Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Koperasi adalah badan hukum yang berdasarkan atas asa kekeluargaan yang anggotanya
terdiri dari orang perorangan atau badan hukum dengan tujuan untuk mensejahterakan
anggotanya. Umumnya koperasi dikendalikan secara bersama oleh seluruh anggotanya,
dimana setiap anggota memiliki hak suara yang sama dalam setiap keputusan yang diambil
koperasi. Tidak sembarang orang dapat membentuk koperasi sesuai keinginannya. Koperasi
memiliki dasar hukum yang mencantumkan bagaimana sebuah koperasi dibentuk. Selain itu,
dalam pembentukan koperasi terdapat langkah langkah dan syarat dalam pendiriannya
sehingga suatu koperasi yang baru diakui sebagai badan hukum yang sah. Dalam proses
menjalankan koperasi, koperasi terdiri dari beberapa tingkatan berdasarkan anggotanya dan
berdasarkan daerah kerjanya sehingga koperasi yang dijalankan dapat bermanfaat sesuai
dengan tingkatan tersebut. Sebuah koperasi juga memiliki struktur internal dan eksternal
yang dapat membantu sebuah koperasi dalam menjalankan garis koordinasi baik didalam
koperasi maupun diluar koperasi itu sendiri.
1.2. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
a. Apa saja dasar hukum pembentukan koperasi?
b. Apa saja syarat dan tata cara pembentukan koperasi?
c. Bagaimana tingkatan dan daerah kerja koperasi?
d. Bagaimana struktur intern dan ekstern organisasi koperasi?
1.3. TUJUAN
Adapun tujuan dari makalah ini ialah sebagai berikut :
a. untuk mengetahui dasar hukum pembentukan koperasi
b. untuk mengetahui syarat dan tata cara pembentukan koperasi
c. untuk mengetahui tingkatan dan daerah kerja koperasi
d. untuk mengetahui struktur intern dan ekstern organisasi koperasi

1.4. MANFAAT
Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
a. Agar memahami dasar hukum pembentukan koperasi
b. Agar memahami syarat dan tata cara pembentukan koperasi
c. Agar memahami tingkatan dan daerah kerja koperas
d. Agar memahami struktur intern dan ekstern organisasi koperasi

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. DASAR HUKUM PEMBENTUKAN KOPERASI
a. Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1994 tentang Persyaratan dan Tata Cara
Pengesahan Akta Pendirian dan Perubahan Anggaran Dasar.
b. Peraturan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia
Nomor : 01/Per/M.KUKM/I/2006 tanggal 9 Januari 2006 tentang Petunjuk Pelaksanaan
Pembentukan, Pengesahan Akta Pendirian dan Perubahan Anggaran Dasar Koperasi.
c. Keputusan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia
Nomor : 98/Kep/KEP/KUKM/X/2004 tanggal 24 September 2004 tentang Notaris
Sebagai Pembuat Akta Pendirian Koperasi.
d. UU No. 25/1992 tentang Perkoperasian Koperasi : badan usaha yang beranggotakan
orang-seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan
prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas
kekeluargaan. (pasal 1, ayat [1] ) (UU ini disahkan di Jakarta pada tanggal 21 Oktober
1992, ditandatangani oleh Presiden RI Soeharto, dan diumumkan pada Lembaran Negara
RI Tahun 1992 Nomor 116. Dengan terbitnya UU 25 Tahun 1992 maka dinyatakan tidak
berlaku UU Nomor 12 Tahun 1967 tentang Pokok-pokok Perkoperasian, Lembaran
Negara RI Tahun 1967 Nomor 23, dan Tambahan Lembaran Negara RI Tahun 1967
Nomor 2832).
e. UU No. 9 Tahun 1995 ttg Pelaksanaan Usaha Simpan Pinjam oleh Koperasi. Kegiatan
usaha simpan pinjam : kegiatan yang dilakukan untuk menghimpun dana dan
menyalurkan melalui usaha simpan pinjam dari dan untuk anggota koperasi ybs, calon
anggota koperasi ybs, koperasi lain dan atau anggotanya, (pasa 1, ayat [1] ). Calon
anggota koperasi sebagaimana dimaksud dalam waktu paling lama 3 bulan setelah
simpanan pokok harus menjadi (pasal 18 ayat [2] ).

