014. Selama kegiatan KKNP berlangsung, penulis mengikuti jam
operasional kantor yaitu pukul 07.00-14.00. Hari kerja pada BMT Maslahah Sidogiri
Cabang Pembantu Kebonagung yaitu 6 hari dalam 1 minggu (Sabtu s.d. Kamis).
Waktu istirahat pada BMT Maslahah Sidogiri Cabang Pembantu Kebonagung bersifat
fleksibel, dengan kata lain tidak ada aturan jam untuk istirahat melainkan toleransi
sesuai dengan batasan-batasan yang sebelumnya telah ditetapkan pimpinan (ishoma).
Selama kegiatan KKNP (Kuliah Kerja Nyata Profesi), penulis memperoleh
banyak pengalaman serta pengetahuan mengenai kegiatan-kegiatan kerja yang
dilakukan di BMT Maslahah Sidogiri Cabang Pembantu Kebonagung Pasuruan.
Penulis membantu dalam beberapa kegiatan berikut:

15

a. Teller
Selama bekerja di bagian teller, penulis membantu dalam melayani
nasabah yang akan melakukan penarikan tunai, setoran tunai, pembayaran
angsuran pembiayaan, pembayaran listrik, dan setoran deposito. Selain itu,
penulis juga melayani nasabah yang bertanya tentang cara mengajukan
pembiayaan, dan juga melengkapi berkas-berkas saat realisasi pembiayan.
Bagian teller juga bertugas membuat laporan-laporan harian maupun bulanan
yang semuanya sudah secara otomatis tersusun di sistem komputer perusahaan
sejak transaksi sedang terjadi dan telah diinput di komputer.

Gb 2 : Kegiatan penulis sebagai Teller dan Customer Service


di kantor Cabang Pembantu Pasuruan
b. Account Officer (AO)
Selama bekerja di bagian Account Officer, penulis ikut dalam
bersilaturahmi ke rumah-rumah nasabah yang telah mengajukan pembiayaan
dan telah melengkapi berkas-berkas pengajuan pembiayaan untuk di survei
kebenaran informasi yang diberikan nasabah dan juga kelayakan untuk
diberikan dana pembiayaan. Selain survey, bagian AO juga melayani
pembayaran angsuran dengan langsung mengunjungi rumah warga yang
dirasa kesulitan untuk mencapai kantor. Tetapi, penarikan angsuran lebih
fokus kepada nasabah-nasabah yang telat membayar. Tidak jarang juga ada
nasabah yang menitipkan uang untuk dimasukan ke akun rekening
tabungannya, hal ini tetap dilayani AO dengan senang hati.

16

Gb 3 : Kegiatan penulis sebagai Account Officer (AO)


saat survei ke rumah nasabah.
g. Funding Officer (FO)
Selama bekerja di bagian Funding Officer, penulis ikut masuk ke Pasar
Kebonagung untuk melayani para pedagang di pasar sekaligus mencari
nasabah baru. Selama di Pasar Kebonagung FO lebih banyak melakukan
transaksi setoran tunai dengan para pedagang di pasar. Hal ini bertujuan untuk
menambah kas perusahaan dengan menawarkan kepada para pedagang yang
sekaligus telah menjadi nasabah BMT untuk menyisihkan sebagian
pendapatannya untuk dimasukan ke rekening tabungan. Untuk mengantisipasi
pedagang yang ingin menarik tabungannya, FO juga telah dibekali sejumlah
uang tunai. Selama melakukan transaksi FO juga dibekali telpon genggam dan
print slip yang telah diisi aplikasi khusus milik BMT yang secara otomatis
setelah transaksi diinput akan keluar print slip sekaligus transaksi tersebut
telah otomatis masuk ke database perusahaan.

17

Gb 4 : Kegiatan Penulis Sebagai Funding Officer (FO)


saat melayani transaksi di Pasar Kebonagung.

Berikut penulis lampirkan daftar kegiatan harian selama mengikuti kegiatan


KKN-P di BMT Maslahah Sidogiri Pasuruan
TABEL 2
LAPORAN KEGIATAN HARIAN KKN-P
No
.
1

Hari/Tanggal
Kamis, 21 Agustus 2014

Sabtu, 23 Agustus 2014

Minggu,
2014

24

Uraian Kegiatan Yang Dilakukan


-

Agustus -

Pengenalan produk dan Jasa BMT.


Menjadi Funding Officer di
Kebonagung.
Menjadi Funding Officer di
Kebonagung.
Menjadi Funding Officer di
Kebonagung.

