Anda di halaman 1dari 52

Oleh

Ns. Dini Prastyo Wijayanti, S.Kep


AKPER KERTA CENDEKIA SIDOARJO
2015

Keselamatan Pasien diatur dlm :


- UU No. 29 Tahun 2004 Ttg Praktik
Kedokteran, Pasal 2.
UU No. 36 Tahun 2009 Ttg Kesehatan, Pasal 5
(2), Pasal 19, Pasal 54.
- UU No. 44 Tahun 2009 Ttg Rumah
Sakit, Pasal 13 (3), Pasal 32 (e),(n) dan Pasal 43.
- Permenkes No.1691 Thn 2011 Ttg
Keselamatan Pasien.

Identifikasi yang tidak menjamin dalam


keselamatan pasien dalam pelayanan rumah
sakit
Identifikasi perilaku perawat yang tidak
menjamin perilaku keselamatan pasien.

Keselamatan pasien (patient safety)


rumah sakit adalah
suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan
pasien lebih aman,dan diharapkan dapat mencegah
terjadinya cidera. Termasuk di dalamnya: mengukur
risiko; identifikasi dan pengelolaan risiko terhadap
pasien; pelaporan dan analisis insiden; kemampuan
untuk belajar dan menindaklanjuti insiden serta
menerapkan solusi untuk mencegah, mengurangi serta
meminimalkan risiko.

Gerakan Keselamatan Pasien Rumah Sakit


dicanangkan oleh Menteri Kesehatan pada
Seminar Nasional PERSI pada tanggal 21
Agustus 2005, di Jakarta Convention Centre
Jakarta.

Bulan Agustus 2005 Departemen Kesehatan


R.I. mencanangkan Gerakan Moral Nasional
Keselamatan Pasien di Rumah Sakit (GMNKPRS) sebagai tonggak awal bagi penerapan
patient safety di Indonesia

Insiden adalah setiap kejadian yg tidak disengaja


dan kondisi yg mengakibatkan
atau berpotensi mengakibatkan cedera yang dpt
dicegah pd pasien, terdiri dari Kejadian Tidak
Diharapkan, Kejadian Nyaris Cedera, Kejadian
Tidak Cedera dan Kejadian Potensial Cedera.

Kejadian Tidak Diharapkan, selanjutnya disingkat KTD


adalah insiden yang mengakibatkan cedera pada
pasien.

Kejadian Nyaris Cedera, selanjutnya disingkat KNC


adalah terjadinya insiden yang belum sampai terpapar
ke pasien.

Kejadian

Tidak Cedera, selanjutnya disingkat KTC


adalah insiden yang sudah terpapar ke pasien,
tetapi tidak timbul cedera.

Kondisi

Potensial Cedera, selanjutnya disingkat


KPC adalah kondisi yang sangat berpotensi untuk
menimbulkan cedera, tetapi belum terjadi insiden.

Kejadian

sentinel adalah suatu KTD yang


mengakibatkan kematian atau cedera yang serius.

Standar keselamatan pasien terdiri


dari
1. Hak pasien.
2. Mendidik pasien dan keluarga.
3. Keselamatan pasien dan
kesinambungan pelayanan.
4. Penggunaan metode-metode
peningkatan kinerja untuk
melakukan evaluasi dan
program peningkatan
keselamatan pasien.
5. Peran kepemimpinan dalam
meningkatkan keselamatan
pasien.
6. Mendidik staf tentang
keselamatan pasien.
7. Komunikasi merupakan kunci
bagi staf untuk mencapai
keselamatan pasien.

SASARAN KESELAMATAN PASIEN RS


International Patient Safety Goals

Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk


memperbaiki/meningkatkan ketelitian identifikasi pasien
- Menggunakan dua identitas pasien
- Sebelum pemberian obat, darah atau
produk darah
- Sebelum mengambil darah dan spesimen
lain untuk pemeriksaan klinis
- Sebelum pemberian pengobatan dan
tindakan/prosedur
- Kebijakan dan prosedur mengarahkan
pelaksanaan
identifikasi yang konsisten pada semua
situasi dan lokasi.

