Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Kelistrikan merupakan sesuatu yang biasa digunakan dalam kehidupan
sehari-hari dan biasanya kita tidak terlalu banyak memikirkan hal tersebut.
Pengamatan terhadap gaya tarik listrik dapat ditelusuri sampai pada zaman
Yunani kuno. Orang-orang yunani kuno telah mengamati bahwa setelah batu
amber digosok, batu tersebut akan menarik benda kecil seperti jerami atau
bulu. Sedangkan kata Listrik itu sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu
electron.
Kelistrikan memegang peranan penting dalam bidang kedokteran. Ada dua
aspek dalam bidang kedokteran yaitu listrik dan magnet yang timbul dalam
tubuh manusia, serta penggunaan listrik dan magnet pada permukaan tubuh
manusia. Nah, listrik yang ada pada tubuh kita disebut dengan Biolistrik atau
sering diartikan sebagai listrik yang terdapat pada makhluk hidup, yang mana
berasal dari kata bio berarti makhluk hidup dan kata listrik.
Beberapa penyelidikan yang telah dilakukan berhubungan dengan
biolistrik antara lain:
a) Pada tahun 1856, Caldani meneliti kelistrikan pada otot katak mati.
b) Pada tahun 1780, Luigi galvanic meneliti kelistrikan pada tubuh
hewan.
c) Pada tahun 1786, Luigi Galvani meneliti tentang terangkatnya
kedua kaki katak setelah diberi aliran listrik melalui konduktor
d) Pada tahun 1892, Arons merasakan aliran frekuensi tinggi melalui
dirinya dan asistennya.
e) Pada tahun 1899, Van Seynek meneliti tentang terjadinya panas
pada jaringan akibat aliran frekuensi tinggi
1

f) Pada tahun 1928, Schliephake meneliti tentang pengobatan dengan


gelombang pendek (short wave).
Makalah ini akan membahas bagaimana cara kerja biolistrik di dalam ilmu
kesehatan pada makalah ini. Pada dasarnya, semua fungsi dan aktivitas tubuh
sedikit banyak melibatkan listrik. Gaya-gaya yang ditimbulkan oleh otot
disebabkan tarik-menarik antara muatan listrik yang berbeda. Kerja Otot, otak
dan jantung pada dasarnya bersifat elektrik (listrik). Sistem saraf berperan
penting pada hampir semua fungsi tubuh. Otak, yang pada dasarnya adalah
suatu komputer sentral, menerima sinyal eksternal dan internal dan (biasanya)
menghasilkan respons yang sesuai. Informasi disalurkan sebagai sinyal listrik
di sepanjang saraf-saraf. Saat kita menjalankan fungsi-fungsi khusus tubuh,
banyak sinyal listrik yang dihasilkan. Sinyal-sinyal ini dihasilkan dari proses
elektrokimiawi tertentu.
Oleh karena itu maka makalah ini akan membahas sebagian dari sinyalsinyal listrik dalam tubuh yaitu mengenai sistem saraf dan neuron, sinyal
listrik dari otot dan jantung serta potensial listrik saraf.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini diantaranya adalah sebagai
berikut :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

pengertian biolistrik?
Hukum biolistrik?
Macam macam gelombang arus listrik ?
Kelistrikan dan Kemagnetan dalam tubuh ?
Isyarat Magnet dan Jantung otak ?
Penggunaan listrik dan magnet pada tubuh?
Bagaimana Magnetik Blood Flow Water ?
Shock Listrik ?
Bagaimana sinyal listrik dari jantung (Elektrokardiogram) ?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain sebagai berikut :
1. Dapat mengetahui asal mula dan pengertian dari biolistrik.
2

2. Dapat mengetahui macam macam gelombang arus listrik.


3. Dapat mengatahui tentang kelistrikan dan kemagnetan yang timbul dalam
tubuh.
4. Dapat mengetahui tentang isyarat magnet jantung dan otak.
5.
6.
7.
8.
9.

Dapat mengetahui Penggunaan listrik dan magnet pada tubuh.


