Anda di halaman 1dari 27

SIMULASI KONDUKSI TERMAL

DALAM RESERVOIR GEOTHERMAL

Disusun untuk memenuhi Tugas pengganti Ujian Akhir Semester


Mata kuliah Metode Numerik II
Oleh:
Aldi Yudha A

140710110004

Syaiful Yazan

140710110006

Yohana Casturina

140710110023
Dosen :

Dr. Irwan Ary Dharmawan,M.Si


NIP 19720531 199702 1 001

PROGRAM STUDI GEOFISIKA JURUSAN FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2014

Geothermal
1. Pengertian Geothermal
Secara harfiah, geothermal (yang dalam bahasa Indonesia panas bumi) berasal dari kata geo
yang berarti bumi dan thermal yang berarti panas. Sehingga dapat diartikan sebagai panas yang
terkandung secara alamiah di dalam bumi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995) panas
bumi adalah sumber energi, seperti air panas, uap panas, serta gas-gas lain yang terdapat di dalam
perut bumi, sedangkan Leibowitz (1978) mendefinisikan energi panas bumi sebagai sejumlah
panas yang berasal dari bumi dan berada cukup dekat dengan permukaan bumi sehingga dapat
digunakan secara ekonomi.

Gambar 1. Lapisan Bumi


Geothermal dapat juga dimaknai sebagai energi panas yang terbentuk secara alami
dibawah permukaan bumi. Perhatikan gambar di atas. Kerak bumi (crust), yang merupakan lapisan
terluar yang keras/padat berupa batu, mampu menahan aliran panas yang berasal dari bawah
permukaan bumi. Sementara mantel bumi (mantle) merupakan lapisan yang semi-cair atau batuan

yang meleleh atau sedang mengalami perubahan fisik akibat pengaruh tekanan dan temperatur
tinggi disekitarnya. Sedangkan bagian luar dari inti bumi (outer core) berbentuk liquid. Akhirnya,
lapisan terdalam dari inti bumi (inner core) berwujud padat.
Jauh dibawah permukaan bumi terdapat panas yang sangat tinggi sehingga semua batuan
dan

benda

berubah

menjadi

cair.Batuan

cair

yang

bersuhu

tinggi

tersebut

dinamakan magma.Semenjak terjadinya bumi,magma tersebut selalu memanasi kerak bumi


yang merupakan bagian terluar dari bumi sampai kedalaman 15 km(jari-jari bumi :6371
km).Kerak tersebut mengandung air yang ikut terpanasi.Apabila air tersebut dapat tembus atau
muncul kepermukaan bumi dan bebas dari tekanan yang disebabkan oleh kedalamannya,maka
akan berubah menjadi uap panas,kubangan lumpur panas ataupun sebagian mata air
panas(Saptadji Miryani Nenny,1992)
Sistem panas bumi dialam mencakup system hidrotermal yang merupakan system tata air,
proses pemanasan dan kondisi sistim dimana air yang terpanaskan terkumpul.Sistem panas
memiliki syarat sebagai berikut :
a. Adanya Peresapan air tanah dalam (air meteorik).
b. Adanya sumber panas berupa kantong magma,baik sisa dari gunung api maupun
terobosan magma dikedalaman(stock).
c. Adanya susunan batuan, yang terdiri dari batuan tudung kedap air uap, batuan sarang yang
tembus air uap dan batuan kedap sebagai penghantar panas.
d. Adanya gejala struktur, umumnya patahan yang menjebak bagi tersebarnya manifestasi
panas bumi dipermukaan.
Keseluruhan parameter diatas bekerja saling terkait membentuk system panas bumi.Batuan
panas akan berfungsi sebagai sumber pemanas air yang dapat berwujud tubuh terobosan
granit.Pada umumnya sumber panas bumi terdapat di jalur gunung api, maka sebagai sumber
panas adalah magma atau batuan yang telah mengalami radiasi panas dari magma
2. Terjadinya Lumpur Panas dan Panas Bumi
Untuk memahami bagaimana panas bumi terbentuk, bisa dianalogikan bumi ini dengan telur
ayam yang direbus. Bila telur rebus tadi dibelah, maka kuning telurnya itu dapat dipandang