Pasar
Pasar
Pasar

Minggu, 31 Agustus 2014

Senin, 25 Agustus 2014

Salasa, 26 Agustus 2014

Rabu, 27 Agustus 2014

Kamis, 28 Agustus 2014

Sabtu, 30 Agustus 2014

10

Senin,
2014

01

September -

11

Selasa, 02 September 2014


-

Menjadi
teller
melayani
transaksi
setoran
tunai, 18
penarikan
tunai,
pembuatan rekening
baru, dan angsuran
Menjadi Teller melayani transaksi setoran
pembiayaan.
tunai, penarikan tunai, pembuatan rekening
- Membuat
Laporan
baru, dan angsuran pembiayaan.
Tabungan Harian.
Membuat Laporan Tabungan Harian.
- Membuat
Laporan
Membuat Laporan Pembiayaan Harian.
Harian.
Membuat Laporan Kas Pembiayaan
Harian.
Membuat
Laporan
Menjadi Account Officer menarik angsuran
Kas Harian.
pembiayaan ke rumah-rumah
nasabah.
- Membuat
Membuat Laporan Tabungan
Harian. Laporan
Akhir Bulan:
Membuat Laporan Pembiayaan
Harian.
a.
Laporan
Membuat Laporan Kas Harian.
Pembukaan
Menjadi Account Officer menarik
angsuran
pembiayaan ke rumah-rumah Tabungan
nasabah.
b. Laporan
Menerima Pengajuan Pembiayaan
Baru
Menjadi teller melayani transaksi
setoran
Penutupan
tunai, penarikan tunai, pembuatan
rekening
Tabungan
c. Laporan
baru, dan angsuran pembiayaan.
Membuat Laporan Tabungan Realisasi
Harian.
Membuat Laporan Pembiayaan
Harian.
Pembiayaan
Membuat Laporan Kas Harian.
d. Laporan Laba
Menjadi teller melayani transaksi
setoran
Rugi Bulanan
tunai, penarikan tunai, pembuatan
e. Laporanrekening
baru, dan angsuran pembiayaan.
Perubahan
Membuat Laporan Tabungan Kekayaan
Harian.
Membuat Laporan Pembiayaan
Harian.
f. Daftar
Membuat Laporan Kas Harian.
Kolektibilitas
Melayani Pembayaran Tagihan
Listrik
g. Laporan
Pendapatan
Bulanan
h. Laporan
Distribusi Bagi
Hasil
i. Laporan Arus
Kas
j. Neraca Bulanan
k. Daftar
Angsuran
l. Kas Opname
Menjadi Account Officer melakukan survei
ke rumah nasabah yang mengajukan
pembiayaan.
Menarik angsuran pembiayaan ke rumah
nasabah.
Menjadi Account Officer melakukan survei
ke rumah nasabah yang mengajukan
pembiayaan.
Menarik angsuran pembiayaan dan menerima
-

19

(Sumber: Buku Kegiatan Harian KKNP Penulis)


3.3 Evaluasi Hasil Kegiatan KKN-P
3.3.1 Permasalahan
3.3.1.1 Sistem Pengendalian Internal untuk Pengajuan Pembiayaan Murabahah
1. Persyaratan Pengajuan Pembiayaan Murabahah
BMT Maslahah Sidogiri memberikan persyaratan-persyaratan yang berkaitan
dengan pengajuan pembiayaan murabahah, antara lain:
a. Pemohon berpenghasilan.
b. Pemohon tidak termasuk dalam daftar hitam perusahaan.
c. Pemohon melengkapi berkas-berkas yang diperlukan.
2. Unit yang Terkait dalam Proses Pengajuan Pembiayaan Murabahah
a. Teller
b. Account Officer
c. Kepala Cabang Pembantu
3. Tugas Pokok dan Fungsi Pengendalian Internal Setiap Unit dalam Proses
Pengajuan Pembiayaan Murabahah
a. Teller
1) Menjelaskan mengenai bentuk, persyaratan, dan ketentuan lain terkait
Pengajuan Pembiayaan Murabahah.
2) Melakukan wawancara awal dan menyiapkan Formulir Permohonan
Pembiayaan.
3) Mengecek kelengkapan Formulir Permohonan Pembiayaan dan berkas
pendukung persyaratan lainnya.
4) Menginformasikan kepada nasabah tentang kepastian waktu realisasi.
5) Membuat Surat Perjanjian Pembiayaan dan dokumen pendukung
lainnya.
b. Account Officer
1) Melakukan analisis pembiayaan atas permohonan yang masuk.
2) Melakukan survei langsung ke rumah atau tempat usaha nasabah.
3) Menyimpulkan dan menyarankan atas permohonan yang dapat
direalisasi.

20

c.

Kepala Cabang Pembantu


1) Sebagai perpanjangan tangan dan fungsi awal prosese pembiayaan dan
penyelesaian pembiayaan.
2) Merundingkan dan menentukan kelayakan Permohonan Pembiayaan
Murabahah.
3) Melakukan perikatan pembiayaan dan mengotorisasi Surat Perjanjian

Pembiayaan.
4. Narasi Prosedur Pengajuan Pembiayaan Murabahah
a. Nasabah datang menuju bagian teller, kemudian teller menjelaskan
mengenai bentuk kredit, syarat, dan ketentuan-ketentuan lainnya sekaligus
melakukan wawancara pertama.
b. Nasabah mengisi formulir permohonan
menyerahkan
c.

kelengkapan

pembiayaan,

dokumen-dokumen

terkait

kemudian
pembiayaan

murabahah ke teller.
Teller memeriksa kelengkapan-kelengkapan dokumen yang diperlukan.
Apabila lengkap, dokumen-dokumen dimasukan dalam Map Persiapan
Pembiayaan dan apabila dokumen tidak lengkap, maka dikembalikan ke
nasabah untuk dilengkapi. Map persiapan pembiayaan diserahkan kepada

Account Officer (AO)


d. AO menerima Map Persiapan Pembiayaan, menganalisa berdasar data-data
yang telah diberkan dari nasabah. Kemudian AO melakukan survei untuk
membandingkan wawancara awal apakah sesuai dengan keadaan
sebenarnya. Kemudian bagian AO membuat kesimpulan dan saran.
e. Bagian AO menyerahkan Map Persiapan Pembiayan beserta kesimpulan
dan sarannya kepada Kepala Cabang Pembantu untuk dirundingkan dan
menganalisis kesimpulan untuk menentukan apakah pembiayaan diterima
atau tidak.

