Anda di halaman 1dari 22

ETIKA GURU PROFESIONAL

MAKALAH REVISI
Dipresentasikan dalam seminar Mata Kuliah Etika Profesi
Keguruan
Tahun Akademik 2014/2015

Oleh,

Jumadi
NIM. 80100213169

Dosen Pemandu:

Prof. Dr. H.ABD RAHMAN GETTENG, MA.


Dr. MISYKAT MALIK IBRAHIM, M.Si.

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
TAHUN 2014/2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan adalah investasi sumber daya manusia jangka
panjang

yang

peradaban

mempunyai

manusia.

Oleh

nilai
sebab

strategis
itu,

bagi

hampir

kelangsungan
semua

negara

menempatkan variabel pendidikan sebagai hal yang penting dan


utama dalam konteks pembangunan bangsa dan negara. Begitupun
dengan Indonesia, sebagaimana tercantum dalam isi Pembukaan
UUD 1945 pada alinea ke IV yang menegaskan bahwa salah satu
tujuan nasional bangsa Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan
bangsa.
Untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, maka di Indonesia
dilakukan melalui penyelenggaraan pendidikan yang merupakan
suatu sistem pendidikan nasional yang diatur secara sistematis,
dimana

pendidikan

nasional

berfungsi

mengembangkan

kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang


bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik sebagaimana
tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3.1
Karena

pentingnya

fungsi

pendidikan

sehingga

perlu

diprioritaskan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional,


1Republik Indonesia, Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional.(Cet. 4;Jakarta:Sinar Garfika, 2011)., h. 7

sebab tujuan pendidikan nasional berfungsi sebagai pemberi arah


yang jelas terhadap kegiatan penyelenggaraan pendidikan yang
pada

akhirnya

dapat

melahirkan

pendidikan

yang

bermutu.

Peningkatan mutu pendidikan ditentukan oleh kesiapan sumber


daya

manusia yang terlibat dalam proses pendidikan. Guru

merupakan salah satu faktor penentu tinggi rendahnya mutu hasil


pendidikan.2
Kehadiran guru di sekolah adalah untuk mengabadikan diri
kepada umat manusia dalam hal ini peserta didik. Guru merupakan
orang tua kedua bagi peserta didik.
1 Guru merupakan faktor yang
sangat dominan dalam pendidikan formal karena bagi siswa pada
umumnya, guru dijadikan tokoh teladan bahkan menjadi tokoh
indentifikasi diri. Menjadi guru berdasarkan tuntutan pekerjaan
adalah suatu perbuatan yang mudah, akan tetapi menjadi guru
berdasarkan panggilan jiwa dan tuntutan hati nurani tidaklah
mudah.3 Karena guru yang mendasarkan pengabdiannya karena
panggilan jiwanya akan merasakan kedekatan dengan peserta
didiknya, guru dengan rela hati menyisihkan waktunya demi
kepentingan peserta didiknya, dan akan melakukan tugasnya
dengan ikhlas tanpa pamrih demi kepentingan peserta didiknya.

2Ondi Saondi dan Aris Suherman, Etika Profesi Keguruan.


(Cet.1;Bandung:Refika Aditama,2010), h. 2
3Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi
Edukatif:Suatu Pendekatan Teoritis Psikologis. (Cet.3; Jakarta:Rineka
Cipta,2010), h. 2

Wijaya dan Rusyan dalam Ondi Saondi dan Aris Suherman


menyatakan kehadiran guru dalam proses pembelajaran di sekolah
masih tetap memegang peranan yang penting. Peran tersebut
belum dapat digantikan dan diambil alih oleh apapun. Hal ini
disebabkan karena masih banyak unsur-unsur manusiawi yang tidak
dapat digantikan oleh unsur lain. 4 Sehingga guru dituntut memiliki
kinerja yang mampu memberikan dan merealisasikan harapan dan
keinginan semua pihak terutama masyarakat umum yang telah
mempercayai sekolah dan guru dalam membina peserta didik.
Berdasarkan uraian di atas, makalah ini akan membahas
bagaimana etika guru profesional dalam rangka meningkatkan
mutu pendidikan sesuai denga visi yang telah ditetapkan. Uraian
dalam makalah ini di mulai bagaimana pengertian etika, guru, dan
bagaimana etika guru profesional terhadap peraturan perundangundangan, etika guru profesional terhadap peserta didik, etika guru
profesional terhadap pekerjaan, dan diakhiri dengan menguraikan
etika guru profesional terhadap tempat kerjanya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang di atas, maka yang menjadi
rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pengertian etika, Guru dan profesi/profesional ?