Dapat mengetahui apa saja bagian-bagian dari sistem saraf serta fungsinya.
Dapat mengetahui Magnetik Blood Flow Water
Dapat mengetahui tentang Shock Listrik
Mengetahui manfaat bioelektrik dalam kesehatan dan atau keperawatan

1.4 Manfaat Penulisan


Dalam penulisan makalah, Dengan selesainya penulisan makalah ini serta
pembahasan makalah ini diharapkan mempunyai manfaat bagi pribadi maupun
rekan-rekan mahasiswa agar dapat menambah ilmu dan wawasan penulis
khususnya, pembaca pada umumnya mengenai kelistrikan dalam tubuh serta
dapat dimanfaatkan dalam profesi keperawatan.
1.5 Tinjauan Pustaka
Dalam penyusunan makalah ini, penulis mendapatkan materi
pembahasan dengan mencari ke media internet dan sumber dari buku.
Kemudian dari berbagai sumber tersebut dirangkum dengan memperhatikan
materi yang dibahas dalam makalah ini.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Biolistrik

Biolistrik adalah energi yang dimiliki setiap manusia yang


bersumber dari ATP (Adenosine Tri Posphate) dimana ATP ini di hasilkan
oleh salah satu energi yang bernama mitchondria melalui proses respirasi sel.
Biolistrik juga merupakan fenomena sel. Sel-sel mampu menghasilkan
potensial listrik yang merupakan lapisan tipis muatan positif pada permukaan
luar dan lapisan tipis muatan negative pada permukaan dalam bidang
batas/membran. Kemampuan sel syaraf (neurons) menghantarkan isyarat
biolistrik sangat penting.
Transmisi sinyal biolistrik (TSB) mempunyai sebuah alat yang
dinamakan Dendries yang berfungsi mentransmsikan isyarat dari sensor ke
neuron. Stimulus untuk mentringer neuron dapat berupa tekanan, perubahaan
temperature, dan isyarat listrik dari neuron lain. Aktifitasi bolistrik pada suatu
otot dapat menyebar ke seluruh tubuh seperti gelombang pada permukaan air.
Pengamatan pulsa listrik tersebut dapat dilakukan dengan
memasang beberapa elektroda pada permukaan kulit. Hasil rekaman isyarat
listrik dari jantung (Electrocardiogran-ECG) diganti untuk diagnosa
kesehatan. Seperti halnya pada ECG, aktivitasi otak dapat dimonitor dengan
memasang beberapa elektroda pada posisi tertentu. Isyarat listrik yang
dihasilkan dapat untuk mendiagnosa gejala epilepsy, tumor, geger otak dan
kelainan otak lainya.

2.2 Rumus/Hukum Dalam Biolistrik


Ada beberapa rumus atau hukum yang berkaitan dengan biolistrik antara
lain.
1. Hukum Ohm
4

Gambar: Arus listrik pada konduktor

Perbedaan potensial antara ujung konduktor berbanding langsung dengan


arus yang melewati, berbanding berbalik dengan tahanan dari konduktor.
Hokum ini dapat dinyatakan dengan rumus:
R= V
I
Keterangan : R = Dalam Ohm
I = Arus (Ampere)
V = Tegangan (Volt)
2. Hukum Joule
Arus listrik melewati konduktor dengan perbedaan tegangan (V) dalam
waktu tertentu akan menimbulkan panas. Hukum ini dapat dirumuskan
sebagai berikut:
H (Joule)= V.I.T
3

Keterangan : V = Tegangan dalam Voltage


I = Arus dalam Ampere
T = Waktu dalam detik

J = Joule = 0.239 Kal


2.3 Macam-macam Gelombang Arus Listrik
1) Arus bolak-balik/sinusoidal
2) Arus setengah gelombang ( telah diserahkan)
3) Arus searah penuh tapi masih mangandung ripple/desir
4) Arus searah murni
5) Faradik
6) Surged Faradic/sentakan sinusoidal
7) Surged sinusoidal/sentakan sinusoidal
8) Galvanik yang interuptus
9) Arus gigi gergaji
2.4 Kelistrikan dan Kemagnetan dalam Tubuh
A. System Saraf dan Neuron
System saraf dibagi dalam 2 bagian yaitu:
1. Sistem saraf pusat
Terdiri dari otak, medulla spinalis dan saraf perifer. Saraf perifer
ini adalah serat saraf yang mengirim informasi sensoris ke otak atau ke
Medulla spinalis disebut Saraf Affren, sedangkan serat saraf yang
menghantarkan informasi dari otak atau medulla spinalis ke otot atau
medulla spinalis ke otot serta kelenjar disebut saraf Efferen
2. Sistem saraf otonom
Serat saraf ini mengatur organ dalam tubuh. Misalnya jantung, usus
dan kelenjar-kelenjar. Pengontrolan ini dilakukan secara tidak sadar.