sebagai perut bumi. Kemudian putih telur itulah lapisan-lapisan bumi, dan kulitnya itu merupakan
kulit bumi. Di bawah kulit bumi, yaitu lapisan atas merupakan batu-batuan dan lumpur panas yang
disebut magma. Magma yang keluar ke permukaan bumi melalui gunung disebut dengan lava.
Setiap 100 meter kita turun ke dalam perut bumi, temperatur batu-batuan cair tersebut naik sekitar
300C. Jadi semakin jauh ke dalam perut bumi suhu batu-batuan maupun lumpur akan makin tinggi.
Bila suhu di permukaan bumi adalah 270C maka untuk kedalaman 100 meter suhu bisa mencapai
sekitar 300C. Untuk kedalaman 1 kilometer suhu batu-batuan dan lumpur bisa mencapai 57-600
C. Bila kita ukur pada kedalaman 2 kilometer suhu batuan dan lumpur bisa mencapai 1200 C atau
lebih. Lebih panas dari air rebusan yang baru mendidih. Bahkan bila lumpur ini menyembur keluar
pun masih tetap panas.
Di dalam kulit bumi ada kalanya aliran air dekat sekali dengan batu-batuan panas di mana suhu
bisa mencapai 1480 C. Air tersebut tidak menjadi uap (steam) karena tidak ada kontak dengan
udara. Bila air panas tadi bisa keluar ke permukaan bumi karena ada celah atau terjadi retakan di
kulit bumi, maka timbul air panas yang biasa disebut dengan hot spring. Air panas alam (hot
spring) ini biasa dimanfaatkan sebagai kolam air panas, dan banyak pula yang sekaligus menjadi
tempat wisata.
Kadang-kadang air panas alami tersebut keluar sebagai geyser. Di Amerika sekitar 10.000
tahun yang lalu suku Indian mengguna-kan air panas alam (hot spring) untuk memasak, di mana
daerah sekitar mata air tersebut adalah daerah bebas (netral). Beberapa sumber air panas dan
geyser malah dikeramatkan suku Indian pada masa lalu seperti California Hot Springs dan Geyser
di daerah wisata Napa, Cali-fornia. Saat ini panas alam bahkan digunakan sebagai pemanas
ruangan di kala musim dingin seperti yang terdapat di San Bernardino, Cali-fornia Selatan. Hal
yang sama juga dapat kita temui di Islandia (country of Iceland) dimana gedung-gedung dan kolam
renang dipanaskan dengan air panas alam (hot spring) yang kadang kala disebut dengan
geothermal hot water.
Selain sebagai pemanas, panas bumi ternyata dapat juga mengha-silkan tenaga listrik. Di atas
telah di-sebutkan bahwa air panas alam ter-sebut bila bercampur dengan udara karena terjadi
fraktur atau retakan maka selain air panas akan keluar juga uap panas (steam). Air panas dan steam
inilah yang kemudian dimanfaatkan sebagai sumber pembangkit tenaga listrik. Agar panas bumi

(geothermal) tersebut bisa dikonversi menjadi ener-gi listrik tentu diperlukan pembangkit (power
plants).
Pembangkit (power plants) untuk pembang-kit listrik tenaga panas bumi dapat beroperasi pada
suhu yang relatif rendah yaitu berkisar antara 122 s/d 4820 F (50 s/d 2500 C). Banding-kan dengan
pembangkit pada PLTN yang akan beroperasi pada suhu sekitar 10220 F atau 5500 C. Inilah salah
satu keunggulan pembangkit listrik geothermal. Keuntungan lainnya ialah bersih dan aman,
bahkan geothermal adalah yang terbersih dibandingkan dengan nuklir, minyak bumi dan batu bara.
3. Terjadinya Sistem Panas Bumi
Pada dasarnya sistim panas bumi terbentuk sebagai hasil perpindahan panas dari suatu sumber
panas ke sekelilingnya yang terjadi secara konduksi dan secara konveksi. Perpindahan panas
secara konduksi terjadi melalui batuan, sedangkan perpindahan panas secara konveksi terjadi
karena adanya kontak antara air dengan suatu sumber panas. Perpindahan panas secara konveksi
pada dasarnya terjadi karena gaya apung (bouyancy). Air karena gaya gravitasi selalu mempunyai
kecenderungan untuk bergerak kebawah, akan tetapi apabila air tersebut kontak dengan suatu
sumber panas maka akan terjadi perpindahan panas sehingga temperatur air menjadi lebih tinggi
dan air menjadi lebih ringan. Keadaan ini menyebabkan air yang lebih panas bergerak ke atas dan
air yang lebih dingin bergerak turun ke bawah, sehingga terjadi sirkulasi air atau arus konveksi.

