Anda di halaman 1dari 14

A.

Topik Praktikum
Jaringan Otot dilengkapi oleh jaringan ikat. Pembuluh darah dan urat
syaraf. Berarti sebagai alat otot juga mengandung keempat macam jaringan. Otot
sebagai jaringan dibina atas sel-sel otot yang berfungsi untuk pergerakan suatu
alat atau bagian tubuh. Struktur jaringan otot dikhususkan untuk melakukan
gerakan, baik oleh badan secara keseluruhan gerakan, baik oleh badan secara
keseluruhan maupun oleh berbagai bagian tubuh yang satu terhadap yang lain.
Sel-sel otot sangat berkembang dalam fungsi kontraktil dan tidak begitu
berkembang dalam hal konduktivitas. Kekhususan ini meliputi pemanjangan sel-
selnya sesuai sumbu kontroksi.
Pada jaringan otot, sel-sel atau serat otot itu biasanya bergabung dalam
berkas-berkas, sehingga jaringan otot tidak hanya terdiri atas serat-serat otot saja.
Karena harus melakukan kerja mekanis, serat-serat otot memerlukan banyak
kapiler darah yang mendatangkan makanan dan oksigen, dan mengangkut keluar
produk sisa toksik. Pembuluh-pembuluh darah itu terdapat di dalam jaringan ikat
fibrosa, yang juga berguna untuk mengikat serat-serat otot menjadi satu dan
sebagai pembungkus, pelindung sehingga tarikan dapat berlangsung secara
efektif.
Komponen-komponen sel-sel otot seperti hal-hal yang lain, tetapi
memiliki istilah khusus, membran sel disebut sarkolema, sitoplasma disebut
sarkoplasma, retikulum endoplasma disebut retikulum sarkoplasma, dan
mitokondria disebut sarkosoma. Ada tiga macam otot digolongkan berdasarkan
struktur dan fungsi, yaitu otot rangka, otot jantung, dan otot polos.
B. Tujuan Praktikum
1. Mengetahui struktur otot lurik, otot polos, dan otot jantung.
2. Mengetahui komponen-komponen penyusun otot lurik, otot jantung, dan
otot polos.
D. Pembahasan
Kontraksi Otot, secara normal otot distimulasi untuk berkontraksi sebagai
respons terhadap adanya impuls saraf. Bahkan otot dalam gabungannya sebagai
jaringan yang mempunyai iritabilitas juga akan berkontraksi dengan adanya
stimuli listrik, mekanis, kimiawi, dan mungkin panas yang langsung. Pemendekan
yang bisa dilihat pada wakltu kontraksi otot meliputi hanya perubahan mekanis
sebagi akibat akhir dari beberapa perubahan internal yang tidak bisa diketahui.
Dalam hal ini meliputi berbagai perubahan: kimia, termal, elektris, dan
histologis. Rangsangan adalah perubahan keadaan luar yang dalam organisme
misalnya sel otot dapat menimbulkan reaksi yang bersifat spesifik. Berbagai cara
memberikan rangsangan sebagai berikut.
1. Rangsangan mekanis berupa tekanan, tarikan, tusukan, cubitan, dan lain-
lain. Reaksi yang terjadi dalam organisme disebut efek. Menurunnya
kekuatan rangsangan mekanis jauh lebih besar daripada efek yang
ditimbulkannya. Sering rangsangan mekanis begitu besar sehingga
jaringan yang dirangsang itu menjadi rusak karenanya.
2. Rangsangan kimia yang murni sukar diberikan karena sifat zat kimia yang
mudah berubah. Supaya didapatkan rangsangan kimia yang murni zat
harus dalam larutan, larutan harus isotinik, suhunya sama dengan suhu
jaringan yang hendak dirangsang.
3. Rangsangan kalorik berupa rangsangan panas atau dingin. Saraf perifir
umumnya tidak peka terhadap rangsangan kalorik, sehingga karenanya
tenaga rangsangan harus kuat sekali; akibatnya jaringan menjadi rusak.
