Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ekspresi gen adalah suatu istilah yang memiliki perbedaan
interpretasi. Oleh karena itu akan dijelaskan terlebih dahulu pengertian dari
gen. Gen adalah segmen molekul DNA yang mengandung semua informasi
yang diperlukan untuk sintesis produk (rantai polipeptida atau molekul RNA),
yang termasuk rangkaian pengkodean dan non pengkodean. Menurut Dorland
pengertian ekspresi gen adalah sebagai berikut, pertama adalah aliran
informasi genetik dari gen ke protein, kedua merupakan proses atau
pengaturan proses, yang dengannya efek suatu gen dapat diwujudkan, lalu
yang ketiga ekspresi gen merupakan perwujudan ciri yang dapat diturunkan
yang terjadi pada individu pembawa gen yang menentukan sifat tersebut.
Dari pengertian di atas ekspresi gen merupakan mekanisme dari
transkripsi gen dan translasi mRNA yang berpengaruh terhadap protein yang
diproduksi. Para ilmuwan mengatakan ketika sel mensintesis protein, gen
untuk protein itu telah terekspresi. Sel dapat meregulasi ekspresi gen untuk
membuat tipe protein, dalam jumlah dan angka yang dibutuhkan. Hampir
semua sel tubuh mempunyai gen untuk membuat semua protein manusia,
tetapi tiap jenis sel hanya membuat protein yang mereka butuhkan. Misalnya,
sel pankreas mengekspresikan gen insulin ; di sel lain, gen itu tidak bekerja.
Demikian pula dengan sel pankreas tidak membuat protein hemoglobin,
dimana hanya dibutuhkan oleh sel darah merah.
Munculnya uniseluler dan multi seluler eukariot ditentukan oleh
ekspresi gen yang lebih lengkap daripada prokariot. Beberapa nilai yang
diekspresikan kode gen protein dapat diatur dalam eukariot yaitu kontrol
transkripsi, proses kontrol RNA, transpor kontrol, mRNA translasi kontrol,
mRNA degradasi kontrol dan degresi protein kontrol. Proses kontrol ini dapat
membantu mengkoordinir protein baru dalam perbedaan sel pada waktu yang
berbeda (Russel, 1995).

Dalam sel-sel prokariotik, sintesis RNA dibantu oleh hanya sejenis


polimerasi RNA, sedangkan pada sel-sel eukariotik diketemukan beberapa
jenis polimerase. Sehingga pengendalian sintesis protein pada sel prokariotik
tergantung pada pengaturan kegiatan satu jenis enzim tersebut agar dapat
memastikan mRNA yang mana perlu ditrankripsikan (Subowo, 1995).
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa yang dimaksud dengan eukariotik?
1.2.2 Bagaimana ekspresi gen pada eukariotik?
1.2.3 Bagaimana sintesa protein dan RNA dalam eukariot?
1.2.4 Bagaimana pengaturan ekspresi gennya?
1.2.5 Bagaimana regulasi ekspresi gen pada eukariot?
1.3 Tujuan
1.3.1
1.3.2
1.3.3
1.3.4
1.3.5

Untuk mengetahui definisi eukariot.


Untuk mengetahui ekspresi gen pada eukariot.
Untuk mengetahui sintesa protein dan RNA dalam eukariot.
Untuk mengetahui pengaturan ekspresi gen eukariot.
Untuk mengetahui regulasi ekspresi gen eukariot.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Eukariot
Eukariot memiliki inti sejati (karion atau nukleus). Inti ini mengandung
bagian terbesar dari genom-genom sel eukariot. Genom terbagi dalam
seperangkat kromosom yang dipisah sesudah terjadi penggandaan pada
peristiwa mitosis. Sel eukariot mengandung organel, yaitu mitokondria dan
kloroplast (pada tumbuh-tumbuhan), dan organel-organel ini mengandung
sebagian kecil genom lain, terutama dalam bentuk cincin tertutup molekul
DNA (Schlegel,1994 ).
Pada organisme yang inti selnya berdinding (eukariot) AND terdapat di
dalam kromosom, artinya didalam inti sel. AND akan tetap berada di dalam
inti sel, sedangkan protein dibuat di dalam sitoplasma. Berhubung dengan itu
sitoplasma mungkin ikut berperan secara langsung pada sintesa protein.
Sebagai pengganti sebuah pita dari double helix, molekul AND digunakan
untuk mencetak pita tunggal ARN duta (ARNd); proses ini dinamakan
transkripsi (Suryo, 2001).
Inti sel. Struktur inti dan cara pembelahan inti merupakan ciri khas dan
mendasar membedakan eusit dari sel prokariot. Inti (tahap antara) dibungkus
oleh sebuah selongsong inti, yaitu membran berlapis rangkap dan berlobanglobang. Bahan yang berkaitan dengan pewarisan(genom) dalam bentuk DNA
terbagi-bagi

dalam

sejumlah

sub

unit,

ialah

kromosom-kromosom.