Gambar 2. Perpindahan Panas Di Bawah Permukaan

Terjadinya sumber energi panas bumi di Indonesia serta karakteristiknya dijelaskan oleh
Hazuardi (1992) sebagai berikut. Ada tiga lempengan yang berinteraksi di Indonesia, yaitu
lempeng Pasifik, lempeng India-Australia dan lempeng Eurasia(Gambar 2.3). Tumbukan yang
terjadi antara ketiga lempeng tektonik tersebut telah memberikan peranan yang sangat penting
bagi terbentuknya sumber energi panas bumi di Indonesia. Tumbukan antara lempeng IndiaAustralia di sebelah selatan dan lempeng Eurasia di sebelah utara mengasilkan zona penunjaman
(subduksi) di kedalaman 160 - 210 km di bawah Pulau Jawa-Nusatenggara dan di kedalaman
sekitar 100 km (Herdiannita, 2006) di bawah Pulau Sumatera. Hal ini menyebabkan proses
magmatisasi di bawah Pulau Sumatera lebih dangkal dibandingkan dengan di bawah Pulau Jawa
atau Nusatenggara. Karena perbedaan kedalaman jenis magma yang dihasilkannya berbeda. Pada
kedalaman yang lebih besar jenis magma yang dihasilkan akan lebih bersifat basa dan lebih cair
dengan kandungan gas magmatik yang lebih tinggi sehingga menghasilkan erupsi gunung api yang
lebih kuat yang pada akhirnya akan menghasilkan endapan vulkanik yang lebih tebal dan
terhampar luas. Oleh karena itu, reservoir panas bumi di Pulau Jawa umumnya lebih dalam dan
menempati batuan volkanik, sedangkan reservoir panas bumi di Sumatera terdapat di dalam batuan
sedimen dan ditemukan pada kedalaman yang lebih dangkal.

Gambar 2.4 Konfigurasi Tektonik di Sepanjang Busur Kepulauan Indonesia,Hasil Interaksi


Tiga Lempeng Tektonik: Lempeng Pasifik, Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia
(Saptadji Miryani Nenny, 1992)

4. Karakteristik Sumber Panas Bumi


Langkah awal dalam rangka penyiapan konservasi energi panas bumi adalah studi sistem
panas bumi itu sendiri terutama melalui pemahaman terhadap karakteristik sumber panas bumi
sebagai bagian penting dalam sistem, diantaranya berkaitan dengan :
a. Dapur magma sebagai sumber panas bumi
b. Kondisi hidrologi
c. Manifestasi panas bumi

Dapur magma sebagai sumber panas bumi


Pada dasarnya energi panas yang dihasilkan oleh suatu wilayah gunungapi
mempunyai kaitan erat dengan sistem magmatik yang mendasarinya, dan salah satu
karakteristik penunjang potensi panas bumi adalah letak dapur magmanya di bawah
permukaan sebagai sumber panas (heat source).
Terutama di daerah-daerah yang terletak di jalur vulkanik-magmatik, ukuran dapur
magma itu sendiri berhubungan erat dengan kegiatan vulkanisma. Dalam
perjalanannya menuju permukaan, magma akan mengalami proses diferensiasi dan
berevolusi menghasilkan susunan kimiawi yang berbeda sesuai kedalaman. Dapur
magma yang terbentuk pada kedalaman menengah kemungkinan terkontaminasi oleh
bahan-bahan kerak bumi yang kaya akan silika dan gas, sehingga bersifat lebih
eksplosif. Volumenya dapat diperkirakan dari kenampakan-kenampakan fisik berupa
ukuran kaldera, distribusi lubang kepundan, pola rekahan, pengangkatan topografi dan
hasil erupsi gunungapi; atau melalui cara identifikasi dengan metoda geofisika
(bayangan seismik atau anomali geofisika lainnya.
Magma akan mengalirkan sejumlah panas yang signifikan ke dalam batuan-batuan
pembentuk kerak bumi, makin besar ukuran dapur magma maka semakin besar pula
sumber daya panasnya, dimana secara ekonomis menjadi ukuran jumlah energi yang
dapat dimanfaatkan dari suatu sumber panas bumi.

