Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Selama sekresi hormone paratiroid (PTH), kelenjar paratiroid bertanggung jawab
mempertahankan kadar kalsium ekstraseluler. Hiperparatiroidisme adalah karakter penyakit yang
disebabkan kelebihan sekresi hormone paratiroid, hormon asam amino polipeptida. Sekresi
hormon paratiroid diatur secara langsung oleh konsentrasi cairan ion kalsium. Efek utama dari
hormon paratiroid adalah meningkatkan konsentrasi cairan kalsium dengan meningkatkan
pelepasan kalsium dan fosfat dari matriks tulang, meningkatkan penyerapan kalsium oleh ginjal,
dan meningkatkan produksi ginjal. Hormon paratiroid juga menyebabkan phosphaturia, jika
kekurangan cairan fosfat. hiperparatiroidisme biasanya terbagi menjadi primer, sekunder dan
tersier. (Lawrence Kim, MD, 2005)
Hipoparatiroid adalah gabungan gejala dari produksi hormon paratiroid yang tidak
adekuat. Keadaan ini jarang sekali ditemukan dan umumnya sering sering disebabkan oleh
kerusakan atau pengangkatan kelenjar paratiroid pada saat operasi paratiroid atau tiroid, dan
yang lebih jarang lagi ialah tidak adanya kelenjar paratiroid (secara congenital). Kadang-kadang
penyebab spesifik tidak dapat diketahui.
Prevalensi penyakit hipoparatiroid di Indonesia jarang ditemukan. Kira-kira 100 kasus
dalam setahun yang dapat diketahui, sedangkan di negara maju seperti Amerika Serikat penderita
penyakit hipoparatiroid lebih banyak ditemukan, kurang lebih 1000 kasus dalam setahun. Pada
Wanita mempunyai resiko untuk terkena hipoparatiroidisme lebih besar dari pria. Prevalensi
penyakit hiperparatiroid di Indonesia kurang lebih 1000 orang tiap tahunnya. Wanita yang
berumur 50 tahun keatas mempunyai resiko yang lebih besar 2 kali dari pria. Di Amerika Serikat
sekitar 100.000 orang diketahui terkena penyakit hiperparatiroid tiap tahun. Perbandingan wanita
dan pria sekitar 2 banding 1. Pada wanita yang berumur 60 tahun keatas sekitar 2 dari 10.000
bisa terkena hiperparatiroidisme. Hiperparatiroidisme primer merupakan salah satu dari 2
penyebab tersering hiperkalsemia; penyebab yang lain adalah keganasan. Kelainan ini dapat
terjadi pada semua usia tetapi yang tersering adalah pada dekade ke-6 dan wanita lebih sering 3

kali dibandingkan laki-laki. Insidensnya mencapai 1:500-1000. Bila timbul pada anak-anak harus
dipikirkan kemungkinan endokrinopati genetik seperti neoplasia endokrin multipel tipe I dan II
Kelenjar paratiroid berfungsi mensekresi parathormon (PTH), senyawa yang membantu
memelihara keseimbangan dari kalsium dan phosphorus dalam tubuh. Oleh karena itu yang
terpenting hormon paratiroid penting sekali dalam pengaturan kadar kalsium dalam tubuh
seseorang.
Dengan mengetahui fungsi dan komplikasi yang dapat terjadi pada kelainan atau
gangguan pada kelenjar paratiroid ini maka perawat dianjurkan untuk lebih peka dan teliti dalam
mengumpulkan data pengkajian awal dan menganalisa suatu respon tubuh pasien terhadap
penyakit, sehingga kelainan pada kelenjar paratiroid tidak semakin berat.

BAB II
PEMBAHASAN
a. Anatomi Fisiologi Kelenjar Paratiroid

1. Anatomi Kelenjar Paratiroid


Kelenjar paratiroidisme terdiri dari 4 organ kecil yang masing-masing sebesar biji apel.
Kelenjar paratiroidisme terletak pada posterior kelenjar tiroid. Secara histologis terdapat dua
jenis sel yaitu sel utama yang mensekresi hormon paratiroid (PTH) dan sel oksifilik.

Kelenjar paratiroid mensekresi hormon paratiroid. Fungsi utama dari hormon paratiroid
adalah meningkatkan konsentrasi kalsium dalam plasma (CES) dan mencegah hopokalsemia.
1.1.1 Efek pada Tulang
99% kalsium dalam tubuh terletak di kerangka. Tulang memiliki 3 jenis sel yaitu :
a. Osteoblas : mengeluarkan matriks organik tempat kristal kalsium mengendap

b. Osteosit : osteoblas yang sudah Pensiun dan terperangkap dalam dinding tulang
c. Osteoklas : mengeluarkan asam-asam yang melarutkan kristal kalsium fosfat dan
menguraikan matriks organik.
1.1.2 Efek terhadap ginjal
a. Merangsang penghematan kalsium dan mendorong pengeluaran fosfat.
b. Merangsang peningkatan reasorbsi kalsium oleh ginjal
c. Meningkatkan sekresi fosfat
1.1.3 Efek pada usus
Hormon paratiroid tidak memiliki efek langsung terhadap usus. Secara tidak langsung
meningkatkan reasorbsi kalsium dari usus melalui pangaktifan vitamin D

b. Pengertian
Hipoparatiroidisme

merupakan

keadaan

dimana

sekresi

hormone

paratiroid

(parathormone) oleh kelenjar paratiroid menurun sehingga terjadi penurunan kadar kalsium
darah dan meningkatkan kadar fosfat yang kemudian menimbulkan iritabilitas neuromuscular
yang jelas (Black,2009)
Hipoparatiroidisme adalah kondisi dimana tubuh tidak membuat cukup hormone
paratiroid (Gerysky, 2009)
Insidens

Bentuk ideopatiok dan reversibel adalah bentuk paling sering dijumpi pada anak-anak
Bentuk hipoparatiroisme yang didapat paling sering terjadi pada pasien lanjut usia yang
pernah menjalani pembedahan kelenjar tiroid

c. Klasifikasi
Hipoparatiroid dapat berupa hipoparatiroid neonatal, simpel idiopatik hipoparatiroid, dan
hipoparatiroid pascabedah.
a. Hipoparatiroid neonatal
Hipoparatiroid neonatal dapat terjadi pada bayi yang dilahirkan oleh ibu yang sedang
menderita hiperparatiroid. Aktivitas paratiroid fetus sewaktu dalam uterus ditekan oleh maternal
hiperkalsemia.
b. Simpel idiopatik hipoparatiroid
Gangguan ini dapat ditemukan pada anak-anak atau orang dewasa. Terjadinya sebagai
akibat pengaruh autoimun yang ada hubungannya dengan antibodi terhadap paratiroid, ovarium,
jaringan lambung dan adrenal. Timbulnya gangguan ini dapat disebabkan karena menderita
hipoadrenalisme, hipotiroidisme, diabetes mellitus, anemia pernisiosa, kegagalan ovarium
primer, hepatitis, alopesia dan kandidiasis.
c. Hipoparatiroid pascabedah
Bentuk ini lebih sering dari bentuk idiopatik. Biasanya terjadi pada pengangkatan tiroid,
paratiroid kut terangkat. Namun bisa terjadi pada tindakan bedah lain, seperti disseksi radikal
leher. Bila terjadi cedera atau terangkat sebagian, jaringan paratiroi sisa biasanya sanggup
meneruskan

fungsinya.

