Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

DISLOKASI

1. Dislokasi
a. Dislokasi ialah keluarnya (bercerainya) kepala sendi dari mangkuknya. Dislokasi
merupakan suatu kedaruratan yang memerlukan pertolongan segera (Kapita
Selecta Kedokteran, 2012).
b. Keadaan dimana tulang-tulang yang membentuk sendi tidak lagi berhubungan
secara anatomis (tulang lepas dari sendi). (Brunner & Suddarth, 2006).
c. Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi.
Dislokasi ini dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau
terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk
sendi). Seseorang yang tidak dapat mengatupkan mulutnya kembali sehabis
membuka mulutnya adalah karena sendi rahangnya terlepas dari tempatnya.
Dengan kata lain: sendi rahangnya telah mengalami dislokasi. (Muttaqin.A , 2008)
d. Dislokasi yang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi sendi bahu dan
sendi pinggul (paha). Karena terpeleset dari tempatnya, maka sendi itupun
menjadi macet. Selain macet, juga terasa nyeri. Sebuah sendi yang pernah
mengalami dislokasi, ligamen-ligamennya biasanya menjadi kendor. Akibatnya,
sendi itu akan gampang dislokasi lagi. Sebuah sendi yang pernah mengalami
dislokasi, ligmen ligmennya biasanya menjadi kendor. Akibatnya sendi itu akan
gampang mengalami dislokasi kembali. Apabila dislokasi itu disertai pula patah
tulang, pembetulannya menjadi sulit dan harus dikerjakan di rumah sakit. Semakin
awal usaha pengembalian sendi itu dikerjakan, semakin baik penyembuhannya.

Tetapi apabila setelah dikirim ke rumah sakit dengan sendi yang cedera sudah
dibidai. (Muttaqin.A , 2008)
2. Klasifikasi
Dislokasidapatdiklasifikasikansebagaiberikut:
a.Dislokasicongenital:
Terjadisejaklahirakibatkesalahanpertumbuhan.
b.Dislokasipatologik:
Akibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar sendi. misalnya tumor, infeksi, atau
osteoporosistulang.Inidisebabkanolehkekuatantulangyangberkurang.
c.Dislokasitraumatic:
Kedaruratanortopedi (pasokandarah, susunansaraf rusakdanmengalami stress berat,
kematianjaringanakibatanoksia)akibatoedema(karenamengalamipengerasan).Terjadi
karenatraumayangkuatsehinggadapatmengeluarkantulangdarijaringandisekeilingnya
dan mungkin juga merusak struktur sendi, ligamen, syaraf, dan system vaskular.
Kebanyakanterjadipadaorangdewasa.
Berdasarkantipekliniknyadibagi:
1)DislokasiAkut
Umumnya terjadi pada shoulder, elbow, dan hip. Disertai nyeri akut dan
pembengkakandisekitarsendi.
2)DislokasiKronik
3)DislokasiBerulang
Jika suatu trauma Dislokasi pada sendi diikuti oleh frekuensi dislokasi yang
berlanjutdengantraumayangminimal,makadisebutdislokasiberulang.Umumnya
terjadipadashoulderjointdanpatellofemoraljoint.(Muttaqin.A , 2008)

3. Berdasarkan Tempat Terjadinya


a. Dislokasi Sendi Rahang
Dislokasi sendi rahang dapat terjadi karena :
1) Menguap atau terlalu lebar.
2) Terkena pukulan keras ketika rahang sedang terbuka, akibatnya penderita tidak
dapat menutup mulutnya kembali.
Tindakan Pertolongan :
Rahang ditekan ke bawah dengan kedua ibu jari sudah dilindungi balutan tadi. Ibu
jari tersebut diletakkan di graham yang paling belakang. Tekanan itu harus mantap
tapi pelan pelan. Bersamaan dengan penekanan itu jari jari yang lain
mengangkat dagu penderita ke atas. Apabila berhasil rahang itu akan menutup
dengan cepat dan keras. Setelah selesai untuk beberapa saat pasien tidak
diperbolehkan terlalu sering membuka mulutnya.
b. Dislokasi Sendi Jari.
Sendi jari mudah mengalami dislokasi dan bila tidak ditolong dengan segera
sendi tersebut akan menjadi kaku kelak. Sendi jari dapat mengalami dislokasi ke
arah telapak tangan atau punggung tangan.
Tindakan Pertolongan :
Jari yang cedera dengan tarikan yang cukup kuat tapi tidak disentakkan. Sambil
menarik, sendi yang terpeleset ditekan dengan ibu jari dan telunjuk. Akan terasa
bahwa sendi itu kembali ke tempat asalnya. Setelah diperbaiki sebaiknya untuk
sementara waktu ibu jari yang sakit itu dibidai. Untuk membidai dalam kedudukan
setengah melingkar seolah olah membentuk huruf O dengan ibu jari.