4Ondi Saondi dan Aris Suherman. Etika Profesi Keguruan. (Cet.1;Bandung:Refika


Aditama,2010), h. 3

2. Bagaimana

etika

guru

profesional

terhadap

perundang-

undangan, peserta didik, pekerjaan, dan tempat kerjanya ?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian etika, guru, profesi/professional


1. Pengertian etika
Dalam agama Islam mengajarkan umat manusia untuk selalu
menjaga dan memelihara akhlakul karimah, dalam Al-qur,an Allah
berfirman Q.S Al-Ahzab:21 sebagai berikut:



Terjemahnya:

Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan


yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat)
Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut
Allah. (QS. Al-Ahzab: 21)5.
Dari ayat di atas Allah menjelaskan bahwa betapa pentingnya
memiliki akhlakul karimah, terutama sebagai guru profesinal
seyogiyanya memiliki akhlakul karimah, Karena dia adalah contoh
dan panutan terutama bagi anak didiknya. Jadi kalau seorang guru
tidak memiliki akhlakul karimah maka hilang jati gelarnya sebagai
guru professional.
Kata etik (atau etika) berasal dari kata ethos (bahasa Yunani)
yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat. Sebagai suatu
subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang dimilki oleh
individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan
yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik.
Menurut Martin (1993), etika didefinisikan sebagai the discpline
which can act as the performance index or reference for our control
system.
Kata etik (atau etika) berasal dari kata ethos (bahasa Yunani)
yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat. Etika berkaitan
dengan konsep yang dimiliki oleh individu ataupun kelompok untuk
menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu
salah atau benar, buruk atau baik.6 Sedangkan jika ditinjau dari
bahasa latin etika adalah ethnic, yang berarti kebiasaan, serta

5 Departemen agama Ri, Al- qur,an dan terjemahya, (PT. Karya Toha Putra
Semarang, 2002), hlm. 595
6 Burhanuddin Salam, M. M, Etika Individual Pola Dasar Filsafat, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), h.3

dalam bahasa Greec Ethikos yang berarti a body of moral


principles or values.7
Secara bahasa etika adalah suatu ilmu yang membicarakan
masalah perbuatan atau tingkah laku manusia, mana yang dapat
dinilai baik dan mana yang jahat.8 Etika dapat diapakai dalam arti
niali yang menjadi sesorang atau kelompok dalam mengatur
tingkah lakunya atau lazim dikenal dengan kode etik, misalnya kode
etik guru, pegawai negeri, kode etik jurnalistik, dll.9
Etika menurut berbagai literatur sama juga dengan akhlak,
moral, serta budi pekerti, dimana akhlak berarti perbuatan manusia
(bahasa arab), moral berasal dari kata mores yang berarti
perbuatan manusia, sedangkan budi adalah berasal dari dalam jiwa,
ketika menjadi perbuatan yang berupa manifestasi dari dalam jiwa
menjadi pekerti ( bahasa sanskerta ).10
Jadi kata etika, moral, akhlaq, serta budi pekerti secara
bahasa adalah sama, yaitu perbuatan atau tingkah laku manusia.
Dimana objek etika itu sendiri adalah perbuatan manusia sehingga
menjadi pembahasan yang sampai saat ini terus diperbincangkan.
2. Pengertian Guru

7 Susi Herawati, Etika dan Profesi Keguruan, (Batusangkar: STAIN Press, 2009), h.1
8 Burhanuddin Salam, Etika Individual Pola Dasar Filsafat, h.3
9 Getteng, Abd.Rahman. Menuju Guru Profesional dan Ber-Etika, (Cet.2;Yogyakarta: Grha
Guru, 2009), hlm. 55

