Anda di halaman 1dari 19

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN

DENGAN OTITIS MEDIA


Posted on December 9, 2012 by rikayuhelmi116
Standard

KATA PENGANTAR
Puji syukur kita ucapkan kepada Allah SWT, berkat rahmat dan karunia_Nya kami dapat
menyelesaikan tugas makalah Keperawatan Medikal Bedah 1 ( KMB 1 ) ini.
Kami mengucapkan terima kasih kepada teman-teman dan keluarga yang membantu
memberikan semangat dan dorongan demi terwujudnya karya ini, yaitu makalah
Keperawatan Medical Bedah 1 (KMB 1) ini.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yaitu Ns. Rizka Austriani,
S.Kep yang telah membantu kami, sehingga kami merasa lebih ringan dan lebih mudah
menulis makalah ini. Atas bimbingan yang telah berikan, kami juga mengucapkan terima
kasih kepada pihak-pihak yang juga membantu kami dalam penyelesaian makalah ini.
Kami menyadari bahwa teknik penyusunan dan materi yang kami sajikan masih kurang
sempurna.Untuk itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang mendukung dengan tujuan
untuk menyempurnakan makalah ini.
Dan kami berharap, semoga makalah ini dapat di manfaatkan sebaik mungkin, baik itu bagi
diri sendiri maupun yang membaca makalah ini.

Padang, 7 November
2012

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

1. I.

LATAR BELAKANG

Otitis Media Akut adalah suatu infeksi pada telinga tengah yang disebabkan karena masuknya
bakteri patogenik ke dalam telinga tengah (Smeltzer, 2001). Otits media akut (OMA) dapat
terjadi kare beberapa faktorpenyebab, seperti sumbatan tuba eustachius (merupakan penyebab
utama darikejadian otitis media yang menyebabkan pertahanan tubuh pada silia mukosa
tubaeustachius terganggu), ISPA (infeksi saluran pernafasan atas), dan bakteri( Streptococcus
peumoniae, Haemophylus influenza, Moraxella catarrhalis,dan bakteri piogenik lain, seperti
Streptococcus hemolyticus, Staphylococcus aureus, E. coli, Pneumococcus vulgaris).
Di Amerika Serikat, diperkirakan bahwa sekitar 9,3 juta anak-anak mengalami serangan
OMA pada 2 tahun pertama kehidupannya (Berman, 1995).Menurut Teele (1991) dalam
Commissoet al. (2000), 33% anak akan mengalamisekurang-kurangnya satu episode OMA
pada usia 3 tahun pertama. Terdapat 70%anak usia kurang dari 15 tahun pernah mengalami
satu episode OMA (Bluestone,1996). Faktanya, ditemukan bahwa otitis media menjadi
penyebab 22,7% anak-anak pada usia dibawah 1 tahun dan 40% anak-anak pada usia 4
sampai dengan 5tahun yang datang berkunjung ke dokter anak. Selain itu, sekitar
sepertigakunjungan ke dokter didiagnosa sebagai OMA dan sekitar 75% kunjungan balik ke
dokter adalah untuk follow-up

penyakit otitis media tersebut (Teeleet al.,1989).


Menurut Casselbrant (1999) dalam Titisari (2005), menunjukkan bahwa19% hingga 62%
anak-anak mengalami sekurang-kurangnya satu episode OMAdalam tahun pertama
kehidupannya dan sekitar 50-84% anak-anak mengalamipaling sedikit satu episode OMA
ketika ia mencapai usia 3 tahun. Di AmerikaSerikat, insidens OMA tertinggi dicapai pada
usia 0 sampai dengan 2 tahun,diikuti dengan anak-anak pada usia 5 tahun.