c. Dislokasi Sendi Bahu


Dislokasi yang sering ke depan. Yaitu kepala lengan atas terpeleset ke arah
dada. tetapi kemampuan arah dislokasi tersebut ia akan menyebabkan gerakan
yang terbatas dan rasa nyeri yang hebat bila bahu digerakkan.
Tanda tanda lainnya :
Lengan menjadi kaku dan siku agak terdorong menjauhi sumbu tubuh. Ujung
tulang bahu akan nampak menonjol ke luar. Sedang di bagian depan tulang bahu
nampak ada cekungan ke dalam.
Tindakan Pertolongan :
Usaha memperbaiki letak sendi yang terpeleset itu harus dikerjakan secepat
mungkin, tetapi harus dengan tenang dan hati hati. Jangan sampai itu justru
merusak jaringan jaringan penting lainnya. Apabila usaha itu tidak berhasil,
sebaiknya jangan diulang lagi. Kirim saja klien ke Rumah sakit segera.
Apabila tidak ada patah tulang, dislokasi sendi bahu dapat diperbaiki dengan
cara sebagai berikut :
Ketiak yang cedera ditekan dengan telapak kaki (tanpa sepatu) sementara itu
lengan penderita ditarik sesuai dengan arah letak kedudukannya ketiak itu.Tarikan
itu harus dilakukan dengan pelan dan semakin lama semakin kuat, hal itu untuk
menghidarkan rasa nyeri yang hebat yang dapat mengakibatkan terjadinya shock.
Selain tarikan yang mendadak merusak jaringan jaringan yang ada di sekitar
sendi. Setelah ditarik dengan kekuatan yang tetap beberapa menit, dengan hati
hati lengan atas diputar ke luar (arah menjauhi tubuh). Hal ini sebaiknya
dilakukan dengan siku terlipat dengan cara ini diharapkan ujung tulang lengan
atas menggeser kembali ke tempat semula.

d. Dislokasi Sendi Siku


Jatuh pada tangan dapat menimbulkan dislokasi sendi siku ke arah posterior.
Reposisi dilanjutkan dengan membatasi gerakan dalam sling atau gips selama tiga
minggu untuk memberikan kesembuhan pada sumpai sendi.
e. Dislokasi Sendi Metacarpophalangeal Dan Inter Phalangeal
Dislokasi disebabkan oleh hiperekstensi ekstensi persendian direposisi
secara hati hati dengan tindakan manipulasi tetapi pembedahan terbuka mungkin
diperlukan untuk mengeluarkan jaringan lunak yang terjepit di antara permukaan
sendi.
f. Dislokasi Sendi Pangkal Paha
Diperlukan gaya yang kuat untuk menimbulkan dislokasi sendi ini dan
umumnya dislokasi ini terjadi akibat kecelakaan lalu lintas (tabrakan mobil).
Dalam posisi duduk benturan dash board pada lutut pengemudi diteruskan
sepanjang tulang femur dan mendorong caput femuris ke arah poterior ke luar dati
acetabulum yaitu bagian yang paling pangkal. Tindakannya adalah reposisi
dengan anestesi umum dan pemasangan gips selama enam minggu atau tirah
baring dengan traksi yang ringan untuk mengistirahatkan persendian dan
memberikan kesembuhan bagi ligamentum. Dislokasi sendi lutut dan eksremitas
bawah sangat jarang terjadi kecuali peda pergelangan kaki di mana dislokasi
disertai fraktur. (Muttaqin.A , 2008)