Gambar Sistem Saraf Tak Sadar (Saraf Otonom)


6

Sistem saraf tak sadar disebut juga saraf otonom adalah sistem
saraf yang bekerja tanpa diperintah oleh sistem saraf pusat dan terletak
khusus pada sumsum tulang belakang. Sistem saraf otonom terdiri dari
neuron-neuron motorik yang mengatur kegiatan organ-organ dalam,
misalnya jantung, paru-paru, ginjal, kelenjar keringat, otot polos sistem
pencernaan, otot polos pembuluh darah. Berdasarkan sifat kerjanya, sistem
saraf otonom dibedakan menjadi dua yaitu saraf simpatik dan saraf
parasimpatik. Saraf simpatik memiliki ganglion yang terletak di sepanjang
tulang belakang yang menempel pada sumsum tulang belakang, sehingga
memilki serabut pra-ganglion pendek dan serabut post ganglion yang
panjang. Serabut pra-ganglion yaitu serabut saraf yang yang menuju
ganglion dan serabut saraf yang keluar dari ganglion disebut serabut postganglion. Saraf parasimpatik berupa susunan saraf yang berhubungan
dengan ganglion yang tersebar di seluruh tubuh.
Sebelum sampai pada organ serabut saraf akan mempunyai sinaps
pada sebuah ganglion seperti pada bagan berikut. Saraf parasimpatik
memiliki serabut pra-ganglion yang panjang dan serabut post-ganglion
pendek. Saraf simpatik dan parasimpatik bekerja pada efektor yang sama
tetapi pengaruh kerjanya berlawanan sehingga keduanya bersifat
antagonis.
Contoh fungsi saraf simpatik dan saraf parasimpatik antara lain:
Saraf simpatik mempercepat denyut jantung, memperlambat proses
pencernaan, merangsang ereksi, memperkecil diameter pembuluh arteri,
memperbesar pupil, memperkecil bronkus dan mengembangkan kantung
kemih, sedangkan saraf parasimpatik dapat memperlambat denyut jantung,
mempercepat proses pencernaan, menghambat ereksi, memperbesar
diameter pembuluh arteri, memperkecil pupil, mempebesar bronkus dan
mengerutkan kantung kemih.

B. Konsentrasi ion Dalam dan luar sel


Melalui suatu percobaan dapat ditunjukan suatu model membrane
permeable terhadap larutan KCL. merupakan suatu bentuk model potensial
istirahat pada waktu 0 dimana ion K akan melakukan difusi dari kosentrasi
tinggi ke konsntrasi rendah sehingga saat tertentu akan terjadi membrane
dipole/membran dua kutub dimana larutan dengan konsentrasi yang
tadinya rendah akan kelebihaan ion positif, kebalikan dengan larutan yang
konsentrasi tinggi akan berubah menjadi kekurangan ion sehingga menjadi
lebih negatif. Membrane permeabel biasanya terhadap ion K , Na dan Cl
sedangkan terhadap protein besar (A) sangat tidak permeabel
C. Kelistrikan saraf
Kalau ditinjau besar kecilnya serat saraf maka serat saraf dapat di
bagi dalam 3 bagian yaitu serat saraf tipe A, B, dan C. dengan
mempergunakan mikroskop electron, serat saraf dibagi dalam 2 tipe: yakni
serat saraf bermielin dan serat saraf tanpa myelin. Saraf bermielin banyak
terdapat pada manusia. Myelin merupakan suatu insulator (isolasi) makin
menurun apabila melewati serat saraf yang bermielin.
Kecepatan aliran listrik pada serat saraf yang berdiameter yang
sama dan panjang yang sama sangat tergantung kepada lapisan mielin ini.
Akson tanpa mielin (diameter 1 mm) mempunyai kecepatan 20-50
m/detik. Serat saraf bermielin pada diameter 10 um mempunyai 100