Kromosom-kromosom ini baru nampak waktu terjadi pembelahan inti


(Schlegel, 1994).
Masalah utama dalam pengkajian ekspresi gen dalam sel eukariotik
timbul dari suatu kenyataan bahwa sebagian besar molekul-molekul RNA
berada dalam sitoplasma, sedang pengendalian sintesis protien dan sintesis
RNA berlangsung dalam inti. Namun dari masalah-masalah tersebut sebagian
telah dapat diperoleh jawabannya melalui berbagai teknik dan cara penelitian
(Subowo, 1995).
2.2 Ekspresi Gen pada Eukariot

Sel-sel eukariot mengandung sejumlah molekul RNA dengan panjang


300 nukleotida atau kurang. Sebagian besar molekul-molekul ini disintesis
oleh polimerase RNA III diluar nukleolus. Walaupun fungsi dari sejumlah
molekul nukleotida pendek ini belum diketahui, tetapi yang telah dipahami
dengan jelas yaitu RNA yang umum diketahui yaitu tRNA dan rRNA 5 S.
RNA ini ditranskripsikan dari gen yang terpisah dari gen untuk pre-RNA.
Molekul rTNA 5S dalam semua sel dari berbagai spesies adalah sama, bahkan
juga sama dengan rRNA yang terdapat dalam mitokondria dan khloroplast.
Padasel eukariotik, gen untuk rRNA 5 Setuju tidak terdapat pada kromosom
yang sama seperti rRNA jenis lain (Subowo, 1995).
Transkripsional kontrol mengatur apakah atau bukan sebuah gen yang
ditranskrip akurat ketika mentranskrip produk atau hasil dari sebuah sel
eukariot. Isi kode gen proteinnya mendukung elemen-elemen atau bagianbagian yang lain (Russel,1995).
Kebanyakan DNA eukariot begitu sulit penanganannya, mula-mula
perhatian orang tertuju pada mRNA eukariot - khususnya pada mRNA yang
mengkode

molekul-molekul

yangjumlahnya

lebih

berlimpah

seperti

hemoglobin, protein telur ayam ovalbumin, dan rantai-rantai imunoglobulin


yang dibuat oleh sel-sel penghasil antibodi. Kebanyakan mRNA eukariot,
tidak seperti ekuivalent-ekuivalent prokariotnya, ditemukan deretan panjang
A (ekor poli-A) pada ujung-ujung 3-nya. Ekor-ekor ini tidak berasal dari
urutan-urutan

yang

dikode

dalamDNA

tetapi

ditambahkan

setelah

transkripsinya berhenti (Watson, dkk, 1988).


Dalam jumlah, hormon steroid mengakibatkan efek molekul yang
positif, dan SHRs membuat pengaturan molekul. Dimana menghubungkan
dua yaitu mengikat DNA yang lengkapdan merubah gen menjadi lebih
spesifik, bertambah atau berkurang di konsentrasi mRNA seluler (Russell,
1995).
Dalam perubahan jenis sel beberapa hormon steroid aktif pada
perubahan set gen, setelah itu gen memiliki SHR, ini disebabkan karena
steroid reseptor lengkap dan gen dapat aktif hanya jika pengontrolannya
benar. Bentuk pengaturan protein adalah spesifik untuk jenis sel

