Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan suatu bangsa memerlukan aspek pokok yang disebut dengan sumber
daya (resources) baik sumber daya alam (natural resources) maupun sumber daya
manusia (human resources). Kedua sumber daya ini sangat penting dalam menentukan
keberhasilan suatu pembangunan. Sejarah menunjukkan masyarakat bisa mencapai
kemakmuran karena berhasil memamfaatkan sumber daya yang dimiliki. Namun sumber
daya alam yang ada tersebut tidak sendirinya diolah oleh alam akan tetapi perlu adanya
sumber daya manusia, guna mengolah sumber daya alam tersebut. Keahlian dan
kewirausahaan dibutuhkan untuk mengolah bahan mentah dari alam, menjadi sesuatu
yang memiliki nilai lebih tinggi atau disebut juga sebagai proses produksi.
Sumber daya manusia adalah yang terpenting, karena jika sebuah negara memiliki
suatu SDM yang terampil dan berkualitas maka ia akan mampu mengolah SDA yang
jumlahnya terbatas. Sumber daya manusia atau biasa disingkat menjadi SDM adalah
potensi yang terkandung dalam diri manusia untuk mewujudkan perannya sebagai mahluk
sosial yang adaptif dan transformatif yang mampu mengelola dirinya sendiri serta seluruh
potensi yang terkandung di alam menuju tercapainya kesejahteraan kehidupan dalam
tatanan yang seimbang dan berkelanjutan.
Proses pembangunan ekonomi dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor ekonomi
dan faktor non ekonomi. Faktor ekonomi yang berpengaruh terhadap pembangunan
ekonomi adalah sumber daya alam, sumber daya manusia (tenaga kerja), akumulasi
modal serta tenaga managerial yang mengorganisasi dan mengatur faktor produksi. Faktor
ekonomi lain yang mendukung faktor-faktor produksi adalah kemajuan teknologi. Bagi
kebanyakan ahli ekonomi, kemajuan teknologi dianggap sebagai sumber yang paling
penting dan menentukan dalam proses pembangunan ekonomi.
Teknologi adalah bagaimana faktor-faktor produksi dikombinasikan untuk
merealisasikan tujuan-tujuan produksi. Sedangkan yang dimaksud dengan perubahan
teknologi adalah perubahan fungsi produksi dalam suatu Kegiatan tertentu, yang dapat
memperbesar hasil input tertentu. Yang menyebabkan bertambahnya produksi sama
1

dengan jumlah sumber dan produksi tetapi jumlah sumber lebih sedikit, sehingga
teknologi merupakan upaya menciptakan barang cara baru untuk menghasilkan barang
dan jasa.
Teknologi negara berkembang umumnya terbelakang, sedangkan teknologi negara
maju memperlihatkan perkembangan dan perubahan yang cepat dalam berbagai bidang.
Oleh karena itu, jurang perbedaan tingkat teknologi antara negara berkembang dan negara
maju cenderung semakin besar. Perbedaan tingkat teknologi tersebut dapat mempengaruhi
kemajuan pembangunan.
Tingkat perkembangan teknologi maju tentu disesuaikan dengan faktor produksi dan
dipengaruhi oleh pertimbangan yang ada. Di satu pihak akumulasi modal dan ilmu
pengetahuan terhimpun dalam jumlah yang banyak. Sebaliknya, tenaga kerja merupakan
faktor yang kurang, sehingga teknologi ditujukan sebagai upaya penciptaan cara produksi
yang menghemat tenaga manusia. Dapat dikatakan bahwa teknologi bertujuan
menggantikan tenaga manusia dengan barang modal.
Teknologi di negara maju dewasa ini merupakan kapital intensif yang membutuhkan
modal yang besar. Sebaliknya, di negara-negara berkembang umumnya dibutuhkan juga
kelebihan tenaga kerja, khususnya yang tingkat pendidikannya rendah. Pada hakikatnya
negara berkembang memerlukan jenis teknologi yang agak berlainan dengan negara
maju. Kalau negara berkembang meniru dan mengalihkan teknologi yang dipakai di
negara maju, hal ini akan membawa banyak persoalan, terutama karena teknologi tersebut
kurang bahkan tidak tepat guna.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang disampaikan pada paparan di atas, ada beberapa
permasaahan yang bisa diangkat.
1) Apa itu SDM, Teknologi, dan Ekonomi Pembangunan?
2) Bagaimana Peranan SDM dan Teknologi pada Ekonomi Pembangunan?
1.3 Tujuan Penulisan
Sesuai dengan latar belakang dan rumusan masalah yang disampaikan di atas, ada
beberapa tujuan yang ingin dicapai.
1) Mengetahui definisi dari SDM, Teknologi, dan Ekonomi Pembangunan.
2) Mengetahui seberapa Pentingnya SDM dan Teknologi pada Ekonomi
Pembangunan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengelompokan Teori

