Anda di halaman 1dari 3

Tugas Bahasa Indonesia

Tugas Kelompok

: Meringkas Teks Eksemplum

Nama Kelompok

: People

Anggota Kelompok

: Alisa Salsabilla{4}
Khayriyah sabrina {16}
Nurul fadhelia {27}
Taqdika azizza P.{34}

Pak adil mencari keadilan


Pak Adil tinggal di sebuah perkampungan yang dikelilingi bangunan
petokoan dan perkantoran. Dia tinggal bersama istri dan anaknya yang sudah
berkeluarga.Dia memiliki 2 orang cucu. Pak adil bekerja sebagai penjual nasi
keliling. Jika hujan lebat kampungnya akan kebnjiran setinggi lutut. Kampungnya
persis terkurung di tengah tengah pertokoan dan perkantoran. Untuk mencapai
jalan raya, pihak manajemen pertokoan membuka pintu masuk, yang dibuka
pada pukul 6 pagi hingga 10 malam. Pak adil mengangkat sepedanya. Dia meniti
hati-hati pinggiran selokan. Sepedanya tertahan, ada sekitar 20 anak tangga
untuk mencapai pintu tembus, dia ,menjinjing seoedanya dengan susah payah.
Dia menahan beban sepedanya agar tak menggelinding. Aneh pintu masih
tertutup. Tadi dari rumah dia berangkat pukul 05.45 WIB. Tapi kemana pak Soleh,
satpam yang biasa membukakan pintu?. Dia dengan sabar menunggu.
Kepalanya pusing. Subuh tadi, istrinya mengingatkan agar jangan berjualan.
Pak Adil menganggguk. Dia mengikuti saran istrinya.
Bapak nggak usah mikir begitu. Udahlah bapak sama ibu istirahat saja,
seneng-seneng sama cucu. Tapi dia tetap bersikeras untuk melakukan
pekerjaan ini. Batinnya berguman, darimana nanti aku bisa membelikan mainan
kepada kedua cucuku?, berjualan ini tidak sedikit keuntungannya. Dari modal
300 ribu aku bisa mengantongi keuntungan 100 ribu rupiah. Aku lelaki tangguh,
yang terbiasa memberi makan anak dan istri. Bagiku bekerja adalah ibadah.
Pak Adil memberi salam, suaranya dikeraskan. Dia mendongak, Dia ,melihat
ujung sepatu nongol dari menara ronda.
Pintu digedor-gedor,satpam di menara rronda terbangun. Dia mengucek-ngucek
matanya melihat ke luar pagar.
Satpam pun bergegas turun dari menara. Dia berkacak pinggang.

Mereka merangsek terus kedepan dan menggedor gedor lagi pintu besi,
semakin keras,semakin keras. Tubuh Pak Adil tersenggol. Dia oleng. Akhirnya
sepeda dan tubuh Pak Adil tersangkut-paut mencebur ke selokan!. Warga tidak
peduli pada Pak Adil. Semakin banyak orang yang datang. Pak Adil masih
berkubang di selokan, dia bangkit . Tubuhnya belepotan lumpur selokan yang
bau.
DOR!
DOR,DOR!
DOR,DOR DOR!

Orang-orang panik berlarian. Menghindari hantaman timah panas.Pak Adil masih


di selokan, berusaha menaikan sepedanya. Tiga orang satpam mengacungkan
pistolnya ke udara.

Ketiga satpam itu berdiri ditangga, mereka tertawa-tawa puas,melihat


orang lintang-pukang. Terdengar suara keciprak air. Pak Adil sedang
menggerakkan sepedanya di selokan.Ketiga satpam itu mencari cari asal
suara.Saat Pak Adil berkubang lumpur diselokan.
Mereka melompat keselokan dan menghajar Pak Adil hingga pingsan
**
Ikhlas dan Siti Fatimah menuntun ibu mereka ke ruang gawat darurat. Air
mata wanita tua itu masih saja mengalir.
Mereka hanya bisa menatap orang yang mereka cintai dari kejauhan.
Tubuhnya terbujur tak berdaya.Denyut jantungnya terbaca di layar monitor, naik
dan turun dengan lemah. Sementara itu di tempat lain, bberapa kuli sedang
mengaduk semen dan pasir.Bata-bata ditumpuk di atas adonan, menutupi jalan
tembus.