tertentu,perubahan mengakibatkan ekspresi gen dapat berakhir (Russel,


1995).
2.3 Sintesa Protein dan RNA dalam Eukariot
Sebagian besar dari faktor transkripsi dan yang mengatur protein
terlibat dalam proses transkripsi inisiasi dalam eukariot merupakan rangkaian
spesifik dari DNA yang mengikat protein. Itu semua mempengaruhi
rangkaian spesifik DNA yang memberikan akibat pada transkrip inisiasi.
Beberapa dari protein ini, bukan semuanya, baik dalam menentukan model
struktur dari protein yang bertanggung jawab dalam mengiukatkan protein ke
DNA. Beberapa model struktural dinamakan DNA- yang menentukan daerah
merupakan seng jari, penutup leucin, dan perubahan rantai-rantai. Misalnya,
model perubahan rantai dalam tekanan protein pada bakteriophage lamda
yang diikatkan ke lac operator (Russel, 1995).
Transkrip-transkrip RNA virus primer di dalam nukleus sel yang
terinfeksi ditemukan menjadi pendek dengan terbuangnya satu atau lebih
banyak bagian intern untuk membentuk molekul-molekul mRNA yang lebih
kecil. mRNA ini bergerak ke arah sitoplasma, dimana mRNA ini berguna
untuk cetakan sintesis protein virus. (Watson dkk, 1988).
Seperti sintesis protein fungsional melalui proses modifikasi setelah
berlangsung transkripsi primer dari rDNA, demikian pula sintesis tRNA
fungsional diketahui bahwa primer mengalami modifikasi setelah transkripsi
dari tDNA. Modifikasi tersebut selain berbentuk sebagai pemotongan
penggal-penggal yang tidak perlu, juga diadakan penambahan gugus metil
dan isopentenil dan perubahan dari uridin menjadi pseudo-uridin dan
diselesaikan dengan penggabungan penggal-penggal yang terpisah (spilicing=
penyuntingan). (Subowo, 1995).
Sintesis RNA dalam sel eukariotik berlangsung dengan bantuan 3 jenis
polimerase RNA yang berbeda. Untuk ketiga rRNA (RNA 28 S, 5,8S, dan
18S) dihasilkan dengan bantuan polimerase RNA 1 dalam nukleolus sedang
untuk sintesis mRNA dibutuhkan polimerase RNA II. Untuk molekulmolekul RNA kecil (tRNA dan rRNA 5 S dibutuhkan polimerase RNA III).
Transkripsi dan translasi tidak berlangsung secara gabungan seperti pada sel-

sel prokariotik, melainkan dilakukan secara terpisah. Transkripsi berlangsung


dalam inti sedangkan translasi berlangsung dalam sitoplasma. (Subowo,
1995).
Disamping perhatian orang cukup besar dalam mengkaji proses sintesis
rRNA dan tRNA, orang telah mempertimbangkan bahwa mempelajari
bagaimana mRNA dalam sel-sel eukariotik disintesis mempunyai kepentingan
yang lebih besar. Pertimbangan ini cukup beralasan karena pembentukan
mRNA akan menentukan protein mana yang akan dihasilkan oleh sel tersebut
(Subowo, 1995).
2.4 Pengaturan Ekspresi Gen
Telah diketahui dengan pasti bahwa ekspresi gen telah diketahui oleh
transkripsi DNA menjadi mRNA yang selanjutnya ditranslasi menjadi
molekul protein. Gen yang ekspresinya diatur dikelompokkan dalam keluarga
gen diatur, sedangkan gen yang ekspresinya tidak diatur dikelompokkan
kedalam keluarga gen konstitutif. Gen konstitutif diekspresikan secara terus
menerus oleh karena tidak terpengaruh mekanisme pengaturan, seperti
misalnya oleh faktor lingkungan atau faktor perkembangan. Sebagai contoh
adalah gen untuk histon atau komponen ribosom diekspresikan secara terus
menerus. (Subowo, 1995).
Pengaturan pengetahuan ekspresi gen lebih banyak diperoleh dari
pengkajian pada sel-sel prokariotik daripada sel-sel eukariotik. Dalam sel
eukariotik didapatkan jauh lebih banyak DNA daripada dalam sel prokariotik.
Misalnya dalam sel E.Coli yang tergolong sel prokariotik mengandung 4 x
106 pasangan nukleotid (basa) yang sudah cukup untuk ekspresi 4000 jenis
protein. Dalam sel haploid manusia diperkirakan hampir 800 kali lebih
banyak DNA dari sel E.Coli, yaitu sebanyak 3 x 109 pasangan basa (Subowo,
1995).
Beberapa molekul protein yang terkait dengan molekul DNA seperti
kelompok histon, dan non histon, berperan lebih banyak dalam pengaturan
ekspresi gen-gen. Selain itu hormon beserta reseptornya pada sel sasaran juga
berperan dalam pengaturan ekspresi gen dari sel bersangkutan. Melanin
merupakan pigmen berwarna cokelat tuayang dihasilkan oleh jenis sel yang

terdapat dalam epidermis dan folikel rambut, yang dinamakan melanosit.