Pasien cari bukti bukti penerapan di lapangan


dari 5 elemen penilaian
Wawancara, petugas terkait: dokter, perawat
rawat inap, OK cari bukti bukti pemahaman
dan pelaksanaan di lapangan
Observasi: gelang nama, saat penting dimaksud
Dokumen: Kebijakan dan SOP

Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk


meningkatkan efektivitas komunikasi antar para pemberi
layanan.
- Perintah lisan, telepon atau hasil
pemeriksaan, dituliskan secara lengkap oleh
penerima perintah.
- Dibacakan kembali secara lengkap oleh
penerima perintah.
- Dikonfirmasi oleh pemberi perintah atau yang
menyampaikan hasil pemeriksaan.
Kebijakan dan prosedur mengarahkan
pelaksanaan verifikasi
keakuratan komunikasi lisan atau melalui
telepon secara
konsisten.

Wawancara: petugas terkait: Perawat dan


petugas lain
- Cari bukti-bukti penerapan menerima
perintah lisan dan lewat telepon
- Bagaimana pemahaman dan
pelaksanaan oleh petugas terkait di
lapangan
Observasi: catatan RM
Dokumen: Kebijakan dan SOP, cek konsistensi di
semua unit

Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk


memperbaiki keamanan obat-obat yang perlu diwaspadai
(high alert)
- Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan agar memuat
proses identifikasi, menetapkan lokasi, pemberian label dan
penyimpanan elektrolit konsentrat.
- Implementasi kebijakan dan prosedur.
- Elektrolit konsentrat tidak boleh disimpan di unit pelayanan
pasien, kecuali jika dibutuhkan secara klinis dan tindakan
diambil untuk mencegah pemberian yang kurang hati-hati di
area tersebut sesuai kebijakan.
- Elektrolit konsentrat yang disimpan di unit pelayanan pasien
harus diberi label yang jelas dan disimpan pada area yang
dibatasi ketat (restricted)

Wawancara: petugas terkait: perawat, inst farmasi


- Telusuri bukti-bukti pelaksanaan, apakah ada proses
identifikasi obat High-alert, penetapan lokasi dan
pemberian label dan penyimpanan elektrolit
konsentrat, cek pengetahuan mereka tentang hal tsb
Observasi: cari daftar obat high-alert dan elektrolit
konsentrat
Dokumen:
- Kebijakan dan SOP, cek kebijakan/SOP tentang
identifikasi obat High-alert , penetapan lokasi dan
pemberian label dan penyimpanan elektrolit
konsentrat
- Cek konsistensi di semua unit

Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk


memperbaiki/meningkatkan ketelitian identifikasi pasien
- Penandaan yang jelas dan dapat dimengerti untuk identifikasi lokasi
operasi dan melibatkan pasien didalam proses penandaan
- Checklist atau proses lain untuk memverifikasi saat preoperasi tepat
lokasi, tepat prosedur dan tepat pasien dan semua dokumen serta
peralatan yang diperlukan tersedia, tepat dan fungsional.
- Tim operasi yang lengkap menerapkan dan mencatat prosedur
"sebelum insisi/time out" tepat sebelum dimulainya suatu
prosedur/tindakan pembedahan.
Kebijakan dan prosedur dikembangkan untuk mendukung
keseragaman
proses untuk memastikan tepat lokasi, tepat prosedur dan tepat pasien,
termasuk prosedur medis dan tindakan pengobatan gigi/dental yang
dilaksanakan di luar kamar operasi.