10 Susi Herawati, Etika dan Profesi Keguruan, h.1

Pengertian guru yang dikenal pada umumnya adalah guru


merupakan orang yang harus digugu dan ditiru. 11 Dikatakan digugu
(dipercaya)

karena

guru

mempunyai

seperangkat

ilmu

yang

memadai yang karenanya guru memiliki wawasan dan pandangan


yang luas dalam melihat kehidupan dan dikatakan ditiru (diikuti)
karena guru mempunyai kepribadian yang utuh, yang karenanya
segala tindak tanduknya patut dijadikan panutan dan suri tauladan
oleh peserta didiknya.
Syarifuddin Nurdin berpendapat bahwa guru adalah seorang
yang

berdiri

di

depan

kelas

untuk

menyampaikan

ilmu

pengetahuan.12 Sedangkan Syaiful Bahri Djamara memberikan


pengertian yang sederhana bahwa, guru adalah orang yang
memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik.13 Dari kedua
pengertian tersebut menunjukkan bahwa guru adalah orang yang
memberikan

pelajaran

dalam

proses

belajar

mengajar

yang

dilakukan di dalam kelas.


Dari pengertian tersebut, maka yang disebut guru adalah
orang

yang

memiliki

kemampuan

merancang

program

pembelajaran serta mampu menata dan mengelola kelas agar


11H. Hamzah B.Uno, Profesi Kependidikan : Problem, Solusi dan Reformasi
Pendidikan di Indonesia. (Cet.6;Jakarta:Bumi Aksara, 2010), h. 15
12H. Syafruddin Nurdin, Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum.
(Cet.2;Jakarta:Ciputat Press,t.th), h. 7
13Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi
Edukatif:Suatu Pendekatan Teoritis Psikologis. (Cet.3; Jakarta:Rineka
Cipta,2010), h. 31

peserta didik dapat belajar dan pada akhirnya dapat mencapai


tingkat kedewasaan sebagai tujuan akhir dari proses pendidikan.
Defenisi guru tidak termuat dalam Undang-Undang Nomor 20
tahun 2003 tentang Sisdiknas, akan tetapi guru sebagai sebuah
profesi dimasukkan ke dalam rumpun pendidik. Sebagaimana
terdapat dalam pasal 39 ayat 2 ;
Pendidik
merupakan
tenaga
profesional
yang
bertugas
merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai
hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan
serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,
terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.14
Dari pasal tersebut dapat dipahami bahwa pengertian guru
adalah sebagai pendidik yang merupakan tenaga profesional yang
merupakan suatu pekerjaan tertentu yang menuntut persyaratan
khusus

sehingga

dapat

meyakinkan

untuk

memperoleh

kepercayaan pihak yang memerlukannya.


Pengertian guru sebagai tenaga profesional juga dikemukan
oleh

Zakiah Daradjat bahwa guru adalah pendidik profesional,

karena secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan


memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang terpikul di
pundak para orang tua.15 Hal ini menunjukkan bahwa orang tua
tidak

mungkin

menyerahkan

pendidikan

anaknya

kepada

sembarang orang .
14Republik Indonesia, Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003, op cit., h.
27
15Zakiah Derajat, dkk. Ilmu Pendidikan Islam. (Cet.10;Jakarta:Bumi
Aksara, 2012), h. 39

Dalam pengertian yang lazim digunakan, maka pengertian


guru dalam hal pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung
jawab memberikan pertolongan pada peserta didiknya dalam
perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai tingkat
kedewasaannya,

mampu

mandiri

dalam

memenuhi

tingkat

kedewasaan, mampu mandiri dalam memenuhi tugasnya sebagai


hamba Allah swt. dan mampu melakukan tugas sebagai makhluk
sosial dan sebagai makhluk individu yang mandiri.16
Sedangkan menurut Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005
tentang guru dan dosen disebutkan bahwa, yang dimaksud dengan
guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik,
mengajar,

membimbing,

mengarahkan,

melatih,

menilai

dan

mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur


pendidikan formal, pendidikan dasar dan menengah.17
Terlepas dari bermacam interprestasi tersebut, maka dapat
diambil sebuah konklusi bahwa yang dimaksud dengan pengertian
guru dalam pembahasan ini adalah pendidik profesional dengan
tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,
melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik.
Guru

juga

merupakan

aktor

utama

yang

merancang,

merencanakan, menyiapkan dan melaksanakan kegiatan belajar


16Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir. Ilmu Pendidikan Islam. (Cet.1;
Jakarta:Prenada Media, 2006), h. 87
17Republik Indonesia, Undang-Undang R.I. Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan
Dosen. (Jakarta:Cemerlang, t.th ), h. 3

10

mengajar, di tangan

para

gurulah

kegagalan dan kesuksesan

sebuah kegiatan pendidikan. Karena guru merupakan salah satu


komponen

pendidikan

yang

paling

menentukan.