Kondisi Hidrologi
Pada busur kepulauan dengan kegiatan vulkanisma/magmatisma masih berjalan,
dimana magma di bawah permukaan berinteraksi dengan lokasi-lokasi bersiklus basah
atau cukup persediaan air; akan terjadi pendinginan magma dan proses hidrotermal
untuk menciptakan lingkungan fasa uap-air bersuhu/bertekanan tertentu, yang
memberikan peluang terjadinya sistem panas bumi aktif.
Demikian pentingnya peranan air dalam mempertahankan kelangsungan sistem
panas bumi sehingga sangat dipengaruhi oleh siklus hidrologi, yang diyakini dapat
terjaga keseimbangannya apabila pasokan dari lingkungan tidak terhenti. Keberadaan
sumber-sumber air lainnya seperti air tanah, air connate, air laut/danau, es atau air
hujan akan sangat dibutuhkan sebagai pemasok kembali (recharge) air yang hilang
mengingat kandungan air dalam magma (juvenile) tidak mencukupi jumlah yang
dibutuhkan dalam mempertahankan proses interaksi air magma.
Kondisi hidrologi pada suatu sistem panas bumi sangat dipengaruhi oleh bentang
alam lingkungan dimana terjadiya, dan berperan terutama dalam membentuk
manifestasi-manifestasi permukaan yang dapat memberikan petunjuk tentang
keberadaan sumber panas bumi di bawah permukaan. Pada daerah berelief (topografi)
rendah, manifestasi-manifestasi panas bumi dapat berbentuk mulai dari kolam air
panas dengan pH mendekati netral, pengendapan sinter silika hingga zona-zona uap
mengandung H2S yang berpeluang menghasilkan fluida bersifat asam; menandakan
bahwa sumber fluida hidrotermal/panas bumi berada relatif tidak jauh dari permukaan.
Sementara pada daerah dengan topografi tingi (vulkanik andesitik) dimana
kenampakan manifestasi berupa fumarol atau solfatara, menggambarkan bahwa
sumber panas bumi berada pada kondisi relatif dalam; yang memerlukan waktu dan
jarak panjang untuk mencapai permukaan.

Manifestasi Panas Bumi di Permukaan


Berbeda dengan sistim minyak-gas, adanya suatu sumber daya panas bumi di
bawah permukaan sering kali ditunjukkan oleh adanya manifestasi panas bumi di
permukaan (geothermal surface manifestation), seperti mata air panas, kubangan
lumpur panas (mud pools), geyser dan manifestasi panasbumi lainnya, dimana
beberapa diantaranya, yaitu mata air panas, kolam air panas sering dimanfaatkan oleh
masyarakat setempat untuk mandi, berendam, mencuci, masak dll.Manifestasi
panasbumi di permukaan diperkirakan terjadi karena adanya perambatan panas dari
bawah permukaan atau karena adanya rekahan-rekahan yang memungkinkan fluida
panas bumi (uap dan air panas) mengalir ke permukaan (Hazuardi,1992).
1) Tanah Hangat (Warm Ground)
Adanya sumber daya panas bumi yang ada dibawah permukaan tanah dapat
ditunjukan antara lain adanya tanah yang mempunyai temperature tanah sekitarnya.
Hal ini terjadi karena adanya perpindahan panas secara konduksi dari batuan bawah
permukaan ke batuan permukaan.
Berdasarkan pada besarnya gradien temperatur, Saptadji Miryani Nenny(1992)
mengklasifikasikan area di bumi sebagai berikut:
a. Area tidak panas (non-thermal area)
Suatu area diklasifikasikan sebagai area tidak panas apabila gradien temperatur
di area tersebut sekitar 10-400C/km.
b. Area panas (thermal area)
Area panas dibedakan menjadi dua, yaitu:
Area semi thermal, yaitu area yang mempunyai gradien temperatur sekitar 70800C/km. Area hyperthermal, yaitu area yang mempunyai gradien temperatur
sangat tinggi. Contohnya adalah di Lanzarote (Canary Island)besarnya gradien
temperatur sangat tingi sekali hingga besarnya tidak lagi dinyatakan dalam 0C/km
tetapi dalam 0C/cm.
2) Permukaan Tanah Beruap
Dibeberapa daerah tempat dimana uap panas (steam) nampak keluar dari
permukaan tanah.Jenis manifestasi ini disebut steaming ground dimana uap panas

