Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

THALASEMIA
STASE KEPERAWATAN ANAK
RUMAH SAKIT SAIFUL ANWAR MALANG

DI SUSUN OLEH:
Candra widia w
201410461011002

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2015

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

LEMBAR PENGESAHAN
Nama

: candra widia w

N I M: 201410461011002

Telah disahkan sebagai salah satu tugas praktik Program


Profesi Ners Departemen Keperawatan Anak di Rumah Sakit Saiful Anwar
- Malang
Malang,

2014

Mahasiswa

( candra widia w )

Mengetahui,
Pembimbing Klinik/Lahan

Pembimbing Akademik

()
()

LAPORAN PENDAHULUAN
THALASEMIA
1. Definisi
Thalasemia adalah suatu kelompok anemia hemolitik kongenital
herediter

yang

diturunkan

secara

autosomal,

disebabkan

oleh

kekurangan sintesis rantai polipeptid yang menyusun molekul globin


dalam hemoglobin.
Thalasemia adalah suatu gangguan darah yang diturunkan ditandai
oleh penurunan pada haemoglobin (suryadi, 2001)
2. Etiologi
Thalasemia terjadi akibat ketidakmampuan

sumsum

tulang

membentuk protein yang dibutuhkan untuk memproduksi hemoglobin


sebagaimana mestinya. Hemoglobin merupakan protein kaya zat besi
yang berada di dalam sel darah merah dan berfungsi sangat penting
untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh bagian tubuh
yang membutuhkannya sebagai energi. Apabila produksi hemoglobin
berkurang atau tidak ada, maka pasokan energi yang dibutuhkan untuk
menjalankan fungsi tubuh tidak dapat terpenuhi, sehingga fungsi tubuh
pun terganggu dan tidak mampu lagi menjalankan aktivitasnya secara
normal. Thalasemia adalah sekelompok penyakit keturunan yang
merupakan akibat dari ketidakseimbangan pembuatan salah satu dari
keempat rantai asam amino yang membentuk hemoglobin. Thalasemia
adalah penyakit yang sifatnya diturunkan. Penyakit ini, merupakan
penyakit kelainan pembentukan sel darah merah.
Adapun etiologi dari thalasemia adalah faktor genetik (herediter).
Thalasemia merupakan penyakit anemia hemolitik dimana terjadi
kerusakan sel darah merah didalam pembuluh darah sehingga umur

eritrosit menjadi pendek(kurang dari 100 hari). Penyebab kerusakan


tersebut karena hemoglobin yang tidak normal (hemoglobinopatia) dan
kelainan hemoglobin ini karena adanya gangguan pembentukan yang
disebabkan oleh :
a. Gangguan struktur pembentukan hemoglobin (hb abnormal)
b. Gangguan jumlah (salah satu atau beberapa) rantai globin seperti
pada Thalasemia)
Penyebab Thalasemia mayor.
Thalasemia mayor terjadi apabila gen yang cacat diwarisi oleh
kedua

orang

tua.

Jika

bapa

atau

ibu

merupakan

pembawa

thalasemia,mereka boleh menurunkan thalasemia kepada anak-anak


mereka. Jika kedua orang tua membawa ciri tersebut maka anak-anak
mereka mungkin pembawa atau mereka akan mnderita penyakit
tersebut.
3. Tanda Dan Gejala
Gejala Klinis Thalasemia mayor, gejala klinik telah terlihat sejak
anak baru berumur kurang dari 1 tahun, yaitu:
a.
b.
c.
d.
e.

Lemah
Pucat
Perkembangan fisik tidak sesuai dengan umur
Berat badan kurang
Tidak dapat hidup tanpa transfusi
Thalasemia intermedia : ditandai oleh anemia mikrositik, bentuk

heterozigot..

Thalasemia

minor/thalasemia

trait

ditandai

oleh

splenomegali, anemia berat, bentuk homozigot. Pada anak yang besar


sering dijumpai adanya:
a. Gizi buruk
b. Perut buncit karena pembesaran limpa dan hati yang mudah diraba
c. Aktivitas tidak aktif karena pembesaran limpa dan hati
(Hepatomegali ), Limpa yang besar ini mudah ruptur karena trauma
ringan saja.