Untuk mengelompokkan teori-teori pertumbuhan dan pembangunan ekonomi secara


tepat dan sederhana bukanlah pekerjaan yang mudah. Banyak hal yang harus
dipertimbangkan misalnya "periode waktu" lahirnya teori tersebut atau "ide" dari teori
tersebut. Namun demikian, setelah memperhatikan beberapa kepustakaan yang membahas
tentang teori pembangunan, akhirnya dibuat klasifikasi seperti yang dibahas dalarn bab ini.
Tentunya tidak semua teori yang ada akan dibahas di sini mengingat buku ini hanya ditujukan
untuk tingkat pengantar saja.
A. MAZHAB HISTORISMUS
Mazhab Historismus ini melihat pembangunan ekonomi berdasarkan suatu pola
pendekatan yang berpangkal pada perspektif sejarah. Dalam alam pikiran mazhab ini
fenomena ekonomi adalah produk perkembangan menyeluruh dan dalam tahap tertentu dalam
perjalanan sejarah. Mazhab ini mendominasi pemikiran ekonomi di Jerman selama abad XIX
sampai awal XX.
A.1. FRIEDRICH LIST (Cara Produksi)
List dipandang sebagai pelopor yang meletakkan landasan bagi pertumbuhan
pemikiran ekonomi mazhab Historismus ini. Menurut List, sistem liberalisme yang laissezfaire dapat menjamin alokasi sumberdaya secara optimal. Perkembangan ekonomi
sebenarnya tergantung pada peranan pemerintah, organisasi swasta dan lingkungan
kebudayaan. Perkembangan ekonomi hanya akan terjadi, jika dalam masyarakat ada
kebebasan dalam organisasi politik dan kebebasan perorangan.
A.2. BRUNO HILDEBRAND (Cara Distribusi)
Pemikiran Hildebrand selalu menekankan evolusi dalam perekonomian masyarakat.
Sebagai kritiknya terhadap List, Hildebrand mengatakan bahwa perkembangan ekonomi
bukan didasarkan pada "cara produksi" ataupun "cara konsumsi", tetapi pada "cara
distribusi" yang digunakan. Oleh karena itu ia mengemukakan 3 sistem distribusi yaitu:
1. Perekonomian Barter (natura)
2. Perekonomian Uang

3. Perekonomian Kredit
A.3. KARL BUCHER (Produksi & Distribusi)
Pendapat Bucher merupakan sintesa dari pendapat List dan Hildebrand. Menurut
Bucher, perkembangan ekonomi melalui 3 tahap yaitu:
1. Produksi untuk kebutuhan sendiri (subsistem)
2. Perekonomian kota di mana pertukaran sudah meluas .
3. Perekonomian nasional di mana peran pedagang menjadi semakin penting.
A.4. W. W. ROSTOW
Teori pembangunan ekonomi dari Rostow ini sangat populer dan paling banyak
mendapatkan komentar dari para ahli. Teori ini pada mulanya merupakan artikel Rostow yang
dimuat dalam Economics Journal (Maret 1956) dan kemudian dikembangkannya lebih lanjut
dalam bukunya yang berjudul The Stages of Economic Growth (1960). Menurut
pengklasifikasian Todaro, teori Rostow ini dikelompokkan ke dalam model jenjang linear
(linear stages model).
Menurut Rostow, proses pembancunan ekonomi bisa dibedakan ke dalam 5 tahap :
1)

Masyarakat tradisional (the traditional society),

2)

Prasyarat untuk tinggal landas (the preconditions for take-off),

3)

Tinggal landas (the take-off),

4)

Menuju kekedewasaan (the drive to maturity), dan

5)

Masa konsumsi tinggi (the age of high mass-consumption.