Andaikata

komponen pendidikan yang lain belum tersedia, namun komponen


guru sudah tersedia, maka pendidikan masih akan tetap berjalan.
3. Pengertian profesi/profesional
Secara epistemologi, istilah profesi berasal dari bahasa
Inggris yaitu profession atau bahasa latin, profecus, yang artinya
mengakui, adanya pengakuan, menyatakan mampu, atau ahli
dalam melakukan suatu pekerjaan. Sedangkan secara terminologi,
profesi berarti suatu pekerjaan yang mempersyaratkan pendidikan
tinggi bagi pelakunya yang ditekankan pada pekerjaan mental;
yaitu adanya persyaratan pengetahuan teoritis sebagai instrumen
untuk melakukan perbuatan praktis, bukan pekerjaan manual
( Danin, 2002 ). Jadi suatu profesi harus memiliki tiga pilar pokok,
yaitu pengetahuan, keahlian, dan persiapan akademik.18
Secara bahasa profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi
pendidikan keahlian, keterampilan, kejuruan, dan sebagainya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah profesionalisasi
ditemukan sebagai berikut :
Profesi adalah bg5.bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan
keahlian (keterampilan, kejuruan dan sebagainya) tertentu.
Profesional adalah:
a. Bersangkutan dengan profesi.
b. Memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya.
c. Mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya.
18 Susi Herawati, Etika dan Profesi Keguruan, h. 4

11

Pengertian profesi menurut Dr. Sikun Pribadi adalah profesi


itu pada hakikatnya adalah suatu pernyataan atau suatu janji
terbuka, bahwa seseorang akan mengabdikan dirinya kepada suatu
jabatan atau pekerjaan dalam arti biasa, karena orang tersebut
merasa terpanggil untuk menjabat pekerjaan itu.19
Selanjutnya,

Volmel

dan

Mills

dalam

Soecipto

(2005),

mendefenisikan profesi sebagai suatu spesialisasi dari jabatan


intelektual yang diperoleh melalui studi dan training yang bertujuan
untuk mensuplai keterampilan melalui pelayanan dan bimbingan
pada orang lain.
Menurut de George profesi adalah pekerjaan yang dilakukan
sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang
mengandalkan suatu keahlian.
Profesional adalah

orang

yang

mempunyai

profesi

atau

pekerjaan purna waktu dan hidup dari pekerjaan itu dengan


mengandalkan suatu keahlian yang tinggi.
Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa profesi
adalah suatu kepandaian khusus yang dimiliki oleh seseorang yang
diperoleh

melalui

pendidikan

karena

orang

tersebut

merasa

terpanggil untuk menjabat pekerjaan tersebut.


Dalam berbagai istilah, terdapat istilah profesi dan professional,
berikut kami ingin mengklasifikasi perbedaan antara profesi dan
professional sebagai bahan penjelas atas makalah kami:
Ada perbedaan antara profesi dan professional :
Profesi :

Mengandalkan suatu keterampilan atau keahlian khusus

19 Oemar Hamalik, Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi, (Jakarta: Bumi


Aksara, 2002), hlm.1

12

Dilaksanakan sebagai suatu pekerjaan atau kegiatan utama


(purna waktu)

Dilaksanakan sebagai sumber utama nafkah hidup

Dilaksanakan dengan keterlibatan pribadi yang mendalam

Profesional :

Orang yang tahu akan keahlian dan keterampilannya

Meluangkan

seluruh

waktunya

untuk

pekerjaan

atau

kegiatannya

Hidup dari situ

Bangga akan pekerjaannya


B. Etika Guru Profesional
1. Terhadap Peraturan Perundang-Undangan
Pada butir kesembilan Kode Etik Guru Indonesia disebutkan
bahwa Guru melaksanakan segala kebijakan pemerintah dalam
bidang pendidikan. Dengan jelas bahwa dalam kode etik tersebut
diatur bahwa guru di Indonesia harus taat akan peraturan
perundang-undangan yang di buat oleh pemerintah dalam hal ini
Departemen Pendidikan Nasonal.
Guru merupakan aparatur negara dan abdi negara dalam
bidang pendidikan. Oleh karena itu, guru mutlak harus mengetahui
kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan
dan melaksanakannya sebagaimana aturan yang berlaku. Sebagai
contoh