tersebut berasal dari suatu lapisan tipis dekat permukaan yang mengandung air
panas yang mempunyai temperatur sama atau lebih besar dari titik didihnya
(boiling point).Untuk mengukur temperature dapat digunakan bimetallic strip type
thermometer.
Besarnya temperatur di permukaan sangat tergantung dari laju aliran uap
(steamflux). Saptadji Miryani Nenny(1992) mengelompokkan steaming ground
berdasarkan pada besarnya laju aliran panas seperti diperlihatkan pada Tabel 2-1.
Tabel 1. Steaming Ground (Saptadji Miryani Nenny,1992)

Umumnya intensitas panas di daerah steaming ground diperkirakan dari


besarnya gradien temperatur. Pemetaan temperatur dilakukan dengan cara
membagi daerah tersebut menjadi sejumlah blok berukuran sama, di mana jarak
antara satu tempat pengukuran ke tempat pengukuran lainnya (titik pusat blok)
berjarak sekitar 20 meter.
3) Mata Air Hangat atau Panas (Hot or Warm Spring)
Mata air panas ini terbentuk karena aliran air panas atau hangat dari bawah
permukaan melalui rekahan- rekahan batuan.Istilah hangat digunakan bila
temperature air lebih kecil dari 500C dan istilah panas bila temperatur lebih besar
dari 500C.
Sifat air permukaan seringkali digunakan untuk memperkirakan jenis reservoir
dibawah permukaan.

Mata air panas yang bersifat asam biasanya merupakan manifestasi

permukaan dari suatu sistim panas bumi yang didominasi uap.

Sedangkan mata air panas yang bersifat netral biasanya merupakan

manifestasi permukaan dari suatu sistim panas bumi yang didominasi air. Mata air
panas yang bersifat netral, yang merupakan manifestasi permukaan dari sistim
dominasi air,umumnya jenuh dengan silika.

Apabila laju aliran air panas tidak terlalu besar umumnya di sekitar mata

air panas tersebut terbenntuk teras-teras silika yang berwarna keperakan


(silicasinter terraces atau sinter platforms). Bila air panas banyak mengandung
Carbonate maka akan terbentuk teras-teras travertine (travertine terrace).

Namun di beberapa daerah, yaitu di kaki gunung, terdapat mata air panas

yang bersifat netral yang merupakan manifestasi permukaan dari suatu sistim panas
bumi dominasi uap.
4) Geyser
Geyser didefinisikan sebagai mata air panas yang menyembur ke udara secara
intermitten (pada selang waktu tak tentu) dengan ketinggian air sangat beraneka
ragam, yaitu dari kurang satu meter hingga ratusan meter hingga ratusan meter.
Selang penyeburan air (erupsi) juga beraneka ragam, yaitu dari beberapa
hari.Lamanya air menyembur kepermukaan juga sangat beraneka ragam, yaitu dari
beberapa detik hingga beberapa jam.
5) Kubangan Lumpur Panas (Mud Pools)
Kubangan Lumpur panas (Mud Pools) umumnya mengandung noncondensable gas (CO2) dengan sejumlah kecil uap panas. Lumpur terdapat dalam
keadaan cair karena kondensasi uap panas. Sedangkan letupan-letupan yang terjadi
adalah karena pancaran CO2.

Simulasi Konduksi Termal Dalam Reservoir Geothermal


Simulasi ke-1 adalah Skema Implisit.

Dirichlet = 270

Simulasi ke-2 adalah eksplisit

Simulasi ke-3 adalah skema eksplisit

2 2
= (, )[ 2 + 2 ]

Persamaan diatas disebut sebagai persamaan difusi 2 dimensi. Konstanta K merupakan


konstanta positif yang menyatakan konduktivitas termal suatu bahan. Sedangkan U(x,y,t)
merupakan fungsi yang bergantung pada ruang x,y dan waktu t.
Persamaan di atas juga menyatakan bahwa untuk memperoleh solusi maka diperlukan
lima buah syarat batas, yang terdiri dari empat buah syarat batas terhadap ruang dan satu buah
syarat batas terhadap waktu. Dengan nilai syarat batas terhadap ruangnya adalah :