MAZHAB ANALITIS
Teori-teori pembangunan ekonomi yang termasuk dalam mazhab ini berusaha
mengungkapkan proses pertumbuhan ekonomi secara logis dan taat-asas (konsisten), tetapi
4

sering bersifat abstrak dan kurang menekankan kepada aspek empiris (historis)nya.
Kecenderungan semacam ini tampak lebih jelas dalam teori-teori pertumbuhan "moderen".
B. TEORI KLASIK
1. ADAM SMITH (1723 - 1790)
Adam Smith ternyata bukan saja terkenal sebagai pelopor pembangunan ekonomi dan
kebijaksanaan laissez-faire, tetapi juga merupakan ekonom pertama yang banyak
menumpahkan perhatian kepada masalah pertumbuhan ekonomi. Dalam bukunya An Inquiry
into the Nature and Causes of the Wealth of Nations (1776) ia mengemukakan tentang proses
pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang secara sistematis.
Agar inti dari proses pertumbuhan ekonomi menurut Smith ini mudah dipahami, kita
bedakan dua aspek utama pertumbuhan ekonomi yaitu:
a. pertumbuhan output total
b. pertumbuhan penduduk
2. DAVID RICARDO (1772 - 1823)
Garis besar proses pertumbuhan dan kesimpulan-kesimpulan dari Ricardo tidak jauh
berbeda dengan teori Adam Smith. Tema dari proses pertumbuhan ekonomi masih pada
perpacuan antara laju pertumbuhan penduduk dan laju pertumbuhan output. Selain itu
Ricardo juga menganggap bahwa jumlah faktor produksi tanah (sumberdaya alam) tidak bisa
bertambah, sehingga akhirnya menjadi faktor pembatas dalam proses pertumbuhan suatu
masyarakat.

C. TEORI NEO KLASIK (SOLOW-SWAN)


Teori pertumbuhan ekonomi Neo Klasik berkembang sejak tahun 1950-an. Teori ini
berkembang berdasarkan analisis-analisis mengenai pertumbuhan ekonomi menurut
5

pandangan ekonomi Klasik. Ekonomi yang menjadi perintis dalam mengembangkan teori
tersebut adalah Robert Solow (Massachussets Institute of Technology) dan Trevor Swan (The
Australian National University). Solow ini memenangkan hadiah Nobel Ekonomi tahun 1987
atas karyanya tentang teori pertumbuhan ekonomi ini.
D. TEORI KEYNESIAN (HARROD-DOMAR)
Teori pertumbuhan Harrod-Domar ini dikembangkan oleh dua ekonom sesudah Keynes
yaitu Evsey Domar dan R. F. Harrod. Domar mengemukakan teorinya tersebut pertama kali
pada tahun 1947dalam jurnal American Economic Review, sedangkan Harrod telah
mengemukakannya padatahun 1939 dalam Economic Journal. Teori ini sebenarnya
dikembangkan oleh kedua ekonom secara send iri-sendiri, tetapi karena inti teori tersebut
sama, maka sekarang ini dikenal sebagai teori Harrod-Domar.
F. TEORI SCHUMPETER
Teori Schumpeter ini pertama kali dikemukakan dalam bukunya yang berbahasa
Jerman pada tahun 1911 yang dikemukakan pada tahun 1934 diterbitkan dalam bahasa
Inggris dengan judul The Theory of Economic Development. Kemudian Schumpeter
menggambarkan teorinya lebih lanjut tentang proses pembangunan dan faktor utama yang
menentukan pembangunan dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 1939 dengan judul
Business Cycle.
E. TEORI KETERGANTUNGAN (DEPEDENCIA)
Teori ketergantungan (dependencia) ini pertama kali dikembangkan di Amerika Latin
pada tahun 1960-an. Menurut para pengikut teori ini, keterbelakangan (underdeveloped)
negara-negara Amerika Latin terjadi pada saat masyarakat prakapitalis tersebut "tergabung"
(incorporated) ke dalam sistem ekonomi dunia kapitalis. Dengan demikian masyarakat
tersebut kehilangan otonominya dan menjadi daerah "pinggiran" dari daerah-daerah
metropolitan yang kapitalis.