21

f. Jika pembiayaan diterima, Kepala Cabang Pembantu meminta teller untuk


member kabar kepada nasabah dan teller membuat surat perjanjian
pembiayaan. Apabila ditolak, map diserahkan kembali kepada AO untuk
diberitahukan kepada nasabah pembiayaannya tidak bisa diterima.
g. Dilakukan perikatan pembiayaan antara debitur dengan Kepala Cabang
Pembantu. Kepala Cabang Pembantu menjelaskan jumlah pembiayaan
yang disetujui beserta persyaratan administrasi.
h. Apabila debitur menyetujui syarat-syarat yang diberikan, debitur dan
Kepala Cabang Pembantu menandatangani surat perjanjian pembiayaan
dan dokumen lain dan dilakukan akad setelah itu debitur menerima Surat
Perjanjian Pembiayaan dan dokumen lainnya.

3. Data Arus (Flowchart)

22

4. Dokumen-dokumen Terkait Pengajuan Pembiayaan Murabahah

23

a.
b.
c.
d.

Formulir permohonan pembiayaan


Formulir survey dan wawancara
Formulir hasil analisa pembiayaan
Fotokopi Surat jaminan, KTP, Kartu Keluarga, Surat Nikah milik suami

dan istri
e. Surat Perjanjian Pembiayan
f. Kartu Angsuran Pembiayaan
5. Kebijakan-Kebijakan Terkait Pengajuan Pembiayaan Murabahah
Kebijakan terkait prosedur kredit di BMT Maslahah Sidogiri, antara lain
keputusan kredit akan diberitahukan selambat-lambatnya 2 hari setelah permohonan
kredit, pemberitahuan keputusan mengenai kredit baik di cairkan ataupun tidaknya
diberitahukan secara lisan maupun tertulis, dan apabila pemohon belum terdaftar
sebagai nasabah atau belum memiliki rekening di BMT Maslahah Sidogiri,
diwajibkan menyetujui untuk membuka rekening pada BMT Maslahah Sidogiri.
Kebijakan lain terkait jaminan kredit di BMT Maslahah Sidogiri, antara lain:
a. Pembiayaan dengan plafond kurang dari Rp.10.000.000,00 langsung
dilakukan di Kantor Cabang Pembantu dan dapat dilakukan di bawah
tangan.
b. Kredit dengan plafond Rp.10.000.000,00 - Rp.50.000.000,00, dilakukan di
Kantor Cabang untuk pengikatan pembiayaan dan pengikatan jaminannya.
c. Kredit dengan plafond lebih dari Rp.50.000.000,00, pengikatan
pembiayaan dan jaminan dilakukan di Kantor Pusat dilakukan secara
notarial.
d. Untuk jaminan berupa STNK kendaraan bermotor, debitur dapat meminjam
sementara jaminan guna perpanjangan STNK dengan syarat:
1. Kredit masih tergolong lancar
2. Masa berlaku STNK habis

24

3. Ada jaminan lain sebagai pengganti sementara yang telah dianalisa


oleh AO.

6. Evaluasi Prosedur Pengajuan Kredit


Sistem Pengendalian Internal untuk pengajuan pembiayaan murabahah pada
BMT Maslahah Sidogiri Cabang Pembantu Kebonagung sudah cukup baik dan cukup
memadai dalam menanggulangi berbagai risiko kredit. Namun, penulis ingin
merekomendasikan untuk diadakannya bagian customer service dan bagian
administrasi kredit. Customer Service nantinya dapat melayani nasabah saat awal
datang dan mengurusi segala kelengkapan nasabah yang akan mengajukan
pembiayaan, seperti kelengkapan fotokopi dokumen-dokumen yang akan disurvei,
formulir pengajuan pembiayaan, dan membuka rekening baru bagi pemohon yang
belum memiliki rekening di BMT Maslahah Sidogiri. Sebaliknya administrasi kredit
akan sangat membantu dalam mempersiapkan dokumen-dokumen untuk pembiayaan
seperti formulir-formulir, surat perjanjian kredit, mencetak kartu angsuran, dan
mengarsip jaminan yang diberikan nasabah.

