Anda di halaman 1dari 6

BERAPA LUAS WILAYAH INDONESIA?

Luas dan bentuk wilayah negara Indonesia.


Jika kita menarik garis lurus dari empat sudut terjauh wilayah negara Indonesia, yaitu garis
Lintang Utara 6 derajat paling Utara garis 11 derajat LS paling selatan garis 95 derajat BT paling
Barat dan garis 141 derajat BT paling timur, maka luas wilayah empat persegi panjang itu adalah
17 derajat x 46 derajat.
bentuk negara Indonesia bukanlah suatu hamparan daratan yang bersatu, negara kita merupakan
sebuah kepulauan yang terdiri atas kurang lebih 13.000 pulau yang meliputi laut pedalaman di
antara pulau-pulau itu. Dengan demikian kita dapat menyebut luas Republik Indonesia
bergantung kepada batas mana yang kita gunakan.

Luas seluruh daratan wilayah Republik Indonesia hampir 2 juta km persegi (salah satu sumber
menyebutkan 1.926.170 km persegi).
sumber
:
indonesia.html

http://www.sejarah-negara.com/2015/05/luas-dan-bentuk-wilayah-negara-

LUAS LAHAN PERTANIAN INDONESIA

Pdf statistic lahan sawah 2013 hal. 4


Sumber: http://www.pertanian.go.id/file/Statistik_Lahan_Pertanian_2013.pdf
PRODUKSI PADI TIAP TAHUNYA
Konsumsi beras per kapita di Indonesia telah turun dari 96 kg pada tahun 2005 ke 85 kg pada
tahun 2014, berdasarkan pada perkiraan staf Bank Dunia dari data Susenas. Namun jumlah
konsumsi tampaknya akan semakin meningkat, karena beras tetap menjadi bagian utama dari
konsumsi penduduk Indonesia yang jumlahnya terus bertambah.14 Kenaikan struktural dalam
permintaan beras ini akan memberikan tekanan yang lebih besar kepada produksi beras dalam
negeri Indonesia, yang kini berada sekitar 95 persen dari total pasokan. Tantangan yang kini
dihadapi, selain permintaan yang secara umum meningkat, adalah permintaan varietas beras
yang beragam lintas Indonesia. Penduduk di provinsi yang berbeda mengkonsumsi jenis beras
yang berbeda pula, dan terdapat kesenjangan transportasi dan informasi lintas Indonesia (dibahas
lebih lanjut di bawah). Hal ini berarti bahwa beras tidak senantiasa mengalir dengan lancar dari
daerah-daerah dengan surplus produksi ke tempat-tempat dengan permintaan berlebih