Langkah penyelesaian kasus :


1. Diskritisasi terhadap operator waktu dengan pendekatan forward difference
2. Diskritisasi terhadap operator ruang dengan pendekatan central difference

2 2
= (, )[ 2 + 2 ]

k
k
k
k
k
k
+1

Ui+1,j
Ui,j
+ Ui1,j
Uj+1.i
+ Ui,j
+ Uj1,i
,
,
= k(x, y) [
+
]

x 2
y 2

= =
+1
,

= . k(x, y) [

+1

,
,
=

.k(x,y)
z2

k
k
k
Ui+1,j
Ui,j
+ Ui1,j

z 2

k
k
k
Uj+1.i
+ Ui,j
+ Uj1,i

z 2

k
k
k
k
k
k
Ui,j
+ Ui1,j
+ Uj+1.i
+ Ui,j
+ Uj1,i
[Ui+1,j
]

Maka,
+1
,
=

. k(x, y) k
k
k
k
k
k

+ Ui1,j
+ Uj+1.i
+ Ui,j
+ Uj1,i
[Ui+1,j Ui,j
] + ,
2
z

3. Penyelesaian syarat batas neuman


=0

,+1
,
=0

,+1
= ,

Dan

=0

+1,
,

=0

+1,
= +

Program simulasi 1 simulasi lapangan geothermal

function [x,y,t,u,Frames] = heat2d


%program 1 simulasi lapangan geothermal 1 lapisan batuan
% deklarasi variabel yang digunakan
L = 1.0;
W = 1.0;
T = 270;
K = 0.001;

%waktu peluruhan

n = 270;

%untuk sumbu t (temperatur)

dt = T/n;

%fungsi dari sumbu t

l =10;
dx = L/l;

%untuk sumbu x

m = 10;
dy = W/m;

%untuk sumbu y

u = zeros(l+1,m+1,n+1);

% jumlah matriks yang digunakan


t = (0:n)*dt;
x = (0:l)*dx;
y = (0:m)*dy;

% syarat batas yang digunakan


u(:,:,1) = u0(x,y)';

u(1,:,:) = bcLeft;

u(l+1,:,:) = bcRight;

u(:,1,:) = bcBottom;

u(:,m+1,:) = bcTop;

Lx = K*dt/dx^2;
Ly = K*dt/dy^2;

%perulangan pada program


for k=1:n
for j=2:m
for i=2:l
u(i,j,k+1) = Lx*u(i-1,j,k) + (1 - 2*Lx -2*Ly)*u(i,j,k)...
+ Lx*u(i+1,j,k) + Ly*u(i,j-1,k) + Ly*u(i,j+1,k);
%skema implisit
end
end
end

for k=1:n+1
surf(x,y,u(:,:,k));
axis([0 1 0 1 0 100]);
view([-35,70]);
shading interp;
Frames(k) = getframe;
end

function u0 = u0(x,y)
u0 = 0.0;

function bcLeft = bcLeft


bcLeft = 100.0;

function bcRight = bcRight


bcRight = 0.0;

function bcBottom = bcBottom


bcBottom = 0.0;

function bcTop = bcTop


bcTop = 0.0;

Gambar 1. simulasi 1

Program simulasi 2 simulasi lapangan geothermal

%program 2 simulasi lapangan geothermal 3 lapisan batuan


close all
clear all
clc

du=1; dv=1; dt=.1;

%diskritisasi matriks

u=0:du:199;

%jarak u dari 0-199

v=0:dv:199;

%jarak v dari 0-199

Lu=length(u);

%panjang x = u

Lv=length(v);

%panjang y = v

a=zeros(Lu,Lv);

%inisialisasi matriks temperatur

an=zeros(Lu,Lv);

a(1:200,1:60)=270;

%syarat batas dirichlet

a(1:60,60:200)=10;

a=a';
imagesc(a)

%plot ke dalam grafik

set(gca,'ydir','normal')

%timestep
for tt=1:100;
for ii=2:Lv-1;
for jj=2:Lu-1;
if jj>=75
k=5;

%harga konduktivitas batuan 1

else if jj<=25
k=4;

%harga konduktivitas batuan 2

k=3;

%harga konduktivitas batuan 3

else
end
end
a(jj,ii)=a(jj,ii)+k*(dt/du^2)*(a(jj+1,ii)+a(jj1,ii)+a(jj,ii+1)+a(jj,ii-1)-4*a(jj,ii));
%skema eksplisit
end
an=a;
end