3.3.1.2 Sistem Pengendalian Internal untuk Realisasi Pembiayaan


1. Persyaratan Realisasi Pembiayaan
Dana pembiayaan dapat terealisasi dan dapat dicairkan apabila telah
memenuhi persyaratan diantaranya :
a. Seluruh berkas-berkas yang diminta oleh BMT telah dilengkapi nasabah.
b. Surat permohonan yang telah dianalisa AO telah disetujui Kepala Cabang
Pembantu untuk dicairkan dana pembiayaannya.
2. Unit yang Terkait Proses Realisasi Pembiayaan
a. Teller

25

b. Kepala Cabang Pembantu


3. Tugas Pokok dan Fungsi Pengendalian Internal Setiap Unit dalam Proses
Realisasi Pembiayaan Murabahah
a. Teller
1) Menginformasikan kepada nasabah dana yang dapat direalisasi.
2) Membuka rekening untuk nasabah baru.
3) Membuat Surat Perjanjian Pembiayaan sekaligus menginput nomor yang
tetera pada BPKB, STNK, KTP, dan persyaratan pendukung lainnya.
4) Mencetak kuitansi, kartu angsuran, dan buku tabungan.
5) Mengarsip Kuitansi, Surat Perjanjian Pembiayaan, dan BPKB jaminan.
b. Kepala Cabang Pembantu
1) Melakukan perikatan dan akad dengan nasabah pemohon Pembiayaan
Murabahah
2) Mengotorisasi Surat Perjanjian Pembiayaan, kuitansi, kartu angsuran, dan
buku tabungan.
4. Narasi Prosedur Realisasi Pembiayaan Murabahah
a. Nasabah datang ke teller untuk mengonfirmasi, kemudian teller menjelaskan
kepada nasabah berapa dana yang disetujui untuk dicairkan.
b. Apabila nasabah menyetujui berapa dana yang dapat cair, teller menyiapkan
kelengkapan-kelengkapan pencairan pembiayaan mulai dari membuka
rekening baru untuk pemohon yang belum terdaftar sebagai anggota BMT
Maslahah Sidogiri.
c. Teller menginput data-data terkait pembiayaan di computer terkait besaran
dana yang telah disetujui, nomor BPKB, STNK, dan lain-lain yang nantinya
secara otomatis akan menjadi Surat Perjanjian Pembiayaan.
d. Teller mencetak Surat Perjanjian Pembiayaan
e. Teller mencetak kartu angsuran
f. Teller menyiapkan uang kas dan membuat kuitansi 2 rangkap dimana rangkap
1 untuk diarsip dan rangkap ke 2 diserahkan ke nasabah nantinya.
g. Teller menyerahkan surat perjanjian pembiayaan, buku tabungan, kartu
angsuran pembiayaan, kuitansi, dan uang kas kepada Kepala Cabang
Pembantu

26

h. Nasabah masuk ke ruang Kepala Cabang untuk melakukan akad.

5. Data Arus (flowchart)

27

4. Dokumen-Dokumen terkait Prosedur Realisasi Pembiayaan Murabahah

28

a. Surat Perjanjian Pembiayaan.


b. Kartu Angsuran
c. Kuitansi Realisasi rangkap 2
d. Buku Tabungan
5. Evaluasi Prosedur Realisasi Pembiayaan Murabahah
Penulis tidak banyak merubah prosedur ini, namun penulis mengusulkan untuk
menambah bagian administrasi kredit yang mengurusi surat perjanjian kredit dan satu
set kelengkapan lainnya jadi teller tidak terlalu banyak merangkap tugas. Tugas teller
nantinya hanya untuk urusan mencairkan uang kas dan membuat kuintansi pencairan
dana. Penulis juga menyarankan untuk membuat kuintansi rangkap 3 untuk debitur,
teller, dan administrasi kredit.

3.3.1.3 Sistem Pengendalian Internal Pembayaran Angsuran Pembiayaan


1. Unit Terkait Proses Pembayaran Angsuran Pembiayaan Murabahah
Proses Pembayaran Angsuran Pembiayaan Murabahah hanya melibatkan satu
unit saja dalam perusahaan yang menangani langsung nasabah. Unit tersebut
adalah bagian Teller yang bertanggungjawab langsung menangani nasabah yang
akan membayar angsuran.
2. Tugas Pokok dan Fungsi Pengendalian Internal terkait Pembayaran
Angsuran Pembiayaan Murabahah
Tugas pokok sekaligus fungsi dari unit Teller terkait pembayaran angsuran
Pembiayaan Murabahah ini adalah:
1) Menginput nomor rekening pembiayaan sesuai kartu angsuran.
2) Mencetak slip bukti pembayaran 2 rangkap dan mengotorisasi slip bukti
pembayaran.
3) Mengarsip Slip bukti pembayaran rangkap pertama.
3. Narasi Prosedur Pembayaran Angsuran Pembiayaan Murabahah
a. Nasabah datang dan menuju bagian teller menyerahkan kartu angsuran ke
teller.

29

b. Teller menerima kartu angsuran yang berisi nama dan nomor rekening
pembiayaan debitur.
c. Teller menginput nomor

dan

nama

debitur

di

komputer. Teller

menginformasikan angsuran yang harus dibayar nasabah.


d. Teller menerima uang pembayaran dari nasabah
e. Teller mencetak slip pembayaran rangkap 2 untuk debitor dan diarsip teller.
f. Teller mencetak mutasi ke kartu angsuran dan mengembalikan ke debitur.