Jadi

terjadi

kehilangan

hormon

paratiroid

untuk

saja.bilakeseluruhan paratiroid terangakt maka timbul keadaan hipokalsemia berat.


d. Etiologi

sementara

Penyebab spesifik dari penyakit hipoparatiroid belum dapat diketahui secara pasti.
Adapun etiologi yang dapat ditemukan pada penyakit hipoparatiroid, antara lain :
1. Defisiensi sekresi hormon paratiroid, ada dua penyebab utama:

Post operasi pengangkatan kelenjar paratiroid dan total tiroidektomi

Idiopatik, penyakit ini jarang dan dapat congenital atau didapat (acquired)

2. Hipomagnesemia
3. Sekresi hormone paratiroid yang tidak aktif
4. Resistensi terhadap hormone paratiroid (pseudohipoparatiroidisme)
Penyebab yang paling umum dari hipoparatiroidisme adalah luka pada kelenjarkelenjar paratiroid, seperti selama operasi kepala dan leher.
Pada kasus-kasus lain, hipoparatiroidisme hadir waktu kelahiran atau mungkin
berhubungan dengan penyakit autoimun yang mempengaruhi kelenjar-kelenjar paratiroid
bersama dengan kelenjar-kelenjar lain dalam tubuh, seperti kelenjar-kelenjar tiroid, ovari,
atau adrenal.
Hipoparatiroidisme adalah sangat jarang. Ini berbeda dari hiperparatiroidisme, kondisi
yang jauh lebih umum dimana tubuh membuat terlalu banyak PTH.

e. Fatofisiologi
Hipoparatiroid

merupakan

keadaan

menurunnya

parathormon

(PTH),yang

mengakibatkan menurunnya kadar serum fosfat. Pada keadaan normal PTH berperan
meningkatkan resorpsi tulang untuk mempertahankan keseimbangan kadar kalsium serum dan
juga mengatur sekresi fosfat oleh ginjal sehingga terjadi keseimbangan kadar kalsium dengan
fosfat. Tidak adanya atau berkurangnya PTH mempengaruhi resopsi kalsium dalam tulang dan

terganggunya pengaturan reabsorpsi kalsium di tubulus ginjal. Dengan demikian jika kadar PTH
menurun maka resorpsi tulang menurun dan kadar kalsium dalam serum juga akan menurun
menimbulkan gejala kekurangan kalsium seperti iritabilitas neuromuskular misalnya terjadi
kejang tetani. Sementara itu penurunan PHT akan berpengaruh terhadap penurunan sekresi fosfat
oleh ginjal,sehingga terjadi peningkatan kadar fosfat serum.
Rendahnya kadar kalsium serum mengakibatkan gangguan berbagai proses tubuh,
diantaranya adalah gangguan konduksi jantung, dan neuromuskular. Pada pasien dengan
hipoparatiroid dapatmengakibatkan kematian karena obstuksi pernapasan akibat adanya tetani
atau spasme laring. Tetani merupakan bentuk khusus kejang spastikyang prediksinya terutama
pada otot otot fleksor tangan dan jari jari akibat iritasi saraf perifer dan ganglion yang
berhubungan dengan keadaan hipokalsemia ( Manaf dalam sjaifoellah Noer,1996)
PATWAY

f. Tanda Dan Gejala


1. Adanya Chvosteks sign yaitu adanya spasme pada otot muka, kram pada satu sisi
karena hiperiritabilitas pada saraf facial.
2. Adanya Thousseaus sign, yaitu adanya spasme karpal pada jari-jari tangan setelah
3.
4.
5.
6.
7.

dilakukan pembendungan tekanan darah pada lengan selama tiga menit.


Kesemutan pada bibir dan tangan (kerna kejang otot dan saraf yang terlalu aktif)
Otot kejang, dan nyeri di wajah, kaki.
Rambut kering, kuku rapuh, kulit kering, dan enamel gigi melemah.
Abdomen nyeri, nyeri otot, sakit kepala terus menerus.
Katarak, aritmia jantung, gagal jantung, gelombang memuncak pada QT (ditampilkan

di EKG)
8. Tetany (kejang otot) trakea/pangkal tenggorokan, menyebabkan kesulitan bernapas.
9. Batu ginjal dan gagal ginjal karena fosfor tinggi.\
10. Cepat marah, kebingungan, demensia, halusinasi.
11. Kejang.
12. Ganguan tidur dan Insomnia.
13. Kesadaran menurun.
14. Gangguan belajar dan perilaku.
15. Hipokalsemia dan Hiperphosphatemia.

Pada pemeriksaan kita bisa menemukan beberapa refleks patologis:


1. Erbs sign: Dengan stimulasi listrik kurang dari 5 milli-ampere sudah ada kontraksi dari
otot (normal pada 6 milli-ampere)
2. Chvosteks sign: Ketokan ringan pada nervus fasialis (didepan telinga tempat keluarnya
dari

foramen

sylomastoideus)
menyebabkan

kontraksi

dari otot-otot muka.

3.

Trousseaus

sign:

sirkulasi

darah

ditutup

dengan

Jika

dilengan
manset

(lebih dari tekanan sistolik) maka dalam tiga menit tangan mengambil posisi sebagai
pada spasme carpopedal.
4. Peroneal sign: Dengan mengetok bagian lateral fibula di bawah kepalanya akan terjadi
dorsofleksi dan adduksi dari kaki.
Pada 40 % dari penderita-penderita kita mencurigai adanya hipoparatiroidisme karena
ada kejang-kejang epileptik. Sering pula terdapat keadaan psikis yang berubah, diantaranya
psikosis. Kadang-kadang terdapat pula perubahan-perubahan trofik pada ektoderm:
1. Rambut : tumbuhnya bisa jarang dan lekas putih.
2. Kulit : kering dan permukaan kasar, mungkin terdapat pula vesikula dan bulla.
3. Kuku : tipis dan kadang-kadang ada deformitas.
Pada anak-anak badan tumbuh kurang sempurna, tumbuhnya gigi-gigi tidak baik dan
keadaan mental bisa tidak sempurna. Juga agak sering terdapat katarak pada hipoparatiroidisme.

g. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan Darah
a) Serum kalsium diperoleh nilai yang rendah dari normal (Normal : 8.5-10.7 mg/dl),
tetanus dapat terjadi jika kadar kalsium kurang dari 5 mg/dl
b) Kalsium terionisasi rendah (Normal : 4.5-5.6 mg/dl)
c) Serum fosfat terjadi peningkatan (Normal :2.5-4.5 mg/dl)
d) Kadar hormone paratiroid rendah (Normal : 10-55 pg/mL