Pasien cari bukti bukti penerapan di


lapangan dari Empat elemen penilaian (pasien
preoperasi dan pasien gigi)
Wawancara: petugas terkait: dokter, perawat
OK cari bukti bukti pemahaman dan
pelaksanaan di lapangan
Observasi: tanda operasi di lokasi operasi ?,
melbatkan pasien?, pelaksanaan time out?
Dokumen: Kebijakan dan SOP: ada check-list
pra operasi,

Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk


mengurangi suatu risiko infeksi yang terkait pelayanan
kesehatan.
- Mengadopsi / mengadaptasi pedoman hand hygiene
terbaru (a.l dari WHO-Patient Safety)
- Menerapkan program hand hygiene yang efektif.
Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk
mengarahkan pengurangan secara berkelanjutan
risiko
infeksi yang terkait pelayanan kesehatan.

Pasien cari bukti-bukti penerapan di


lapangan: apakah petugas kesehatan
cuci tangan sebelum dan sesudah
menyentuh pasien
Wawancara: petugas terkait: dokter,
perawat OK cari bukti bukti
pemahaman dan pelaksanaan di
lapangan
Observasi: tanda operasi dilokasi operasi
?, melbatkan pasien?, pelaksanaan time
out,
Dokumen: Kebijakan dan SOP : ada
check-list pra operasi,

Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk


memperbaiki/meningkatkan ketelitian identifikasi pasien
- Menerapkan proses asesmen awal risiko pasien jatuh
dan melakukan asesmen ulang, bila diindikasikan
terjadi perubahan kondisi atau pengobatan dll.
- Langkah-langkah diterapkan untuk mengurangi
risiko jatuh bagi mereka yang pada hasil asesmen
dianggap berisiko jatuh.
- Langkah-langkah dimonitor hasilnya, baik
keberhasilan pengurangan cedera akibat jatuh dan
dampak dari kejadian tidak diharapkan.
Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk
mengarahkan pengurangan berkelanjutan risiko pasien
cedera akibat jatuh di rumah sakit.

Pasien cari bukti bukti penerapan di lapangan:


Tanyakan apakah petugas kesehatan menanyakan
tentang hal hal yang terkait dengan risiko jatuh
Wawancara: petugas terkait: dokter, perawat cari
bukti bukti pemahaman dan pelaksanaan di lapangan
tentang risiko jatuh, tanda pasien dengan risiko jatuh
di RM,
Observasi: gelang pasien dengan risiko jatuh ?,
tersedia nurse call di tempat tidur pasien dengan
risiko jatuh ? , pengaman sisi tempat tidur?, tanda
tanda daerah licin ? Pengaman sisi tangga ?
Dokumen: Kebijakan dan SOP : asesmen risiko jatuh,
gelang pasien risiko jatuh, RM pelaksanaan asesmen
awal dan ulang pada pasien dengan risiko jatuh

Sasaran Keselamatan Pasien meliputi


tercapainya bbrp hal :
a. Ketepatan identifikasi pasien;
b. Peningkatan komunikasi yang efektif;
c. Peningkatan keamanan obat yang perlu
diwaspadai;
d. Kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur,
tepat-pasien operasi;
e. Pengurangan risiko infeksi terkait
pelayanan
kesehatan;
f. Pengurangan risiko pasien jatuh.

Tujuh Langkah Menuju Keselamatan


Pasien Rumah Sakit :
1. membangun kesadaran akan nilai
keselamatan pasien;
2. memimpin dan mendukung staf;
3. mengintegrasikan aktivitas
pengelolaan risiko;
4. mengembangkan sistem pelaporan;
5. melibatkan dan berkomunikasi
dengan pasien;
6. belajar dan berbagi pengalaman
tentang keselamatan pasien;
7. mencegah cedera melalui
implementasi sistem
keselamatan
pasien.

WHO Collaborating Centre for Patient Safety pada


tanggal 2 Mei 2007 resmi menerbitkan Nine Life
Saving Patient Safety Solutions (Sembilan Solusi
Life-Saving Keselamatan Pasien Rumah Sakit).
Disusun sejak tahun 2005 oleh pakar keselamatan
pasien lebih 100 negara, dengan mengidentifikasi
dan mempelajari berbagai masalah keselamatan
pasien.
Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah
Sakit dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI
Edisi 2 Tahun 2009, Bab II angka 2.5. tentang
Sembilan Solusi Keselamatan Pasien, isinya sama
dgn yg tlh disepakati oleh WHO.