%plot hasil kedalam grafik


imagesc(an)
set(gca,'ydir','normal')
colorbar
title(['time (t) = ',num2str(tt*dt)]);
xlabel('Jarak (x) ');
ylabel('Jarak dari Sumber (y) ');
hold off
drawnow
end

Gambar 1. Time Lapse 2s

Gambar 2. Time Lapse 4.6s

Gambar 3. Time Lapse 8.5s

Gambar 4 .Time Lapse 10s

Program simulasi 3 simulasi lapangan geothermal

%program 3 simulasi lapangan geothermal 5 lapisan batuan


close all
clear all
clc

du=1; dv=1; dt=.1;

%diskritisasi matriks

u=0:du:199;

%jarak u dari 0-199

v=0:dv:199;

%jarak v dari 0-199

Lu=length(u);

%panjang x = u

Lv=length(v);

%panjang y = v

a=zeros(Lu,Lv);

%inisialisasi matriks temperatur

an=zeros(Lu,Lv);

a(1:200,1:60)=270;

%syarat batas neuman

a(1:60,60:200)=10;

a=a';
imagesc(a)

%plot ke dalam grafik

set(gca,'ydir','normal')

%timestep
for tt=1:100;
for ii=2:Lv-1;
for jj=2:Lu-1;
if jj>=100
k=5;

%harga konduktivitas batuan 1

else if jj>=75
k=4;

%harga konduktivitas batuan 2


else if jj>=50
k=3; %harga konduktivitas batuan 3
else if jj<=25
k=2; %harga konduktivitas batuan 4
else
k=1;

%harga konduktivitas batuan 5

end
end
end
end
a(jj,ii)=a(jj,ii)+k*(dt/du^2)*(a(jj+1,ii)+a(jj1,ii)+a(jj,ii+1)+a(jj,ii-1)-4*a(jj,ii));
%skema eksplisit
end
an=a;
end

%plot hasil kedalam grafik


imagesc(an)
set(gca,'ydir','normal')
colorbar

title(['time (t) = ',num2str(tt*dt)]);


xlabel('Jarak (x) ');
ylabel('Jarak dari Sumber (y) ');
hold off
drawnow
end

Gambar 1. Time Lapse 2.1s

Gambar 2. Time Lapse 5s

Gambar 3. Time Lapse 7.5s

Gambar 4. Time Lapse 10s


Kesimpulan
Geothermal merupakan salah satu energy terbaru yang dapat menggantikan energy
fosil. Walaupun sistem panas bumi menghasilkan sumber daya energi yang selalu terbarukan,
tidak berarti akan berumur tanpa batas; dengan demikian harus ada upaya untuk mengetahui
umur (lifetime) kegiatan suatu sumber panas bumi. Penggunaan metoda K/Ar dan Rb/Sr
adalah salah satu teknik paling popular dikenal untuk penentuan umur (age dating), yang
diterapkan terhadap mineral-mineral hidrotermal tertentu dari inti (core) bor batuan-batuan
terubah hidrotermal, dapat dilakukan dengan cara :
a.

Tidak langsung dari suatu sistem panas bumi aktif. Penentuan umur dengan cara ini

dilakukan melalui studi banding umur relatif mineral-mineral ubahan tertentu hasil proses
hidrotermal terhadap umur batuan r eservoir.
b.

Analogi pengukuran atau perkiraan lamanya kegiatan dalam suatu sistem fosil panas bumi,

terutama yang berkaitan dengan cebakan bijih hidrotermal. Dilakukan melalui studi tentang peran
bukaan struktur dalam proses hidrotermal dan pembentukan cebakan mineral, serta perbedaan

episoda pengendapan mineral-mineral ubahan/bijih, penutupan bukaan-bukaan struktur dan


pembentukan kembali bukaan/rekahan.

Estimasi terhadap potensi panas bumi dilakukan dalam rangka penentuan kualitasnya,
sehingga dapat diketahui pemanfaatannya baik sebagai sumber energi listrik maupun pemakaian
langsung dalam kaitannya dengan upaya optimalisasi produksi energi panas bumi. Secara garis
besar metoda estimasi dilakukan melalui perhitungan volumetrik dan simulasi numerik.