Anda di halaman 1dari 4

Sekolah dan Anak

Oleh Arif Saifudin Yudistira*)

Ada pertanyaan penting bagi dunia pendidikan kita terutama sekolahsekolah di negeri ini. Bagaimanakah mereka menempatkan dan
memposisikan anak dalam dunia pendidikan?. Anak selama ini seolah tak
lagi dianggap memiliki peranan yang setara dalam dunia pendidikan kita.
Anak diposisikan sebagai objek yang tiba-tiba ada dan harus kita olah
sedemikian rupa dengan kurikulum dan berbagai aturan yang tak
dimengerti oleh mereka. Pendidikan seolah sesuatu yang harus diterima
anak, anak tak boleh dan tak berhak menentukan pilihan yang cukup
banyak. Sehingga, kemampuan anak, kreatifitas anak, daya pikir dan daya
imajinasi anak cenderung tak banyak berkembang kecuali yang
dimanajemen sekolah melalui perlombaan dan kompetisi. Tetapi anak tetap
menempati posisi sebagai objek. Ia adalah bahan percobaan kita para guru,
para pemangku kebijakan pendidikan. Robert Chambers dalam buku AnakAnak Membangun Kesadaran Kritis (2002) : orang dewasa yang
bersentuhan langsung dengan anak- anak dan remaja masih menganggap
bahwa kelompok usia belia ini bodoh maka perlu diajar; tidak
bertanggungjawab maka perlu didisiplinkan; belum matang maka perlu
dididik ; tidak mampu maka perlu dilindungi ; menyusahkan maka tidak
usah didengarkan ; namun ironisnya sebagai sumber daya mereka sering
dimanfaatkan.
Karena itulah selama ini pendidikan kita lebih terkesan meminggirkan
anak, tak ayal, sampai terjadi kekerasan pada anak, hal ini tak lain karena
menganggap anak sebagai objek capital dan objek pengetahuan. Sebagai
objek capital, anak dianggap memiliki modal dan kekuatan untuk
dieksploitasi dalam setiap pertunjukan maupun dalam setiap acara yang
mendatangkan capital. Tak hanya dalam program acara di televisi, iklan
begitu kentara membuat anak sebagai sebuah objek yang dapat digunakan
untuk meraup keuntungan lebih. Dalam dunia sekolah, eksploitasi
kemampuan anak ini bisa dalam berbagai bentuk, yang paling kentara
adalah dalam bentuk iklan. Foto anak akan lebih membuat sekolah menarik
dan membuat anak menjadi daya tarik dan pemikat untuk membuat
sekolah menjadi ramai muridnya.

Anak-anak kita di sekolah tanpa sadar adalah objek paling masih bagi
hadirnya dominasi pengetahuan yang dipaksakan oleh guru, kurikulum dan
pemerintah. Anak seolah tak diajak untuk bertanya, diajak untuk berfikir
mengapa kita memerlukan pelajaran dan apa yang mereka dapat di sekolah.
Mereka dipaksa untuk mengatakan bahwa apa yang diberikan guru
semuanya baik. Sehingga tak heran ketika ada anak yang menyimpang dari
kebiasaan (tidak tertib), membuat onar dan tak menyukai dunia dalam kelas
ia sering dianggap sebagai anak pemalas, anak bodoh dan anak yang aneh.
Amat sangat jarang guru dan sekolah yang memuji mereka dan meneliti
kebiasaan belajar mereka dan mengatakan bahwa mereka itulah anak yang
unik dan istimewa karena melawan kebiasaan (kelaziman) di sekolah
mereka.
Dalam pendidikan Taman Siswa (1922), kita mengetahui konsep
pendikan ala Ki Hajar Dewantara yang sering dikenal dengan konsep 3 A,
konsep asih, asah, dan asuh. Konsep ini adalah konsep pendidikan yang
mencoba membebaskan anak utamanya pikiran anak dan tentu saja daya
kreatifnya. Dalam pendidikan Taman Siswa, kita sebagai guru, berfungsi
sebagai orangtua sekaligus teman dalam belajar mereka. Guru adalah
pamong, yang seharusnya ngemong, momong (membimbing) anak. Maka
iklim dalam pendidikan Taman Siswa diupayakan seperti iklim dalam
pendidikan keluarga, guru adalah bapak dan ibu anak di sekolahan. Dalam
hal ini, anak tak merasa dikekang, diatur oleh tata tertib dan aturan. Anakanak bisa bermain dan belajar dengan bebas dengan bimbingan gurunya.
Partisipasi, dan keterlibatan anak adalah sesuatu yang dikembangkan
dalam pendidikan Taman Siswa.
Topik mengenai peran anak dalam dunia pendidikan ini juga dibahas
dalam forum International Workshop on the Implementation of Child Rights,
Classroom and School Management (20 maret-2 April 2015) yang
diselenggarakan oleh Lund University Swedia bekerjasama dengan
Universitas Muhammadiyah Surakarta. Tema pertemuan ini adalah
mengenai hak anak, ruang kelas, dan manajemen sekolah. Dalam seminar
tersebut salah satu pembicara menilai bahwa sekolah ramah anak di
seluruh dunia terkendala masalah budaya (Joglosemar, 24/3/15). Akan tetapi
kalau kita tinjau ulang, benarkah persoalan peran dan posisi penting anak
ini terkendala masalah budaya?. Padahal yang terjadi selama ini, budaya
dan hubungan masyarakat kita yang tak sekolah umpamanya justru lebih
mengajak anak berpartisipasi dan terlibat.

