Anda di halaman 1dari 4

I.

Dasar teori
Abu adalah zat anorganik sisa hasil pembakaran suatu bahan organic. Kandungan
komposisinya tergantung pada macam bahan dan cara pengabuannya.
Jumlah abu yang terdapat pada berbagai makanan:
Macam Bahan
%Abu
Milk
0,1-1,0
Milk kering tidak berlemak
1,5
Buah-buahan segar
0,2-0,8
Buah-buahan yang dikeringkan
3,5
Biji kacang-kacangan
1,5-2,5
Daging segar
1
Daging yang dikeringkan
1,2
Daging ikan segar
1-2
Gula, madu
0,5
Sayur-sayuran
1
Kadar abu ada hubungannya dengan kadar mineral suatu bahan, hal ini dapat dibagi
menjadi dua macam garam yaitu: garam organic dan garam anorganik. Yangtermasuk
garam organic misalnya garam asam mollat, oksalat asetat, pektat, sedangkan garam
anorganik antara lain dalam bentuk garam pasfot, karbonat, clorida, sulfat, dan nitrat
Bahan yang mempunyai kadar air tinggi sebelum pengabuan harus dikeringkan
terlebih dahulu. Bahan yang mempunyai kandungan bahan yang mudah menguap dan
berlemak banyak pengbuan dilakukan dengan suhu mula-mula rendah sampai asam hilang
kemudian dinaikan suhunya sesuai dengan yang dikehendaki. Sedangkan untuk bahan yang
membutuhkan waktu dipanaskan harus dikeringkan dahulu dlam oven dan ditmbahkan zat
inti buih misallnya olive atau paraffin.
Ada beberapa cara dalam penentuan kadar abu dalam suatu bahan diantaranya:
a. Penentuan kadar abu secara langsung (cara kering)
Dengan cara mengoksidasikan semua zat organic pada suhu tinggi sekitar 500-600 o
selanjutnya melakukan penimbangan zat yang tertinggal setelah proses pembakaran.
b. Penentuan kadar abu secara tidak langsung (cara basah)
Prinsipnya memberikan ragam kimia tertentu kedalam bahan sebelum dilakukan
pengabuan. Bahan-bahan yang biasa digunakan yaitu
1) Asam sulfat berfungsi untuk mempercepat reaksi ooksidasi
2) Campuran asam sulfat dan potassium sulfat berfungsi untuk mempercepat
dekomposisi sampel
3) Campuaran asam sulfat dan asam nitrat digunakan untuk mempercepat proses
pengabuan
4) Penggunakan asam perkhlorat dan asam nitrat digunakan untuk bahan yang
sangat sulit mengalami oksidasi (dapat mempercepat proses pengabuan).
(Budianto, 2009:90-92)
Biji kopi beras mengandung protein, minyak aromatic, dan asam-asam organic.
Komposisinya dalam bahan tergantung dari jenis, daerah, macam, dan ringgi lahan

penanaman serta cara penanaman. Secara umum kopi mengandung air, gula, lemak,
selulosa, kafein, dan abu.
Komposisi kimia kopi beras:
Komposisi
Kandungan (%)
Air
11,23
Kafein
1,21
Lemak
12,27
Gula
8,55
Selulosa
18,87
Nitrogen
12,07
Bahan bukan N
32,58
Abu
3,92
Senyawa terpenting yang terdapat dalam kopi adalah kafein, walaupun
kandungannya sedikit sekali yaitu hanya 1,21%. Kapein berfungsi segagai senyawa
perangsang yang bersifat bukan alcohol, rasanya pahit, dan dapat digunakan sebagai obatobatan. (Tien, 2010: 253)
Abu tidak larut asam digunakan untuk mengukur kontaminasi permukaan sayuran
dan buah serta proses pencucian gandum sebelum penggilingan. Kontaminasi tersebut
umumnya berupa silikat. (Herawati, 85)

II.

Alat dan Bahan


Alat:
a. Cawan krus
b. Tanur
c. Tang krus
d. Desikator
e. Loyang
f. Timbangan
g. Oven
h. Kertas Saring
i. Corong
j. Gelas Kimia

Bahan:
a) Serbuk kopi
b) HCl 10%

III.

Prosedur Kerja
A. Penetapan kadar abu total

oven krus pada


suhu 105o
selama 30 menit

angkat dan
dinginkan dalam
desikator 30
menit

timbang krus (A)

masukan sampel
dalam krus
tersebut

masukan dalam
tanur 6 jam
dengan suhu
400o,500o,600o

lalu timbang,
lakukan sampai
berat konstan

masukan dalam
oven dengan
suhu siatas
105o , dinginkan
dalam desikator

tibang dan catat


berat krus
+sampel

angkat dan
dinginkan
kembali dalam
desikator selama
30 menit

timbang sampai
berat konstan

B. Penetapan kadar abu tidak larut asam

abu hasil tanur


penetapan abu
total larutkan
dengan HCl encer

saring dengan
kertas saring
warthman

masukan kedalam
krus yang konstan,
masukan dalam
oven suhu 105 ooC

angkat dan
dinginkan dalam
desikator selama
30 menit, dan oven
sampai berat
konstan

masukan dalam
tanur selama 30
menit dengan suhu
400oo,500oo, dan 600oo
C

angkat dan
dinginkan dalam
desikator selama
30 menit sampai
berat konstan

hitung sebagai
kadar abu yang
tidak larut asam

Daftar Pustaka
Andarwulan, Nuri, dkk. (2009). Analisis Pangan. Jakarta: Dian Rakyat
Budinto,A K. (2009). Dasar-Dasar Ilmu Gizi. Malang: UMM Press
Muchtadi, Tien R, dkk. (2010). Ilmu Pengethuan Bahan Pangan. Bandung: Alfabeta CV