(Subowo, 1995).
2.5 Regulasi Ekspresi Gen pada Eukariot
Karena adanya perbedaan antara sel eukariot dan sel prokariot (tabel 1)
mekanisme pengaturan kandungan protein keduanya juga berbeda. Pada
makalah ini dijelaskan regulasi ekspresi gen pada sel eukariot karena manusia
termasuk sel eukariot. (Rizky Suganda, 2011).
Tabel 1:

Inti
Kromosom
Jumlah
DNA
Histon
Genom
Diploid
Haploid
Ukuran
Gen
Unik
Repetitif
Sedang
Sangat
Operon
mRNA
Polisitronik
Capped
Ekor Poli (A)
Intron
Translasi

Eukariot
Ya

Prokariot
Tidak

23 per sel haploid


Linear
Ya

1 per sel haploid


Sirkular
Tidak

Sel somatik
Sel germinativum
3 x 109 pasangan basa per sel

Tidak
Semua Sel

haploid

4 x 106 pasangan basa

64%

100%

25%
10%
Tidak

Tidak ada
Tidak ada
Ya

Tidak
Ya
Ya
Ya

Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Bersamaan dengan

Terpisah dari transkripsi

transkripsi
Tabel 1. Perbedaan antara Eukariot dan Prokariot
(Marks, 2004).

Dasar molekul untuk regulasi gen pada sel eukariot, terutama pada sel
manusia sekarang ini menjadi salah satu yang paling banyak dipelajari dalam
biologi molekuler. Tujuan utamanya adalah untuk menemukan bagaimana gen
berpartisipasi dalam mengontrol program yang terlihat pada pertumbuhan dan
7

perkembangan sel. Regulasi ekspresi gen pada sel eukariot dikontrol oleh
mekanisme yang kompleks, dan tidak diorganisasi di operon. (Rizky
Suganda, 2011).
Sebagaimana tambahan, regulasi ekspresi gen dapat terjadi pada tingkat
aspek genomik :
a. Pada tingkat DNA. Misalnya, karena modifikasi kimia dari basa, dan
modifikasi histon, dan modifikasi lainnya.
b. Pada tingkat transkripsi. Misalnya, dengan melibatkan faktor transkripsi,
dengan sambutan alternatif, atau tempat alternatif untuk penambahan
ekor poli (A) (tempat poliadenilasi) dapat menghasilkan mRNA berbeda
dari hnRNA tunggal. Hal ini menyebabkan sebuah gen dapat
menghasilkan protein yang berlainan.
c. Pada tingkat translasi. Sinyal dari luar tubuh sel dapat mempengaruhi
langkah inisiasi. Stabilitas mRNA juga memainkan peranan. mRNA
dengan waktu-paruh yang lama menghasilkan lebih banyak protein
daripada mRNA yang memiliki waktu-paruh yang singkat. (Rizky
Suganda, 2011).
Ada 3 faktor yang sangat penting untuk memahami ekspresi gen :
1. Sinyal molekuler. Banyak jenis molekul berinteraksi dengan sel, lewat
protein permukaan sel atau reseptor intraseluller merangsang
transduksi sinyal, sehingga sel dapat beradaptasi pada perubahan
lingkungan.
2. Tingkat hirarki molekuler. Tingkat dimana dogma central dari biologi
molekuler terlibat dalam ekspresi gen.
Mekanisme molekuler. (Rizky Suganda, 2011).

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sel eukariot mengandung 3 RNA polimerase yang berbeda-beda

dengan fungsi yang berbeda pula.


Struktur dasar dari nukleosom mengalami modifikasi ketika

transkripsi terjadi pada setiap unit.


Proses pengawasan dapat membantu mengkoordinir protein baru pada

sel yang berbeda maupun pada waktu yang tidak bersamaan.


Inti sel dari sel eukariotik merupakan pembawa sifat yang terpenting

di dalam pewarisan sifat.


Eukariot memiliki suatu organel yang dikelilingi oleh organel lain
seperti membran sel, mitokondria, dll.

3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

Marks, D.B. 2004. Pengaturan Ekspresi Gen. Dalam Biokimia Kedokteran Dasar.
Jakarta : Buku kEdokteran EGC
Russel. 1995. Genetic Edition Third. New York.
Schlegel H. G. 1994. Mikrobiologi Umum. Terjemahan RM Tedjo Bangkoro.
Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Subowo. 1995. Biologi Sel. Bandung : Angkasa.
Suganda, Rizky. 2011. Regulasi Ekspresi Gen. Bandung : Fakultas Kedokteran
Universitas Islam Bandung
Suryo. 2001. Genetika. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Watson, J.J Tooze, and D.T Kurtz. 1988. Rekombinan DNA. New York.

10

LAMPIRAN

11

12