2.2.

LANGKAH-LANGKAH MENDIRIKAN KOPERASI

1. Calon-calon Pendiri Harus Mempunyai Kepentingan Ekonomi yang Sama


Koperasi sebaiknya dibentuk oleh sekelompok orang atau anggota masyarakat yang mempunyai
kegiatan dan kepentingan ekonomi yang sama. Sebaiknya sebelum melanjutkan proses
mendirikan koperasi, dahulukanlah tindakan penyuluhan tentang perkoperasian agar kelompok
masyarakat yang ingin mendirikan koperasi tersebut memahami mengenai perkoperasian,
sehingga anggota koperasi nantinya benar-benar memahami nilai dan prinsip koperasi dan paham
akan hak dan kewajibannya sebagai anggota koperasi (Pasal 3 dan Pasal 4 UU No.25 Tahun
1992)
2. Dilaksanakannya Rapat Pembentukan
Proses kedua dalam pendirian koperasi adalah dijalankannya Rapat Pembentukan dimana untuk
Koperasi Primer sekurang-kurangnya dihadiri oleh 20 orang anggota pendiri, sedangkan untuk
Koperasi Sekunder sekurang-kurangnya dihadiri oleh 3 (tiga) koperasi melalui wakil-wakilnya
(Pasal 5 Ayat 1).
Rapat pembentukan koperasi tersebut dihadiri oleh Pejabat Dinas/Instansi/Badan Yang
Membidangi Koperasi setempat sesuai domisili anggota (Pasal 5 Ayat 3), dimana kehadiran
pejabat tersebut bertujuan antara lain untuk : memberi arahan berkenaan dengan pembentukan
koperasi, melihat proses pelaksanaan rapat pembentukan, sebagai narasumber apabila ada
pertanyaan berkaitan dengan perkoperasian dan untuk meneliti isi konsep anggaran dasar yang
dibuat oleh para pendiri sebelum diaktakan oleh Notaris Pembuat Akta Koperasi setempat.
Selain itu apabila memungkinkan rapat pembentukan tersebut juga dapat dihadiri oleh Notaris
Pembuat Akta Koperasi yaitu Notaris yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Negara
Koperasi dan UKM untuk membantu membuat/menyusun akta pendirian, perubahan anggaran
dasar dan pembubaran koperasi.
Dalam Rapat Pembentukan akan dibahas mengenai Anggaran Dasar Koperasi yang memuat
antara lain (Pasal 5 Ayat 5) :
1. Nama dan tempat kedudukan
2. Maksud dan tujuan
3. Jenis koperasi dan Bidang usaha Keanggotaan

4. Rapat Anggota
5. Pengurus, Pengawas dan Pengelola
6. Permodalan, jangka waktu dan Sisa Hasil Usaha
3. Penyusunan Akta Pendirian Koperasi
Proses ketiga yang harus dilakukan untuk mengesahkan Badan Hukum Koperasi adalah
Pembuatan atau penyusunan akta pendirian koperasi, yang dapat disusun oleh para pendiri
(apabila di wilayah setempat tidak terdapat NPAK) atau dibuat oleh Notaris Pembuat Akta
Koperasi (Pasal 6 Ayat 1).
Selanjutnya Notaris atau kuasa Pendiri mengajukan permohonan pengesahan secara tertulis
kepada pejabat yang berwenang dengan dilampirkan Pasal 7 ayat (1) :

2 (Dua) rangkap salinan akta pendirian bermeterai cukup.

Data akta pendirian koperasi yang dibuat dan ditandatangani Notaris.

Surat bukti tersedianya modal yang jumlahnya sekurang-kurangnya sebesar simpanan


pokok dan simpanan wajib yang wajib dilunasi oleh para pendiri.

Rencana kegiatan usaha minimal tiga tahun ke depan dan RAPB.

Dokumen lain yang diperlukan sesuai peraturan perundang undangan.

4. Penelitian oleh Pejabat yang memiliki Kewenangan


Langkah akhir yang harus dilalui untuk mengesahkan koperasi tersebut sebagai Badan Hukum
adalah Penelitian oleh pejabat yang berwenang.
Pejabat yang berwenang akan melakukan :

Penelitian terhadap materi Anggaran Dasar yang diajukan (Pasal 8 Ayat 2),

Pengecekan terhadap keberadaan koperasi tersebut (Pasal 8 Ayat 2).