4. Data Arus (Flowchart)

30

5. Dokumen Terkait
a. Kartu Angsuran Pembiayaan
b. Slip Pembayaran Pembiayaan

6. Evaluasi Prosedur Pembayaran Angsuran Pembiayaan

31

Pada usulan prosedur pembayaran pembiayaan angsuran pembiayaan ini


penulis menilai proses pembayaran ini sudah bagus karena prosesnya cukup cepat
karena semua bias dikerjakan oleh teller dalam satu waktu dengan satu sistem
komputer yang terintegrasi dengan baik.

3.3.1.4 Sistem Pengendalian Internal untuk Pengawasan Pembiayaan


Pengawasan pembiayaan dilakukan agar tetap terkendali oleh manajemen. Hal
ini berguna untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang mungkin saja timbul
selama proses pembiayaan. Pengawasan pembiayaan ini dilakukan oleh Kepala
Cabang Pembantu yang dibantu oleh Account Officer (AO).
1. Unit Terkait Proses Pengawasan Pembiayaan
a. Kepala Cabang Pembantu
b. Account Officer
2. Tugas Pokok dan Fungsi Pengendalian Internal terkait Pengawasan
Pembiayaan
a. Kepala Cabang Pembantu
1) Melakukan monitoring, evaluasi, dan review terhadap portofolio
pembiayaan

yang

diberikan

dalam

rangka

pengamanan

setiap

pembiayaan yang diberikan.


2) Memantau nasabah dengan penagihan pembiayaan yang berada pada
batas wewenangnya yang tergolong lancer, kurang lancer, maupun yang
macet.
b. Account Officer
1) Melakukan pembinaan nasabah antara lain penagihan pembiayaan yang
berada pada batas wewenangnya yang berada pada wewenangnya yang
tergolong lancer, kurang lancer, diragukan atau macet.
3. Kebijakan-Kebijakan terkait Pengawasan Pembiayaan

32

a. Dilakukan monitoring dan pembinaan secara berkala kepada debitur yang


dilakukan oleh AO pasca realisasi.
b. AO memiliki kartu control masing-masing nasabahnya untuk mengecek
ketepatan waktu membayar angsuran.
c. Ada beberapa tahap yang ditentukan oleh manajemen untuk mengatasi
pembiayaan yang bermasalah:
- Dilakukannya penagihan oleh AO langsung ke rumah warga.
- Pengkajian oleh AO penyebab debitur telat bayar atau tidak membayar.
- Negosiasi dengan debitur apabila memang benar-benar tidak bias
membayar angsuran apakah barang jaminannya bersedia dijual.

3.3.2 Pembahasan
3.3.2.1 Pengertian Sistem Pengendalian Internal
Definisi sistem pengendalian internal menurut Baridwan (2001:13) menyatakan
bahwa sistem pengendalian internal dalam arti sempit, yaitu pengendalian internal
yang merupakan pengecekan penjumlahan, baik penjumlahan mendatar (crossfooting)
maupun penjumlahan menurun (footing). Sedangkan dalam arti luas, pengendalian
internal tidak hanya meliputi pengecekan, tetapi juga alat-alat yang digunakan
manajemen untuk mengadakan pengawasan.
Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia dalam Standar Profesional Akuntan Publik
(2001:319.3), sistem pengendalian internal ialah suatu proses yang dijalankan oleh
dewan komisaris, manajemen dan personel lain entitas yang didesain untuk
memberikan keyakinan memadai.

33

3.3.2.2 Tujuan dan Unsur Sistem Pengendalian Internal


Berikut adalah tujuan sistem pengendalian internal menurut Mulyadi (2002:165),
antara lain:
-

Menjaga kekayaan organisasi.


Mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi.
Mendorong efisiensi.
Mendorong kepatuhan kebijakan manajemen.

Unsur pokok sistem pengendalian internal:


a. Struktur organisasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional secara tegas.
b. Fungsi operasi dan penyimpanan harus dipisahkan dari fungsi akuntansi.
c. Suatu fungsi tidak boleh diberi tanggung jawab penuh untuk melaksanakan
semua tahap transaksi.
d. Sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan perlindungan
cukup terhadap kekayaan, utang, pendapatan, dan biaya.
Dalam organisasi haruslah dibuat sistem yang mengatur pembagian wewenang
untuk otorisasi atas terlaksananya setiap transaksi. Setiap transaksi hanya akan terjadi
apabila telah mendapatkan otorisasi dari pejabat yang berwenang. Setiap fungsi
dalam organisasi haruslah bertanggung jawab dalam melaksanakan setiap wewenang
dan prosedur yang telah ditetapkan.
Dalam organisasi atau perusahaan juga diperlukan adanya karyawan yang
kompeten dalam bidangnya agar dapat melaksanakan pekerjaan dengan efektif dan
efisien. Oleh karena itu, perlu diadakannya seleksi karyawan dan juga pengembangan
pendidikan karyawan sesuai dengan tuntutan perkembangan pekerjaannya.
3.3.2.3 Pengertian Akad Murabahah
Menurut Nurhayati dan Wasilah (2010:168) akad murabahah adalah transaksi
penjualan barang dengan menyatakan harga perolehannya dan menyepakati

34

keuntungan (margin) antara penjual dan pembeli. Dalam hal ini pembeli dan penjual
dapat melakukan tawar-menawar atas besranya margin hingga diperoleh kesepakatan.