4. Rangsanagn cahaya. Khusus untuk mata.
5. Rangsangan listrik.
Cara rangsangan itu banyak dipakai karena mempunyai berbagai
kebaikan : a). tiap jaringan peka terhadap listrik.
b). tidak merusak jaringan,
c). kekuatannya dapat diatur,
d). saat rangsangannya dapat ditentukan,
e). lama rangsangannya dapat ditentukan,
f). tempat rangsangannya dapat ditentukan.
Otot rangka bila mengalami inervasi (tidak mendapat ransangan saraf) akan
mengalamim paralisis. Juga otot rangka tidak bisa berkontraksi secara otomatis
dan spontan.
1. Otot Polos
Jenis otot ini disebut juga sebagai otot tidak lurik atau otot involunteer.
Otot polos terutama terdapat di bagian viseral, membentuk bagian kontraktil pada
dinding saluran cerna sejak pertengahan esofagus sampai ke anus, termasuk
saluran keluar kelenjar yang berhubungan dengan sistem ini. Otot ini terdapat
pada system pernapasan, system reproduksi, arteri, vena, pembuluh limfe yang
besar, dermis, iris, dan korpus siliaris pada mata. Pada tempat-tempat ini otot
polos berfungsi mengatur dan mempertahankan garis tengah lumen dari visera
berongga.
Sel-sel otot polos dapat tersusun tersebar atau membentuk berkas
memanjang atau sebagai lembaran. Sel otot polos berbentuk gelendong,
meruncing di kedua ujungnya, dan mempunyai bagian tengah yang lebih lebar,
tempat letak intinya. Ukuran tergantung tempatnya, sekitar 15-20 μm pada
pembuluh darah kecil sampai 0,2 mm dengan tebal 6μm. Pada dinding rahim yang
sedang mengandung sel-sel otot membesar dan memanjang sampai 0,5 mm.
Sitoplasma untuk sel otot disebut sarkoplasma mengandung sepasang sentriol.
Dalam sitoplasma terdapat butir-butir glikogen yang penting sebagai sumber
energi. Seperti sel–sel lainnya, sel otot diselubungi oleh membran plasma yang
dinamakan sarkolema. Untuk nutrisi jaringan otot diperlukan pembuluh darah
yang bercabang-cabang masuk di antara berkas-berkas otot.
 Persarafan
Agar dapat berkontraksi maka jaringan otot membutuhkan rangsangan dari
ujung-ujung saraf. Oleh Bozler dibedakan 2 tipe:
1. Tipe multi unit
Apabila tiap otot polos mendapatkan rangsangan dari ujung-ujung saraf
yang berasal dari sebatang serabut saraf sehingga setiap sel otot mendapat impuls
dalam waktu bersamaan, akibatnya kontraksi dapat berlangsung bersamaan.
Misalnya terdapat pada iris, arteri besar, dan duktus deferens.
2. Tipe viseral
Dalam seberkas otot tidak semuanya mendapatkan ujung saraf tetapi
rangsangan akan diteruskan ke otot-otot yang berdekatan melalui hubungan yang
mirip gap junction.
 Struktur Halus Sel Otot
Sarkoplasma di dekat inti mengandung sejumlah mitokondria halus,
mikrotubuli, granular endoplasmic reticulum dan kelompok-kelompok ribosom
bebas. Kompleks golgi menempati didekat salah satu ujung inti. Dalam
sarkoplasma terdapat berkas-berkas filamen yang membentuk miofibril.
Ada 2 jenis miofilamen, yaitu:
1. Miofilamen halus
2. Miofilamen kasar
Kedua jenis miofilamen ini berjalan sejajar sumbu sel otot polos. Diantara
berkas-berkas miofilamen terlihat mitokondria. Apabila dilihat berkas-berkas
gabungan miofilamen halus dan miofilamen kasar maka mereka tidak membentuk
pola yang teratur namun tersebar di seluruh sel. Sarkolema menunjukkan lekukan
ke dalam yang dinamakan kaveola pada pengamatan dengan M.E.