Gejala khas adalah:


a. Bentuk muka mongoloid yaitu hidung pesek, tanpa pangkal hidung,
jarak antara kedua mata lebar dan tulang dahi juga lebar.
b. Keadaan kuning pucat pada kulit, jika sering ditransfusi, kulitnya
menjadi kelabu karena penimbunan besi.
4. Patofisiologi
Molekul globin terdiri atas sepasang rantai dan sepasang rantai lain
yang menentukan jenis Hb. Pada orang normal terdapat 3 jenis Hb,
yaitu Hb A (merupakan > 96% dari Hb total, tersusun dari 2 rantai
dan 2 rantai Hb dan HbA2.Kelainan produksi dapat terjadi pada ranta
thalassemia,

rantai

thalassemia

rantai

thalassemia,

thalassemia,

maupun

kombinasi

kelainan

rantai

dan

rantai
rantai

thalassemia. Pada thalassemia, kekurangan produksi rantai beta


menyebabkan kekurangan pembentukan (Hb A); kelebihan rantai akan
berikatan dengan rantai yang secara kompensatoir Hb F meningkat;
sisanya dalam jumlah besar diendapkan pada membran eritrosit
sebagai Heinz bodies dengan akibat eritrosit mudah rusak (ineffective
erythropoesis).

5. Manifestasi Klinis
a. Kelesuan
b. Bibir, lidah, tangan, kaki berwarna pucat mulanya tidak jelas,
biasanya menjadi lebih berat dalam tahun pertama kehidupan dan
pada kasus yang berat terjadi dalam beberapa minggu setelah lahir.
c. Sesak nafas
d. Hilang selera makan dan bengkak dibagian abdomen
Pada thalasemia mayor gejala klinik telah terlihat sejak umur
kurang

dari

tahun

gejalah

yang

tampak

adalah

anak

lemah,pucat,perkembangan fisik tidak sesuai dengan umur,berat


badan kurang. Pada anak yang besar sering dijumpai adanya gisi
buruk,perut membuncit,karena adanya pembesaran limfa dan hati.

Adanya pembesaran limfa dan hati mempengharui gerak sipasien


karena

kemampuan

terbatas.

Limfa

yang

besar

akan

mudah

ruptur.gejalah ini adalah bentuk muka yang mongoloid dan hidung


pesek tanpa pangkal hidung,jarak antara kedua mata lebar dan tulang
dahi

juga

lebar,hal

ini

disebabkan

karena

adanya

gangguan

perkembangan ketulang muka dan tengkorak.


Keadaan kulit pucat kekuning-kuningan jika pasien telah sering
dapat

tranfusi

darah,kulit

menjadi

kelabu

seperti

besi

akibat

penimbunan besi dalam kuli, seperti pada jaringan tubuh yaitu


limfa,hati,jantun sehingga menyebabkan gangguan pada alat-alat
tersebut (hemokromatosis)
6. Komplikasi
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Fraktur patologis
Hepatosplenomegali
Gangguan Tumbuh Kembang
Disfungsi organ
Gagal jantung
Hemosiderosis
Hemokromatosis
Infeksi

6. Pemeriksaan Penunjang
1. Darah tepi :
a. Hb rendah dapat sampai 2-3 g%
b. Gambaran morfologi eritrosit : mikrositik hipokromik, sel target,
anisositosis

berat

dengan

makroovalositosis,

mikrosferosit,

polikromasi, basophilic stippling, benda Howell-Jolly, poikilositosis


dan sel target. Gambaran ini lebih kurang khas.
c. Retikulosit meningkat.
2. Sumsum tulang (tidak menentukan diagnosis) :
a. Hiperplasi sistem eritropoesis dengan normoblas terbanyak dari
jenis asidofil.
b. Granula Fe (dengan pengecatan Prussian biru) meningkat.
3. Pemeriksaan khusus :Hb F meningkat : 20%-90% Hb total

a. Elektroforesis Hb : hemoglobinopati lain dan mengukur kadar Hb


F.
b. Pemeriksaan pedigree: kedua orangtua pasien thalassemia mayor
merupakan trait (carrier) dengan Hb A2 meningkat (> 3,5% dari
Hb total).
4. Pemeriksaan lain :
a. Foto Ro tulang kepala : gambaran hair on end, korteks menipis,
diploe melebar dengan trabekula tegak lurus pada korteks.
b. Foto tulang pipih dan ujung tulang panjang : perluasan sumsum
tulang sehingga trabekula tampak jelas.