Kemungkinan-kemungkinan dalam keputusan pejabat:

Apabila permohonan diterima maka pengesahan selambat lambatnya 3 (tiga) bulan sejak
berkas diterima lengkap (Pasal 9 Ayat 2).

Jika permohonan ditolak maka Keputusan penolakan dan alasannya disampaikan kembali
kepada kuasa pendiri paling lama 3 (tiga) bulan sejak permohonan diajukan (Pasal 12
Ayat 1).

Mengenai penolakan, para pendiri dapat mengajukan permintaan ulang pengesahan akta
pendirian koperasi dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan. Keputusan terhadap
permintaan ulang tersebut diberikan paling lambat 1 (satu) bulan (Pasal 12 Ayat 2).

Demikian cara-cara pendirian koperasi hingga diakui sebagai Badan Hukum, dalam proses
tersebut terdapat Syarat berupa Dokumen Fisik yang harus dipenuhi. Berikut daftar lengkapnya:
Syarat untuk pendirian koperasi
A. Umum
1. Dua rangkap Salinan Akta Pendirian koperasi dari notaris (NPAK).
2. Berita Acara Rapat Pendirian Koperasi.
3. Daftar hadir rapat pendirian Koperasi
4. Foto Copy KTP Pendiri (urutannya disesuaikan dengan daftar hadir agar mempermudah
pada saat verifikasi).
5. Kuasa pendiri (Pengurus terpilih) untuk mengurus pengesahan pembentukan koperasi.
6. Surat Bukti tersedianya modal yang jumlahnya sekurang;kurangnya sebesar simpanan
pokok dan simpanan wajib yang wajib dilunasi para pendiri.
7. Rencana kegiatan usaha koperasi minimal tiga tahun kedepan dan Rencana Anggaran
Belanja dan Pendapatan Koperasi.
8. Daftar susunan pengurus dan pengawas.
9. Daftar Sarana Kerja Koperasi
10. Surat pernyataan tidak mempunyai hubungan keluarga antara pengurus.

11. Struktur Organisasi Koperasi.


12. Surat Pernyataan Status kantor koperasi dan bukti pendukungnya
13. Dokumen lain yang diperlukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan

B. Tambahan Persyaratan Pendirian Koperasi apabila memiliki usaha Unit Simpan


Pinjam (USP)
1. Surat bukti penyetoran modal sendiri pada awal pendirian, berupa Deposito pada Bank
Pemerintah atas nama Menteri Negara Koperasi dan UKM;
2. Rencana Kerja paling sedikit 3 (tiga) tahun;
3. Kelengkapan administrasi organisasi & pembukuan USP dikelola secara khusus dan
terpisah dari pembukuan koperasinya;
4. Nama dan Riwayat Hidup Pengurus dan Pengawas
5. Surat Perjanjian kerja antara Pengurus koperasi dengan pengelola USP koperasi
6. Permohonan ijin menyelenggarakan usaha simpan pinjam
7. Surat Pernyataan bersedia untuk diperiksa dan dinilai kesehatan USP koperasinya oleh
pejabat yang berwenang
8. Struktur Organisasi Usaha Unit Simpan Pinjam (USP)
9. Nama dan riwayat hidup calon pengelola yang dilengkapi dengan :
a. Bukti telah mengikuti pelatihan/magang usaha simpan pinjam koperasi.
b. Surat keterangan berkelakuan baik
c. Surat pernyataan tidak mempunyai hubungan keluarga sedarah dan semenda dengan pengurus
dan pengawas
d. Surat Pernyataan pengelola tentang kesediaannya untuk bekerja secara purna waktu.