pemerintah

mengeluarkan

kebijakan

yaitu

mengubah

kurikulum dari kurikulum 1994 menjadi kurikulum 2004 atau

13

kurikulum berbasis kompetensi dan kemudian diubah lagi menjadi


KTSP dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.
Dalam kurikulum tersebut, secara eksplisit bahwa hendaknya
guru

menggunakan

pembelajarannya.
peraturan

yang

pendekatan

Seorang
berlaku

guru

dengan

yang
cara

kontekstual
profesional
menerapkan

dalam
taat

akan

kebijakan

pendidikan yang baru tersebut dan akan menerima tantangan baru


tersebut,

yang

nantinya

diharapkan

akan

dapat

memacu

produktivitas guru dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan


nasional.
2. Terhadap Anak Didik
Dalam Kode Etik Guru Indonesia dengan jelas dituliskan
bahwa guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk
manusia seutuhnya yang berjiwa pancasila. Dalam membimbing
anak didiknya Ki Hajar Dewantara mengemukakan tiga kalimat
padat yang terkenal yaitu ing ngarso sung tulodo, ing madyo
mangun karso, dan tut wuri handayani. Dari ketiga kalimat tersebut,
etika guru terhadap peserta didik tercermin. Kalimat-kalimat
tersebut mempunyai makna yang sesuai dalam konteks ini.
Pertama, guru hendaknya memberi contoh yang baik bagi
anak didiknya. Ada pepatah Sunda yang akrab ditelinga kita yaitu
Guru digugu dan Ditiru (diikuti dan diteladani). Pepatah ini harus
diperhatikan oleh guru sebagai tenaga pendidik. Guru adalah
contoh nyata bagi anak didiknya. Semua tingkah laku guru
hendaknya jadi teladan. Keteladanan seorang guru merupakan

14

perwujudan realisasi kegiatan belajr mengajar, serta menanamkan


sikap kepercayaan terhadap siswa. Seorang guru berpenampilan
baik

dan

sopan

Sebaliknya,

akan

seorang

sangat

guru

mempengaruhi

yang

bersikap

sikap

premanisme

siswa.
akan

berpengaruh buruk terhadap sikap dan moral siswa. Disamping itu,


dalam memberikan contoh kepada peserta didik guru harus dapat
mencontohkan bagaimana bersifat objektif, terbuka akan kritikan,
dan menghargai pendapat orang lain20.
Kedua, guru harus dapat mempengaruhi dan mengendalikan
anak didiknya. Dalam hal ini, prilaku dan pribadi guru akan menjadi
instrumen ampuh untuk mengubah prilaku peserta didik. Sekarang,
guru bukanlah sebagai orang yang harus ditakuti, tetapi hendaknya
menjadi

teman

bagi

peserta

didik

tanpa

menghilangkan

kewibawaan sebagai seorang guru. Dengan hal itu guru dapat


mempengaruhi dan mampu mengendalikan peserta didik.
Ketiga, hendaknya guru menghargai potensi yang ada dalam
keberagaman siswa. Bagi seorang guru, keberagaman siswa yang
dihadapinya adalah sebuah wahana layanan profesional yang
diembannya.

Layanan

profesional

guru

akan

tampil

dalam

kemahiran memahami keberagaman potensi dan perkembangan


peserta didik, kemahiran mengintervensi perkembangan peserta
didik dan kemahiran mengakses perkembangan peserta didik21.
20 Nurzaman. Tingkatkan Mutu Siswa Lewat Profesional Guru. Diakses Tanggal 3 Desember 2007
tersedia pada http://www.Pikiran-rakyat.com/index.php?
option=com.conten&task=view&id=162&itemid36.