m/detik. Pada serat saraf bermielin aliran sinyal dapat meloncat dari suatu
simpul ke simpul yang lain.
Suatu saraf atau neuron membrane otot-otot pada keadaan istirahat
(tidak adanya proses konduksi implus listrik), konsentrasi ion Na+ lebih
banyak diluar sel dari pda di dalam sel, di dalam sel akan lebih negative
dibandingkan dengan di luar sel.
Apabila potensial diukur dengan galvanometer akan mencapai -90
m Volt, membrane sel ini disebut dalam keadaan polarisasi, dengan
potensial membrane istirahat -90 m Volt.
D. Perambatan Potensial Aksi
Potensial aksi terjadi apabila suatu daerah membrane saraf atau otot
mendapat rangsangan mencapai nilai ambang. Potensial aksi itu sendiri
mempunyai kemampuan untuk merangsang daerah sekitar sel membrane
untuk mencapai aksi kesegala jurusan sel membrane, keadaan ini disebut
perambatan potensial aksi atau gelombang depolarisasi.
Setelah timbul potensial aksi, sel membrane akan mengalami
repolarisasi sel membrane disebut suatu tingkat refrakter. Tingkat refrakter
dibagi dalam 2 fase:
1.

Periode Refrakter Absolut


Selama periode ini tidak ada rangsangan, tidak ada unsure kekuatan
untuk menghasilkan aksi yang lain.

2.

Periode Refrakter Relatif


Setelah sel membran mendekati repolarisasi seluruhnya maka dari
periode refrakter absolute akan menjadi periode refrakter relatif, dan
apabila ada stimulus/rangsangan yang kuat secara normal akan
menghasilkan potensial aksi yang baru.
Sel membrane setelah mencapai potensial membrane istirahat, sel

membran tersebut telah siap untuk menghantarkan implus yang lain.


Gelombang depolarisasi setelah mencapai ujung dari saraf atau setelah
9

terjadi depolarisasi seluruhnya, gelombang tersebut akan berhenti dan


tidak pernah aliran balik kearah mulainya datang rangsangan.
E. Kelistrikan pada sinapsis dan neuron
Hubungan antara dua buah saraf disebut sinapsi, berakhirnya saraf pada sel
otot/hubungan saraf otot disebut Neuromyal junction. Baik sinapsis
maupun neuromyal junction mempunyai kemampuan meneruskan
gelombang depolarisasi dengan cara lompat dari satu sel ke sel yang
berikutnya. Gelombang depolarisasi ini penting pada sel membrane otot,
oleh karena pada waktu terjadi depolarisasi. Zat kimia yang terdapat pada
otot akan tringger/bergetar/berdenyut menyebabkan kontraksi otot dan
setelah itu akan terjadi repolarisasi sel otot hal mana otot akan mengalami
reaksi.
F. Macam-macam sel saraf dan hantarannya
Secara umum ada 3 macam sel saraf, yaitu:
1) Neuron sensorik
Neuron ini berawal dari reseptor, yang merupakan ujung dari dendrit
selanjutnya menuju dendrit, lalu badan sel, akson dan akhirnya
bersinapsis (hubungan antar neuron) dengan dendrit dari neuron
penghubung
2) Neuron penghubung
Neuron ini berawal dari sinapsis dengan neuron sensorik, berlanjut
ke dendrit, lalu badan sel, akson dan diakhiri pada sinapsis dengan
neuron motorik. Umumnya neuron ini terdapat pada sistem saraf
pusat.
3) Neuron motorik
Neuron ini berawal dari sinapsis dengan neuron penghubung,
berlanjut ke dendrit lalu badan sel, akson dan diakhiri pada pilihanpilihan di bawah ini:
10

a) Neuromyal junction, yang berhubungan dengan sel otot


b) Neuroglandular

junction,

yang

berhubungan

dengan

kelenjar
Kedua junction di atas merupakan jenis dari neuroeffector junction.
Neuromyal junction jika efektornya berupa jaringan otot, sedangkan
neuroglandular junction jika efektornya berupa kelenjar (misalnya
kelenjar saliva, kelenjar keringat dll.)