C. Tambahan Persyaratan Pendirian Koperasi apabila memiliki usaha Unit Jasa Keuangan
Syariah (UJKS)
1. Surat bukti penyetoran modal sendiri pada awal pendirian, atas nama Menteri Negara
Koperasi dan UKM oleh Ketua Koperasi
2. Rencana kerja sekurang-kurangnya satu tahun
3. Kelengkapan administrasi organisasi & pembukuan
4. Keterangan pokok-pokok administrasi dan pembukuan yang didesain sesuai karakteristik
lembaga keuangan syariah
5. Nama dan riwayat hidup pengurus dan pengawas
6. Nama Ahli syariah/Dewan Syariah yang telah mendapat rekomendasi/sertifikat dari
Dewan Syariah
7. Nasional MUI.
8. Surat perjanjian kerja antara Pengurus Koperasi dengan Pengelola Manajer/Direksi
9. Struktur Organisasi Usaha Unit Jasa Keuangan Syariah (USP)
10. Nama dan Riwayat Hidup Calon Pengelola yang dilengkapi dengan :
a. Bukti telah mengikuti pelatihan/magang di lembaga keuangan syariah.
b. Surat keterangan berkelakuan baik
c. Surat pernyataan tidak mempunyai hubungan keluarga sedarah dan semenda dengan pengurus
dan pengawas
D. Syarat Untuk Pendirian Koperasi Simpan Pinjam (KSP)
1. Dua rangkap Salinan Akta Pendirian koperasi dari notaris (NPAK);
2. Berita Acara Rapat Pendirian Koperasi;
3. Daftar hadir rapat pendirian koperasi;
4. Foto Copy KTP Pendiri (urutannya disesuaikan dengan daftar hadir agar mempermudah
pd saat verifikasi);

5. Kuasa pendiri (Pengurus terpilih) untuk mengurus permohonan pengesahan pembentukan


koperasi.;
6. Surat Bukti penyetoran modal sendiri pada awal pendirian KSP berupa Deposito pada
Bank Pemerintah atas nama Menteri Negara Koperasi dan UKM, dilengkapi dgn bukti
penyetoran dari anggota kepada koperasi;
7. Rencana kerja koperasi minimal (3) tiga tahun kedepan(rencana permodalan, Neraca
Awal, rencana kegiatan usaha (business plan), rencana bidang organisasi &SDM);
8. Kelengkapan administrasi organisasi dan pembukuan;
9. Daftar susunan pengurus dan pengawas;
10. Surat pernyataan tidak mempunyai hubungan keluarga antara pengurus.
11. Daftar sarana kerja
12. Permohonan ijin menyelenggarakan usaha simpan pinjam
13. Surat Pernyataan bersedia untuk diperiksa dan dinilai kesehatan koperasinya oleh pejabat
yang berwenang
14. Surat Pernyataan Status kantor koperasi dan bukti pendukungnya
15. Struktur Organisasi KSP
16. Nama dan Riwayat Hidup calon Pengelola yang dilengkapi dengan :
a. Bukti telah mengikuti pelatihan/magang usaha simpan pinjam koperasi.
b. Surat keterangan berkelakuan baik
c. Surat pernyataan tidak mempunyai hubungan keluarga sedarah dan semenda dengan pengurus
dan pengawas
d. Surat Pernyataan pengelola tentang kesediaannya untuk bekerja secara purna waktu.
E. Syarat Untuk Pendirian Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS)
1. Dua rangkap Salinan Akta Pendirian koperasi dari notaris (NPAK);

2. Berita Acara Rapat Pendirian Koperasi;


3. Daftar hadir rapat pendirian koperasi;
4. Foto Copy KTP Pendiri (urutannya disesuaikan dengan daftar hadir agar mempermudah
pd saat verifikasi);
5. Kuasa pendiri (Pengurus terpilih) untuk mengurus permohonan pengesahan pembentukan
koperasi.;
6. Surat Bukti penyetoran modal sendiri pada awal pendirian KJKS berupa Deposito pada
Bank Syariah atas nama Menteri Negara Koperasi dan UKM oleh Ketua Koperasi;
7. Rencana kerja koperasi minimal (1) satu tahun kedepan (rencana permodalan, Neraca
Awal, SOP,
8. rencana kegiatan usaha(business plan), rencana bidang organisasi &SDM);
9. Kelengkapan administrasi organisasi dan pembukuan;
10. Keterangan pokok-pokok administrasi dan pembukuan yang didesain sesuai karakteristik
lembaga keuangan syariah;
11. Nama dan riwayat hidup pengurus dan pengawas;
12. Nama Ahli syariah/Dewan Syariah yang telah mendapat rekomendasi/sertifikat dari
Dewan syariah Nasional MUI.
13. Surat pernyataan tidak mempunyai hubungan keluarga antara pengurus.
14. Daftar sarana kerja
15. Surat Pernyataan bersedia untuk diperiksa dan dinilai kesehatan koperasinya oleh pejabat
yang berwenang
16. Surat Pernyataan Status kantor koperasi dan bukti pendukungnya
17. Struktur Organisasi KJKS

18. Nama dan Riwayat Hidup calon Pengelola dengan melampirkan :


- Bukti telah mengikuti pelatihan/magang di lembaga keuangan syariah.
- Surat keterangan berkelakuan baik
- Surat pernyataan tidak mempunyai hubungan keluarga sedarah dan semenda dengan
pengurus dan pengawas
2.3.