Terbatasnya ketersediaan dan kualitas data tentang produksi dan konsumsi beras menurunkan
kemampuan Pemerintah dan peneliti untuk memahami permintaan dan persediaan beras di
Indonesia. Data produksi didasari pada metode taksiran melalui pengamatan mata dan
pemotongan tanaman yang kurang akurat dibanding data satelit. Data harga tersedia bagi
sistem pemantauan dini, namun data persediaan dalam negeri pada gudang-gudang dan titik-titik
distribusi utama tidak lengkap. Data yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), yang
menunjukkan konsumsi pada 139,15 kg per kapita per tahun pada tahun 2014 (diubah ke
proyeksi 124,89 kg pada tahun 2015) menunjukkan surplus pasokan beras dalam negeri, yang
tidak konsisten dengan inflasi harga beras yang tinggi dan kebutuhan yang teramati atas impor
beras.15 Proyeksi produksi tahunan pada tahun 2014 menurun dari tahun 2013, ketiga kalinya
terdapat penurunan tahunan sejak 1997-98 (Gambar 24). Stok pada pasar beras Cipinang
menunjukkan sejumlah tanda-tanda penurunan yang berangsur-angsur hingga akhir tahun 2014,
sebelum menukik tajam pada bulan Februari (Gambar 25). Dari segi jangka waktu yang lebih
panjang, pertumbuhan jumlah produksi telah melambat secara struktural, dengan pertumbuhan
produksi selama periode 1990-2011 kurang dari setengah dari pertumbuhan pada periode 19611990, terutama akibat penurunan produktivitas (pertumbuhan hasil panen) (Tabel 7).
(pdf ieq mar 2015 bh. Hal. 30)
sumber(httpwww.worldbank.orgcontentdamWorldbankdocumentEAPIndonesiaIEQ-MAR-2015BH.pdf)
BERAPA BANYAK KONSUMSI PADI DI INDONESIA
Ketersediaan energi tidak menjadi masalah selama periode tahun 2010-2014, karena jauh di atas
rekomendasi WKPG dengan ratarata 3.767 kkal per kapita per hari, bahkan jumlahnya per
tahun rata-rata mengalami peningkatan dengan pertumbuhan rata-rata 27 kkal per kapita per hari.
Rata-rata pertumbuhan ketersediaan energi tersebut menurun dibandingkan dengan rata-rata
pertumbuhan ketersediaan energi pada periode tahun 2005-2009 yang mencapai 142 kkal per
kapita per tahun. Hal ini diduga akibat ketidakselarasan pertumbuhan penyediaan pangan sumber
energi dengan pertumbuhan jumlah penduduk.Pada sisi konsumsi energi, capaiannya masih
1.987 kkal per kapita per hari atau sedikit di bawah rekomendasi Widya Karya Nasional Pangan
dan Gizi. Selain itu pertumbuhan konsumsi tersebut menunjukkan pertumbuhan negatif dengan
rata-rata pertumbuhan minus 5 %. Hal ini diduga terkait dengan rendahnya daya beli
masyarakat. Namun demikian, apabila pertumbuhan konsumsi tersebut dibandingkan
dengan periode tahun 2005-2009, sebenarnya terjadi pertumbuhan
konsumsi yang positif dari yang sebelumnya minus 32 % menjadi

minus 5 %.

(PDF RENSA HAL.32)


Sumber : http://www.pertanian.go.id/file/RENSTRA_2015-2019.pdf

APA ITU PADI?


Padi merupakan tanaman pangan berupa rumput berumpun. Tanaman pertanian kuno berasal dari
dua benua yaitu Asia dan Afrika Barat tropis dan subtropics
Klasifikasi botani tanaman padi adalah sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monotyledonae
Keluarga : Gramineae (Poaceae)
Genus : Oryza
Spesies : Oryza spp.
Terdapat 25 spesies Oryza, yang dikenal adalah O. sativa dengan dua subspesies yaitu Indica
(padi bulu) yang ditanam di Indonesia dan Sinica (padi cere)
SUMBER: http://www.warintek.ristek.go.id/pertanian/padi.pdf