2. Pemeriksaan Urine
a) Rendah atau tidak ada kalsium
3. Pemeriksaan X-Ray
a) Adanya klasifikasi pada basal ganglia di otak
b) Kadang-kadang terjadi klasifikasi pada serebelum dan fleksus koroid
c) Densitas dari tulang dapat bertambah
4. Foto Rontgen :
a) Sering terdapat kalsifikasi yang bilateral pada ganglion basalis di tengkorak
b) Kadang-kadang terdapat pula kalsifikasi di serebellum dan pleksus koroid
5 Density dari tulang bisa bertambah
6. EKG : biasanya QT-interval lebih panjang
h. Komplikasi
a. Hipokalsemia
Keadaan klinis yang disebabkan oleh kadar kalsium serum kurang dari 8.5
mg/100ml. Kedaan ini mungkin disebabkan oleh terangkatnya kelenjar paratiroid waktu
pembedahan atau sebagai akibat destruksi autoimun dari kelenjar-kelenjar tersebut
b. Insufisiensi ginjal kronik
Pada keadaan ini kalsium serum rendah, fosfor serum sangat tinggi, karena retensi
dari fosfor dan ureum kreatinin darah meninggi. Hal ini disebabkan tidak adanya kerja
hormon paratiroid yang diakibatkan oleh keadaan seperti diatas (etiologi).
Komplikasi Hipoparatiroidisme (Kapita Selekta Penyakit, Edisi 2, Kimberly A.J. Bilotta,
2012)
o Gagal Jantung
o Katarak
o Tetanus
o Peningkatan tekanan intracranial
o Kalsifikasi ireversibel pada ganglia basalis\
o Deformitas tulang
o Laringospasme, stridor pernapasan, dan anoksia
o Paralisis pita suara
o Kejang
o Kematian

i. Penatalaksanaan
Terapi
a. Umum
Mengembalikan kalsium dalam keseimbangan mineral terkait di dalam tubuh.
Perawatan suportif yang dibutuhkan untuk serangan atau tetanus hipoparatiroid yang

akut dan membahayakan kehidupan


Diet tinggi kalsium dan rendah fosfor
Aktivitas, sesuai toleransi

b.

c.

Pengobatan
Vitamin D
Suplemen kalsium
Kalsitriol
Tetanus akut yang mengancam kehidupan
Koreksi kalsium secepatnya (calsium glukonas 10 cc IV atau perinfus), hati-hati karena

bisa menyebabkan aritmia dari jantung.


Sedatif
Antikonvulsan
d. Pembedahan
Mengobati penyebab yang mendasari seperti tumor
j. Penatalaksanaan
1) Istirahat
2) Observasi vital sign
3) Makanan cair/personde
4) Perhatikan saluran nafas
5) Penanganan kejang
6) Fisiotherapi.
k. Pengkajian
a. Pengumpulan Data
1) Identitas
a) Identitas klien
b) Identitas penanggung jawab
2) Riwayat kesehatan
a) Sejak kapan klien menderita penyakit
b) Apakah ada anggota keluarga yang berpenyakit sama
c) Apakah klien pernah mengalami tindakan oprasi khususnya pengangkatan
kelenjar paratiroid atau kelenjar tiroid
d) Apakah ada riwayat penyinaran daerah leher.
3) Keluhan utama meliputi:
a) Kelainan bentuk tulang
b) Perdarahan yang sulit berhenti
c) Kejang-kejang, kesemutan dan lemah.
4) Pemeriksaan fisik
a) Sistem integrumen
1. Rambut jarang dan tipis; pertumbuhan kuku buruk, deformitas dan mudah
patah; kulit kering dan kasar
b) Sistem muskuluskeletal
1. Kelainan bentuk tulang
2. Tetani (kejang otot)
3. Tanda Chvosteks positif atau Trousseaus positif

Chvosteks positif, yaitu adanya spasme atau kedutan pda mulut, hidung, mata
saat dilakukan pengetukan secara tiba-tiba pada didepan kalenjar parotis dan
diarea anterior telinga.
Trausseaus positif, yaitu adanya spasme pada karpopedal jika sirkulasi darah
dilengan di blok dengan menset selama tiga menit.
4. keadaan tetanus laten terdapat gejala patirasa, kesemutan dan keram pada
eksrmitas dengan keluhan perasaan kaku pada kedua belah tangan serta kaki
5. Kesemutan di bibir, jari-jari tangan, an jdari-jari kaki
6. Kejang dan nyeri otot di muka, tangan dan kaki
7. Kelemahan Otot
c) Sistem persyarafan
1. Katarak-katarak di mata-mata
2. Kehilangan memori (daya ingat)
3. Sakit kepala
4. Menurunnya kesadaran seperti delirium
5. Paresthesi pada jari-jari tangan dan kaki\
d) Sistem pernapasan
1. Kesulitan bernapas
2. Adanya tanda-tanda mencakup bronkospasme, spasme laring,
e) Sistem endokrin
1. Delirium
f) Sistem kardiovaskuler
1. ritma jantung
2. Perubahan pada EKG
3. hipotensi

l. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi


a. Potensial cedera berhubungan dengan resiko kejang atau tetani yang diakibatkan oleh
hipokalsemia.
1) Tujuan:
Klien tidak mengalami cedra dengan kriteria: reflek normal, tanda vital stabil,
makan diet dan obat seperti yang dianjurkan, kadar kalsium serum normal.
2) Intervensi:
a. Pantau tanda-tanda vital dan reflek tiap 2 jam sampai 4 jam.
R/Untuk mengetahui kelainan sedini mungkin.
b. Pantau fungsi jantung secara terus menerus/gambaran EKG.
R/ Untuk mengetahui abnormalitas dari gambaran EKG.
c. Bila pasien dalam tirah baring berikan bantalan paga tempat tidur dan pertahakan tempat
tidur dalam posisi rendah.
R/ Untuk mencegah terjadinya injuri/jatuh.
d. Bila aktivitas kejang terjadi ketika pasien bangun dari tempat tidur,
R/Untuk menghindari cedra yang terjadi akibat benda yang terdapat di lingkungan sekitar
klien dan mencegah kerusakan lebih berat akibat kejang
e. Kolaborasi dengan dokter dalam menangani gejala dini dengan memberikan dan
memantau efektifitas cairan parenteral dan kalsium.
R/ Antisifasi terhadap hipokalsemia dengan cara penanganan medis.
f. Berikan suplemen vitamin D dan kalsium sesuai program.
R/Untuk membantu memenuhi kekurangan kalsium dalam tubuh
g. Kaji ulang pemeriksaan kadar kalsium.
R/Untuk mengontrol kadar kalsium serum.
b. Potensial tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan oedema laring atau aktivitas
kejang.
1) Tujuan:
Jalan nafas efektif dengan kriteria:
a) Frekwensi, irama, dan kedalaman pernafasan normal.
b) Auskultasi paru menunjukan bunyi yang bersih.
2) Intervensi:
a. Siapkan peralatan penghisap dan jalan nafas oral di dekat tempat tidur sepanjang waktu.
R/Supaya memudahkan karena serangan bisa secara tiba-tiba.