TINGKATAN KOPERASI DAN DAERAH KERJA KOPERASI


Tingkatan koperasi dilihat dari jumlah anggota yang dimiliki oleh koperasi itu sendiri.

Berdasarkan tingkatan koperasi, koperasi terdiri atas Koperasi Primer dan Koperasi Sekunder.
a. Koperasi Primer
Koperasi Primer adalah badan usaha koperasi yang didirikan oleh dan
beranggotakan orang-seorang. Orang-orang ini berkumpul untuk memikirkan bagaimana
memecahkan masalah yang mereka hadapi secara bersama-sama. Mereka ini tentunya
terdiri dari orang-orang yang memiliki kepentingan sama dan pandangan hidup yang
serupa.
Koperasi primer ini dapat terbentuk sekurang-kurangnya oleh 20 orang yang
masing-masing memenuhi syarat sebagai berikut:
1. Mampu melakukan tindakan hukum, artinya sudah dewasa dan berakal sehat
2. Menerima landasan idiil, asas dan sendi dasar koperasi
3. Sanggup dan bersedia memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak anggota,
sebagaimana diatur dalam UU No 25 tahun 1992, Anggaran Dasar dan Anggaran
Rumah Tangga, serta peraturan koperasi lainnya.
b. Koperasi Sekunder
Adalah koperasi yang terdiri dari gabungan badan-badan koperasi serta memiliki
cakupan daerah kerja yang luas dibandingkan dengan koperasi primer. Koperasi sekunder
dapat dibagi menjadi Koperasi Pusat, Gabungan Koperasi, dan Induk Koperasi.
1. Koperasi Pusat
Pusat koperasi adalah kumpulan dari sedikitnya 5 koperasi primer yang memiliki
sifat atau bidang usaha sama atau sejenis. Penggabungan ini dilakukan secara
horisontal, artinya semua koperasi primer yang sama bergabung menjadi satu.
Penggabungan koperasi primer yang sama seperti ini dimaksudkan untuk menggalang
persatuan dan menghindari persaingan di antara koperasi yang melakukan kegiatan

sejenis. Misalnya koperasi penjualan hendaknya tidak melakukan persaingan yang


mengarah kepada persaingan yang tidak sehat. Dengan bergabung menjadi pusat
koperasi, maka persaingan dapat diuubah menjadi kerjasama dan saling menukar
informasi. Pengurus koperasi pusat adalah wakil-wakil dari koperasi primer, ditambah
tenaga ahli yang digaji. Wilayah kerja pusat koperasi ini pada umumnya sama dengan
wilayah kabupaten.
2. Gabungan Koperasi
Gabungan Koperasi gabungan terdiri atas paling sedikit 3 pusat koperasi yang
telah berbadan hukum. Tugas utama gabungan koperasi adalah menyediakan
informasi bagi koperasi-koperasi anggotanya. Informasi-informasi tersebut dapat
berupa majalah atau bulletin lainnya. Selain itu, gabungan koperasi bertugas
menyelenggarakan lembaga-lembaga pendidikan bagi anggota, pengurus dan
pegawai-pegawai yang bertugas di koperasi. Anggota dari gabungan koperasi adalah
pusat koperasi yang sejenis. Wilayah kerja gabungan koperasi adalah sama dengan
wilayah propinsi. Dengan demikian, pusat koperasi yang sejenis dari seluruh
kabupaten dalam satu propinsi dapat bergabung dalam gabungan koperasi. Jumlah
anggota minimal dari gabungan koperasi adalah tiga pusat koperasi.
3. Induk Koperasi
Induk koperasi terdiri atas paling sedikit 3 gabungan koperasi yang merupakan
koperasi tingkat nasional. Mengingat tingkatnya sudah nasional sifat dari anggota
induk koperasi tidak harus sama. Induk Koperasi seperti ini biasa dinamakan Induk
Koperasi Nasional atau Pusat Koperasi nasional. Tugas utama induk koperasi adalah:
1) Mengeluarkan majalah yang memuat pengumuman-pengumuman, peristiwaperistiwa serta hal-hal lain yang menyangkut koperasi dan perkembangan
koperasi pada umumnya. Dalam majalah tersebut dimuat tulisan-tulisan yang
bersifat penyuluhan, bimbingan serta artikel koperasi lainnya.
2) Menyelenggarakan penyuluhan, bimbingan dan bahkan pendidikan koperasi bagi
anggota dan pengurus koperasi.
3) Menyebarkan cita-cita dan semangat koperasi, terutama kepada anggota koperasi
dan masyarakat pada umumnya.
4) Mempertahankan kelangsungan hidup koperasi serta mengusahakan kemajuan
dan perkembangan koperasi.
5) Memelihara dan memajukan kerjasama di kalangan anggota koperasi.