Pathways Thalasemia
Pernikahan
penderita
thalasemia carier

Penurunan penyakit
secara autosomal
resesif
Pembentukan rantai
dan diretikulo tidak
seimbang

Talasemia

Membentuk
inklosion bodies
Menempel pada
dinding eritrosit

Rantai kurang
dibentuk dibanding

- Rantai tidak
dibentuk sama
Talasemia
sekali
- Rantai g dibentuk
Tidak terbentuk Hb A

Gangguan sintesis
rantai globulin
dan
Rantai kurang
terbentuk dari
pada rantai

Gangguan
pembentukan rantai
dan
-

Pembentukan
rantai dan
Penimbunan dan
pengendapan
rantai dan

HH

Hemolisis

Anemia

Eritropoesis
darah yang tidak
efektif dan
penghancuran
precursor
eritrosit dan
intramedula
Sintesis Hb
eritrosit
Deformitas tulang
dan
- hipokrom
Perubahan
bentuk
mikrositer
wajah
-

Penonjolan tulang
tengkorak
Pertumbuhan pada
tulang maksila
- Perasaan
Terjadi face
coley
berbeda
dengan orang lain
Gambaran diri
negative
Gangguan citra
diri
Terjadi hemapoesis
di ekstramedulla
Hemokromate
sis
Fibrosis

liver
Hepatomeg
ali
menekan
diafragma
Ekspansi paru-paru
terganggu
Usaha nafas
meningkat

O2 darah dan produksi


RBC
Aliran darah ke organ
vital dan jaringan

Kompensasi
tubuh
membentuk
eritrosit oleh
Hiperplasi
sumsum tulang
Ekspansi massif
sumsum tulang
dan kranium
Tubuh merespon
dengan
pembentukan
eritropoetin
Masuk ke

O2 dan nutrisi
ditransport tidak
adekuat
Ketidakefektifan
perfusi jaringan
Suplai 02/Na ke
Hipoksiajaringan
jaringan
Metabolisme
sel

sirkulasi
Merangsang
eritropoesis

Pertumbuhan sel
dan otak
terhambat
Keterlambatan

Pembentukan RBC
baru yang
immature dan
mudahperlu
lisis
HB

pertumbuhan
dan
perkembangan
Perubahan
pembentukan
ATP
Energy yang
dihasilkan
Kelemahan fisik

tranfusi
Terjadi
peningkatan FE
Hemosideros
is
Pigmentasi kulit
(coklat
kehitaman)
Kerusakan integritas
kulit
jantung
Payah
jantung
Imunitas
menurun
Resiko

Intoleransi
aktivitas

limfa

Paru paru

splenomegali

Frekuensi
nafas
Ketidakefekt
ifan pola

plenokromi

7. Penatalaksanaan

Medikamentosa
a. Pemberian iron chelating agent (desferoxamine): diberikan setelah
kadar feritin serum sudah mencapai 1000 g/l atau saturasi
transferin lebih 50%, atau sekitar 10-20 kali transfusi darah.
b. Desferoxamine, dosis 25-50 mg/kg berat badan/hari subkutan
melalui pompa infus dalam waktu 8-12 jam dengan minimal selama
5 hari berturut setiap selesai transfusi darah.
c. Vitamin C 100-250 mg/hari selama pemberian kelasi besi, untuk
meningkatkan efek kelasi besi
d. Asam folat 2-5 mg/hari untuk

memenuhi

kebutuhan

yang

meningkat.
e. Vitamin E 200-400 IU setiap hari sebagai antioksidan dapat

memperpanjang umur sel darah merah.


Prosedur Pembedahan
Splenektomi, dengan indikasi:
a. limpa yang terlalu besar, sehingga membatasi gerak penderita,
menimbulkan peningkatan

tekanan intraabdominal dan bahaya

terjadinya ruptur
b. hipersplenisme ditandai dengan peningkatan kebutuhan transfusi
darah atau kebutuhan suspensi eritrosit (PRC) melebihi 250 ml/kg

berat badan dalam satu tahun.


Suportif
Transfusi darah :
a. Hb penderita dipertahankan antara 8 g/dl sampai 9,5 g/dl. Dengan
kedaan ini akan memberikan supresi sumsum tualang yang adekuat,
menurunkan tingkat akumulasi besi, dan dapat mempertahankan
pertumbuhan dan perkembangan penderita.
b. Pemberian darah dalam bentuk PRC (packed red cell), 3 ml/kg BB

untuk setiap kenaikan Hb 1 g/dl.


Terapi

a.

Pemeriksaan kadar feritin setiap 1-3 bulan, karena kecenderungan


kelebihan besi sebagai akibat

b.

absorbsi besi meningkat

dan

transfusi darah berulang.