G. TEORI PERTUMBUHAN ENDOGEN

Didalam negara berkembang seperti Indonesia tentunya membutuhkan pertumbuhan ekonomi


untuk menjadikan negara ini maju. Berikut ini akan dijelaskan tentang Teori Pertumbuhan
Baru : Pertumbuhan Endogen.
1. Tumbuhnya Model Pertumbuhan Baru
Pertumbuhan ekonomi baru melihat ketimpangan pendapatan antar negara, Selain itu
menjelaskan berbagai factor yang menentukan besar kecilnya tingkat pertumbuhan
GDP.
2. Skala Ekonomis Pada Pertumbuhan Endogen
a. Pertumbuhan endogen menolak sekali akan adanya penyusutan imbalan
marjinal, menurut pertumbuhan endogen bahwa memperluas investasi dapat
meningkatkan produktivitas agregrat suatu negara semakin besar, jadi pada
pertumbuhan endogen lebih menawarkan hasil dan keuntungan dari perluasan
investasi.
b. Pertumbuhan endogen selalu memperhatikan factor eksternal dan penentuan
tingkat hasil investasi permodalan.
c. Pertumbuhan endogen mempunyai kesamaan dengan Neoklasik terutama
dalam fungsi produksi aggregat,tetapi untuk pertumbuhan endogen tidak ada
penurunan skala hasil seperti model Solow.

3. Model Pertumbuhan Endogen

Untuk menggambarkan gagasan teori pertumbuhan endogen, kita mulai dengan fungsi
produksi sederhana :
Y = AK
Dimana Y adalah output, k adalah persediaan modal, dan A adalah konstanta yang
mengukur jumlah output yang diproduksi untuk setiap unit modal.

Fungsi produksi ini tidak menunjukan muatan dari pengembalian modal yang kian
menurun. Satu unit modal tambahan memproduksi unit output tambahan A, tanpa
memperhitungkan berapa banyak modal disini. Keberadaan pengembalian modal
yang kian turun merupakan perbedaan penting antara model pertumbuhan endogen
dan model Solow.

4. Model Pertumbuhan Endogen Yang dilihat dari Fungsi Produksi

Kita asumsikan sebagian pendapatan ditabung dan diinvestasikan. Karena itu kita
jelaskan akumulasi modal dengan persamaan yang telah kita gunakan sebelumnya :
K = sY K
Persamaan ini menyatakan bahwa perubahan dalam persediaan modal (K) sama
dengan investasi (sY) kurang penyusutan (K).

Menggabungkan

persamaan

ini

dengan

fungsi

produksi

AK,

kita dapatkan :
Y/Y = K/K = sA
Persamaan ini menunjukan apa yang menentukan tingkat pertumbuhan output Y/Y.

Lihatlah, selama sA > , pendapatan perekonomian menentukan tingkat pertumbuhan


selamanya, bahkan tanpa asumsi kemajuan teknologi eksogen.

5. Perbedaan Model Pertumbuhan Endogen dengan Model Solow

Dalam model Solow, tabungan akan mendorong pertumbuhan untuk sementara, tetapi
pengembalian modal yang kian menurun secara berangsur-angsur mendorong
perekonomian mencapai kondisi mapan di mana pertumbuhan bergantung hanya pada
kemajuan

teknologi

eksogen.

Sebaliknya dalam model pertumbuhan endogen, tabungan dan investasi bisa


mendorong pertumbuhan yang berkesinambungan.
8

Tetapi, apakah beralasan untuk menolak asumsi pengembalian modal yang kian
menurun? Jawabannya bergantung pada bagaimana kita menginterprestasikan variabel
K dalam fungsi produksi Y = AK.