Yang dimaksud dengan Daerah Kerja Koperasi adalah luas-sempitnya wilayah yang
dijangkau oleh suatu badan usaha Koperasi dalam melayani kepentingan anggotanya atau dalam
melayani masyarakat. Daerah kerja bisa diartikan sebagai wilayah menurut administrasi
pemerintahan atau bida juga dalam arti daerah kerja koperasi.
Berdasarkan daerah kerja, koperasi bisa digolongkan menjadi Koperasi Primer, Koperasi
Sekunder dan Koperasi Tersier.
a. Koperasi Primer
Koperasi ini beranggotakan orang-orang, yang biasanya didirikan pada lingkup
kesatuan wilayah terkecil tertentu. Koperasi primer yang bergerak dalam bidang
konsumsi, anggotanya terutama berasal dari masyarakat yang tinggal dalam jangkauan
pelayanan koperasi yang bersangkutan. Dengan demikian, dapat diartikan daerah
kerjanya terbatas dalam lingkungan wilayah tempat tinggal anggotanya. Demikian pula
koperasi lainnya yang daerah kerjanya hanya mencakup anggota yang berada dalam
lingkungan koperasi tersebut.
b. Koperasi Sekunder
Koperasi sekunder atau Pusat Koperasi adalah Koperasi yang beranggotakan
koperasi-koperasi primer, yang biasanya didirikan sebagai pemusatan dari beberapa
koperasi primer dalam suatu lingkup wilayah tertentu. Koperasi Sekunder dapat
memperkuat kedudukan ekonomi Koperasi Primer yang bergabung di dalamnya.
Koperasi Sekunder biasanya berkedudukan di Ibu Kota Propinsi.
c. Koperasi Tersier
Koperasi Tersier juga dapat disebut sebagai Induk Koperasi yang beranggotakan
koperasi-koperasi sekunder. Koperasi Tersier berkedudukan di Ibukota Negara . koperasi
ini berfungsi sebagai ujung tombak koperasi-koperasi primer yang menjadi anggotanya,
dalam berhubungan dengan lembaga-lembaga nasional yang terkait dengan pembinaan
dan gerakan koperasi, koperasi sejenis di negara lain, atau nasional.
2.4.

STRUKTUR INTERN DAN EKSTERN ORGANISASI KOPERASI

Struktur Internal organisasi koperasi


Struktur internal organisasi koperasi melibatkan perangkat organisasi di dalam organisasi itu
sendiri. Perangkat organisasi koperasi adalah rapat anggota, pengurus, pengawas, dan pengelola.

Di anatara rapat anggota, penggurus, dan pengelola terjalin hubungan perintah dan tanggung
jawab. Sedangkan pengawas hanya memiliki hubungan satu arah, yaitu bertanggung jawab
terhadap rapat anggota, tanpa memberikan perintah pada pengakat organisasi lainnya
untuk lebih jelasnya perhatikan gambar dibawah ini :

Anggota : setiap orang yang terdaftar sebagai peserta pemilik koperasi sesuai dengan
persyaratan dalam anggaran dasar.

Rapat Anggota : pemegang kekuasan tertinggi dalam organisasi koperasi.