Efek samping kelasi besi yang dipantau: demam, sakit perut, sakit
kepala, gatal, sukar bernapas. Bila hal ini terjadi kelasi besi

dihentikan.
Tumbuh Kembang
Anemia kronis memberikan dampak pada proses tumbuh kembang,
karenanya diperlukan perhatian dan pemantauan tumbuh kembang
penderita.

Gangguan jantung, hepar dan endokrin


Anemia kronis dan kelebihan zat besi dapat menimbulkan gangguan
fungsi jantung (gagal jantung), hepar (gagal hepar), gangguan endokrin
(diabetes melitus, hipoparatiroid) dan fraktur patologis.

9. Pengkajian
1. Asal Keturunan / Kewarganegaraan
Thalasemia banyak dijumpai pada bangsa di sekitar laut Tengah
(Mediteranial)

seperti

Turki,

Yunani,

dll.

Di

Indonesia

sendiri,

thalasemia cukup banyak dijumpai pada anak, bahkan merupakan


penyakit darah yang paling banyak diderita.
2. Umur
Pada penderita thalasemia mayor yang gejala klinisnya jelas, gejala
telah terlihat sejak anak berumur kurang dari 1 tahun, sedangkan pada
thalasemia minor biasanya anak akan dibawa ke RS setelah usia 4
tahun.
3. Riwayat Kesehatan Anak
Anak cenderung mudah terkena infeksi saluran pernapasan atas
atau infeksi lainnya. Ini dikarenakan rendahnya Hb yang berfungsi
sebagai alat transport.
4. Pertumbuhan dan Perkembangan

Sering didapatkan data adanya kecenderungan gangguan terhadap


tumbang

sejak

masih

bayi.

Terutama

untuk

thalasemia

mayor,

pertumbuhan fisik anak, adalah kecil untuk umurnya dan adanya


keterlambatan
pertumbuhan

dalam
ramput

kematangan
pupis

dan

seksual,
ketiak,

seperti

tidak

ada

kecerdasan

anak

juga

mengalami penurunan. Namun pada jenis thalasemia minor, sering


terlihat pertumbuhan dan perkembangan anak normal.
5. Pola Makan
Terjadi anoreksia sehingga anak sering susah makan, sehingga BB
rendah dan tidak sesuai usia.
6. Pola Aktivitas
Anak terlihat lemah dan tidak selincah anak seusianya. Anak lebih
banyak tidur/istirahat karena anak mudah lelah.
7. Riwayat Kesehatan Keluarga
Thalasemia merupakan penyakit kongenital, jadi perlu diperiksa
apakah orang tua juga mempunyai gen thalasemia. Jika iya, maka anak
beresiko terkena talasemia mayor.
8. Riwayat Ibu Saat Hamil (Ante natal Core ANC)
Selama masa kehamilan, hendaknya perlu dikaji secara mendalam
adanya faktor resiko talasemia. Apabila diduga ada faktor resiko, maka
ibu perlu diberitahukan resiko yang mungkin sering dialami oleh anak
setelah lahir.
9. Data Keadaan Fisik Anak Thalasemia
a. KU = lemah dan kurang bergairah, tidak selincah anak lain yang
seusia.
b. Kepala

dan

bentuk

muka.

Anak

yang

belum

mendapatkan

pengobatan mempunyai bentuk khas, yaitu kepala membesar dan


muka mongoloid (hidung pesek tanpa pangkal hidung), jarak mata
lebar, tulang dahi terlihat lebar.
c. Mata dan konjungtiva pucat dan kekuningan
d. Mulut dan bibir terlihat kehitaman

e. Dada, Pada inspeksi terlihat dada kiri menonjol karena adanya


pembesaran jantung dan disebabkan oleh anemia kronik.
f. Perut, Terlihat pucat, dipalpasi ada pembesaran limpa dan hati
(hepatospek nomegali).
g. Pertumbuhan fisiknya lebih kecil daripada normal sesuai usia, BB di
bawah normal
h. Pertumbuhan organ seks sekunder untuk anak pada usia pubertas
tidak tercapai dengan baik. Misal tidak tumbuh rambut ketiak,
pubis ataupun kumis bahkan mungkin anak tidak dapat mencapai
tapa odolense karena adanya anemia kronik.
i. Kulit, Warna kulit pucat kekuningan, jika anak telah sering
mendapat transfusi warna kulit akan menjadi kelabu seperti besi.
Hal ini terjadi karena adanya penumpukan zat besi dalam jaringan
kulit (hemosiderosis).
10. Diagnosa Keperawatan
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b/d penurunan Hb darah