B. TUJUAN
1. Tujuan umum
Mahasiswa dapat memahami kelainan pendengaran pada pasien otitis media
2. Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mampu memberikan pengkajian pada pasien dengan otitis media
2. Mahasiswa mampu memberikan diagnosa pada pasien dengan otitis media
3. Mahasiswa mampu memberikan intervensi pada pasien dengan otitis media
4. Mahasiswa mampu memberikan implementasi pada pasien dengan otitis media
5. Mahasiswa mampu memberikan evaluasi pada pasien dengan otitis media

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

1. I.

DEFINISI

Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba
eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid (Ahmad Mufti, 2005)
Otitis media adalah inflamasi pada bagian telinga tengah. Otitis media sebenarnya adalah
diagnosa yang paling sering dijumpai pada anak anak di bawah usia 15 tahun.
Otitis Media Akut adalah suatu infeksi pada telinga tengah yangdisebabkan karena masuknya
bakteri patogenik ke dalam telinga tengah(Smeltzer, 2001).
Otitis Media Akut adalah peradangan akut sebagian atau seluruhperiosteum telinga tengah
(Mansjoer,Arif,2001).

1. II.

ETIOLOGI

2. Disfungsi atau sumbatan tuba eustachius merupakan penyebab utama dariotitis media
yang menyebabkan pertahanan tubuh pada silia mukosa tubaeustachius terganggu,
sehingga pencegahan invasi kuman ke dalam telingatengah juga akan terganggu
3. ISPA (infeksi saluran pernafasan atas), inflamasi jaringan di sekitarnya(misal :
sinusitis, hipertrofi adenoid), atau reaksi alergi (misalkan rhinitisalergika). Pada anakanak, makin sering terserang ISPA, makin besarkemungkinan terjadinya otitis media
akut (OMA). Pada bayi, OMAdipermudah karena tuba eustachiusnya pendek, lebar,
dan letaknya agak horisontal.
4. BakteriBakteri yang umum ditemukan sebagai mikroorganisme penyebab adalah
Streptococcus peumoniae, Haemophylus influenza, Moraxella catarrhalis,dan bakteri
piogenik lain, seperti Streptococcus hemolyticus,Staphylococcus aureus, E. coli,
Pneumococcus vulgaris.

1. III.

PATOFISIOLOGI

Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas (ISPA) yangdiebabkan oleh
bakteri, kemudian menyebar ke telinga tengah melewati tubaeustachius. Ketika bakteri
memasuki tuba eustachius maka dapat menyebabkaninfeksi dan terjadi pembengkakan,
peradangan pada saluran tersebut.
Proses peradangan yang terjadi pada tuba eustachius menyebabkan stimulasi kelenjarminyak
untuk menghasilkan sekret yang terkumpul di belakang membran timpani.Jika sekret
bertambah banyak maka akan menyumbat saluran eustachius,sehingga pendengaran dapat
terganggu karena membran timpani dan tulang osikel(maleus, incus, stapes) yang
menghubungkan telinga bagian dalam tidak dapatbergerak bebas.
Selain mengalami gangguan pendengaran, klien juga akanmengalami nyeri pada
telinga.Otitis media akut (OMA) yang berlangsung selama lebih dari dua bulandapat

berkembang menjadi otitis media supuratif kronis apabila faktor higienekurang diperhatikan,
terapi yang terlambat, pengobatan tidak adekuat, dan adanyadaya tahan tubuh yang kurang
baik.

IV. MANIFESTASI KLINIS


1. Otitis Media Akut
Gejala otitis media dapat bervariasi menurut beratnya infeksi dan bisa sangat ringan dan
sementara atau sangat berat. Keadaan ini biasanya unilateral pada orang dewasa.

Membrane tymphani merah, sering menggelembung tanpa tonjolan tulang yang dapat
dilihat, tidak bergerak pada otoskopi pneumatic ( pemberian tekanan positif atau
negative pada telinga tengah dengan insulator balon yang dikaitkan ke otoskop ),
dapat mengalami perforasi.

Otorrhea, bila terjadi rupture membrane tymphani

Keluhan nyeri telinga ( otalgia )

Demam

Anoreksia

Limfadenopati servikal anterior

1. Otitis Media Serosa


Pasien mungkin mengeluh kehilangan pendengaran, rasa penuh atau gatal dalam telinga atau
perasaan bendungan, atau bahkan suara letup atau berderik, yang terjadi ketika tuba eustachii
berusaha membuka. Membrane tymphani tampak kusam (warna kuning redup sampai abuabu pada otoskopi pneumatik, dan dapat terlihat gelembung udara dalam telinga tengah.
Audiogram biasanya menunjukkan adanya kehilangan pendengaran konduktif.