4. Etiologi

Dislokasi disebabkan oleh :


a. Cedera olah raga
Olah raga yang biasanya menyebabkan dislokasi adalah sepak bola dan hoki, serta
olah raga yang beresiko jatuh misalnya : terperosok akibat bermain ski, senam,
volley. Pemain basket dan pemain sepak bola paling sering mengalami dislokasi
pada tangan dan jari-jari karena secara tidak sengaja menangkap bola dari pemain
lain.
b. Trauma yang tidak berhubungan dengan olah raga
c. Benturan keras pada sendi saat kecelakaan motor biasanya menyebabkan dislokasi.
d. Terjatuh
Terjatuh dari tangga atau terjatuh saat berdansa diatas lantai yang licin
e. Patologis : terjadinya tearligament dan kapsul articuler yang merupakan
kompenen vital penghubung tulang (Muttaqin.A. , 2008).
5. Tanda dan Gejala
a. Deformitas pada persendiaan
Kalau sebuah tulang diraba secara sering akan terdapat suatu celah.
b. Gangguan gerakan
Otot otot tidak dapat bekerja dengan baik pada tulang tersebut.
c. Pembengkakan
Pembengkakan ini dapat parah pada kasus trauma dan dapat menutupi deformitas.
d. Rasa nyeri terdapat sering terjadi pada dislokasi
Sendi bahu, sendi siku, metakarpal phalangeal dan sendi pangkal paha servikal.
(Muttaqin.A. , 2008).

6. Lokasi Yang Sering Terjadi Dislokasi


Sendi bahu, sendi siku, metakarpal phalangeal dan sendi pangkal paha servikal.
7. Patofisiologi
Dislokasi biasanya disebabkan oleh jatuh pada tangan. Humerus terdorong ke
depan , merobek kapsul atau menyebabkan tepi glenoid teravulsi. Kadang-kadang
bagian posterolateral kaput hancur. Mesti jarang prosesus akromium dapat
mengungkit kaput ke bawah dan menimbulkan luksasio erekta (dengan tangan
mengarah ; lengan ini hampir selalu jatuh membawa kaput ke posisi di bawah
karakoid).
Skema Patofisiologis
Jatuh
Humerus terdorong ke depan
Traumatik
Pergeseran Berlebihan dan
Dalam Waktu Cepat

Dislokasi Inferior

Dislokasi Anterior
Kekakuan Sendi Karena
Terjadi Dislokasi
Dengan tanda :
-

N
yeri

B
engkak

K
aku sendi
7

(Muttaqin.A. , 2008).
8. Pemeriksaan Klinik
DengancarapemeriksaanSinarX(pemeriksaanXRays)padabagiananteroposteriorakan
memperlihatkan bayangan yang tumpahtindih antara kaput humerus dan fossa Glenoid,
Kaput biasanya terletak di bawah dan medial terhadap terhadap mangkuk sendi.

(Muttaqin.A. , 2008).

9. Penatalaksanaan
a. Dislokasi
Penatalaksanaan dislokasi sebagai berikut :
1) Lakukan reposisi segera.
2) Dislokasi sendi kecil dapat direposisi di tempat kejadian tanpa anestesi,
misalnya : dislokasi siku, dislokasi bahu, dislokasi jari pada fase syok),
sislokasi bahu, siku atau jari dapat direposisi dengan anestesi loca; dan obat
penenang misalnya valium.
3) Dislokasi sendi besar, misalnya panggul memerlukan anestesi umum.
b. Traksi
Periksa sesering mungkin kulit pasien mengenai tanda tekanan atau lecet.
Perhatian lebih ditekankan pada tonjolan tulang. Lakukan perubahan posisi
sesering mungkin untuk membantu mencegah kerusakan kulit. (Muttaqin.A. ,
2008).
10. Prinsip Traksi Efektif
Pada setiap pemasangan traksi harus dipikirkan adanya kontratraksi.
Kontratraksi adalah gaya yang bekerja dengan arah yang berlawanan (hukun Newton
yang ketiga mengenai gerak. Menyebutkan bahwa bila ada aksi maka akan terjadi
8