Gambar: Hubungan antara neuron sensorik, neuron penghubung dan


neuron motorik

Impuls yang berjalan di sepanjang neuron akan berakhir


pada bagian ujung yang mengandung vesikel sinaptik. Dengan
adanya impuls tersebut maka vesikel akan terstimuli dan akhirnya
mengeluarkan

neurotransmitter

(misalnya

asetilkolin).

Neurotransmitter inilah yang membantu meneruskan impuls


menuju sel berikutnya. Reseptor sinaptik dari sel berikutnya akan
menangkap neurotransmitter tersebut sehingga impuls dapat
diteruskan ke sel berikutnya tersebut. Hubungan antara neuron satu
dengan neuron lainnya tadi dinamakan sinapsis.
11

Gambar: Konduksi impuls saraf pada sinapsis

Gambar: Konduksi impuls saraf pada neuromyal junction


Neuromyal junction adalah hubungan antara sel saraf dengan sel
otot. Seperti halnya pada sinapsis, neuromyal junction memiliki
kemampuan meneruskan gelombang depolarisasi dengan cara meloncat
dari sel satu ke sel berikutnya. Gelombang depolarisasi ini penting pada
membrane sel otot karena pada saat terjadi depolarisasi, zat kimia yang
terdapat pada otot akan bergetar, menyebabkan kontraksi otot yang
akhirnya dilanjutkan dengan repolarisasi.

12

G. KELISTRIKAN OTOT JANTUNG


Membran sel otot jantung (miokardium) sangat berbeda karakteristiknya
dengan membran sel otot bergaris atau sel saraf. Pada membran sel otot
bergaris atau sel saraf dalam keadaan potensial membran istirahat, jika ada
rangsangan barulah ion-ion natrium akan berdifusi ke dalam sel hingga
mencapai nilai ambang dan selanjutnya terjadi depolarisasi.
Sedangkan pada sel otot jantung, mudah terjadi kebocoran ion natrium
sehingga setelah selesai potensial aksi, ion natrium secara perlahan-lahan
akan berdifusi kembali ke dalam sel. Akibatnya terjadilah depolarisasi
spontan sampai mencapai nilai ambang dan terjadilah potensial aksi tanpa
rangsangan dari luar.

Gambar: Potensial aksi pada sel otot jantung

Secara lebih rinci, mekanisme kelistrikan jantung digambarkan sebagai berikut:


No

Proses

Skema

13

ATRIUM:
Impuls

dari

depolarisasi,

Nodus

SA

selanjutnya

memulai
gelombang

depolarisasi merambat ke seluruh bagian


atrium

sehingga

terjadilah

kontraksi

atrium.
VENTRIKEL:
Pada tahap ini ventrikel berada dalam
fase istirahat (polarisasi)
2

ATRIUM:
Terjadi repolarisasi atrium.
VENTRIKEL:
Gelombang

depolarisasi

diteruskan

menuju Nodus AV, untuk diteruskan


menuju berkas his, selanjutnya melalui
cabang berkas his kiri dan kanan, lalu
diteruskan ke serabut-serabut purkinje di
miokardium

ventrikel.

Akhirnya

terjadilah depolarisasi ventrikel sehingga


kontraksi ventrikel terjadi.

ATRIUM:
Berada

dalam

kondisi

istirahat

(polarisasi)

14

VENTRIKEL:
Terjadi repolarisasi ventrikel
4

ATRIUM:
Berada

dalam

kondisi

istirahat

kondisi

istirahat

(polarisasi)
VENTRIKEL:
Berada

dalam

(polarisasi)

Waktu
T1
T2
T3
T4

Atrium
Depolarisasi
Repolarisasi
Polarisasi
Polarisasi

Ventrikel
Polarisasi
Depolarisasi
Repolarisasi
Polarisasi

Rekaman EKG
P
Kompleks QRS
T
-

Gambar: Hasil rekaman elektrokardiogram (EKG)