 Asal, pertumbuhan, dan regenerasi
Sebagian besar otot polos dibentuk melalui perkembangan sel-sel
mesenkim. Dalam hubungannya dengan beberapa kelenjar dan saluran keluarnya
seperti kelenjar-kelenjar liur, kelenjar keringat, dan kelenjar lakrimal ada sel
dengan banyak ciri khas otot polos yang berkembang dari ektoderm dan disebut
sel mioepitel. Sel otot polos dapat bertambah ukurannya akibat rangsangan
fisiologis (misalnya dalam rahim selama kehamilan) dan akibat rangsangan
patologis (misalnya dalam arteriol pada hipertensi). Pada keadaan dewasa
dianggap bahwa sel otot polos berasal dari jaringan pengikat yang belum
mengalami diferensiasi lanjut.
3. Otot Rangka
Otot seran lintang atau otot rangka terdiri atas serat-serat otot, berkas sel
yang sangat panjang sampai 30 cm, silindris, dan berinti banyak dengan garis
tengah 10-100μm. Inti lonjong umumnya terletak pada tepi sel di bawah membran
sel. Lokasi yang khas ini membantu dalam membedakan otot rangka dari otot
jantung dan otot polos yang keduanya memiliki inti di tengah. Otot ini ditemukan
di lidah, diafragma, dinding pangkal esophagus, dan sebagian otot wajah.
Sebagian besar dari sel otot rangka yang berbentuk serabut membentuk berkas-
berkas yang digabungkan oleh jaringan pengikat. Jaringan pengikat tipis yang
melapisi setiap serabut otot melanjutkan diri sebagai pembungkus berkas yang
terdiri atas beberapa serabut otot mengandung pembuluh darah kecil. Selubung
jaringan pengikat tersebut dinamakan endomisium. Berkas otot tersebut
digabungkan lagi menjadi berkas yang lebih besar oleh jaringan pengikat yang
lebih tebal dinamakan perimisium. Berkas-berkas tingkat kedua tersebut
digabungkan lagi menjadi berkas yang lebih besar oleh jaringan pengikat
dinamakan epimisium.
Apabila otot seran lintang diperiksa tanpa alat pembesar, kadang-kadang
tampak adanya perbedaan warna pada serabut-serabutnya. Dengan pembesaran
tampak bahwa serabut-serabut otot yang berwarna merah berkelompok diantara
serabut otot yang berwarna putih (pucat) yang berukuran lebih besar.
Gautier membedakan 3 jenis serabut otot dengan pewarnaan khusus :
1. serabut otot merah,
2. serabut otot putih,
3. serabut otot peralihan
Serabut otot merah yang lebih kecil ternyata lebih banyak mengandung
mitokhondria, mioglobin, dan banyak pembuluh darah diantara serabut-
serabutnya. Pada tingkat pengamatan dengan M.E., serabut otot merah ternyata
memiliki lempeng Z lebih tebal, lebih kompleksnya struktur sarcoplasmic
reticulum pada daerah lempeng Z, mitokondria berukuran lebih besar dan terletak
berderet-deret diantara miofibril kalau dibandingkan serabut otot putih. Serabut
otot peralihan memiliki sifat-sifat diantara serabut otot merah dan serabut otot
putih.
 Macam-macam serat otot seran lintang:
1. Serat merah, serat ini berdiameter relatif kecil, dengan banyak sarkosom
besar yang penuh krista. Sarkosom-sarkosom itu terkumpul di bawah
sarkolema dan berderet-deret memanjang diantara miofibril.