reaksi dengan besar yang sama namun arahnya berlawanan). Umumnya berat badan
pasien pengaturan posisi tempat tidur mampu memberikan kontraksi.
Prinsip prinsip traksi efektif adalah :
a. Kontraksi harus dipertahankan agar traksi tetap efektif.
b. Traksi skelet tidak terputus
c. Pemberat / beban tidak boleh diambil kecuali bila traksi dimaksudkan intermiten.
d. Tubuh pasien harus dalam keadaan sejajar dengan pusat tempat tidur ketika traksi
dipasang.
e. Tali tidak boleh macet.
f. Pemberat harus tergantung bebas dan tidak boleh terletak pada tempat tidur atau
lantai.
g. simpul pada tali atau telapak kaki tidak boleh menyentuh katrol atau kaki tempat
tidur.
(Muttaqin.A. , 2008).
11. Tindakan Pada Dislokasi
a. Dengan memanipulasi secara hati hati, permukaan diluruskan kembali. Tindakan
ini sering memerlukan anestesi umum untuk melemaskan otot otonya.
b. Pembedahan terbuka mungkin diperlukan khususnya kalau jaringan lunak terjepit
di antara permukaan sendi.
c. Persendian tersebut, disangka dengan pembebatan dengan gips. Misalnya : pada
sendi pangkal paha, untuk memberikan kesembuhan pada ligamentum yang
teregang.
d. Fisioterapi harus segera dimulai untuk mempertahankan fungsi otot dan latcher
(exercise) yang aktif dapat diawali secara dini untuk mendorong gerakan sendi
yang penuh khususnya pada sendi bahu. (Muttaqin.A. , 2008)

12. Komplikasi
a. Komplikasi yang dapat menyertai dislokasi antara lain :
1) Fraktur.
2) Kontraktur.
3) Trauma jaringan.

b. Komplikasi yang dapat terjadi akibat pemasangan traksi :


1) Dekubitus
2) Kongesti paru dan pneumonia
3) Konstipasi
4) Anoreksia
5) Stasis dan infeksi kemih
6) Trombosis vena dalam
(Kapita Selekta Kedokteran , 2012)
B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Pengumpulan data
1) Anamnese
a) Identitas Klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat rumah, agama, suku bangsa,
status perkawinan, pendidikan dan pekerjaan.
b) Keluhan Utama Klien
Pada anamnese ini yang perlu dikaji adalah apa yang diperlukan pada saat
itu seperti nyeri, bengkak, kelainan bentuk, hilangnya fungsi dan krepitasi
serta pada daerah mana dislokasi terjadi.

10

c) Riwayat Penyakit Sekarang


Dalam pengkajian ini meliputi riwayat terjadinya terutama apakah
dikarenakan kecelakaan, terjatuh atau terjadi benturan langsung dengan
vektor kekerasan dan sifat pertolongan yang pernah diberikan.
d) Riwayat Penyakit Dahulu
Dalam pengkajian ini perlu ditanyakan meliputi riwayat yang berhubungan
dengan trauma pada tulang, apakah klien mempunyai penyakit tulang
seperti osteomylitis, ostroporasis dan apakah klien pernah mengalami
riwayat trauma sebelumnya.
2) Pemeriksanan Fisik
a) Keadaan Umum Klien
Klien dislokasi dengan pemasangan traksi biasanya terbaring total dengan
seminimal mungkin melaksanakan aktifitas gerak ini disebabkan karena
adanya immobilisasi dan rasa nyeri akibat pemasangan traksi, sehingga
klien takut untuk bergerak, keadaan umum klien biasanya baik tetapi dapat
menimbulkan dampak seperti gangguan miksi dan defekasi, integritas kulit
dan gangguan aktivitas lain yang menunjang kehidupan sehari hari.
b) Gejala Klinis Dislokasi
Gejala klinis dari dislokasi dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
1) Tanda tanda pasti
-

Gerakan abnormal pada tempat terjadinya dislokasi menjadi sendi


palsu sehingga terjadi gerakan yang deformitas pada persendian;
apabila sebuah tulang diraba secara sering akan terdapat suatu
celah.

11

Gangguan gerak : otot otot tidak dapat bekerja dengan baik pada
sendi tersebut.

Pembengkakan : pembengkakan ini dapat parah pada kasus trauma


dan dapat menutupi deformitasnya.

2) Tanda tanda tidak pasti


-

Rasa nyari, bengkak dan berubah warna (membiru) dikarenakan


terjadi pendarahan di sekitar bagian dislokasi rasa nyeri hebat
terutama apabila dilakukan pergerakan atau aktivitas.