2.5 Perekaman aktifitas listrik jantung
Perekaman kelistrikan jantung dapat dilakukan dengan elektrokardiograf.
Gambar hasil rekamannya dinamakan elektrokardiogram (EKG). Hasil
gambaran pokok dari rekaman ini adalah:
1) Gelombang P

15

Gelombang P merupakan gambaran dari depolarisasi atrium, sedangkan


gambaran repolarisasi atrium tidak tampak sebab tertutup oleh
gambaran dari depolarisasi ventrikel. Mengapa demikian? Karena
repolarisasi atrium dan depolarisasi ventrikel terjadi secara bersamaan,
dan kebetulan depolarisasi ventrikel lebih dominan.
2) Gelombang Kompleks QRS
Kompleks QRS merupakan gambaran dari depolarisasi ventrikel
3) Gelombang T
Gelombang T merupakan gambaran dari repolarisasi ventrikel
R
P

R
T

P
Q

T
Q

PT
Q

T
S

Gambar: Hasil rekaman sebuah EKG


Waktu dan kecepatan:
Prinsip EKG adalah berjalan dengan kecepatan standar dan
menggunakan kertas dengan kuadran-kuadran standar.
Satu kuadran kecil

= 1/25 detik = 0,04 detik

Satu kuadran besar

= 5 X 1/25 detik = 1/5 detik= 0,2 detik

Maka:
1 detik

= 25 kuadran kecil
= 5 kuadran besar

1 menit

= 60 detik = 60 x 25 kuadran kecil = 1500


kuadran kecil
16

= 60 detik = 60 x 5 kuadran besar = 300 kuadran


besar
dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penghitungan frekuensi denyut
jantung dapat didasarkan atas jumlah kuadran kecil atau jumlah kuadran
besar.
Karena 1 menit 1500 kuadran kecil, maka:
Frekuensi denyut jantung X jumlah kuadran kecil dalam 1 siklus harus
sama dengan 1500. Atau dengan kata lain:
Frekuensi denyut jantung = .

1500

_______ .

Jumlah kuadran kecil persiklus


Jika dihitung berdasarkan jumlah kuadran besar:
Frekuensi denyut jantung = .

________ 300______

Jumlah kuadran besar persiklus


Jika patokan kuadran besar ini diringkas, maka:
Jika panjang 1 siklus adalah:
1 kuadran besar, maka frekuensi denyut hantung = 300/1 = 300
kali/menit
2 kuadran besar, maka frekuensi denyut hantung = 300/2 = 150 kali/menit
3 kuadran besar, maka frekuensi denyut hantung = 300/3 = 100 kali/menit
4 kuadran besar, maka frekuensi denyut hantung = 300/4 = 75 kali/menit
5 kuadran besar, maka frekuensi denyut hantung = 300/5 = 60 kali/menit
6 kuadran besar, maka frekuensi denyut hantung = 300/6 = 50 kali/menit
Untuk arah vertikal, 1 kuadran kecil menunjukkan nilai 0,1 mV.

17

2.6 Isyarat Magnet Jantung dan Otak


Mengalirnya aliran listrik akan menimbulkan medan magnet.
Medan magnet sekitar jantung disebabkan adanya aliran listrik jantung
yang mengalami depolarisasi dan repolarisasi. Pencatatan medan magnet
disebut magnetoksdiogram. Besar medan magnet sekita jantung adalah
sekitar 5 x 10 pangkat -11 T( Testa) atau sekitar 10 x 10 pangkat 8 medan
megnet bumi. Hubungan Testa (T) dengan Gauss dapat dinyatakan:
IT = 10.10 4 Gauss
Untuk mengukur medan magnet dari suatu besaran benda
diperlukan suatu ruang yang terlindung dan sangat peka terhadap detector
medan magnet (magnetometer). Detector yang dipergunakan yaitu SQUID
( Superconding Quantum Interference Device) yang bekerja pada suhu 5
derajat K, dan dapat mendeteksi medan magnet yang disebabkan arus
searah atau arus bolak-balik. Ada 2 alat untuk mencatat medan magnet ini
antara lain:
1) Magnetokardiografi (MKG)
MKG memberi informasi jantung tanpa mempergunakan elektroda
yang didekatkan/ditempelkan pada badan, tidak seperti halnya pada waktu
melakukan EKG. Pencatatan dilakukan di daerah badan dengan jarak 5
cm. lokasi rekaman diberi kode B, D, F, H, I, J, L (vertical). Horizontal
dilakukan perekaman 5-6 kali dibubuhi huruf I dan ditandai dengan angka
(1, 3, 5, 9)
Informasi yang diperlukan pada MKG tidak dapat dipakai sebagai
EKG oleh karena dalam pengukuran medan magnet mempergunakan arus
searah yang mengenai otot dan saraf. Perekaman MCG akan memberi
informasi yang berguna dalam diagnosis apabila dikerjakan pada waktu
jantung mengalami serangan oleh karena pada saat ini dipergunakan arus
listrik.
18