2. Serat putih, merupakan bagian terbesar dari otot ”putih” dan seratnya lebih
besar. Sarkosom-sarkosom yang lebih kecil terdapat berpasangan sekitar
garis Z, dan garis Z disini hanya setengah lebarnya garis Z pada serat
merah.
3. Serat menengah, serupa serat merah, terdapat pada otot merah, tetapi
sarkosomnya lebih kecil dan garis Z-nya lebih tipis. ”Myoneural junction”
(taut mioneural) bersifat lebih kompleks pada serat putih, dan penyebaran
berbagai jenis serat didalam suatu otot agaknya dipengaruhi oleh sistem
saraf. Serat merah berkontraksi lebih lambat jika dibandingkan dengan
serat putih dan lebih tahan berkontraksi lama, walaupun sebenarnya ada 2
jenis serat merah, dan salah satunya berkontraksi lumayan cepat. Serat
menengah yang secara morfologi mirip serat merah, lebih mirip serat putih
dalam hal kecepatan kontraksinya.
 Struktur mikroskopis
Sel otot seran lintang merupakan sel panjang yang berinti banyak dengan
ketebalan yang sama di seluruh panjangnya yang berukuran sekitar 10-100 μm.
Sangat khas adalah gambaran pada potongan membujur terhadap sumbu panjang
serabutnya oleh karena segera tampak gambaran garis-garis melintang yang
dipisahkan oleh garis-garis pucat di sepanjang serabut. Gambaran ini disebabkan
oleh adanya miofibril-miofibril dalam sarkoplasma yang bersifat membias kembar
silih berganti dengan yang biasa, seluruhnya sejajar memenuhi serabut.
Ketebalan miofibril bervariasi namun tidak akan melebihi ukuran 2-3 μm.
Penyebaran miofibril dalam sarkoplasma akan jelas pada potongan melintangnya.
Biasanya membentuk kelompok-kelompok yang pada potongan melintang tampak
sebagai kelompok titik-titik yang dinamakan sebagai Area Cohneim.
Di bawah sarkolema sepanjang serabut otot tampak inti yang berbentuk sebagai
kumparan, sehingga apabila serabut tersebut terpotong membujur sebagian besar
inti tampak tersebar di tepi dibawah sarkolema.
 Struktur halus otot seran lintang
Pada pengamatan secara seksama dengan M.E., ternyata apa yang
dimaksudkan dengan sarkolema oleh para pengamat dengan mikroskop cahaya
sebenarnya terdiri atas:

a. Plasmalemma yang strukturnya sebagai unit membrane.


b. Lapisan pembungkus ekstraseluler yang bahannya seperti lamina basalis
c. Anyaman halus serabut-serabut retikuler
Serabut otot seran lintang sebagaimana dengan sel lain, dalam
sitoplasmanya mengandung berbagai macam organela, namun kesemuanya
disesuaikan dengan fungsi serabut otot yang mampu berkontraksi.
Mithokondria berukuran besar dengan banyak sekat-sekat di dalamnya, terletak
memanjang berderet-deret sepanjang serabut dibawah sarkolema dan diantara
miofibril. Kompleks Golgi terdapat lebih dari satu menempati di dekat setiap inti.
Miofibril merupakan seberkas komponen berbentuk filamen yang lebih halus dan
panjang dari filamen itu sendiri tidak sepanjang miofibrilnya.
Filamen tersebut seperti halnya dalam otot polos terdiri atas 2 jenis yang
berbeda dalam ketebalan dan ukuran panjangnya yaitu:
1. Miofilamen tebal : Ketebalan 100Ǻ dan panjang 1,5μm
2. Mikrofilamen halus : Ketebalan 50Ǻ dan panjang 2μm
Garis melintang tidak lain berbentuk cakram atau lempeng, oleh karena
garis-garis melintang yang terlihat pada potongan memanjang serabut otot
menempati seluruh ketebalan serabut. Oleh karena itu istilah garis sering diganti
dengan lempeng atau cakram.