Jika kita gunakan pandangan lama bahwa K hanya mencakup persediaan pabrik dan
peralatan perekonomian, maka wajar untuk mengasumsikan pengembalian yang kian
menurun.

6. Sistem Perekonomian Pada Endogenous Growth

Menurut pertumbuhan endogen negara yang menganut sistem perekonomian tertutup


maka pertumbuhan ekonomi akan konstan walaupun ada perbedaan satu sama lain.

Pada pertumbuhan endogen dapat menjelaskan mengenai prilaku aneh dalam


pertumbuhan ekonomi yaitu adanya ketimpangan antar negara berkembang dengan
negara kaya, dimana negara berkembang dengan tenaga kerja dapat terkikis oleh
adanya investasi komplementer seperti sarana infrastruktur, kegiatan penelitian yang
memberikan investasi jangka panjang.

7. Hasil dari Pertumbuhan Endogen Para Ekonom

Pengajur teori pertumbuhan endogen berpendapat bahwa asumsi pengembalian modal


konstan (bukan kian yang menurun) lebih bermanfaat jika modal (K) diasumsikan
secara lebih luas.

Barangkali kasus terbaik untuk model pertumbuhan endogen adalah memandang ilmu
pengetahuan sebagai sejenis modal. Jelasnya, ilmu pengetahuan adalah input penting
ke dalam produksi perekonomian baik produksi barang dan jasanya maupun produksi
ilmu pengetahuan barunya.

Kurang wajar untuk mengasumsikan bahwa ilmu pengetahuan memiliki muatan


pengembalian yang kian menurun. Tentu saja inovasi sains dan teknologi yang terus
meningkat membuat sebagian ekonom berpendapat bahwa ada pengembalian ilmu
yang meningkat.

H. TEORI PERTUMBUHAN STRUKTURAL


9

Teori Perubahan Struktural ini menjelaskan pada pembahasan mekanisme


transformasi ekonomi yang dialami oleh Negara sedang berkembang, yang semulanya
bersifat subsisten dan menitikberatkan pada sektor pertanian menuju struktur perekonomian
yang lebih modern dan sangat didominasi oleh sektor industri dan jasa (Todaro,1991 : 68).
1. Teori Pembangunan Arthur Lewis
Teori ini membahas proses pembangunan yang terjadi antara daerah kota dan desa, yang
mengikutsertakan proses urbanisasi yang terjadi di antara kedua tempat tersebut.
2. Teori Pola Pembangunan Chenery
Teori Pola Pembangunan Chenery memfokuskan terhadap perubahan struktur dalam
tahapan proses perubahan ekonomi, industri dan struktur institusi dari perekonomian negara
yang sedang berkembang, yang mengalami transformasi dari pertanian tradisional beralih ke
sektor industri sebagai mesin utama pertumbuhan ekonominya. Menurut Chenery, sejalan
dengan peningkatan pendapatan per kapita, perekonomian suatu negara akan bergeser dari
yang semula mengandalkan sektor pertanian menuju ke sektor industri.