2) Magnetoensefalogram (MEG)
MEG yaitu pencatatan medan magnet sekeliling otak dengan
mempergunakan arus searah. Alat yang adalah SQUID magnetometer.
Pada rithme alpha, medan magnet berkisar 1 x 10 pangkat -13 T.
2.7 Penggunaan Listrik dan Magnet pada Tubuh
Pada tahun 1890 Jacques A.D. Arsonval telah menggunakan listrik
berfrekwensi rendah untuk menimbulkan efek panas. Tahun 1992 telah pula
menggunakan listrik dengan frekwensi 30 MHz untuk memanaskan yang
disebut Short Wave Diaththermy. Pada 1950 sudah diperkenalkan
penggunaan gelombang mikro dengan frekwensi 2.450 MHz untuk keperluan
diathermi dan pemakain radar.
Sesuai dengan efek yang ditimbulkan oleh listrik, maka arus listrik di
bagi dalam 2 bentuk:
a. Listrik Berfrekwensi Rendah
Batas frekuensi antara 20 Hz sampai dengan 500.000 z frekuensi
rendah ini mempunyai efek merangsang saraf dan otot sehingga terjadi
kontraksi otot. Untuk pemakain dalam jantung waktu singkat dan bersifat
merangsang persarafan otot, maka dipakai arus faradic. Sedangkan untuk
jangka waktu
lama dan bertujuan merangsang otot yang telah kehilangan persarafan
maka dipakai arus listrik yang intereptur/terputus-putus atau arus DC yang
telahdimodifikasi.
Selain arus DC ada pula menggunakan arus AC dengan frekuensi
50 Hz arus AC ini serupa dengan arus DC, mempunyai kemkampuan
antara lain: merangsang saraf sensorik, merangsang saraf motoris, dan
berefk kontraksi otot.
b. Listrik Berfrekuensi Tinggi
Yang tergolong berfrekuensi tinggi adalah frekuensi arus listrik
diatas 500.000 siklus perdetik (500.000 Hz). Listrik berfrekuensi tidak
mempunyai sifat merangsang saraf motoris atau saraf sensoris, kecuali
19

dilakukan rangsangan dengan pengulangan yang lama. Frekuensi sifat ini


maka frekuensi tinggi digunakan dalam bidang kedokteran di bagi menjadi
2 bagian yaitu:
1. Short Wave Diathermy ( Diatermi Gelombang Pendek)
2. Mikro Wave Diathermy ( Diatermi Gelombang Mkro)
2.8 Magnetik Blood Flow Water
Alat pengukur aliran darah magnetis berdasarkan atas prinsip
induksi magnetis. Apabila suatu konduktor listrik digerakkan dalam medan
magnet akan menghasilkan suatu tegangan yang sebanding dengan
kecepatan gerakan ( Hukum Farady). Prinsip yang sama pula
dipergunakan disini yaitu apabila konduktor bukan suatu melainkan pipa
konduksi yang ditempati pada medan magnet dan dilewati zat cair.
Apabila darah melewati pipa konduksi tersebut, dengan rata-rata
kecepatan V melewati medan magnet B maka tegangan yang dihasilkan
antara elektroda dinyatakan:

V= B dv

Keterangan : V = Tegangan ( Volt)