1. Otitis Media Kronik


Gejala dapat minimal, dengan berbagai derajat kehilangan pendengaran dan terdapat otorrhea
intermitten atau persisten yang berbau busuk. Biasanya tidak ada nyeri kecuali pada kasus
mastoiditis akut, dimana daerah post aurikuler menjadi nyeri tekan dan bahkan merah dan
edema. Kolesteatoma, sendiri biasanya tidak menyebabkan nyeri. Evaluasi otoskopik
membrane timpani memperlihatkan adanya perforasi, dan kolesteatoma dapat terlihat sebagai
masa putih di belakang membrane timpani atau keluar ke kanalis eksterna melalui lubang
perforasi. Kolesteatoma dapat juga tidak terlihat pada pemeriksaan oleh ahli otoskopi. Hasil

audiometric pada kasus kolesteatoma sering memperlihatkan kehilangan pendengaran


konduktif atau campuran.

1. V. ANATOMI FISIOLOGI
Secara anatomi telinga dibagi menjadi tiga bagian yaitu telinga luar, tengah dan dalam.
Dalam perkembangannya telinga dalam merupakan organ yang pertama kali terbentuk
mencapai konfingurasi dan ukuran dewasa pada trimester pertengahan kehamilan. Sedangkan
telinga tengah dan luar belum terbentuk sempurna saat kelahiran, akan tumbuh terus dan
berubah bentuk sampai pubertas.
a)

Telinga dalam

Labirin mulai berdiferensiasi pada akhir minggu ketiga dengan munculnya plakoda otik
(auditori). Dalam waktu kurang dari satu minggu plakoda tersebut mengalami invaginasi
membentuk lekuk pendengaran, kemudian berdilatasi membentuk suaru kantong, selanjutnya
tumbuh menjadi vesikula auditorius.
Suatu proses migrasi, pertumbuhan dan elongasi vesikula kemudian berlangsung dan segera
membuat lipatan pada dinding kantong yang secara jelas memberi batas tiga divisi utama
vesikula auditorius yaitu sakus dan duktus endolimfarikus, utrikulus dengan duktus semi
sirkuler dan sakulus dengan duktus koklea. Dari utrikulus kemudian timbul tiga tonjolan
mirip gelang. Lapisan membran yang jauh dari perifer gelang diserap meninggalkan tiga
kanalis semisirkularis pada perifer gelang. Sakulus kemudian membentuk duktus koklearis
berbenruk spiral.Secara filogenetik organ-organ akhir khusus berasal dari neuromast yang
tidak terlapisi yang berkembang dalam kanalis semisirkularis untuk membentuk krista. Di
dalam utrikulus dan sakulus membentuk makula dan dalam koklea membentuk organon koiti.
Diferensiasi ini berlangsung dari minggu keenam sampai ke 10 fetus, pada saat itu hubungan
definitive seperfi telinga orang dewasa telah siap.

b)

Telinga Luar dan Tengah

Ruang telinga tengah, mastoid, permukaan dalam membijana timpani dan tuba. Eustachius
berasal dari kantong faring pertama. Perkembangan prgan ini dimulai pada minggu keempat
dan berlanjut sampai minggu ke 30 fetus, kecuali pneumatisasi mastoid yang terus
berkembang sampai pubertas.
Osikel berasal dari mesoderm celah brankial pertama dan kedua, kecuali basis stapes yang
berasal dari kapsul otik. Osikel berkembang mulai minggu kedelapan sampai mencapai
bentuk- komplet pada minggu ke 26 fetus.
Liang telinga luar berasal dari ektoderm celah brankial pertama.Membrana timpani mewakili
membran penutup celah tersebut. Pada awalnya liang telinga luar tertutup sama sekali oleh
suatu sumbatan jaringan padat, akan tetapi akan mengalami rekanalisasi.