10

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Definisi Sumber Daya Manusia (SDM)
Sumber daya manusia atau biasa disingkat menjadi SDM adalah potensi yang
terkandung dalam diri manusia untuk mewujudkan perannya sebagai mahluk sosial yang
adaptif dan transformatif yang mampu mengelola dirinya sendiri serta seluruh potensi yang
terkandung di alam menuju tercapainya kesejahteraan kehidupan dalam tatanan yang
seimbang dan berkelanjutan. Dalam pengertian praktis sehari-hari, SDM lebih dimengerti
sebagai bagian integral dari sistem yang membentuk suatu organisasi. Oleh karena itu, dalam
bidang kajian psikologi, para praktisi SDM harus mengambil penjurusan industri serta
organisasi.
Sebagai ilmu, SDM dipelajari dalam manajemen sumber daya manusia atau (MSDM).
Dalam bidang ilmu ini, terjadi sintesa antara ilmu manajemen dan psikologi. Mengingat
struktur SDM dalam industri-organisasi dipelajari oleh ilmu manajemen, sementara manusianya sebagai subyek pelaku adalah bidang kajian ilmu psikologi.
Dewasa ini, perkembangan terbaru memandang SDM bukan sebagai sumber daya
belaka, melainkan lebih berupa modal atau aset bagi institusi atau organisasi. Karena itu
kemudian muncullah istilah baru di luar H.R. (Human Resources), yaitu H.C. atau Human
Capital. Di sini SDM dilihat bukan sekedar sebagai aset utama, tetapi aset yang bernilai dan
dapat dilipatgandakan, dikembangkan (bandingkan dengan portfolio investasi) dan juga
bukan sebaliknya sebagai liability (beban,cost). Di sini perspektif SDM sebagai investasi bagi
institusi atau organisasi lebih mengemuka.
3.2 Definisi Teknologi
Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang
diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Penggunaan teknologi oleh
manusia diawali dengan pengubahan sumber daya alam menjadi alat-alat sederhana.
Penemuan prasejarah tentang kemampuan mengendalikan api telah menaikkan ketersediaan
sumber-sumber pangan, sedangkan penciptaan roda telah membantu manusia dalam
beperjalanan dan mengendalikan lingkungan mereka. Perkembangan teknologi terbaru,
11

termasuk di antaranya mesin cetak, telepon, dan Internet, telah memperkecil hambatan fisik
terhadap komunikasi dan memungkinkan manusia untuk berinteraksi secara bebas dalam
skala global. Tetapi, tidak semua teknologi digunakan untuk tujuan damai, pengembangan
senjata penghancur yang semakin hebat telah berlangsung sepanjang sejarah, dari pentungan
sampai senjata nuklir.
Teknologi telah memengaruhi masyarakat dan sekelilingnya dalam banyak cara. Di
banyak kelompok masyarakat, teknologi telah membantu memperbaiki ekonomi (termasuk
ekonomi global masa kini) dan telah memungkinkan bertambahnya kaum senggang. Banyak
proses teknologi menghasilkan produk sampingan yang tidak dikehendaki, yang disebut
pencemar, dan menguras sumber daya alam, merugikan dan merusak Bumi dan
lingkungannya. Berbagai macam penerapan teknologi telah memengaruhi nilai suatu
masyarakat dan teknologi baru seringkali mencuatkan pertanyaan-pertanyaan etika baru.
Sebagai contoh, meluasnya gagasan tentang efisiensi dalam konteks produktivitas manusia,
suatu istilah yang pada awalnya hanya menyangku permesinan, contoh lainnya adalah
tantangan norma-norma tradisional.
3.3 Definisi Ekonomi Pembangunan
Ekonomi Pembangunan adalah suatu proses kenaikan pendapatan total dan
pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan penduduk dan disertai
dengan perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu negara dan pemerataan
pendapatan bagi penduduk suatu negara. Pembangunan ekonomi tak dapat lepas dari
pertumbuhan ekonomi (economic growth), pembangunan ekonomi mendorong pertumbuhan
ekonomi, dan sebaliknya, pertumbuhan ekonomi memperlancar proses pembangunan
ekonomi.
3.4 Peran Sumber Daya Manusia, dan Teknologi
Menurut teori pertumbuhan (neoklasik) pada tahap awalnya bertumpu pada peningkatan
modal dan tenaga kerja sebagai sumber-sumber pertumbuhan. Setelah ditemukan bahwa
dalam neraca pertumbuhan ada perbedaan tingkat pertumbuhan ekonomi, tingkat
penambahan stok modal dan angkatan kerja, disadari bahwa ada unsur lain yang
mempengaruhi pertumbuhan. Perbedaan ini, yang merupakan faktor residual dan dinama- kan
total factor productivity (TFP), adalah hasil dari penerapan teknologi dan pe- ningkatan
kualitas sumber daya manusia (SDM). Atas dasar itu, berkembanglah konsep mengenai
modal manusia (human capital).
12