(2005) hlm. 3

21 Kartadinata, Senja Kala Profesi Guru. Diakses Tanggal 3 Desember 2007 tersedia pada
http://www.Pikiran.com/cetak/1104/24/0802.htm (2004). hlm. 4

15

Semua kemahiran tersebut perlu dipelajari dengan sungguhsungguh dan sistematis, secara akademik, tidak bisa secara
alamiah, dan semua harus terinternalisasi dan teraktualisasi dalam
perilaku mendidik.
Sementara itu, prinsip manusia seutuhnya dalam kode etik ini
memandang manusia sebagai kesatuan yang bulat, utuh, baik
jasmani maupun rohani. Peserta didik tidak hanya dituntut berlimu
pengetahuan tinggi, tetapi harus bermoral tinggi juga. Guru dalam
mendidik seharusnya tidak hanya mengutamakan pengetahuan
atau

perkembangan

intelektual

saja,

tetapi

juga

harus

memperhatikan perkembangan pribadi peserta didik, baik jasmani,


rohani, sosial maupun yang lainnya yang sesuai dengan halkikat
pendidikan. Ini dimaksudkan agar peserta didik pada akhirnya akan
dapat menjadi manusia yang mampu menghadapi tantangantantangan di masa depan. Peserta didik tidak dapat dipandang
sebagai objek semata yang harus patuh pada kehendak dan
kemauan guru.
4 Etika Guru Profesional terhadap pekerjaan
Pekerjaan guru adalah pekerjaan yang mulia. Sebagai seorang
yang profesional , guru harus melayani masyarakat dalam bidang
pendidikan dengan profesional juga. Agar dapat memberikan
layanan

yang

memuaskan

masyarakat,

guru

harus

dapat

menyesuaikan kemampuan dan pengetahuannya dengan keinginan


dan permintaan masyarakat. Keinginan dan permintaan ini selalu
berkembang

sesuai

dengan

perkembangan

masyarakat

yang

biasanya dipengaruhi oleh perkembangan ilmu dan teknologi. Oleh

16

sebab itu, guru selalu dituntut untuk secara terus menerus


meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan,
dan

mutu

layanannya.

Keharusan

meningkatkan

dan

mengembangkan mutu ini merupakan butir keenam dalam Kode


Etik Guru Indonesia yang berbunyi Guru secara pribadi dan
bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu dan
martabat profesinya.
Secara

profesional,

guru

tidak

boleh

dilanda

wabah

completism, merasa diri sudah sempurna dengan ilmu yang


dimilikinya, melainkan harus belajar terus menerus 22. Bagi seorang
guru, belajar terus menerus adalah hal yang mutlak. Hal ini karena
yang dihadapi adalah peserta didik yang sedang berkembang
dengan segala dinamikanya yang memerlukan pemahaman dan
kearifan dalam bertindak dan menanganinya.
Untuk meningkatkan mutu profesinya, menurut Soejipto dan
kosasi ada ua cara yaitu cara formal dan cara informal. Secara
formal artinya guru mengikuti pendidikan lanjutan dan mengikuti
penataran, lokakarya, seminar, atau kegiatan ilmiah lainnya. Secara
informal

dapat

dilakukan

melalui

televisi,

radio,

koran,

dan

sebagainya.
5

. Etika Guru Profesional terhadap tempat kerja

Sudah diketahui bersama bahwa suasana yang baik ditempat


kerja akan meningkatkan produktivitas. Ketidakoptimalan kinerja

22 Kartadinata, Senja Kala Profesi Guru. Diakses Tanggal 3 Desember 2007 tersedia pada
http://www.Pikiran.com/cetak/1104/24/0802.htm (2004). hlm. 1

17

guru antara lain disebabkan oleh lingkungan kerja yang tidak


menjamin pemenuhan tugas dan kewajiban guru secara optimal.
Dalam

UU

No.

20/2003

pasal

bahwa

pemerintah

berkewajiban menyiapkan lingkungan dan fasilitas sekolah yang


memadai secara merata dan bermutu diseluruh jenjang pendidikan.
Jika

ini

terpenuhi,

guru

yang

profesional

harus

mampu

memanfaatkan fasilitas yang ada dalam rangka terwujudnya


manusia seutuhnya sesuai dengan Visi Pendidikan Nasional23.
Disisi lain, jika kita dihadapkan dengan tempat kerja yang
tidak mempunyai fasilitas yang memadai bahkan buku pelajaran
saja sangat minim. Bagaimana sikap kita sebagai seorang guru?
Ternyata, keprofesionalan guru sangat diuji disini. Tanpa fasilitas
yang memadai guru dituntut untuk tetap profesional dalam
membimbing anak didik. Kreatifitas guru harus dikembangkan
dalam situasi seperti ini.
Berkaitan

dengan

ini,

pendekatan

pembelajaran

kontekstual dapat menjadi pemikiran para guru untuk lebih kreatif.