Kelainan bentuk (deformitas), hal ini disebabkkan oleh karena


adanya perdarahan dan pembengkakan.

Hilangnya fungsi (fungtiolaesa), disebabkan oleh rasa nyari serta


terlepasnya sebuah sendi sehingga tidak mampu melakukan
pergerakan.

c) Pemeriksaan Penunjang atau Tambahan


-

Pemeriksaan Laboratorium
-

Pemeriksaan laboratorium darah lengkap seperti hemoglobin,


trombosit, leukosit, glukosa sewaktu.

Pemeriksaan faal hemostasis meliputi waktu pendarahan, waktu


pembekuan.

Pemeriksaan kimia klinik rutin, yaitu sikap darah puasa, agot, sgpt.

Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan Radiologi digunakan untuk menguatkan diagnosa patah
tulang yang dapat menggambarkan kerusakan tulang, ketidaklurusan

12

tulang dan kesalahan bentuk dari tulang itu sendiri, sedangkan posisi
foto tulang dilakukan secara :
-

Dua waktu yang berbeda yaitu setelah terjadi trauma dan sehari
setelah dilakukan tindakan.

Dua extremitas sebagai pembanding apabila garis patah tulang


meragukan.

3) Analisa Data
Setelah data dikumpulkan dan dikelompokkan kemudian dianalisa
sebagai berikut, untuk pengelompokkan data dapat dibedakan menjadi dua
jenis yaitu data subyektif dan data obyektif.
Data subyektif yaitu data yang didapat dari ungkapan atau keluhan, klien
sendiri atau keluarga dan data obyektif yaitu data yang didapat dari suatu
pengamatan, observasi, pengukuran dan hasil pemeriksaan.
Data tersebut dikumpulkan berdasarkan perannya untuk menunjang
suatu masalah, di mana masalah berfokus pada klien dan respon klien.
4) Diagnosa Keperawatan
Dari analisa data kemudian dirumuskan suatu diagnosa keperawatan
berikut ini adalah beberapa diagnosa keperawatan yang mungkin timbul pada
dislokasi dengan pemasangan traksi :
1. Nyeri berhubungan dengan traksi dan imobilisasi.
2. Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan proses penyakit,
immobilisasi, dan traksi.
3. Kerusakan integritas kulit / jaringan berhubungan dengan pemasangan
traksi dan immobilisasi.

13

4. Defisit perawatan diri, makan, hygiene atau toileting yang berhubungan


dengan traksi.
5. Ansietas yang berhubungan dengan perubahan status kesehatan / alat
traksi.
6. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang
program therapi. (Brunner, Suddarth, 2006)

2.

Perencanaan
Berdasarkan

pada

pengkajian

pengetahuan pasien tentang

keperawatan

perawatan

mengenai

kebutuhan

pasien yang menjalani program

dan
traksi,

khususnya pada pasien dengan dislokasi sendi panggul (pelvis).


Dalam perencanaan mempunyai beberapa tahap antara lain : penentuan tujuan
dan kriteria hasil serta merumuskan rencana tindakan keperawatan.
Diagnosa I. Nyeri berhubungan dengan pemasangan traksi immobilisasi
Tujuan : Mengatakan nyeri hilang
Kriteria hasil : Klien mengatakan nyeri berkurang atau hilang, klien tidak gelisah,
klien menunjukkan tindakan santai, mampu beradaptasi

dengan

aktivitas / tidak / istirahat, skala nyeri 1 3.


Rencana Tindakan :
a.

Kaji

lokasi,

tipe

dan

intensitas nyeri dengan

menggunakan skala (1 10.)


b.

Ukur tanda tanda vital.

c.

Jelaskan penyebab nyeri.

d.

Anjurkan

mempergunakan

teknik

alternatif

penghilang nyeri dengan napas dalam.

14

Diagnosa II. Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri dan
immobilisasi.
Tujuan : Meningkatkan / mempertahankan mobilitas pada tingkat yang paling tinggi.
Kriteria hasil : Mempertahankan posisi fungsional, meningkatkan kekuatan / fungsi
yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh menunjukkan teknik
yang merupakan melakukan aktivitas.