Berbagai teori mencoba menjelaskan keterkaitan antara pengembangan SDM, aplikasi


teknologi, dan per tumbuhan eko- nomi. Kaum neoklasik, yang diprakarsai oleh Solow
(1957) berpendapat bahwa teknologi dapat dianggap sebagai faktor yang bersifat eksogen
yang datang begitu saja (dari luar sistem) ke dalam proses produksi. Siapa pun atau negara
mana pun mempunyai kesempatan yang sama untuk memanfaatkan teknologi dengan
pengeluaran rendah atau bahkan tanpa biaya sama sekali.Menurut pandangan ini, teknologi
bersifat pure public goods yang mempunyai sifat non- rival goods dan sekaligus nonexcludable goods. Sebagai non-rival goods, teknologi perekonomian yang terbuka, hampir
semua faktor produksi dapat berpindah secara le- luasa dan teknologi dapat dimanfaatkan
oleh setiap negara, maka per tumbuhan semua negara di dunia akan konvergen, yang berarti
kesenjangan akan berkurang.
Ternyata konvergensi yang diharapkan itu tidak terjadi, yang terjadi justru kesenjangan
makin melebar antara negara maju dan negara berkembang. Maka berkembang pola pikir yang
lain, yakni pertumbuhan endogen. Inti pola pikir ini adalah bahwa pertumbuhan ekonomi dan
kemajuan serta dinamika ekonomi bersumber dari dalam, dan unsur dalam ini mewujudkan diri
dalam efisiensi dan produktivitas masyarakat. Makin besar tanpa bisa didapatkan tanpa harus
bersaing (me- ngurangi ketersediaan) satu sama lain.
Sedangkan sebagai non-excludable goods, manfaat teknologi tidak dapat di- khususkan
hanya untuk sekelompok pengguna jasa, atau, dalam skala yang lebih luas, hanya untuk suatu
negara saja (Solow, 1957). Oleh karena negara-negara maju telah memiliki modal yang cukup
banyak, sedangkan di negara-negara berkembang modal masih amat langka, maka rentabilitas
modal di negara-negara maju akan lebih rendah dibandingkan dengan rentabilitas di negaranegara berkembang. Hal ini dijelaskan karena adanya hukum pertambahan yang semakin
berkurang (the law of diminishing returns). Atas dasar pemikir an ini maka akan terjadi transfer
modal dengan berbagai cara dari negara-negara maju ke negara-negara berkembang. Transfer ini,
maka akan meningkatkan daya tumbuh negara- negara berkembang dan pada saatnya akan terjadi
konvergensi antara negara- negara berkembang dan nega ra-negara maju. Dalam pandangan ini,
maka unsur luar, yaitu injeksi modal dan teknologi dari luar, akan mampu mendorong
pembangunan masyarakat negara berkembang dan menimbulkan konvergensi tersebut.
Peran efisiensi dan produktivitas sebagai sumber pertumbuhan, maka makin besar pula
unsur pembangunan dari dalam.
Sumber pertumbuhan, dalam teori endogen, antara lain adalah yang dikembangkan oleh
Romer (1990), yaitu meningkatnya stok pengetahuan dan ide baru dalam perekonomian yang
mendorong tumbuhnya daya cipta dan inisiatif yang diwujudkan dalam kegiatan inovatif dan
13