1. Perhatikan Nama Obat, Rupa dan Ucapan Mirip


(Look-Alike, Sound-Alike Medication Names).
2. Pastikan Identifikasi Pasien.
3. Komunikasi Secara Benar saat Serah Terima /
Pengoperan Pasien.
4. Pastikan Tindakan yang benar pada Sisi Tubuh yang
benar.
5. Kendalikan Cairan Elektrolit Pekat (Concentrated).
6. Pastikan Akurasi Pemberian Obat pada Pengalihan
Pelayanan.
7. Hindari Salah Kateter dan Salah Sambung Slang
(Tube).
8. Gunakan Alat Injeksi Sekali Pakai.
9. Tingkatkan Kebersihan Tangan (Hand Hygiene) untuk
Pencegahan lnfeksi Nosokomial.

1. Perhatikan Nama Obat, Rupa dan Ucapan Mirip


(Look-Alike, Sound-Alike Medication Names) ;

Sebelum memberikan obat ke pasien, cek tujuan


pemberian obat pada resep / instruksi dokter/ rekam
medis pasien.
Sebelum memberikan obat ke pasien, cek kecocokan
obat yang akan diberikan dengan diagnosa medis pasien.
Pada obat yang hafal, label obat yang akan diberikan
perlu dibaca secara cermat, mengenali obat secara
visual/fisik, lokasi penyimpanannya dan melihat tanda
spesifik lainnya.
Pisahkan penempatan dan penyimpanan obat yang mirip
(Norum) termasuk obat yang bermasalah.
Berikan penjelasan pada pasien atau keluarganya
tentang obat-obatan yang mirip nama dan bentuknya
yang kemungkinan dikonsumsi pasien.

2. Pastikan Identifikasi Pasien ;


Cek

identitas pasien dan mencocokannya dengan


kebutuhan perawatan pasien misalnya tindakan medis,
laboratorium.
Digunakan minimal 2 jenis identitas (misalkan nama
pasien dan tanggal lahir) sebagai alat klarifikasi
identitas pasien saat pasien masuk atau pindah ke
rumah sakit lain atau tempat pelanan lainnya.
Cek identitas pasien dan mencocokannya dengan
kebutuhan perawatan pasien misalnya tindakan medis,
laboratorium.
Terapkan standarisasi dalam identifikasi pasien sesuai
prosedur yang ada, misalkan gelang warna tertentu
dengan ditulis nama dan tanggal lahir.
Ada protokol identifikasi pasien dengan nama yang
sama atau pasien-pasien yang tidak diketahui namanya
dan mengikuti protokol tersebut.

3. Komunikasi Secara Benar saat Serah Terima /


Pengoperan Pasien ;

Lakukan operan pasien saat pergantian dinas jaga.


Lakukan operan dengan petugas tempat
perawatan selanjutnya saat pasien dipindahkan ke
tempat perawatan lain atau unit tindakan lainnya.
Baca ulang dokumen pasien saat operan dan
dicermati dengan teliti.
Saat operan cukup waktu bagi staf untuk bertanya
dan tidak ada interupsi saat operan.
Saat operan pasien dijelaskan dengan rinci dan
benar mengenai: status pasien, obat-obatan,
rencana terapi, advance directive (pernyataan
keinginan pasien) dan semua perubahan status
pasien.

4. Pastikan Tindakan yg benar pd Sisi Tubuh yg


benar;

Lakukan verifikasi dan memberi tanda sesuai rekam


medis pada anggota tubuh yang akan dilakukan prosedur
delegasi seperti : pemasangan gips atau prosedur
operatif minor lainnya.
Libatkan pasien dalam setiap proses verifikasi
preoperative untuk mengkonfirmasi ulang.
Lengkapi data laboratorium, uji diagnostic, CT scan,
Rontgen MRI dan test yang relevan untuk verifikasi
ketepatan pasien sebelum pasien dioperasi.
Cocokan identitas pasien dengan jenis tindakan yang
akan dilakukan sesuai dengan rekam medis.
Lakukan serah terima pasien dengan menyertakan rekam
medis dan pemeriksaan penunjang kepada petugas
kamar operasi atau kamar tindakan.