SEJARAH TRENGGALEK
Dari berbagai sumber yang dapat dikumpulkan, kawasan Trenggalek telah dihuni selama ribuan
tahun, sejak jaman pra-sejarah, dibuktikan dengan ditemukannya artifak jaman batu besar seperti
: Menhir, Mortar, Batu Saji, Batu Dakon, Palinggih Batu, Lumpang Batu dan lain-lain yang
tersebar di daerah-daerah yang terpisah..
Menurut HR VAN KEERKEREN, Homo Wajakensis (manusia purba wajak) (mencari-jejakmanusia-wajak.html) hidup pada masa plestosinatas, sedangkan peninggalan-peninggalan
manusia purba Pacitan berkisar antara 8.000 hingga 23.000 tahun yang lalu. Sehingga,
disimpulkan bahwa pada jaman itulah Kabupaten Trenggalek dihuni oleh manusia.
Walaupun banyak ditemukan peninggalan manusia purba, untuk menentukan kapan Kabupaten
Trenggalek terbentuk belum cukup kuat karena artifak-artifak tersebut tidak ditemukan tulisan.
Baru setelah ditemukannya prasasti Kamsyaka atau tahun 929 M, dapat diketahui bahwa
Trenggalek pada masa itu sudah memiliki daerah-daerah yang mendapat hak otonomi /
swatantra, diantaranya Perdikan Kampak berbatasan dengan Samudra Indonesia di sebelah
Selatan yang pada waktu itu wilayahnya meliputi Panggul, Munjungan dan Prigi. Disamping itu,
disinggung pula daerah Dawuhan dimana saat ini daerah Dawuhan tersebut juga termasuk
wilayah Kabupaten Trenggalek. Pada jaman itu tulisan juga sudah mulai dikenal.
Setelah ditemukannya Prasasti Kamulan yang dibuat oleh Raja Sri Sarweswara Triwikramataranindita Srengga Lancana Dikwijayatunggadewa atau lebih dikenal dengan sebutan
Kertajaya (Raja Kediri) yang juga bertuliskan hari, tanggal, bulan, dan tahun pembuatannya,
maka Panitia Penggali Sejarah menyimpulkan bahwa hari, tanggal, bulan dan tahun pada prasasti
tersebut adalah Hari Jadi Kabupaten Trenggalek.
Sejarah Singkat Pemerintahan :
Seperti halnya daerah-daerah lain, di jaman itu Kabupaten Trenggalek juga pernah mengalami
perubahan wilayah kerja. Beberapa catatan tentang perubahan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Dengan adanya Perjanjian Gianti tahun 1755, Kerajaan Mataram terpecah menjadi dua,
yaitu Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Wilayah Kabupaten Trenggalek
seperti didalam bentuknya yang sekarang ini, kecuali Panggul dan Munjungan, masuk ke
dalam wilayah kekuasaan Bupati Ponorogo yang berada di bawah kekuasaan Kasunanan
surakarta. Sedangkan Panggul dan Munjungan masuk wilayah kekuasaan Bupati Pacitan
yang berada di bawah kekuasaan Kasultanan Yogyakarta.
2. Pada tahun 1812, dengan berkuasanya Inggris di Pulau Jawa (Periode Raffles 1812-1816)
Pacitan (termasuk didalamnya Panggul dan Munjungan) berada di bawah kekuasaan

Inggris dan pada tahun 1916 dengan berkuasanya lagi Belanda di Pulau Jawa, Pacitan
diserahkan oleh Inggris kepada Belanda termasuk juga Panggul dan Munjungan.
3. Pada tahun 1830 setelah selesainya perang Diponegoro, wilayah Kabupaten Trenggalek,
tidak termasuk Panggul dan Munjungan, yang semula berada dalam wilayah kekuasaan
Bupati ponorogo dan Kasunanan Surakarta masuk di bawah kekuasaan Belanda. Dan,
pada jaman itulah Kabupaten Trenggalek termasuk Panggul dan Munjungan memperoleh
bentuknya yang nyata sebagai wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten versi
Pemerintah Hindia Belanda sampai disaat dihapuskannya pada tahun 1923.Alasan atau
pertimbangan dihapuskannya Kabupaten Trenggalek dari administrasi Pemerintah Hindia
Belanda pada waktu itu secara pasti tidak dapat diketahui. Namun diperkirakan mungkin
secara ekonomi Trenggalek tidak menguntungkan bagi kepentingan pemerintah kolonial
Belanda.Wilayahnya dipecah menjadi dua bagian, yakni wilayah kerja Pembantu Bupati
di Panggul masuk Kabupaten Pacitan dan selebihnya wilayah pembantu Bupati
Trenggalek, sedangkan Karangan dan Kampak masuk wilayah Kabupaten Tulungagung
sampai dengan pertengahan tahun 1950.
4. Dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950, Trenggalek menemukan
bentuknya kembali sebagai suatu daerah Kabupaten di dalam Tata Administrasi
Pemerintah Republik Indonesia. Saat yang bersejarah itu tepatnya jatuh pada seorang
Pimpinan Pemerintahan (acting Bupati) dan seterusnya berlangsung hingga
sekarang.Seorang Bupati pada masa Pemerintahan Hindia Belanda yang terkenal sangat
berwibawa dan arif bijaksana adalah MANGOEN NEGORO II yang terkenal dengan
sebutan KANJENG JIMAT yang makamnya terletak di Desa Ngulankulon Kecamatan
Pogalan. Dan untuk menghormati Beliau, nama "KANJENG JIMAT" diabadikan sebagai
salah satu jalan di Kabupaten Trenggalek.
SUMBER: http://www.trenggalekkab.go.id/menu?page=18&cat=16

PENGOLAHAN HASIL PANEN DAERAH TRENGGALEK DAN DAERAH LAIN