3.3.2.4 Pembiayaan Murabahah


Menurut Wiroso (2005:13), Murabahah didefinisikan sebagai penjualan barang
seharga biaya/harga pokok (cost) barang tersebut ditambah mark-up atau margin
keuntungan yang disepakati. Karakteristik murabahah adalah bahwa penjual harus
memberi tahu pembeli tentang mengenai harga pembelian produk dan menyamakan
jumlah keuntungan yang ditambah pada biaya (cost) tersebut.
Sunarto Zulkifli (2003:39) juga memberikan deinisi Murabahah adalah prinsip
jual beli dimana harga jualnya terdiri dari harga pokok yang ditambah nilai
keuntungan (ribhun) yang disepakati. Pada akad murabahah, penyerahan barang
dilakukan pada saat transaksi sementara pembayarannya dilakukan secara tunai,
tangguh ataupun dicicil.
Dari pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa murabahah yaitu akad jual beli
dimana BMT bertindak sebagai penjual dan nasabah bertindak sebagai pembeli,
dengan perantara pihak ketiga (supplier), BMT terlebih dahulu memesan barang yang
diinginkan nasabah yang proses pengambilan atas barang tersebut dilakukan oleh
nasabah dan proses pembayarannya dilakukan sesuai dengan jangka waktu tertentu
yang telah disepakati bersama.

3.3.2.5 Syarat Murabahah:

35

Dalam murabahah dibutuhkan beberapa syarat seperti yang dikemukakan


Wiroso (2005:17), antara lain:
1. Mengetahui harga pertama (Harga Pembelian)
Pembeli kedua hendaknya mengetahui harga pembelian karena hal itu adalah
syarat sahnya transaksi jual beli. Syarat ini meliputi semua transaksi yang terkait
dengan murabahah, seperti pelimpahan wewenang (tauliyah), kerja sama (isyrak),
dan kerugian (wadhiah) karena semua transaksi ini berdasar pada harga pertama
yang merupakan modal. Jika tidak mengetahuinya, jual beli tersebut tidak sah hingga
di tempat transaksi. Jika tidak diketahui hingga keduanya meninggalkan tempat
tersebut, gugurlah transaksi tersebut.
2. Mengetahui besarnya keuntungan
Mengetahui jumlah keuntungan adalah keharusan karena ia merupakan bagian
dari harga (tsaman), sedangkan mengetahui harga adalah syarat sahnya jual beli.
Modal hendaklah berupa komoditas yang memiliki kesalahan dan sejenis, seperti
benda-benda yang ditakar, ditimbang, atau dihitung. Syarat ini diperlukan dalam
murabahah dan tauliyah, baik ketika jual beli dilakukan dengan penjual pertama atau
orang lain, serta baik keuntungan disepakati berupa suatu yang diketahui
keuntungannya, misalkan dirham atau yang lainnya.
Jika modal dan benda-benda tidak memiliki kesamaan, seperti barang dagangan,
selain dirham atau dinar, tidak boleh diperjualbelikan dengan cara murabahah atau
tauliyah oleh pihak yang tidak memiliki barang dagangan. Hal ini murabahah atau

36

tauliyah adalah jual beli dengan harga yang sama dengan harga pertama, dengan
adanya tambahan keuntungan dalam sistem murabahah.
Sistem murabahah dalam harta riba hendaknya tidak menisbatkan riba nisbah
tersebut terhadap harga pertama. Misalnya, membeli barang yang ditakar atau
ditimbang dengan barang sejenis dengan takaran yang sama, maka tidak boleh
menjualnya sistem murabahah. Hal semacam ini tidak diperbolehkan karena
murabahah adalah jual beli dengan harga pertama dengan adanya tambahan,
sedangkan tambahan terhadap harta riba hukumnya adalah riba dan bukan
keuntungan.
Transaksi pertama haruslah sah secara syara. Jika transaksi pertama tidak sah,
tidak boleh dilakukan jual beli secara murabahah karena murabahah adalah jual beli
dengan harga pertama disertai tambahan keuntungan dan hak milik jual beli yang
tidak sah ditetapkan dengan nilai barang atau dengan barang yang semisal dengan
harga karena tidak benarnya penamaan.
3.3.2.6 Jenis dan Macam-Macam Pembiayaan Murabahah
Salah satu jenis penyaluran dana dari bank syariah yang mempergunakan prinsip
jual beli adalah murabahah. Penyaluran dana atau pembiayaan murabahah tersebut
merupakan salah satu pembiayaan yang mendominasi sebagian besar skim
pembiayaan yang ditawarkan dan dijalankan Lembaga Keuangan Syariah termasuk di
dalamnya BMT Maslahah Sidogiri. Menurut Antonio (2001: 106) berdasarkan sifat
penggunaannya, macam-macam pembiayaan murabahah dibagi menjadi dua, yaitu:

37

1. Pembiayaan Produktif
Yaitu pembiayaan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam arti
luas yakni untuk peningkatan usaha, baik produksi, perdagangan, jasa maupun
investasi. Menurut keperluannya pembiayaan produktif dapat dibagi lagi menjadi dua,
yaitu:
a. Pembiayaan Modal Kerja, pembiayaan yang digunakan untuk memenuhi
kebutuhan seperti peningkatan produksi, baik secara kuantitatif maupun
kualitatif. Selain itu Pembiayaan Modal Kerja juga dapat digunakan untuk
keperluan perdagangan atau peningkatan utility of place dari suatu barang.
b. Pembiayaan Investasi, yaitu untuk memenuhi barang-barang modal serta
fasilitas-fasilitas yang erat hubungannya dengan hal tersebut.

