Anda di halaman 1dari 2

Tugas ke-2 Sosiologi Media

Resume Seminar Revisi UU No. 32 Th. 2002 tentang


Penyiaran
Oleh: Ayu Astria R A (208 0000 33)

Undang-undang dibuat untuk dapat mengatur segala sesuatu yang


berkenaan dengan kepentingan bersama, bukanhanya kepentingan
pamerintah, pasar atau industry atau siapapun yang merasa
berkuasa. Dan sepatutnya undang-undang dapat dilaksanakan
dengan sebenar-benarnya sesuai dengan isi dan aturan yang
terdapat dalam undang-undang yang bersangkutan, juga karena
sebenarnya undang-undang juga berkekuatan hukum.

Dan UU No. 32 Th. 2002 tentang Penyiaran dibuat dan disusun tidak
sembarangan, hal ini terlihat dari isinya yang memang sudah dinilai
baik oleh banyak pihak, mulai dari akademisi sampai dengan
advokat. Undang-undang berisikan bagaimana pengaturan terhadap
lembaga-lembaga penyiaran, masyarakat, pemerintah kemudian
juga tentang peran dan fungsi Komisi Penyiaran Indonesia.

Menurut salah satu petinggi KPI, terdapat tiga alasan kuat lahirnya
UU Penyiaran adalah:

1. Tuntutan demokratisasi Penyiaran dan atau dijaminnya


kmerdekaan berpendapat dan memperoleh informasi melalui
penyiaran
2. Jawaban dinamika histors Indonesia yang dahulu penyiaran
adalah pelayan kekuasaan dan tunduk pada penguasa, yang
pada akhirnya menjadi corong pemerintah
3. Respon dari libelarisasi ekonomi yang telah merubah struktur
pasar dan industry media penyiaran di Indonesia

Termasuk pula dalam undang-undang tersebut terdapat pengaturan


bagaimana lembaga penyiaran komersil nasional terutama tv
dilarang bersiaran nasional lagi. Dan hal ini seharusnya
menghidupkan tv atau lembaga penyiaran berjaringan atau juga
lembaga penyiaran komunitas di daerah-daerah.

Kemudian setelah selama sewindu UU ini disahkan dan (harusnya)


dijalankan dengan sebaik-baiknya. Ternyata sebagian besar isi dari
UU ini tak dapat terlaksana. Banyak pihak yang menilai bahwa hal
ini memang kesalahan pemerintah. Dan tiba-tiba saja pemerintah
ingin memutuskan merevisi UU Penyiaran karena pemerintah
menganggap banyak hal yang perlu diperbaiki karena tidak sesuai
dengan apa yang terjadi dengan dunia penyiaran akhir-akhir ini.
Salah satu anggota DPR-RI berpendapat bahwa UU Penyiaran perlu
direvisi karena banyaknya muncul permasalahan, diantaranya
sentralisasi kepemilikan tv swasta nasional, peran dan fungsi KPI
yakni sebagai lembaga Negara tak dapat berbuat banyak sebagai
regulator UU Penyiaran, permasalahan tentang lembaga penyiaran
asing, perolehan dan pencabutan izin lembaga penyiaran dan
cakupan siaran.

Alasan-alasan diatas tak dapat dibenarkan menurut aktivis


komunikasi dan saya sendiri. Menurut saya, benar bahwa UU ini
sangat hebat karena sudah sangat sesuai dengan apa yang disebut
dengan mendekati ideal. Kepentingan public sudah dapat
diakomodasi sebenarnya.

Secara jelas dan terang-terangan hamper seluruh peserta seminar


menyetujui tak perlu ada perubahan dalam UU ini. Yang perlu
dilakukan adalah pemerintah dapat benar-benar dapat menindak
tegas para pelaku lembaga penyiaran yang memang melanggar
ketentuan dalam undang-undang. Sudah sewindu ini seluruh tv
swasta nasional tidak mengindahkan UU ini tapi pemerintah tapak
adem atem saya. Jadi sebaiknya, janganlah dirubah tapi dijalankan
dengan sebenar-benarnya. Jangan hanya mementingkan para
pemilik modal dan kuasa (industri). Public yang dalam hal ini
masyarakat juga perlu diperjuangkan kepentingannya.

Yang lainnya adalah kejelasan KPI sebagai lembaga Negara yang


(katanya) independen ternyata malah tak dapat berbuat banyak.
Permaslahannya disinyalir karena Menkominfo. Dua lembaga ini
malah sempat berebut hak di pengadilan. Hal ini sangat
disayangkan, KPI harusnya dapat menjadi regulator yang
sebenarnya, bukan hanya sebuah boneka pemerintah untuk
mendapatkan image baik dari masyarakat. Berilah kejelasan peran
dan fungsi KPI agar ia dapat menjadi lembaga yang independen dan
ditakuti oleh lembaga penyiaan yang memang menbandel.

Harapan-harapan ini sangat besar dan semoga saja pihak yang


berkuasa disana tak hanya dapat melakukan dominasi terhadap
segala kepentingan public. Selama ini, segala hal mengenai
kepentingan public selalu dilemahkan. Pemerintah baik Dewan
maupun Kementrian harus dapat bersikap tegas.

Anda mungkin juga menyukai