5. Kendalikan Cairan Elektrolit Pekat


(Concentrated) ;

Cairan KCL disimpan di tempat yang terpisah dan terkunci dan


pemakaiannya didokumentasikan sebagai kendali pemakaian atau
jika tidak tersedia ruang khusus penyimpanan dan persiapan obat,
maka hanya perawat, dokter atau Apoteker yang berpengalaman
yang diperbolehkan menyiapkan obat ini.
Setelah KCL atau cairan konsentrasi lain disiapkan, dilakukan
pengecekan independen oleh staf yang berpengalaman dan
terkualifikasi.
Tersedia protocol (ceklist) untuk cairan KCL/cairan konsentrasi lain
meliputi cara menghitung, kecepatan cairan dan jalur pemberian
vena yang tepat.
Pemberian KCL atau cairan konsentrasi lain dengan infuse pump
atau infuse mikro dirp set (60 tetes/ml) atau infuse set buret dan
harus sering dimonitor.
Cairan KCL atau cairan konsentrasi lain yang sudah disiapkan
diberi label peringatan resiko tinggi sebelum digunakan.

6. Pastikan Akurasi Pemberian Obat pd Pengalihan


Pelayanan ;
Standarisasi pengumpulan dan dokumentasi semua obat
yang sedang digunakan pasien yang meliputi nama obat/
suplemen, Dosis, frekuensi dan waktu dosis terakhir.
Perbaharui daftar obat jika terdapat order baru yang
dituliskan yang merefleksikan semua obat yang sedang
digunakan pasien.
Komunikasikan daftar obat kepada pemberi pelayanan
berikutnya kapanpun pasien dipindahkan, dipulangkan
dan berikan daftar obat saat pasien pulang.
Ajari pasien atau keluarga tentang penggunaan obat yang
aman, risiko obat baik secara tunggal atau kombinasi dan
beri akses informasi obat yang terjangkau dan relevan.
Anjurkan pasien untuk menyimpan obatnya di tas dan
membawanya jika berkunjung ke rumah sakit atau dokter .

7. Hindari Salah Kateter, Salah Sambung Slang


/Tube ;

Tidak memperbolehkan staf non klinis, pasien dan keluarga


untuk menyambungkan atau melepas sambungan selang,
bantuan harus selalu ditujukan kepada staf klinis.
Beri label pada kateter yang berisiko tinggi (kateter arteri,
epidural, intratekal dan Hindari penggunaan kateter dengan
injection port pada peralatan ini.
Jelaskan jakur-jalur selang dan standar dasar masing-masing
jalur selang pasien disaat operan pasien.
Buat alur dasar untuk koneksi semua selang dan verifikasi
ujung selang sebelum membuat koneksi atau melepas
sambungan atau memberikan obat, cairan atau produk lain.
Lakukan training mengenai bahaya salah sambung selang
dan peralatan medis pada program orientasi dan
pengembangan berkelanjutan staf klinis.

8. Gunakan Alat Injeksi Sekali Pakai ;


Atasan/ rekan kerja menganjurkan penggunaan
peralatan injeksi sekali pakai.
Ikut program training petugas kesehatan atau
memanfaatkan informasi dari rumah sakit
tentang: pencegahan infeksi, praktek injeksi yang
aman, penanganan sampah benda tajam yang
aman dan penggunan tehnologi injeksi terbaru
(sedikit menggunakan jarum).
Identifikasi dan terapkan praktek penanganan
sampah medis yang aman.
Dukung pengadaan peralatan injeksi dengan
system sedikit tusukan.
Edukasi ke pasien dan keluarganya tentang
alternative penggunaan obat-obatan injeksi