Dibedakan 2 macam lempeng yaitu:
1. Lempeng A
Lempeng A dapat membias kembar sinar polarisasi. Sediaan otot dengan
pewarnaan H.E memperlihatkan warna merah. Ditengah-tengah lempeng A
terdapat sebuah lempeng yang lebih sempit yang jernih, yaitu lempeng H dan
lempeng ini terbagi lagi oleh lempeng yang gelap, yaitu lempeng M.
2. Lempeng I
Lempeng I sendiri hanya terbagi oleh sebuah lempeng yang lebih tipis dan
berwarna gelap ditengah sebagai lempeng Z. Kadang-kadang pada lempeng I
didekat perbatasan dengan lempeng A terlihat sebuah lempeng N dilihat
sepanjang serabut otot yang dihubungkan dengan kemampuan kontraksinya, maka
selama kontraksi lempeng Z relatif tidak mengalami perubahan. Oleh karena itu
miofibril dibagi-bagi menjadi satuan kontraksi yang disebut sarkomer yang
dibatasi oleh lempeng Z.
Didalam sebuah miofibril, sejumlah miofilamen halus yang panjangnya 2
μm berpangkal pada lempeng Z dan meluas kesetengah lempeng I dan sebagian
dari lempeng A sampai batas lempeng H. Dengan demikian lempeng H dibatasi
oleh ujung-ujung miofilamen halus dari kedua belah pihak. Sedangkan
miofilamen tebal yang berada sebagian diantara miofilamen halus, perluasannya
dalam satu sarkomer mulai dari batas lempeng I disatu pihak sampai batas
lempeng I di pihak lain
Hubungan antara miofilamen halus dengan miofilamen tebal dapat lebih
dipahami pada potongan melintang melalui lempeng A dekat perbatasan dengan
lempeng I. Pada potongan tersebut terlihat bahwa sepotong miofilamen tebal
dikelilingi secara teratur oleh 6 batang miofilmen halus dan sebaliknya setiap
batang miofilamen halus sendiri dikelilingi oleh 3 batang miofilamen tebal
lainnya.diantara kedua miofilamen tersebut dihubungkan oleh molekul-molekul
berbentuk batang pendek yang merupakan bagian dari miofilamen tebal sebagai
kait-kait yang dinamakan cross bridge.
Organela lain dalam sitoplasma yang terlibat dalam proses kontraksi yaitu
sarcoplasmic reticulum yang tidak lain adalah smooth reticulum pada sel-sel
biasa. Sarcoplasmic reticulum merupakan anyaman rongga pipih yang dibatasi
membran yang mengelilingi miofibril.
 Komponen lain dalam sarkoplasma
Dalam sarkoplasma ditemukan glikogen dalam jumlah yang banyak dalam
bentuk butir-butir kasar. Bahan ini dipergunakan sebagai persediaan energi.
Komponen lain yaitu mioglobin yang merupakan pigmen seperti hemoglobin
dalam eritrosit yang digunakan untuk mengikat oksigen.
 Mekanisme kontraksi
Oleh Huxley dijelaskan bahwa pada waktu proses kontraksi miofilamen
halus di kedua pihak dalam sebuah sarkomer menyusup mendekati ujung-ujung
miofilamen halus di pihak lain diantara miofilamen tebal disekelilingnya. Oleh
karena miofilamen halus bertumpu pada lempeng Z, maka berakibat pada
lempeng Z saling mendekat sehingga pada waktu berkontraksi, sarkomer
diseluruh serabut memendek. Jika seluruh sarkomer memendek, maka seluruh
serabut memendek pula. Dari hipotesis ini jelaslah bahwa kontraksi disebabkan
kemampuan saling tarik antara dua macam miofilamen yang diwujudkan sebagai
saling menggesernya miofilamen sedemikian rupa sehingga terdapat perlekatan
yang maksimal dari masing-masing permukaan.