1. VI. KOMPLIKASI
1. Peradangan telinga tengah (otitis media) yang tidak diberi terapi secarabenar
dan adekuat dapat menyebar ke jaringan sekitar telinga tengahtermasuk ke
otak, namun ini jarang terjadi setelah adanya pemberianantibiotik.
2. Mastoiditis
3. Kehilangan pendengaran permanen bila OMA tetap tidak ditangani
4. Keseimbangan tubuh terganggu
5. Peradangan otak kejang

1. VII.

PENATALAKSANAAN

Penanganan local meliputi pembersihan hati-hati telinga menggunakan mikroskop dan alat
penghisap. Pemberian antibiotika atau pemberian bubuk antibiotika sering membantu bila
terdapat cairan purulen.
Berbagai prosedur pembedahan dapat dilakukan bila dengan penanganan obat tidk efektif.
Dapat dilakukan timpanoplasti dan yang paling sering adalah timpanoplasti-rekonstruksi
bedah membrane timpani dan osikulus. Tujuan dari timpanoplasti adalah mengembalikan
fungsi telinga tengah, menutup lubang perforasi, telinga tengah, mencegah infeksi berulang,
dan memperbaiki pendengaran. Timpanoplasti dilakukan melalui kanalis auditorius eksternus,
baik secara transkanal atau melalui insisi aurikuler. Isis telinga tengah diinspeksi secara teliti,
dan hubungan antara osikulus dievalusi. Terputusnya rantai osikulus adalah yang paling
sering terjadi pada otitis media, namun masalah rekonstruksi juga akan muncul dengan
adanya malformasi telinga tengah dan dislokasi osikuler akibat cidera kepala. Perbaikan
dramatis pendengaran dapat terjadi stelah penutupan lubang perforasi dan perbaikan kembali
osikulus. Pembedahan biasanya dilakukan pada pasien rawat jalan dengan anesthesia umum.

1. VIII.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIC

yang sering dilakukan pada kasus otitis media kronis ini diantaranya meliputi :

Otoscope untuk melakukan auskultasi pada bagian telinga luar

Timpanogram untuk mengukur kesesuaian dan kekakuan membran timpany

Kultur dan uji sensitifitas: dilakukan bila dilakukan timpanosesntesis (Aspirasi jarum
dari telinga tengah melalui membrane timpani)

IX. TERAPI
Terapi tergantung pada stadium penyakitnya. Pengobatan pada stadium awalditujukan untuk
mengobati infeksi-infeksi saluran nafas atas, dengan pemberianantibiotik dekongestan lokal
atau sistemik, dan antipiretik.
v Stadium OklusiTujuan : membuka kembali tuba eustachius, sehingga tekanan berkurang
ditelinga tengah hilang. Diberikan obat tetes hidung, HCl efedrin 0,5% dalamlarutan
fisiologik (anak <12 tahun) atau HCl efedrin 1% (di atas 12 tahun danpada orang dewasa).
v Stadium PresupurasiObat tetes hidung dan analgetika, antibiotika (biasanya dari
golonganpenisilin/ampisilin).
v Stadium SupurasiDisamping antibiotika, idealnya harus disertai dengan miringotomi
bilamembran tympani masih utuh.
v Stadium ResolusiMembran tympani berangsur normal kembali, sekret tidak ada lagi
danperforasi membran tympani menutup.

1. X.

PENCEGAHAN

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya OMApada anak
antara lain:
1. Pencegahan terjadinya ISPA pada bayi dan anak-anak
2. Pemberian ASI minimal selama enam bulan
3. Hindari pemberian susu botol ketika anak dalam keadaan berbaring
4. Hindari pajanan terhadap asap rokok

1. XI. WOC
Organism / bakteri & jamur
telinga eksternal
pendengaran

telinga tengah(tuba eustachi)

infeksi sepanjang kulit kanal


proses produksi terhambat
gagguan komunikasi
telinga

bengkak, merah, panas sehingga menutup daerah kanal

terbentuk furunkel yang menekan kulit yang sensitive


nyeri makin berat dan tidak ada ruang untuk furunkel berkembang didaerah
telinga
telinga tengah