Intoleransi Aktivitas b/d kelemahan
Gangguan citra tubuh b/d
Kurang Pengetahuan b/d kurangnya informasi mengenai penyakit
Resiko infeksi b/d agen cidera biologis
Ketidakefektifan pola nafas b/d ekspansi paru

INTERVENSI
No
1

Diagnosa
Keperawatan

Tujuan dan Kriteria


Hasil

Intervensi

Resiko Infeksi

NOC

NIC :

Dengan faktorfaktor resiko :

Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatn
risiko
infeksi
terkontrol
dengan
kriteria hasil :

Infection Control (Kontrol infeksi)

Prosedur Infasif
Ketidakcukupan
pengetahuan
untuk
menghindari
paparan
patogen
Trauma
Kerusakan
jaringan dan
peningkatan
paparan
lingkungan
Ruptur
membran
amnion
Agen farmasi
(imunosupresa
n)
Malnutrisi
Peningkatan
paparan
lingkungan
patogen
Imonusupresi

Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien


lain
Pertahankan teknik isolasi

Klien bebas dari Batasi pengunjung bila perlu


tanda dan gejala Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci
tangan saat berkunjung dan setelah berkunjung
infeksi
meninggalkan pasien
1 2345
Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan
Menunjukkan
Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan
kemampuan untuk
kperawtan
mencegah
Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung
timbulnya infeksi
Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan
1 2345
alat
Jumlah
leukosit Ganti letak IV perifer dan line central dan dressing
sesuai dengan petunjuk umum
dalam
batas

Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan


normal
infeksi kandung kencing
1 2345

Tingktkan intake nutrisi


Menunjukkan
perilaku
hidup Berikan terapi antibiotik bila perlu
sehat
1 2 3 4 5 Infection Protection (proteksi terhadap infeksi)
Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal

N
o
2

Ketidakadekuat
an imum
buatan
Tidak adekuat
pertahanan
sekunder
(penurunan Hb,
Leukopenia,
penekanan
respon
inflamasi)
Tidak adekuat
pertahanan
tubuh primer
(kulit tidak
utuh, trauma
jaringan,
penurunan
kerja silia,
cairan tubuh
statis,
perubahan
sekresi pH,
perubahan
peristaltik)
Penyakit kronik

Diagnosa
Keperawatan
Kurang
pengetahuan b/d
-

keterbatasan
kognitif

Monitor hitung granulosit, WBC


Monitor kerentanan terhadap infeksi
Batasi pengunjung
Saring pengunjung terhadap penyakit menular
Partahankan teknik aspesis pada pasien yang beresiko
Pertahankan teknik isolasi k/p
Berikan perawatan kuliat pada area epidema
Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap
kemerahan, panas, drainase
Ispeksi kondisi luka / insisi bedah
Dorong masukkan nutrisi yang cukup
Dorong masukan cairan
Dorong istirahat
Instruksikan pasien untuk minum antibiotik sesuai resep
Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
Ajarkan cara menghindari infeksi
Laporkan kecurigaan infeksi
Laporkan kultur positif

Tujuan dan Kriteria Hasil


NOC :
Setelah
tindakan
klien

Intervensi
Mengajarkan proses penyakitnya :

dilakukan
keperawatan
mengetahui

Kaji tingkat
penyakitnya

pengetahuan

pasien

tentang

interpretasi
terhadap
informasi yang
salah
kurangnya
keinginan untuk
mencari
informasi
tidak mengetahui
sumber-sumber
informasi.

tentang
penyakitnya :

proses

Klien
familier
dengan
nama
penyakitnya
1 2345
Klien
dapat
mendeskripsikan
proses
penyakitnya
1 2345
Klien
dapat
mendeskripsikan
faktor
penyebab
dari penyakitnya
1 2345
Klien
dapat
mendeskripsikan
faktor risiko
1 2345
Klien
dapat
mendeskripsikan
efek samping dari
penyakitnya
1 2345
Klien
dapat
mendeskripsikan
tanda dan gejala
1 2345
Klien
dapat