Selama ini sekolah justru tak melibatkan anak terhadap persoalanpersoalan yang ada di lingkungan sekolah mereka. Pendidikan justru
membuat anak menjadi pasif. Sebut saja ketika anak membuang sampah
sembarangan, ketika anak-anak ditanya mengapa mereka membuang
sampah sembarangan, mereka menjawab karena tukang kebun akan
membersihkan nanti. Tidak adanya pelibatan dan partisipasi anak dan
penguatan kesadaran pada anak justru membuat anak semakin pasif dan
semakin termarginalkan.
Kurikulum di sekolah mestinya adalah alat untuk membuat anak
menjadi semakin aktif dan berpartisipasi untuk membangun kesadaran
kritis dan transformative. Tetapi yang ada selama ini, anak justru semakin
pasif dan tak kenal akan kesadaran akan lingkungannya sendiri. Budaya
kita bukan budaya yang sebenarnya meminggirkan anak. Konsepsi
pendidikan ala Taman Siswa membuktikan bahwa sekolah-sekolah di Taman
Siswa adalah sekolah yang membangun mentalitas dan jiwa anak sehingga
mereka menjadi mandiri dan merdeka berfikir serta kritis. Alumnus Taman
Siswa adalah tentara, adalah guru, juga politikus dan beranekamacam
profesi. Tetapi mereka tak meninggalkan nilai-nilai, karakter dan
kepribadian yang diwariskan dari almamater mereka.
Sekolah perlu membuat kurikulum dan konsep pembelajaran yang
semakin melibatkan anak. Pasalnya, anak-anak sampai sekarang masih
susah dianggap sebagai teman, maupun rekan dalam belajar bersama guru.
Yang ada selama ini, guru tetap menempati kelas yang lebih tinggi
dibanding anak. Sehingga guru tetaplah menempati sebagai seorang yang
dominan dan sebagai subjek dalam ruang-ruang kelas kita. Tidak kita
pungkiri, sekolah ikut membentuk budaya bisu, budaya diam, dan budaya
ketidaksadaran. Ketertiban dan kerapian dalam sekolah belum tentu
membuat anak semakin belajar kritis dan belajar aktif dan terlibat dalam
kebijakan sekolah. Sekolah perlu mengajak dan melibatkan anak dalam
setiap kegiatannya, apalagi dalam pembelajaran. Sekolah harus membuat
anak percaya bahwa mereka adalah insan kreatif yang mampu diajak untuk
terlibat dan aktif dalam membangun kemajuan di dunia pendidikan kita.

*) Penulis adalah Pengasuh MIM PK Kartasura, Penulis Buku Mendidik


Anak-Anak Berbahaya (2014)