Anda di halaman 1dari 3

Budaya Industri dan Budaya Konsumsi by Daniel

Mato

(Ayu Astria RA / 208 0000 33)

Sedari awal Mato selaku penulis memang telah memaparkan apa saja
yang akan ia tuangkan dalam tulisannya. Yang pertama yaitu tentang
asal-usul dari kedua istilah cultural industries dan cultural consumption,
bagaimana dan apa yang menjadi pendorong munculnya terminology
tersebut dalam ranah ilmu di dunia kini.

Industry Budaya, pengatasnamaan seni sebagai budaya yang


dindustrikan. Dengan kata lain, seni berubah nialai bukan hanya
menjadi hasil karya tapi juga pemenuh kebutuhan atau hanya sekedar
penunjukkan prestige individu.

Semua industry merupakan budaya, segala produk dalam bentuk


symbol social yang diproduksi lalu dibeli dan dikonsumsi oleh
konsumen. Bukan hanya berfungsi sebagai pemenuh kebutuhan tapi
juga sebagai penghasil makna terhadap nilai dan interpretasi
konsumennya.

Industry dapat mempengaruhi perubahan social manusia. Objek


pemenuh kebutuhan bukan hanya digunakan berdasarkan fungsinya
tapi juga dapat menjadi perwujudan mimpi dan keinginan, identitas,
kepemilikan social, dan lain-lain.

Kedua yaitu, Mato berkeinginan untuk dapat memberi penjelasan bahwa


berbagai bentuk industry dan konsumsi itu adalah “budaya”. Budaya
disini memang sengaja diberi penanda khusus agar kita dapat
memahami dengan sebenarnya, apa budaya yang dimaksud oleh Mato.

Beberapa contoh kasus dipaparkan, mulai dari mainan, “fashion”,


sampai dengan otomotif/mobil. Dari tiap kasus memang berbeda dalam
perkembangannya. Mainan memang memiliki fungsi bagi anak untuk
bermain misalnya namun karena industry yang memasukkan unsur
advertensi dan marketing maka mainan pun berubah menjadi “fashion”,
kebutuhan identitas kelompok social tertentu atau memang benar-
benar sebagai mainan.

Berbeda dengan fashion, ternyata fashion tidak melulu mengenai


pakaian. Istilah fashion kini lebih dekat dengan life style dan sejenisnya.
Dan semakin berubah saja menjadi komoditas kelas tinggi ketika
diproduksi nonmasal serta dengan segmentasi yang berbeda. Yaitu
dengan design yang makin eksklusif dan akhirnya hanya dimiliki oleh
kelas menangah ke atas.

Yang berbeda dengan kasus mainan adalah ternyata budaya tentang


fashion diberbagai daerah masih ada yang kuat sehingga perbedaan
penilaian terhadap fashion masih dapat dianggap sebagai filter kuat
terhadap perubahan yang mungkin tak baik pada masyarakat.

Dan yang terakhir Mato ingin mencerahkan kita dengan mempelajari


secara spesifik tentang industry dan bentuk-bentuk konsumsi dari
perspektif budaya. Bagaimana budaya memandang kedua fenomena
hyang sekarang terjadi didunia. Walaupun ternyata pada bagian ini
Mato hanya ingin bermaksud untuk merangsang kita lebih menggali lagi
atas apa yang kita pahami dari tulisannya.

Dan menurut saya sendiri, budaya konsumsi mungkin adalah akibat dari
budaya industry. Kebutuhan-kebutuhan manusia berubah fungsi
menjadi komoditas pemilik pabrik. Dengan berbagai strategi komunikasi
di media dan strategi marketing yang memikat maka mereka dapat
menarik konsumen yang tak lain adalah masyarakat. Sedangkan
komoditas ini tak hanya berbentuk barang yang dapat dipakai hingga
habis atau rusak. Tapi juga berupa program di media-media elektronik
atau sebuah paham dan pandangan yang selalu disajikan dengan
lembut oleh para penguasa.

Anda mungkin juga menyukai