Jelaskan patofisiologi penyakitnya dan bagaimana


hubungannya dengan anatomi dan fisiologinya
Deskripsikan tanda dan gejala dari penyakitnya
Jelaskan pada pasien bagaimana mengelola
gejala ytang timbul
Deskripsikan proses penyakitnya
Identifikasi faktor penyebab penyakitnya
Jelaskan tentang kondisi penyakit pasien saat ini
Diskusikan gaya hidup yang harus dirubah untuk
mencegah
komplikasi
atau
kekambuhan
penyakitnya
Diskusikan rencana terapi yang akan dijalani
pasien
Jelaskan komplikasi yang bisa muncul
Anjurkan pasien untuk mengontrol risiko
Anjurkan pasien segera ke pelayanan kesehatan
ketika muncul gejala yang sama

mendeskripsikank
omplikasi mungkin
terjadi
1 2345

Ketidakefektifan
Perfusi jaringan
perifer b/d :
-

Hipovolemia
Hipervolemi
a
Aliran arteri
terputus
Exchange
problems
Aliran vena
terputus
Hipoventilasi
Reduksi
mekanik
pada vena
dan atau
aliran darah
arteri

Klien
dapat
mendeskripsikan
cara
pencegahan
komplikasi
1 2345

NOC :
perfusi
jaringan:
perifer adekuat :

Capilary refil dbn (5)


Denyut nadi perifer
distal adekuat (5)
Denyut nadi perifer
proksimal adekuat (5)
sensasi normal(5)
warna kulit normal(5)
temperatur
ekstremitas hangat(5)
tidak terdapat edema
perifer(5)
tidak terdapat nyeri
pada ekstremitas(5)

NIC :
Peripheral Sensation Management (Manajemen
sensasi perifer)
Monitor adanya daerah tertentu yang hanya peka
terhadap panas/dingin/tajam/tumpul
Monitor adanya paretese
Instruksikan keluarga untuk mengobservasi kulit jika
ada lsi atau laserasi
Gunakan sarun tangan untuk proteksi
Batasi gerakan pada kepala, leher dan punggung
Monitor adanya tromboplebitis
Diskusikan menganai penyebab perubahan sensasi
Oxygen Therapy
Berikan oksigen sesuai kebutuhan pasien
Posisikan pasien semi fowler untuk memaksimalkan
pernapasan
Lakukan pengecekan secara periodic terhadap
terapi oksigen untuk menghindari terjadinya

Kerusakan
transport
oksigen
melalui
alveolar dan
atau
membran
kapiler
Tidak
sebanding
antara
ventilasi
dengan
aliran darah
Keracunan
enzim
Perubahan
afinitas/ikata
n O2 dengan
Hb
Penurunan
konsentrasi
Hb dalam
darah

keracunan oksigen
Monitor keefektifan pemberian terapi oksigen
(dengan pulse oksimetri)
Respiratory Monitoring
Monitor RR, irama, kedalaman pernapasan,
penggunaan otot bantu pernapasan
Monitor pola nafas : takipneu, bradipneu,
hiperventilasi, kussmaul, cheyne stoke, biots, apneu
Auskultasi bunyi nafas, catat adanya suara nafas
tambahan
Jaga kepatenan jalan nafas
Kaji volume tidal

DAFTAR PUSTAKA
Brooker, Chris. 2008. Ensiklopedia Keperawatan. Jakarta: EGC
Bulan, S. 2009. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup
anak thalasemia beta mayor. Melalui
eprints.undip.ac.id/24717/1/Sandra_Bulan.pdf [31/01/13].
Ganie, Ratna A. 2005. Thalasemia: permasalahan dan penangananya.
Melalui repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/.../08E00109.pdf
[29/03/12].
Mariani, Dini. 2011. Analisa faktor yang mempengaruhi kualitas hidup anak
thalasemia beta mayor di RSU kota Tasik Malaya dan Ciamis. Melalui
www.digilib.ui.ac.id/file?file=pdf/abstrak-20280658.pdf [31/01/13].
Furqonita, Deswaty .2006. Seri IPA Biologi. Jkarta: Quadra
Mehta, Atul B. 2008 . At a Glance Hematologi Edisi 2. Jakatra : Erlangga
Suriadi, dkk. 2010. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta : Cv. Sagung
Seto
Wahyuni, Masyitah S. 2010. Perbandingan kualitas hidup anak penderita
thalasemia dengan saudara penderita thalasemia yang normal. Melalui
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/.../Appendix.pdf [03/01/13].
Wong, Dona L .2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC
Yunanda, Yuki. 2008. Thalasemia. Melalui
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/.../08E00848.pdf [29/03/12].