OM serosa memblok tuba eustachi


Tidak ada aliran udara ke telinga tengah
Karena ada penekannan erat
nyeri

Eksudat seruosa meningkat


Membrane tipani
Reptur membrane tipani
Perubahan persepsi
sensori

OM puruten terbentuk pus


mengisi ruang / rongga telinga

BAB III
ASKEP TEORITIS

1. I.

PENGKAJIAN

1)

Identitas klien

2)

Riwayat kesehatan

Riwayat kesehatan dahulu

Apakah ada kebiasaan berenang, apakah pernah menderita gangguan pendengaran (kapan,
berapa lama, pengobatan apa yang dilakukan, bagaimana kebiasaan membersihkan telinga,
keadaan lingkungan tenan, daerah industri, daerah polusi), apakah riwayat pada anggota
keluarga.

Riwayat kesehatan sekarang

kaji keluhan kesehatan yang dirasakan pasien pada saat di anamnesa, Seperti penjabaran dari
riwayat adanya kelainan nyeri yang dirasakan.

Riwayat kesehatan keluarga

Mengkaji ada atau tidak salah satu keluarga yang mengalami penyakit yang sama.
Ada atau tidaknya riwayat infeksi saluran nafas atas yang berulang dan riwayat alergi
pada keluarga.

3)

Pemeriksaan fisik
1. Keadaan umum klien

Kepala

Lakukan Inspeksi,palpasi,perkusi dan di daerah telinga,dengan menggunakan senter ataupun


alat-alat lain nya apakah ada cairan yang keluar dari telinga,bagaimana warna, bau, dan
jumlah.apakah ada tanda-tanda radang.

Kaji adanya nyeri pada telinga

Leher, Kaji adanya pembesaran kelenjar limfe di daerah leher

Dada / thorak

Jantung

Perut / abdomen

Genitourinaria

Ekstremitas

Sistem integumen

Sistem neurologi

Data pola kebiasaan sehari-hari

1. Nutrisi
Bagaimana pola makan dan minum klien pada saat sehat dan sakit,apakah ada perbedaan
konsumsi diit nya.
1. Eliminasi
Kaji miksi,dan defekasi klien
1. Aktivitas sehari-hari dan perawatan diri
Biasanya klien dengan gangguan otitis media ini,agak susah untk berkomunikasi dengan
orang lain karena ada gangguan pada telinga nya sehingga ia kurang mendengar/kurang
nyambung tentang apa yang di bicarakan orang lain.
1. Pemeriksaan diagnostik
Tes Audiometri : AC menurun
X ray : terhadap kondisi patologi
Tes berbisik
Tes garpu tala

1. II.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1)
Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan prosesperadangan pada telinga
tengah
2)

Gangguan berkomunikasi berhubungan dengan efek kehilanganpendengaran

3)
Perubahan persepsi/sensoris berhubungan dengan obstruksi, infeksidi telinga tengah
atau kerusakan di syaraf pendengaran.
4)

Cemas berhubuangan dengan nyeri yang semakin memberat

1. III. INTERVENSI KEPERAWATAN


v Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan proses peradangan pada telinga
tengah
Tujuan : nyeri berkurang atau hilang
Kriteria hasil :Nyeri yang dirasakan kien berkurang dengan skala 2-0 darirentang skala 0-10
Intervensi Keperawatan :

Ajarkan teknik relaksasi pada klien dengan mengajarkan teknik relaksasi (misalnya
bernafas perlahan, teratur, atau nafas dalam)

Kolaborasikan dengan tim medis dalam pemberian analgetik

Kaji kembali nyeri yang dirasa oleh klien setelah 30 menitpemberian analgetik

Beri informasi kepada klien dan keluarga tentang penyebab yeriyang dirasa

Rasional :

Teknik relaksasi yang benar dan efektif dapat membantumengurangi nyeri yang
dirasab.