Proses yang berlangsung sebelum terjadinya kontraksi:
Tonjolan miofilamen tebal mengadakan kontak dengan molekul aktin
Arah miring dari tonjolan tersebut menyebabkan adanya gerakan miofilamen tebal
dan miofilamen halus dalam arah yang berlawanan.Gerakan miofilamen
menyebabkan pergeseran antara filamen-filamen sehingga miofibril memendek
Selama pergeseran, terjadi rangkaian peristiwa hubungan antara cross
bridge dengan miofilamen halus diselingi dengan pelepasannya, sampai ujung-
ujung miofilamen halus saling mendekat. Akibat rangkaian peristiwa diatas,
miofilamen halus bergeser menyusup ke dalam lempeng A sehingga tampak
sebagai fenomena berikut: lempeng H dan lempeng I menyempit disertai saling
mendekatnya lempeng Z sehingga sarkomer memendek.
 Regenerasi otot seran lintang
Sesudah mengalami kerusakan, serat otot memiliki kapasitas terbatas
untuk melakukan regenerasi, tetapi kerusakan berat akan diperbaiki dengan
pembentukan jaringan ikat fibrosa, dengan meninggalkan parut. Demikian pula
halnya bila saraf atau pembuluh darahnya terganggu alirannya, serat-serat otot
akan berdegenerasi dan diganti oleh jaringan ikat fibrosa. Walaupun demikian
pada otot dewasa terdapat sel-sel satelit. Sel-sel kecil dengan inti tunggal ini
terdapat diantara sarkolema dan endomisium dan rupa-rupanya merupakan
cadangan sel-sel mioblas embrional.
 Histogenesis otot seran lintang
Diawali pembentukan mioblas yang pada mulanya berinti satu yang
terletak ditengah sel tanpa miofibril. Mioblas ini akan mengadakan fusi satu sama
lain sehingga terbentuk sinsitium yang diikuti pembentukan miofibril. Dengan
penambahan miofibril, inti akan terdesak ke tepi sehingga terletak dibawah
sarkolema.

3. Otot Jantung
Otot jantung bersifat lurik dan involunteer, berkontraksi secara ritmis dan
automatis. Mereka hanya terdapat pada miokard (lapisan otot pada jantung) dan
pada dinding pembuluh darah besar yang langsung berhubungan dengan jantung.
Suatu serat otot jantung terlihat dibawah mikroskop cahaya sebagai suatu satuan
linier terdiri atas sejumlah sel otot jantung yang terikat ”end to end” (ujung-ujung)
pada daerah-daerah ikatan khusus yang disebut diskus interkalaris.
Serat otot jantung dibungkus suatu sarkolema tipis mirip yang terdapat pada otot
rangka, dan sarkoplasma yang mirip mithokondria. Miofibril-miofibril terpisah-
pisah oleh deretan mithokondria, yang mengakibatkan gambaran gurat-gurat
memanjang yang nyata.
Otot jantung terdiri atas serabut-serabut otot yang bergaris-garis melintang
seperti halnya otot kerangka. Namun demikian kedua jenis serabut otot tersebut
terdapat perbedaan:
1. Serabut otot jantung tidak merupakan sinsitium, melainkan merupakan
rangkaian sel-sel tunggal yang berderet-deret ujung ketemu ujung dengan
perantara suatu bangunan yang dinamakan : discus intercalaris.
2. Sel otot jantung tidak berbentuk silindris biasa, melainkan bercabang-
cabang sehingga memberikan kesan adanya anyaman 3 dimensional.
3. Inti sel otot jantung tidak terletak dibawah sarkolema,melainkan ditengah
sel.
4. Kontraksi otot jantung diluar pengaruh kehendak kita.
Celah-celah diantara anyaman serabut-serabut otot jantung diisi oleh
jaringan pengikat sebagai endomisium.