2. Pembiayaan Konsumtif
Yaitu pembiayaan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, yang
akan habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang penting. Pada umumnya
masyarakat menggunakan pembiayaan konsumtif untuk memenuhi kebutuhan dasar,
seperti rumah, kendaraan, dan sebagainya. Oleh karena itu, pengembalian
pembiayaan ini tidak berasal dari hasil eksploitasi barang yang dibiayai. Pembiayaan
konsumtif sebagian besar menggunakan skema jual beli angsuran (Baibitsamanajil)
atau sewa beli (ijarahmuntahiabittamlik) atau melalui kemitraan dengan partisipasi
menurun (musyarakahmutanaqishah). Bai al-murabahah adalah akad jual beli
barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati dengan

38

pembayaran tangguh. Dalam akad ini penjual harus memberitahu yang ia beli dan
menetapkan tingkat keuntungan sebagai tambahannya.

3.3.2.7 Mekanisme atau teknis pembiayaan syariah


BMT bertindak sebagai penjual sementara nasabah sebagai pembeli. Harga jual
bank adalah harga beli bank dari produsen atau pabrik toko ditambah keuntungan
(mark-up). Kedua pihak harus menyepakati harga jual dengan jangka waktu
pembayaran.
Harga jual dicantumkan dalam akad jual beli dan jika telah disepakati tidak dapat
berubah selama berlakunya akad murabahah. Dalam perbankan, murabahah
lazimnya dilakukan dengan cara pembayaran cicilan (BaiBitsamanAjil). Dalam
transaksi ini, bila ada barang diserahkan segera kepada nasabah, sedangkan
pembayaran dilakukan secara tangguh.
3.3.3

Solusi
Untuk prosedur pengajuan pembiayaan, penulis ingin merekomendasikan untuk

dilakukan di bagian customer service dan bagian administrasi kredit. Customer


Service nantinya dapat melayani nasabah saat awal datang dan mengurusi segala
kelengkapan nasabah yang akan mengajukan pembiayaan seperti kelengkapan
fotokopi dokumen-dokumen yang akan disurvei, dan kelengkapan formulir pengajuan
pembiayaan, di BMT Maslahah Sidogiri. Sebaliknya administrasi kredit akan sangat
membantu dalam mempersiapkan dokumen-dokumen untuk pembiayaan seperti surat
perjanjian kredit, mencetak kartu angsuran, dan mengarsip jaminan yang diberikan

39

nasabah sehingga teller tidak merangkap banyak tugas dan dapat melayani nasabah
lain yang akan menabung, menarik tabungan, dan pembayaran angsuran pembiayaan
dengan cepat.
Untuk prosedur pencairan dana pembiayaan, penulis tidak banyak mengubah
prosedur ini namun penulis

mengusulkan untuk menambah bagian administrasi

kredit yang mengurusi surat perjanjian kredit dan satu set kelengkapan lainnya jadi
teller tidak terlalu banyak merangkap tugas. Tugas teller nantinya hanya untuk urusan
mencairkan uang kas dan membuat kuintansi pencairan dana. Penulis juga
menyarankan untuk membuat kuintansi rangkap 3 untuk debitur, teller, dan
administrasi kredit.
3.3.4 Pengalaman Belajar.
Selama melakukan kegiatan Kuliah Kerja Nyata Profesi di BMT Maslahah
Sidogiri, penulis mendapatkan banyak pengalaman baru dalam dalam dunia kerja
khususnya dalam dunia koperasi jasa keuangan syariah.
Di BMT Maslahah Sidogiri, penulis bekerja di tiga bagian, yaitu teller, funding
officer (FO), dan Account Officer (AO). Selama menjadi teller, penulis banyak
belajar tentang melayani nasabah yang akan bertransaksi dengan ramah dan sopan.
Selain itu, penulis juga belajar bagaimana menginput transaksi ke dalam computer
yang telah tersistem dengan baik oleh BMT Maslahah Sidogiri yang nantinya secara
otomatis dapat dibuat berbagai laporan baik laporan harian maupun laporan bulanan.
Selama bekerja di bagian Funding Officer (FO), penulis belajar bagaimana terjun
langsung ke Pasar Kebonagung melayani nasabah dengan cara menjemput bola.
Penulis didampingi karyawan bagian FO melayani transaksi bagi para pedagang di
pasar yang ingin menabung, menarik setoran tunai, dan mengangsur pembiayaan