9. Tingkatkan Kebersihan Tangan (Hand


Hygiene) untuk Pencegahan lnfeksi Nosokomial
;

Atasan atau rekan kerja mempromosikan ketaatan


melakukan cuci tangan.
Tersedia wastafel dan sabun cuci tangan dengan air
yang mengalir untuk fasilitas cuci tangan disetiap
sudut ruang perawatan.
Cuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh,
melakukan tindakan atau berkontak dengan cairan
pasien.
Edukasi/penyuluhan bagi petugas kesehatan tentang
tehnik cuci tangan yang benar.
Buat informasi ke pasien dan keluarga tentang tehnik
cuci tangan yang benar dan pentingnya cuci tangan.

Peran Caring perawat di masa depan


harus berkembang seiring dengan
perkembangan iptek dan tuntutan
kebutuhan masyarakat, sehingga
perawat dituntut mampu menjawab dan
mengantisipasi terhadap dampak dari
perubahan. Sebagai perawat profesional,
peran yang diemban adalah C-A-R-E
(Nursalam, 2011).

Chitty (1997) bahwa nursing is as a science


and art, separated from medicine science
Ilmu keperawatan adalah sebagai ilmu(yang
terdiri atas ilmu keperawatan dasar, anak,
maternitas, medikal bedah, jiwa, dan
komunitas)

Perawat 24 jam bersama pasien


Adanya resiko salah pada setiap
tindakan keperawatan
Tindakan keperawatan
melibatkan profesi lain
Indikator keberhasilan
pelayanan kesehatan

Ciri khas perawat profesional dalam memberikan


pelayanan keperawatan di masa depan adalah
harus dapat berkomunikasi secara lengkap,
adekuat, dan cepat.
komunikasi (lisan maupun tulis) dengan pasien,
teman sejawat dan tenaga kesehatan lainnya
harus memenuhi ketiga unsur tersebut dan
dengan didukung fakta yang memadai.

Aktivitas/pemberian asuhan keperawatan


adalah harus dapat melaksanakan asuhan
keperawatan secara profesional dan dapat
bekerja sama dengan teman sejawat dan
tenaga kesehatan lainnya, khususnya tim
medis sebagai mitra kerja dalam memberikan
asuhan kepada pasien. Aktivitas tersebut
harus ditunjang dengan kompetensi yang
memadai, menunjukkan kesungguhan,
empati dan sikap bertanggung jawab
terhadap setiap tugas yang diemban.

Prinsip utama dalam melaksanakan peran perawat dalah


moral dan etika keperawatan.
Dalam melaksanakan peran profesionalnya, perawat harus
menerapkan prinsip-prinsip etis (J-A-B-V-C-F) yang
meliputi: keadilan (justice), asas menghormati otonomi
(autonomy), asas manfaat ( beneficience) dan tidak
merugikan (non-maleficiency), asas kejujuran (veracity),
serta asas kerahasiaan (confidentiality) serta komitmen
(Fidelity).
Upaya untuk menghindari kesalahan dalam memberikan
asuhan keperawatan kepada pasien, maka perlu
diterapkan tindakan keperawatan dengan prinsip CWIPAT
Check the order,Wash your hands, Identitify the clients,
Provide savety and privacy, Assess the problem; and Teach
or Tell the clients(Nursalam, 2008).

Dalam upaya peningkatan kualitas layanan


keperawatan di masa depan, perawat harus
mempunyai komitmen yang tinggi terhadap
profesi dengan secara secara terus menerus
menambah ilmu melalui pendidikan
formal/nonformal, sampai pada suatu
keahlian tertentu.

PERAN PERAWAT DALAM KESELAMATAN PASIEN


keperawatan dasar anak,
keperawatan dasar maternitas,
keperawatan dasar medikal bedah,
keperawatan dasar jiwa
keperawatan dasar gawat darurat ( IGD)