Analgetik dapat menekan pusat saraf rasa nyeri, sehingga nyeridapat berkurang

Untuk mengetahui keefektifan pemberian analgetik

Informasi yang cukup dapat mengurangi kecemasan yang dirasaoleh klien dan
keluarga

v Gangguan berkomunikasi berhubungan dengan efek kehilangan pendengaran.


Tujuan : Klien dapat kembali mendengar dan melakukan komunikasi
Kriteria hasil :

Klien dapat melakukan komunikasi dengan baik

Menerima pesan melalui metoda pilihan (misal : komunikasitulisan, bahasa lambang,


berbicara dengan jelas pada telinga yangbaik.

Intervensi Keperawatan :

Dapatkan apa metode komunikasi yang dinginkan dan catat pada rencana perawatan
metode yang digunakan oleh staf dan klien, eperti : tulisan, berbicara, ataupun bahasa
isyarat.

Kaji kemampuan untuk menerima pesan secara verbal.- Jika ia dapat mendegar pada
satu telinga, berbicara dengan perlahan dan dengan jelas langsung ke telinga yang
baik (hal ini lebih baik dari pada berbicara dengan keras).

Tempatkan klien dengan telinga yang baik berhada pandengan pintu.

Dekati klien dari sisi telinga yang baik.-

Jika klien dapat membaca ucapan ,Lihat langsung pada klien dan bicaralah lambat dan
jelas.

Hindari berdiri di depan cahaya karena dapat menyebabkan klien tidak dapat
membaca bibir anda.-

Perkecil distraksi yang dapat menghambat konsentrasi klien.

Minimalkan percakapan jika klien kelelahan atau gunakankomunikasi tertulis.

Tegaskan komunikasi penting dengan menuliskannya.-

Jika ia hanya mampu bahasa isyarat, sediakan penerjemah.Alamatkan semua


komunikasi pada klien, tidak kepadapenerjemah. Jadi seolah-olah perawat sendiri
yang langsungberbicara kepada klien dnegan mengabaikan keberadaanpenerjemah.

Gunakan faktor-faktor yang meningkatkan pendengaran danpemahaman

Bicara dengan jelas, menghadap individu.

Ulangi jika klien tidak memahami seluruh isi pembicaraan.

Gunakan rabaan dan isyarat untuk meningkatkan komunikasi.

Validasi pemahaman individu dengan mengajukan pertanyaanyang memerlukan


jawaban lebih dari ya dan tidak.

Rasional :

Dengan mengetahui metode komunikasi yang diinginkan oleh klienmaka metode


yang akan digunakan dapat disesuaikan dengankemampuan dan keterbatasan klien.

Pesan yang ingin disampaikan oleh perawat kepada klien dapatditerima dengan baik
oleh klien.

Memungkinkan komunikasi dua arah anatara perawat dengan kliendapat berjalan


dnegan baik dan klien dapat menerima pesanperawat secara tepat.

v Perubahan persepsi/sensoris berhubungan dengan obstruksi, infeksidi telinga tengah atau


kerusakan di syaraf pendengaran.
Tujuan : Persepsi / sensoris baik.
Kriteria hasil : Klien akan mengalami peningkatan persepsi/sensoris pendengaransampai
pada tingkat fungsional
Intervensi Keperawatan :

Ajarkan klien untuk menggunakan dan merawat alat pendengaransecara tepat

Instruksikan klien untuk menggunakan teknik-teknik yang amandalam perawatan


telinga (seperti: saat membersihkan denganmenggunakan cutton bud secara hati-hati,
sementara waktu hindariberenang ataupun kejadian ISPA) sehingga dapat
mencegahterjadinya ketulian lebih jauh.

Observasi tanda-tanda awal kehilangan pendengaran yang lanjut.

Instruksikan klien untuk menghabiskan seluruh dosis antibiotik yang diresepkan (baik
itu antibiotik sistemik maupun lokal).

Rasional :

Keefektifan alat pendengaran tergantung pada tipegangguan/ketulian, pemakaian serta


perawatannya yang tepat.

Apabila penyebab pokok ketulian tidak progresif, makapendengaran yang tersisa


sensitif terhadap trauma dan infeksisehingga harus dilindungi.

