Anda di halaman 1dari 1

Pada masalah pertama yang menjadi perbedaan, yaitu masalah piutang

PPN tak tertagih kepada pelanggan, menurut saya manajemen melakukan


kesalahan dalam mengestimasi kerugian piutang PPN. Karena piutang tersebut
nilainya sangat material, maka estimasi kerugian PPN tak tersebut tersebut
harus diperhitungkan secara seksama dan kemungkinan tak tertagih kepada
pelanggan sangatlah kecil. Karena hal tersebut tidak dilakukan oleh manajemen,
maka laporan keuangan tersebut menjadi salah saji yang menyebabkan
perbedaan antara komisaris tadi.
Pada masalah ke dua, yaitu beban ditangguhkan yang berasal dari penurunan
nilai persediaan. Menurut saya, dalam masalah ini manajemen tidak menyajikan
informasi yang lengkap dalam laporan keuangan. Padahal dalam hal ini
diperlukan karena melalui laporan keuanganlah kita dapat mengetahui kondisi
suatu perusahaan dan mengambil keputusan. Akibat dari masalah ini adalah
kerugian yang dialami PT KAI menjadi tidak transparan. Padahal, pengakuan
kerugian tersebut harus diakui pada saat terjadinya (acrual), tetapi manajemen
tidak menyajikan secara lengkap, sehingga
laporan keuangan menjadi salah
saji.
Pada masalah ke tiga mengenai BPYDBS dan Penyertaan Modal Negara, Komite
Audit mengatakan bahwa bantuan pemerintah yang belum ditentukan statusnya
senilai Rp 674,5 miliar dan penyertaan modal negara Rp 70 miliar oleh
manajemen disajikan dalam Neraca 31 Desember 2005 yang konsisten dengan
tahun-tahun sebelumnya sebagai bagian dari utang. Padahal Komite Audit
berpendapat bahwa bantuan pemerintah dan penyertaan modal tersebut harus
disajikan sebagai bagian dari modal perseroan. Menurut masalah ini pendapat
Komite Audit benar, maka adanya kesalahan penyajian laporan keuangan pada
PT KAI telah terjadi dari tahun-tahun sebelumnya dan komisaris ikut andil ada
melakukan permainan uang.

Seorang auditor (Dalam hal ini, akuntan publik) seharusnya dapat mengetahui
resiko-resiko sebelum mengaudit PT.KAI, namun dilihat dari kasus tersebut
memang sudah terlihat dari awal bahwa ada salah saji laporan telah terjadi dari
tahun-tahuns sebelumnya juga karena kurangnya komunikasi dengan pihak
PT.KAI dan audit intern maka akuntan publik tidak dapat mengetahui kondisi di
dalam PT.KAI. Dari hal ini akuntan publik berhubungan dengan pihak lain yang
mengetahui PT.KAI dan akuntan publik tersebut terpengaruh oleh hasutan untuk
memanipulasi laporan keuangan PT.KAI untuk kepentingan masing-masing oleh
pihak-pihak yang lain yang ingin mencari keuntungan.