Anda di halaman 1dari 2

UU PTPPO : Mampukah Indonesia Memberantas dan Mencegah Trafficking?

Fri, 12/10/2010 - 11:20 supri


Pada tahun 2007 Indonesia mendapat kabar gembira atas disahkannya kebijakan nasional Anti
Trafficking yaitu Undang-Undang No. 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Perdagangan Orang (UU PTPPO). Selama hampir 10 tahun Rancangan Undang-Undang ini akhirnya
dapat diluncurkan.
Kegembiraan ini adalah bagian dari harapan keinginan atas perubahan keadaan sebagian besar anak
perempuan yang diperdagangkan untuk tujuan eksploitasi seksual maupun kerja paksa. Situasi ekonomi
yang sulit dan kurangnya akses pendidikan serta kebudayaan yang memberi peluang adalah beberapa
penyebab utama atas tindakan perdagangan orang ini memungkinkan untuk diatasi melalui kebijakan
atau aturan hukum yang spesifik. Kebijakan ini pun disambut oleh beberapa daerah dalam bentuk
peraturan daerah seperti di provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sumatera Utara, Kalimantan
Barat, Kepulauan Riau, Lampung, Jawa Timur, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur.
Namun dibalik kegembiraan tersebut banyak sejumlah tantangan yang akan dihadapi oleh para penegak
hukum, bahwa sebagian ahli hukum melihat bahwa UU ini sulit ditegakkan di Indonesia. Pertama adalah
karena UU ini memiliki konsekuensi yuridis yaitu terikat dengan banyak peraturan perundangan lainnya
seperti perlindungan anak, imigrasi, KUHP, tenaga kerja, kewarganegaraan, perlindungan saksi dan
korban, serta penempatan tenaga kerja luar negeri.
Bahwa UU ini mencakup lintas sektor, apalagi bila korban ditemukan ternyata adalah juga pelaku
perdagangan. Kedua, yang perlu diperhatikan adalah kurangnya pengetahuan para penegak hukum
dalam menjalankan UU ini, serta koordinasi lintas sektor yang perlu dilakukan secara terus menerus
dalam penanganan kasus. Ketiga, kurangnya partisipasi masyarakat juga atas ketidaktahuannya-- alihalih mendapatkan perlindungan yang memadai, kita lebih sering menemukan pekerja seks komersial,
termasuk anak-anak di dalamnya, ditempatkan dalam stigma dan tudingan sebagai pelaku kriminal dan
orang pesakitan. Berita-berita di TV dan surat kabar misalnya mempertontonkan bagaimana mengatasi
persoalan pekerja seks komersial dengan melakukan aksi penertiban dan razia yang justru tidak
melindungi perempuan dari eksploitasi seksual komersial. Tidak sedikit para pekerja seks komersial justru
menjadi sasaran kriminalisasi dan dikirim ke tempat-tempat penampungan sosial atau pusat rehabilitasi,
sementara bagaimana begitu banyaknya tempat-tempat hiburan yang dimiliki para pebisnis hiburan
dengan berbagai backing nya dan terutama para konsumen, dapat lepas dari jeratan hukum dan
stigma.
Pada intinya, Indonesia patut bergembira atas adanya UU Anti Trafficking ini, tentu dengan catatan
sejumlah tantangan berat dalam pelaksanaannya.
Jurnal Perempuan kali ini mengolah bagaimana UU tersebut dan kemungkinan atas implementasinya,
dan tidak lupa menyajikan bagaimana konteks situasi Indonesia sekarang. Setelah membaca tulisantulisan ini, redaksi berharap pembaca Jurnal Perempuan terbuka pikiran dan hatinya untuk ikut
berpartisipasi dalam pemberantasan dan pencegahan trafficking. Semoga! (Mariana Amiruddin)

supri's blog

Gadis Kota Jadi Incaran Human Trafficking


Rabu, 28 Agustus 2013 09:41 WITA
+ Share

TRIBUNMANADO.CO.ID Para pelaku jual beli manusia (human trafficking) mulai mengalihkan sasaran aksi
kejahatan mereka. Jika pada beberapa tahun lalu, korban yang mereka incar adalah gadis-gadis remaja yang
berasal dari daerah pelosok.
"Sekarang bisa dari daerah mana saja, tidak hanya dari daerah tertinggal atau miskin. Dari kota-kota besar
juga banyak," ujar Panit 1 Unit Trafficking and People Sugling Subdit 4 Direskrimum Polda Jabar, AKP Yayah
Rokayah, saat ditemui usai rakor pembentukan gugus depan penanganan korban perdagangan manusia dan
kekerasan terhadap perempuan dan anak di Sekretariat P2TP2A KBB, Jalan Raya Batujajar, Bandung, Selasa
(27/8/2013).
Mereka yang berasal dari perkotaan, kata Yayah, lebih mudah diiming-imingi karena ingin memenuhi gaya
hidup hedonis yang mereka jalani. "Kalau dari daerah, lebhih karena faktor memenuhi kebutuhan ekonomi,"
ujarnya.
Meski belum ada data yang pasti, kasus human trafficking di Jabar, menurutnya tergolong tinggi. "Thun ini saja,
ada 20 kasus human tarfficking yang kami tangani," ujarnya.
Untuk mengurangi angka tersebut, Yayah mengajak semua pihak agar ikut berpartisipasi dalam melakukan
pengawasan serta mengedukasi masyarakat terutama kaum wanita dan anak-anak agar tidak sampai menjadi
korban human trafficking maupun kekerasan.
Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan (PP) Badan Pemberdayaan Perlindungan Perempuan Anak dan
Keluarga Berencana (BP3AKB) KBB, Nur Djulaeha, mengatakan tingginya angka kasus perdagangan manusia
ini membuat Pemkab Bandung Barat merasa perlu untuk membuat tim khusus untuk menangani dan
mencegahnya.
Tim gugus tugas ini, terdiri dari berbagai unsur seperti aparat penegak hukum dari kepolisian Polda Jabar dan
Polres Cimahi, unsur Kejaksaan Negeri (Kejari) Bandung, akademisi, dinas sosial, dinas pendidikan, dinas
kesehatan, Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa, Gabungan Organisasi Wanita (GOW),
tim penggerak PKK, P2TP2A, LSM, dan unsur media massa. (tribun jabar)