b. Siapkan tali tracheostomi, oksigen, dan peralatan resusitasi manual siap pakai sepanjang
waktu
R/ Untuk memudahkan dalam tindakan apabila terjadi sumbatan jalan nafas.
c. Kaji upaya pernafasan dan kualitas suara setiap 2 jam.
R/ Untuk mengetahui suara dan keadaan jalan nafas.
d. Auskultasi untuk mendengarkan stridor laring setiap 4 jam.
R/ Adanya stridor suatu tanda adanya oedema laring.
e. Laporkan gejala dini pada dokter dan kolaborasi untuk mempertahankan jalan nafas tetap
terbuka.
R/ Kolaborasi dengan dokter untuk mempertahankan jalan nafas tetap terbuka karena
perawat terbatas akan hak dan wewenang.
f. Intruksikan pasien agar menginformasikan pada perawat atau dokter saat pertama terjadi
tanda kekakuan pada tenggorok atau sesak nafas.
R/Agar perawat bisa siap-siap untuk melakukan suatu tindakan.
g. Baringkan pasien untuk mengoptimalkan bersihan jalan nafas, pertahankan kepala dalam
posisi kepala dalam posisi alamiah, garis tengah.
R/Untuk mencegah penekanan jalan nafas/mempertahankan jalan nafas untuk tetap
terbuka.
h. Bila terjadi kejang: pertahankan jalan nafas, penghisapan orofaring sesuai indikasi,
berikan O2 sesuai pesanan, pantau tensi, nadi, pernafasan dan tanda-tanda neurologis,
periksa setelah terjadi kejang, catat frekwensi, waktu, tingkat kesadaran, bagian tubuh
yang terlibat dan lamanya aktivitas kejang.
R/Bila terjadi kejang otomatis O2 ke otak menurun sehingga bisa berakibat fatal ke
seluruh jaringan tubuh termasuk pernafasan.
i. Siapkan untuk berkolaborasi dengan dokter dalam mengatasi status efileptikus misalnya:
intubasi
R/Kolaborasi dengan dokter dalam hal tindakan wewenang dokter (pengobatan dan
tindakan).
c. Intoleran aktivitas berhubungan dengan penurunan cardiak output.
1) Tujuan:
Kien dapat memenuhi kebutuhan aktivitas dengan kriteria:
a) Tingkat aktivitas meningkat tanpa dispnoe, tachicardi atau peningkatan tekanan
darah.
b) Melakukan aktivitas tanpa bersusah payah
2) Intervensi
a. Kaji pola aktivitas yang lalu.

R/Untuk membandingkan aktivitas sebelum sakit dan yang akan diharapkan setelah
perawatan.
b. Kaji terhadap perubahan dalam gejala muskuloskeletal setiap 8 jam.
R/ Untuk memantau keberhasilan perawatan.
c. Kaji respon terhadap aktivitas:
R/Untuk melihat suatu perkembangan perawatan terhadap aktivitas secara bertahap.
d. Rencanakan perawatan bersama pasien untuk menentukan aktivitas yang ingin pasien
selesaikan: Jadwalkan bantuan dengan orang lain.
R/ Dengan merencanakan perawatan, perawat dengan klien dapat mempermudah suatu
keberhasilan karena datangnya kemauan dari klien.
e. Seimbangkan antara waktu aktivitas dengan waktu istirahat.
R/ Untuk mengatasi kelelahan akibat latihan
f. Simpan benda-benda dan barang lainnya dalam jangkauan yang mudah bagi pasien.
R/ Untuk menghemat penggunaan energi klien.
d. Resti terhadap inefektif penatalaksanaan regimen therapetik berhubungan dengan
kurang pengetahuan tentang regimen diet dan medikasi.
1) Tujuan:
Klien mengerti tentang diet dan medikasinya, dengan kriteria:
Klien dan orang terdekat mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit dan
prinsip perawatan tindak lanjut dan perawatan di rumah serta pengobatan dan diet
yang diperlukan.
2) Intervensi:
a. Jelaskan tentang konsep dasar tentang proses penyakit.
R/ Penyuluhan tentang penyakitnya sangat penting karena klien membutuhkan medikasi
dan modifikasi diet sepanjang hidupnya.
b. Diskusikan alasan tentang terjadinya perubahan fisik dan emosional.
R/Agar klien mengerti akan keadaan dirinya sehingga klien tahu tentang
penanggulangannya.
c. Ajarkan pasien untuk memeriksakan dan melaporkan gejala dini tetani, kesemutan,
tremor, tanda chvosteks atau trusseaus positif perubahan dalam upaya pernafasan.
R/Agar klien bisa mengontrolkan dirinya secara berkala sehingga penyakitnya bisa
tertanggulangi dan tidak mengakibatkan lebih parah
d. Ajarkan orang terdekat untuk mengenali aktivitas kejang pasien dan menentukan cara
yang harus dilakukan menghindari restrain atau menghentikan prilaku, observasi dan
mencatat prilaku yang diperlihatkan sebelum dan selama kejang.

R/Orang terdekat adalah orang yang selalu berada dan tahu persis tentang pasien
sehingga bila terjadi sesuatu terhadap diri klien dia bisa melakukan sesuatu dan apa yang
tidak boleh dilakukan sehingga bisa memperingan penyakitnya.
e. Tekankan aktivitas sehari-hari dan latihan sesuai toeransi dan untuk melaporkan
peningkatan keletihan atau kelemahan otot.
R/Untuk melatih mobilisasi sehingga klien bisa melakukan ADLnya.
f. Diskusikan tentang pentingnya mempertahankan lingkungan yang aman.
R/ Untuk mencegah cedra akibat dari lingkungan.
g. Ajarkan nama obat-obatan, dosis, waktu dan metode pemberian, tujuan, efek smping dan
toxik.
R/Obat-obat tersebut penting untuk mempertahankan hidupnya.
h. Ajarkan klien tentang diet tinggi kalsium rendah fosfat, seperti mengurangi susu dan
keju karena banyak mengandung fosfor.
R/Asupan diet yang seimbang akan meningkatkan kadar kalsium darah.

e. Resti terhadap inefektif penatalaksanaan regimen therapetik berhubungan dengan


kurang pengetahuan tentang regimen diet dan medikasi.
1) Tujuan:
Klien mengerti tentang diet dan medikasinya, dengan kriteria:
Klien dan orang terdekat mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit dan
prinsip perawatan tindak lanjut dan perawatan di rumah serta pengobatan dan diet
yang diperlukan.
2) Intervensi:
a. Jelaskan tentang konsep dasar tentang proses penyakit.
R/Penyuluhan tentang penyakitnya sangat penting karena klien membutuhkan medikasi
dan modifikasi diet sepanjang hidupnya.
b. Diskusikan alasan tentang terjadinya perubahan fisik dan emosional.
R/Agar klien mengerti akan keadaan dirinya sehingga klien tahu tentang
penanggulangannya.
c. Ajarkan pasien untuk memeriksakan dan melaporkan gejala dini tetani, kesemutan,
tremor, tanda chvosteks atau trusseaus positif perubahan dalam upaya pernafasan.

R/Agar klien bisa mengontrolkan dirinya secara berkala sehingga penyakitnya bisa
tertanggulangi dan tidak mengakibatkan lebih parah.
d. Ajarkan orang terdekat untuk mengenali aktivitas kejang pasien dan menentukan cara
yang harus dilakukan menghindari restrain atau menghentikan prilaku, observasi dan
mencatat prilaku yang diperlihatkan sebelum dan selama kejang.
R/Orang terdekat adalah orang yang selalu berada dan tahu persis tentang pasien
sehingga bila terjadi sesuatu terhadap diri klien dia bisa melakukan sesuatu dan apa yang
tidak boleh dilakukan sehingga bisa memperingan penyakitnya
e. Tekankan aktivitas sehari-hari dan latihan sesuai toeransi dan untuk melaporkan
peningkatan keletihan atau kelemahan otot.
R/Untuk melatih mobilisasi sehingga klien bisa melakukan ADLnya.
f. Diskusikan tentang pentingnya mempertahankan lingkungan yang aman.
R/Untuk mencegah cedra akibat dari lingkungan
g. Ajarkan nama obat-obatan, dosis, waktu dan metode pemberian, tujuan, efek smping dan
toxik.
R/Obat-obat tersebut penting untuk mempertahankan hidupnya
h. Ajarkan klien tentang diet tinggi kalsium rendah fosfat, seperti mengurangi susu dan
keju karena banyak mengandung fosfor.
R/ Asupan diet yang seimbang akan meningkatkan kadar kalsium darah.