Diagnosa dini terhadap keadaan telinga atau terhadap masalah-masalah pendengaran


rusak secara permanen.

Penghentian terapi antibiotika sebelum waktunya dapatmenyebabkan organisme sisa


resisten sehingga infeksi akanberlanjut.

v Cemas berhubuangan dengan nyeri yang semakin memberat


Tujuan : Rasa cemas klien akan berkurang/hilang.
Kriteria hasil :

Klien mampu mengungkapkan ketakutan/kekuatirannya.

Respon klien tampak tersenyum.

Intervensi Keperawatan :

Berikan informasi kepada klien seputar kondisinya dan gangguanyang dialami.

Diskusikan dengan klien mengenai kemungkinan kemajuan darifungsi


pendengarannya untuk mempertahankan harapan kliendalam berkomunikasi.

Berikan informasi mengenai kelompok yang juga pernahmengalami gangguan seperti


yang dialami klien untuk memberikandukungan kepada klien.

Berikan informasi mengenai sumber-sumber dan alat-lat yangtersedia yang dapat


membantu klien.

Rasional :

Menunjukkan kepada klien bahwa dia dapat berkomunikasi denganefektif tanpa


menggunakan alat khusus, sehingga dapat mengurangirasa cemasnya.

Harapan-harapan yang tidak realistik tidak dapat mengurangikecemasan, justru malah


menimbulkan ketidak percayaan klienterhadap perawat.

Memungkinkan klien untuk memilih metode komunikasi yangpaling tepat untuk


kehidupannya sehari-hari disesuaikan dnegantingkat keterampilannya sehingga dapat
mengurangi rasa cemas danfrustasinya.

Dukungan dari bebarapa orang yang memiliki pengalaman yangsama akan sangat
membantu klien.

BAB IV
PENUTUP

1. I.

KESIMPULAN

Menurut Smeltzer, 2001, Otitis Media Akut (OMA) merupakan suatu infeksi pada telinga
tengah yang disebabkan karena masuknya bakteri patogenik ke dalam telinga tengah.
Penyebab utama dari OMA adalah tersumbatnyasaluran/tuba eustachius yang bisa disebabkan
oleh proses peradangan akibatinfeksi bakteri yang masuk ke dalam tuba eustachius tersebut,
kejadian ISPA yangberulang pada anak juga dapat menjadi faktor penyebab terjadinya OMA
padaanak.
Stadium OMA dapat terbagi menjadi lima stadium, antara lain: StadiumHiperemi, Oklusi,
Supurasi, Koalesen, dan Stadium Resolusi. Dimana manifestasidari OMA juga tergantung
pada letak stadium yang dialami oleh klien. Terapi dariOMA juga berdasar pada stadium
yang dialami klien. Dari perjalanan penyakitOMA, dapat muncul beberapa masalah
keperawatan yang dialami oleh klien,antara lain: gangguan rasa nyaman (nyeri), perubahan
sensori persepsipendengaran, gangguan komunikasi, dan kecemasan.

1. II.

SARAN

1. Untuk instansi
Untuk pencapaian kualitas keperawatan secara optimal secara optimal sebaiknya proses
keperawatan selalu dilaksanakan secara berkesinambungan

1. Untuk klien dan keluarga


Perawatan tidak kalah pentingnya dengan pengobatan karena bagaimanapun teraturnya
pengobatan tanpa perawatan yang sempurna maka penyembuhan yang diharapkan tidak
tercapai.

DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer Arif dkk. 2000.Kapita Selekta Kedokteran Jilid I . MediaAesculapius Fakultas


Kedokteran Indonesia.Jakarta.

Soepardi, Efiaty Arsyad & Nurbaiti Iskandar. 1998

Sjamsuhidajat & Wim De Jong. 1997

http://www.scribd.com/doc/36493975/OTITIS-MEDIA, dikutip pada tanggal 12 november


2012

http://www.scribd.com/doc/4825625/Otitis-Media-Akut dikutip pada tanggal 7 november


2012

http://pediatrics.uchicago.edu/chiefs/ClinicCurriculum/documents