Anda di halaman 1dari 2

MEMBANGUN PERDAMAIAN DALAM HATI DAN PIKIRAN KITA

Dalam studi perdamaian, perdamaian dapat diapahami dalam dua pengertian.


Pertama, perdamaian adalah kondisi tidak adanya atau berkurangnya segala jenis
kekerasan. Kedua, perdamaian adalah transformasi konflik kreatif non-kekerasan.
Dari dua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa perdamaian adalah apa yang
kita miliki ketika transformasi konflik yang kreatif berlangsung secara tanpa
kekerasan dan meruapaka suatu proses kreatif tanpa kekerasan yang dialami dalam
transformasi suatu konflik. Kendati pun demikian, pengertian perdamaian tidak
berhenti di situ. Perdamaian bukan sekedar soal ketiadaan kekerasan atau pun
situasi yang anti kekerasan. Lebih jauh dari itu, perdamaian seharusnya
mengandung pengertian keadilan dan kemajuan. Perdamaian dunia tidak akan
dicapai bila tingkat penyebaran penyakit, ketidakadilan, kemiskinan, dan keadaan
putus harapan tidak diminimalisir. Perdamaian bukan soal penggunaan metode
kreatif non-kekerasan terhadap setiap bentuk kekerasan, tapi semestinya dapat
menciptakan sebuah situasi yang seimbang dan harmoni yang tidak berat sebelah
bagi pihak yang kuat tetapi sama-sama sederajat dan seimbang bagi semua pihak.
Sementara dari factor penyebab, pemahaman tradisional menyatakan perdamaian
akan tercipta ketika individu memiliki rasa kedamaian dalam dirinya sendiri,
memiliki kemampuan untuk mengontrol emosi dan pikiranhya agar tidak melakukan
tindakan yang merugikan orang lain serta bisa memicu terjadinya konflik kekerasn
secara terbuka. Perdamaian dalah konsep dan cara pandang yang memicu positif
baik terhadap dirinya sendiri maupun kepada orang lain. Absennya perdamaian
sesungguhnya tercermin dari kebijakan ekonomi, politik, financial yang tidak
berkeadilan. Kebijakan politik tidak memihak pada tegaknya keadilan dan
kedamaian. Tindakan kekuasaan politik dan kekuatan ekonomi cenderung
sewenang-wenang yang mewujud secara structural menjadi-jadi. Korupsi, kolusi,
nepotisme dan kesewenang-wenangan birokrasi yang masuk ke berbagai segi
kehidupan semakin melembaga. Data statistic mengenai perkembangan dan
pertumbuhan ekonomi selalu ditampilkan, seolah-olah nasib manusia hanya
bergantung pada angka-angka itu. Padahal dibalik data statistic itu terdapat
persoalan kemanusiaan yang rumit sebagai akibat dari kesenjangan dan
ketidakadilan.
Ciptakan perdamaian (akhit)
Dihadapan realitas-realitas demikian, menciptakan perdamaian merupakan tugas
mendesak. Perdamaian itu bukanlah suatu utopia, bukan juga cita-cita yang tidak
dapat dicapai, bukan mimpi yang tidak bisa direalisasikan. Perdamaian itu mungkin.
Karena itu, membangun perdamaian adalah kewaiban kita, tanggung jawab utama
kita. Damai itu tidak hanya diinginkan tapi diciptakan. Damai tidak hanya tindakan
simbolis, berhenti pada piagam atau kovenan, undang-undang. John F. Kennedy

mengatakan damai itu tidak hanya berhenti pada piagam atau kovenan. Ia
terletak pada hati dan pikiran semua orang. Jadi mari kita tidak meletakkan semua
harapan pada dokumen semata. Mari kita berjuang membangun perdamaian,
sebuah keinginan damai, hasrat bekerja bagi perdamaian dalam hati dan pikiran
semua masyarakat kita. Saya percaya kita bisa. Saya prcaya bahwa masalahmasalah menyangkut nasib manusia tidak berada diluar jangkauan manusia.
Membangun perdamaian melibatkan serangkaian pendekatan, proses, tingkatan
yang diperlukan untuk transformasi berkelanjutan, relasi yang penuh damai, dan
bentuk struktur ketata pemerintahan. Menciptakan perdamaian termasuk
membangun hokum yang adil dan pemerintahan yang efektif. Singkatnya,
membangun perdamaian memerlukan transformasi relasional dan structural,
sampai pada tingkatan memahami apa yang disebut perdamaian itu sendiri
sehingga muncul dalam hati menjadi satu pemahaman yang rasional.
Fethullah Gulen Hoca Efendi merupakan pemikir terkemuka islam yang memberikan
kontribusi besar dalam mewujudkan perdamaian umat manusia melalui gagasan
pem iwujudkan perdamaian dunia, lintas budaya, maupun etnis.