ASKEP TRAKEOSTOMI
A. Definisi Trakeostomi
Trakeostomi adalah prosedur dimana dibuat lubang kedalam trakea. (Smeltzer & Bare,
2002)
Trakeostomi adalah insisi operasi dimana memasukkan selang ke dalam trakea agar klien
dapat bernafas dengan lebih mudah dan mengeluarkan sekretnya. ( Putriardhita, C, 2008)
Trakeostomi adalah suatu tindakan dengan membuka dinding depan/anterior trakea untuk
mempertahankan jalan nafas agar udara dapat masuk ke paru-paru dan memintas jalan nafas
bagian atas.
B. Indikasi Trakeostomi
Indikasi trakeostomi termasuk sumbatan mekanis pada jalan nafas dan gangguan non
obstruksi yang mengubah ventilasi.
Gejala-gejala yang mengindikasikan adanya obstruksi pada jalan nafas :
1. Timbulnya dispneu dan stridor eskpirasi yang khas pada obstruksi setinggi atau di
bawah rima glotis terjadinya retraksi pada insisura suprasternal dan supraklavikular.
2. Pasien tampak pucat atau sianotik
3. Disfagia
4. Pada anak-anak akan tampak gelisah
Tindakan trakeostomi akan menurunkan jumlah udara residu anatomis paru hingga 50%
Sebagai hasilnya, pasien hanya memerlukan sedikit tenaga yang dibutuhkan untuk bernafas dan
meningkatkan ventilasi alveolar. Tetapi hal ini juga sangat tergantung pada ukuran dan jenis pipa
trakeostomi.
Gangguan yang mengindikasikan perlunya trakeostomi :
1. Terjadinya obstruksi jalan nafas atas
2. Sekret pada bronkus yang tidak dapat dikeluarkan secara fisiologis, misalnya pada
pasien dalam keadaan koma.
3. Untuk memasang alat bantu pernafasan (respirator).
4. Apabila terdapat benda asing di subglotis.
5. Penyakit inflamasi yang menyumbat jalan nafas ( misal angina ludwig), epiglotitis
dan lesi vaskuler, neoplastik atau traumatik yang timbul melalui mekanisme serupa
6. Mengurangi ruang rugi (dead air space) di saluran nafas atas seperti rongga mulut,
sekitar lidah dan faring. Hal ini sangat berguna pada pasien dengan kerusakan paru,
yang kapasitas vitalnya berkurang.

Indikasi lain yaitu :


1. Cedera parah pada wajah dan leher
2. Setelah pembedahan wajah dan leher
3. Hilangnya refleks laring dan ketidakmampuan

untuk

menelan

sehingga

mengakibatkan resiko tinggi terjadinya aspirasi


C. Pembagian Trakeostomi
Menurut lama penggunaannya, trakeosomi dibagi menjadi penggunaan permanen dan dan
penggunaan sementara, sedangkan menurut letak insisinya, trakeostomi dibedakan letak yang
tinggi dan letak yang rendah dan batas letak ini adalah cincin trakea ke tiga. Jika dibagi menurut
waktu dilakukannya tindakan, maka trakeostomi dibagi dalam trakeostomi darurat dan segera
dengan persiapan sarana sangat kurang dan trakeostomi berencana (persiapan sarana cukup) dan
dapat dilakukan secara baik.
D. Jenis Tindakan Trakeostomi
1. Surgical trakeostomy
Tipe ini dapat sementara dan permanen dan dilakukan di dalam ruang operasi. Insisi
dibuat diantara cincin trakea kedua dan ketiga sepanjang 4-5 cm.
2. Percutaneous Tracheostomy
Tipe ini hanya bersifat sementara dan dilakukan pada unit gawat darurat. Dilakukan
pembuatan lubang diantara cincing trakea satu dan dua atau dua dan tiga. Karena lubang yang
dibuat lebih kecil, maka penyembuhan lukanya akan lebih cepat dan tidak meninggalkan scar.
Selain itu, kejadian timbulnya infeksi juga jauh lebih kecil.
3. Mini tracheostomy
Dilakukan insisi pada pertengahan membran krikotiroid dan trakeostomi mini ini
dimasukan menggunakan kawat dan dilator.

E. Jenis Pipa Trakeostomi


1. Cuffed Tubes
Selang dilengkapi dengan balon yang dapat diatur sehingga memperkecil risiko
timbulnya aspirasi

2. Uncuffed Tubes
Digunakan pada tindakan trakeostomi dengan penderita yang tidak mempunyai risiko
aspirasi
3. Trakeostomi dua cabang (dengan kanul dalam)
Dua bagian trakeostomi ini dapat dikembangkan dan dikempiskan sehingga kanul dalam
dapat dibersihkan dan diganti untuk mencegah terjadi obstruksi.
4. Silver Negus Tubes
Terdiri dua bagian pipa yang digunakan untuk trakeostomi jangka panjang. Tidak perlu
terlalu sering dibersihkan dan penderita dapat merawat sendiri.
5. Fenestrated Tubes
Trakeostomi ini mempunyai bagian yang terbuka di sebelah posteriornya, sehingga
penderita masih tetap merasa bernafas melewati hidungnya. Selain itu, bagian terbuka ini
memungkinkan penderita untuk dapat berbicara.
F. Alat-Alat Trakeostomi
Alat yang diperlukan untuk melakukan trakeostomi adalah semprit yang berisi obat
analgesia, pisau, pinset anatomi, gunting panjang tumpul, sepasang pengait tumpul, klem arteri,
gunting kecil yang tajam serta kanul trakea dengan ukuran sesuai.
G. Teknik Trakeostomi
Pasien tidur terlentang, bahu diganjal dengan bantalan kecil sehingga memudahkan
kepala untuk diekstensikan pada persendian atalantooksipital. Dengan posisi seperti ini leher
akan lurus dan trakea akan terletak di garis median dekat permukaan leher. Kulit leher
dibersihkan sesuai dengan prinsip aseptik dan antiseptik dan ditutup dengan kain steril. Obat
anestetikum disuntikkan di pertengahan krikoid dengan fossa suprasternal secara infiltrasi.
Sayatan kulit dapat vertikal di garis tengah leher mulai dari bawah krikoid sampai fosa
suprasternal atau jika membuat sayatan horizontal dilakukan pada pertengahan jarak antara
kartilago krikoid dengan fosa suprasternal atau kira-kira dua jari dari bawah krikoid orang
dewasa. Sayatan jangan terlalu sempit, dibuat kira-kira lima sentimeter.
Dengan gunting panjang yang tumpul kulit serta jaringan di bawahnya dipisahkan lapis
demi lapis dan ditarik ke lateral dengan pengait tumpul sampai tampak trakea yang berupa pipa