Dalam pendekatan ini, diartikan strategi belajar yang membantu
guru mengaitkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata siswa
dan

mendorong

siswa

mengaitkan

pengetahuan

yang

telah

dimilikinya drngan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.


Sementara itu, sikap profesional guru terhadap tempat
kerja juga dengan cara menciptakan hubungan harmonis di

23 Undang-undang 20 tahun 2003, Tentang Sistem pendidikan Nasional,


hlm. 23

18

lingkungan tempat kerja, baik di lingkungan sekolah, masyarakat


maupun dengan orang tua peserta didik.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan diatas, maka
dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

19

1. Etika profesional seorang guru sangat dibutuhkan dalam


rangka meningkatkan mutu pendidikan nasional. Seorang
guru baru dapat disebut profesional jika telah menaati
Kode Etik Keguruan yang telah ditetapkan. pengertian guru
dalam pembahasan ini adalah pendidik profesional dengan
tugas

utama

mendidik,

mengajar,

membimbing,

mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta


didik
2.

Seorang guru yang profesional taat akan peraturan yang


berlaku dengan cara menerapkan kebijakan pendidikan
yang baru tersebut dan akan menerima tantangan baru
tersebut, yang nantinya diharapkan akan dapat memacu
produktivitas guru dalam rangka meningkatkan mutu
pendidikan nasional. Guru dalam mendidik seharusnya
tidak

hanya

perkembangan

mengutamakan
intelektual

saja,

pengetahuan
tetapi

juga

atau
harus

memperhatikan perkembangan pribadi peserta didik, baik


jasmani, rohani, sosial maupun yang lainnya yang sesuai
dengan halkikat pendidikan
B. Implikasi
Semoga guru Indonesia benar-benar menjadi guru yang bisa
memposisikan dirinya sebagai agen pembelajaran yang berfungsi
untuk meningkatkan mutu pendidikan, dapat sebagai pelaku
propaganda yang bijak dan dapat menuju ke arah yang positif bagi
perkembangan peserta didik di sekolah maupun di masyarakat.

20

DAFTAR PUSTAKA
Derajat, Zakiah. dkk. Ilmu Pendidikan Islam. Cet.10;Jakarta:Bumi
Aksara, 2012.
Djamarah, Syaiful Bahri. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi
Edukatif;Suatu Pendekatan Teoritis Psikologis. Cet.3;Jakarta:
Rineka Cipta, 2010.
Getteng, Abd.Rahman. Menuju Guru Profesional dan Ber-Etika.
Cet.2;Yogyakarta: Grha Guru, 2009.
Ihsan, Fuad. Dasar-Dasar Kependidikan. Cet.1;Jakarta: Rineka Cipta,
1997.
Jurnal Pendidikan Penabur, Konsep Pendidikan Formal dengan
Muatan Budaya Multikultural. No.04/Th.IV/Juli, 2010.
Syafruddin Nurdin, Guru Profesional
(Cet.2;Jakarta:Ciputat Press,t.th)

dan

Implementasi

Mujib, Abdul dan Jusuf Mudzakir. Ilmu


Cet.1;Jakarta:Prenada Media, 2006.

Kurikulum.

Pendidikan

Islam.

Republik Indonesia. Undang-Undang RI, Nomor 20 Tahun 2003.


Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Cet.4;Jakarta: Sinar
Grafika, 2011.
Republik Indonesia. Undang-Undang RI, Nomor 14 Tahun 2005.
Tentang Guru dan Dosen. Jakarta: Cemerlang,t.th.
Saondi, Ondi dan Aris Suherman. Etika
Cet.1;Bandung: Refika Aditama, 2010.
Tirtarahardja,Umar dan S.L.La Sulo.
Cet.1;Jakarta:Rineka Cipta, 2005.

Profesi

Pengantar

Keguruan.
Pendidikan.

Uno,H.Hamzah
B.
Profesi
Kependidikan:Problem,Solusi
dan
Reformasi Pendidikan di Indonesia. Cet.6;Jakarta:Bumi Aksara,
2010.
Kartadinata. 2004. Senja Kala Profesi Guru. Diakses Tanggal 3
Desember
2007
tersedia
pada
http://www.Pikiran.com/cetak/1104/24/0802.htm

21