Pengurus : melaksanakan keputusan keputusan yang ditetapkan oleh rapat anggota untuk
menggerakkan roda organisasi dalam merealisasikan tujuan yang ditetapkan.

Pengawas : bertugas melaksanakan pengawasan atas pekerjaan pengawasannya.

Pengelola : pelaksana harian kegiatan koperasi yang diangkat oleh pengurus koperasi atas
persetujuan rapat anggota.

Struktur eksternal organisasi koperasi


Struktur eksternal organisasi koperasi berhubungan dengan adanya penggabungan koperasi
sejenis pada suatu wilayah tertentu. Penggabungan itu dibutuhkan untuk pembinaan, pelatihan,
kemudian mendapat modal, dan kebutuhan kemudahan lainnya. Berkaitan dengan itu, adanya

koperasi induk, koperasi gabungan, koperasi pusat, dan koperasi primer. Bagan struktur eksternal
organisasi koperasi dapat dilihat pada berikut.

Koperasi induk : gabungan dari paling sedikit 3 koperasi gabungan yang berkedudukan di
ibukota Negara.

Koperasi gabungan : gabungan dari paling sedikit 3 koperasi pusat dan berkedudukan di
ibukota provinsi.

Koperasi pusat : gabungan dari paling sedikit 4 koperasi primer dan berkedudukan di
ibokota kabupaten.

Koperasi primer : koperasi yang merupakan perkumpulan dari paling sedikit 20 orang
yang bergabung dengan tujuan yang sama.

BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Koperasi adalah badan hukum yang berdasarkan atas asa kekeluargaan yang anggotanya
terdiri dari orang perorangan atau badan hukum dengan tujuan untuk mensejahterakan
anggotanya. Umumnya koperasi dikendalikan secara bersama oleh seluruh anggotanya, dimana
setiap anggota memiliki hak suara yang sama dalam setiap keputusan yang diambil koperasi.
Koperasi merupakan badan hukum sudah pasti memiliki dasar dasar hukum pembentukan
koperasi salah satunya yaitu UU No. 25/1992 tentang Perkoperasian Koperasi. Langkah
langkah mendirikan koperasi ada 5 yaitu : Calon-calon Pendiri Harus Mempunyai Kepentingan
Ekonomi yang Sama, Dilaksanakannya Rapat Pembentukan, Penyusunan Akta Pendirian
Koperasi, dan Penelitian oleh Pejabat yang memiliki Kewenangan serta masih ada beberapa
syarat tambahan tergantung pada jenis usaha yang dijalankan oleh koperasi. Tingkatan koperasi
berdasarkan anggotanya ada dua yaitu koperasi primer dan sekunder, sedangkan tingkatan
berdasarkan daerah kerjanya terdiri dari tiga tingkatan yaitu koperasi primer, sekunder dan
tersier. Struktur koperasi terdiri dari struktur internal dan eksternal. Struktur internal organisasi
koperasi melibatkan perangkat organisasi di dalam organisasi itu sendiri. Perangkat organisasi
koperasi adalah rapat anggota, pengurus, pengawas, dan pengelola. Dan struktur eksternal
organisasi koperasi berhubungan dengan adanya penggabungan koperasi sejenis pada suatu
wilayah tertentu.

DAFTAR PUSTAKA

Baswir, Revrisond. 2002. Koperasi Indonesia Edisi Pertama. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.
Alam S. Ekonomi Jilid 3.
http://www.depkop.go.id diakses pada tanggal 15 september 2014
http://hukum.unsrat.ac.id/uu/uu_25_92.htm diakses pada tanggal 15 september 2014
http://www.slideshare.net/ariskayuni/tata-cara-pendirian-koperasi-26730850 diakses pada
tanggal 15 september 2014
http://www.seputarukm.com/prosedur-pendirian-koperasi/ diakses pada tanggal 15 september
2014
http://www.satulayanan.net/layanan/pendirian-koperasi/pokok-pokok-proses-pengesahan-badanhukum-koperasi diakses pada tanggal 15 september 2014
http://rivaldiligia.wordpress.com/2010/11/10/tingkat-tingkat-organisasi-koperasi/ diakses pada
tanggal 15 september 2014
http://id.wikipedia.org/wiki/Koperasi diakses pada tanggal 15 september 2014