40

sambil mencari nasabah untuk mengenalkan produk BMT kepada para pedagang
yang bergerak di sector usaha kecil dan menengah.
Penulis juga banyak belajar selama bekerja di bagian Account Officer (AO)
dimana pekerjaan AO, yaitu sebagai surveyor dan bertugas menagih angsuran
pembiayaan bagi nasabah yang dirasa telat bayar maupun nasabah yang merasa
kesulitan apabila harus menuju kantor. Penulis juga belajar bagaimana cara mensurvei
bagi nasabah yang ingin mengajukan pembiayaan, yaitu dengan cara bersilaturahmi
secara santun ke rumah nasabah dan membicarakan obrolan-obrolan ringan sehingga
nasabah terkadang tidak sadar jika sedang dicuri informasinya dari apa yang
dibicarakan. Namun, semua dilakukan tetap dalam keramahan dan sopan santun khas
BMT Maslahah Sidogiri.
Disamping itu, penulis dapat memahami realita ilmu yang telah dipelajari
diperkuliahan dengan kenyataan di lapangan. Ilmu yang dipelajari di bangku
perkuliahan tidak seluruhnya diterapkan di dunia kerja. Penulis banyak belajar
mengenai

keterampilan

untuk

menyelesaikan

suatu

pekerjaan

yang

mana

keterampilan tersebut tidak didapatkan di bangku pekuliahan.


BAB IV
PENUTUP
4.1 Simpulan
Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan selama KKNP, maka dapat diambil
beberapa simpulan, yaitu sebagai berikut:

41

1. Pembiayaan Murabahah yang diterapkan di BMT Maslahah Sidogiri telah


berjalan dengan sukses terbukti dengan semakin banyaknya nasabah yang
berminat mengajukan pembiayaan pada BMT Maslahah Sidogiri.
2. Prosedur Pembiayaan Murabahah mulai dari pengajuan, realisasi, hingga
pengawasan telah berjalan dengan wajar dan baik dengan adanya pembagian
hak dan tanggung jawab serta wewenang yang cukup baik sehingga
mengurangi risiko-risiko yang tidak diinginkan.
3. Kelemahan yang terjadi atas Prosedur-prosedur terkait pembiayaan adalah
terlalu banyaknya pekerjaan yang dilakukan oleh teller karena selain melayani
transaksi-transaksi harian, seperti pembayaran angsuran, setoran tunai dan
penarikan tunai, teller juga merangkap tugas menyiapkan keperluan-keperluan
kelengkapan administrasi terkait pengajuan dan realisasi dari pembiayaan
murabahah.
4. Mahasiswa KKNP telah diperkenankan mempelajari semua pekerjaan yang
dilakukan di lingkungan BMT Maslahah Sidogiri Cabang Pembantu
Kebonagung diantaranya bagian teller, Account Officer (AO) dan juga
Funding Officer (FO).
4.2 Saran
Secara umum usaha di BMT Maslahah Sidogiri sudah banyak membantu
program pembangunan nasional dalam hal perekonomian masyarakat, khususnya
sekyor pengusaha kecil hingga menengah yang ada di wilayah Kota Pasuruan dan
sekitarnya.
Adapun saran dari penulis untuk BMT Bahtera Pekalongan diantaranya sebagai
berikut:

42

1. BMT Maslahah Sidogiri hendaklah mempertahankan kinerjanya agar tetap


berkembang dan berguna bagi pembangunan nasional khususnya di daerah
Kota Pasuruan dan sekitarnya.
2. Perlu adanya pengembangkan produk-produk pembiayaan yang sudah ada
di BMT Sidogiri dan menyosialisasikannya lewat berbagai media.
3. Meningkatkan pelayanan yang tepat waktu dan memanamkan kepercayaan
kepada nasabah BMT Sidogiri agar nasabah merasa puas dan nyaman
terhadap pelayanan yang diberikan khususnya pembiayaan murabahah.
4. Perlu adanya penambahan karyawan yang bekerja di bagian customer
service dan bagian administrasi kredit. Customer Service nantinya dapat
melayani nasabah saat awal datang dan mengurusi segala kelengkapan
nasabah yang akan mengajukan pembiayaan, seperti kelengkapan fotokopi
dokumen-dokumen yang akan disurvei, dan kelengkapan formulir
pengajuan pembiayaan, di BMT Maslahah Sidogiri. Sebaliknya,
administrasi kredit akan sangat membantu dalam mempersiapkan
dokumen-dokumen untuk pembiayaan seperti surat perjanjian kredit,
mencetak kartu angsuran, dan mengarsip jaminan yang diberikan nasabah,
sehingga teller tidak merangkap banyak tugas dan dapat melayani
nasabahlain yang akan menabung, menarik tabungan, dan pembayaran
angsuran pembiayaan dengan cepat.
DAFTAR PUSTAKA

Antonio, Muhammad Syafii,Bank Syariah dari Teori ke Praktik, Jakarta: Gema


Insani Press, 2001.

43

Bank Indonesia. 2001. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia. Jakarta: Ikatan


Akuntansi Indonesia
Baridwan, Zaki. 2001. Sistem Akuntansi Penyusunan Prosedur dan Metode.
Yogyakarta: ANDI
Mulyadi. 2002. Sistem Akuntansi. Jakarta: Penerbit Salemba Empat
Nurhayati, Sri dan Wasilah. 2010. Akuntansi Syariah di Indonesia. Jakarta: Penerbit
Salemba Empat
Wiroso.2005. Jual Beli Murabahah, Yogyakarta: UII Press.
Zulkifli, Sunarto. 2003. Panduan Praktis Transaksi Perbankan Syariah, Jakarta:
Zikrul Hakim.

Anda mungkin juga menyukai