Rencana Tindakan :
1) Kaji derajat immobilisasi yang dihasilkan oleh pengobatan dan perkalian persepsi
pasien terhadap immobilisasi.
2) Instruksikan pasien untuk melakukan latihan rom pasif dan aktif pada extremitas
yang sakit dan tidak sakit sesuai toleransi.
3) Bantu klien dalam perawatan diri kebersihan.
4) Ubah posisi periodik dan dorong untuk latihan napas dalam.
5) Auskultasi bising usus, awasi kebiasaan eliminasi dan berikan keteraturan
defekasi rutin.
6) Kolaborasi dengan rehabilitasi dalam terapi fisik / okupasi.

Diagnosa III. Resiko terjadi kerusakan integritas kulit / jaringan berhubungan dengan
pemasangan traksi.
Tujuan

: Menyatakan ketidaknyamanan hilang.

Kriteria hasil : Menunjukkan perilaku / uniq untuk mencegah kerusakan kulit /


memudahkan penyembuhan sesuai indikasi, mencapai penyembuhan
luka sesuai waktu.

15

Rencana Tindakan :
1) Kaji kedaan kulit, kemerahan, pendaharan, perubahan warnadan rasa nyeri.
2) Ubah posisi sesering mungkin.
3) Observasi untuk potensial ares yang tertahan, khususnya pada akhir dan bawah
babatan.
Diagnosa IV. Defisit perawatan diri, makan, hygiene, atau toileting yang
berhubungan dengan traksi.
Tujuan : Kebutuhan perawatan diri, makan, hygiene atau toileting
terpenuhi.
Kriteria Hasil : Mengungkapkan perasaan segar, bersih dan
menyenangkan.
Rencana Tindakan :
1) Tentukan hambatan saat ini dan hambatan untuk berpartisipasi dalam perawatan.
2) Ikut sertakan klien dalam formulasi perawatan pada tingkat kemampuan klien.
3) Dorong perawatan diri, bekerja dengan kemampuan yang ada saat ini, jangan
menekan klien di luar kemampuannya.
4) Berikan dan tingkatkan keleluasan pribadi termasuk selama mandi.
5) Dorong / bantu klien dengan perawatan mulut / gigi setiap hari.

Diagnosa V. Ansietas yang berhubungan dengan perubahan status kesehatan krisis.


Tujuan : Ansietas berkurang atau hilang.
Kriteria hasil : Mengungkapkan perasaan lebih santai, memperagakan teknik relaksasi
dengan tepat.

16

Rencana Tindakan :
1) Pantau tingkat ansietas klien.
2) Berikan penekanan penjelasan dokter mengenai pengobatan dan tujuan, klarifikasi
kesalahan konsep.
3) Berikan dan luangkan waktu untuk mengungkapkan perasaan.
4) Ajarkan dan bantu dalam teknik manajemen stress.
5) Berikan dorongan untuk berinteraksi dengan orang terdekat dengan teman serta
saudara.

Diagnosa VI. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang


penatalaksanaan perawatan dan program therapi.
Tujuan : Kurang pengetahuan dapat teratasi.
Kriteria hasil : Mengungkapkan pengertian tentang prognosis, pengobatan sdan
program rehabilitasi, mengekspresikan tentang gejala, potensial
komplikasi.
Rencana Tindakan :
1) Kaji tingkat pengetahuan klien tentang penyakitnya.
2) Tekankan pentingnya rencana rehabilitasi aktivitas, istirahat dan latihan.
3) Diskusikan tanda dan gejala untuk dilaporkan pada dokter : nyeri hebat,
perubahan suhu tubuh. (Brunner, Suddarth, 2006)

17

DAFTAR PUSTAKA

Brunner, Suddarth, (2006) Buku Ajar Keperawatan-Medikal Bedah, Edisi 8 Volume 3, EGC :
Jakarta
Doenges, Marilynn E, dkk, (2006), Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa
Keperawatan, EGC : Jakarta.
Doengoes, Mariliynn E. (2009). Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : EGC
FKUI. 2012. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta : Media Aesculapius
Muttaqin.A. (2008). Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Muskuloskletal. Jakarta :
EGC
Pamela L.swearingen , (2006) Keperawatan Medikal Bedah .E/2, Jakarta : EGC
http://www.slideshare.net/ardiartana/savedfiles?stitle=askepdislokasi&userlogin=septianraha

18

Anda mungkin juga menyukai