B = Kuat Medan Magnet ( Gauss)
D = Diameter Pembuluh darah
V = Kecepatan ( m/sec)
Jumlah zat cair/darah dapat pula dihitung yaitu:
Q= d
4

x V
Bd

Q = Kecepatan x luas penampang

20

2.9 Shock Listrik


Syok listrik atau kejutan adalah suatu nyeri pada syaraf sensorik
yang diakibatkan aliran listrik yang mengalir secara tiba-tiba melalui
tubuh. Kejadian syok listrik merupakan kejadian yang timbul secara
kebetulan. Bahaya syok listrik sangat besar, tubuh penderita akan
mengalami ventricular fibrillon, kemudian diikiuti dengan kematian. Oleh
karena itu, perlu diketahui perubahan-perubahan yang timbul akibat syok
listrik, metoda pengamanan sehingga bahaya syok dapat dihindari.
Dalam bidang kedokteran ada 2 macam syok listrik antara lain:
1. Syok Dengan Tujuan Tertentu
Syok listrik ini dilakukan atas dasar indikasi medis. Dalam bidang
psiaktri dikenal dengan nama Electric Convultion Teraphy
2. Syok tanpa tujuan tertentu
Timbul syok ini diakibatkan dari suatu kecelakaan. Faktor-faktor yang
menyokong sehinggga timbulnya syok ini listrik ini :
Peralatan
1.

Petunujuk penggunaan alat-alat yang kurang jelas

2.

Prosedur testing secara teratur tidak atau kurang


jelas

3.

Peralatan ECG yang lama tanpa menggunakan


transformator

Perorangan
1.

Petugas-petugas yang kurang latihan

2.

Kurang pengertian akan kelistrikan maupun bahayabahaya yang ditimbulkan

3.

Kurang pengertian tetang cara-cara proteksi bagi


petugas sendiri maupun penderita

21

Syok yang timbul dari suatu kecelakaan ini dikenal


dengan Earth Syok. Berdasarkan besar kecilnya tegangan
Earth Syok dapat di bagi menjadi 2 : Low tension shock ( syok
tegangan rendah) dan high tension shock ( syok tegangan tinggi)
Syok semakin serius, apabila arus yang melewati tubuh
semakin besar. Menurut Hukum Ohm intensias arus listrik
tergantung kepada tegangan dan tahanan yang ada. ( I = V/R) berarti
tegangan penting dalam menentukan beberapa arus yang dapat
dilewati oleh tahanan yang diberikan oleh tubuh. Disamping itu ada
pula parameter-parameter lain yang turut berperan mempengaruhi
tingkat syok.
1. Dari Sudut Arus
a.Seseorang akan menderita syok lebih serius pada tegangan 220 Volt
dari pada tegangan 80 Volt. Oleh karena, kuat arus pada tegangan
220 Volt lebih besar dari pada tegangan 80 Volt (R) sama.
b. Basah atau tidaknya kulit penderita
c.Basah tidaknya lantai
2. dari sudut parameter-paraameter lainya:
a.Jenis kelamin
b. Frekuensi AC
c.Duration
d. Berat Badan
e.Jalan yang ditempuh arus
Oleh karena bahaya syok sangat besar, dapat mengakibatkan kematian
sehingga dipandang perlu untuk melakukan tindakan pencegahan yang
meliputi alat-alat yang dipergunakan

22

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Biolistrik adalah listrik yang terdapat pada makhluk hidup, tegangan listrik
pada tubuh berbeda dengan yang kita bayangkan seperti listrik di rumah tangga.
Kelistrikan pada tubuh berkaitan dengan komposisi ion yang terdapat dalam
tubuh. Kelistrikan dan kemagnetan didalam tubuh sangat berpengaruh pada sistem
saraf. Sistem saraf di dalam tubuh mempuanyai listrik. Pada sistem saraf pusat
dan sistem saraf ootonom.
3.2. Saran
Penulis menyadari, dalam penyusunan makalah ini belum sepenuhnya
sempurna. Untuk itu dapat kiranya memberikan kritik dan saran mengenai
makalah ini.
Walaupun demikian penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi
kita semua.

23

Anda mungkin juga menyukai