 Struktur halus otot jantung
Dalam beberapa hal struktur halus otot jantung sama dengan otot
kerangka, khususnya mengenai hubungan antara miofilamen halus dengan
miofilamen tebal, sehingga lempeng-lempeng yang tampak pada miofibril tidak
berbeda pula.
Perbedaan yang tampak pada pengamatan dengan M.E yaitu: susunan
sarcoplasmic reticulum dan mithokondria yang tidak teratur sehingga berkas-
berkas miofilamen membentuk miofibril tidak disusun secara teratur sehingga
batas-batas miofibril tidak tegas. Selain itu mitokondria lebih panjang dan lebih
banyak jumlahnya serta sekat-sekat dalam mithokondria juga lebih banyak.
Kadang-kadang mithokondria menempati satu sarkomer (2,5 μm). Butir-butir
glikogen banyak terdapat didaerah lempeng I.
Invaginasi tubuler dari sarkoma yang membentuk tubul T pada otot
jantung berukuran lebih besar daripada otot kerangka dan terdapat pada daerah
setiap lempeng Z.
Discus intercalaris yang biasanya terdapat pada daerah lempeng Z yang
semula belum diketahui secara pasti identitasnya, ternyata merupakan batas sel
yang berbentuk berigi-rigi antara sel-sel otot jantung yang berdekatan. Apabila
diamati dengan M.E, discus intercalaris dibedakan menjadi 2 bagian utama yaitu:
Pars transvelaris, yang menempati bagian yang berjalan melintang terhadap
serabut otot.
Pars lateralis yang menempati bagian yang sejajar dengan serabut otot.
Pars transvelaris yang tampak sebagai garis berkelok-kelok dibedakan dalam 2
daerah yang berlainan strukturnya. Perbedaan struktur tersebut khususnya dalam
aspek hubungan antara 2 sel yang berdekatan.
Struktur pertama mirip struktur desmosom yaitu adanya gambaran
pemadatan sarkoplasma didaerah itu. Struktur ini meliputi daerah yang cukup
luas, maka dinamakan fascia adhaerens. Fungsi struktur ini diduga keras sebagai
usaha mengikat sel otot jantung satu dengan yang lain.
Diantara struktur pertama tersebut, disana-sini terdapat struktur jenis
kedua yang mirip struktur gap junction dengan celah yang memisahkan 2
sarkolema sebesar 20Ǻ. Pada daerah ini tidak ada pemadatan
sitoplasma.mengingat struktur yang demikian diduga keras hubungan ini
berfungsi untuk merambatkan impuls dari satu sel otot jantung ke sel otot jantung
di dekatnya. Struktur pars lateralis dari discus intercalaris ternyata mirip dengan
gap junction kecuali meliputi daerah yang luas.
 Regenerasi otot jantung
Otot jantung lebih tahan terhadap trauma bila dibandingkan dengan otot
jenis lainnya, tetapi hampir tidak ada tanda-tanda regenerasi setelah terjadinya
suatu cedera. Otot jantung yang rusak diperbaiki dengan meninggalkan suatu
jaringan parut.
 Histogenesis otot jantung
Dapat diikuti sejak embrio sebagai perkembangan dari splanchnopleura
yang terdapat diluar endotil primordium jantung. Sejak awalnya telah terbentuk
struktur desmososm antar sel-sel otot. Terbentuknya sel otot jantung definitif
yaitu pada saat pembuluh darah bersama jaringan pengikat menembus endotil
jantung.
E. Kesimpulan
Jaringan otot merupakan jaringan yang mampu melangsungkan kerja
mekanik dengan jalan kontraksi dan relaksasi sel atau serabutnya. Sel otot
memiliki struktur filamen dalam sitoplasma, bentuk selnya memanjang agar dapat
melangsungkan perubahan sel menjadi pendek.