dengan susunan cincin tulang rawan yang berwarna putih. Bila lapisan ini dan jaringan di
bawahnya dibuka tepat di tengah maka trakea ini mudah ditemukan. Pembuluh darah yang
tampak ditarik lateral. Ismuth tiroid yang ditemukan ditarik ke atas supaya cincin trakea jelas
terlihat. Jika tidak mungkin, ismuth tiroid diklem pada dua tempat dan dipotong ditengahnya.
Sebelum klem ini dilepaskan ismuth tiroid diikat keda tepinya dan disisihkan ke lateral.
Perdarahan dihentikan dan jika perlu diikat. Lakukan aspirasi dengan cara menusukkan jarum
pada membran antara cincin trakea dan akan terasa ringan waktu ditarik. Buat stoma dengan
memotong cincin trakea ke tiga dengan gunting yang tajam. Kemudian pasang kanul trakea
dengan ukuran yang sesuai. Kanul difiksasi dengan tali pada leher pasien dan luka operasi
ditutup dengan kasa.
Untuk menghindari terjadinya komplikasi perlu diperhatikan insisi kulit jangan terlalu
pendek agar tidak sukar mencari trakea dan mencegah terjadinya emfisema kulit.
H. Perawatan Pasca Trakeostomi
Secera setelah trakeostomi dilakukan :
1. Rontgen dada untuk menilai posisi tube dan melihat timbul atau tidaknya komplikasi
2. Antibiotik untuk menurunkan risiko timbulnya infeksi
3. Mengajari pihak keluarga dan penderita sendiri cara merawat pipa trakeostomi
Perawatan pasca trakeostomi sangat penting karena sekret dapat menyumbat dan
menimbulkan asfiksia. Oleh karena itu, sekret di trakea dan kanul harus sering diisap
ke luar dan kanul dalam dicuci sekurang-kurangnya dua kali sehari lalu segera
dimasukkan lagi ke dalam kanul luar. Bila kanul harus dipasang dalam jangka waktu
lama, maka kanul harus dibersihkan dua minggu sekali. Kain basah di bawah kanul
harus diganti untuk menghindari timbulnya dermatitis. Gunakan kompres hangat untuk
mengurangi rasa nyeri pada daerah insisi.

I. Komplikasi
Komplikasi dini yang sering terjadi :
Perdarahan
Pneumothoraks terutama pada anak-anak

Aspirasi
Henti jantung sebagai rangsangan hipoksia terhadap respirasi
Paralisis saraf rekuren
Komplikasi lanjut :
Perdarahan lanjutan pada arteri inominata
Infeksi
Fistula trakeoesofagus
Tenosis trakea
J. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan fungsi paru ; menentukan kemampuan paru untuk pertukaran gas
karbondioksida dan termasuk tetapi tidak terbatas pada hal berikut ini :
b. GDA ; mengkaji status oksigenasi dan ventilasi dan keseimbangan asam basa.
c. Kapasitas vital (VC) ; menurun pada keterbatasan dada atau kondisi paru ; normal atau
meningkat pada PPOM ; normal atau menurun pada penyakit neuromuscular (GuillainBarre) ; menurun pada kondisi keterbatasan gerak torax (kifoskoliosis)
d. Kapasitas vital kuat (FVC) ; (diukur dengan spirometri) menurun pada kondisi restriktif
e. Volume tidal (VT) ; dapat menurun pada proses restriktif atau obstruktif
f. Inspirasi negative kuat (NIF) ; dapat mempengaruhi kapasitas vital untuk membantu
g.
h.
i.
j.

menentukan apakah pasien dapat bernafas.


Ventilasi menit ; mengukur volume untuk inhalasi dalam 1 menit pernafasan normal.
Tekanan inspirasi (Pimax) ; mengukur regangan otot pernafasan
Volume ekspirasi kuat (FEV ; biasanya menurun pada PPOM
Aliran-Volume (F-V) loop ; Loop tak normak menunjukkan penyakit jalan nafas besar

dan kecil dan penyakit keterbatasan bila berlanjut.


k. Sinar x dada ; mengawasi perbaikan/kemajuan kondisi atau komplikasi

K. Data Dasar Pengkajian Pasien

1. Aktivitas/istirahat
Gejala : Kkelemahan, kelelahan, keletihan, napas pendek.
Tanda : Frekuensi pernapasan meningkat.
Perubahan irama pernapasan.
Takipnea.
2. Sirkulasi
Gejala : Riwayat adanya hipertensi.
Tanda : Kenaikan tekanan darah meningkat.
Penampilan kemerahan, atau pucat.
3. Integritas ego
Gejala : Perasaan takut aka kehilangan suara, mati, terjadinya / berulangnya
kanker.
Kuatir bila pembedahan mempengaruhi hubungan keluarga, kemampuan
kerja dan keuangan.
Tanda : Ansietas, depresi, marah dan menolak, Menyangkal.
4. Eliminasi
Gejala : Gangguan saat ini atau yang lalu / obstruksi riwayat penyakit paru
5. Makanan/cairan
Gejala : Kesulitan menelan.
Tanda : Kesulitan menelan, mudah tersedak. Bengkak, luka (malnutrisi)
7. Neurosensori
Gejala : Diplopia (penglihatan ganda)Ketulian.
Tanda : Parau menetap atau kehilangan suara.
Kesulitan menelan.
Ketulian konduksi.
Kerusakan membranmukosa.
8. Nyeri/kenyamanan
Gejala : Sakit kepala, nyeri dada (meningkat oleh batuk) .
Tanda : Melindungi area yang sakit (tidur pada sisi yang sakit untuk membatasi
gerakan).

8. Pernafasan
Gejala : Adanya riwayat merokok/mengunyah tembakau.
Bekerja dengan debu serbuk kayu, kimia toksik/serbuk, logam berat.
Riwayat penggunaan berlebihan suara.
Riwayat penyakit paru kronis.
Batuk dengan/tanpa sputum.
Drainase darah pada nasal.
Tanda : Sputum dengan darah, hemoptisis.
Dispnea.
9. Keamanan
Gejala : Terpajan sinar matahari berlebihan selama periode bertahun-tahun atau
radiasi.
10. Perubahan penglihatan/pendengaran.
Tanda : Massa/pembesaran nodul.
11. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala :Penggunaan alcohol berulang/riwayat penyalahgunaan alkohol.
Tanda : DRG menunjukkan rerata lama dirawat :7,4 hari.
12.Rencana pemulangan:
Bantuan dengan perawatan luka, pengobatan, pengiriman: transpormasi,
belanja, penyiapan makanan, perawatan diri, perawatan / pemeliharaan
rumah.
Diagnosa Keperawatan:
I.

Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan pengangkatan sebagian atau
seluruh glotis, gangguan kemampuan untuk bernapas, batuk dan menelan, serta sekresi
banyak dan kental.

Kriteria hasil : bunyi napas bersih dan jelas, tidak sesak, tidak sianosis,frekwensi napas normal.
Rencana tindakan :
1. Awasi frekwensi atau kedalaman pernapasan.Auskultasi bunyi napas. Selidiki
kegelisahan, dispnea, dan sianosis.
Rasional: perubahan pada pernapasan, adanya ronki,mengi,diduga adanya retensi sekret.