produktif. Teori pertumbuhan endogen ini didasarkan pada berbagai premis pokok, antara
lain pengenalan bahwa pasar tidak sempurna, dan adanya eksternalitas dalam perekonomian.
Teknologi atau penemuan- penemuan baru itu memberi eksternalitas bagi perekonomian.
Lihat juga Gene M. Grossman dan Elhanan Helpman, Innovation and Growth in the Global
Economy, Cambridge, MA: the MIT Press, 1991.Adapun sumber pertumbuhan yang
didorong oleh munculnya produk baru yang menggantikan produk yang sudah usang,
diilhami oleh pendapat Schumpeter dalam model inovasi yang disebut sebagai creative
destruction. Creative destruction dapat dilihat dalam kegiatan inovasi vertikal dengan sektor
riset yang sangat kompetitif. Creative destruction timbul karena produk baru (tidak yang
dihasilkan oleh inovasi ini) berhasil dimanfaatkan oleh para entrepreneur dalam kegiatan
komersial.
Hal yang paling penting dalam teori ini adalah: (1) munculnya produk inovatif ini akan
menggantikan produk lama yang sudah ada di pasar, dan (2) adanya entrepreneur yang berani
meng- ambil risiko dengan mengembangkan produk baru untuk bersaing dengan produk
lama yang sudah ada di pasar. Creative destruction dapat menjadi sumber pertumbuhan
jangka panjang bagi perekonomian yang sangat tergantung pada kegiatan inovasi vertikal
(Aghion dan Howitt, 1992). Negara yang mempunyai kemampuan untuk melakukan kegiatan
inovasi vertikal adalah negara yang superior di bidang teknologi maju.
Pengembangan teori pertumbuhan endogen ini meningkatkan perhatian yang lebih
besar terhadap pembangunan manusia. Apabila pengetahuan baru dan keterampilan ter
kandung dalam SDM, dan pembangunan ekonomi ter gantung pada peningkatan teknologi,
pengetahuan, dan cara-cara baru dalam proses produksi, maka keberhasilan pembangunan
akan ditentukan oleh proses akumulasi dari kualitas SDM (Becker, Mur- phy, dan Tamura,
1990).
Banyak studi empiris dilakukan untuk melihat kaitan antara kualitas SDM dan
pertumbuhan. Denison (1962), misalnya, menemukan adanya sumbangan yang besar dari
peningkatan years of schooling terhadap pertumbuhan di AS. Barro (1991) serta Mankiw,
Romer, dan Weil (1992) menyatakan bahwa par tisipasi pendidikan dan investasi yang cukup
besar untuk pen- didikan pada tahun 60-an merupakan faktor yang penting dalam
menjelaskan variasi pertumbuhan negara-negara di dunia selama 30 tahun terakhir ini.
Mereka memperlihatkan bahwa kualitas SDM menyumbang secara cukup berarti bagi per14

tumbuhan. Sumbangan itu kira-kira sama dengan sumbangan physical capital.


Becker (1995) bahkan menunjukkan adanya estimasi bahwa sekitar 80 persen aset atau
kekayaan di Amerika Serikat dan negara-negara maju lainnya terdiri atas modal manusia.
Dengan pendekatan ini, dapat diterangkan secara jelas apa yang menjadi kunci
keberhasilan negara-negara di Asia yang ber kembang cepat, dimulai dari Jepang, kemudian
Korea, Taiwan, Hongkong, dan Singapura, yang memberikan penekanan besar pada
penguatan kualitas manusia. Dengan sumber daya alam yang terbatas dan hambatan yang
mereka hadapi dalam ekspornya ke Barat, mereka dapat tetap memelihara daya saing dan
tingkat pertumbuhan yang menakjubkan.

15

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Terlepas dari kemajuan teknologi, faktor utama yang sangat mempengaruhi
pembangunan ekonomi suatu negara terletak pada Sumber Daya Manusia atau SDM. Sumber
daya manusia menjadi tolak ukur kesuksesan ekonomi selain dari modal atau faktor produksi
lainnya.
Meskipun suatu negara tidak memiliki teknologi atau tidak dapat membuat teknologi
yang memadai, jika setidaknya negara tersebut memiliki sumber daya manusia sebagai
operator yang mampu mengoperasikan teknologi sebagaimana mestinya, maka negara
tersebut masih bisa memanfaatkan sumber daya lain untuk mengembangkan perekonomian
mereka.
Bahkan Becker menunjukkan bukti berharganya sumber daya manusia dengan adanya
estimasi bahwa sekitar 80 persen aset atau kekayaan di Amerika Serikat dan negara-negara
maju lainnya terdiri atas modal manusia.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa sumber daya manusia adalah tolak ukur
utama dalam kemajuan suatu negara. Dengan sumber daya manusia yang baik dan dukungan
dari pemerintah, mereka dapat membuat teknologi sendiri. Karena sejatinya teknologi adalah
hasil karya tangan-tangan manusia.

DAFTAR PUSTAKA
www.wikipedia.com
www.slideshare.net
16

17