Ada 3 macam otot yang digolongkan berdasarkan struktur dan fungsinya:
1. Otot polos
2. Otot rangka
3. Otot jantung
Kontraksi Otot, secara normal otot distimulasi untuk berkontraksi sebagai
respons terhadap adanya impuls saraf. Bahkan otot dalam gabungannya sebagai
jaringan yang mempunyai iritabilitas juga akan berkontraksi dengan adanya
stimuli listrik, mekanis, kimiawi, dan mungkin panas yang langsung. Pemendekan
yang bisa dilihat pada wakltu kontraksi otot meliputi hanya perubahan mekanis
sebagi akibat akhir dari beberapa perubahan internal yang tidak bisa diketahui.
Dalam hal ini meliputi berbagai perubahan: kimia, termal, elektris, dan
histologis
F. Daftar Pustaka
Luis Carlos Junquiera, Jose Carneiro.HISTOLOGI DASAR : Text &
Atlas.EGC;2007
Novi Eurika. Petunjuk Praktikum “HISTOLOGI”.Universitas Muhammadiyah
Jember;2009
TUGAS MAHASISWA
Mekanisme konstraksi otot polos
Dapat dikatakan satuan kontraktil otot polos adalah sel dan bukan
sarkomer (yang tidak ada) rupanya “attachment plaque”. Pada sarkolema dan
mpadat sel (dense bodies) dalam sarkoplasma dihubungkan oleh berkas-berkas
filamen menengah dengan garis tengah 10 nm, membentuk suatu rangka atau
kerangka dalam sev. Badan padat mengandung alfa aktinin, suatu protein yang
dapat pada garis-garis yang menjadi tempat perlekatan miofilamen tipis. Kekuatan
kontraksi dihasilkan oleh mekanisme filamen yang bergeser antara miofilamen
tebal dan tipis dan diteruskan oleh badan padan padat kerangka bsev yang terdiri
dari filamen-filamen 10 nm, untuk memendekkkan panjang sel.
Fungsi saraf pada otot jantung
Otot ini mempunyai sebuah inti, bergaris melintang, dan tidak dapat
dikendalikan oleh kemauan karena diinervasi oleh sistem saraf otonom. Dalam
banyak hal, otot jantung sangat mirip dengan otot rangka. Serabut ototnya
bergabung satu sama lainnya, dan struktur yang demikian ini disebut sinsitium.
Oleh karenanya, stimulasi yang diberikan pada otot jantung menyebabkan seluruh
serabut otot memberikan respons, yang berbeda halnya pada otot rangka yang
hanya serabut otot yang dirangsang saja yang memberikan respons. Serabut otot
jantung mempunyai garis-garis melintang seperti kharakteristik otot rangka.
Sebenarnya otot jantung tidak merupakan sinsitium yang sejati.
Otot jantung tidak berada di bawah perintah otak, dan meskipun otot
jantung itu diinervasi oleh saraf maka otot itu tetap berkontraksi secara teratur bila
mengalami denervasi. Kekuatan kontraksi otot jantung ditentukan oleh panjang
awal dari sel otot jantung. Panjang awalnya itu dipengaruhi oleh volume darah
dalam berbagai bagian jantung sebelum kontraksi mulai. Oleh karenanya, makin
banyak darah yang masuk ke dalam jantung, makin besar panjang awalnya dan
akan makin kuat kontraksi jantung dengan akibat makin banyak darah yang
dipompakan ke luar. Hubungan ini dikenal sebagai Hukum Starling dari jantung.
Mekanisme kontraksi otot jantung
Sejak permulaan kehidupan embrional, terjadi kontraksi miogenik spontan
pada sel-sel otot jantung. Di beberapa bagian jantung dewasa, sel-sel otot jantung
mengalami modifikasi dan membentuk sistem hantar rangsang yangmengandung
denyut jantung. Rambatan rangsang terjadi dari sel otot jantung ke sel lain melalui
nucleus. Sel-sel miokard atrium berbeda dari sel miokard ventrikel. Sel atrium
lebih kecil dengan sistem T yang kurang berkembang.