2. Inggikan kepala 30-45 derajat.


Rasional: memudahkan drainase sekret, kerja pernapasan dan ekspansi paru.
3. Dorong menelan bila pasien mampu.
Rasional: mencegah pengumpulan sekret oral menurunkan resiko aspirasi.
4. Dorong batuk efektif dan napas dalam.
Rasional: memobilisasi sekret untuk membersihkan jalan napas dan membantu
mencegah komplikasi pernapasan.
5. Hisap selang laringektomi atau trakeotomi, oral dan rongga nasal. Catat jumlah, warna
dan konsistensi sekret.
Rasional: mencegah sekresi menyumbat jalan napas, khususnya bila kemampuan
menelan terganggu dan pasien tidak dapat meniup lewat hidung.
6. Observasi jaringan sekitar selang terhadap adanya perdarahan.
Rasional: sedikit jumlah perembesan mungkin terjadi.
7. Ganti selang atau kanul sesuai indikasi.
Rasional mencegah akumulasi sekret dan perlengketan mukosa tebal dari obstruksi jalan
napas
Kolaborasi
8. Berikan humidifikasi tambahan, contoh tekanan udara atau oksigen dan peningkatan
masukan cairan.
Rasional: fisiologi normal ( hidung) berarti menyaring atau melembabkan udara yang
lewat.Tambahan kelembaban menurunkan mengerasnya mukosa dan memudahkan batuk
atau penghisapan sekret melalui stoma.
9. Awasi seri GDA atau nadi oksimetri, foto dada.
Rasional pengumpulan sekret atau adanya ateletaksis dapat menimbulkan pneumonia
yang memerlukan tindakan terapi lebih agresif.

II.

Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan defisit anatomi (pengangkatan batang


suara) dan hambatan fisik (selang trakeostomi).

Kriteria hasil : Mengidentifikasi atau merencanakan pilihan metode berbicara yang tepat
setelah sembuh.
Rencana tindakan :
Mandiri
1. Kaji atau diskusikan praoperasi mengapa bicara dan bernapas terganggu,gunakan
gambaran anatomik atau model untuk membantu penjelasan.
Rasional: untuk mengurangi rasa takut pada klien.
2. Tentukan apakah pasien mempunyai gangguan komunikasi lain seperti pendengaran dan
penglihatan.
Rasional: adanya masalah lain mempengaruhi rencana untuk pilihan komunikasi.
3. Berikan pilihan cara komunikasi yang tepat bagi kebutuhan pasien misalnya papan dan
pensil, papan alfabet atau gambar, dan bahasa isyarat.
Rasional: memungkingkan pasien untuk menyatakan kebutuhan atau masalah. Catatan :
posisi IV pada tangan atau pergelangan dapat membatasi kemampuan untuk menulis
atau membuat tanda.
4. Berikan waktu yang cukup untuk komunikasi.
Rasional: kehilangan bicara dan stres menganggu komunikasi dan menyebabkan
frustrasi dan hambatan ekspresi,
5. Berikan komunikasi non verbal, contoh sentuhan dan gerak fisik.
Rasional: mengkomunikasikan masalah
6. Dorong komunikasi terus-menerus dengan dunia luar contoh koran,TV, radio dan
kalender.
Rasional: mempertahankan kontak dengan pola hidup normal dan melanjutkan
komunikasi dengan cara lain.
7. Beritahu kehilangan bicara sementara setelah laringektomi sebagian dan atau tergantung
pada tersedianya alat bantu suara. Rasional memberikan dorongan dan harapan untuk
masa depan dengan memikirkan pilihan arti komunikasi dan bicara tersedia dmungkin.
8. Ingatkan pasien untuk tidak bersuara sampai dokter memberi izin.
Rasional: meningkatkan penyembuhan pita suara dan membatasi potensi disfungsi pita
permanen.

Kolaborasi
9.
III.

Konsul dengan anggota tim kesehatan yang tepat atau terapis atau agen rehabilitasi
Rasional: Kemampuan untuk menggunakan pilihan suara dan metode
Kerusakan integritas kulit atau jaringan berhubungan dengan bedah pengangkatan, radiasi
atau agen kemoterapi, gangguan sirkulasi atau suplai darah,pembentukan udema dan
pengumpulan atau drainase sekret terus-menerus.

Kriteria hasil : integritas jaringan dan kulit sembuh tanpa komplikasi


Rencana tindakan :
1. Kaji warna kulit, suhu dan pengisian kapiler pada area operasi dan tandur kulit.
Rasional: kulit harus berwarna merah muda atau mirip dengan warna kulit sekitarnya.
Sianosis dan pengisian lambat dapat menunjukkan kongesti vena, yang dapat
menimbulkan iskemia atau nekrosis jaringan.
2. Pertahankan kepala tempat tidur 30-45 derajat. Awasi edema wajah (biasanya meningkat
pada hari ketiga-kelima pascaoperasi).
Rasional: meminimalkan kongesti jaringan paskaoperasi dan edema sehubungan dengan
eksisi saluran limfe.
3. Lindungi lembaran kulit dan jahitan dari tegangan atau tekanan.
Rasional: tekanan dari selang dan plester trakeostomi atau tegangan pada jahitan dapat
menggangu sirkulasi atau menyebabkan cedera jaringan.
4. Awasi drainase berdarah dari sisi operasi, jahitan dan drein.
Rasional: drainase berdarah biasanya tetap sedikit setelah 24 jam pertama. Perdarahan
terus-menerus menunjukkan masalah yang memerlukan perhatian medik.
5. Catat atau laporkan adanya drainase seperti susu.

Rasional drainase seperti susu menunjukkan kebocoran duktus limfe torakal (dapat
menyebabkan kekurangan cairan tubuh dan elektrolit).Kebocoran ini dapat sembuh
spontan atau memerlukan penutupan bedah.
6. Ganti balutan sesuai indikasi bila digunakan.
Rasional: balutan basah meningkatkan resiko kerusakan jaringan atau infeksi. Catatan :
balutan tekan tidak digunakan diatas lembaran kulit karena suplai darah mudah
dipengaruhi.
7. Bersihkan insisi dengan cairan garam faal steril dan peroksida setelah balutan diangkat.
Rasional mencegah pembetukan kerak
8. Bersihka sekitar stoma dan selang bila dipasang serta hindari sabun dan alkohol.
Rasional: mempertahankan area bersih meningkatkan penyembuhan dan kenyamanan
Kolaborasi
9. Berikan antibiotik oral, topikal dan IV sesuai indikasi.
Rasional mencegah atau mengontrol infeksi.

IV.

Perubahan membran mukosa oral berhubungan dengan dehidrasi,

kebersihan oral

tidak adekuat, kanker oral, penurunan produksi saliva sekunder terhadap radiasi atau
prosedur pembedahan dan defisit nutrisi.
Kriteria Hasil : mulut lembab atau tidak kering, mulut terasa segar, lidah normal, bersih dan
tidak pecah, tidak ada tanda inflamasi pada bibir.
Rencana tindakan :
Mandiri
1. Inspeksi rongga oral dan perhatikan perubahan pada saliva.
Rasional: kerusakan pada kelenjar saliva dapat menurunkan produksi saliva,
mengakibatkan mulut kering.
2. Perhatikan perubahan pada lidah, bibir, geligi dan gusi serta membran mukosa.

Rasional: pembedahan meliputi reseksi parsial dari lidah, platum lunak, dan faring.
Pasien akan mengalami penurunan sensasi dan gerakan lidah, dengan kesulitan menelan
dan peningkatan resiko aspirasi sekresi, serta potensial hemoragi.
3. Hisapan rongga oral secara perlahan atau sering.
Rasional: saliva mengandung enzim pencernaan yang mungkin bersifat erosif pada
jaringan yang terpajan.
4. Tunjukkan pasien bagaimana menyikat bagian dalam mulut, platum, lidah dan geligi
dengan sering.
Rasional menurunkan bakteri dan resiko infeksi, meningkatkan penyembuhan jaringan
dan kenyamanan.
5. Berikan pelumas pada bibir; berikan irigasi oral sesuai indikasi.
Rasional mengatasi efek kekeringan dari tindakan terapeutik; menghilangkan sifat erosif
dari sekresi.
V.

Nyeri akut berhubungan dengan insisi bedah, pembengkakan jaringan,adanya selang


nasogastrik atau orogastrik.

Kriteria hasil : klien mengatakan nyeri hilang, tidak gelisah, rileks dan ekpresi wajah ceria.
Rencana tindakan :
1. Sokong kepala dan leher dengan bantal.Tunjukkan pada pasienbagaimana menyokong
leher selama aktivitas.
Rasional kelemahan otot diakibatkan oleh reseksi otot dan saraf pada struktur leher dan
atau bahu.
2. Dorong pasien untuk mengeluarkan saliva atau penghisap mulut dengan hati-hati bila
tidak mampu menelan.
Rasional menelan menyebabkan aktivitas otot yang dapat menimbulkan nyeri karena
edema atau regangan jahitan.
3. Selidiki perubahan karakteristik nyeri, periksa mulut, jahitan tenggorok untuk trauma
baru.
Rasional dapat menunjukkan terjadinya komplikasi yang memerlukan evaluasi lanjut atau
intervensi..

4. Catat indikator non verbal dan respon automatik terhadap nyeri.


Rasional alat menentukan adanya nyeri dan keefektifan obat.
5. Anjurkan penggunaan perilaku manajemen stres.
Rasional: meningkatkan rasa sehat, dapat menurunkan kebutuhan analgesik dan
meningkatkan penyembuhan.
6. Kolaborasi dengan pemberian analgesik, contoh codein, ASA, dan Darvon sesuai
indikasi.
Rasional: derajat nyeri sehubungan dengan luas dan dampak psikologi pembedahan
sesuai dengan kondisi tubuh.Diharapkan dapat menurunkan atau menghilangkan nyeri.

VI.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan jenis
masukan makanan sementara atau permanen, gangguan mekanisme umpan balik
keinginan makan, rasa, dan bau karena perubahan pembedahan atau struktur, radiasi atau
kemoterapi.

Kriteria hasil : Membuat pilihan diit untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dalam situasi individu,
menunjukkan peningkatan BB dan penyembuhan jaringan atau insisi sesuai waktunya.
Rencana tindakan :
1. Auskultasi bunyi usus.
Rasional makan dimulai hanya setelah bunyi usus membik setelah operasi.
2. Pertahankan selang makan, contoh periksa letak selang : dengan mendorongkan air
hangat sesuai indikasi.
Rasional selang dimasukan pada pembedahan dan biasanya dijahit. Awalnya selang
digabungkan dengan penghisap untuk menurunkan mual dan muntah. Dorongan air untuk
mempertahankan kepatenan selang.
3. Ajarkan pasien atau orang terdekat teknik makan sendiri, contoh ujung spuit, kantong dan
metode corong, menghancurkan makanan bila pasien akan pulang dengan selang
makanan. Yakinkan pasien dan orang terdekat mampu melakukan prosedur ini sebelum
pulang dan bahwa makanan tepat dan alat tersedia di rumah.

Rasional: membantu meningkatkan keberhasilan nutrisi dan mempertahankan martabat


orang dewasa yang saat ini terpaksa tergantung pada orang lain untuk kebutuhan sangat
mendasar pada penyediaan makanan.
4. Mulai dengan makanan kecil dan tingkatkan sesuai dengan toleransi.
Rasional kandungan makanan dapat mengakibatkab ketidaktoleransian GI.
5. Berikan diet nutrisi seimbang
Rasional macam-macam jenis makanan dapat dibuat untuk tambahan atau batasan faktor
tertentu, seperti lemak dan gula atau memberikan makanan yang disediakan pasien.

VII.

Gangguan citra diri berhubungan dengan kehilangan suara,perubahan anatomi wajah dan
leher.

Kriteria hasil : menunjukkan adaptasi awal terhadap perubahan tubuh sebagai bukti dengan
partisipasi aktivitas perawatan diri dan interaksi positip dengan orang lain.
Rencana tindakan :
1. Diskusikan arti kehilangan atau perubahan dengan pasien, identifikasi persepsi situasi
atau harapan yang akan datang.
Rasional alat dalam mengidentifikasi atau mengartikan masalah untuk memfokuskan
perhatian dan intervensi secara konstruktif.
2. Catat bahasa tubuh non verbal, perilaku negatif atau bicara sendiri.
Rasional dapat menunjukkan depresi atau keputusasaan,
3. Catat reaksi emosi, contoh kehilangan, depresi, marah.
Rasional pasien dapat mengalami depresi cepat setelah pembedahan atau reaksi syok dan
menyangkal.
4. Susun batasan pada perilaku maladaptif, bantu pasien untuk mengidentifikasi perilaku
positip yang akan membaik.
Rasional penolakan dapat mengakibatkan penurunan harga diri dan mempengaruhi
penerimaan gambaran diri yang baru.
5. Kolaboratif dengan merujuk pasien atau orang terdekat ke sumber pendukung, contoh
ahli terapi psikologis, pekerja sosial, konseling keluarga.

Rasional pendekatan menyeluruh diperlukan untuk membantu pasien menghadapi


rehabilitasi dan kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA
Sylvia A.price Lorraine M.wilson, Patofisiologi Edisi 6 Volume 2, Konsep Klinis Prores-Prores
Penyakit
Guyton, Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit, Edisi Revisi
Tarwoto, Ns, S.Kep,M.Kep.dkk, Keperawatan Medikal Bedah, Gangguan sistem Endokrin
Hotma Rumahorbo, Skp. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Endokrin. 1999,
Jakarta : EGC
Smeltzer, Suzzanne C.2001.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth, Edisi
8 Vol 1.Jakarta: EGC.
Rumahorbor,

Hotma.1999.

Asuhan

Keperawatan

Klien

dengan

Gangguan

Sistem

Endokrin.Jakarta:EGC.
Doengoes,ME.2000.Asuhan Keperawatan Edisi 3.Jakarta: EGC
Hudak & Gallo.2001.Keperawatan Kritis, Edisi VI,Vol I, Jakarta: EGC
Kowalak-Welsh-Mayer, Buku Ajar Patofisiologi, 2011, Jakarta :EGC
Kimberly A. J. Bilotta, Kapita Selekta Penyakit dengan Implikasi Keperawatan, Edisi 2, 2012,
Jakarta : EGC

33